Anda di halaman 1dari 10

TUGAS KIMIA ORGANIK II

MAKALAH

ROTASI OPTIK

KELOMPOK :
AFRILIANDI PANJI UTOMO (050216A001)
BRIAN RESTI DAMAI WATI (050216A007)
EKA ANISA NURI H (050216A013)
ISNYA LATIFATUR RIKHANA (050216A019)
SERFIENA WULANDARI (050216A025)
YOLANDHA GRETA VIANGGI (050216A031)

FARMASI TRANSFER
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
2016
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Cahaya putih adalah cahaya polikromatik yang terdiri dari berbagai panjang
Gelombang dan dapat bervibrasi kesegala arah, dengan menggunakan suatu filter atau sumber
cahaya yang khusus cahaya putih ini dapat diubah menjadi cahaya monokromatik (terdiri dari
satu panjang gelombang) yang disebut cahaya terpolarisasi.
Cahaya terpolarisasi melewati larutan yang bersifat optis aktif sehingga arah
polarisasi cahaya akan berputar. Peristiwa ini disebut rotasi optik, interaksi suatu senyawa
organik tertentu dengan cahaya terpolarisasi dianalisis dengan polarimeter yaitu alat yang
digunakan untuk mengukur besaran yang terjadi akibat interaksi suatu senyawa organik
dengan cahaya terpolarisasi. Peristiwa rotasi optik dijumpai salah satunya pada gula.
Pengukuran rotasi optik dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan yaitu untuk
menganalisis spesifikasi bahan obat dan produk obat. Polarimeter dalam kimia organik dapat
digunakan untuk menentukan rotasi optik, konsentrasi, dan komposisi isomer optis dalam
campuran rasemiknya.
Prinsip kerja polarimeter yaitu polarisasi cahaya. Cahaya polikromatik menyebar ke
segala arah masuk ke dalam prisma menjadi cahaya monokromatik, kemudian masuk ke
dalam polarimeter. Apabila cahayanya ke kanan merupakan dekstro. Jika cahaya ke kiri
merupakan levo.
Polarimeter merupakan instrument scientific yang digunakan untuk mengukur
penyebab sudut rotasi, menggunakan cahaya polarisasi secara terus menerus pada subtansi
optik aktif. Pada polarimeter terdapat polarisator dan analisator, dimana polarimeter adalah
Polaroid yang dapat mempolarisasikan cahaya, sedangkan analiastor adalah Polaroid yang
dapat menganalisa atau mempolarisasikan cahaya.Berkas cahaya alami akan dilewatkan pada
polarisator menjadi cahaya terpolarisasi linier, dan cahaya ini dilewatkan pada analisator.
Apabila analisator diputar maka intensitas cahaya yang keluar dari analisator akan berubah.
Perubahan initergantung posisi sumbu polarisasi analisator. Apabila sumbu polarisasi
polarisator tegak lurus sumbu polarisasi analisator maka intensitas cahaya yang keluar
analisator minimal, sedangkan bila sumbu polarisasi analisator sejajar dengan sumbu
polarisasi polarisator maka intensitas cahaya yang keluar analisatormaksimal. Sehigga arah
polarisasi cahaya ditentukan dengan memutar analisator sampai ditemukan intensitas cahaya
yang maksimal.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Polarisasi Cahaya dan Rotasi Optik?
2. Apakah perbedaan dari enentiomer, diastereomer dan bentuk meso?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian Polarisasi Cahaya dan Rotasi Optik
2. Untuk mengetahui dan memahami perbedaan dari enantiomer, disastereomer dan
bentuk meso
LANDASAN TEORI
A. Polarisasi Cahaya
Gelombang transversal adalah gelombang yang arah getarannya tegak lurus dengan arah
perambatannya. Polarisai merupakan karakteristik semua gelombang transversal. Sebuahtali
pada arah sumbu x kemudian digetarkan searah sumbu y, tali tersebut membentuk gelombang
transversal pada bidang xy.Jika getaran sebuah gelombang hanya searah sumbu z, maka
gelombang tersebut dikatakan terpolarisasi linier dalam arah z.

Gelombang transversal lainnya yaitu gelombang elektromagnetik. Arah polarisasi


gelombang elektromagnetik didefinisikan sebagai arah dari vektor medan listrik E. Salah satu
contoh gelombang elektromagnetik adalah cahaya. Cahaya dari lampu pijar menyebar ke
segala arah. Cahaya yang dipancarkan lampu pijar merupakan campuran acak gelombang
terpolarisasi linier dalam semua arah transversal yang mungkin. Cahaya ini adalah cahaya tak
terpolarisasi atau cahaya alami. Polarisator adalah alat yang digunakan untuk membuat
cahaya alami menjadi terpolarisasi linier.

B. Larutan Optik Aktif

Zat optik aktif merupakan zat yang memiliki sifat dapat memutar bidang polarisasi
cahaya. Salah satu zat optik aktif adalah larutan gula. Larutan gula dapat memutar bidang
polarisasi cahaya sehingga terjadi pergeseran sudut polarisasi. Semakin besar konsentrasi
gula dalam larutan, sudut putar sumbu polarisasinya semakin besar.

C. Rotasi Optik

Suatu isomer optis aktif dapat berinteraksi dengan cahaya terpolarisasi dan memutar
bidang cahaya terpolarisasi dengan suatu sudut yang dilambangkan dengan yang disebut
rotasi optik. Isomer optis merupakan senyawa-senyawa dengan rumus molekul sama tetapi
susunan atom dalam ruang berbeda. Isomer-isomer optis dapat mengalami reaksi yang sama,
mempunyai sifat fisika yang mirip, perbedaan isomer-isomer tersebut terletak pada
interaksinya dengan bidang cahaya terpolarisasi. Bila cahaya terpolarisasi dilewatkan pada
larutan isomer optis, maka isomer aktif ini akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan
arah tertentu.
Isomer optis mengandung atom karbon asimetris (atom karbon yang mengikat empat
atom/gugus yang berbeda) dalam strukturnya. Molekul dengan satu atom karbon asimetris
merupakan molekul kiral (tidak simetris), molekul demikian dapat memutar bidang cahaya
terpolarisasi. Molekul/senyawa tersebut dinamakan senyawa/isomer optis aktif. Molekul
dengan dua atau lebih atom karbon asimetris, tidak selalu membentuk molekul kiral, sehingga
terdapat molekul yang mempunyai atom-atom karbon asimetris
tetapi tidak optis aktif, salah satu isomer dengan satu atom karbon asimetris adalah asam
laktat.

Atom C dengan tanda * adalah atom karbon asimetris, atom karbon tersebut
mengikat empat atom/gugus yang berbeda (H, CH3, OH, dan COOH).
Struktur asam laktat dalam bentuk geometri tetrahedral.

Satu isomer asam laktat akan memutar bidang cahaya terpolarisasi


kekanan/senyawa dektpro (d-asam laktat), sedangkan yang lainnya memutar bidang
cahaya terpolarisasi ke kiri/senyawa levo (l-asam laktat).
Contoh isomer optis dengan dua atom karbon asimetris adalah asam tartrat.
*CH(OH)COOH

*CH(OH)COOH
Asam tartrat mempunyai dua (n) atom karbon asimetris, maka terdapat 2n atau 22
isomer.
Bila senyawa III diputar 180oC maka akan menjadi sama dengan senyawa IV.
Dengan demikian untuk asam tartrat hanya terdapat tiga isomer.

Senyawa I dan II merupakan bayangan cermin satu sama lain, tetapi kedua senyawa
tersebut tidak dapat diimpitkan, dinamakan enantiomer. Senyawa I dan II bersifat optis
aktif, merupakan d-asam tartrat dan l-asam tartrat. Senyawa III mempunyai molekul yang
simetris karena senyawa tersebut
mempunyai suatu bidang simetris (garis terputus-putus). Senyawa demikian tidak optis
aktif, dinamakan meso (m-asam tartrat).

Cahaya dari lampu sumber, terpolarisasi setelah melewati prisma Nicol pertama
yang disebut polarisator. Cahaya terpolarisasi kemudian melewati senyawa optis aktif
yang akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan arah tertentu. Prisma Nicol ke
dua yang disebut analisator akan membuat cahaya dapat melalui celah secara
maksimum.
Rotasi optis yang diamati/diukur dari suatu larutan bergantung kepada jumlah
senyawa dalam tabung sampel, panjang jalan/larutan yang dilalui cahaya, temperatur
pengukuran, dan panjang gelombang cahaya yang digunakan. Untuk mengukur rotasi
optik, diperlukan suatu besaran yang disebut rotasi spesifik yang diartikan suatu rotasi
optik yang terjadi bila cahaya terpolarisasi melewati larutan dengan konsentrasi 1 gram
per mililiter sepanjang 1 desimeter. Rotasi spesifik dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan:

= rotasi optik (yang teramati)

c = konsentrasi larutan gram/mL larutan

1 = panjang jalan/larutan yang dilalui cahaya dalam desimeter

= panjang gelombang cahaya (bila menggunakan lampu natrium

dilambangkan dengan D)

t = temperatur (oC).
Rotasi optik yang termati dapat berupa rotasi yang searah jarum jam, rotasi ini
disebut putar kanan dan diberi tanda (+), sedangkan senyawa yang diukurnya disebut
senyawa dekstro (d). Rotasi yang berlawanan dengan arah jarum jam disebut putar kiri
dan diberi tanda (-), senyawanya disebut senyawa levo (l).

Polerimetri dapat digunakan untuk mengukur rotasi optik, konsentrasi sampel,


dan juga untuk menghitung komposisi isomer optik dalam campuran rasemik. Untuk
menentukan persentasi salah satu enantiomer dapat digunakan persamaan berikut.
KESIMPULAN

1. Cahaya bidang terpolarisasi cahaya getaran yang terjadi di hanya salah satu
kemungkinan bidang yang terpolarisasi. Sebuah zat optik aktif adalah salah satu
yang memutar bidang cahaya terpolarisasi. Ketika cahaya terpolarisasi, bergetar
pada bidang tertentu, dilewatkan melalui optik zat aktif, itu muncul bergetar di
bidang yang berbeda .
2. Suatu isomer optis aktif dapat berinteraksi dengan cahaya terpolarisasi dan
memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan suatu sudut yang dilambangkan
dengan yang disebut rotasi optik.
3. Polarimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran
optik yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat dalam
larutan. Senyawa dianggap aktif secara optis jika cahaya terpolarisasi secara linier
dan terputar ketika melewatinya. Jumlah rotasi optik ditentukan oleh
struktur molekul dan konsentrasi chiral molecules pada senyawa.
4. Molekul yang membentuk kristal adalah bayangan cermin satu sama lain
(enantiomer). Satu isomer asam laktat akan memutar bidang cahaya terpolarisasi
kekanan/senyawa dekstrotatori (d-asam laktat), sedangkan yang lainnya memutar
bidang cahaya terpolarisasi ke kiri/senyawa levorotatori (l-asam laktat)
5. Pasangan stereoisomer yang bukan enantiomer disebut diastereomer atau
diastrereoisomer. Suatu stereoisomer yang mengandung karbon-karbon kiral,
tetapi dapat diimpitkan pada bayangan cerminnya disebut bentuk meso.
DAFTAR PUSTAKA

Kraftmakher, Y. 2009. Measurement of Small Optical Polarization Rotations. Eur. J.


Phys. 30 271-276
Koensiemardiyah. 2010. A to Z Minyak Atsirih untuk Industri Makanan, Kosmetik,
dan Aromaterapi. Jogja : Penerbit Andi
Sarojo, G, A. 2011. Gelombang dan Optika. Jakarta : Salemba Teknika.
Vogel, Arthur I. (1961). A Text-book of Practical Organic Chemistry. 3rd Edition.
London : Longmans Green and Co. LTD.