Anda di halaman 1dari 5

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Pemeriksaan Hematologi
Jumlah leukosit normal / Leukopenia / Leukositisis
Pemeriksaan ini merupakan gold standar untuk pemeriksaan demam
tipoid
Kadar Hb dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit perdarahan
usus atau perforasi
Hitung jenis leukosit sering neutropenia dengan limfositosis relatif
Anemia ringan, LED meningkat
Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia)
Dalam minggu pertama biakan darah Salmonella typhi positif 75 85 %
2. Urinalisis
Protein : bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam)
Leukosit dan eritrosit normal, bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit
3. Kimia Klinik
SGOT, SGPT dan Fosfatase alkali meningkat dengan gambaran
peradangan sampai hepatitis akut
4. Imunologi
Reaksi widal
Pemeriksaan widal adalah salah satu pemeriksaan serologi yang bertujuan
untuk menegakan diagnosa demam tipoid.Uji widal positif artinya ada zat anti
(antibodi) terhadap kuman Salmonella, menunjukkan bahwa seseorang pernah
kontak/terinfeksi dengan kuman Salmonella tipe tertentu. Pemeriksaan ini masih
banyak dipakai di negara-negara berkembang dikarenakan biayanya yg relatif
terjangkau dan hasilnyapun dapat diketahui dengan segera.

Pemeriksaan widal bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi


(kekebalan tubuh) terhadap kuman Salmonela dengan cara mengukur kadar
aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam sampel darah. Tubuh kita
akan membentuk antibodi jika terpapar kuman Salmonela typhi, baik kuman yg
masuk secara alamiah dan menyebabkan sakit, kuman yg masuk namun tidak
menunjukan gejala (karier) ataupun melalui vaksinasi
Pada pasien yg saat ini tidak sedang sakitpun pemeriksaan widal mungkin
saja menunjukan hasil yang positif, pada pasien yang mendapat vaksinasi tipoid
hasil pemeriksaan widalnyapun bisa positif. Pemeriksaan widal yang positif
bukan hanya terjadi pada infeksi kuman Salmonella typhi, namun juga akibat
infeksi kuman Salmonella yang lain, sehingga pada saat ini pemeriksan ini tidak
dapat lagi dijadikan acuan pemeriksaan yg spesifik terhadap penyakit tipoid.
Pengambilan sampel pasien untuk pemeriksaan widal juga kadang kurang
tepat waktunya, karena berdasarkan perjalanan penyakitnya antibodi terbentuk
pada hari ke 5-7 ke atas, sehingga tidak bijak jika pemeriksaan widal dilakukan
sebelum hari ke 5, dan kalaupun pada pemeriksaan wideal didapat hasil yangg
positif pada sebelum hari ke 5 maka yg terdeteksi tersebut dimungkinkan antibodi
yang terbentuk tersebut berasal dari infeksi sebelumnya.Mengingat adanya
kelemahan tersebut maka pada saat ini di era kemajuan teknik pemeriksaan
laboratorium, pemeriksaan tersebut seharusnya tidak lagi menjadi pilihan,
meskipun masih saja dilakukan di laboratorium-laboratorium pratama atau di
daerah-daerah dimana teknik pameriksaan yg lain belum tersedia, namun tetap
memperhatikan hal-hal penting dalam menegakan diagnosa tipoid yaitu tanda
klinis yg menunjang (demam lebih dari 7 hari, anamnesis dan pemeriksaan fisik)
atau dilakukan pemeriksaan widal serial pada minggu ke 1 dan minggu ke 2 dan
pada periode convalescence saat demam mulai turun (pemeriksaan cukup
bermakna jika terdapat kenaikan titer 2-4 kali).Pemeriksaan ini walaupun lebih
baru namun pemeriksaannya kurang praktis dan harganya lebih mahal.

Beberapa hal yang sering disalah artikan :


1. Pemeriksaan widal positif dianggap ada kuman dalam tubuh, hal ini
pengertian yang salah. Uji widal hanya menunjukkan adanya antibodi
terhadap kuman Salmonella.
2. Pemeriksaan widal yang diulang setelah pengobatan dan menunjukkan hasil
positif dianggap masih menderita tifus, ini juga pengertian yang salah. Setelah
seseorang menderita tifus dan mendapat pengobatan, hasil uji widal tetap
positif untuk waktu yang lama sehingga uji widal tidak dapat digunakan
sebagai acuan untuk menyatakan kesembuhan. Hasil ulang pemeriksaan
widal positif setelah mendapat pengobatan tifus, bukan indikasi untuk
mengulang pengobatan bilamana tidak lagi didapatkan gejala yang sesuai.
3. Hasil uji negatif dianggap tidak menderita tifus.
Uji widal umumnya menunjukkan hasil positif 5 hari atau lebih setelah infeksi.
Karena itu bila infeksi baru berlangsung beberapa hari, sering kali hasilnya
masih negatif dan baru akan positif bilamana pemeriksaan diulang. Dengan
demikian,hasil uji widal negatif,terutama pada beberapa hari pertama demam
belum dapat menyingkirkan kemungkinan tifus.

Untuk menentukan seseorang menderita demam tifoid :


1. Tetap harus didasarkan adanya gejala yang sesuai dengan penyakit tifus.
2. Uji widal hanya sebagai pemeriksaan yang menunjang diagnosis.

Memang terdapat kesulitan dalam interpretasi hasil uji widal karena kita
tinggal di daerah endemik,yang mana sebagian besar populasi sehat juga pernah
kontak atau terinfeksi, sehingga menunjukkan hasil uji widal positif. Hasil survei
pada orang sehat di Jakarta pada 2006 menunjukkan hasil uji widal positif pada
78% populasi orang dewasa. Untuk itu perlu kecermatan dan kehatihatian dalam
interpretasi hasil pemeriksaan widal.

Penilaian
Titer widal biasanya angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640.
o Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+).
o Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan
titer. Jika ada, maka dinyatakan (+).
o Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+)
pada pasien dengan gejala klinis khas.
o Uji Widal didasarkan pada :
- Antigen O ( somatic / badan )
- Antigen H ( flagel/semacam ekor sebagai alat gerak )
o Jika masuk ke dalam tubuh kita, maka timbul reaksi antigen-antibodi.
ANTIBODI terhadap :
- Antigen O : setelah 6 sampai 8 hari dari awal penyakit.
- Antigen H : 10-12 hari dari awal penyakit.
Uji ini memiliki tingkat sensitivitas dan spesifitas sedang (moderate).
Pada kultur yang terbukti positif, uji Widal yang menunjukkan nilai negatif bisa
mencapai 30 persen.
Beberapa keterbatasan uji Widal ini adalah:
1. Negatif Palsu
Pemberian antibiotika yang dilakukan sebelumnya (ini kejadian paling sering
di negara kita, demam di beri antibiotika tidak sembuh dalam 5 hari
dilakukan test Widal) menghalangi respon antibodi.
Padahal sebenarnya bisa positif jika dilakukan kultur darah.
2. Positif Palsu
Beberapa jenis serotipe Salmonella lainnya (misalnya S. paratyphi A, B, C)
memiliki antigen O dan H juga, sehingga menimbulkan reaksi silang dengan
jenis bakteri lainnya, dan bisa menimbulkan hasil positif palsu (false positive).
Padahal sebenarnya yang positif kuman non S. typhi (bukan tifoid).
Beberapa penyakit lainnya : malaria, tetanus, sirosis, dll. .
Faktor faktor Yang mempengaruhi reaksi widal :
Keadaan umum : Gizi buruk menghambat pembentukan antibodi
Pemeriksaan terlalu awal : Aglutinin baru di jumpai dalam darah
setelah 1 minggu dan mencapai puncaknya minggu ke 6.
Penyakit tertentu (leukimia, ca)
Obat obat immunosuppresif atau kortikosteroid
Vaksinasi dengan hotipa / tipa
Infeksi klinis atau sub klinis oleh sallmonela
Reaksi widal positif dengan titer rendah.

5. Biakan Tinja Dalam Minggu Kedua dan Ke Tiga


6. Pemeriksaan IgM Anti Salmonella (Tubex TF)
Pada pemeriksaan ini dapat mendeteksi adanya antigen spesifik dari kuman
salmonella walaupun pemeriksaan dilakukan dalam minggu pertama setelah
demam
7. PCR (Polymerase Chain Reaction)
8. Anamnesa Gejala
Pada pemeriksaan, gambaran diagnosis kunci adalah :
Demam lebih dari tujuh hari
Terlihat jelas sakit dan kondisi serius tanpa sebab yang jelas
Nyeri perut, kembung, mual, muntah, diare, konstipasi
Delirium
Hepatosplenomegali
Pada demam tifoid berat dapat dijumpai penurunan kesadaran, kejang,
dan ikterus
Dapat timbul dengan tanda yang tidak tipikal terutama pada bayi muda
sebagai penyakit demam akut dengan disertai syok dan hipotermi.

Anonim. 2013. Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Keluarga Tentang Penanganan


Diet Pada Penyakit Typhoid Di RSUD Langsa Tahun 2012. File Type : PDF Thesis.
Diakses dari http://repository.unand.ac.id/18714/4/BAB%20I.docx

Sunigit. 2012. Demam Typhoid. File type : Pdf Diakses dari :


http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=1212

Taurita, Iis. 2013. Typhoid. File type : PDF diakses dari : jtptunimus-gdl-iistaurita-
5371-2-babii.pd