Anda di halaman 1dari 21

PENGUKURAN DAN ANALISIS KELUARAN BERKAS SINAR-XPADA

PESAWAT SINAR-X RADIOGRAFI UMUM YANG PEMAKAIANNYA


LEBIH DARI 10 TAHUN
Herty Afrina Sianturi1, Martha Rianna2, Timbangen Sembiring3, Marhaposan Situmorang3
1
Master Student University of North Sumatra, Physics Post Graduate Program, Medan 20155,
Indonesia
2
Doctoral Student University of North Sumatra, Physics Post Graduate Program, Medan
20155, Indonesia
3
University of North Sumatra, Physics Department, Medan 20155, Indonesia

Abstrak
Telah dilakukan pengukuran keluaran berkas sinar-X pada lima pesawat sinar-X Radiografi yang
berbeda di beberapa Rumah Sakit yaitu di RS Kesdam Putri Hijau, RS Sundari, RS. Husni Thamrin,
dan RSU Imelda Pekerja Indonesia Pengukuran ini dilakukan tanpa pasien dengan bantuan
menggunakan Multimeter X-Ray detektorRTI Piranha CB2-10090128 dan hasil nya ditampilkan
pada monitor laptop. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah akurasi tegangan kV
(kilovolt), akurasi waktu penyinaran s (Second),Linearitas keluaran radiasi, Reproduksibilitas
keluaran radiasi dan informasi Dosis pasien.Kualitas keluaran berkas sinar X pada kelima pesawat
sinar X tersebut dapat dikatakan memenuhi kriteria jaminan kualitas menurut prosedur batas
toleransi British Columbia (BC Centre For Disease Control, 2004) dan Radiation Safety Act 75.
Namun tidak seluruhnya berada dalam nilai batasan yang direkomendasikan IAEA - Tecdoc
1447.Perlu dilakukan uji akurasi dan konsistensi kVp sebelum pengukuran kualitas berkas sinar-X.
Kata kunci: Pesawat Sinar X, keselamatan radiasi, uji akurasi, dosis pasien, batas toleransi

Abstract
File output measurements have been performed x-rays on five aircraft x-ray Radiography is
differents in some hospital, which there are RS. Kesdam Princess Sundari, RS. Husni Thamrin,
Indonesia Workers Imelda RSU and RSU G. L. Tobing. These measurements are done
without patient with the help of Multimeter use x-ray detector RTI Piranha CB2-10090128 and the
results are shown on the monitor of a laptop. The parameters measured in this study is the accuracy
of the voltage kV (kilovolt), the accuracy of the time a very s (Second), Linearity, radiation output
Reproduksibilitas output file quality radiation and patient Dose information. The quality of the
output beam of x-rays on a fifth plane that x-rays can be said tomeet the criteria for quality
assurance according to the procedures of the limits oftolerance of British Columbia (BC Centre
For Disease Control, 2004) and the Radiation Safety Act 75. But not entirely be in the value of the
recommended limit IAEA Tecdoc-1447. Need to do a test of accuracy and consistency
of kVp measurement before the quality of the x-ray beam.
Keywords: diagnostic X-ray machine, radiation safety, test accuracy, patient doses, tolerance limit

1
Pendahuluan
Sinar-X adalah salah satu radiasi gelombang elektromagnetik buatan yang sejenis dengan
gelombang radio, panas dan cahaya, tetapi memiliki panjang gelombang sangat pendek yaitu
1/10.000 panjang gelombang cahaya tampak, sehingga memiliki daya tembus tinggi terhadap
material yang dilaluinya.Sinar-X dimanfaatkan dalam bidang radiologi untuk diagnosis penyakit
(Rasad, 2010).Jumlah ataupun besar sinar-X yang dihasilkan oleh sebuah pesawat sinar-X sangat
dipengaruhi oleh nilai tegangan tabung (kVp) yang diatur pada control panel. Tegangan tabung
(kVp) berpengaruh terhadap keluaran sinar-X dan merupakan faktor utama yang mempengaruhi
daya tembus sinar-X yang keluar (Bushong, 2001).
Untuk mengevaluasi kesesuaian jumlah keluaran tegangan tabung (kVp) yang diatur pada control
panel pada pesawat sinar-X, perlu dilakukan pengujian terhadap keluaran tegangan tabung. Menurut
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1250/MENKES/SK/XII/2009, metode
untuk pengujiankeluaran tegangan tabung pesawat sinar-X dapat menggunakan digital kilovoltage
peak (kVp) meter.
Dalam penelitian ini ada beberapa pesawat sinar-x radiografi umum yang sudah digunakan lebih
dari 10 tahun yang ada di beberapa Rumah Sakit di Sumatera Utara khususnya di kota Medan.
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui jumlah keluaran kVp yang diatur pada control
panel sesuai dengan tegangan tabung (kVp)yang keluar dari tabung pesawat sinar-X di beberapa
Rumah Sakit di Sumatera Utara khususnya di kota Medan. Dari penelitian ini nantinya diharapkan
hasil dari pengukuran keluaran beberapa pesawat general purpose sinar-X dapat sesuai dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan
Sumber Radioaktif, Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga NuklirNomor 8 Tahun
2011TentangKeselamatan Radiasi Dalam Penggunaan Pesawat Sinar-X, Peraturan Kepala Badan
Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 9 Tahun 2011 Tentang Uji Kesesuaian Pesawat Sinar-X Radiologi
Diagnostik dan Intervensional dan Kepmenkes RI No. 1250/Menks/Sk/Xii/2009 tentang Pedoman
Kendali Mutu Peralatan Diagnostik.

Metode Penelitian
Pengukuran dan Analisis Keluaran Berkas Sinar-Xpada Pesawat Sinar-X Radiografi Umum yang
Pemakaiannya Lebih Dari 10 Tahun. Pengukuran pesawat Sinar-X Spesifikasi Pesawat ditampilkan
pada Gambar 1 dan 2.

2
Gambar 1: Meja kontrol pesawat radiografi A
Spesifikasi Pesawat Sinar-X Radiografi A (tahun 1990)
Merk : Hitachi
Model : G-S-105C
Data Tabung : No Seri = 13786303

a b
Gambar 2 Meja kontrol pesawat radiografi B
Spesifikasi Pesawat Radiografi B (tahun 1988)
Merk: Hitachi
Model : P-C-125AB
Data Tabung : No Seri = KC 13723901

3
Gambar 3 : Spesifikasi Pesawat Radiografi C (tahun 1998)
Merk : Tsimatzu
Model : circlex U 10 EN
Data Tabung : No Seri = 71392W2

Gambar 4 : Meja kontrol dan Spesifikasi Pesawat Radiografi D (Tahun 2006)


Merk : Hitachi
Model : ZU-L3TY
Data Tabung : No Seri = KC11672609

Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian Pengukuran Dan Analisis Keluaran Berkas Sinar-X Pada Pesawat Sinar-X
Radiografi Umum Yang Pemakaiannya Lebih Dari 10 Tahun terdiri dari 5 (lima) tahap yaitu :
Observasi Awal, Persiapan Peralatan Alat Penelitian, Pengukuran Parameter Uji, Pengambilan Data
Pengukuran, Pengolahan Data Pengukuran. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram alir
yang disajikan pada Gambar 5 berikut:

4
Mulai

Tahap I: Observasi Awal Menentukan Alat Radiografi yang


sudah lebih 10 tahun di RS di Medan

Tahap II: Persiapan Peralatan


Penelitian (Pesawat Radiografi,
detector piranha, meteran, Lembar
Hasil ukur penelitian)

Radiation Safety Act 75.


Tahap III: Pengukuran Parameter Uji: kV (kilovolt), s Diagnostic X- ray
(second), Linearitas, Reproduksibilitas Dan Dosis Equipment Compliance
Pasien Testing

Berdasarkan PERKA BAPETEN


Tahap IV: Pengambilan Data sekunder No.9 Thn 2011; PERKA
BAPETEN No. 15 Thn 2015;
IAEA-TECDOC-1423
Tahap V: Pengolahan Data dan Analisa

Gambar 5: Diagram alir penelitian


Parameter Uji Dengan mengatur tegangan tabung dalam satuan kiloVolt dan arus serta waktu
penyinaran mAs dalam satuan miliAmpere sekon pada pesawat sinar-X sebelum melakukan
eksposi/penyinaran pada film radiografi.Pengukuran parameter ini meliputi tegangan keluaran kV
(kilovolt),lamanya penyinaran s (second), Linearitas,Reproduksibilitas dan Dosis.
1. Pengukuran Akurasi kV
Proses pengukuran akurasi kV yaitu lakukan penyinaran dengan tegangan kerja terendah (misal 50
kV) sampai dengan kondisi tertinggi (misal 90 kV) yang mungkin dilakukan,dengan kenaikan
tegangan sekitar 10 kV. Pada Pesawat Sinar-xyang memiliki variasi mA (memiliki fokus Besar dan
fokus kecil) , lakukan pengujian dengan variasi mA . Kemudianlakukan ekspose dan catat pada
lembar kerja serta lakukan evaluasi pengujian akurasi kV. Nilai standart evaluasi : Deviasi akurasi
kV 10 %. Pengukuran akurasi kV bertujuan untuk mengetahui akurasi tegangan tabung yang
dihasilkan oleh tabung sinar-X.

5
2. Pengukuran Akurasi Waktu Penyinaran
Tujuan untuk mengetahui akurasi waktu control table terhadap waktu terukur. Pengukuran
akurasi waktu penyinaran dilakukan dengan cara hidupkan dan kondisikan Pesawat Sinar-x agar
siap dilakukan pengujian.Letakkan detektor time ekspose meter pada bagian tengah (cross section)
area kolimasi, dengan SSD (source to skin distance) 100 cm dari titik fokus (anoda) tabung. Proses
pengukuran akurasiwaktu penyinaran (s)yaitu dilakukan penyinaran dengan waktu kerja terendah
(misal 0.1 s) sampai dengan kondisi tertinggi (misal 0.5 s) yang mungkin diberikan pada tegangan
kerja 70 kV .Pada Pesawat Sinar-x yang memiliki variasi mA (memiliki fokus Besar dan fokus
kecil) , lakukan pengujian dengan variasi mA. Lakukan ekspose, catat pada lembar kerja dan
lakukan evaluasi pengujian akurasi waktu penyinaran.nilai standar. Evaluasi deviasi akurasi waktu
penyinaran s= (s) 10 % untuk s 100 ms, dan(s) 10 %+1 ms untuk s < 100 ms.

3. Pengukuran Linieritas Keluaran Radiasi


Untuk mengetahui keluaran radiasi pesawat sinar-X pada beberapa kondisi penyinaranatau
.Pengukuran liniearitas keluaran radiasi yaitu hidupkan dan kondisikan pesawat sinar-x agar siap
dilakukan pengujian. Kemudian letakkan detector dose meter pada bagian tengah (cross section)
area kolimasi, dengan SSD (source to skin distance) 100 cm dari titik fokus (anoda) tabung.
Selanjutnya ditentukan kondisi pengukuran 70 kV dan 10 mAs. Lakukan ekspose dan catat
pada lembar kerja hasil pengukuran (Gy/mAs) ( Xmin), lalu ubah kondisi pengukuran 70 kV dan 20
mAs. Pada proses akhir, lakukan ekspose dan catat pada lembar kerja hasil pengukuran (Gy/mAs)
(Xmax), untuk Pesawat Sinar-x yang memiliki variasi mA (memiliki fokus Besar dan fokus kecil) ,
dilakukan pengujian dengan variasi mA. Lakukan evaluasi Pengujian Keluaran Radiasi dan
Linieritas keluaran.
4. Pengukuran Reproduksibilitas (Kedapatulangan) keluaran radiasi sinar-X
Untuk mendapatkan koefesien variasi dari pengukuran reproduksibilitas tegangan tabung
(kV), waktu penyinaran (s), dan keluaran radiasi (mGy).Pengukuran Reproduksibilitas keluaran
radiasi sinar-X dilakukan dengan caraPesawat Sinar-x dihidupkan dan dikondisikan agar siap
dilakukan pengujian. Letakkan sensor multi meterpada bagian tengah (cross section) area kolimasi,
dengan SSD (source to skin distance) 100 cm dari titik fokus (anoda) tabung
Selanjutnya untuk pengujian reproduksibilitas ditentukan kondisi pengiukuran 70 kV dan 20
mAs, Lakukan expose dan catat pada lembar kerja, Diulangiexpose sampai dengan 5 kali expose
selanjutnya Lakukan evaluasi pengujian reproduksibilitas tabung sinar x (kV, sekon, dosis)
6
Nilai standart Evaluasi :koefisien variasi (masing-masing parameter) 5 %
5. Informasi dosis pasien (Entrance Surface Dose )
Untuk mengetahui dosis radiasi yang diterima pasien pada saat pemeriksaan.Informasi dosis pasien
tahap awal adalah menghidupkan dan mengkondisikan pesawat sinar x agar siap dilakukan
pengujian. Kemudian phantom ditempatkan diatas meja pemeriksaan, dan letakkan detektor
dosemeter di atas phantom setinggi 30 cm tersebut.
Langkah selanjutnya adalah dari control Tabel, diatur kondisi expose untuk jenis pemeriksaan yang
hendak diketahui (misal : abdomen ). Diulangi eksposedan dicatat hasil dosis yang terdisplay.
Lakukan evaluasi informasi dosis pasien.
Nilai Standart Evaluasi: ambang batas dosis pasien :
Thorax < 0,4 mGy
Abdomen < 10 mGy

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Uji Akurasi tegangan
Nilai tegangan tabung menentukan besarnya energi dan daya tembus sinar-X, oleh sebab itu
generator sinar-X harus terkalibrasi dengan baik.
Uji akurasi tegangan pada setiap pesawat diatur kuat arus pada panel 200 mA dengan waktu
0,1s dan jarak sumber sinar-X dengan detektor sejauh 100 cm dihasilkan pada Tabel1 di bawah ini.
Nilai persentase penyimpangan setiap tegangan tabung pada pesawat sinar-X dengan menggunakan
persamaan dibawah ini :
kvp outputkVp set
% Penyimpangan kVp = | | 100 %

Tegangan tabung harus mampu dengan baik mengikuti aturan yang dipersyaratan yaitu pada
saat nilai pengukuran 0,1s dari nilai eksposi awal. Termasuk dalam kesalahan instrumen ukur,
tegangan tabung gagal sesuai jika nilai pengukuran yang diperoleh berbeda dengan nilai angka atau
nilai set tegangan tabung sebesar > 10% untuk tegangan kurang dari atau sepadan dengan 100
kVp. Bentuk gelombang sinaran digunakan untuk menentukan bahwa pengukuran tidak dipengaruhi
oleh setiap ciri bentuk gelombang yang tidak biasa. Hal ini bisa jadi berupa puncak tegangan,
keluaran yang tidak konsisten, bentuk gelombang sinaran yang menaik.Suatu kenaikan bentuk
gelombang sinaran bisa diartikan dengan kurangnya pemanasan awal filamen tabung dan berakibat
timbulnya bentuk tegangan yang tidak seragam terhadap periode tertentu dari paparan
7
Tabel 1 : Hasil Pengukuran Uji Akurasi Tegangan

Nama kVp kVp % Kesimpulan


Pesawat Panel ukur Error
Pesawat A 50 39.45 21.1 Tidak baik
60 47 21.67 Tidak baik
70 55.77 20.33 Tidak baik
80 61.68 22.9 Tidak baik
90 67.51 24.99 Tidak baik
Pesawat B 50 51.99 3,98 Baik
60 58.2 3,00 Baik
70 66.48 5,03 Baik
80 71.34 10,83 Tidak baik
90 77.92 13,42 Tidak baik
Pesawat C 50 56.61 13.22 Tidak baik
60 63.64 6.07 Baik
70 71.87 2.67 Baik
80 79.77 0.29 Baik
90 86.51 3.88 Baik
Pesawat D 50 48.94 2.12 Baik
60 59.06 1.57 Baik
70 68.63 1.96 Baik
80 78.53 1.84 Baik
90 88.4 1.78 Baik

Naiknya bentuk gelombang bisa juga dikaitkan dengan ketidaksesuaian nilai hambatan listrik antara
pesawat sinar-X dengan suplai listrik. Bila keadaan seperti ini timbul, maka perlu diperhatikan tetapi
jangan dikaitkan dengan terjadinya masalah pada keakuratan tegangan tabung.
Dari Tabel 1 dapat diamati hasil pengujian akurasi tegangan pada pesawat A, B, C dan D
memiliki nilai minimum berturut-turut sebesar 20.33%, 3,00%, 0.29% dan 1.57%. sedangkan nilai
maksimum berturut-turut sebesar 24.99%, 13,42%, 13.22% dan 1.96%.
Dari data yang diperoleh bahwa nilai akurasi tegangan tabung pada pesawat D masih baik
digunakan.Nilai tersebut masih dalam batas toleransi berdasarkan standart yang ditetapkan oleh
Bapeten Dalam Perka Bapeten No. 9 Tahun 2011dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga
NuklirNomor 15 Tahun 2015 Tentang Keselamatan Radiasi Dalam Produksi Pesawat Sinar-X
Radiologi Diagnostik Dan Intervensional. Dengan demikian kondisi pengaturan nilai tegangan (KV)
pesawat sinar-X tersebut masih dalam kondisi baik.

8
Walaupun penyimpangannya masih dalam batas toleransi yang diberikan, tentunya mempunyai efek
energi sinar-X yang keluar dari tabung (kurang atau melebih dari titik setting).Penyimpangan energi
sinar-X tersebut tentunya mempengaruhi kwalitas daya tembus sinar-X terhadap objek.
Titik penyimpangan tegangan (KV) tertinggi paling banyak terjadi pada titik setting 50 KV
Ini terjadi disebabkan karena pesawat radiography tersebut paling sering digunakan untuk
pemeriksaan thorax dan extrimitas atas yang membutuhkan setting tegangan (KV) sebesar 40-65
KV.Nilai tegangan tabung (KV) radiografi merupakan faktor penting yang menentukan daya tembus
sinar-X (penetretion power) dan nilai kontras radiografi dalam pemeriksaan radiografi. Kesalahan
penentuan atau pemilihan tegangan (kV) akan membuat kesalahan dalam pembuatan citra radiografi.
Salah satu faktor yang menentukan kesalahan penentuan tegangan dalam pemeriksaan radiografi
adalah tingkat keluaran tegangan tabung yang tidak sesuai dengan sistem penyetingan pada meja
kontrol sehingga performa kinerja alat atau alat radiografi dikatakan tidak baik.

2. Uji Akurasi Waktu Penyinaran


Uji akurasi waktu penyinaran pada setiap pesawat diatur kuat arus pada panel 200 mA
dengan tegangan setting pada 70 kv dan jarak sumber sinar-X dengan detektor sejauh 100 cm
dihasilkan pada Tabel 2.
Tabel 2: Hasil Pengukuran uji akurasi waktu penyinaran

Nama ms-panel ms- (%) Batas Kesimpulan


Pesawat ukur Toleransi
Pesawat A 50 43,65 12,7 Tidak Baik
100 93,82 6,18 Baik
200 203,2 1,6 Baik
400 412 3 Baik
800 801 0,125 Baik
Pesawat B 50 44.17 11,66 Tidak Baik
100 94.36 5,64 Baik
200 203.8 1,9 Baik
400 424.1 6,025 Baik
800 824.1 3,0125 Baik
Pesawat C 50 42.65 14,7 Tidak Baik
100 93.84 6,16 Baik
200 193.7 3,15 Baik
400 93.86 76,53 Tidak Baik
800 93.86 88,26 Tidak Baik
Pesawat D 50 50.2 0,4 Baik
100 9
99.89 0,11 Baik
200 200.2 0,1 Baik
400 400.5 0,125 Baik
800 800 0 Baik

Dari Tabel 2 dapat diamati bahwa nilai penyimpangan minimum pada pesawat A, B, C dan D
berturut-turut sebesar 0.125%, 1.9%, 3.15% dan 0,10 %, sedangkan nilai penyimpanganmaksimum
berturut-turut sebesar 12.7%, 11.66%, 88.26 % dan 0.4 %.
Nilai persentase penyimpangan setiap tegangan tabung pada pesawat sinar-X dengan
menggunakan persamaan dibawah ini :
waktu (t)outputwaktu(t)panel
% Batas toleransi = | | 100 %
( )

Dari data yang diperoleh bahwa nilai akurasi waktu penyinaran tabung pada pesawat D
masih baik digunakan.Nilai tersebut masih dalam batas toleransi berdasarkan standart yang
ditetapkan oleh Bapeten Dalam Perka Bapeten No. 9 Tahun 2011dan Perka Bapeten Nomor 15
Tahun 2015 Tentang Keselamatan Radiasi Dalam Produksi Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik
Dan Intervensional. Dengan demikian kondisi pengaturan akurasi waktu penyinaran (ms) pesawat
sinar-X tersebut masih dalam kondisi baik.Nilai arus waktu (mAs) merupakan salah satu faktor yang
menentukan banyaknya sinar-X yang dihasilkan oleh suatu tabung pesawat sinar-X. Perubahan mAs
tidak melebihi nilai penyimpangan (linieritas) 10% sehingga meskipun arus dirubah tetap masih
dianggap linier.
Waktu pemaparan merupakan nilai yang harus dipilih operator radiologi (radiografer) untuk
setiap pemeriksaan. Parameter ini akan menetukan dosis radiasi pasien dan densitas optik dari
gambar yang dihasilkan. Kalibrasi waktu paparan sebaiknya dapat dilakukan 1 tahun
sekali(minimal) atau saat ada penggantian komponen pada pembangkitan sinar-X. toleransi waktu
paparan terukur harus dalam batas 10% dari nilai yang tampil pada display untuk waktu paparan
lebih besar dari 10 ms.

3.Uji linearitas Keluaran Radiasi


Linieritas pemaparan (exposure lineraity) adalah kemampuan alat radiografi untuk
menghasilkan keluaran radiasi yang konstan dari berbagai macam arus tabung sinar-X (mA) dan
waktu paparan sinar-X. Linieritas pemaparan harus dalam toleransi 10% untuk masing-masing
pasangan waktu paparan dengan mA yang telah ditentukan.

10
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui keluaran radiasi dari rentang berkas sinar-X
pada pemilihan faktor eksposi dan menggunakannya untuk menghitung koefisien linearitas
keluaran. Pengujian dilakukan pada kondisi penyinaran 70 kV dengan variasi arus 5 mAs, 10 mAs,
15 mAs, 20 mAs, 25 mAs dan 30 mAs. Nilai arus tabung sinar-X berpengaruh terhadap nilai
intensitas sinar-X.Intensitas sinar-X pada hasil citra foto rontgen mempengaruhi nilai kehitaman
pada film (densitas). Selain berpengaruh terhadap nilai intensitas sinar-X yang keluar dari tabung,
nilai arus tabung yang dipilih juga sangat berpengaruh terhadap terimaan dosis radiasi
pasien.Penentuan linieritas output menggunakan persamaan:

Linieritas = | | 100%
+
Paparan radiasi akan meningkat seiring meningkatnya nilai tegangan dan kombinasi arus-waktu
yang diberikan. Dengan menetapkan nilai paparan radiasi maksimum dan minimum yang diperoleh
dari perubahan arus untuk setiap tegangan, maka nilai linieritas dihitung dengan menggunakan
persamaan yang ada. Data hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel4.3 berikut:
Tabel 3: Hasil Pengujian Koefisien Linearitas keluaran pada pesawat A,
Pesawat B, Pesawat C dan Pesawat D
Nama Hasil Uji
Linearitas (%)
Pesawat kV mGy mAs mGy/mAs
62,57 0,129 5 0,025 Fokus Kecil (5 mAs-20 mAs)
62,68 0,171 10 0,017 CL = 0,25 = 25%
Pesawat 64,15 0,236 15 0,015
A Fokus besar (> 20 mAs)
58,34 0,466 30 0,015
61,44 1,199 40 0,029 CL = 0,31= 31%
69,00 0,08 5 0,0166
67,30 0,17 10 0,0167 Fokus Kecil (5 mAs-20 mAs)
Pesawat CL = 0,006 = 0,6%
67,74 0,25 15 0,0165
B
66,48 0,34 20 0,0168
53,30 0,33 30 0,0112
59,49 0.56 5 0,112 Fokus Kecil (5 mAs -20 mAs)
71,59 0.578 10 0,057 CL = 0,57 = 57%
Pesawat
71,87 0.617 20 0,030
C
71,46 0,563 30 0,018

68,80 1,08 5 0,054 Fokus Kecil (5 mAs-20 mAs)


68,73 1,083 10 0,067 CL = 0,62 = 62%
Pesawat 68,79 1,098 16 0,109
D 68,81 1,188 20 0,236 Fokus besar (> 20 mAs)
68,65 1,221 25 0,030 CL = 0,23 = 23 %
68,66 1,231 32 0,038
11
68,62 1,229 40 0,048
Nilai arus waktu (mAs) merupakan salah satu faktor yang menentukan banyaknya sinar-X
yang dihasilkan oleh suatu tabung pesawat sinar-X.
Menurut Western Australia output radiasi idealnya tidak melebihi nilai penyimpangan
(linieritas) 10% sehingga meskipun arus dirubah tetap masih dianggap linier. Arus tabung (mA)
adalah sama dengan jumlah elektron-elektron yang bergerak dari katoda ke anoda persatuan waktu.
mA mengendalikan banyaknya elektron banyaknya elektron proyektil menumbuk anoda dan
intensitas berkas sinar-X. Perubahan pada mA akan merubah intensitas berkas sinar-X, tetapi tidak
energinya. Jumlah sinar-X karakteristik akan meningkat seiring dengan meningkatnya mA tetapi
energinya tetap. Kuantitas berkas sinar-X berbanding lurus dengan mA. Seperti menggandakan nilai
mA maka akan menggandakan kuantitas dari berkas sinar-X (Fosbinder, Kelsey, 2002).
Dari Tabel 3 di atas dinyatakan bahwa koefisien linearitas pada pesawat A sebesar 0,25
untuk fokus kecil dan untuk fokus besar linearitasnya adalah 0,31. Dari nilai koefisien ini
dinyatakan bahwa pesawat A tidak memenuhi nilai standart koefisien 0,1atau sama dengan 10 %.
Pada pesawat B nilai koefisien linearitasnya adalah 0,006. Maka parameter pengujian
koefisien linearitas pesawat B memenuhi nilai standart koefisien 0,1atau sama dengan 10 %.
Parameter pengujian koefisien linear pada pesawat B dapat dikatakan masih baik.
Pada pesawat C nilai koefisien linearitasnya adalah 0,57. Maka parameter pengujian
koefisien linearitas pesawat C tidak memenuhi nilai standart koefisien 0,1atau sama dengan 10 %.
Pada pesawat D nilai koefisien linearitasnya adalah 0,62 untuk fokus kecil sedangkan untuk
fokus besar nilai linearitasnya 0,23. Maka dinyatakan pesawat D tidak memenuhi nilai standart
parameter uji linearitas karena sudah melebihi 0,1atau sama dengan 10%.
4. Hubungan Paparan Dosis Radiasi Terhadap Arus Waktu Tabung
Grafik hubungan linear output (mGy) terhadap laju arus waktu tabung mAs pada Pesawat
sinar-X radiografi A dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

12
Grafik Jumlah paparan Dosis Radiasi
0.25 terhadap arus tabung
0.237

Paparan Dosis Radiasi (mGy)


y = 0.0108x + 0.0713
0.2
R = 0.9864
0.172
0.15
0.129 Dosis (mGy)
0.1
0.05 Linear (Dosis
0 (mGy))
0 10 20
Arus waktu tabung (mAs)

Gambar 4.1 Grafik Linearitas hubungan arus tabung terhadap dosis pada Pesawat sinar-X
radiografi A

Dari Gambar 4.1 disimpulkan bahwa dosis paling rendah berada pada pengaturan arus
tabung yang paling rendah yaitu 5 mAs dan dosis radiasi yang paling tinggi yaitu pada 15 mAs. Jadi
tabung pesawat sinar-X radiografi A masih berfungsi dengan baik jika ditinjau dari hubungan antara
hasil paparan dosis dengan arus tabung karena semakin besar arus tabung yang digunakan maka
semakin tinggi tingkat dosis radiasi yang dihasilkan.
Trendline digunakan untuk menghasilkan persamaan dan R2 dari data yangdihasilkan dari
penelitian. Pada grafik 4.1 terlihat bahwa jumlah paparan dosis radiasi yang dihasilkan terhadap arus
waktu tabungpada pesawat A memberikan hubungan linear dengan R = 0.986.
Untuk hubungan arus tabung terhadap dosis radiasi pada pesawat B dapat dilihat dari Gambar 4.2

Grafik Jumlah Paparan Dosis Radiasi


0.40 terhadap arus waktu tabung
Paparan Dosis Radiasi (mGy)

0.35 y = 0.0168x - 0.0012


0.34
0.30 R = 0.9997
0.25 0.25 mG
0.20
0.17 Linear (mG)
0.15
0.10
0.08
0.05
0.00
0 Arus10waktu tabung20(mAs) 30

Gambar 4.2 Grafik Linearitas hubungan arus tabung terhadap dosis pada Pesawat B

Dari Gambar 4.2 disimpulkan bahwa dosis paling rendah berada pada pengaturan arus
tabung yang paling rendah yaitu 5 mAs dan dosis radiasi yang paling tinggi yaitu pada 20 mAs. Jadi

13
tabung pesawat sinar-X radiografi B masih berfungsi dengan baik jika ditinjau dari hubungan antara
hasil paparan dosis dengan arus tabung karena semakin besar arus tabung yang digunakan maka
semakin tinggi tingkat dosis radiasi yang dihasilkan.
Pada Gambar 4.2 terlihat bahwa jumlah paparan dosis radiasi yang dihasilkan terhadap arus
waktu tabung pada pesawat B memberikan hubungan linear dengan R = 0.999.
Untuk hubungan arus tabung terhadap dosis radiasi pada pesawat C dapat dilihat dari Gambar 4.3.

Grafik Jumlah Paparan dosis radiasi


terhadap arus waktu tabung
0.62 0.617
Paparan dosis radiasi (mGy)

0.6y = 0.0038x + 0.5405


R = 0.9996
0.58 0.578
mGy
0.56 0.56
Linear (mGy)
0.54
0 10 20 30
Arus Waktu tabung (mAs)

Gambar 4.3 Grafik Linearitas hubungan arus tabung terhadap dosis pada Pesawat C
Dari Gambar 4.3 disimpulkan bahwa dosis paling rendah berada pada pengaturan arus
tabung yang paling rendah yaitu 5 mAs dan dosis radiasi yang paling tinggi yaitu pada 20 mAs. Jadi
tabung pesawat sinar-X radiografi C masih berfungsi dengan baik jika ditinjau dari hubungan antara
hasil paparan dosis dengan arus tabung karena semakin besar arus tabung yang digunakan maka
semakin tinggi tingkat dosis radiasi yang dihasilkan.
Pada Gambar 4.3 terlihat bahwa jumlah paparan dosis radiasi yang dihasilkan terhadap arus
waktu tabung pada pesawat B memberikan hubungan linear dengan R = 0.999.
Untuk hubungan arus tabung terhadap dosis radiasi pada pesawat D dapat dilihat dari Gambar 4.4

14
Grafik Jumlah Paparan Dosis radiasi
terhadap arus waktu tabung
1.25
Paparan Dosis Radiasi (mGy)
1.2 y = 0.0113x + 0.9534 1.2
1.15 R = 0.9037
1.1 1.1 mGy
1.08
1.05 Linear (mGy)
1 1.01
0 10 20 30
Arus waktu tabung (mAs)

Gambar 4.4 Grafik Linearitas hubungan arus tabung terhadap dosis pada Pesawat D
Pada Gambar 4.4 terlihat bahwa jumlah paparan dosis radiasi yang dihasilkan terhadap arus
waktu tabungpada pesawat D memberikan hubungan linear dengan R = 0.903.
Pada pesawat radiografi B dan pesawat radiografi C mempunyai hubungan linear dengan R 2
= 0,999 yang paling mendekati angka 1 (satu) dibandingkan dengan yang lainnya yaitu pesawat
radiografi A dan pesawat radiografi D.
5.Uji Reproduksibilitas Keluaran Radiasi Sinar-X
Reproduksibilitas bertujuan untuk memperlihatkan kestabilan alat rontgen untuk kembali
memproduksi tegangan tabung, waktu dan keluaran radiasi, dengan rentang yang hamper sama.
Pengujian dilakukan dengan kondisi penyinaran 70 kV dan 20 mAs yang dilakukan berulang
sebanyak lima kali eksposi. Tujuan dari pengukuruan parameter ini adalah Untuk mendapatkan
koefisien variasi dari pengukuran reproduksibilitastegangan tabung (kV), Waktu penyinaran (s)
dankeluaran radiasi (mGy). Data hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini:
Tabel 4.4 Hasil uji Reproduksibilitas Keluaran Radasi Sinar-X

Nama Pengulangan Nilai Terukur


Pesawat Tegangan Waktu Keluaran
Tabung (kV) eksposi Dosis
(s) (mGy)
Pesawat 1 55.41 93.87 0.3604
Radiografi A 2 55.49 93.85 0.3622
3 55.41 93.36 0.363
4 55.38 93.33 0.3604
5 55.77 93.82 0.3761
Rerata 55.492 93.646 0.36442

15
Std 0.16069 0.27555 0.00663
CV 0.0029 0.00294 0.01819
% 0,28 0,29 0,18
Pesawat 1 70.47 93.87 0.3868
Radiografi B 2 67.85 94.34 0.3419
3 68.43 94.34 0.3552
4 69.68 94.37 0.3764
5 69.24 93.83 0.3723
Rerata 69.134 94.15 0.36652
Std 1.02938 0.2745 0.01786
CV 0.01489 0.00292 0.04874
% 1,48 0,29 4,87
Nilai lolos uji CV 0,05 = 5%
Pesawat 1 71.34 93.84 0.561
Radiografi C 2 71.2 93.85 0.5532
3 71.49 94.34 0.5566
4 71.92 870.2 4.8938
5 71.87 93.84 0.5788
Rerata 71.564 249.214 1.42868
Std 0.31958 347.142 1.93709
CV 0.00447 1.39295 1.35586
% 0,44 139 135
Nilai lolos uji CV 0,055 = 5%
Pesawat 1 68.76 99,89 1,225
Radiografi D 2 68.62 100,4 1,223
3 68.67 100,3 1,225
4 68.72 99,87 1,225
5 68.65 99,88 1,225
Rerata 68.684 100.068 1.2246
Std 0.05595 0.25994 0.00089
CV 0.00081 0.0026 0.00073
% 0,081 0,25 0,073
Nilai lolos uji CV 0,05 = 5%

Dari Tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa persentasi koefisien variasi untuk tegangan tabung, waktu
eksposi dan output (mGy) pada pesawat radiografi C berturut-turut sebesar 0,44%, 139 % dan
135%. Hasil uji reproduksibilitas ini jauh melebihi batas toleransi yang ditetapkan oleh Western
Australia yaitu 0,05atau 5%. Sedangkan hasil uji reproduksibilitas pada pesawat radiografi A,
16
pesawat radiografi B dan pesawat radiografi D masih dalam batas toleransi yang ditetapkan oleh
Western Australia sebesar 0,05atau 5%.

5. Informasi Dosis Pasien


Dosis Radiasi yang selanjutnya disebut Dosis adalah jumlah radiasi yang terdapat dalam medan
Radiasi atau jumlah energi Radiasi yang diserap atau diterima oleh materi yang dilaluinya. Tujuan
dari pengukuran ini adalah untuk mengetahui kualitas berkas radiasi sinar-X yang dihasilkan tabung
sinar-X.
Pesawat Radiografi A
Hasil pengukuran dosis pasien pada thorax dan abdomen ditampilkan pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Hasil pengukuran dosis pasien pada thorax dan abdomen pada
pesawat radiografi A
Acuan
jarak fokus- Hasil ukur
IAEA
Objek kVp-uji mAs-uji detektor Kerma
ESD
(cm) (mGy)
(mGy)

1 Thorax PA 60 12 100 0.1267 0.4

2 Abdomen AP 80 75 100 1.72 10

Dari Tabel 4.5 jumlah dosis yang dihasilkan oleh pesawat radiografi A masih dalam batas normal.
Pada thorax kvp uji sebesar 60 kvp, mAs nya 12 dihasilkan paparan dosis nya sebesar 0,4 Pada
Abdomen kvp uji sebesar 80 dan mAs sebesar 75 maka diperoleh paparan dosis radiasinya sebesar
1,72.

Pesawat Radiografi B
Hasil pengukuran dosis pasien pada thorax dan abdomen ditampilkan pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil pengukuran dosis pasien pada thorax dan abdomen adalah pada pesawat radiografi B

Acuan
jarak fokus- Hasil ukur
IAEA
Objek kVp-uji mAs-uji detektor Kerma
ESD
(cm) (mGy)
(mGy)
1 Thorax PA 64 14 100 0.2091 0.4

17
2 Abdomen AP 80 50 100 1.14 10

Dari Tabel 4.6 jumlah dosis yang dihasilkan oleh pesawat radiografi B masih dalam batas normal.
Pada thorax kvp uji sebesar 64 kvp, mAs nya 14 dihasilkan paparan dosis nya sebesar 0,209. Pada
Abdomen kvp uji sebesar 80 dan mAs sebesar 50 maka diperoleh paparan dosis radiasinya sebesar
1,14.

Pesawat Radiografi C
Hasil pengukuran dosis pasien pada thorax dan abdomen ditampilkan pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7Hasil pengukuran dosis pasien pada thorax dan abdomen adalah pada pesawat radiografi C
Hasil ukur
jarak fokus- Acuan IAEA
Objek kVp-uji mAs-uji Kerma
detektor (cm) ESD (mGy)
(mGy)

1 Thorax PA 55 14 100 0.264 0.4

Abdomen
2 75 60 100 2.20 10
AP

Dari Tabel 4.7 jumlah dosis yang dihasilkan oleh pesawat radiografi C masih dalam batas normal.
Pada thorax kvp uji sebesar 55 kvp, mAs nya 14 dihasilkan paparan dosis nya sebesar 0,264. Pada
Abdomen kvp uji sebesar 75 dan mAs sebesar 60 maka diperoleh paparan dosis radiasinya sebesar
2,20.

Pesawat Radiografi D
Hasil pengukuran dosis pasien pada thorax dan abdomen ditampilkan pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Hasil pengukuran dosis pasien pada thorax dan abdomen pada pesawat radiografi D

Acuan
jarak fokus- Hasil ukur
IAEA
Objek kVp-uji mAs-uji detektor Kerma
ESD
(cm) (mGy)
(mGy)
1 Thorax PA 48 25 100 0.647 0.4

18
2 Abdomen AP 63 32 100 1.57 10

Dari Tabel 4.8 di atas, jumlah dosis yang dihasilkan oleh pesawat radiografi D masih dalam batas
normal. Pada thorax kvp uji sebesar 48 kvp, mAs nya 25 dihasilkan paparan dosis nya sebesar 0,647
sedangkan pada Abdomen kvp uji sebesar 63 dan mAs sebesar 32 maka diperoleh paparan dosis
radiasinya sebesar 1,57.

KESIMPULAN
Dari hasil pengukuran yang dilakukan pada pesawat sinar X Radiografi umum yang sudah
digunakan lebih dari 10 tahun maka diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil analisa terhadap persentase uji tegangan keluaran, uji akurasi waktu penyinaran pada

pesawat radiografi A, pesawat radiografi B, dan pesawat radiografi C menghasilkan nilai

yang tinggi yang melebihi batas toleransi 10 %. Pesawat radiografi D masih dapat

menunjukkan kinerja yang memuaskan karena masih dalam batas toleransi yang berlaku.

2. Sebagian besar data dosis pasien menunjukkan relatif lebih rendah dari rekomendasi

IAEA, kecuali pada pesawat radiografi D pada pemeriksaan thorax yang melampauinya.

3. Linieritas dari output radiasi pada variasi perubahan mAs konsisten dengan tegangan yang

diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Adhikari, Suraj Raj. 2012. Effect And Application Of Ionization Radiation (X-Ray) In Living
Organism. Kaski : Volume 3.The Himalaya Physics.

Arif, Jauhari. 2008. Program Jaminan Mutu Bidang Radiografi. Jakarta. Pusat Kajian Radiografi dan
Imaging

Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Peraturan Kepala BAPETEN No. 8 Tahun 2011 tentang
Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik dan
Intervensional, 2011.

19
BC Centre For Disease Control. Diagnostic X-Ray Unit QC Standards in British Colombia.
Radiation Protection Service. Canada (2007).

Bushong, Steward C. 2013. Radologic Science for Technologists. 10th edition. United State of
America : CV. Mosby Company.

Cember, Herman., & Johnson, Thomas, E. (2009). Introduction to Health Physics (4th ed.). Mc.
Graw-Hill.

Harumsari, Diah. 2010. Acceptance Test Keluaran Radiasi Pesawat Sinar-X Merk Siemens Tipe
Luminous RF Classic Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan. Semarang.

International Atomic Energy Agency. Optimization of the radiological protection of patients


undergoing radiography, fluoroscopy and computed tomography. IAEA-TECDOC-1423.
Final report of a coordinated research project in Africa, Asia and eastern Europe, IAEA,
Vienna (2004).

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor: 1250/MENKES/SK/XII/2009


Kramer, H. M., dan Selbach, H. J. 2008. Extension of the Range of Definition of the Practical Peak
Voltage up to 300 kV. The British Journal of Radiologhy (81):693-698.

Marpaung, T., Peraturan Yang Terkait Dengan Uji Kesesuaian (Compliance Testing) Pesawat Sinar-
X Diagnostik (Workshop Uji Kesesuaian Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik.
BAPETEN, Jakarta, 20 November 2007).

Muhogora, Wilbroad E., et.al.,Patient Doses in Radiographic Examinations in 12 Countries in Asia,


Africa and Eastern Europe: Initial Results from IAEA Projects, Am.Journal.Radiol. (2008)
pp. 1453 1461

Nova, Rahman. 2009. Radiofotografi. Padang : Universitas Baiturrahman

Papp, Jefrey. 2011, Quality Management In The Imaging Sciences, CV. Mosby Inc. St. Louis
Missouri: USA.

Pemerintah Republik Indonesia, PP No. 33 Tahun 2007, Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2007
tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif, 2007.

Purbo, Asih Putri. 2007, Pengukuran Keluaran Tegangan Tabung Pesawat Sinar-X Shimadzu Ed-
150L Dengan Digital Kvp Meter Di Laboratorium 1 Dan Radioterapi Politeknik Kesehatan
Semarang.

Puji Hastuti, Intanung Syafitri, Wawan Susanto. 2009. Uji Kesesuaian Sebagai Aspek Penting
Dalam Pengawasan Penggunaan Pesawat Sinar-X Di Fasilitas Radiologi Diagnostik.
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Nuklir. Bandung. Pusat Pengkajian Sistem
dan Teknologi Pengawasan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif

20
Puspitasari, Oktavia. 2010. Fisika Radiasi. Universitas Baiturrahman: Padang.
Rasad, Sjahriar. 2010. Radiologi Diagnostik. Balai Penerbit FKUI : Jakarta.

Vollmar, S . V., dan Kalender, W. A. 2009. Reduction of Dose to The Female Breastas A Result of
Spectral Optimisation for High-Contrast Thoracic CT Imaging: A Phantom Study. The
British Institute of Radiologhy (82):920-929.

Wicaksono, Galih. 2013, Uji Keluaran Output (kVp) pada pesawat sinar-X mobile unit Toshiba di
Instalasi Radiologi RSUD Dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.

21