Anda di halaman 1dari 41

METODE PELAKSANAAN BANGUNAN

1. A. PEKERJAAN PERSIAPAN

Pekerjaan persiapan diawali dengan pembersihkan lahan dari rumput, humus, pohon dan dari
sampah. Selanjutnya dilakukan pemasangan pagar pengaman pada sekeliling area proyek
penentuan as dan peil bangunan, terakhir pemasangan bouwplank. Selain itu air kerja dan listrik
kerja harus sudah diperhitungkan penyediaannya oleh pemborong dengan membelinya.
Administrasi proyek juga diurus pada pekerjaan persiapan.

1. B. PEKERJAAN TANAH

Pekerjaan tanah dimulai dengan pekerjaan galian tanah. Kemudian mengurug lantai pondasi
dengan pasir. Setelah itu mengurug tanah kembali.

1. C. PEKERJAAN PONDASI

Pekerjaan pondasi dimulai dari pemasangan profil pondasi, lalu memasang batu kali dengan
adukan.

1. D. PEKERJAAN BETON BERTULANG

Pekerjaan beton bertulang diawali dari pekerjaan sloof, kolom, balok, plat, dan terakhir ring balk.
Tahap awal pada tiap-tiap item pekerjaan di atas adalah pekerjaan pembesian, lalu memasang
bekisting, betonisasi, melepas bekisting, dan terakhir merawat beton.

1. E. PEKERJAAN DINDING

Pekerjaan dinding diawali dengan memasang batu bata kemudian dilanjutkan pekerjaan
plesteran. Pekerjaan dinding dilakukan setelah pekerjaan kolom, balok, dan plat selesai.

Pemasangan pasangan batu bata dilakukan diatas sloof. Pemasangan harus lurus, tegak, tidak siar
dan tidak ada batu bata yang pecah melebihi 5 % dan pemasangan batu bata maksimal 1 m per
hari.

Pekerjaan plester yaitu bagian yang akan diplester disiram dengan air terlebih dahulu dan
plesteran harus menghasilkan bidang yang rata dan sponeng yang lurus. Semua dinding harus
diplester dengan 1pc : 3ps untuk pasangan.

1. F. PEKERJAAN KUSEN, PINTU, DAN JENDELA

Pekerjaan kayu merupakan pekerjaan kering harus dipisahkan dari pekerjaan pasangan dan
pekerjaan beton yang merupakan pekerjaan basah. Pemisahan ini untuk memperjelas jenis
pekerjaannya dan tidak saling menggaggu pekerjaan dan pengangkutan material.

1.
G. PEKERJAAN PENUTUP ATAP

Pekerjaan penutup atap diawali dengan pemasangan kuda-kuda, kemudian pemasangan rangka
atap, gording, reng, usuk, dan terakhir pemasangan genteng.

1. H. PEKERJAAN SANITASI

Pekerjaan sanitasi dikerjakan mulai saat atau setelah pemasangan Bouwplank atau setelah
pemasangan plafond dan sebelum pemasangan lantai. Pekerjaan ini meliputi pembuatan
septictank, pemasangan pipa-pipa, pemasangan kloset dan bak mandi. Pemasangan kloset dan
pipa perlu diperhatikan agar semuanya berfungsi dengan baik dan tidak ada yang bocor.

1. I. PEKERJAAN KERAMIK

Pekerjaan keramik terdiri dari lantai keramik dan dinding keramik.Bahan lantai keramik 30 x 30
cm dan keramik 20 x 20 cm. Sedang bahan dinding keramik adalah keramik 20 x 20 cm.
Keramik yang akan dipasang menggunakan spes dan harus disetujui terlebih dahulu oleh direksi.
Pemasangan nat sesuai dengan warna keramik dan lantai tidak boleh bergelombang.

1. J. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK

Pekerjaan instalasi listrik dikerjakan mulai saat atau setelah pemasangan Bowplank atau sebelum
pemasangan plafond dan sebelum pengecatan dinding. Pekerjaan ini meliputi pemasangan titik
lampu pada tempat yang telah ditentukan dan pemasangan saklar dan stop kontak. Pemasangan
kabel pada dinding menggunakan pipa sebagai selubung kabel. Penyelesaian dinding sebagai
akibat dari pemasangan saklar perlu diperhatikan dan permukaan dinding harus tetap rapi.

1. K. PEKERJAAN KUNCI DAN TERALIS TANGGA

Pekerjaan memasang kunci terdiri dari kunci tanam biasa dan kunci tanam kamar mandi.

1. L. PEKERJAAN FINISHING

Setelah semua pekerjaan selesai kemudian mengecat bangunan dan terakhir merapikan dan
membersihkan bangunan kembali.
PENJELASAN TIAP ITEM PEKERJAAN

I. PEKERJAAN PERSIAPAN

1. A. Pembersihan lahan

Membersihkan lahan dari rumput, humus, pohon dan dari sampah.


Arah pekerjaan ditentukan dengan mempertimbangkan urutan pekerjaan yang akan
dilaksanakan berikutnya
pembersihan yang merata.

1. B. Pembuatan pagar pengaman

Pagar terbuat dari seng gelombang dengan tinggi 2 m dan kayu dolken.
Dipasang mengelilingi lahan proyek

1. C. Penentuan as dan peil bangunan

As dan peil bangunan menentukan letak/posisi dan orientasi bangunan


Posisi As bangunan diukur dari titik acuan yang telah ditentukan
As bangunan harus ditandai dengan jelas(umumnya dengan warna merah) dan diletakan
pada ketinggian referensi (mis. + 0,00)
As bangunan ini menjadi acuan/referensi as-as yang lain untuk mementukan posisi
pondasi, kolom, lantai, dll, pada bangunan yang akan dibuat

1. D. Pemasangan bouwplank

Bowplank adalah papan-papan yang dipasang disekitar lokasi pekerjaan


Kayu yang digunakan adalah kayu 5/7 x 4m dan kayu papan 3/20
Bowplank dipasang mendatar sesuai ketinggian rencana, dan dipaku pada beberapa
tempat untuk menarik benang-benang as
Benang-benang as ini menjadi acuan dalam semua pekerjaan yang menyangkut letak
elemen bangunan, lebar pondasi dan tembok, kedalaman galian, dan ketinggian elemen
bangunan (lantai, pintu, jendela, dll)
Bowplank tidak perlu dipasang menerus, pada beberapa tempat dapat dikosongkan untuk
jalan pekerja
II. PEKERJAAN TANAH

1. A. Pekerjaan galian tanah

Gali tanah sesuai lebar pondasi bagian bawah dan kedalaman rencana
Gali sisi-sisi miringnya sehinga dicapai sudut kemiringan yang tepat
Tanah hasil galian diletakkan di pinggir galian diluar bouwplank, yang nantinya untuk
pekerjaan pengurugan kembali.
Cek posisi, lebar, kedalaman, dan kerapiannya, sesuai dengan rencana

1. Pekerjaan urugan pasir

Parit pondasi diurug pasir setebal 10 cm

1. C. Pekerjaan urugan tanah

Dilakukan urugan kembali terhadap pondasi yang telah terpasang.


Pemborong harus melaporkan kepada konsultan pengawas tentang rencana jaringan
listrik, telepon, septictank dan lain-lain apabila akan memulai pekerjaan pondasi.
Bekas lubang dan parit dalam bangunan harus ditimbun dengan pasir urug dan
dipadatkan.

III. PEKERJAAN PONDASI

1. A. Pasangan pondasi batu kali

Pondasi bangunan yang digunakan adalah pondasi batu kali / batu gunung yang
memenuhi persyaratan teknis atau sesuai keadaan dilapangan .
Pasangan pondasi adalah dari batu kali, ukuran pondasi sesuai dengan gambar rencana
pondasi atau pondasi batu belah dengan perekat 1pc : 3kp : 10 ps dan kemudian diplester
kasar , bagian bawah pondasi dipasang batu kosong (aanstamping) tebal 20 cm dengan
sela- selanya disisi pasir urug, disiram air sampai Penuh dan ditumbuk hingga padat dan
rata.
Celahcelah yang besar antara batu diisi dengan batu kecil yang cocok padatnya.
Pasangan pondasi batu kali tidak saling bersentuhan dan selalu ada perekat diantaranya
hinga rapat.
Pada pasangan batu kali sudah harus disiapkan anker besi untuk kolom, kedalaman anker
30 cm harus dicor dan panjang besi yang muncul diatasnya minimal 75 cm.
Cor stek kolom dan rapikan kembali
Setelah pasangan mengeras, tanah dapat diurug kembali
IV. PEKERJAAN BETON BERTULANG

1. A. Pembesian

Cara pengerjaan tulangan balok :

Buat tulangan sengkang dengan syarat :


bengkokan kait minimal 90o ditambah perpanjangan 12d
atau bengkokan kait 135o ditambah perpanjangan 6d
pembengkokan dilakukan dalam keadaan dingin
Potong tulangan memanjang dan bentuk sesuai gambar kerja
Masukan tulangan-tulangan memanjang balok pada sela-sela tulangan kolom/balok
disebelahnya sesuai dengan dimensi balok dan posisi tulangan
Masukan sengkang-sengkang balok sesuai dengan jumlahnya
Masukan tulangan-tulangan memanjang balok pada ujung yang lain ke sela-sela
kolom/balok sebelahnya
Ikat sengkang dengan tulangan memenjang sesuai dengan jarak sengkang yang
ditentukan dengan menggunakan kawat bendrat
Cek kembali hasil pabrikasi dengan gambar kerja yang ada
Pasang pengatur jarak selimut beton/ decking

1. B. Bekisting

Bekisting dibuat dengan bahan kayu kelas III (terentang) dan balok kayu kelas II, serta
dolken diameter 8/400
Cek jarak sabuk kolom/balok/sloof/ring balk
Cek pertemuan panel sudut bekisting
Permukaan plywood dibersihkan dan dilumasi minyak bekisting
Penyetelan sabuk dan kayu support bekisting
Pemberian mortar pada dudukan bekisting, pastikan mortar yang ditabur mengering

1. C. Betonisasi

Digunakan beton mutu K-300 dengan campuran 1PC:2PS:3KR


Untuk kolom pengecoran dilakukan tiap satu meter
Untuk plat dan balok pengecoran dilakukan sekaligus
Vibrasi yang cukup selama pengecoran
Pengetokan pada keliling luar bekisting
Untuk beton pada lantai 2 dari molen diangkut secara bertahap ke lantai 2
1. D. Pelepasan bekisting

Satu hari setelah pengecoran, bekisting dilepas


Melepas scafolding
Melepas plywood

1. E. Perawatan beton

Menyiram beton setiap siang dan sore selama minimal 3 hari


Menutupi dengan karung basah

V. PEKERJAAN DINDING

1. A. Pekerjaan pasangan batu bata

Pasang acuan kayu (profil) secara vertikal pada setiap ujung dinding yang akan dipasang.
Di ukur dan di tandai jarak setiap ketinggian pasangan bata / batako dan di kontrol
kesetimbangan horisontalnya antara ujung satu dengan yang lainnya.
Basahi bata yang akan di pasang sampai tidak menyerap air.
Beri adukan mortar (sebagai perekat) pada setiap sambungan antara batu bata dan pada
setiap sambungan atas dan bawah dari batu bata tidak boleh membentuk garis
lurus/vertikal.
Usahakan potongan batu bata yang besarnya kurang dari setengahnya tidak dipakai atau
tidak dipasang.
Tinggi pemasangan dinding batu bata dalam satu hari supaya tidak lebih dari 1 meter,
untuk menjaga keruntuhan.

1. B. Pekerjaan plesteran dinding

Siapkan material yang akan di pakai pada lokasi yang terdekat atau strategis dari dinding
yang akan di plester.
Siram permukaan bata / bataco dengan air sampai basah secara merata ( curing
).
Buat adukan untuk kamprotan dengan perbandingan tertentu (misalkan = 1 pc : 2
ps)
Lakukan kamprotan pada bidang yang telah dicuring dengan jarak lemparan
50 cm dari permukaan yang dikamprot dengan ketebalan 15 ~ 20 mm.
Setelah bidang yang dikamprot kering, lakukan penyiraman ( curing ) selama 3
hari ; pagi, siang & sore.
Setelah itu mulailah membuat caplakan dengan adukan 1 pc : 3 ps.
Buat kepalaan dengan ketebalan 15 mm.
Lanjutkan dengan penyiraman jika kepalaan telah mengering.
Pastikan bidang yang akan diplester telah dicuring.
Buat adukan 1 pc : 3 ps, gunakan pasir yang diayak ( halus ).
Lakukan plesteran pada bidang bidang yang telah ada kepalaannya sampai selesai
seluruh permukaan pada setiap bagian dengan cara dilempar dari jarak 50 cm
Gunakan jidar untuk meratakan permukaan sesuai dengan kepalaan.
Saat plesteran setengah kering, gunakan roskam untuk mengosok permukaan dinding
sampai halus & rata.
Lanjutkan dengan curing selama 7 hari : pagi, siang dan sore sampai permukaan
plesteran benar benar basah seluruhnya.
Setelah cukup usia curing, keringkan bidang tersebut selama 1 hari.
Haluskan permukaan dinding dengan amplas halus.
Plamir bidang bidang plesteran yang telah kering dengan menggunakan plamir
yang baik.
Lakukan sebanyak 3 lapis ( tiga kali pelaksanaan ) sampai dinding benar benar
rata dan halus.

VI. PEKERJAAN KUSEN, PINTU, DAN JENDELA

1. A. Pemasangan kusen

Siapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah dijangkau.
Rentangkan benang berjarak separuh dari tebal kusen terhadap as bouwplank untuk
menentukan kedudukan kusen.
Pasang angker pada kusen secukupnya.
Dirikan kusen dan tentukan tinggi kedudukan kusen pintu/jendela.
Setel kedudukan kusen pintu/jendela sehingga berdiri tegak dengan menggunakan unting-
unting.
Pasang skur sehingga kedudukannya stabil dan kokoh.
Pasang patok untuk diikat bersama dengan skur sehingga kedudukan menjadi kokoh.
Cek kembali kedudukan kusen pintu/jendela, apakah sudah sesuai pada tempatnya,
ketinggian dan ketegakan dari kusen.
Bersihkan tempat sekelilingnya.

1. B. Pemasangan daun pintu dan jendela

Ukur lebar dan tinggi kusen pintu/jendela.


Ukur lebar dan tinggi daun pintu/jendela.
Ketam dan potong daun pintu/jendela (bila terlalu lebar dan terlalu tinggi).
Masukkan/pasang daun pintu/jendela pada kusennya, stel sampai masuk dengan toleransi
kelonggaran 3 5 mm, baik ke arah lebar maupun kearah tinggi.
Lepaskan daun pintu/jendela, pasang/tanam engsel daun pintu pada tiang daun pintu (sisi
tebal) dengan jarak dari sisi bagian bawah 30 cm, dan dari sisi bagian atas 25 cm (untuk
pintu/jendela dengan 2 engsel), dan pada bagian tengah (untuk pintu dengan 3 engsel)
Masukkan/pasang lagi daun pintu/jendela pada kusennya, stel sampai baik
kedudukannya, kemudian beri tanda pada tiang kusen pintu/jendela tempat engsel yang
sesuai dengan engsel pada daun pintu/jendela.
Lepaskan sebelah bagian engsel pada daun pintu/jendela dengan cara melepas pennya,
kemudian pasang/tanam pada tiang kusen
Pasang kembali daun pintu/jendela pada kusennya dengan memasangkan engselnya,
kemudian masukkan pennya sampai pas, sehingga
terpasanglah daun pintu pada kusen pintunya.
Coba daun pintu/jendela dengan cara membuka dan menutup.
Bila masih dianggap kurang pas, lepaskan daun pintu/jendela dengan cara melepaskan
pen.
Stel lagi sampai daun pintu/jendela dapat membuka dan menutup dengan baik, rata dan
lurus dengan kusen

1. C. Pemasangan kaca

Letakkan daun pintu/jendela dengan posisi alur terletak pada bagian atas. Usahakan
letakkan pada meja yang luasnya minimal sama dengan luas daun pintu. Atau letakkan
pada lantai yang datar.
Haluskan seluruh sisi kaca agar tidak tajam.
Pasangkan lembaran kaca dengan hati-hati, gunakan selembar karton atau kain untuk
memegang kaca.
Pasang paku pada list kayu sebelum dipasang pada keempat sisi daun pintu/jendela.
Setelah lis terpasang, perlahan masukkan paku dengan martil.
Sebaiknya letakkan selembar kain di atas permukaan kaca yang sedang dipasang lis kayu.
Ini untuk menghindari goresan pada permukaan kaca karena gerakan martil

VII. PEKERJAAN PENUTUP ATAP

1. A. Pemasangan kuda-kuda

Pengangkutan kuda-kuda, bahan dan alat ke lokasi proyek


Pekerjaan pengecatan rangka kuda
Pekerjaan perangkaian kuda-kuda
Pekerjaan menaikan kuda-kuda keatas atap
Rangka kuda-kuda ditempatkan pada angkur yang terdedia, besi angkur merupakan
tulangan dari kolom yang dilebihkan sebagai pengikat antara kuda-
kuda dan dinding.Angkur kemudian ditempatkan pada plat dudukan kuda-kuda yang
sudah dilobangi, kemudian angkur dan plat dudukan kuda-kuda tersebut disambung
dengan baut angkur 12 mm.

1. B. Pemasangan rangka atap

Perangkaian ikatan angin vertikal


Pekerjaan menaikkan ikatan angin vertikal
Setelah ikatan angin vertikal dinaikkan, pekerjaan selanjutnya adalah perangkaian antara
ikatan angin vertikal dengan kuda-kuda
Setelah ikatan angin terpasang, kemudian balok nok dipasang pada rangka atap.
1. C. Pemasangan gording

Pengecatan gording
Memindahkan bahan gording ke lantai atas
Gording ditempatkan diatas kuda-kuda pada titik buhul kuda-kuda

1. Pemasangan genteng

Sebelum dilakukan pekerjaan pemasangn genteng sebelumnya disiapkan diatas atap


(disusun) pada titik-titik tertentu.
Genteng dipasang secarah horisontal terlebih dahulu pada bagian atas.
Setelah pada bagian paling atas terpasang diteruskan pada bagian bawahnyasecara
horizontal.
Dengan cara pemasangan genteng pada bagian atas diangkat atau diungkit setelah itu
dimasukan genteng pada bagian bawahnya.
Pertemuan dengan jurai genteng dipotong dengan bentuk segitiga agar rapi.

1. E. Pemasangan lisplank

Papan lisplank dipaku pada rangka listplank


Pada sambungan papan lisplank dibuat sambungan bibir lurus.
Setelah selesai pemasangan tahap berkutnya yaitu dilakukan pendempulan dan
pengecatan

1. F. Pemasangan plafond gypsum

Tentukan / marking elevasi plafond dan buat garis sipatan pada dinding & as
sumbu ruangan serta titik titik paku kait pada langit- langit dengan jarak
sesuai shop drawing.
Pasang paku kait. tembakan paku paku kait pada marking titik titik yang
telah ada 600 x 1200 mm.
Pasang penggantung rangka plafond ( rod ) yang terdiri dari hanger dan clip
adjuster ( ex. Boral type 223 ), dengan posisi tegak lurus.
Pasang rangka tepi ( steel hollow ) & wall angle profil l 20 x 20 mm
atau moulding profil w sebagai list tepi tepat pada sipatan marking elevasi
plafond.
Tentukan jarak penempatan kait penggantung.
Pasang tarikan benang sebagai pedoman penentu kelurusan dan ketinggian rangka
plafon
Pasang rangka utama / top cross rail ( ex.boral type 201 ) dengan jarak 1200
mm.
Pasang rangka pembagi / furing chanel ( ex.boral type 204 ) dengan jarak 600
mm menggunakan locking clip ( ex. Boral type 210 ).
Pasang dan kencangkan clip / rod.
Pasang panel gypsum pada rangka dengan sekrup ceiling menggunakan screw
driver dengan jarak 60 cm dan setiap sambungan harus tepat pada rangka.
Cek kerapihan dan kerataan bidang plafond dengan menggunakan waterpass.
Perataan sambungan plafond dengan men gunakan ceiling net / lakban.
Kemudian ditutup dengan paper tape dan compound ceiling.
Setelah itu diamplas
Finish permukaan plafond gypsum tersebut dengan cat.
Ratakan permukaan plafon gypsum menggunakan plamur sampai terlihat rata dan
lurus.
Haluskan dengan amplas sampai rata dan benar benar halus.
Cat seluruh permukaan plafond secara merata dengan kuas untuk bagian tepi
dan sudut, serta rol cat untuk bidang luas

1. G. Pemasangan plafond tripleks

Buat marking elevasi, as dan jarak penggantung rangka plafon sesuai dengan
shopdrawing. ( untuk menentukan ketinggian plafond )
Pasang benang nylon dua sisi dan sejajar sebagai pedoman kelurusan &
ketinggian rangka, sesuai elevasi yang telah dibuat.
Pasang instalasi terlebih dahulu sebelum memasang rangka plafond.
Pasang rangka plafond (yang telah dihaluskan, dimeni & dipotong) sesuai
marking yang telah dibuat.
Periksa kelurusan dan kerataan rangka menggunakan waterpass & siku besi.
Potong panel plafond plywood dengan gergaji sesuai shop drawing.
Haluskan bekas potongan plywood dengan amplas.
Pasang panel plafond plywood tersebut dengan mengatur :
kelurusan & kerapatan nad plafond
kerataan plafond
Pemasangan plafond dimulai dari tepi ( mengikuti gambar kerja) dan diperkuat
dengan paku yang diketok dengan palu besi.
Cek kerataan permukaan plafond yang sudah jadi dengan waterpass.
Rapikan & haluskan permukaan plafond plywood yang telah terpasang dengan
amplas sampai rata / licin.
Bersihkan permukaan yang telah diamplas dengan kain lap.

VIII. PEKERJAAN SANITASI

1. A. Pemasangan kloset duduk


2. B. Pemasangan kloset jongkok
3. C. Pemasangan kran air
4. D. Pemasangan bak cuci piring
5. E. Pekerjaan bak mandi
6. F. Pekerjaan bak peresapan
7. G. Pekerjaan septictank
8. H. Pemasangan pipa PVC 1/2
9. I. Pemasangan pipa PVC 3/4
10. J. Pemasangan pipa PVC 3
11. K. Pemasangan pipa PVC 4

IX. PEMASANGAN KERAMIK

1. A. Pemasangan lantai keramik

Siapkan peralatan dan bahan bahan yang akan digunakan.


Pahami gambar kerja, pola pemasangan dan lain lain.
Sortir keramik agar menghasilkan keseragaman :

ukuran / dimensi.

presisi.

warna.

Rendam keramik yang akan dipasang kedalam bak air ( ember ) selama 1 jam.
Keramik dianginkan dengan cara diletakan pada tempat dudukan / tatakan
keramik, setelah pro ses perendaman.
Tentukan garis dasar pasangan serta peil dari lantai. Penentuan peil ini untuk
seluruh kesatuan
Pasang benang arah horizontal dan vertikal pada lantai sesuai elevasi pada shop
drawing. Kedudukan benang harus datar dan siku , apabila dinding yang ada
adalah dinding keramik, maka kedudukan nad lantai harus disesuaikan dengan
yang ada pada dinding.
Pasang keramik sebagai pasangan kepalaan , sepanjang garis dasar yang telah
terpasang
Cek kesikuan keramik dengan besi siku dan kerataan elevasi keramik dengan
waterpass.
Isi bagian / daerah permukaan lantai yang lain nya dengan adukan / spesi.
Setelah itu pasang keramik berikutnya sesuai posisinya sampai selesai, usahakan
supaya tidak ada las lasan
Jika keramik sudah terpasang semua, ketuk per mukaan keramik dengan palu karet
untuk mendatarkan / meratakan permukaan keramik supaya tidak rusak / cacat.
Setelah itu cek kerataan elevasi keramik dengan waterpass
Bersihkan permukaan pasangan keramik yang telah terpasang dengan kain / lap
basah sampai bersih.
Untuk menghindari naiknya lantai ( menggelembungnya lantai ) maka buatlah
delatasi.
Kemudian siapkan isian / bahan cor nad pada bak air ( ember ) dan aduklah
hingga rata
Setelah adukan rata , isi sela sela nad dengan bahan cor nad dengan
menggunakan sendok spesi ( sekop ). Pengisian nad dilakukan apabila
kedudukan keramik telah kuat atau spesi telah kering
Kemudian rapikan nad tersebut dengan cape.
Diamkan dan tunggu sampai nad tersebut benar -benar kering.
Setelah kering, bersihkan permukaan pasangan keramik yang sudah dipasang
nad dari sisa sisa bahan cor nad dengan menggunakan kain / lap basah sampai
bersih

1. B. Pemasangan dinding keramik (2020)

Siapkan peralatan dan bahan bahan yang akan digunakan.


Pahami gambar kerja, pola pemasangan dan lain lain.
Sortir keramik agar menghasilkan keseragaman : :
o ukuran / dimensi.
o presisi.
o warna.
o Rendam keramik yang akan dipasang kedalam bak air ( ember ) selama 1
jam.
o Keramik dianginkan dengan cara diletakan pada tempat dudukan / tatakan
keramik, setelah pro ses perendaman.
o Membuat garis-garis sipatan waterpas pada dinding keramik keliling +/- 1m untuk
menentukan ketinggian dan kedataran pemasangan keramik.
o Membuat lot pada dinding di tiap pojok ruangan dan kesikuannya serta garis
pertengahan dinding untuk pembagian keramik.
o Mengukur jarak-jarak dinding untuk lebar dan tinggi ruangan, serta bagian-bagian
yang terpasang pada ruangan tersebut.
o Berdasarkan data data pengukuran kemudian membuat gambar kerja untuk
pembagian pemasangan keramik dinding tersebut.
o Ukuran pemasangan keramik mengikuti gambar yang sudah dibuat sebelumnya
sebagai acuan kerja.
o Pada pelaksanaan pekerjaan keramik dinding, sebaiknya keramik lantai belum
terpasang sehingga nantinnya mendapat nut yang segaris antara dinding dan
lantai.
o Pemasangan keramik harus padat dan rata sehingga tidak ada keramik dengan
spesi kosong
o Membuat kepalaan keramik baik secara horisontal maupun vertikal mengikuti
garis sipatan dan lot ketegakan yang telah dibuat sebelumnya.
o Sebelum keramik dipasang sebelumnya dinding dibasahi terlebih dahulu dengan
air.

X. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK

Semua hantaran (kabel) yang ditarik dalam pipa / cabelduct harus diusahakan tidak
tampak dari luar (tertanam).
Pemasangan pipa harus dilaksanakan sebelum pengecoran. Pemasangan sparing-sparing
listrik yang melintas di plat, balok, kolom beton harus dipasang terlebih dahulu sebelum
pengecoran, kabel diusahakan dimasukkan bersamaan dengan pemasangan sparing.
Pipa yang dipasang pada dinding dilaksanakan sebelum pekerjaan plesteran dan acian
dikerjakan.
Penempatan sambungan/percabangan harus ditempatkan di daerah yang mudah dicapai
untuk perbaikan (perawatan).
Sambungan harus menggunakan klem / isolasi kabel supaya terlindung dengan baik
sehingga tidak tersentuh atau menggunakan lasdop dan ditempatkan pada Te Dos.
Lekukan/belokan pipa harus beradius > 3 kali diameter pipa dan harus rata (untuk
memudahkan penarikan kabel).
Jaringan arde harus dipasang tersendiri/terpisah dengan arde penangkal petir.

tidak boleh ada sambungan

dihubungkan dengan elektroda pentanahan

ditanam sampai minimal mencapai air tanah

Pada hantaran di atas langit-langit, harus diklem pada bagian bawah plat / balok atau
pada balok kayu rangka langit-langit.
Untuk hantaran/tarikan kabel yang menyusur dinding bata/beton pada shaft harus diklem
atau dengan papan dan kabeltrey bila jaringan terlalu rumit (banyak).
Stop kontak dan saklar. Pemasangan stop kontak setinggi > 40 cm dari lantai, saklar
dipasang setinggi
150 cm dari lantai (bila tidak ditentukan spesifikasinya). Pemasangan stop kontak dan
saklar harus rata dengan dinding.
Box / kotak Panel bodynya harus diarde, untuk menghindari adanya arus.

XI. PEKERJAAN KUNCI DAN TERALIS BESI

1. Kunci tanam
2. Kunci kamar mandi
3. Engsel pintu
4. Engsel jendela
5. Teralis tangga

XII. PEKERJAAN FINISHING

1. A. Pengecatan

Bersihkan permukaan dinding dari debu , kotoran dan bekas percikan plesteran dengan
kain lap.
Lindungi bahan bahan / pekerjaan lain yang berbatasan dengan dinding yang akan
dicat dengan kertas semen / koran dan lakban.
Gunakan skrap untuk memperbaiki bagian bagian dinding yang retak & kurang rata
dengan plamir, kemudian tunggu sampai kering.
Haluskan plamir yang telah kering dengan amplas hingga rata.
Cek, kerataan permukaan dinding.
Jika permukaan sudah rata, maka lakukan pengecatan dasar dengan alat rol pada bidang
yang luas & dengan kwas untuk bidang yang sempit ( sulit ).
Jika cat dasar tersebut sudah kering, lakukan pengecatan finish yang pertama.
Jika cat finish yang pertama sudah kering, lakukan pengecatan finish yang kedua /
terakhir ( jumlah pelapisan cat sesuai dengan spesifikasi ).
Cek kerataan pengecatan yang terakhir.
Apabila sudah rata, bersihkan cat cat yang mengotori bahan bahan / pekerjaan
lain yang seharusnya tidak terkena cat dengan kain lap.
Sejak zaman sebelum perang dunia meletus, perkembangan abad yang sudah memprioritaskan
bangunan sebagai tempat tinggal. Dimulai dengan bangunan-bangunan bersifat keagamaan dan
unsur politis sebagai simbol kekuasaan yang dibuat dengan konstruksi yang tinggi dan lebih dari
1 lantai seperti Masjid, gereja, kuli-kuil , balai kota dan lain-lain.

Kita pasti ingat dengan bangunan-bangunan tinggi berikut yang sangat mendunia seperti menara
Eifel, Paris, Prancis & menara condong Pissa, Pissa, Italia

Evolusi perkembangan dari bangunan bertingkat tinggi dimula periode pertama pada Equitable
Life InsuranceBuilding 1857, New York, Amerika.

Pembangunan gedung bertingkat pada zaman itu sangatlah tidak mudah dengan belum
diciptakannya komputer sebagai alat bantu manusia dalam mengerjakan pekerjaan seperti
mendesaign dan menghitung. Namun dengan gambar desaign gedung manual oleh arsitek-arsitek
yang handal dan perhitungan oleh para insinyur yang teliti dapatlah tercipta gedung yang kokoh,
proporsional dan memenuhi sebagai fungsinya.

Pada saat ini memasuki zaman globalisasi yang memodernkan tiap-tiap pembangunan dan
bentuk-bentuk gedung bertingkat. Pembangunan gedung bertingkat saat ini ditekankan tidak
pada fungsinya saja melainkan pada keindahaan bentuk gedung dan kualitas kekuatan gedung
tersebut. Dibangunnya gedung bertingkat dengan keindahaan dan kualitas kekuatannya
dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan saat-saat ini seperti perkantoran, bisnis, pemerintahan,
fasilitas publik seperti mall, stasiun, bandara dll. Dengan gedung bertingkat, keadaan ruang
untuk memuat orang banyak tak perlu memiliki lahan luas, cukup dengan menambah lantai di
atas lantai satu dan seterusnya.

Dari penjelasan di atas kita sudah mengenal gedung bertingkat dari sejarahnya pada abad 19
dengan fungsi-fungsinya. Kini kita ulas mengenai tahap proses pembangunan gedung bertingkat.

Tahap pelaksanaan pekerjaan menentukan hasil gedung yang direncanakan oleh pihak
perencana. Sebelum kita membahas tahap-tahap pelaksaan pembangunan gedung bertingkat, kita
lebih dulu mengenal pihak-pihak yang aktif dalam pelaksanaan proyek itu. Pihak di antaranya
yaitu :

Konsultan proyek
Koordinator dan para pelaksana
Pihak pemilik (owner) jika diperlukan
Pihak perencana / arsitek jika diperlukan
Pada tahap pelaksanaan, semua pelaksanaan pekerjaan di lapangan mengikuti rencana yang telah
dibuat oleh perencana. Dari rencana-rencana tersebut antara lain gambar rencana gedung dan
detailnya, material dan dokumen-dokumen penting lainya. Tahap berikut setelah dokumen-
dokumen pendukung pelaksaan proyek sudah ada, proyek bisa berjalan.

Sebelum memulai proyek gedung, pastikan hal-hal pendukung pekerjaan sudah memenuhi
kebetuhan proyek seperti peralatan-peralatan kerja, material, fasilitas pendukung, dan tenaga
kerja

1. Peralatan

Peralatan-peralatan proyek dikategorikan menjadi 2, yaitu peralatan berat dan peralatan ringan

Peralatan berat meliputi :

1. Backhoe : backhoe digunakan untuk pekerjaan tanah, biasanya sering disebut bulldoser.
Fungsi utamanya yaitu menggali/mengeruk tanah
2. Concrete pump truck : alat untuk memompa beton ready mix dari mixer truck ke lokasi
pengecoran. Penggunaan concrete pump truck ini untuk meningkatkan kecepatan dan
efisiensi waktu pengecoran. Alat ini digunakan untuk pengecoran balok dan plat lantai.
3. Tower rane : diperlukan terutama sebagai pengangkut vetikal bahan-bahan untuk
pekerjaan struktur, seperti besi beton, bekisting, beton cor, pengangkutan material/bekas,
dan material lainnya.
4. Concrete mixer truck : alat untuk mengolah campuran beton dan memompa beton ready
mix dari mixer truck ke lokasi pengecoran.
5. Dum truck : alat yang dipergunakan untuk memindahkan atau membuang suatu material
hasil galian dari lokasi proyek ke lokasi proyek yang telah ditetapkan kemana material
tersebut itu dibuang / dijual.

Peralatan ringan meliputi :

1. Theodolith : alat untuk menentukan as bangunan dan titik-titik as kolom pada tiap-tiap
lantai agar bangunan yang dibuat tidak miring.
2. Waterpass : alat yang digunakan untuk menetukan elevasi / peil lantai, balok, lain lain
yang membutuhkan elvasi.
3. Trowel : alat yang digunakan untuk menghaluskan permukaan beton
4. Gerobak dorong
5. Cangkul
6. Sekop
7. Gergajih
8. Palu
9. Rol meter
10. Alat pengikat bendrat
11. Klem kolom Dan lain-lain

2. Material

Mengingat rencana pekerjaan proyek gedung yang dibatasi oleh waktu, maka diusahakan
pemilihan atau penempatan material yang tepat dan seefisien mungkin sehingga dapat
mempercepat dan mempermudah pekerjaan. Pemilihan material yang baik juga akan
menghasilkan bangunan gedung yang kokoh.

Berikut material-material yang dibutuhkan dalam proyek gedung :

1. Pasir : a. Pasir agregat kasar


2. Pasir agregat halus
3. Semen
4. Air : gunakanlah air yang bersih dan tidak mengandung lumpur
5. besi-besi tulangan

Dsb

3. Pekerja

Dalam suatu proyek bangunan, komponen-komponen dari unsur utama yaitu pekerja atau tenaga
ahli. Pekerja dibutuhkan untuk melaksanakan seluruh rencana yang sudah dibuat oleh perencana
dan melaksanakannya sesuai prosedur. Di dalam proyek kecil maupun besar, keahlian dan
keselamatan pekerja sangatlah penting demi mengurangi hambatan pelaksanaan dan mengurangi
kerugian materil maupun nyawa.

Jika unsur-unsur pendukung dalam pelaksanaan proyek tersebut telah terpenuhi maka
selanjutnya adalah melaksanakan pekerjaan di lapangan dalam rangka membangun gedung
bertingkat. Pelaksanaan pekerjaan di lapangan melalui tahap-tahap pekerjaan berikut :

Tahap-tahap pekerjaan

1. Persiapan

Pada pekerjaan persiapan , meliputi survei keadaan di lapangan yang akan dibangun gedung
yaitu 1.) Pembersihan lahan, seperti mencabut rumput dan menghilangkan / menebang pohon
yang mungkin menjadi penghalang 2.) pembuatan pagar pengaman, dibuat dengan mengelilingi
area yang akan digunakan untuk proyek. 3.) Penentuan as dan peil bangunan. 4.)
pemasangan bouwplank, merupakan papan-papan yang dipasang di sekitar pekerjaan

2. Pekerjaan Tanah

Pekerjaan tanah yaitu melaksanakan pekerjaan dari rencana proyek yang sedang dilaksanakan di
area lahan/tanah, pekerjaan tanah meliputi : 1.) galian tanah pondasi, pada galian pondasi untuk
bangunan bertingkat/gedung tinggi yaitu dengan galian yang dalam. 2.) urugan pasir. 3.)
urugan tanah, yaitu mengurug tanah kembali setelah pasangan pondasi selesai dipasang.

3. Pekerjaan pondasi

Bagian yang paling mendasar dari suatu bangunan yakni pondasi.

Dalam ilmu bangunan dan realita pekerjaan bangunan memiliki jenis-jenis pondasi yang harus
disesuaikan dengan bangunan yang akan dibuat. Jenis-jenis pondasi antara lain :

pondasi dangkal : pasangan batu kali, pondasi ceker ayam, pondasi umpak , pondasi batu
bata
Pondasi dalam : pondasi tiang pancang ( driven pile ) , pondasi tiang franki ( franki pile ),
pondasi tiang injeksi ( injection pile ), pondasi tiang bor ( bored pile )

Sebelum menentukan pondasi mana yang akan diaplikasikan pada proyek tersebut, sebelumnya
telah diteliti keadaan tanah di lapangan. Mengenai tekstur tanah dan daya dukung tanah terhadap
bangunan tinggi yang akan dibangun. Namun pada umumnya, penggunaan pondasi untuk
bangunan atau gedung dengan lebih dari 3 lantai maka digunakan pondasi tiang pancang. Pada
artikel ini membahas pembangunan gedung bertingkat seperti pada gambar di atas atau awal
tepatnya 20 lantai. Lebih tepatnya menggunakan tiang pancang. Pondasi tiang pancang sama
dengan pondasi bored pile, namun kekuatannya lebih besar pondasi tiang pancang yang pada
umumya digunakan untuk pondasi bangunan apartement, kondominium, rent office dan
sebagainya.

Karena pada proyek gedung bertingkat ini menggunakan pondasi tiang pancang maka untuk
galian tanah menggunakan alat-alat berat.

4. Pekerjaan Beton Bertulang

Sangat difokuskan pada pekerjaan beton bertulang, dalam proyek gedung bertingkat dengan 20
lantai. Mulai dari pondasi tiang pancang, tiang pancangnya yang sudah terbuat dari beton
bertulang maka dengan itu membuat konstruksi pondasi sangat kokoh, selanjutnya untuk kolom
dan balok-balok pada konstrusi bagian atas pondasi.

Pekerjaan beton bertulang meliputi : 1.) pembesian, pengerjaan disesuaikan dengan apa yang ada
pada gambar rencana. Pada proyek gedung bertingkat menggunakan baja sebagai kerangka

2.) bekisting, yakni percetakan balok. 3.) betonisasi, pada tahap ini tiap cetakan kolom dan
balok diisi adonan beton dengan berbagi ketentuan yang memenuhi standar.

5. Pekerjaan dinding

Gedung pencakar langit pada saat-saat ini menggunakan dinding kaca, namun dinding seperti
batu-batu diganti dengan beton tumbuk ringan, beton tumbuk ringan ini lebih efisien memiliki
kualitas yang cukup baik dan beratnya yang ringan memudahkan pengangkutan material.

Berikut jenis-jenis kaca yang sering digunakan dalam proyek gedung bertingkat :

Kaca bening
Kaca warna
Kaca es
Kaca reflektif
Kaca tempered
Kaca laminated

Pada umunya penggunaan kaca untuk dinding eksterior gedung bertingkat yaitu dengan
menggunakan kaca reflektif karena lapisan kaca refletif ini bersifat memantulkan cahaya dan
panas, serta mampu memberikan penampilan yang mewah, sekaligus menurunkan beban energi
pengkodisian udara. Aplikasi kaca untuk dinding gedung bertingkat memiliki keuntungan
sendiri, selain memberi kesan megah dan mewah pada penampilan juga dapat menghemat energi
karena kaca refleksi dapat memantulkan sekitar 30 % cahaya matahari, sehingga suhu panas di
dalam ruangan berkurang dan dapat meringankan kerja AC. Ketebalan kaca refleksi yang akan
digunakan sebagai dinding gedung haruslah sesuai standar kebutuhan untuk keperluan dinding.

6. Pekerjaan Kusen, Pintu dan Jendela

Untuk pekerjaan ini, sebuah proyek gedung tidaklah menggunakan kusen, pintu dan jendela yang
digunakan untuk rumah pada umumnya. Pintu pada gedung bertingkat biasanya menggunakan
kaca bening tebal sesuai kegunaanya, dan pintu alumunium. Kusen pintu dan kusen jendela juga
tidak terbuat dengan kayu seperti pada bangunan rumah biasa. Jendela dibuat dan ditempatkan
dengan menentukan letak fungsi dan memperhatikan keadaan pemandangan.
7. Pekerjaan tangga

Penggunaan tangga pada bangunan bertingkat sangatlah vital, sebagai penghubung lantai 1
dengan lantai 2 , lantai 2 dengan lantai 3 dan seterusnya. Tangga menurut bahannya dibedakan
menjadi 2, yaitu tangga beton dan tangga kayu. Pada proyek gedung bertingkat tangga beton
sangatlah cocok dengan keadaan gedung yang besar dan tinggi dan muatan orang yang banyak.
Lebar tangga ditentukan berdasarkan muatan lebar badan orang yang melintas, 80 cm untuk 1
orang , 120 cm untuk 2 orang. Pada konstruksi tangga ada istilah optrade dan antrade, yakni
langkah lebar dan langkah atas. Berikut dalah rumus tangga : 1 aantrade + 2 optrade = 56-60 cm.

Macam-macam bentuk-bentuk tangga yakni antara lain : Tangga bordes 2 lengan, tangga bordes
3 lengan, tangga 2 perempatan, tangga dengan permulaan perempatan dan tangga dengan
penghabisan perempatan.

8. Pekerjaan atap

Untuk sebuah gedung bertingkat dengan 20 lantai, seperti pada gambar di awal tidaklah dengan
atap-atap seperti biasanya yakni genting, sirap, asbes, maupun seng. Demi memberi kesan
megah, kaca juga dapat dijadikan untuk atap. Kaca yang sebaiknya digunakan memiliki
ketebalan minimal 12 mm, misalnya dengan menggunakan jenis kaca tempered atau laminated.

Dari ke delapan tahap pekerjaan pada proyek gedung bertingkat secara inti, bangunan sudah
mencapai tahap penyelesaian. Namun dalam sebuah gedung bertingkat tidaklah hanya bagian-
bagian pekerjaan manual itu saja, terdapat unsur-unsur pendukung seperti fasilitas untuk
mempermudah penjangkauan dengan banyak lantai bertingkat, maka digunakanlah lift, bisa saja
dengan eskalator dan unsur pendukung lainnya.

Setelah unsur pendukung daripada bagian bangunan gedung telah terpenuhi selanjutnya yakni
proses finishing yaitu melengkapi tiap bagian-bagian ruangan gedung dengan sket guna
membagi ruang sesuai dengan fungsinya. Bahan-bahan finishing dipilih agar sesuai dengan
suasana dan keadaan gedung yang dibangun.
1. Penjelasan Umum

Pelaksanaan pekerjaan dilapangan dilakukan sepenuhnya oleh kontraktor pelaksana yang telah
ditunjuk dan diawasi langsung konsultan pengawas dan Departemen Pekerjaan Umum.
Pelaksanaan pekerjaan dilakukan berdasarkan atas gambar-gambar kerja dan spesifikasi tekhnik
umum dan khusus yang telah tercantum dalam dokumen kontrak, rencana kerja & syarat-syarat
(RKS) dan mengikuti perintah atau petunjuk dari konsultan, sehingga hasil yang dicapai akan
sempurna dan sesuai dengan keinginan pemilik proyek.

2. Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan persiapan dilaksanakan sebelum pekerjaan fisik dimulai.


Adapun pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan dalam pekerjaan persiapan tersebut, yaitu :

a. Pekerjaan pematokan dan pengukuran ulang


Pekerjaan pematokan dan pengukuran ulang dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana dengan
tujuan pengecekan ulang pengukuran. Pemasangan patok pengukuran untuk profil memanjang
dipasang pada setiap jarak 25 meter.

b. Survey kelayakan struktural konstruksi perkerasan.


Kelayakan struktural konstruksi perkerasan dilaksanakan dengan pemeriksaan destruktif yaitu
suatu cara pemeriksaan dengan menggunakan alat Benkelman.

c. Pengadan direksi keet


Untuk pengadaan direksi keet ini pihak kontraktor pelaksana membuatnya disekitar lokasi
proyek. Direksi keet ini berfungsi untuk tempat beristirahat para pekerja dan penyimpanan
material serta peralatan pekerjaan.

d. Penyiapan badan jalan


Pekerjaan ini meliputi pembersihan lokasi, penutupan jalan dan lainnya. Sehingga pelaksanaan
proyek ini berjalan dengan lancar.

3. Pekerjaan Galian dan Timbunan

Gambar Struktur Pekerjaan Tanah

Pekerjaan Galian

1. Pekerjaan galian adalah pekerjaan pemotongan tanah dengan tujuan untuk memperoleh

bentuk serta elevasi permukaan sesuai dengan gambar yang telah direncanakan. Adapun

prosedur pekerjaan dari pekerjaan galian, yaitu :

2. Lokasi yang akan dipotong (cutting) haruslah terlebih dahulu dilakukan pekerjaan

clearing dan grubbing yang bertujuan untuk membersihkan lokasi dari akar-akar pohon

dan batu-batuan.

3. Untuk mengetahui elevasi jalan rencana, surveyor harus melakukan pengukuran dengan

menggunakan alat ukur (theodolit). Apabila elevasi tanah tidak sesuai maka tanah

dipotong kembali dengan menggunakan alat berat (motor grader), sampai elevasi yang

diinginkan.

4. Memadatkan tanah yang telah dipotong dengan menggunakan Vibrator Roller.


5. Melakukan pengujian kepadatan tanah dengan tes kepadatan (ujiDdensity Sand Cone

test) di lapangan.

Pekerjaan galian dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian :

a. Galian Biasa Commond Excavation)

Dalam pekerjaan ini dilakukan penggalian untuk menghilangkan atau membuang material yang

tidak dapat dipakai sebagai struktur jalan, yang dilakukan menggunakan excavator untuk

memotong bagian ruas jalan sesuai dengan gambar rencana, sedangkan pengangkutan dilakukan

dengan menggunakan dump truck.

b. Galian Batuan / Padas

Pekerjaan galian batu (padas) mencakup galian bongkahan batu dengan volume 1 meter kubik

atau lebih. Pada pekerjaan galian batu ini biasa dilakukan dengan menggunakan alat bertekanan

udara (pemboran) dan peledekan.

c. Galian Struktur

Pada pekerjaan galian struktur ini mencakup galian pada segala jenis tanah dalam batas

pekerjaan yang disebut atau ditunjukkan dalam gambar untuk struktur. Pekerjaan galian ini

hanya terbatas untuk galian lantai pondasi jembatan.

Pekerjaan Timbunan dan Pemadatan


Perlu diingat sebelum pekerjaan galian maupun timbunan harus didahului dengan pekerjaan
clearing dan grubbing, maksudnya adalah agar lokasi yang akan dilakerjakan tidak mengandung
bahan organik dan benda-benda yang mengganggu proses pemadatan. Timbunan dilaksanakan
lapis demi lapis dengan ketebalan tertentu dan dilakukan proses pemadatan.

Proses penimbunan dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :

1. Timbunan Biasa
Pada timbunan biasa ini material atau tanah yang biasa digunakan berasal dari hasil galian badan
jalan yang telah memenuhi syarat.

2. Timbunan Pilihan
Pada pekerjaan timbunan ini tanah yang digunakan berasal dari luar yang biasa disebut
borrowpitt. Tanah ini digunakan apabila nilai CBR tanah dari timbunan kurang dari 6%.

Proses pemadata tanah dimaksudkan untuk memadatkan tanah dasar sebelum melakukan proses
penghamparan material untuk memenuhi kepadatan 95%, dengan menggunakan alat berat seperti
Vibrator Roller, Dump Truck, Motor Grader.

Adapun langkah kerja dari proses pemadatan tanah, yaitu :

1. Mengangkut material dari quary menuju lokasi dengan menggunakan Dump Truck.
2. Menumpahkan material pada lokasi tempat dimana akan dilaksanakan pekerjaan
penimbunan.
3. Meratakan material menggunakan Motor Grader sampai ketebalan yang direncanakan.
Sebagai panduan operator Grader dan vibro maka dipasang patok tiap jarak 25 m yang
ditandai sesuai dengan tinggi hamparan.
4. Memadatkan tanah denga menggunakan Vibrator Roller yang dimulai sepanjang tepi dan
bergerak sedikit demi sedikit ke arah sumbu jalan dalm keadaan memanjang, sedangkan
pada tikungan (alinyemen horizontal) harus dimulai pada bagian yang rendah dan
bergerak sedikit demi sedikit ke arah yang tinggi, pemadatan tersebut dipadatkan dengan
6 pasing (12 x lintasan) hingga didapatkan tebal padat 20 cm hingga didapat elevasi top
subgrade yang sesuai dengan rencana.

Pengujian Kepadatan Tanah

Pengujian Sand Cone

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kepadatan dan kadar air dilapangan. Juga bisa

sebagai perbandingan pekerjaan yang akan dilaksanakan dilapangan dengan perencanaan

pekerjaan.

Gambar Titik Pengambilan Sampel


Pekerjaan Lapis Pondasi Bawah
Lapisan perkerasan yang terletak antara lapis pondasi atas dan tanah dasar dinamakan lapis
pondasi bawah yang berfungsi sebagai :

1. Bagian dari konstruksi perkerasan yang menyebarkan beban roda ke tanah dasar. Dengan
nilai CBR 20% dan Plastisitas indeks (PI) 10%.
2. Material pondasi bawah relatip murah dibandingkan dengan lapisan perkerasan diatasnya.
3. Mengurangi tebal lapisan diatasnya yang lebih mahal.
4. Lapisan perkerasan, agar air tanah tidak berkumpul dipondasi.
5. Lapisan pertama, agar pekerjaan dapat berjalan lancar.
6. Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik kelapis atas. Tebal
rencana lapisan pondasi bawah ini adalah 20 cm.

Lapisan pondasi agregat kelas B yang digunakan dalam proyek ini memiliki komposisi sebagai
berikut :

1. Split 5/7
2. Split 3/5
3. Split 2/3
4. Abu Batu

Teknik pelaksanaan pekerjaan penghamparan dan pemadatan dari Base B adalah :

Pengangkutan material base B ke lokasi proyek dengan menggunakan Dump Truck.


Setelah sampai di lokasi, campuran ditumpuk menjadi lima sampai enam tumpukan
disepanjang lokasi yang telah siap untuk dihampar base B.
Penghamparan material base B dilakukan dengan menggunakan alat motor grader dengan
kapasitas 3,6 m. Setelah badan jalan terbentuk, kemudian dipadatkan dengan alat vibrator
roller dengan kapasitas 16 ton.
Jika disuatu lokasi ada campuran material yang kurang baik ikatannya maka dapat
ditambahkan abu batu dengan bantuan tenaga manusia untuk mengikat material tersebut
ketika dipadatkan kebali dengan vibrator roller.

Untuk mengetahui apakah tebal penghamparan base B dan % kemiringan telah sesuai dengan
yang direncanakan maka digunakan waterpass agar dapat menemukan elevasinya.

Peralatan

Dalam pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi atas digunakan alat alat sebagai berikut :

Wheel Loader berfungsi untuk mengambil tumpukan agregat dari tempat pengambilan
material, selanjutnya dimasukkan kedalam dunp truck.
Dump truck berfungsi untuk mengangkut material agregat base B ke lokasi pekerjaan.
Motor grader berfungsi untuk memadatkan material base B.
Water tank truck berfungsi untuk menyiram agregat base B setelah penghamparan.

Bahan dan Material

Agregat baru pecah kelas B yang sesuai dengan persyaratan (table agregat base B)

Tabel Gardasi Agregat Kelas A dan Kelas B

Nomor Mm Kelas A Kelas B


2 in 50 100 100
11/2 in 37.5 100 88 - 95
1 in 25 65 - 81 70 - 85
3/8 in 9.5 42 - 60 30 - 65
#4 4.75 27 - 45 25 - 55
# 10 2 Nop-25 15 - 40
# 40 0.425 6 16 8 20
# 200 0.075 0-8 28

Tabel Karakteristik Agregat Kelas A dan Kekas B

Sifat Material Sifat Kelas A Sifat Kelas B


Nilai Abrasi Agregat Kasar ( AASTHO T 96 - 87 ) 0 - 40% 0 - 40%
Plasticity Index ( AASTHO T 90 - 87 ) 0-6 4 10
Batas Cair ( AASTHO T 89 - 90 ) 0 25 -
CBR ( AASTHO T180 ) 90 min 35 min
Hasil Kali PI dengan % lolos ayakan no. 200 25 maksimum -

Pengawasan Pekerjaan
Pengawasan pekerjaan dilaksanakan olek konsultan pengawas. Hal ini dilakukan untuk
menjamin pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor sebagai pelaksana proyek, apakah sesuai
dengan ketentuan yang terdapat dalam spesifikasi.

Ketentuan ketentuan pelaksanaan pekerjaan yang sesuai dengan spesifikasi adalah sebagai
berikut :

Penghamparan lapis pondasi agregat, baik kelas A maupun kelas B tidak boleh
mempunyai ketebalan kurang dari dua kali ukuran maksimum bahan.
Penghamparan lapis pondasi kelas A maupun kelas B tidak boleh lebih dari 20 cm dalam
keadaan loose, hal ini dapat mempengaruhi proses pemadatan sehingga pemadatan yang
dilakukan tidak mencapai keadaan optimal.
Permukaan lapis pondasi agregat harus rata sehingga air tidak dapat menggenang akibat
permukaan yang tidak rata. Deviasi maksimum untuk kerataan permukaan adalah 1 cm.
Toleransi terhadap tebal total lapis pondasi agregat adalah 1 cm dari tebal rencana.
Lapis pondasi yang terlalu kering atau terlalu basah untuk pemadatan yaitu kurang dari
1% atau lebih dari 3% pada kadar air optimum, diperbaiki dengan cara mengga
Perencanaan Jembatan

PENDAHULUAN

I. Pengertian

Jembatan adalah bangunan pelengkap jalan yang menghubunkan suatu lintasan yang terputus
akibat suatu rintangan atau sebab lainnya, dengan cara melompati rintangan tersebut tanpa
menimbulkan / menutup rintangan itu.
Lintasan tersebut bisa merupakan jalan kendaraan, jalan kereta api atau jalan pejalan kaki,
sedangkan rintangan tersebut dapat berupa sungai, jalan, jalan kereta api, atau jurang (bisa juga
berupa jurang pemisah antar gedung bertingkat)

Jembatan mempunyai ciri-ciri khusus yaitu mempunyai Bangunan atas, Bangunan bawah dan
Bangunan pelengkap.

Bangunan atas adalah komponen jembatan yang menerima beban kendaraan di atas perlekatan.
Termasuk katagori Bangunan atas adalah :
- Balok, Rangka, Dek yang terdiri atas plat, dsb.
- Perletakan.

Bangunan bawah adalah bangunan untuk meneruskan beban ke tanah dasar. Bangunan bawah
dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kepala jembatan (abutment) atau pilar (pier) dan pondasi.
Termasuk katagori Bangunan bawah adalah :
- Kepala jembatan/pilar
- Pondasi untuk kepala jembatan/pilar

Termasuk katagori Bangunan pelengkap adalah :


- Perkuatan lereng dan apron pada dasar sungai.
- Jalan pendekat jembatan.
- Guard rails dan pasangan batu pengaman

II. Survey Jembatan


Ada pun tahapan perencanaan jembatan, sebagai berikut :
Pekerjaan lapangan, meliputi semua survei yang diperlukan.
Kriteria Perencanaan, meliputi klasifikasi jembatan, karakteristik lalu-lintas, kondisi lapangan,
pertimbangan ekonomi, dll.
Penyiapan Peta Planimetris, yang merupakan peta hasil survei topografi yang diperlukan
sebagai peta dasar perencanaan geometrik.
Perencanaan Geometrik, meliputi perencanaan glagar, pondasi dan pilar
Geoteknik dan Material jembatan, menguraikan pengolahan data geoteknik dan material untuk
keperluan konstruksi perkerasan jalan/glagar, podasi dan tiang/pilar.
Hidrologi sungai, menguraikan analisis material yang terbawa
Perkiraan Biaya, meliputi perhitungan kwantitas, analisis harga satuan dan dokumen
pelelangan.

PEMBAHASAN

I. Pekerjaan Lapangan

Pekerjaan lapangan ini mencakup keseluruhan kegiatan survei dan investigasi di lapangan untuk
memperoleh data-data akurat yang diperlukan dalam proses perencanaan jembatan, yaitu :
Kegiatan lapangan yang perlu dilakukan meliputi beberapa item, yaitu :
Data Penunjang
Survei Pendahuluan
Survei AMDAL
Survei Topografi
Survei Hidrologi
Survei Lalu lintas
Survei Geoteknik

Data Penunjang : data penunjang dan data dasar yang tersedia, yang diperlukan sebagai referensi
pada saat pelaksanaan survei.
Kegiatan pengumpulan data penunjang dan analisis atau studi data awal (desk study) ini sangat
diperlukan agar regu survei mendapatkan gambaran tentang kondisi lokasi dan pencapaian
lokasi, serta gambaran rencana.
Data-data yang perlu di kumpulkan:
1. Peta :
Peta Jaringan Jalan : dari DPU, info.jaringan jalan yang sudah ada di sekitar loasi rencana
jembatan & batas-batas wilayah, skala peta antara 1:1.000.000 1:1.500.000
Peta Topografi : dari Direktorat Geologi dan Jawatan Topografi A.D. (JANTOP), data yang
paling fundamental, karena merupakan peta dasar sebagai pedoman route survei, skala peta
antara 1:250.000 1:25.000
Peta Geologi Regional : dari Direktorat Geologi, info.kondisi geologi (formasi batuan, proses
pembentukan, umur geologi suatu lapisan, struktur geologi, dll.), skala peta 1:250.000

Photo Udara / citra satelit : info.batuan dasar dan kelembabannnya dengan mengamati jenis
vegetasi, penyebaran serta kesuburannya serta memperkirakan lokasi rawan gerakan tanah dan
patahan serta lipatan.
Peta Rupa Bumi : dari BAKOSURTANAL, info.tata guna lahan, skala peta 1:50.000 (peta
topografi/peta dasar).

2. Data dan Informasi


Data Curah Hujan : dari BMG / Dinas Pertanian di daerah-daerah, bila data tersedia maka dapat
menggunakan peta hujan sebagai pendekatan.
Informasi : sarana transportasi untuk menuju lokasi, biaya hidup dilokasi survei, & cuaca dan
suhu di lokasi, dll.

Data dan peta yang terkumpul, dipilah pilah dan dipelajari agar data dan peta yang benar-benar
diperlukan saja yang digunakan sebagai dasar.

II. Survai Pendahuluan Jembatan (Bridge Reconnaissance Survey) dan Survai Topografi

Survai ini dimaksudkan untuk mengumpulkan secara visual di lapangan guna mendukung usulan
penanganan jembatan baik penggantian jembatan maupun pembangunan jembatan baru
berdasarkan pertimbangan teknis dan ekonomis.
Ruang lingkup survai pendahuluan jembatan meliputi survai untuk menentukan :
- Perlu tidaknya jembatan diganti atau dibangun,
- Penempatan jembatan baru atau jembatan lama yang akan direlokasi
Data penunjang :

Peta Indeks
Peta Indeks digambar dengan skala yang cukup (biasanya 1:50000), dan pada peta
tersebut diplotkan dengan jelas lokasi jembatan yang diusulkan atau alternatif
jembatan yang akan diselidiki, lokasi jembatan yang mungkin, jalur komunikasi
yang ada, topografi umum dari daerah, dan kota-kota penting.

PetaTopografi
Peta Topografi dengan skala 1:5000 yang disertai penggambaran perkiraan
jalannya arus air (sungai dan anak-anak sungai) dan perkiraan luas daerah yang
mempengaruhi debit anak-anak sungai dan debit sungai yang akhirnya akan
mempengaruhi debit sungai di lokasi jembatan yang diusulkan, yang kesemuanya
ini diplotkan di peta tersebut. Jarak garis batas daerah pengaruh ini diambil dari
ketinggian garis tinggi kontur terhadap sungai/anak-anak sungai, dengan melihat
keadaan tanah, kondisi curah hujan yang tidak merata. Garis batas ini
dapat dipertimbangkan dalam jarak 100 m, 300 m, 1500m dari tepi sungai
dan Daerah Tangkapan Hujan (catchment area)dapat dipertimbangkan
seluas 3 Km2, 15 Km2, dan di atas 15 Km2 sesuai dengan keperluan.

Gambar Rencana Lapangan


Gambar Rencana lapangan digambar dengan skala yang cukup yang menunjukkan
detail dari lokasi yang dipilih dan detail dari arus sungai pada jarak 100 sampai 200
m ke arah hulu dan hilir dari lokasi yang dipilih.
Rencana tersebut harus menggambarkan detail hal-hal berikut :
1. Nama sungai/jalan dan tanda Km terdekat.
2. Gambaran garis besar keadaan tepi sungai sewaktu air rendah/tinggi.
3. Arah mengalirnya arus air
4. Alinemen jembatan lama dan usulan dari pertemuan dengan alinemen yang diusulkan.
5. Sudut dan arah miringnya lintasan (skew), apabila alinemen yang diusulkan tidak tegak lurus
arah sungai.
6. Nama desa terdekat.
7. Lokasi dan reduksi dari patok (Bench Mark) yang kelak akan dipakai sebagai peil 00.00.
8. Lokasi potongan memanjang dan potongan melintang jalan dan sungai
9. Lokasi sumur dan boring dengan nomor identifikasinya.
10. Lokasi seluruh bangunan-bangunan, tumbuh - tumbuhan, batu, dan rintangan-rintangan yang
mungkin berpengaruh pada alinemen jalan.

Potongan Melintang
Potongan Melintang sungai pada lokasi jembatan dibuat dengan skala horizontal
1:1000 dan vertikal 1:100. Potongan melintang tersebut harus mengandung
informasi sebagai berikut :
1. Nama sungai, jalan atau pertemuan.
2. Garis dasar sungai dan tepi sungai sampai level di atas ketinggian air banjir tertinggi.
3. Gambaran dari keadaan struktur lapisan tanah (subsoil)
4. Muka air terendah, permukaan banjir rata-rata, permukaan banjir tertinggi.
5. Bila terjadi arus pasang - surut, maka diperlukan informasi tentang pasang terendah dan
pasang tertinggi, serta muka air laut rata - rata.

Potongan Memanjang
Potongan memanjang menunjukkan lokasi jembatan dengan muka air terendah,
muka air rata-rata dan tertinggi, dan garis dasar sungai dengan jarak yang cukup,
sepanjang garis sumbu jalan. Skala horisontal dapat dipakai secukupnya,
sedangkan skala vertikal tidak boleh kurang dari 1 : 1000

Potongan Melintang Tambahan


Potongan Melintang Tambahan arus pada jarak yang tepat, arah hilir dan hulu dari
lokasi jembatan yang diusulkan. Harus ditunjukkan juga jarak dari lokasi
jembatan, ketinggian banjir dan ketinggian air terendah, dan bila ada potongan
melintang dimana muka air banjir sedikit lebih tinggi dari tepi sungai. Pada
Gambar Indeks harus ditunjukkan letak potongan, arah utara dan arah aliran air,
rencana survai kontur dan rencana lokasi.

Peta Daerah Aliran Sungai (DAS)


Peta Daerah Aliran Sungai di daerah lokasi usulan jembatan garisnya digambarkan
pada peta topografi, dan bisa dihitung luas daerahnya dengan cara
membandingkannya dengan jumlah bujur sangkar yang dicakupnya.

ProfilTanah,bisa ditentukan dengan cara visual.


Data-data Yang Dikumpulkan
Diusahakan untuk mendapatkan data-data berikut :
1. Nama sungai/Jalan/Jalan Kereta Api/lain-lain yang dilintasi oleh Jembatan
2. Lokasi B.M (Bench Mark) terdekat berikut reduksi ketinggian dilokasi jembatan terhadap B.M
(Bench Mark) tersebut.
3. Volume kendaraan sekarang dan prediksi volume kendaraan yang akan datang (20 tahun) yang
menggunakan jembatan tersebut.
4. Data-data hidraulis sungai antara lain
a. Potongan melintang sungai tiap - tiap 5 M', masing-masing 20 m kearah hulu dan 20 m kearah
hilir dari lokasi jembatan.
b. Muka air banjir tertinggi (Banjir 20 th)
c. Muka air rata-rata
d. Muka air terendah
e. Benda hanyutan yang dihanyutkan (kayu besar, lahar dingin, dan lain - lain)
f. Kontur tanah di lokasi jembatan / potongan melintang tanah sepanjang rencana lokasi
jembatan.
g. Catatan navigasi/lalu-lintas (jenis kapal/perahu/kereta api/bis/truk dalam hal ini yang
dimaksudkan guna profil ruang bebas)
h. Catatan dari pekerjaan air yang besar (dam, bendung, saluran pengairan dll)
5. Kemungkinan adanya daerah patahan pada lokasi
6. Ketersediaan quarry (kualitas dan kuantitas) seperti batu, tanah, pasir, kapur, dll.
7. Tempat tersedianya semen, baja, kayu yang terdekat.
8. Kemudahan transportasi material.
9. Ketersediaan tenaga kerja terampil dan tidak terampil
10. Fasilitas rumah/bedeng untuk pekerja selama pekerjaan
11. Detail-detail dari jembatan lain yang melompati sungai / rintangan yang sama, dalam jarak
yang terdekat (kalau ada)
12. Ketersediaan tenaga listrik
13. Ketersediaan fasilitas pelayanan (telepon, sumber tenaga, suplai air, dll) dan cara
mendapatkannya.

Pemilihan Lokasi
Lokasi jembatan baru yang akan dibangun agar mempertimbangkan segi-segi
teknis, ekonomis, sosial, dampak lingkungan, serta estetika yang mencakup
alinemen jalan dan kecepatan rencana.
Disamping itu perlu diperhatikan masalah yang berkaitan dengan pembebasan
tanah dan bangunan, adanya timbunan atau galian yang terjadi sesuai dengan
kondisi tanah ash (existing ground) yang ada dan masalah - masalah lainnya,
sehingga lokasi jembatan dapat terletak pada tempat yang ideal dengan
memperhatikan ketentuan sebagai berikut :
1. Arah jembatan sedapat mungkin tegak lurus arah aliran sungai.
2. Pilih arus sungai yang tenang, sedapat mungkin hindari arus sungai yang deras / mengikis
3. Di daerah alur sungai yang pendek dengan tepi yang kuat.
4. Kedua tepi yang ada sedapat mungkin lebih tinggi dari muka air banjir dan kuat.
5. Lapisan keras (rock) sedapat mungkin tidak terlalu jauh dari dasar sungai.
6. Jaian pendekat (oprit) dari jembatan sedapat mungkin ekonomis, antara lain dilakukan dengan
cara :
- Hindari penyempitan profil sungai.
- Oprit jembatan harus mempunyai daerah bebas pandang yang sesuai.
- Sedapat mungkin lokasi jangan berdekatan dengan percabangan aliran.
- Hindari tempat-tempat bersejarah, yang dianggap keramat, dan
tempat-tempat penting lainnya, yang kira-kira nantinya sulit dalam
pembebasan tanahnya.
7. Hindari tikungan tajam dari oprit

Bentang, Lebar dan Tipe Jembatan


Dalam menetapkan panjang bentang, lebar dan tipe jembatan harus
memperhatikan stabilitas tebing, profil sungai, arah aliran, sifat-sifat sungai, bahan-
bahan yang terbawa akibat arus pengerasan vertikal dan horizontal, kepadatan
dan pembebanan lalu-lintas. Apabila jalan pendekat jembatan terletak pada
daerah rawa, di atas tanah lembek dan tanah hasil pemadatan (compressible)
yang akan menimbulkan masalah stabilitas dan penurunan, maka dapat
disarankan penambahan panjang bentang, perbaikan tanah atau kemungkinan
penanggulangan lainnya.
Pada pelebaran jembatan lama, tipe dan jenis jembatan hendaknya disesuaikan
dengan tipe dan jenis jembatan lama dan arah pelebaran disesuaikan
dengan kondisi setempat.

Hidrologi
Data hidrologi yang perlu dikumpulkan dalam survai pendahuluan jembatan adalah
data yang dapat digunakan langsung untuk perencanaan meliputi antara lain :
sifat morfologi sungai, periode banjir, serta banjir terbesar yang pernah terjadi
dalam kurun waktu 50 tahun dan data curah hujan pada pos-pos pengamatan
yang mempengaruhi.

Penentuan Lokasi dan Jenis Penyelidikan Tanah


Penentuan tanah diperlukan untuk menetapkan jenis dan lokasi penyelidikan tanah
yang diperlukan (sondir, bor, SPT, test pit, stabilitas).
Dalam menentukan perkiraan jenis pondasi jembatan, dapat dipergunakan cara
dengan membandingkannya dengan jenis pondasi jembatan lama, jenis
lapisan tanah dasar serta sifat-sifat tebing.

DataJembatan Lama
Dalam hal jembatan lama akan digunakan sebagai jembatan darurat
selama pembangunan jembatan baru, maka perlu data kekuatan serta kondisi
jembatan lama.

Material/Quarry
Untuk menghindari harga material yang tinggi diperlukan adanya data/tempat
pengambilan material (quarry) yang dekat dengan lokasi jembatan yang akan
dibangun. Dalam hal ini perlu ditentukan lokasi pengambilan material dengan
perkiraan mutu sesuai dengan persyaratan. Biasanya peta quarry dapat diperoleh di
DPUP setempat.

Foto Dokumentasi
Dalam survai pendahuluan dibuat foto dokumentasi mengenai keadaan jembatan
lama, keadaan sungai dan keadaan lokasi perkiraan jembatan baru.
a. Pengambilan foto pada jembatan lama meliputi :
1. Foto jembatan dari arah hulu
2. Foto jembatan dari arah hilir
3. Foto jembatan dari arah jalan masuk
4. Foto jembatan dari arah jalan. keluar
5. Foto-foto lain yang dianggap diperlukan perhatian khusus dalam perencanaan
Untuk foto jembatan lama sebaiknya diberikan identitas yang jelas tertulis dalam
Foto.
b. Pengambilan foto rencana lokasi jembatan baru/relokasi meliputi
1. Dari hulu kearah hilir.
2. Dari hilir kearah hulu.
3. Dari jalan masuk kearah jalan keluar (rencana lokasi kepala jembatan).
4. Dari jalan keluar kearah jalan masuk (rencana lokasi kepala jembatan).
5. Foto perspektif rencana lokasi jembatan .
6. Foto lainnya yang memerlukan perhatian khusus dalam perencanaan.

Pada foto tersebut di atas agar dicantumkan tanda-tanda antara lain, arah aliran
sungai, rencana sumbu jembatan, rencana lokasi kepala jembatan, dan lain-lain.

Survei Topogafi
Merupakan pengukuran yang bertujuan memindahkan kondisi permukaan bumi dari lokasi yang
diukur pada kertas yang berupa peta planimetri. Peta ini akan digunakan sebagai peta dasar untuk
plotting perencanaan geometrik jembatan.
Hal-hal yang perlu di perhatikan :
1. penempatan lokasi titik silang dan titik-titik perpanjangan garis lurus
2. penempatan garis sumbuh, yang meliputi penempatan garis-garis lurus dan lokasi belokan-
belokan
3. pengukuran topografi
4. sipat-datar profil dan potongan melintang
pembuatan gambar-gambar pengukuran : Peta planimetris, potongan melintang & profil
Perencanaan Jembatan

PENDAHULUAN

I. Pengertian

Jembatan adalah bangunan pelengkap jalan yang menghubunkan suatu lintasan yang terputus
akibat suatu rintangan atau sebab lainnya, dengan cara melompati rintangan tersebut tanpa
menimbulkan / menutup rintangan itu.
Lintasan tersebut bisa merupakan jalan kendaraan, jalan kereta api atau jalan pejalan kaki,
sedangkan rintangan tersebut dapat berupa sungai, jalan, jalan kereta api, atau jurang (bisa juga
berupa jurang pemisah antar gedung bertingkat)

Jembatan mempunyai ciri-ciri khusus yaitu mempunyai Bangunan atas, Bangunan bawah dan
Bangunan pelengkap.

Bangunan atas adalah komponen jembatan yang menerima beban kendaraan di atas perlekatan.
Termasuk katagori Bangunan atas adalah :
- Balok, Rangka, Dek yang terdiri atas plat, dsb.
- Perletakan.

Bangunan bawah adalah bangunan untuk meneruskan beban ke tanah dasar. Bangunan bawah
dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu kepala jembatan (abutment) atau pilar (pier) dan pondasi.
Termasuk katagori Bangunan bawah adalah :
- Kepala jembatan/pilar
- Pondasi untuk kepala jembatan/pilar

Termasuk katagori Bangunan pelengkap adalah :


- Perkuatan lereng dan apron pada dasar sungai.
- Jalan pendekat jembatan.
- Guard rails dan pasangan batu pengaman

II. Survey Jembatan


Ada pun tahapan perencanaan jembatan, sebagai berikut :
Pekerjaan lapangan, meliputi semua survei yang diperlukan.
Kriteria Perencanaan, meliputi klasifikasi jembatan, karakteristik lalu-lintas, kondisi lapangan,
pertimbangan ekonomi, dll.
Penyiapan Peta Planimetris, yang merupakan peta hasil survei topografi yang diperlukan
sebagai peta dasar perencanaan geometrik.
Perencanaan Geometrik, meliputi perencanaan glagar, pondasi dan pilar
Geoteknik dan Material jembatan, menguraikan pengolahan data geoteknik dan material untuk
keperluan konstruksi perkerasan jalan/glagar, podasi dan tiang/pilar.
Hidrologi sungai, menguraikan analisis material yang terbawa
Perkiraan Biaya, meliputi perhitungan kwantitas, analisis harga satuan dan dokumen
pelelangan.

PEMBAHASAN

I. Pekerjaan Lapangan

Pekerjaan lapangan ini mencakup keseluruhan kegiatan survei dan investigasi di lapangan untuk
memperoleh data-data akurat yang diperlukan dalam proses perencanaan jembatan, yaitu :
Kegiatan lapangan yang perlu dilakukan meliputi beberapa item, yaitu :
Data Penunjang
Survei Pendahuluan
Survei AMDAL
Survei Topografi
Survei Hidrologi
Survei Lalu lintas
Survei Geoteknik

Data Penunjang : data penunjang dan data dasar yang tersedia, yang diperlukan sebagai referensi
pada saat pelaksanaan survei.
Kegiatan pengumpulan data penunjang dan analisis atau studi data awal (desk study) ini sangat
diperlukan agar regu survei mendapatkan gambaran tentang kondisi lokasi dan pencapaian
lokasi, serta gambaran rencana.
Data-data yang perlu di kumpulkan:
1. Peta :
Peta Jaringan Jalan : dari DPU, info.jaringan jalan yang sudah ada di sekitar loasi rencana
jembatan & batas-batas wilayah, skala peta antara 1:1.000.000 1:1.500.000
Peta Topografi : dari Direktorat Geologi dan Jawatan Topografi A.D. (JANTOP), data yang
paling fundamental, karena merupakan peta dasar sebagai pedoman route survei, skala peta
antara 1:250.000 1:25.000
Peta Geologi Regional : dari Direktorat Geologi, info.kondisi geologi (formasi batuan, proses
pembentukan, umur geologi suatu lapisan, struktur geologi, dll.), skala peta 1:250.000

Photo Udara / citra satelit : info.batuan dasar dan kelembabannnya dengan mengamati jenis
vegetasi, penyebaran serta kesuburannya serta memperkirakan lokasi rawan gerakan tanah dan
patahan serta lipatan.
Peta Rupa Bumi : dari BAKOSURTANAL, info.tata guna lahan, skala peta 1:50.000 (peta
topografi/peta dasar).

2. Data dan Informasi


Data Curah Hujan : dari BMG / Dinas Pertanian di daerah-daerah, bila data tersedia maka dapat
menggunakan peta hujan sebagai pendekatan.
Informasi : sarana transportasi untuk menuju lokasi, biaya hidup dilokasi survei, & cuaca dan
suhu di lokasi, dll.

Data dan peta yang terkumpul, dipilah pilah dan dipelajari agar data dan peta yang benar-benar
diperlukan saja yang digunakan sebagai dasar.

II. Survai Pendahuluan Jembatan (Bridge Reconnaissance Survey) dan Survai Topografi

Survai ini dimaksudkan untuk mengumpulkan secara visual di lapangan guna mendukung usulan
penanganan jembatan baik penggantian jembatan maupun pembangunan jembatan baru
berdasarkan pertimbangan teknis dan ekonomis.
Ruang lingkup survai pendahuluan jembatan meliputi survai untuk menentukan :
- Perlu tidaknya jembatan diganti atau dibangun,
- Penempatan jembatan baru atau jembatan lama yang akan direlokasi
Data penunjang :

Peta Indeks
Peta Indeks digambar dengan skala yang cukup (biasanya 1:50000), dan pada peta
tersebut diplotkan dengan jelas lokasi jembatan yang diusulkan atau alternatif
jembatan yang akan diselidiki, lokasi jembatan yang mungkin, jalur komunikasi
yang ada, topografi umum dari daerah, dan kota-kota penting.

PetaTopografi
Peta Topografi dengan skala 1:5000 yang disertai penggambaran perkiraan
jalannya arus air (sungai dan anak-anak sungai) dan perkiraan luas daerah yang
mempengaruhi debit anak-anak sungai dan debit sungai yang akhirnya akan
mempengaruhi debit sungai di lokasi jembatan yang diusulkan, yang kesemuanya
ini diplotkan di peta tersebut. Jarak garis batas daerah pengaruh ini diambil dari
ketinggian garis tinggi kontur terhadap sungai/anak-anak sungai, dengan melihat
keadaan tanah, kondisi curah hujan yang tidak merata. Garis batas ini
dapat dipertimbangkan dalam jarak 100 m, 300 m, 1500m dari tepi sungai
dan Daerah Tangkapan Hujan (catchment area)dapat dipertimbangkan
seluas 3 Km2, 15 Km2, dan di atas 15 Km2 sesuai dengan keperluan.

Gambar Rencana Lapangan


Gambar Rencana lapangan digambar dengan skala yang cukup yang menunjukkan
detail dari lokasi yang dipilih dan detail dari arus sungai pada jarak 100 sampai 200
m ke arah hulu dan hilir dari lokasi yang dipilih.
Rencana tersebut harus menggambarkan detail hal-hal berikut :
1. Nama sungai/jalan dan tanda Km terdekat.
2. Gambaran garis besar keadaan tepi sungai sewaktu air rendah/tinggi.
3. Arah mengalirnya arus air
4. Alinemen jembatan lama dan usulan dari pertemuan dengan alinemen yang diusulkan.
5. Sudut dan arah miringnya lintasan (skew), apabila alinemen yang diusulkan tidak tegak lurus
arah sungai.
6. Nama desa terdekat.
7. Lokasi dan reduksi dari patok (Bench Mark) yang kelak akan dipakai sebagai peil 00.00.
8. Lokasi potongan memanjang dan potongan melintang jalan dan sungai
9. Lokasi sumur dan boring dengan nomor identifikasinya.
10. Lokasi seluruh bangunan-bangunan, tumbuh - tumbuhan, batu, dan rintangan-rintangan yang
mungkin berpengaruh pada alinemen jalan.

Potongan Melintang
Potongan Melintang sungai pada lokasi jembatan dibuat dengan skala horizontal
1:1000 dan vertikal 1:100. Potongan melintang tersebut harus mengandung
informasi sebagai berikut :
1. Nama sungai, jalan atau pertemuan.
2. Garis dasar sungai dan tepi sungai sampai level di atas ketinggian air banjir tertinggi.
3. Gambaran dari keadaan struktur lapisan tanah (subsoil)
4. Muka air terendah, permukaan banjir rata-rata, permukaan banjir tertinggi.
5. Bila terjadi arus pasang - surut, maka diperlukan informasi tentang pasang terendah dan
pasang tertinggi, serta muka air laut rata - rata.

Potongan Memanjang
Potongan memanjang menunjukkan lokasi jembatan dengan muka air terendah,
muka air rata-rata dan tertinggi, dan garis dasar sungai dengan jarak yang cukup,
sepanjang garis sumbu jalan. Skala horisontal dapat dipakai secukupnya,
sedangkan skala vertikal tidak boleh kurang dari 1 : 1000

Potongan Melintang Tambahan


Potongan Melintang Tambahan arus pada jarak yang tepat, arah hilir dan hulu dari
lokasi jembatan yang diusulkan. Harus ditunjukkan juga jarak dari lokasi
jembatan, ketinggian banjir dan ketinggian air terendah, dan bila ada potongan
melintang dimana muka air banjir sedikit lebih tinggi dari tepi sungai. Pada
Gambar Indeks harus ditunjukkan letak potongan, arah utara dan arah aliran air,
rencana survai kontur dan rencana lokasi.

Peta Daerah Aliran Sungai (DAS)


Peta Daerah Aliran Sungai di daerah lokasi usulan jembatan garisnya digambarkan
pada peta topografi, dan bisa dihitung luas daerahnya dengan cara
membandingkannya dengan jumlah bujur sangkar yang dicakupnya.

ProfilTanah,bisa ditentukan dengan cara visual.


Data-data Yang Dikumpulkan
Diusahakan untuk mendapatkan data-data berikut :
1. Nama sungai/Jalan/Jalan Kereta Api/lain-lain yang dilintasi oleh Jembatan
2. Lokasi B.M (Bench Mark) terdekat berikut reduksi ketinggian dilokasi jembatan terhadap B.M
(Bench Mark) tersebut.
3. Volume kendaraan sekarang dan prediksi volume kendaraan yang akan datang (20 tahun) yang
menggunakan jembatan tersebut.
4. Data-data hidraulis sungai antara lain
a. Potongan melintang sungai tiap - tiap 5 M', masing-masing 20 m kearah hulu dan 20 m kearah
hilir dari lokasi jembatan.
b. Muka air banjir tertinggi (Banjir 20 th)
c. Muka air rata-rata
d. Muka air terendah
e. Benda hanyutan yang dihanyutkan (kayu besar, lahar dingin, dan lain - lain)
f. Kontur tanah di lokasi jembatan / potongan melintang tanah sepanjang rencana lokasi
jembatan.
g. Catatan navigasi/lalu-lintas (jenis kapal/perahu/kereta api/bis/truk dalam hal ini yang
dimaksudkan guna profil ruang bebas)
h. Catatan dari pekerjaan air yang besar (dam, bendung, saluran pengairan dll)
5. Kemungkinan adanya daerah patahan pada lokasi
6. Ketersediaan quarry (kualitas dan kuantitas) seperti batu, tanah, pasir, kapur, dll.
7. Tempat tersedianya semen, baja, kayu yang terdekat.
8. Kemudahan transportasi material.
9. Ketersediaan tenaga kerja terampil dan tidak terampil
10. Fasilitas rumah/bedeng untuk pekerja selama pekerjaan
11. Detail-detail dari jembatan lain yang melompati sungai / rintangan yang sama, dalam jarak
yang terdekat (kalau ada)
12. Ketersediaan tenaga listrik
13. Ketersediaan fasilitas pelayanan (telepon, sumber tenaga, suplai air, dll) dan cara
mendapatkannya.

Pemilihan Lokasi
Lokasi jembatan baru yang akan dibangun agar mempertimbangkan segi-segi
teknis, ekonomis, sosial, dampak lingkungan, serta estetika yang mencakup
alinemen jalan dan kecepatan rencana.
Disamping itu perlu diperhatikan masalah yang berkaitan dengan pembebasan
tanah dan bangunan, adanya timbunan atau galian yang terjadi sesuai dengan
kondisi tanah ash (existing ground) yang ada dan masalah - masalah lainnya,
sehingga lokasi jembatan dapat terletak pada tempat yang ideal dengan
memperhatikan ketentuan sebagai berikut :
1. Arah jembatan sedapat mungkin tegak lurus arah aliran sungai.
2. Pilih arus sungai yang tenang, sedapat mungkin hindari arus sungai yang deras / mengikis
3. Di daerah alur sungai yang pendek dengan tepi yang kuat.
4. Kedua tepi yang ada sedapat mungkin lebih tinggi dari muka air banjir dan kuat.
5. Lapisan keras (rock) sedapat mungkin tidak terlalu jauh dari dasar sungai.
6. Jaian pendekat (oprit) dari jembatan sedapat mungkin ekonomis, antara lain dilakukan dengan
cara :
- Hindari penyempitan profil sungai.
- Oprit jembatan harus mempunyai daerah bebas pandang yang sesuai.
- Sedapat mungkin lokasi jangan berdekatan dengan percabangan aliran.
- Hindari tempat-tempat bersejarah, yang dianggap keramat, dan
tempat-tempat penting lainnya, yang kira-kira nantinya sulit dalam
pembebasan tanahnya.
7. Hindari tikungan tajam dari oprit

Bentang, Lebar dan Tipe Jembatan


Dalam menetapkan panjang bentang, lebar dan tipe jembatan harus
memperhatikan stabilitas tebing, profil sungai, arah aliran, sifat-sifat sungai, bahan-
bahan yang terbawa akibat arus pengerasan vertikal dan horizontal, kepadatan
dan pembebanan lalu-lintas. Apabila jalan pendekat jembatan terletak pada
daerah rawa, di atas tanah lembek dan tanah hasil pemadatan (compressible)
yang akan menimbulkan masalah stabilitas dan penurunan, maka dapat
disarankan penambahan panjang bentang, perbaikan tanah atau kemungkinan
penanggulangan lainnya.
Pada pelebaran jembatan lama, tipe dan jenis jembatan hendaknya disesuaikan
dengan tipe dan jenis jembatan lama dan arah pelebaran disesuaikan
dengan kondisi setempat.

Hidrologi
Data hidrologi yang perlu dikumpulkan dalam survai pendahuluan jembatan adalah
data yang dapat digunakan langsung untuk perencanaan meliputi antara lain :
sifat morfologi sungai, periode banjir, serta banjir terbesar yang pernah terjadi
dalam kurun waktu 50 tahun dan data curah hujan pada pos-pos pengamatan
yang mempengaruhi.

Penentuan Lokasi dan Jenis Penyelidikan Tanah


Penentuan tanah diperlukan untuk menetapkan jenis dan lokasi penyelidikan tanah
yang diperlukan (sondir, bor, SPT, test pit, stabilitas).
Dalam menentukan perkiraan jenis pondasi jembatan, dapat dipergunakan cara
dengan membandingkannya dengan jenis pondasi jembatan lama, jenis
lapisan tanah dasar serta sifat-sifat tebing.

DataJembatan Lama
Dalam hal jembatan lama akan digunakan sebagai jembatan darurat
selama pembangunan jembatan baru, maka perlu data kekuatan serta kondisi
jembatan lama.

Material/Quarry
Untuk menghindari harga material yang tinggi diperlukan adanya data/tempat
pengambilan material (quarry) yang dekat dengan lokasi jembatan yang akan
dibangun. Dalam hal ini perlu ditentukan lokasi pengambilan material dengan
perkiraan mutu sesuai dengan persyaratan. Biasanya peta quarry dapat diperoleh di
DPUP setempat.

Foto Dokumentasi
Dalam survai pendahuluan dibuat foto dokumentasi mengenai keadaan jembatan
lama, keadaan sungai dan keadaan lokasi perkiraan jembatan baru.
a. Pengambilan foto pada jembatan lama meliputi :
1. Foto jembatan dari arah hulu
2. Foto jembatan dari arah hilir
3. Foto jembatan dari arah jalan masuk
4. Foto jembatan dari arah jalan. keluar
5. Foto-foto lain yang dianggap diperlukan perhatian khusus dalam perencanaan
Untuk foto jembatan lama sebaiknya diberikan identitas yang jelas tertulis dalam
Foto.
b. Pengambilan foto rencana lokasi jembatan baru/relokasi meliputi
1. Dari hulu kearah hilir.
2. Dari hilir kearah hulu.
3. Dari jalan masuk kearah jalan keluar (rencana lokasi kepala jembatan).
4. Dari jalan keluar kearah jalan masuk (rencana lokasi kepala jembatan).
5. Foto perspektif rencana lokasi jembatan .
6. Foto lainnya yang memerlukan perhatian khusus dalam perencanaan.

Pada foto tersebut di atas agar dicantumkan tanda-tanda antara lain, arah aliran
sungai, rencana sumbu jembatan, rencana lokasi kepala jembatan, dan lain-lain.

Survei Topogafi
Merupakan pengukuran yang bertujuan memindahkan kondisi permukaan bumi dari lokasi yang
diukur pada kertas yang berupa peta planimetri. Peta ini akan digunakan sebagai peta dasar untuk
plotting perencanaan geometrik jembatan.
Hal-hal yang perlu di perhatikan :
1. penempatan lokasi titik silang dan titik-titik perpanjangan garis lurus
2. penempatan garis sumbuh, yang meliputi penempatan garis-garis lurus dan lokasi belokan-
belokan
3. pengukuran topografi
4. sipat-datar profil dan potongan melintang
pembuatan gambar-gambar pengukuran : Peta planimetris, potongan melintang & profil