Anda di halaman 1dari 42

Implementasi International Health

Regulations (IHR) 2005 di Indonesia

dr. Lily Banonah Rivaif, M. Epid


KASUBDIT KEKARANTINAAN KESEHATAN
DIREKTORAT SURVEILANS DAN KARANTINA KESEHATAN
DIREKTORAT JENDERAL PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
PENYAKIT
KEMENTERIAN KESEHATAN RI 1
OUTLINE
1. LATAR BELAKANG IHR
2, SEKILAS IHR 2005
3. IMPLEMENTASI IHR
PINTU MASUK NEGARA
DI WILAYAH
4. IHR GHSA DAN RENCANA KEDEPAN

2
SITUASI GLOBAL SAAT INI
Perubahan Climate
Lingkungan Change

Modernisasi Globalisasi
Masyarakat Letak
& Tekn. Geografis,
Transportasi Sosial
Budaya

Penyakit Populasi
berbasis gaya yang
hidup Bertumbuh
(PTM) dan PM cepat &
(Emerging dan The
Re Emerging Bottom
Diseases). Billions

Biosecurity &
Migrasi & Kes. Bioterorisme
Perbatasan NUBIKA
Perjalanan Antar Bencana industri
Negara dan laboratorium
KEJADIAN DI DUNIA TERKAIT KESEHATAN: 1980-2009

DAMPAK KESEHATAN, EKONOMI DAN KEMANANAN


New Emerging, Re-Emerging
Lebih dari 1.100 epidemik terjadi dalam 5 th terakhir
Sejak dekade 70an, 1 penyakit baru teridentifikasi setiap
tahunnya
Lebih dari 40 penyakit baru, tidak pernah diketahui pada
20thn yl
Kecepatan bertumbuh (emerging) semakin cepat & luas dlm
dekade terakhir
Wabah dan epidemi di suatu tempat hanya berbeda sdkt
waktunya dengan tempat lain
Beberapa Penyakit
Berdasarkan Tahun Kemunculannya
2000: Rift Valley Fever 2009: Swine Flu
2001: Anthrax Bioterrorism (H1N1pdm09)
2002: Vancomycin-Resistant 2012: MERS-CoV
Staphylococcus aureus 2013: AI (H7N9)
2003: SARS Coronavirus 2014: EBOLA (KLB AFRIKA
2004: Monkeypox, Human BARAT)
2005: AI (H5N1) 2015: AI (H5N8) Unggas
2016: Zika Virus
IHR ( 2005 )
Merupakan kesepakatan negara negara anggota WHO untuk memiliki
kemampuan deteksi dini dan respon yang adekuat terhadap setiap
ancaman kesehatan masyarakat yang berpotensi menyebar antar negara,
didasarkan pada sistem surveilans nasional yang telah ada di masing2
negara serta peraturan perundangan yang melandasinya.

Mulai berlaku sejak tanggal 15 juni 2007 dan Indonesia mulai


implementasi penuh IHR 2005 tahun 2014. Indonesia dan Thailand di
kawasan SEARO yang menyatakan implementasi penuh IHR (2005)

Untuk terus mempertahankan dan meningkatkan pencapaian ini


sebagai bagian dari perlindungan Indonesia dan Dunia terhadap risiko
Kedaruratan Kesehatan Masyarakat
7
IHR ( 2005 )
Bertujuan mencegah, melindungi dan mengendalikan penyebaran
penyakit lintas negara dengan melakukan tindakan sesuai dengan
risiko kesehatan yang dihadapi tanpa menimbulkan gangguan yang
berarti bagi lalu lintas dan perdagangan internasional

Penyakit yang dimaksud : penyakit menular yang sudah ada, baru dan
yang muncul kembali serta penyakit tidak menular (bahan radio-nuklir,
bahan kimia, dll) yang dapat menyebabkan Public Health Emergency
of International Concern (PHEIC) / Kedaruratan Kesehatan
Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD)
8
PRINSIP DASAR IHR (2005)
Kemampuan deteksi dini dan respon terhadap berbagai ancaman
kesehatan, khususnya yang berpotensi menyebar lintas negara.

Dilaksanakan berdasarkan Sistem Surveillance Nasional yang


sudah ada.

Kemampuan melakukan penanggulangan pada sumbernya.

Dikomunikasikan kepada WHO melalui IHR National Focal Point.

9
PHEIC
(Public Health Emergency of International
Concern / Kedaruratan Kesehatan Yang
Meresahkan Dunia)
Kejadian Luar Biasa, yang dapat merupakan ancaman kesehatan bagi negara lain,
(ditentukan oleh WHO setelah melalui proses konsultasi) dan kemungkinan
membutuhkan koordinasi internasional dalam penanggulangannya (International
Health Regulation / IHR (2005)

Kejadian kesehatan masyarakat yang bersifat luar biasa dengan ditandai


penyebaran penyakit menular dan / atau kejadian yang disebabkan
kejadian oleh radiasi nuklir, pencemaran biologi, dan kontaminasi kimia
(NUBIKA), dan pangan yang menimbulkan bahaya kesehatan dan berpotensi
menyebar lintas wilayah atau lintas negara.

PERISTIWA TIDAK LAZIM: PERISTIWA - PERISTIWA LEBIH LUAS DILUAR


DARI PENYAKIT PENYAKIT MENULAR YANG DAPAT TIMBUL DARI SUMBER
ATAU ASAL APA SAJA. DAN MENJADI PERHATIAN INTERNASIONAL SERTA
HARUS DILAPORKAN KEPADA WHO
Kategori KKM/KKM-MD
Penyakit menular Potensial KKM-MD : smallpox,
poliomyelitis, human influenza caused by new subtypes, and
severe acute respiratory syndrome (SARS) (IHR Annex 2);
Kejadian yang memerlukan notifikasi ke WHO berdasarkan
analisis (IHR Annex 2);
Kejadian dengan informasi yang tidak adekuat sehingga
memerlukan konsultasi ke WHO untuk melakukan tindakan
kesehatan (IHR article 8).
LINGKUP PENYAKIT PHEIC / KKMMD
PENYAKIT EPIDEMIC PENYAKIT KARANTINA :
AND PANDEMIC Pes (Plague); Kolera (Cholera); Demam kuning (Yellow fever); Cacar
ALERT AND (Smallpox); Tifus bercak wabahi - Typhus exanthematicus infectiosa (Louse
borne Typhus); Demam balik-balik (Louse borne Relapsing fever)
RESPONSE (EPR)
1.ANTHRAXWHO PENYAKIT POTENSIAL WABAH
2.AVIAN INFLUENZA Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menkes/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit
3.CRIMEAN-CONGO Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangannya
HAEMORRHAGIC FEVER
4.EBOLA HAEMORRHAGIC
FEVER
5.HEPATITIS KOLERA, PES, DBD, AI (H5N1), ANTRAX,
6.INFLUENZA CAMPAK POLIO, HEPATITIS,
7.LASSA FEVER DIFTERI. LEPTOSPIROSIS,
8.MARBRUG
YELLOW FEVER
HAEMORRHAGIC FEVER
INFLUENZA A BARU (H1N1) / PANDEMIC 2009
9.MENINGOCOCCAL
CHIKUNGUNYA
DISEASES
10.PLAGUE
11.SARS PERTUSSIS, MALARIA
12.SMALLPOX RABIES, MENINGITIS
13.YELLOW FEVER
KAPASITAS INTI IHR (2005)
CORE POTENSIAL
CAPACITIES
PHEIC/KKMMD

Legislasi dan Biologi


Kebijakan
Koordinasi Peny. Infeksi
Surveilans Zoonosis
Respon
PINTU Keamanan
Kesiapsiagaan
Komunikasi
MASUK DETEKSI
Pangan
Risiko WILAYAH
DAN
SDM RESPON Kimia
Laboratorium
Radio nukler

IMPLEMENTASI IHR DENGAN SISTEM YANG TELAH ADA


KAPASITAS INTI IHR (2005)

National Core Capacities


merupakan kapasitas inti yang harus dimiliki suatu
negara dalam mengimplementasikan IHR (2005) di
berbagai tingkatan wilayahnya.

Point of Entry Core Capacities


merupakan kapasitas inti yang harus dimiliki setiap
pelabuhan yang ditunjuk (Designated Port).

14
KAPASITAS SURVEILANS DAN RESPON YANG
DIPERSYARATKAN
LOKAL / PROP/KAB/KOTA NASIONAL
MASYARAKAT Verifikasi Penilaian
Deteksi kejadian Penilaian Notification (ke WHO)
Tindakan
Public health response
Melaporkan Tindakan
penanggulangan
Tindakan Melaporkan
penanggulangan
penanggulangan Pendukung (staff, lab)
Bantuan ditempat
Operational links/liaison
Rencana Kedaruratan
kesehatan masyarakat

15
Dalam waktu 24 jam
KAPASITAS RESPONSE
Kapasitas Respons cepat
Mekanisme respon thd suatu Kedaruratan Kesehatan masyarakat
(management procedures, jalur komunikasi operasional, posko
dll. )
Rapid Response Teams (RRT) at national and subnational levels
Prosedur tatalaksana kasus untuk berbagai ancaman kesehatan
masyarakat.
Infection Prevention and Control (IPC) pada fasilitas kesehatan disemua
tingkatan.
Disinfection, decontamination dan kemampuan vector control untuk
semua ancaman.
KAPASITAS KESIAPSIAGAAN
Kesiap siagaan ditingkat nasional terhadap ancaman ganda kedaruratan
kesehatan masyarakat serta rencana respon yang meliputi semua aspek dalam
IHR
Ancaman ganda dan PoE
Teruji dan selalu dimutakhirkan
Kapasitas respon yang mampu menyesuaikan terhadap kedaruratan kesehatan
masyarakat.
Pemetaan Risiko dan Sumberdaya.
Penyiapan untuk respon terhadap ancaman biologis, kimia dan radiologi serta
kedaruratan lain.
KAPASITAS KOMUNIKASI RISIKO
Mekanisme untuk komunikasi risiko yang efektif pada saat
kedaruratan kesehatan masyarakat.
Structur org, rencana, peraturan dan prosedur yang tersedia untuk
memberikan informasi pada saat kejadian kesehatan masyarakat.
Strategi komunikasi yang transparan.
Informasi yang dimutakhirkan secara regular kepada media dan
masyarakat.
Kesiapsiagaan dan respon yang berfungsi ditingkat masyarakat.
Pesan dan materi penyuluhan yang tepat untuk masyarakat.
Mendengarkan dari mereka yang terkena atau terlibat.
UKURAN KESIAPAN IMPLEMENTASI IHR (2005)
Memiliki kapasitas inti untuk deteksi dini dan respon secara
nasional serta kapasitas inti di pintu masuk negara.

Terdiri dari 20 indikator dalam 13 kapasitas inti.

Setiap tahun dilakukan penilaian oleh WHO melalui


mekanisme menilai sendiri (self assessment).

19
KEBIJAKAN KEMENKES DALAM IMPLEMENTASI IHR ( 2005 )
Kebijakan penerapan IHR (2005) diarahkan untuk mempercepat persiapan
meningkatkan core capacities, terutama kemampuan menghadapi PHEIC yang bisa
muncul dimana saja dan kapan saja.
Pelaksanaan implementasi IHR (2005) berpedoman pada Sistem Kesehatan Nasional
dan peraturan perundangan yang berlaku.
Mempercepat peningkatan kemampuan utama yaitu deteksi dan respon.
Menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan bersama-sama oleh pemerintah,
pemerintah daerah dan melibatkan berbagai pihak yang terkait serta masyarakat.
Peningkatan kemampuan utama dilaksanakan dengan cara meningkatkan
kemampuan yang sudah kita miliki meliputi sarana, peralatan termasuk sistem yang
sudah berjalan secara efektif dan efisien.
Kemampuan surveilans dalam rangka kewaspadaan dini terhadap penyakit yang
berpotensi KLB / wabah selama ini disempurnakan.
Peningkatan kemampuan surveilans terutama di tingkat lapangan lebih ditekankan
pada peningkatan kemampuan petugas dan termasuk memberdayaan masyarakat.
Bila dianggap perlu, dapat meminta bantuan dunia Internasional melalui WHO.
Kegiatan:
Implementasi IHR (2005)
- Evakuasi
- Diagnosis Pelabuhan, Bandar Kegiatan:
- Pengobatan - Karantina
- Transportasi/rujukan
Udara & PLBDN - Pemeriksaan alat angkut
- Isolasi - Pengendalian vektor
- Tindakan penyehatan

RS Rujukan

Koordinasi, Komunikasi:
- Jalur dan mekanisme Dinkes Kab/Kota,
- Investigasi bersama Provinsi
- Penanggulangan terkoordinasi
NFP - Posko
- dll
LINGKUP DAN PENANGGUNG JAWAB
IHR bukan hanya tanggung jawab Otoritas Kesehatan di
Pintu Masuk Negara (Pelabuhan, Bandara, Pos Lintas Batas
Darat) saja, tetapi porsi yang paling besar menjadi tanggung
jawab Otoritas Kesehatan di Wilayah.

Implementasi IHR di wilayah adalah tanggung jawab Dinas


Kesehatan Propinsi/Kabupaten/ kota.

Implementasi IHR di pintu masuk negara adalah tanggung


jawab KKP beserta segenap instansi di pintu masuk negara.

22
KANTOR KESEHATAN PELABUHAN (KKP)
International :
27 Bandara
41 Pelabuhan
10 PLBDN

23
KELAS I : 7 KELAS II : 21 KELAS III: 20 KELAS IV : 1 WILKER : 304
PINTU MASUK NEGARA YANG DITUNJUK
PENCEGAHAN KELUAR MASUKNYA PENYAKIT
DI PINTU MASUK NEGARA
(Maximum protection, Minimum restriction)
Orang Darat
Dari seluruh
Barang Laut
dunia Alat Angkut Biologi
Udara
Kimia
Fisika
Pencegahan keluar
masuknya 8 Kantor
Kapasitas Kesehatan Deteksi
penyakit di Pintu Dini
Masuk Negara Inti (IHR Pelabuhan (49)
dilakukan oleh 2005)
KKP di 355 Pintu Masuk Negara :
Pelabuhan, 9 Tujuan Wilker 1. Pelabuhan laut
Bandara dan GHSA (306) 2. Bandara udara
PLBDN
3. Pos batas lintas
batas negara
RS RUJUKAN
Karantina/Isolasi/Tindakan Lainnya
Mencegah kejadian luar biasa/wabah/kedaruratan kesehatan
yang meresahkan dunia
KAPASITAS INTI IHR (2005) DI PoE
Kemampuan Utama untuk Pintu Masuk Negara / Point
of Entry (PoE) ; Pelabuhan / Bandara / Lintas Batas
Darat Negara (Annex 1b)
Rutin
Kemampuan merespon PHEIC
KAPASITAS INTI DI PINTU MASUK NEGARA
DALAM KONDISI RUTIN
Menyediakan pelayanan medis
yang layak, termasuk fasilitas
diagnostik yang memungkinkan
a assessment segera terhdp
penumpang yang sakit
Menyediakan
b transport dan
petugas

e
Menyediakan staf untuk c
pemberantasan vektor Menyediakan air yg
setempat dan di aman utk diminum, Menyediakan petugas
sekitarnya fasilitas katering, toilet, utk pemeriksaan
d pembuangan limbah yg
pesawat / kapal /
memadai
kendaraan
KAPASITAS INTI DI PINTU MASUK NEGARA KETIKA TERJADI PHEIC
b Melakukan diagnosis & c
perawatan bagi pelaku
Melaksanakan tanggap darurat perjalanan atau hewan yg Menyediakan ruangan yg
a kesehatan, penunjukan terjangkit melalui kerjasama dg memadai & terpisah dr
koordinator & pejabat fasilitas medis & kesehatan pelaku perjalanan lain, utk
berwenang di pintu masuk & mewawancarai org yg
hewan setempat dlm
sarana yankes lainnya terjangkit atau tersangka
pengisolasian, pengobatan &
layanan pendukung lainnya
Menyediakan kendaraan Menyediakan sarana
d diagnosis & bila perlu
khusus & staf terlatih dg alat
g pelindung diri yg memadai, karantina thd pelaku
dlm merujuk pelaku perjalanan yg diduga
perjalanan yg membawa terjangkit, sebaiknya di
atau terkontaminasi peny sarkes yg jauh dr pintu
menular msk
Menerapkan tindakan
e
f hapus serangga, hapus
tikus, hapus hama,
Menerapkan dekontaminasi atau
pengawasan penanganan bagasi, kargo,
masuk & peti kemas, alat angkut,
keluarnya pelaku barang & paket pos di
perjalanan lokasi khusus
KEBIJAKAN PROGRAM KARANTINAAN KESEHATAN
1. Mengimplemetasikan IHR (2005)
2. Penguatan aspek legal, UU Kekarantinaan, PMK No
3. Perkuat infrastruktur :
a. SDM : surveilans, traveller medicine
b. Logistik: sarana, prasarana, logistik, peralatan
4. Peningkatan kualitas
a. Supervisi dengan checklist
b. Sistem Informasi: Simkespel
5. Peningkatan dan Pemantapan Public Awareness.
6. Kerjasama dan kemitraan dengan program dan sektor terkait.
7. Dukungan penelitian , assessment ( ISO, JEE)
UPAYA PENGUATAN
Infrastruktur:
Legal Aspek: Peningkatan / pengembangan
Revisi UU Karantina, SDM melalui Tubel, Diklat, Penyediaan Sistem Informasi
petunjuk pelaksanaan,
petunjuk teknis / manual / Workshop, Sosialisasi, dll baik dan Komunikasi
SOP, MoU. di dalam maupun luar negeri. (SIMKESPEL)

Sosialisasi dan Advokasi Pengembangan dan Memperkuat jejaring kerja,


kepada pemerintah daerah penguatan sistem koordinasi, integrasi dan
dan stake holder di pintu kewaspadaan dini dan respon sinkronisasi, baik internal
masuk negara. (SKDR), jejaring surveilans kemenkes maupun lintas sektor
dan Tim Gerak Cepat di pintu terkait di pintu masuk negara.
Penetapan Designated Point masuk negara.
of Entry
Penyusunan Rencana
Pendanaan kegiatan melalui Rehabilitasi dan pembangunan Kontigensi
APBN dan PNBP. gedung kantor. yang diuji coba melalui Table
Top Exercise dan Simulasi
Melengkapi sarana pendukung Lapangan.
kerja, kendaraan teknis,
peralatan medis, alat Kerjasama Internasional.
kesehatan, obat obatan,
vaksin, reagen dan bahan
pendukung lainnya.
Perpres No 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019
Sasaran 024.08.2058
Menurunkan angka kesakitan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,
peningkatan surveilans, karantina kesehatan, dan kesehatan Matra

Defenisi Operasional:
Jumlah kab/kota dengan pelabuhan, bandar udara dan PLBDN yang memiliki kebijakan kesiapsiagaan
dalam penanggulangan PHEIC dibagi jumlah kab/kota dengan pelabuhan, bandar udara dan PLBDN di
kali 100%
Kriteria pelabuhan, bandar udara, PLDBN : Internasional, Berfungsi rutin sepanjang tahun, Terdapat
unsur karantina kesehatan, Imigrasi, dan Beacukai
Jumlah kab/kota dengan kriteria tersebut diatas pada tahun 2014: 106 Kab/Kota
Kab/Kota dengan Renkon KKM Tahun 2015
Target Kab/Kota dengan Penyusunan Renkon KKM Tahun 2016
HARAPAN DUKUNGAN DAN KEGIATAN DI DAERAH :
1. Dukungan legislasi dalam proses perencanaan dan 1. Mapping dan Penilaian
pelaksanaan kegiatan. potensi KKM di wilayah
2. Forum dan mekanisme koordinasi. kerja
3. Pelaksanaan dan penguatan fungsi. 2. Rencana kontijensi
a. Deteksi : Surveilans - Penguatan Sistem Kewaspadaan Penyusunan
Dini dan Respons serta dukungan laboratorium. Uji rencana (Table top
b. Respons : Koordinasi, penanggulangan, rujukan, dan atau lapangan)
komunikasi risiko, sumber daya, Tim Gerak Cepat. 3. Pengembangan kapasitas
4. Pengembangan Kapasitas. 4. Tim Gerak Cepat
5. Koordinasi
6. Lainnya
A New IHR Monitoring & Evaluation Framework
EXERCISE JOINT EXTERNAL
JEE Tool used for Country IHR Capacity Assessments

EVALUATION TOOL
GHSA Experts Self Assessment
BERDASARKAN
(GHSA Pilots) IHR SELF ASSESSMENT
WHO 2015 After Action
Review
Secretariat
(IHR CC Kasubdit Kekarantinaan Kesehatan
Monitoring Independent
Experience)
Evaluation
Other expert
inputs
(e.g. OIE ) Exercises
GHSA MEMPERKUAT IHR

+
Anti Microbial
Resistance (AMR)
Immunization
Reporting
Emergency Response
Operation
Linking Public Health
and Security
Authorities

IHR Self Assessment - JEE Tools GHSA


JEE TOOL
PREVENT: DETECT :
OTHER IHR related hazards and
1. National Legislation, 8.National Lab System
PoE
Policy and Financing 9.Real time surveillance
2. IHR Coordination, 10.Reporting 17.Point of Entry
Communication and 11.Workforce Development 18.Chemical hazards
Advocacy 19.Radiation Emergency
3. Antimicrobial Resistance RESPONSE
(AMR) 12.Preparedneess
4. Zoonotic Diseases 13.Emergency Response
5. Food safety Operations
6. Biosafety dan Biosecurity 14.Linking Public Health and
7. Immunization Security Authorities
15.Medical Countermeasures and
Personnel deployment
16.Risk Communication
Konsep terbentuknya GHSA
Ancaman global health security, meningkat seiring dengan meningkatnya
konektivitas individu, frekuensi bepergian, komunikasi global,
meningkatkan resistensi antibiotika, terbatasnya kemampuan lab,
meningkatnya kompleksitas system, dan perkembangan teknologi yang
menciptakan adanya agen dan ancaman baru
IHR tidak menyediakan mekanisme untuk monitoring independent
progress dan tidak disusun untuk menilai kesenjangan dan kesesuaian
kebutuhan suatu Negara dan penyediaan bantuan keuangan jika
diperlukan
Diperlukan usaha multi sektoral yang memperomosikan GHS secara luas
dan meliputi kesehatan, kesehatan hewan dan prioritas keamanan
GHSA
Global Health Security Agenda (GHSA) diluncurkan pada 13 Februari 2014
oleh Amerika Serikat di Washington DC, AS dan di Kantor WHO
Jenewa.
GHSA muncul sebagai bentuk tanggapan atas meningkatnya kerentanan
masyarakat global terhadap berbagai penyakit baru dan pandemi yang
disebabkan oleh dampak negatif perubahan iklim, dan meningkatnya lalu
lintas manusia dan hewan lintas negara.
GHSA bertujuan memperkuat kapasitas untuk mendeteksi dan merespon
wabah penyakit menular, pandemi, dan bioterorisme, melalui
implementasi International Health Regulations 2005 (IHR) yang lebih efektif.
Indonesia berkomitmen dengan menjadi Ketua Troika 2016 dan anggota
Steering Committee GHSA
RENCANA AKSI GHS (Indonesia)
2016 : - Conduct self assessment desk review
- Comprehensive road map and target
- Planning and budgeting National and Donors

2017 : - Capacity building


- Evaluation (JEE)

2018 : - Strengthening activities based on AP road maps


- Monitoring activities

2019 : - Maintaining activities


- Monitoring and evaluation
Joint External Evaluation GHSA Pilots

Missions Direct support from GHSA With JEE Tool

Planned

FINLAND

UNITED KINGDOM
NETHERLANDS TURKMENISTAN
UKRAINE
Haiti
PORTUGAL KAZAKSTAN
SWITZERLAND UNITED STATES
PAKISTAN
ITALY GEORGIA
ARMENIA
ERITREA BANGLADESH
SIERRA LEONE
ETHIOPIA LAOS CAMBODIA
GUINEA
VIETNAM
GHANA UGANDA INDONESIA
SENEGAL KENYA LEBANON COLUMBIA
TANZANIA KUWAIT
CAMEROON PERU
JORDAN
COTE d IVOIRE NAMIBIA KSA
QATAR
MOZAMBIQUE
MOROCCO
BOTSWANA SUDAN
TUNISIA
EGYPT
Biregional Meeting of the Technical Advisory Group on
BAHRAIN
the Asia Pacific Strategy for Emerging Diseases
ARGENTINA
6/29/2016 28-30 June 2016 Manila, Philippines DJIBOUTI
14
Terima kasih
42