Anda di halaman 1dari 8

Pratama Karaktersasi Edible Film Kitosan Dengan Pelarut

Organik (Asam Asetat, Asam Laktat, Etanol)

KARAKTERISASI EDIBLE FILM KITOSAN DENGAN PELARUT ORGANIK


( ASAM ASETAT, ASAM LAKTAT, ETANOL )

Achmad Mario Pratama1, Chaerul Fathi2, Zulfikar3, Syarif Ismail4


1
Teknologi Kimia Industri, Teknik Kimia, Politeknik Negeri Ujung Pandang
email: achmadmariopratama1@gmail.com
2
Teknologi Kimia Industri, Teknik Kimia, Politeknik Negeri Ujung Pandang
email: fathipnup@gmail.com
3
Teknologi Kimia Industri, Teknik Kimia, Politeknik Negeri Ujung Pandang
email: fikarmaniac@gmail.com
4
Teknologi Kimia Industri, Teknik Kimia, Politeknik Negeri Ujung Pandang
email: syarifismail17@gmail.com

RINGKASAN
Dalam upaya mengurangi pencemaran lingkungan, Edible Film Kitosan saat ini
dikembangkan untuk memaksimalkan pemanfaatan limbah dan memperkenalkan plastik yang ramah
lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh penggunaan berbagai
pelarut organik (asam asetat, asam laktat, dan etanol) terhadap karakterstik thermal dan rheologi
dari edible film.
Kitosan diperoleh melalui proses deproteinasi, demineralisasi, dekolorisasi, dan deasetilasi
kitin. Tahap selanjutnya adalah pembuatan edible film dengan cara melarutkan kitosan dalam pelarut
organik dengan penambahan plasticizer, dan dilanjutkan dengan pencetakan dan pengeringan.
Pengaruh perubahan sifat-sifat material dari biofilm hasil fortifikasi yang akan diamati
adalah; kelarutan dalam air (water solubility), dan viskositas dari film slurry. Perubahan sifat-sifat
thermal dan struktur dari film edibel kitosan yang diamati, meliputi pengaruh pemakaian asam-asam
organik dan teknik fortifikasi terhadap; a) sifat-sifat rheologi dari slurry film kitosan, b) karakterisasi
gugus-gugus fungsional dari film edibel kitosan dengan FT-IR, dan c) analisis karakteristik thermal
dengan Differensial Scanning Calorimeter (DSC).

Kata kunci: kitosan, kitin, edible film

ABSTRACK
In an effort to reduce environmental pollution, Edible Film Kitosan is currently being
developed to maximize waste utilization and introduce environmentally friendly plastics. The purpose
of this study was to study the effect of the use of various organic solvents (acetic acid, lactic acid, and
ethanol) against the thermal and rheological characteristics of edible films.
Chitosan is obtained through the process of deproteination, demineralization, decolorization,
and deacetylation of chitin. The next step is making edible film by dissolving chitosan in an organic
solvent with the addition of plasticizer, and followed by printing and drying.
The effect of changing the material properties of the fortified biofilms to be observed is;
Water solubility, and the viscosity of the slurry film. Changes in thermal and structural properties of
edible chitosan films observed, including the effect of the use of organic acids and fortification
techniques on; A) rheological properties of chitosan film slurry, b) characterization of functional
groups of edible films of chitosan with FT-IR, and c) thermal characteristic analysis with Differential
Scanning Calorimeter (DSC).

Keywords: chitosan, chitin, edible film

1
Pratama Karaktersasi Edible Film Kitosan Dengan Pelarut
Organik (Asam Asetat, Asam Laktat, Etanol)

1. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara yang terkenal dengan hasil lautnya yang melimpah.
Namun sayang, di Indonesia pengolahan hasil laut khususnya udang windu (Penaeus
monodon) belum dapat optimal. Pada umumnya sebagian besar pengolahan hasil laut tersebut
hanya digunakan sebagai bahan campuran pembuatan krupuk, terasi atau makanan ternak,
dimana harga jual ketiga produk olahan tersebut tidak setinggi harga kitosan. Kitosan
merupakan turunan kitin yang hanya dibedakan oleh gugus radikal CH3. CO- pada struktur
polimernya. Kitosan merupakan senyawa kimia yang berasal dari bahan hayati kitin, suatu
senyawa organik yang melimpah di alam ini setelah selulosa. Kitin ini umumnya diperoleh
dari kerangka hewan invertebrata dari kelompok Arthopoda sp, Molusca sp, Coelenterata sp,
Annelida sp, Nematoda sp, dan beberapa dari kelompok jamur. Salah satu iklan di internet
menyebutkan harga 50 gram chitosan $ 23 US. Belum dimanfaatkannya limbah pengolahan
udang sebagai sumber kiitosan boleh jadi disebabkan karena belum dikenalnya industri
kitosan secara umum atau karena tidak ada publikasi yang memuat proses yang dikerjakan
secara sederhana di Indonesia.
Penggunaan material pelapis antimikroba alami (natural biodegradble coating)
seperti bioplastik (edible film) dari kitosan, adalah alternatif yang paling aman dan ramah
lingkungan untuk mencegah kontaminasi bakteri-bakteri pathogen atau untuk menghambat
perusakan oleh mikroorganisme pembusuk pada produk-produk pertanian dan pangan.
Kitosan adalah biopolimer yang ideal untuk dimanfaatkan sebagai material pelapis produk-
produk pangan karena memiliki sifat-sifat tidak beracun, bio-kompabilitas (Muzzarelli,
1988), biodegrabilitas, kemampuan membentuk film dan mempunyai sifat-sifat antimikroba.
Sifat-fifat fisiokimia dan fungsional kitosan tergantung dari sumbernya, dan metode
yang dilakukan dalam mengekstraknya. Pengujian sifat-sifat fisiokimia dari kitosan yang
diperoleh dari limbah cangkang udang windu telah dilaporkan sebelumnya (Irwan S, dkk,
2010). Akan tetapi, potensi kitosan, khususnya kitosan yang berasal dari limbah cangkang
udang windu untuk aplikasi dibidang pangan dan bidang-bidang lainnya belum banyak
diinvestigasi.
Karakteristik spesifik kitosan seperti sifat-sifat antibakteria, antifungal, dan
kemampuannya membentuk polimer biodegradabel yang larut air, memungkinkan kitosan
sangat ideal digunakan sebagai material pelapis produk pangan (edible coating atau edible
film). Edible coating atau film dapat disebut sebagai pembungkus primer yang dibuat dari
biopolimer yang layak makan. Lapisan tipis dari bahan edible dapat secara langsung melapisi,
atau dibuat bentuk film plastik untuk membungkus produk pangan.

2. METODE

Bahan utama penelitian ini adalah limbah cangkang udang Windu (Penaus Monodon)
yang diambil dari sisa pengolahan udang beku ekspor, PT. Bomar Internusa, berlokasi di
Kawasan Industri Makassar (PT. KIMA Makassar). Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan
di Laboratorium Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang. Waktu
pelaksanaan dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan yaitu dimulai pada bulan Mei
sampai bulan Juni 2017.

2
Pratama Karaktersasi Edible Film Kitosan Dengan Pelarut
Organik (Asam Asetat, Asam Laktat, Etanol)

Bahan-bahan pendukung yang digunakan antara lain: NaOH pa, HCL pa, NaOCL,
KOH, Aseton, Chloroacetic acid, Alkohol 96% pa, Asam sulfat (pa), Buffer pH 4, Buffer pH
7, Asam asetat pa, Phenol pa, n-Heksana pa, MgSO4, KMnO4, Aquadest, Aluminium foil,
Kapas bebas lemak, Kertas Saring halus (Watman), Sample holder, Kertas saring Biasa, dan
Preparasi uji struktur (mechanical).
Alat-alat pendukung proses produksi Edible Film Kitosan antara lain: pH meter,
Viscometer, Spektro FTIR, Autoclave, HPLC, Instrumen-instrumen uji sifat-sifat thermal
(DSC,TG,dll), Oven, Gelas kimia, Labu takar, Plate kaca, Erlenmeyer vakum, Corong
buchner, Spatula, Hot plate, Labu leher tiga, Pompa vakum, Blender, dan Separangkat alat
Sieving.
Lingkup dan rencana kegiatan penelitian ini melalui 4 tahap, yaitu
a) Persiapan alat dan bahan (cangkang udang windu, dan bahan pembantu lainnya)
b) Isolasi kitosan (metode D-PMKA) yakni :
- Deproteinasi (No, HK., et, al. 1995)
- Demineralisasi (No, HK., et, al. 1995)
- Dekolorisasi (No, HK., et, al. 1995)
- Deasetilasi (Toan, 2009)
c) Melakukan uji karakteristik kitosan yang dihasilkan
- Viskositas
- Derajat Deasetilasi (Domard, 1983)
d) Pembuatan edible film
e) Melakukan uji fisikokimia edible film diantaranya :
- Ketebalan
- Densitas - Analisa Struktur Grup Fungsional
- Mulur - Karakteristik Termal DSC
- Kelarutan

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 PRODUKSI KITOSAN


Proses isolasi kitin dari cangkang udang dilakukan dengan empat perlakuan yaitu
deproteinasi, demineralisasi, dekolorisasi dan deasetilasi. Tahap deproteinasi merupakan
proses pemisahan atau pelepasan ikatan ikatan antara protein dan kitin yang terdapat dalam
cangkang udang menggunakan NaOH yang dapat larut dalam air. Pada tahap ini
menghasilkan residu bebas protein sebesar 74,70% dari bobot cangkang udang kering.
Tahap kedua yaitu, demineralisasi merupakan proses penghilangan mineral mineral
yang terdapat dalam cangkang udang menggunakan HCl yang akan bereaksi dengan senyawa
CaCl2 yang dapat larut dalam air. Pada tahap ini didapatkan kitin kasar sebesar 35,45%.
Tahap ketiga yaitu, dekolorisasi merupakan penghilangan pigmen atau zat warna yang
terdapat pada kitin dengan menggunakan aseton dan natrium hipoklorida. Pigmen pada kitin
tidak terikat pada mineral dan protein, sehingga setelah proses deproteinasi dan
demineralisasi kitin masih berwarna kuning kecoklatan. Tahap ini diperoleh kitin bebas
warna sebesar 33,78%.
Tahap akhir yaitu, deasetilasi merupakan penentuan kualitas kitosan yang ditentukan
dengan berdasarkan derajat deasetilasi. Metode yang umum digunakan untuk deasetilasi kitin
adalah dengan menggunakan larutan alkali panas seperti NaOH dalam waktu yang lama,

3
Pratama Karaktersasi Edible Film Kitosan Dengan Pelarut
Organik (Asam Asetat, Asam Laktat, Etanol)

dimana basa kuat berfungsi untuk memutuskan ikatan antara gugus asetil dan gugus nitrogen.
Pada tahap ini diperoleh kitosan sebesar 21,45%.
Tabel 1. % yield Hasil Pembuatan Kitosan
No Tahapan proses Berat (gram) % Yield

1. Bahan Baku Cangkang Udang 300,05 -


2. Deproteinasi 197,08 65,68
3. Demineralisasi 106,13 35,37
4. Dekolorisasi 103,11 34,36
5. Deasetilasi 79,19 26,39

3.2 ANALISIS KARAKTERISTIK KITOSAN

3.2.1 Viskositas
Ada banyak faktor yang mempengaruhi viskositas, seperti deajat deasetilasi,
konsentrasi pelarut, serta pH dan temperatur operasi. Pada penelitian ini dilakukan analisis
viskositas dengan cara melarutkan sebanyak 1% kitosan ke dalam larutan asam asetat dengan
konsentrasi 1%, kemudian diukur viskositasnya menggunakan viscometer Brookfield.
Viskositas menggambarkan tahanan yang dimiliki suatu cairan maupun semi padat untuk
dapat mengalir. Makin tinggi nilai viskositas maka akan makin besar tahanan yang dimiliki
suatu cairan. Hasil pengukuran viskositas kitosan yang dibuat memiliki viskositas 22,5 Cp
dengan jenis spindel 62 kecepatan 20 rpm selama 5 menit.

3.2.1 Derajat Deasetilasi


Analisis derajat deasetilasi dilakukan dengan metode titrasi asam basa, kitosan
cangkang udang memiliki derajat deasetilasi 87,84. Semua hasil Derajat deasetilasi yang
diperoleh telah memenuhi syarat kitosan yang memiliki Derajat Deasetilasi > 70% (Firdaus,
dkk., 2006). Perbedaan dari nilai derajat deasetilasi dipengaruhi oleh waktu dan suhu proses
deasetilasi. Menurut Khan dkk (2002) nilai derajat deasetilasi tidak hanya bergantung pada
sumber kitosan dan pemurniannya, tetapi juga pada cara penyiapan sampel, tipe instrumen
yang digunakan, serta faktor faktor lainya juga mungkin mempengaruhi analisis dari derajat
deasetilasi.

3.3 PRODUKSI EDIBLE FILM


Proses pembuatan edible film dilakukan dengan melarutkan kitosan 1, 1,5 dan 2 %
dalam asam asetat 1% dan asam laktat 1%. Perlakuan penambahan pelarut etanol-air
dilakukan dengan variasi 0%, 25%, 50%, dan 75%. Edible film yang dihasilkan dilakukan
analisa fisikokimia, mekanikal dan termal edible film.

3.3.1 Pengukuran Ketebalan


Ketebalan adalah tebalnya film yang dihasilkan setelah pengeringan. Ketebalan diukur
menggunakan jangka sorong. Nilai ketebalan edible film adalah rata-rata hasil pengukuran
pada empat tempat yang berbeda. Tabel 7 menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi
kitosan, maka semakin besar ketebalan yang dihasilkan.

4
Pratama Karaktersasi Edible Film Kitosan Dengan Pelarut
Organik (Asam Asetat, Asam Laktat, Etanol)

Tabel.2 Hasil Pengukuran Ketebalan


Ketebalan (mm)
Jenis Sampel Variasi Pelarut Etanol-Air
0% 25% 50% 75%
Metode I ( Pelarut Asam Asetat 1% )
1 1% Kitosan 0,42 0,45 0,48 0,46
2 1,5% Kitosan 0,48 0,49 0,47 0,47
3 2,0% Kitosan 0,54 0,50 0,47 0,52
Metode II ( Pelarut Asam Laktat 1% )
1 1% Kitosan 0,43 0,45 0,45 0,46
2 1,5% Kitosan 0,44 0,44 0,47 0,48
3 2,0% Kitosan 0,44 0,47 0,48 0,49

3.3.2 Pengukuran Densitas


Densitas merupakan perbandingan antar massa suatu benda persatuan volumenya.
Pengukuran nilai densitas pada plastik sangat penting, karena densitas plastik erat kaitannya
dengan kemampuan plastik dalam melindungi produk dari beberapa zat yang ada dalam udara
bebas seperti air, O2 dan CO2 (Salulinggi, 2014).
Menurut Nurminah (2009), plastik dengan densitas rendah memiliki struktur yang
lebih terbuka dengan porositas yang lebih besar, sehingga semakin besar densitas edible film
maka kualitasnya semakin baik.
Tabel.3 Hasil Pengukuran Densitas
Densitas (g/mm3)
Jenis Sampel Variasi Pelarut Etanol-Air
0% 25% 50% 75%
Metode I ( Pelarut Asam Asetat 1% )
1 1% Kitosan 0,00018 0,00021 0,00025 0,00021
2 1,5% Kitosan 0,00028 0,00035 0,00023 0,00022
3 2,0% Kitosan 0,00037 0,00031 0,00021 0,00031
Metode II ( Pelarut Asam Laktat 1% )
1 1% Kitosan 0,00019 0,00020 0,00023 0,00021
2 1,5% Kitosan 0,00020 0,00021 0,00024 0,00025
3 2,0% Kitosan 0,00017 0,00022 0,00030 0,00032

3.3.3 Uji Kelarutan


Uji kelarutan bertujuan agar dapat mengetahui seberapa besar komponen-komponen
edible film yang terlarut. Semakin besar nilai kelarutan maka semakin kecil daya ketahanan
airnya (Artini, 2014). Kelarutan film merupakan faktor yang penting dalam menentukan
biodegradabilitas film ketika digunakan sebagai pengemas.

5
Pratama Karaktersasi Edible Film Kitosan Dengan Pelarut
Organik (Asam Asetat, Asam Laktat, Etanol)

Tabel.4 Hasil Uji Kelarutan


Kelarutan (%)
Jenis Sampel Variasi Pelarut Etanol-Air
0% 25% 50% 75%
Metode I ( Pelarut Asam Asetat 1% )
1 1% Kitosan 3,5671 4,5642 9,4546 9,0836
2 1,5% Kitosan 6,9673 3,6621 10,5952 16,6758
3 2,0% Kitosan 5,6767 8,5636 11,1651 12,5363
Metode II ( Pelarut Asam Laktat 1% )
1 1% Kitosan 4,6757 3,2357 4,4352 3,7580
2 1,5% Kitosan 2,8969 5,4748 3,3463 4,3636
3 2,0% Kitosan 4,9567 6,6784 5,3427 6,7618

4. KESIMPULAN
Penambahan pelarut organik seperti asam asetat dan asam laktat konsentrasi 1%
dengan variasi pelarut etanol-air masing-masing 0%, 25%, 50%, dan 75% kedalam edible
film dapat mempengaruhi sifat fisikokimia. Warna edible film yang dihasilkan pada pelarut
asam asetat kekuningan, sedangkan pada asam laktat dihasilkan warna kecoklatan. Ketebalan
tertinggi pelarut asam asetat 1% berada pada variasi etanol-air 0% dengan konsentrasi kitosan
2,0% yakni 0,54 mm dan terendah pada variasi etanol-air 0% dengan konsentrasi kitosan 1%
yakni 0,42 mm, sedangkan pada pelarut asam laktat ketebalan tertinggi berada pada variasi
etanol-air 75% dengan konsentrasi kitosan 75% dan terendah pada variasi etanol-air 0%
dengan konsentrasi kitosan 1% yakni 0,43 mm. Edible film pada pelarut asam asetat 1%
memiliki tingkat kelarutan tertinggi yakni 12,5363% pada kitosan 2,0% pada variasi pelarut
etanol-air 75% sedangkan tingkat kelarutan terendah berada pada kiosan 1% dengan pelarut
etnol-air 0 %. Adapun untuk edible flm yang dibuat dengan pelarut asam laktat 1%, tingkat
kelarutan tertinggi berada pada kitosan 2,0% dengan variasi pelarut etanol-air 75%, dan
tingkat kelarutan etanol terendah berada pada kitosan 1,5% dengan variasi pelarut etanol-air
0%.

6
Pratama Karaktersasi Edible Film Kitosan Dengan Pelarut
Organik (Asam Asetat, Asam Laktat, Etanol)

5. REFERENSI

Almatsier S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama

Baldwin EA, Nisperos CM, dan Baker RA. 1995. Use of Edible Coating to Preserve Quality
of Lightly and Slightly Processed Product. Crit Rev Food Sci Nutr. Vol 35 hal 509-
524 dalam Sanjaya, Gunawan. 2014. Pengaruh penambahan nanopartikel ZnO dan
asam stearate terhadap sifat fungsional kemasan film nanokomposit berbasis kitosan.
Bogor : Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

Barreto, P.L.M., Pires, A.T.N., Soldi, V. Polym. Degrad. Stabil. 2003, 79: 147152.

Bastaman, Syarif, Msc., Aprianita, Nirwana, Ir., Hendarti, B.Sc., 1989, Penelitian Limbah
Udang Sebagai Bahan Industri Chitin dan Chitosan, BBIHP, Jakarta.

Bourtoom, T. 2008. Edibe Film and coating characteristic and properties. International Food
Journal, 15 (3) :237-248.

Butler, B.L., Vernago, P.J., Testin, R.F., Bunn, J.M., and Wiles, J.L. 1996. Mechanical and
Barier Properties of Edible Chitosan Films as affected by Composition and Storage.
J. Food Science. 61(5) : 953-955.

Cristsania. 2008. Pengaruh Pelapisan Dengan Edible Coating Berbahan Baku Karagenan
Terhadap Karakteristik Buah Stroberi (Fragaria nilgerrensis) Selama Penyimpanan
Pada Suhu 5oC 2oC Skripsi. Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjajaran.
Jatinagor.

Darmadji P. and M. Izumimoto. 1994. Effect of chitosan in meat preservation. Meat science,
38: 243-254.

Domard, A and Rinaudo, M. 1983. Preparation and characterization of fully deacetylated


chitosan. International Journal of Biological Macromolecules. 5:49-52.

Firdaus, F. J Dermawan, E dan Mulyaningsih. S. 2006. Karakteristik kitosan yang dihasilkan


dari limbah kulit udang dan daya hambatnya terhadap pertumbuhan Staphylococcus
Epidermidis. Jurnal Ilmiah Farmasi, 3, 2, 65-77.

Gyliene, O.R., TaroZaite, I., dan Nivinskiene, O., 2003, Chemical Composition and Sorption
Properties of Chitosan Produced From Fly Larva Shells, Chemija (Vilnius), 14(3):
121-127.

Hui, Y.H. 2006. Handbook of Food Science, Technology, and, Engineering Volume I. CRC
Press, USA.

Joana. T., et., al. 2012. Influence of tocopherol on physicochemical properties of chitosan-
based film. Institute for biotechnology and bioengineering. Center of Biological,
Universitate of Minho, campus de gualtar, 4710-57 Braga, Portugal.

Kamper, S. L., & Fennema, O.R (1986). Water vapor permeability of an edible, fatty acid.

7
Pratama Karaktersasi Edible Film Kitosan Dengan Pelarut
Organik (Asam Asetat, Asam Laktat, Etanol)

Bilayer film. Journal of Food Science.49(6), 14821485.

Kavoosi, G., Dadfar, S. M. M., & Mohammadi Purfard, A., (2013) Mechanical, Physical,
Antioksidant, and antimicrobial properties og gelatin films incorporated with Thymol
for potential use as nano wound dressing. Journal of Food Snience,78, E244-E250.

Kerch, G and Korkhov, V. 2010. Effect of storage time and temperature on structure,
mechanical and barrier properties of chitosan-based films. Springer. Eur Food Res
Technol.

Khan. T.A, et.,al. 2002. Repositing Degree of Deacetylation Values of Chitosan. The
Influence of Analitycal Methods. J Pham, Sci. Vol 5(3):205-212.

Krochta, J.M. and Johnston, C.M. 1997. Edible and biodegradable polymer films. J. Food
Technology. 51 (2): 61-74.

Krochta, J.M. 1992. Control of Mass Transfer in Food with Edible Coatings and Films. Di
dalam : Singh, R.P. dan M.A. Wirakartakusumah (eds). Advances in Food
Engineering. CRC Press : Boca Raton, F.L. : pp 517-538.

Krochta, J. M and Mc Hugh, T.H. 1994. Sorbitol vs glycerol plastisized whey protein edible
film: Integrated oxygen permeability and tensile property evaluation. J. Agric Food
Che,42(4): 841-845.

Muzzarelli. 2000. Chitin. Departement of Polymer Science. University of Southem


Mississippi. Diakses dari http://www.usm.edu/

No, H.K., Lee. M.Y. 1995. Isolation of chitin for crab shell waste. Journal Korean Soc. Food
Nutrition 24 (1) : 105-113.

Nurminah, M. 2009. Penelitian Sifat Berbagai Bahan Kemasan Plastik dan Kertas serta
Pengaruhnya Terhadap Bahan yang dikemas. Fakultas Pertanian Jurusan Teknologi
Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Odilio B, Garrido A, Douglas B. 2010. Evaluation of the Antifugal Properties of Chitosan


Coating on Cut Apple Using a Non-Invasive Image Analysis Technique. Food Sci adv. Vol
17 hal 12-23 dalam Sanjaya, Gunawan. 2014. Pengaruh penambahan