Anda di halaman 1dari 9

Mengapa Akuntansi Forensik

Akuntansi forensik adalah penggunaan keahlian di bidang audit dan akuntansi


yang dipadu dengan kemampuan investigatif untuk memecahkan suatu masalah/sengketa
keuangan atau dugaan fraud yang pada akhirnya akan diputuskan oleh pengadilan/
arbitrase/ tempat penyelesaian perkara lainnya. Kasus korupsi, sebagai contoh, pada
dasarnya adalah sengketa keuangan antara Negara melawan warganya yang secara resmi
telah ditunjuk untuk mengelola pemerintahan.
Tingkat korupsi yang tinggi menjadi pendorong yang kuat untuk berkembangnya
praktik akuntansi forensik di Indonesia.Akuntansi forensik diperlukan karena adanya
potensi fraud yang mampu menghancurkan pemerintahan, bisnis, pendidikan, departemen
maupun sektor-sektor lainnya.Fraud terjadi karena Corporate Governance yang rendah,
lemahnya enforcement, kelemahan dalam bidang penegakan hukum, standar akuntansi
dan lain-lain.
Mencoba menguak adanya tindak pidana korupsi dengan audit biasa (general
audit atau opinion audit) sama halnya mencoba mengikat kuda dengan benang jahit. BPK
perlu alat yang lebih dalam dan handal dalam membongkar indikasi adanya korupsi atau
tindak penyelewengan lainnya di dalam Pemerintahan ataupun dalam BUMN dan BUMD
salah satu metodologi audit yang handal adalah dengan metodologi yang dikenal sebagai
Akuntansi forensik ataupun Audit Forensik. Akuntansi forensik dahulu digunakan untuk
keperluan pembagian warisan atau mengungkap motif pembunuhan. Bermula dari
penerapan akuntansi dalam persoalan hukum, maka istilah yang dipakai adalah akuntansi
(dan bukan audit) forensik. Perkembangan sampai dengan saat ini pun kadar akuntansi
masih kelihatan, misalnya dalam perhitungan ganti rugi baik dalam pengertian sengketa
maupun kerugian akibat kasus korupsi atau secara sederhana akuntansi forensik
menangani fraud khususnya dalam pengertian corruption dan missappropriation of asset.
Profesi ini sebenarnya telah disebut dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) pasal 179 ayat (1) menyatakan:Setiap orang yang diminta pendapatnya
sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan
keterangan ahli demi keadilan. Orang sudah mahfum profesi dokter yang disebut dalam

1
peraturan diatas yang dikenal dengan sebutan dokter ahli forensik, namun ahli lainnya
yang dalam ini termasuk juga akuntan belum banyak dikenal sebutannya sebagai akuntan
forensik.
Menurut Tuanakotta yang dikutip dalam Asia Pacific Fraud Convention (2007 :
23) pada pertemuan Asia Pacific mengenai fraud tahun 2004, Deloitte Touche Tohmatsu
melakukan polling terhadap 125 delegasi. Polling tersebut menunjukkan bahwa
kebanyakan peserta (82%) menyatakan bahwa mereka mengalami peningkatan dalam
corporate fraud (fraud diperusahaan) dibandingkan dengan tahun sebelumnya; 36% di
antaranya menyatakan peningkatan fraud yang teramat besar.

A. Corporate Governance
Corporate Governance adalah proses supervisi dan pengendalian yang
dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa manajemen perusahaan bertindak sejalan dengan
kepentingan para pemegang saham (shareholders). Penerapan Corporate Governance
pada perusahaan diharapkan akan dapat memaksimalkan nilai perseroan tersebut bagi
pemegang saham.
Prinsip-Prinsip Corporate Governance :
1. Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham.
Hak-hak tersebut meliputi hak-hak dasar pemegang saham, yaitu hak untuk:
Menjamin keamanan cara pendaftaran atas kepemilikan.
Mengalihkan saham atau menyerahkan saham.
Memperoleh informasi yang relevan tentang perusahaan secara teratur dan
tepat waktu.
Berperan dalam memberikan hak suara dalam RUPS.
Memilih anggota pengurus, serta
Memperoleh hak pembagian keuntungan perusahaan.
2. Persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham.
Dimana harus menjamin adanya perlakuan yang sama terhadap seluruh pemegang
saham, termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing.
3. Peranan stakeholders dalam Corporate Governance.

2
Harus mengakui terhadap hak-hak stakeholders, yang ditentukan dalam undang-
undang atau perjanjian (mutual agreements), dan bersama-sama menciptakan
kerjasama yang aktif antara perusahaan dengan para stakeholders dalam rangka
menciptakan kesejahteraan, lapangan pekerjaan, dan kondisi keuangan
perusahaan yang dapat diandalkan.
4. Keterbukaan dan Transparansi
Memastikan adanya keterbukaan informasi yang tepat waktu dan akurat untuk
setiap permasalahan yang material yang berkaitan dengan perusahaan, termasuk
kondisi keuangan, kinerja perusahaan, kepemilikan saham dan tata kelola
perusahaan.
Manfaat Corporate Governance
Perusahaan yang memiliki Corporate Governance yang baik, tidak hanya akan
memberikan keuntungan bagi perusahaan sendiri, melindungi kepentingan investor, tetapi
juga pihak lain yang memiliki hubungan langsung maupun yang tidak langsung dengan
perusahaan. Dengan Corporate Governance, maka proses pengambilan keputusan akan
dapat berlangsung lebih baik, sehingga akan menghasilkan keputusan yang optimal, dapat
meningkatkan efisiensi serta terciptanya budaya kerja perusahaan yang lebih sehat.

B. Corruption Perseptions Index


Semenjak tahun 1995, Transparansi Internasional telah menerbitkan Corruption
Perseptions Index atau Indeks Persepsi Korupsi (IPK) setiap tahun yang mengurutkan
negara-negara di dunia berdasarkan persepsi (anggapan) publik terhadap korupsi di
jabatan publik dan politis.Nilai dari indeks ini sedang didebatkan, karena berdasarkan
survei, hasilnya tidak bisa dihindarkan dari bersifat subjektif.Karena korupsi selalu
bersifat tersembunyi, maka mustahil untuk mengukur secara langsung, sehingga
digunakan berbagai parameter untuk mengukur tingkat korupsi.Contohnya adalah dengan
mengambil sampel survei persepsi publik melalui berbagai pertanyaan, mulai dari
"Apakah Anda percaya pada pemerintah?" atau "Apakah korupsi masalah besar di negara
Anda?". Selain itu, apa yang didefinisikan atau dianggap sah sebagai korupsi berbeda-
beda di berbagai wilayah hukum: sumbangan politis sah di satu wilayah hukum mungkin
tidak sah di wilayah lain; sesuatu yang dianggap sebagai pemberian tip biasa di satu

3
negara bisa dianggap sebagai penyogokan di negara lain. Dengan demikian, hasil survei
harus dimengerti secara khusus sebagai pengukuran persepsi (anggapan) publik,
bukannya satu ukuran yang objektif terhadap korupsi.
Penurunan skor CPI disumbangkan oleh survei yang membahas tentang
prevalensi korupsi dan sektor publik terdampak korupsi khususnya di Kepolisian,
Pengadilan, Legistatif, dan Eksekutif.Secara tidak langsung merupakan bentuk
pesimisme publik terhadap penegak hukum dan DPR, salah satunya akibat pelemahan
terhadap KPK, banyaknya indikasi pidana korupsi yang tidak diproses, hingga tersangka
korupsi yang dibebaskan. Dalam konteks kemudahan berusaha, korupsi di sektor
penegakan hukum memberikan efek ketidakpastian terhadap bisnis. Merespon ini
pebisnis menghadapi cost of doing business yang sangat tinggi. Survei Persepsi Korupsi
(2015) menunjukkan terdapat 6 sektor yang memiliki kerentanan dan kerawanan suap
paling tinggi.Sektor tersebut adalah sektor kontruksi, pertambanagn, migas, industri,
perdagangan, dan kehutanan.
Risiko korupsi dapat datang melalui dua arah, dari publik sektor ataupun dari
privat sektor. Menyikapi hasil CPI 2015 ini Transparency International Indonesia (TII)
merekomendasikan beberapa poin rekomendasi sebagai berikut:
1. Presiden memimpin langsung pemberantasan korupsi dengan fokus pada
reformasi penegakan hukum dan perbaikan pelayanan publik.
2. Pemerintah membangun prakarsa gerakan nasional melawan korupsi melalui
3. Presiden memperkuat KPK dengan menghentikan revisi UU yang mengancam
eksistensi dan menyempitkan kewenangan KPK.
4. Pemerintah menjaga momentum dan kepercayan publik dengan meningkatkan
penindakan kasus yang tidak direkayasa.
5. KPK mengoptimalkan fungsi dan kewenangannya dalam koordinasi dan supervisi
penanganan tipikor, monitoring terhadap reformasi birokrasi dan penegakan
hukum.
6. KPK menggunakan Sistem Integritas Nasional sebagai cara untuk mendukung
pemerintah dalam memperkuat lembaga-lembaga kunci untuk memperbaiki tata
kelola pemerintahan dan pencegahan korupsi akuntabilitas.

4
7. Parlemen meningkatkan transparansi dan akuntablitas penganggaran dan legislasi,
sekaligus memperkuat fungsi pengawasan atas penggunaan anggaran yang
dijalankan eksekutif.
8. Partai Politik memperbaiki transparansi dan akuntabilitas pendanaan partai-partai.
9. Masyarakat sipil melanjutkan penguatan gerakan sosial melawan korupsi ke
berbagai kelompok masyarakat dalam rangka memperbaiki daya kontrol warga
terhadap pemerintah.

C. Global Corruption Barometer


Global Corruption Barometer (GCB) merupakan survei pendapat umum yang
dilakukan sejak tahun 2003. Survei dilakukan oleh Gallup International atas
namaTransparancy Internacional (TI). GCB berupaya memahami bagaimana dan cara
apa korupsi mempengaruhi hidup orang banyak, dan memberikan indikasi mengenai
bentuk dan betapa luasnya korupsi, dari sudut pandang anggota masyarakat di seluruh
dunia.
Survei Global Corruption Barometer (GCB) atau Barometer Korupsi Global
(BKG) yang dilaksanakan oleh Transparency International (TI) secara akumulatif
menunjukkan bahwa publik memiliki persepsi negatif terhadap kehidupan politik dan
menganggap partai politik sebagai institusi yang paling banyak dipengaruhi oleh
korupsi.Namun bila dilihat satu persatu, maka temuan survei BKG di setiap negara
tergantung pada situasi kontekstual negara tersebut.
Di bawah ini secara berturut turut disajikan Global Corruption Barometer 2007
dan 2009.GCB 2007 mewawancarai 63.199 orang di 60 negara dan kawasan antara bulan
Juni dan September 2007. GCB 2009 mewawancarai 73.132 orang di 69 negara dan
kawasan antara bulan Oktober 2008 dan Februari 2009. Jumlah negara dalam survei GCB
sejak 2003 berubah ubah sebagai berikut :

5
Tabel 2.1.
Jumlah Negara yang Disurvei
Tahun Negara
2003 45
2004 64
2005 70
2006 63
2007 60
2009 69
Korupsi dalam GCB berarti uang sogokan atau pembayaran tidak resmi untuk
mendapatkan suatu pelayanan. Secara umum, bukan hanya Indonesia, temuan utama
survei GCB 2007 adalah :
1. Rakyat jelata (miskin) baik di negara berkembang maupun di negara industri yang
sangat maju adalah korban utama korupsi
2. Sekitar 1 diantara 10 orang di seluruh dunia harus membayar uang suap atau
sogok (bribe)
3. Penyuapan marak dalam urusan dengan kepolisian, sistem peradilan, dan
pengurusan izin izin
4. Masyarakat umum percaya bahwa lembaga lembaga terkorup dalam masyarakat
mereka adalah partai partai politik, parlemen / DPR, kepolisian, dan sistem
peradilan
5. Separuh dari mereka yang diwawancarai memperkirakan korupsi di negara
mereka akan meningkat dalam tiga tahun mendatang
6. Separuh dari mereka yang diwawancarai berpendapat bahwa upaya pemerintah
mereka memerangi korupsi tidaklah efektif.

D. Bribe Payers Index


Bribe Payer Index (BPI) dilakukan dengan cara wawancara dengan para eksekutif
bisnis senior di 26 negara. Dasar pemilihan negara responden adalah aliran foreign direct
investment dan arus impor serta peranan mereka dalam perdagangan regional. Indeks ini
bertujuan untuk melihat berapa besar kemungkinan perusahaan asing melakukan

6
penyuapan saat transaksi di negara tempat beroperasi. Berdasarkan hasil survai ternyata
tidak ada yang negara yang punya skor 9 atau 10 yang artinya negara yang paling kuat
ekonominya sedikit banyaknya mengekspor korupsi.
Terkait dengan korupsi dan iklim investasi menurut kajian Political and Economic
Risk Consultancy, Ltd. (PRC) adalah betujuan menilai risiko politik dan ekonomi suatu
negara. Salah satu kajian PERC menunjukkan tingkat korupsi menurut persepsi eksekutif
asing di negara tertentu. Hasil survey dapat digunakan sebagai referensi pebisnis yang
akan menanamkan modalnya dinegara bersangkutan. Beradarkan survey atas Iklim
investasi 2009, Singapura terbersih (1,07) dari korupsi sedangkan Indonesia terkorup
(8,32) dari 16 negara di Asia.

E. Global Competitiveness Index


Global Competitive Index adalah melihat tingkat kemampuan bersaing suatu
negara yang mencerminkan sampai seberapa jauh negara dapat memberikan
kemakmuran pada warga negaranya. Menurut survai GCI, Indonesia Peringkat 55 dari
134 negara.
Timbul pertanyaan apakah kajian mengenai korupsi bermanfaat? Tanggapannya
adalah Bermanfaat karena mencerminkan kesan /persepsi tentang praktik korupsi. Kajian
ini juga mencerminkan kenyataan yang dapat digunakan untuk membantu penangkapan
dan penyidikan oleh KPK dan kejaksaan, proses penyidangan. Kajian ini juga bermanfaat
secara makro karena dapat mengindikasikan apakah janji-janji kampanye sudah
terealisasi.

Survei integritas yang dilakukan KPK bertujuan:


1. Menelusuri akar permasalahan korupsi di sektor pelayanan publik
2. Mengubah perspektif layanan dari orientasi lembaga penyedia layanan publik atau
petugasnya (sisi penawaran) ke perspektif pelanggan (sisi permintaan)
3. Mendorong lembaga publik menyiapkan upaya pencegahan korupsi yang efektif
si wilayah dan layanan yang rentan terjadinya korupsi

Hasil survey menunjukkan bahwa:

7
1. Rata-rata skor integritas integritas sektor publik dari 30 dept atau instansi tingkat
pusat lebih rendah dibanding negara lain
2. Dept skor dibawah rata-rata
3. Petugas pelayanan publik masih berperilaku koruptif
4. Tidak ada transparansi & informasi yang jelas terkait dengan biaya dan waktu
yang dibutuhkan dalam penurusan layanan
5. Masyarakat pengguna layanan sektor publik masih toleran terhadap perilaku
koruptif.

Contoh Kasus :
Bulan Oktober 1997 Indonesia telah menjajagi kemungkinan untuk meminjam
dana dari IMF dan World Bank untuk menangani krisis keuangan yang semakin parah.
Sebagai prasayarat pemberian bantuan, IMF dan World Bank mengharuskan adanya
proses Agreed Upon Due Dilligence (ADDP) yang dikerjakan oleh akuntan asing dibantu
beberapa akuntan Indonesia. Temuan ADDP ini sangat mengejutkan karena dari sampel
Bank Besar di Indonesia menunjukkan perbankan kita melakuan overstatement asset
sebesar 28%-75% dan understatement kewajiban sebesar 3%-33%. Temuan ini segera
membuat panik pasar dan pemerintah yang berujung pada likuidasi 16 bank swasta.
Likuidasi tersebut kemudian diingat menjadi langkah yang buruk karena menyebabkan
adanya penarikan besar-besaran dana (Rush) tabungan dan deposito di bank-bank swasta
karena hancurnya kepercayaan publik pada pembukuan perbankan. ADPP tersebut tidak
lain dari penerapan akuntansi forensik atau audit investigatif.
Istilah akuntansi forensik di Indonesia baru mencuat setelah keberhasilan
Pricewaterhouse Coopers (PwC) sebuah kantor Akuntan Besar dunia (The Big Four)
dalam membongkar kasus Bank Bali. PwC dengan software khususnya mampu
menunjukkan arus dana yang rumit berbentuk seperi diagram cahaya yang mencuat dari
matahari (sunburst). Kemudian PwC meringkasnya menjadi arus dana dari orang-orang
tertentu. Sayangnya keberhasilan ini tidak diikuti dengan keberhasilan sistem
pengadilan.5 Metode yang digunakan dalam audit tersebut adalah follow the money atau
mengikuti aliran uang hasil korupsi Bank Bali dan in depth interview yang kemudian

8
mengarahkan kepada para pejabat dan pengusaha yang terlibat dalam kasus ini.
Kasus lainnya pada tahun 2006, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) mampu membuktikan kepada pengadilan bahwa Adrian Waworuntu terlibat
dalam penggelapan L/C BNI senilai Rp 1.3 Triliun, dengan menggunakan metode follow
the money yang mirip dengan metode PwC dalam kasus Bank Bali dalam kasus lain
dengan metode yang sama PPTK juga berhasil mengungkapkan beberapa transaksi
ganjil 15 Pejabat Kepolisian Kita yang memiliki saldo rekening Milyaran rupiah
padahal penghasilan mereka tidak sampai menghasilkan angka fantastis tersebut.

Kesimpulan :
Kesimpulan yang dapat diambil dari materi dengan contoh kasus yang ada adalah
BPK atau lembaga lainnya yang berperan dalam akuntansi forensic harus meredifinisikan
dirinya untuk menjadi garda terdepan dalam pemberantasan korupsi di Indonesia, dengan
cara meningkatkan metodologi auditnya dan meningkatkan kinerja pegawainya dalam
melakukan pemeriksaan keuangan negara termasuk didalamnya keahlian tehnis dalam
mendeteksi fraud yaitu mempunyai kemampuan mengumpulkan fakta-fakta dari berbagai
saksi secara fair, tidak memihak, sahih, akurat serta mampu melaporkan fakta secara
lengkap. Salah satu pendekatan yang bisa diambil dalam upaya pemberantasan korupsi
adalah dengan menerapkan Akuntansi Forensik atau sebagian orang menyebutnya Audit
Investigatif.