Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia yang merupakan negara yang mempunyai penduduk yang banyak
serta pengangguran yang tak terkira. Itulah Indonesia dengan segala macam rupa masalah
yang ada di dalam nya terutama masalah yang terjadi pada kehidupan masyarakatnya
baik dari perilaku sampai kehidupan seksual nya. Manusia diciptakan oleh sang
PENCIPTA ada yang berjenis laki-laki dan wanita. Mereka hidup di dunia ini untuk
mencari pasangan tetapi banyak di antar mereka yang mencari pasangan hidupnya tidak
lawan jenis melainkan sesama jenis. Itu lah yang dinamakan penyimpangan seksual,
penyimpangan seksual merupakan penyimapangan yang terjadi pada seseorang yang di
sebabkan oleh beberapa factor baik dari dalam dirinya ataupun dari lingkungan sekitar,
nah kami selaku penulis dalam makalah ini akan membahas tentang penyimpangan
seksual yang terjadi di Indonesia. Mulai dari apa penyebab seseorang melakukan hal
tersebut hingga sampa dampak apa yang terjadi jika seseorang terlibat dalam kasus
penyimpangan seksual. Tetapi makalah ini kami buat tidak hanya semata mata
memberikan sedikit informasi melainkan akan memberikan solusi dari permasalahan ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu penyimpangan seksual?
2. Faktor penyebab dari penyimpangan seksual?
3. Macam-macam penyimpangan seksual?
4. Bagaimana usaha-usaha pencegahan penyimpangan seksual?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui apa itu penyimpangan seksual itu?
2. Untuk mengetahui dampak apa yang terjadi jika sesorang termasuk kedalam orang
yang melakukan tindakan penyimpangan seksual?
3. Untuk mengetahui bagaimana caranya agar seseorang yang sudah terjerumus kedalam
perilaku tersebut bisa kembali normal, dan tidak menjauhi orang yang seperti
tersebut?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyimpangan Seksual
Seringkali dalam masyarakat terdapat pengetahuan kalau perilaku seks,
khususnya yang tidak sesuai dengan norma agama, norma hukum, atau norma susila,
yang dilakukan oleh remaja, dikatakan sebagai penyimpangan atau kelainan seksual, tapi
secara psikologi pengertian itu tidak selamanya benar. Karena pengertian secara luas
tingkah laku seksual itu sendiri, adalah, segala perilaku yang didasari oleh dorongan seks.
Ada dua jenis perilaku seks, yaitu perilaku yang dilakukan sendiri, seperti
masturbasi, fantasi seksual, membaca/ melihat bacaan porno, dll, serta perilaku seksual
yang dilakukan dengan orang lain, seperti berpegangan tangan, berciuman, bercumbu
berat hingga berhubungan intim. Dalam tinjauan psikologis proses tingkah laku yang
lazim terdiri dari menyukai orang lain, timbulnya gairah, diikuti dengan tercapainya
puncak kepuasan seksual atau orgasme dan diakhiri dengan tahap pemulihan (resolusi).
Di dalam perkawinan, semua proses hubungan seks akan terpenuhi, sehingga tidak
diragukan lagi kenormalannya berdasarkan norma psikologi. Bahkan masturbasi dan
mimpi basah juga memenuhi semua proses untuk sampai pada puncak kepuasan seksual.
Semua proses ini bukanlah merupakan kelainan atau penyimpangan. Pada usia remaja
masih terbatas sekali kesempatan (atau bahkan belum ada) untuk mendapatkan pasangan
atau penyaluran untuk bertingkah laku seksual atau melakukan hubungan seks untuk
mendapatkan kepuasan. Jadi sebagai pernyaluran hasrat seksual mereka, remaja
melakukan masturbasi, dan memang jika terlalu lama tidak mengalami orgasme, remaja
itu secara alamiah akan mengalami mimpi basah. Jadi masturbasi dan mimpi basah masih
dipandang sebagai perilaku normal dari tinjauan psikologis.
Pengertian normal secara psikologi tidak sama dengan normal dalam ukuran
norma (agama, sosial, dan budaya). Ketertarikan terhadap lawan jenis merupakan hal
yang normal bahkan akan tidak wajar kalau sampai diantara kalian tidak merasakan
adanya kecocokan pas berpapasan dengan labaan atau wanita yang menurut selera kalian
,apalagi kalau kalian udah sampai atau bahkan lewat usia pubertas masih belum
merasakan tadi, itu patut dicurigai kali-kali aja kalian mengalami ketertarikan yang tidak

2
sama dengan teman-teman seusia kalian , nah hal itu lah yang dikategorikan menyimpang
dari ketertarikan seksualitas yang tidak pada umumnya alias abnormal, apalagi bagi
mereka yang justru lebih tertarik dengan sesama jenis atau lebih dikenal dengan
Homoseksual Tapi kalo di negeri barat sih(bahkan WHO sekalipun buat konvensi) bahwa
gay atau lesbian bukan merupakan abnormalitas dalam perilaku seksual alias bukan
dianggap sebagai kelainan seksual tapi sudah dianggap golongan homoseksual tersebut
berada dalam sebuah masyarakat bahkan disahkan untuk menikah. Tetapi karena kita
hidup dalam kultur timur yang masih menjunjung norma-norma, apalagi yang berkaitan
dengan aspek seksualitas, homoseksual belum dapat diterima sebagai sebuah perilaku
seksual yang normal.

B. Faktor penyebab dari penyimpangan seksual


Dari sekian banyak faktor penyebab penyimpangan seksual, faktor sosial atau
pergaulan merupakan faktor terbesar yang menjadi penyebab homoseksual, sekali pernah
merasakan hubungan seksual (seperti sodomi misalnya), terus jadi ketularan walaupun
tidak sepenuhnya gay tapi faktor ini juga bisa menyebabkan Biseksual, jadi Ke-lawan
jenis ok ke-sesama jenis tidak masalah. Kemudian Faktor penyebab kedua adalah faktor
trauma atau korban perkosaan pada masa kecil, dari beberapa kasus yang pernah masuk
ke berita-berita televesi, hampir ditemukan kesamaan latar belakang riwayat pada mereka
yang mengalami penyimpangan seksual menceritakan bahwa mereka pernah disiksa atau
memiliki ayah yang suka menyiksa, atau pernah diperkosa oleh orang-orang terdekat.
Mereka yang menjadi homo dari faktor ini biasanya menyadari kalau mereka
tidak semestinya menyukai sesama jenisnya, tetapi dari sesama jenisnya misalnya dalam
hal ini ibu dapat memberikan perlindungan atau orang yang tidak memberikan kekerasan
fisik atau karena memendam kebencian yang dalam secara terus menerus di alam bawah
sadarnya pada ayah maka ia tumbuh menjadi seorang homo, terus untuk mereka yang
pernah diperkosa, dengan mereka menjadi homo dikarenakan mereka membalas dendam
kepada orang lain dengan menjadi atau berperilaku homo. Kebanyakan dari kasus trauma
masa kecil atau diperkosa ini dapat recover tetapi memerlukan penanganan atau therapy
dari psikolog yang memang bisa menanganin kasus-kasus seperti ini dan memakan waktu
yang tidaksebentar.

3
Faktor terkecil penyebab Homoseks terakhir adalah faktor penyebab dari herediter
atau keturunan alias bawaan, dimana secara rootedness atau garis keturunan ada buyutnya
yang punya riwayat homo kasus homoseksualitas. Terus perlu ditekankan bahwa yang
disebabkan oleh faktor ini, menduduki peringkat terakhir penyebab terjadinya
penyimpangan seksual, karena prosesnya genetis, jadi ada bayi yang terlahir dengan
susunan kromosom yang tidak pada umumnya, kalau cewe XX tapi terlahir dengan alat
kelamin seperti cowok,yang diasumsikan penis ternyata itu adalah klitoris, terus ada juga
yang secara fisik dia bayi cowok tapi susunan kromosomnya XY, tapi struktur fisik
genitalianya(alat kelaminnya) tidak normal sebesar cabe atau bahkan tidak punya penis
hal ini sangat kasuistik atau jarang-jarang sekali terjadi terjadi.

C. Macam-macam Penyimpangan Seksual


Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk
mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang
digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar.
Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman
sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik. Berikut ini macam-macam
bentuk penyimpangan seksual:
a. Homoseksual
Homoseksual merupakLan kelainan seksual berupa disorientasi pasangan
seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita
perempuan. Hal yang memprihatinkan disini adalah kaitan yang erat antara
homoseksual dengan peningkatan risiko AIDS. Pernyataan ini dipertegas
dalam jurnal kedokteran Amerika (JAMA tahun 2000), kaum homoseksual
yang "mencari" pasangannya melalui internet, terpapar risiko penyakit
menular seksual (termasuk AIDS) lebih tinggi dibandingkan mereka yang
tidak.
b. Sadomasokisme
Sadisme seksual termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan
seksual diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih
dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya. Sedangkan masokisme seksual

4
merupakan kebalikan dari sadisme seksual. Seseorang dengan sengaja
membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan
seksual.
c. Ekshibisionisme
Penderita ekshibisionisme akan memperoleh kepuasan seksualnya dengan
memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang lain yang sesuai dengan
kehendaknya. Bila korban terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia akan
semakin terangsang. Kondisi begini sering diderita pria, dengan
memperlihatkan penisnya yang dilanjutkan dengan masturbasi hingga
ejakulasi.
d. Incest
Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami
istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengna anak cowok.
e. Necrophilia/Necrofil
Adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang
sudah menjadi mayat / orang mati.
f. Voyeurisme
Istilah voyeurisme (disebut juga scoptophilia) berasal dari bahasa Prancis
yakni vayeur yang artinya mengintip. Penderita kelainan ini akan memperoleh
kepuasan seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain yang sedang
telanjang, mandi atau bahkan berhubungan seksual. Setelah melakukan
kegiatan mengintipnya, penderita tidak melakukan tindakan lebih lanjut
terhadap korban yang diintip. Dia hanya mengintip atau melihat, tidak lebih.
Ejakuasinya dilakukan dengan cara bermasturbasi setelah atau selama
mengintip atau melihat korbannya. Dengan kata lain, kegiatan mengintip atau
melihat tadi merupakan rangsangan seksual bagi penderita untuk memperoleh
kepuasan seksual. Yang jelas, para penderita perilaku seksual menyimpang
sering membutuhkan bimbingan atau konseling kejiwaan, disamping
dukungan orang-orang terdekatnya agar dapat membantu mengatasi keadaan
mereka.

5
g. Fetishisme
Fatishi berarti sesuatu yang dipuja. Jadi pada penderita fetishisme,
aktivitas seksualnya disalurkan melalui bermasturbasi dengan BH (breast
holder), celana dalam, kaos kaki, atau benda lain yang dapat meningkatkan
hasrat atau dorongan seksual. Sehingga orang tersebut mengalami ejakulasi
dan mendapatkan kepuasan. Namun ada juga penderita yang meminta
pasangannya untuk mengenakan benda-benda favoritnya, kemudian
melakukan hubungan seksual yang sebenarnya dengan pasangannya tersebut.
h. Pedophilia/Pedophil/Pedofilia/Pedofil
Adalah orang dewasa yang yang suka melakukan hubungan seks / kontak
fisik yang merangsang dengan anak di bawah umur.
i. Bestially
Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan
binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing,
dan lain sebagainya.
j. Zoophilia
Zoofilia adalah orang yang senang dan terangsang melihat hewan
melakukan hubungan seks dengan hewan.
k. Sodomi
Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan
seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan
perempuan.
l. Frotteurisme/Frotteuris
Yaitu suatu bentuk kelainan sexual dimana seseorang laki-laki
mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek/menggosok-
gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik/umum seperti di
kereta, pesawat, bis, dan lain-lainya.
m. Gerontopilia
Gerontopilia adalah suatu perilaku penyimpangan seksual dimana sang
pelaku jatuh cinta dan mencari kepuasan seksual kepada orang yang sudah
berusia lanjut (nenek-nenek atau kakek-kakek). Gerontopilia termasuk dalam

6
salah satu diagnosis gangguan seksual, dari sekian banyak gangguan seksual
seperti voyurisme, exhibisionisme, sadisme, masochisme, pedopilia, brestilia,
homoseksual, fetisisme, frotteurisme, dan lain sebagainya. Keluhan awalnya
adalah merasa impoten bila menghadapi istri/suami sebagai pasangan
hidupnya, karena merasa tidak tertarik lagi. Semakin ia didesak oleh
pasangannya maka ia semakin tidak berkutik, bahkan menjadi cemas. Gairah
seksualnya kepada pasangan yang sebenarnya justru bisa bangkit lagi jika ia
telah bertemu dengan idamannya (kakek/nenek). Manusia itu diciptakan
Tuhan sebagai makhkluk sempurna, sehingga mampu mencintai dirinya
(autoerotik), mencintai orang lain beda jenis (heteroseksual) namun juga yang
sejenis (homoseksual) bahkan dapat jatuh cinta makhluk lain ataupun benda,
sehingga kemungkinan terjadi perilaku menyimpang dalam perilaku seksual
amat banyak.

Manusia walaupun diciptakanNya sempurna namun ada keterbatasan, misalnya


manusia itu satu-satunya makhluk yang mulut dan hidungnya tidak mampu menyentuh
genetalianya; seandainya dapat dilakukan mungkin manusia sangat mencintai dirinya
secara menyimpang pula. Hal itu sangat berbeda dengan hewan, hampir semua hewan
mampu mencium dan menjilat genetalianya, kecuali Barnobus (sejenis Gorilla) yang sulit
mencium genetalianya. Barnobus satu-satunya jenis apes (monyet) yang bila bercinta
menatap muka pasangannya, sama dengan manusia. Hewanpun juga banyak yang
memiliki penyimpangan perilaku seksual seperti pada manusia, hanya saja mungkin
variasinya lebih sedikit, misalnya ada hewan yang homoseksual, sadisme, dan
sebagainya.
Kasus Gerontopilia mungkin jarang terdapat dalam masyarakat karena umumnya
si pelaku malu untuk berkonsultasi ke ahli, dan tidak jarang mereka adalah anggota
masyarakat biasa yang juga memiliki keluarga (anak&istri/suami) serta dapat
menjalankan tugas-tugas hidupnya secara normal bahkan kadang-kadang mereka dikenal
sebagai orang-orang yang berhasil/sukses dalam karirnya. Meski jarang ditemukan,
tidaklah berarti bahwa kasus tersebut tidak ada dalam masyarakat Indonesia.

7
D. Usaha-Usaha Pencegahan Penyimpangan Seksual
1. Sikap dan pengertian orang tua
Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bisa secara optimal
diperankan oleh orang tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap
anaknya yang melakukan masturbasi sangat penting. Di samping itu, orang tua perlu
memperhatikan kesehatan umum dari anak-anaknya juga kebersihan di sekitar daerah
genitalia mereka. Orang tua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat
pornografis dan pornoaksi yang terpapar pada anak.
Menekankan kebiasaan masturbasi sebagai sebuah dosa dan pemberian hukuman
hanya akan menyebabkan anak putusasa dan menghentikan usaha untuk
mencontohnya. Sedangkan pengawasan yang bersifat terang-terangan akan
menyebabkan sang anak lebih memusatkan perhatiannya pada kebiasaan ini dan
kebiasaan ini bias jadi akan menetap.
Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana dan terus
terang kepada anaknya pada saat-saat yang tepat berhubungan dengan perubahan-
perubahan fisiologik seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dan fenomena sexual
secunder lainnya.
Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya
kesempatan melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan utama.
Agar tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi kesempatan untuk
melakukannya. Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu. Masturbasi biasanya dilakukan
di tempat-tempat yang sunyi, sepi dan menyendiri. Maka, jangan biarkan anak untuk
mendapatkan kesempatan menyepi sendiri. Usahakan agar dia tidak seorang diri dan
tidak kesepian. Beri dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh
perhatiannya, sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan
masturbasi.
Selain itu, menciptakan suasana rumah tangga yang dapat mengangkat harga diri
anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya. Hindarkan anak dari melihat,
mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Suruhlah anak-anak
berolah raga, khususnya olah raga bela diri, yang akan menyalurkan kelebihan energi

8
tubuhnya. Atau membiasakan mereka aktif dalam organisasi kepemudaan dan
keolahragaan.
2. Pendidikan seks
Sex education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada
kebiasaan masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang
seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan sekolah
diberikan sex information dengan cara terintegrasi dengan pelajaran-pelajaran
lainnya, dimana diberikan penjelasan-penjelasan seksual yang sederhana dan
informatif.
Pada tahap selanjutnya dapat dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yag lebih bebas
dan dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan menguasai bidangnya.
Hal penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya anak ketika
sampai pada usia adolescent telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap
seks.
3. Pengobatan
Biasanya anak-anak dengan kebiasaan masturbasi jarang dibawa ke dokter,
kecuali kebiasaan ini sangat berlebihan. Masturbasi memerlukan pengobatan hanya
apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bias berupa sikap yang tidak tepat dari
orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan,
perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa yang mendasari,
seperti gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun psikosa.
a. Farmakoterapi:
1) Pengobatan dengan estrogen (eastration)
Estrogen dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya
tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak
diubah. Diberikan peroral. Efek samping tersering adalah ginecomasti.

9
2) Pengobatan dengan neuroleptic
i. Phenothizine
Memperkecil dorongan sexual dan mengurangi kecemasan.
Diberikan peroral.
ii. Fluphenazine enanthate
Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi
dorongan sexual lebih dari dua pertiga kasus dan efeknya
sangat cepat. Diberikan IM dosis 1cc 25mg. efeknya untuk
jangka waktu 2 pekan.
3) Pengobatan dengan trnsquilizer
Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-
gejalan kecemasan dan rasa takut. Perlu diberikan secara hati-hati
karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi sexual secara
menyeluruh. Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan transquilizer
berguna sebagai terapi adjuvant untuk pendekatan psikologik.

b. Psikoterapi
Psikoterapi pada kebiasaan masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan
yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang
penuh pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana dimana
penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi
merupakan tujuan awal psikoterapi. Pada penderita yang datang hanya dengan
keluhan masturbasi dan adanya sedikit kecemasan, tindakan yang diperlukan
hanyalah meyakinkan penederita pada kenyataan yag sebenarnya dari
masturbasi.
Pada kasus-kasus adolescent, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks
dan memungkinkan dilakukan semacam interview sex education.
Psikotherapi dapat pula dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan
keyakinan penderita.

10
c. Hypnoterapi
Self-hypnosis (auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan
masturbasi kompulsif, yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar
penderita dengan anjuran-anjuran mencegah masturbasi.

d. Genital Mutilation (Sunnat)


Ini merupakan pendekatan yang tidak lazim dan jarang dianjurkan secara
medis.Pada beberapa daerah dengan kebudayaan tertentu, dengan tujuan
mengurangi/membatasi/meniadakan hasrat seksual seseorang, dilakukan
mutilasi genital dengan model yang beraneka macam.

e. Menikah
Bagi remaja/adolescent yang sudah memiliki kesiapan untuk menikah
dianjurkan untuk menyegerakan menikah untuk menghindari/mencegah
terjadinya kebiasaan masturbasi.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk
mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang
digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar.
Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman
sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan. Ada dua jenis perilaku seks, yaitu perilaku
yang dilakukan sendiri, seperti masturbasi, fantasi seksual, membaca/ melihat bacaan
porno, dll, serta perilaku seksual yang dilakukan dengan orang lain, seperti berpegangan
tangan, berciuman, bercumbu berat hingga berhubungan intim.
Faktor-Faktor Penyebab Penyimpangan Seksual :
1. Faktor sosial atau pergaulan merupakan faktor terbesar yang menjadi
penyebab homoseksual, sekali pernah merasakan hubungan seksual (seperti
sodomi misalnya), terus jadi ketularan walaupun tidak sepenuhnya gay.
2. Faktor penyebab kedua adalah faktor trauma atau korban perkosaan pada
masa kecil
3. Faktor terkecil penyebab Homoseks terakhir adalah faktor penyebab dari
herediter atau keturunan alias bawaan,dimana secara rootedness atau garis
keturunan ada buyutnya yang punya riwayat homo kasus homoseksualitas
Bentuk-bentuk Penyimpangan Seksual adalah homoseksual, sadomasokisme,
exshibisionisme, incest, necrophilia, voyeurisme, fetishisme, pedophilia, bestially,
zoophilia, sodomi, frotteurisme, dan gerontopilia.
Usaha-Usaha Pencegahan Penyimpangan Seksual
1. Sikap dan pengertian orangtua
2. Pendidikan Sex
3. Pengobatan (Farmakoterapi, psikoterapi, hypnoterapi, gential mutilation,
menikah)

12
DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia, 2012. Pengertian penyimpangan sexsual. Jakarta. Google Chrome

Blogger Wawan, 2012. Bentuk-bentuk penyimpangan seksual di masyarakat. Solo. Google


Chrome ( Blogger.com ).

Blogger Doni Saputra, 2012. Makalah penyimpangan seksual di Indonesia. Jakarta. Google
Chrome ( Blogger.com ).

Vina Dwi Laning. 2009. Sosiologi. Untuk SMA/MA kelas X. Jakarta. Pusat perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional.

Joko Sri Sukardi dan Arif Rohman. 2009. Sosiologi. Kelas X untuk SMA/MA. Jakarta. Pusat
Perbukuaan Departemen Pendidikan Nasional

Google. 2012. Gambar-Gambar Penyimpangan Seksual. Jakarta. Google Chrome

Blogger Dwi Septia. 2012. Cara cepat untuk Mencegah Penyimpangan Seksual. Jakarta. Google
Chrome ( Blogger.com ).

13