Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, trepis
artinya nutrisi atau makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu
sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan
normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura.
Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya
berlubang atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi
karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena proses
penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada seluruh
saluran tubuh, misalnya atresia ani. Atresia ani yaitu tidak
berlubangnya dubur.Jika atresia terjadi maka hampir selalu
memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan
normalnya.
Atresia ani atau anus imperforata disebut sebagai malformasi
anorektal, adalah suatu kelainan kongenital tanpa anus atau dengan
anus tidak sempurna, termasuk Agenesis ani, Agenesis rekti dan
Atresia rekti.
Insiden 1 : 5000 kelahiran yang dapat muncul sebagai penyakit
tersering yang merupakan syndrom VACTRERL ( Vertebra, Anal,
Cardial, Esofageal, Renal, Limb). Pada umumnya gambaran atresia
ani yang terjadi pada 1,5%-2% atresia ani adalah Atresia rektum,
dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 4:0. Kejadian yang
tinggi terjadi pada daerah India selatan. Atresia ani terdapat pada satu
dari 5000 kelahiran hidup. Atresia ani terjadi dengan perbandingan
laki-laki dan perempuan 7:3.
Dalam asuhan neonatus tidak sedikit dijumpai adanya kelainan cacat
kongenital pada anus dimana anus tidak mempunyai lubang untuk
mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang
terjadi saat kehamilan. Walaupun kelainan lubang anus akan mudah
terbukti saat lahir,Kelainan kongenital pada anus ini biasanya
disebabkan karena putusnya saluran pencernaan dari atas dengan
daerah dubur, kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan
berusia 12 minggu /3 bulan, dan adanya gangguan atau berhentinya
perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta
traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai
keenam usia kehamilan.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana Definisi dari Atresia Ani ?
2. Apa saja klasifikasidari Atresia Ani ?
3. Bagaimana epidemiologidari Atresia Ani ?
4. Apa saja etiologi dan faktor Resikodari Atresia Ani ?
5. Bagaimana Patofisiologidari Atresia Ani ?
6. Bagaimana Manifestasi Klinisdari Atresia Ani ?
7. Apa saja Pemeriksaan Diagnostik yang dilakukan pada Atresia
Ani?
8. Bagaimana penatalaksanaan pada Atresia Ani?
9. Bagaimana komplikasi yang terjadi pada Atresia Ani ?
10. Apa saja pencegahan pada Atresia Ani ?
1.3. Tujuan
1. Mengetahui Definisi dari Atresia Ani.
2. Mengetahui klasifikasi dari Atresia Ani.
3. Mengetahuiepidemiologi dari Atresia Ani.
4. Mengetahuietiologi dan faktor Resiko dari Atresia Ani.
5. MengetahuiPatofisiologi dari Atresia Ani.
6. MengetahuiManifestasi Klinis dari Atresia Ani.
7. MengetahuiPemeriksaan Diagnostik yang dilakukan pada Atresia
Ani?
8. Mengetahuipenatalaksanaan pada Atresia Ani?
9. Mengetahuikomplikasi yang terjadi pada Atresia Ani ?
10. Mengetahuipencegahan pada Atresia Ani ?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi
Istilah atresia ani berasal dari bahasa Yunani yaitu a yang
artinya tidak ada dan trepsis yang berarti makanan dan nutrisi. Dalam
istilah kedokteran, atresia ani adalah suatu keadaan tidak adanya atau
tertutupnya lubang yang normal.
Atresia ani atau anus imperforata atau malformasi anorektal adalah
suatu kelainankongenital tanpa anus atau anus tidak sempurna, termasuk
didalamnya agenesis ani, agenesisrekti dan atresia rekti. Insiden 1:5000
kelahiran yang dapat muncul sebagai sindroma VACTRERL (Vertebra,
Anal, Cardial, Esofageal, Renal, Limb).
Atresia ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus
imperforata meliputi anus, rektum, atau batas di antara keduanya (Betz,
2002). Atresia ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya
lubang atau saluran anus (Donna, 2003). Atresia ani adalah tidak
lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya
anus secara abnormal (Suradi, 2001). Atresia ani atau anus imperforata
adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian
endoterm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak
sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang
berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rektum
(Purwanto, 2001).
Kesimpulannya bahwa, atresia ani adalah kelainan kongenital
dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feses karena
terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan.

2.2. Klasifikasi
Atresia merupakan kelainan kongenital berupa tidak terbukanya
atau terjadinya penutupan muara yang normalnya terdapat dalam tubuh
atau struktur tubular. Anal a., a. ani, imperforata anus. (Dorland, 2011)
Jenis anus imperforata:
1. Anal stenosis (terjadinya penyempitan daerah anus sehingga feses
tidak dapat keluar)
Stenosis anal mirip pada bayi perempuan dan laki-laki. Rektum
turun dalam posisi normal, tapi lubang anus stenosis. Diagnosisnya
mudah, dan pengobatan juga sangat mudah. Sebuah anoplasty
sederhana dilakukan selama periode neonatal, dan hasilnya
umumnya baik. Karena dengan semua deformitas lain dari anus
dan rektum, mungkin ada kelainan yang terkait dengan sistem
urologi, jantung, atau tulang. Oleh karena itu pemeriksaan skrining
dilakukan sebelum anak-anak ini dipulangkan, termasuk radiografi
sakrum dan ultrasonografi ginjal dan hati.
2. Membranous imperforate anus (terdapat membran pada anus)
Di imperforata membran anus, membran embrio yang menutupi
anus tidak hilang. Pada pemeriksaan, lesung anus tampak normal,
tetapi lumen anus ditutupi oleh selaput tipis. Mekonium sering
terlihat menonjol di bawah membran. Pengobatan sangat mudah
dan meliputi insisi membran. Kondisi ini sama pada bayi
perempuan dan laki-laki. Pemeriksaan skrining yang biasa
dilakukan sebelum anak-anak ini dipulangkan.
3. Rectal agenesis (memiliki anus tetapi ada daging diantara rectum
dengan anus)
Dua jenis selanjutnya dari imperforata anus adalah agenesis rektal
rendah (infralevator) dan agenesis rektal tinggi (supralevator).
Anatomi dari dua kondisi ini berbeda pada bayi perempuan dan
laki-laki, jadi tiap jenis kelamin didikusikan secara terpisah.
Low imperforate anus
Bayi laki-laki. Pemeriksaan perineum mengungkapkan tidak adanya
orifisium. Sebuah lesung anal mungkin terlihat, atau dalam
beberapa kasus, jaringan tertimbun di lokasi anus normal. Stimulasi
di daerah tersebut dapat mengakibatkan refleks wink anus normal.
Genitalia eksternal biasanya normal. Dengan dua lesi ini biasanya
tidak ada komunikasi antara rektum dan sistem urinari, yang
mengakibatkan pemeriksaan urin tetap normal, tidak menunjukkan
kehadiran mekonium.
Bayi perempuan. Istilah low imperforate anus pada anak-anak ini
adalah istilah yang tidak cocok. Rektum memiliki pembukaan, tetapi
ektopik, biasanya anterior di fourchette. Pemeriksaan yang cermat
dari daerah vulva mengungkapkan lubang kecil di dinding posterior
vulva. Pembukaan dapat dikateter dengan tube-feeding kecil dan
mekonium dilihatkan.
High imperforate anus
Bayi laki-laki. Penampilan eksternal dari infant adalah sama dengan
infant dengan low imperforate anus. Biasanya ada fistula antara
kantung rektal dan sistem urinari, akan tetapi, paling sering pada
persimpangan leher uretra-bladder. Urinalisis yang cermat
menunjukkan mekonium dalam urin. Kadang-kadang, mekonium
terlihat pada ujung penis, yang menegaskan kehadiran fistula.
Bayi perempuan. Pembukaan fistula dari rektum adalah tinggi
dalam vagina. Vaginoscopy dapat dilakukan menggunakan
otoscope atau cystoscope dan orifisum rektal ditemukan dan
dikanulasi. Jarang sekali, seseorang menemukan sebuah fistula
rectocloacal atau yang disebut perineum satu lubang dimana hanya
satu orifisium yang ada dalam perineum. Saluran cloacal common
ini dapat meluas beberapa sentimeter sebagai satu jalur sebelum
itu bercabang, yang memberi dari uretra, vagina, dan rektum.
(Gold, 1998)
(Gold, Michael S. & Larry A. Scher & Gerard Weinberg. 1998.
General Surgery Board Review. Philadelphia : Lippincott Raven.)

Kelainan anorektal: klasifikasi


Anomali tinggi / supralevator (ujung rectum di atas otot
puborectalis dan sfingter internal tidak ada.)
Anal atresia:
- tanpa fistula
- dengan fistula:
laki-laki: rectrouretra (uretra posterior)
perempuan: rectrovesical, rectrovaginal
Anomali intermediate (rektum berada pada atau di bawah tingkat
otot puborectalis, lesung anal dan sfingter eksternal berada pada
posisi yang normal.)
Anorectal stenosis
Rectal atresia:
- tanpa fistula
- dengan fistula:
o laki-laki: rectrouretra (bulbar uretra)
o perempuan: rectrovaginal, rectrovestibular
Anomali rendah / infralevator (Rektum mempunyai jalur
desenden normal melalui otot puborektalis, terdapat sfingter
internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal
dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius.)
- tidak ada orifisium membran anus
- orifisium dalam posisi normal pada lesung anus: stenosis
anus (perempuan dan laki-laki)
- orifisium pada perineum: fistula anocutaneous, anus
diposisikan secara anterior (perempuan dan laki-laki)
- orifisium di daerah vulva: fistula anovulvar, fistula
anovertibular.
(Ebel, 1995)
2.3. Epidemiologi
Insidenterjadinya atresia ani berkisar dari 1500-5000 kelahiran
hidup dengan sedikit lebih banyak terjadi pada laki-laki.20 % -75 % bayi
yang menderita atresia ani juga menderita anomali lain. Kejadian tersering
pada laki-laki dan perempuan adalah anus imperforata dengan fistula
antara usus distal uretra pada laki-laki dan vestibulum vagina pada
perempuan (Alpers, 2006). Angka kajadian kasus di Indonesia sekitar 90
%.Berdasarkan dari data yang didapatkan penulis,kasus atresia ani yang
terjadi di Jawa Tengah khususnya Semarang yaitusekitar 50 % dari
tahun2007-2009.
Angkakejadian rata-rata malformasianorektal di seluruh dunia
adalah 1 dalam 5000 kelahiran ( Grosfeld J, 2006).
Secara umum, atresia ani lebih banyak ditemukan pada laki-laki
dari pada perempuan.Fistula rekto uretra merupakan kelainan yang paling
banyak ditemui pada bayi laki-laki, diikuti oleh fistula perineal.Sedangkan
pada bayi perempuan, jenis atresia ani yang paling banyak ditemui adalah
atresia ani diikuti fistula rekto vestibular dan fistula perineal (Oldham K,
2005).
Hasil penelitian Boocock dan Donna di Manchester menunjukkan
bahwa atresia ani letak rendah lebih banyak ditemukan dibandingkan
atresia letak tinggi ( Boocock G, 1987).
Insiden terjadinya atresia ani dilaporkan antara 1 : 1500 sampai
1:1500 kelahiran hidup, dengan perbandingan yang hampir sama banyak
pada perempuan dan laki-laki, yaitu 1 : 1,4 insiden di Eropa dan Amerika
Utara (1962) dilaporkan sebanyak 1 : 4000-5000 kelahiran hidup. Insiden
yang terjadi di Israel (1983) yaitu 1 : 3000 kelahiran hidup, dan Pakistan
(1979) sebesar 1:3000-4000 kelahiran hidup.

2.4. Etiologi Dan Faktor Resiko


Etiologi Atresia Ani

Ada beberapa factor penyebabterjadinya atresia aniadalah:

a. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur


sehingga bayila hirtanpa lubang dubur
b. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12
minggu/3 bulan
c. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik
didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang
terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.
d. Kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan,
fusi, dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik
e. Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan
kongenital saat lahir seperti:
- Sindromvactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada
vertebral, anal, jantung, trachea, esofahus, ginjal dan
kelenjarlimfe)
- Kelainan sistem pencernaan.
- Kelainan sistem pekemihan.
- Kelainan tulang belakang

Menurut peneletian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen


autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua yang
mempunyai gen carrier penyakit ini mempunyai peluang sekitar 25% untuk
diturunkan pada anaknya saat kehamilan. 30% anak yang mempunyai
sindrom genetic, kelainan kromosom atau kelainan congenital lain juga
beresiko untuk menderita atresia ani. Sedangkan kelainan bawaan rectum
terjadi karena gangguan pemisahan kloaka menjadi rectum dan sinus
urogenital sehingga biasanya disertai dengan gangguan perkembangan
septum urorektal yang memisahkannya.

Faktor penyebab terjadinya atresia ani belum diketahui secara pasti:

Secara pasti belum diketahui

Merupakan (kegagalan perkembangan) anomaly gastrointestinal (sistem


pencernaan) dan genitourinary (sistem perkemihan)

Kelainan kloaka pada saat embrionik

Gangguan pertumbuhan fusi dan pembentukkan anus dari tonjolan


embrionik

Pada atresia anus, diduga ada keterlibatan kelainan genetik pada


kromosom 21 Kelainan bentuk anus akan menyebabkan gangguan buang
air besar.

- Ketika lubang anus sempit, bayi kesulitan BAB menyebabkan konstipasi


dan ketidaknyamanan.
- Jika terdapat selaput pada akhir anjalan keluar anus, bayi tidak bisa
BAB.

- Ketika rektum tidak berhubungan dengan anus tetapi terdapat fistula,


feses akan keluar melalui fistula tersebut sebagai pengganti anus. Hal ini
dapat menyebabkan infeksi.

- Jika rektum tidak berhubungan dengan anus dan tidak terdapat fistula
sehingga feses tidak dapat dikeluarkan dari tubuh dan bayi tidak dapat
BAB.

2.5. Patofisiologi
2.6. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik atresia aniadalah:
a. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran
b. Tidak dapat dilakukan pengeluaran suhu rectal pada bayi
c. Mekonium keluar melalui fistula atau anus yang salah letaknya
d. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak
ada fistula)
e. Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam
f. Pembuluh darah dikulit abdomen akan terlihat menonjol
g. Pada pemeriksaan rectal toucheter dapat adanya membran anal
h. Perut kembung
(Betz. Ed 7 2002)
Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani terjadi dalam waktu 24-48
jam.
Gejala itu dapat berupa :
1. Perut kembung.
2. Muntah.
3. Tidak bisa buang air besar.
4. Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik
dapat dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan Atresia ani
sangat bervariasi, mulai dari atresia ani letak rendah dimana rectum
berada pada lokasi yang normal tapi terlalu sempit sehingga feses
bayi tidak dapat melaluinya, malformasi anorektal intermedia
dimana ujung dari rektum dekat ke uretra dan malformasi anorektal
letak tinggi dimana anus sama sekali tidak ada.
Beberapa jenis kelainan yang sering ditemukan bersamaan dengan
malformasi anorektal adalah
1. Kelainan kardiovaskuler.
Ditemukan pada sepertiga pasien dengan atresia ani. Jenis
kelainan yang paling banyak ditemui adalah atrial septal defect dan
paten ductus arteriosus, diikuti oleh tetralogi of fallot dan vebtrikular
septal defect.
2. Kelainan gastrointestinal.
Kelainan yang ditemui berupa kelainan trakeoesofageal (10%),
obstruksi duodenum (1%-2%).
3. Kelainan tulang belakang dan medulla spinalis.
Kelainan tulang belakang yang sering ditemukan adalah kelainan
lumbosakral seperti hemivertebrae, skoliosis, butterfly vertebrae,
dan hemisacrum.Sedangkan kelainan spinal yang sering ditemukan
adalah myelomeningocele, meningocele, dan teratoma intraspinal.
4. Kelainan traktus genitourinarius.
Kelainan traktus urogenital kongenital paling banyak ditemukan
pada atresia ani. (Arifin, 2007)

2.7. Pemeriksaan Diagnostik


Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti.
Pada anamnesis dapat ditemukan :
a. Bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir.
b. Tidak ditemukan anus, kemungkinan juga ditemukan adanya fistula.
c. Bila ada fistula pada perineum maka mekoneum (+) dan
kemungkinan kelainan adalah letak rendah (Faradilla, 2009).
Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan
penunjang sebagai berikut :
1. Pemeriksaan radiologis
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
2. Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan
untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rektum dari
sfingternya.
3. Ultrasound terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam
sistem pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti
obstruksi oleh karena massa tumor.
4. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
5. Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
6. Pemeriksaan fisik rektum
Kepatenan rektal dapat dilakukan colok dubur dengan
menggunakan selang atau jari.
7. Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang
berhubungan dengan traktusurinarius. (Faradila, 2009)

2.8. Penatalaksanaan
1. Pembuatan kolostomi
Kolostomi adalah sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli
bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feses. Pembuatan
lubang biasanya sementara atau permanen dari usus besar atau
colon iliaka. Untuk anomaly tinggi, dilakukan kolostomi beberapa hari
setelah lahir
2. PSARP (Posterio SagitalAno Rectal Plasty)
Bedah definitifnya, yaitu anoplasty dan umumnya di tunda 9 sampai
12 bulan. Penundaan ini dimaksudkan untuk memberi waktu pelvis
untuk membesar dan pada otot otot untuk berkembang.Tindakan ini
juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badannya dan
bertambah baik status nutrisinya.
3. Tutup kolostomi
Tindakan yang terakhir dari atresia ani. Biasanya beberapa hari
setelah operasi, anak akan mulai BAB melalui anus. Pertama, BAB
akan sering tetapi seminggu setelah operasi BAB berkurang
frekuensinya dan agak padat.

2.9. Komplikasi
Komplikasi jangka pendek yang dapat terjadi pada pasien atresia ani
adalah:
a. Asidosis hiperkloremi
b. Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan.
c. Obstruksi intestinal
d. Kerusakan uretra akibat prosedur pembedahan.
e. Komplikasi jangka panjang :
Eversimukosa anal
Stenosis akibat kontraksi jaringan parut dari anastomosis.
Impaksi dan konstipasi akibat terjadi dilatasi sigmoid.
Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet
training.
Inkontinensia akibat stenosis anal atau impaksi.
Fistula kambuh karena tegangan di area pembedahan dan
infeksi.(Kurniah, 2013)

Keterangan :
- Asidosis hiperkloremik, disebabkan oleh kehilangan natrium
bikarbonat terlalu banyak dar itubuh, biasanya karena diare berat.
- Anastomosis adalah penggabungan dua ujung usus yang sehat
setelah usus yang sakit usus dipotong oleh dokter bedah.
Anastomosis kontras dengan kolostomi, ketika ujung usus dialihkan
secara permanen atau disambung lagi pada operasi kemudian.
- Impaksia dalah kumpulan feses yang mengeras, mengendap di dalam
rektum yang merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur,
sehingga tumpukan feses yang keras di rectum tidak bias
dikeluarkan.berotasi kearah luar (eversi) mukosa anal
- impaksi : sumbatan

2.10. Pencegahan
Pencegahan yang bisa dilakukan agar tidak terjadi atresia ani
antara lain bagi ibu yang sedang hamil agar berhati hati terhadap
penggunaan obat, makanan awetan, alkohol atau zat lain yang
berbahaya. Bagi orang tua yang baru memiliki bayi harus segera
memeriksa kondisi fisik bayinya apakah lengkap organ tubuhnya atau
tidak, sehingga bila ada kelainan dapat segera diketahui dan ditangani.
Bila telah didiagnosis, karena organ pembuangan itu penting, kiranya
perlu dikonsultasikan dengan dokter ahli bedah digestif untuk
penanganannya (Kartono, 2004)

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran

Daftar Pustaka
Oldham K, Colombani P, Foglia R, Skinner M. principles and Practice of
Pediatric Surgery Vol.2. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins,
2005; 1395-1434
Boocock G, Donnai D. Anorectal Malformation: Familial Aspects and
Associated Anomalies. Archives of Disease in Childhood, 1987, 62,
576-579.
Grosfeld J, ONeill J, Coran A, Fonkalsrud E. Pediatric Surgery 6th edition.
Philadelphia: Mosby elseivier, 2006; 1566-99.
(Ebel, Klaus-Dietrich, et al. 1995. Differential Diagnosis in Pediatric
Radiology. Stuttgart : George Thieme Verlag.)
Dorland, W. A. Newman. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta
: EGC)
Kurniah, Ade. 2013.
AnalisisPraktikKlinikKeperawatanKesehatanMasyarakatPerkotaanP
adaKlien Atresia Ani di Lantai III Utara RSUP
Fatmawati.KaryatulisIlmiahNers.FakultasIlmuKeperawatanUniversit
as Indonesia
Faradilla N, Damanik R.R, Mardhiya W.R.2009. Anestesi pada Tindakan
Posterosagital Anorektoplasti pada Kasus Malformasi Anorektal.
Universitas Riau. Available from: (http://www.Files-of-DrsMed.tk.
[diakses 22 Februari 2014]
Arifin, Z. 2010. Gambaran Jenis Atresia Ani Pada Penderita Atresia Ani Di
RSUP H.Adam Malik Tahun 2008-2010.Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatra Utara, Medan.
Kartono, Darmawan. 2004. Penyakit Hirschsprung. Jakarta : Sagung Seto
Anonim . 2007. Konsep dasar atresia. Semarang: Unimus. Retreived 22
februari from http://digilib.unimus.ac.id
Hockenberry,M., Winkelstein,M.L., Wilson,D., Wong, D.L.(2009). Essentials of pediatric
nursing. 8th edition. Missouri: Mosby Elsevier.

Bobak, I.M., Lowdermik, D.L., & Jensen, M.D. (2005). Buku ajar keperawatanmaternitas.
Edisi 4. Jakarta: EGC.