Anda di halaman 1dari 10

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/279327124

KAJIAN KELAYAKAN PEMANFAATAN BIOGAS


DARI PENGOLAHAN AIR LIMBAH UNTUK
MEMASAK

Article January 2013

CITATIONS READS

0 290

11 authors, including:

Djoko M. Hartono
University of Indonesia
28 PUBLICATIONS 7 CITATIONS

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Djoko M. Hartono on 30 June 2015.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


2013, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
JURNAL ILMU LINGKUNGAN
Volume 11 Issue 2: 132-140 (2013) ISSN 1829-8907

KAJIAN KELAYAKAN PEMANFAATAN BIOGAS DARI PENGOLAHAN


AIR LIMBAH UNTUK MEMASAK

Pradnya Rahmani(1), Djoko M Hartono(1,2), Haryoto Kusnoputranto(1,3)


(1)Program Magister Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana,Universitas indonesia.
(2)Program Teknik Lingkungan, Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
(3)Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Program Studi Ilmu

Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia


* email: pradnya.rahmani11@ui.ac.id; djokomh@eng.ui.ac.id; haryotok@ui.ac.id

ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji kelayakan teknis dan lingkungan dari pemanfaatan Biogas
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PD PAL JAYA. IPAL PD PAL JAYA dapat
menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak bagi
warga sekitar. Warga yang dimaksud pada penelitian ini adalah warga RT 014/ RW 006
Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi. Kajian kelayakan teknis melihat kecukupan
potensi biogas untuk memenuhi kebutuhan biogas warga sekitar. Kajian lingkungan
melihat signifikansi pengurangan konsumsi LPG dan minyak tanah. Hasil dari keempat
kajian mendapatkan hasil yang positif sehingga pemanfaatan biogas dari IPAL PD PAL
JAYA layak secara teknis dab lingkungan.

Kata Kunci: Bahan Bakar Memasak yang berkelanjutan, Biogas dari Limbah Domestik,
Pemanfaatan Biogas, Pengolahan Air Limbah

ABSTRACT

This study analyze the technical and environmental feasibility of biogas utilization
from PD PAL Jaya Sewage Treatment Plant (STP). The PD PAL Jaya STP can produce biogas
which can be used as a cooking fuel for locals residents. The local residents which referred to
this research is the resident of RT 014/006 RW Kecamatan Guntur, Kelurahan Setiabudi.
The technical aspect of this research analyze the adequacy of biogas potention from PD PAL
Jaya STP with the ammount of biogas that is needed by the local residents. The
environmental aspect of this research analyze the significance of the LPG and kerosene
consumption reduction. All of the results from these two aspects are positive. Therefore the
utilization of biogas from wastewater PD PAL Jaya technically feasible and environmentally
sustainable.

Keywords: Biogas Utilization, Sewage Biogas, Sewage Treatment, Sustainable Cooking Fuel

Pendahuluan
Seiring berjalannya waktu, adalah untuk bahan bakar kendaraan,
konsumsi minyak bumi semakin pembangkit listrik, dan untuk memasak.
meningkat. Konsumsi minyak bumi yang Minyak bumi yang digunakan untuk
semakin meningkat dipengaruhi oleh memasak lebih dikenal dengan sebutan
Fantazzin et al., (2011) yang Liquid Petroleum Gas (LPG). Seperti
menyimpulkan bahwa saat ini halnya konsumsi minyak bumi, konsumsi
pengeboran minyak bumi sudah tidak LPG di Indonesia semakin naik dari
dapat dilakukan lagi di daratan. tahun ke tahun. Pada tahun 2000,
Minyak bumi digunakan untuk penggunaan LPG di Indonesia sekitar
berbagai macam keperluan. Diantaranya 843.000 ton, lalu pada tahun 2010
132
RAHMANI.P, HARTONO,MD, KUSNOPUTRI, H : KAJIAN KELAYAKAN PEMANFAATAN BIOGAS

penggunaannya naik menjadi 3.689.000 memasak makanan yang tidak


ton. Kenaikan penggunaan LPG membutuhkan panas tinggi. Bagi
disebabkan adanya program penggantian pengguna biogas, mereka tidak lagi
minyak tanah menjadi LPG. Penggantian menggunakan kayu bakar, karena panas
minyak tanah ke LPG tidak selamanya dari biogas sudah cukup untuk memasak
baik, karena persediaan LPG juga makanan harian hingga matang.
terbatas. Hal ini terlihat dari hasil Bertolak belakang dengan
produksi LPG Indonesia, pada tahun penelitian Purohit et al. (2002), Gosens et
2000 produksi LPG di Indonesia masih al. (2013) mengemukakan bahwa di Cina,
memenuhi kebutuhan dalam negeri, biogas justru jauh lebih populer
sehingga tidak perlu impor, sedangkan dibanding tungku surya. Hal ini
pada tahun 2010 diperlukan impor dikarenakan tingkat panas matahari di
sampai sebanyak 1 juta ton LPG Cina tidak sebesar di India.
(Kementerian ESDM, 2011). Mendukung pernyataan Gosens et
Keterbatasan persediaan LPG tidak al. (2013), Weiland (2010) mengatakan
hanya ditunjukkan dalam data. bahwa biogas akan menjadi primadona
Kenyataan kelangkaan LPG di lapangan di masa mendatang. Hal ini dikarenakan
juga sudah sering kali terjadi, bahkan di biogas tersedia setiap saat, murah, dan
DKI Jakarta. Kejadian paling baru di dapat digunakan untuk berbagai macam
Jakarta terjadi pada awal bulan Mei keperluan seperti memasak,
2012, pasokan LPG ke pengecer turun membangkitkan listrik, uap, atau
menjadi hampir setengahnya (Baehaqi hidrogen, maupun sebagai bahan bakar
dan Nasution, 2012). transportasi. Hal ini diperkuat oleh
Untuk menyiasati kelangkaan LPG, penelitian yang dilakukan oleh
beberapa alternatif bahan bakar lain Koopmans (2005), yang mengatakan
untuk memasak sudah mulai bahwa sebagian besar negara di asia
diperkenalkan, diantaranya adalah selatan dan tenggara memiliki pasokan
tungku surya dan biogas. Kedua bahan biomass yang cukup untuk memenuhi
bakar alternatif ini memiliki keunggulan kebutuhan masyarakatnya.
dan kekurangannya masing-masing. Menurut Padmono dan Susanto
Tungku surya memiliki kendala tingkat (2007), tempat paling tepat untuk
panas yang tidak terlalu tinggi, sehingga mengekstraksi biogas adalah tempat
dibutuhkan waktu yang cukup lama dengan sumber limbah organik yang
untuk memasak. Keunggulan dari tenaga terpusat. Salah satu tempat dengan
surya adalah mudah dibawa kemana- limbah terpusat di Jakarta adalah
mana dan tidak membutuhkan jaringan Instalasi Pengolahan Air Limbah. Salah
pipa. Biogas memiliki keunggulan dapat satu IPAL terbesar di Jakarta dengan
menghasilkan panas yang hampir setara kapasitas 38.880 m3 adalah PD PAL Jaya.
dengan LPG. Kekurangan dari biogas IPAL PD PAL JAYA terletak di Kecamatan
adalah membutuhkan reaktor biogas Setiabudi, Kelurahan Setiabudi, Jakarta
serta jaringan pipa dari reaktor biogas ke Selatan. IPAL PD PAL JAYA menampung
kompor, sehingga instalasinya cukup limbah domestik dari gedung-gedung
rumit (Bansal, et al., 2013). dan rumah-rumah di kawasan Setiabudi
Pada penelitian yang dilakukan dan Kuningan (PD PAL JAYA, 2009).
oleh Purohit et al. (2002) di India, biogas Salah satu contoh produksi biogas
ternyata masih kurang populer dari IPAL misalnya pada penelitian yang
dibandingkan tungku surya. Hal ini dilakukan oleh Arthur et al. (2011),
dikarenakan masyarakat sudah memiliki dilakukan produksi biogas dari air
kompor dengan kayu bakar yang limbah domestik empat universitas di
memiliki tingkat panas tinggi. Ghana. Dari total limbah domestik
Masyarakat ini masih belum mau sebanyak 402.075 m3 dapat dihasilkan
meninggalkan kebiasaannya biogas sebesar 815.109 m3 sepanjang
menggunakan kayu bakar. Bagi mereka, tahun. Berarti 1 m3 air limbah domestik
tungku surya hanya digunakan untuk dapat menghasilkan biogas sekitar 2 m3.

133
Jurnal Ilmu Lingkungan , Vol 11 (2) : 132-140, 2013 ISSN : 1829-8907

Penelitian lain juga pernah dilakukan di pihak PD PAL JAYA untuk memanfaatkan
Algeria oleh Kalloum et al. (2011), biogas. Untuk itu diperlukan kajian untuk
dimana dari setiap miligram Chemical menilai kelayakan pemanfaatan biogas
Oxygen Demand (mg COD) limbah dari IPAL PD PAL JAYA. Prinsip dari
domestik yang diolah dapat dihasilkan kajian kelayakan pemanfaatan biogas
biogas sebanyak 30 Nml biogas. adalah sesuai secara teknis (technically
Penelitian lain juga dilakukan feasible), menguntungkan secara
oleh Le Hyaric et al. (2010), di mana ekonomi (economically profitable),
lumpur IPAL diberi perlakuan diterima secara sosial (socially
pendiaman selama 4 minggu dan acceptable), dan berkelanjutan secara
penambahan 6 kg lumpur setiap minggu lingkungan (environmentally sustainable)
sejak minggu ke-5. Hasil yang didapatkan (Ariani, 2011).
adalah pada saat lumpur didiamkan Biogas yang terbentuk dari IPAL
dalam kondisi anaorobik selama 4 PD PAL JAYA sangat berpotensi untuk
minggu, dihasilkan biogas sebanyak 360 dijadikan bahan bakar terutama untuk
liter/kg lumpur. Pada saat ada memasak. Penggunaan bahan bakar
penambahan setiap minggu, produksi biogas untuk memasak dapat memberi
biogas naik menjadi 513 618 liter/kg manfaat lingkungan. Manfaat lingkungan
lumpur. yang diberikan adalah berkurangnya
Agar lumpur dari limbah konsumsi bahan bakar fosil yang saat ini
domestik dapat menghasilkan biogas, sudah semakin menipis jumlahnya.
berdasarkan penelitian yang dilakukan Berdasarkan uraian di atas,
oleh Igoni et al. (2008), ada beberapa hal permasalahan yang dapat disimpulkan
yang harus diperhatikan. Hal-hal yang adalah:
perlu diperhatikan diantaranya adalah Belum ada pemanfaatan biogas
suhu, konsentrasi hidrogen-ion, rasio dari IPAL PD PAL JAYA, padahal ada
carbon dan nitraogen, banyaknya limbah potensi biogas yang dapat dihasilkan dari
yang masuk, dan kelembaban. IPAL PD PAL JAYA.
Menurut penelitian yang Berdasarkan rumusan masalah di atas
dilakukan oleh Limmee-chokchai dan dapat disusun beberapa pertanyaan:
Chawana (2007), ada empat hambatan 1. Bagaimana kecukupan dari biogas
yang dalam penerapan penggunaan yang dihasilkan IPAL PD PAL JAYA
biogas untuk mengganti LPG. Hambatan- cukup untuk memenuhi kebutuhan
hambatan tersebut adalah investasi memasak warga sekitar?
biaya tinggi, kurangnya sumber 2. Bagaimana pengurangan konsumsi
keuangan, kurangnya informasi, dan LPG dan minyak tanah yang dapat
kurangnya tenaga ahli dan tenaga dicapai dengan pemanfaatan biogas
terampil. dari IPAL PD PAL JAYA?
Biogas yang dihasilkan dari IPAL
PD PAL JAYA saat ini masih dibiarkan 2. Metode
terlepas ke udara. Untuk dapat Penelitian ini menggunakan
memanfaatkan biogas yang dihasilkan ini pendekatan kuantitatif dengan
perlu ada penangkapan biogas dari metode prospektif. Sumber data
proses pengolahan air limbah di PD PAL penelitian berasal dari data lab PD
JAYA. Penangkapan biogas dari sistem PAL JAYA, kuesioner masyarakat, dan
pengolahan air yang menggunakan studi literatur. Untuk mendapatkan
Kolam Aerasi cukup sulit untuk tujuan, ada beberapa aspek yang
dilakukan karena permukaannya yang dikaji, yakni kecukupan potensi
terlalu luas. Untuk itu diperlukan adanya biogas untuk memasak, pengurangan
perbaikan pada sistem pengolahan air di konsumsi LPG dan minyak tanah,
PD PAL JAYA agar biogas yang penghematan biaya memasak, dan
dikeluarkan ini dapat dimanfaatkan. penerimaan masyarakat.
Terkait mengenai pemanfaatan Kecukupan potensi biogas
biogas yang ditangkap hingga saat ini, untuk kebutuhan memasak warga
belum ada perencanaan lebih lanjut dari sekitar dikaji dengan membandingkan

134
RAHMANI.P, HARTONO,MD, KUSNOPUTRI, H : KAJIAN KELAYAKAN PEMANFAATAN BIOGAS

perkiraan potensi biogas yang dapat EffLPG = Efisiensi kompor saat


dihasilkan dengan kebutuhan menggunakan LPG (60%)
memasak warga sekitar. Adapun MLPG = Jumlah konsumsi LPG
rumus untuk mencari potensi biogas (kg/tahun)
dijabarkan pada rumus 1 dan 2. C MinyakTanah Eff MinyakTanah
BOD + 2.COD VBiogas = x xM
Mo = (Bouille
C Biogasdan Dubois, 2004) (1) MinyakTanah
Eff Biogas
3
Di mana, (Arthur, 2011) (4)
Mo = Materi teroksidasi (kg/dt)
BOD = Jumlah BOD (mg/dt) Di mana,
COD = Jumlah COD (mg/dt) VBiogas = Volume biogas yang
Q = Bo.Mo dibutuhkan (m3/tahun)
(Bouille dan Dubois, 2004) (2)
Di mana, CBiogas = Nilai kalor biogas (25
Q = Jumlah biogas yang diproduksi MJ/m3)
(m3/detik) CMinyak Tanah = Nilai kalor minyak tanah
Bo = Potensi produksi biogas (Lihat (35.1 MJ/liter minyak
Gambar 5) tanah)
EffBiogas = Efisiensi kompor saat
menggunakan biogas
(45%)
EffMinyak Tanah = Efisiensi kompor saat
menggunakan minyak
tanah (43%)
MMinyak Tanah = Jumlah konsumsi minyak
tanah (liter/tahun)
Kebutuhan biogas dan potensi biogas
yang telah didapatkan kemudian
diproyeksikan untuk 20 tahun
Gambar 1. mendatang menggunakan rumus 5.
Potensi Produksi Biogas Berdasar Yt = a + art-1 (Sugiyono, 2007) (5)
Suhu (Bouille dan Dubois, 2004) Di mana,
Yt = Nilai pada tahun ke t
Kebutuhan memasak warga sekitar t = Tahun proyeksi tahun saat
dicari dengan kuesioner. Dari hasil penelitan (tahun 2013) (misal
kuesioner dapat dicari kebutuhan untuk proyeksi tahun 2018
seluruh warga. Kebutuhan LPG dan berarti t = 2018 - 2012 = 6)
minyak tanah yang kemudian a = Nilai awal pada saat penelitian,
disetarakan dengan biogas untuk yaitu produksi biogas yang setara
mendapatkan kebutuhan biogas. Rumus dengan LPG dan konsumsi LPG
penyetaraan LPG dan minyak tanah warga sekitar selama 1 tahun
dengan biogas dijabarkan pada rumus 3 pada tahun 2012.
dan 4. r = Rasio pertambahan nilai. Rasio
C LPG Eff LPG yang digunakan didapat dari
VBiogas = x xM LPG
C Biogas Eff Biogas hasil studi literatur. Rasio
kenaikan konsumsi LPG
(Arthur, 2011) (3)
diperkirakan sekitar 7% setiap
Di mana,
tahunnya. Rasio penurunan
Vbiogas =Volume biogas yang
konsumsi minyak tanah
dibutuhkan (m3/tahun)
diperkirakan sekitar 2% per
Cbiogas = Nilai kalor biogas (25 MJ/m3
tahun (ESDM, 2011). Rasio
biogas)
kenaikan produksi biogas
CLPG = Nilai kalor LPG (46.1 MJ/kg
diperkirakan sekitar 10% setiap
LPG)
tahunnya karena adanya
EffBiogas = Efisiensi kompor saat
menggunakan biogas (45%)
135
Jurnal Ilmu Lingkungan , Vol 11 (2) : 132-140, 2013 ISSN : 1829-8907

penambahan pelanggan PD PAL maka data kedua kelompok tidak


JAYA (PD PAL JAYA, 2011). berbeda secara signifikan
2) Jika Sig (2-Tailed) tingkat
Kebutuhan biogas dan potensi kesalahan dan t- hitung > t-tabel,
biogas yang telah diproyeksikan maka data kedua kelompok
kemudian dibandingkan. Apabila berbeda secara signifikan
mendapatkan hasil potensi biogas di atas Hasil yang layak secara lingkungan
kebutuhan biogas maka proyek ini layak adalah jika data kedua kelompok
secara teknis. berbeda secara signifikan. Adanya
Pengurangan konsumsi LPG dan perbedaan yang signifikan menandakan
minyak tanah dikaji dengan analisa bahwa pemanfaatan biogas dari IPAL PD
Paired Sample T Test. Analisa Paired PAL JAYA layak dari sisi lingkungan.
Sample T Test menggunakan SPSS. Data
yang dibandingkan adalah data konsumsi 3. Hasil dan Pembahasan
LPG dan minyak tanah di DKI Jakarta 3.1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian
tanpa penggunaan biogas dengan data Pengolahan Air Limbah PD PAL
konsumsi LPG dan minyak tanah di DKI JAYA terletak di Jalan Sultan Agung
Jakarta di mana ada penggunaan biogas. No. 1, Kelurahan Setiabudi,
Tahapan pertama dalam Kecamatan Setiabudi, Jakarta
melakukan analisa Paired Sample T Test Selatan. Pengolahan Air Limbah PD
adalah membuat tabel data yang akan PAL JAYA menempati daerah seluas
dibandingkan. Pada penelitian ini data 43.500 m2. Lahan seluas ini
yang akan dibandingkan adalah data digunakan sebagai waduk yang
konsumsi LPG dan minyak tanah di terdiri dari Waduk Setiabudi Timur
Jakarta tanpa dan dengan ada dan Waduk Setiabudi Barat. Waduk
pemanfaatan biogas. Data awal yang Setiabudi Barat menempati lahan
dibutuhkan adalah data mengenai seluas 26.100 m2 dan Waduk
kebutuhan LPG dan minyak tanah DKI Setiabudi Timur menempati lahan
Jakarta. Berdasarkan Buku Status seluas 17.400 m2.
Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Kedua waduk berfungsi sebagai
Jakarta 2011, kebutuhan LPG dan pengolah air limbah yang
minyak tanah pada tahun 2010 adalah menggunakan sistem Aerated
2.577.880 kiloliter/tahun atau Lagoon. Aerated Lagoon adalah
3,667,125.07 kg/hari dan 121.832 sistem pengolahan air yang
kiloliter/tahun atau 343,188.73 menggunakan kolam atau waduk
liter/hari. serta aerator. Aerator berfungsi
Data awal kebutuhan LPG dan untuk memasok oksigen di dalam
minyak tanah kemudian diproyeksikan waduk. Pasokan oksigen berguna
dengan rumus 10. Proyeksi kebutuhan untuk mengolah air. Pada Waduk
minyak tanah menggunakan rasio Setiabudi Barat terdapat 4 Aerator
penurunan sebesar 2% per tahun. dan pada Waduk Setiabudi Timur
Proyeksi kebutuhan LPG menggunakan terdapat 3 Aerator. Air limbah yang
rasio kenaikan sebesar 7% per tahun. diolah di Waduk Setiabudi berasal
Setelah perhitungan diproses, akan dari beberapa rumah dan gedung
muncul data mengenai nilai Sig (2- yang saluran air limbahnya
Tailed) dan t-hitung. Nilai Sig (2-Tailed) terhubung dengan PD PAL JAYA.
yand didapat kemudian dibandingkan Kapasitas dari masing-masing
dengan tingkat kesalahan yang telah waduk adalah 78.300 m3 untuk
ditentukan. Nilai t-hitung dibandingkan Waduk Setiabudi Barat dan 55.680
dengan nilai t-tabel yang telah m3 untuk Waduk Setiabudi Timur.
ditentukan. Ada beberapa kemungkinan Selain sebagai pengolah air
yang terjadi, yakni (Wagner, 2007): limbah, kedua waduk setiabudi juga
1) Jika Sig (2-Tailed) > tingkat memiliki fungsi sebagai pengendali
kesalahan dan t-hitung < t-tabel, banjir dengan menampung air
drainase dari saluran drainase

136
RAHMANI.P, HARTONO,MD, KUSNOPUTRI, H : KAJIAN KELAYAKAN PEMANFAATAN BIOGAS

makro sekitar. Adanya dua fungsi ini potensi biogas dibutuhkan data
membuat pengolahan air limbah mengenai kondisi air limbah PD PAL
menjadi tidak maksimal. Untuk JAYA. Parameter yang paling penting
memaksimalkan pengolahan air untuk memperkirakan jumlah
limbah, PD PAL JAYA telah membuat biogas dari air limbah adalah
Instalasi Pengolahan Air Limbah konsentrasi BOD, COD, ammoniak
(IPAL) baru yang terpisah dengan dan pH dalam air limbah.
waduk. Ke depannya, waduk hanya 3.2.1. Potensi Biogas
berfungsi sebagai pengendali banjir Berdasarkan data kondisi BOD
dan untuk pengolahan air limbah dan COD, didapatkan bahwa pH
sepenuhnya menggunakan IPAL PD rata-rata dari Sewer Landmark
PAL JAYA yang baru. Saat ini IPAL adalah 7,46 dan konsentrasi
PD PAL JAYA masih dalam tahap amoniak rata-ratanya adalah 1,92.
pembangunan. Diperkirakan IPAL Untuk Sewer D, rata-ratanya adalah
ini baru mulai digunakan pada tahun 7,39 untuk nilai pH dan 1,88 untuk
2014. konsentrasi amoniak. Besar pH dan
Berdasarkan gambar rencana, konsentrasi amoniak ini memenuhi
IPAL baru PD PAL JAYA akan syarat awal pemanfaatan biogas dari
menggunakan sistem yang lebih limbah domestik yang telah
kompleks dibanding Aerated Lagoon. dijelaskan sebelumnya pada Bab 2.
Sistem ini terdiri dari Moving Bed Kedua parameter ini memenuhi
Biological Reactor (MBBR), Highrate syarat karena pH berada dalam
Clarifier, Pressure Filter, dan Sludge rentang 7-8 dan amoniak masih
Drying Bed (SDB). Kapasitas total dibawah 80 mg/lt. Persyaratan
IPAL baru PD PAL JAYA lainnya adalah suhu. Berdasarkan
direncanakan sebesar 20.000 m3. informasi dari laboran PD PAL JAYA,
Lumpur dari pengolahan air suhu rata-rata dari air limbah yang
limbah yang terkumpul di SDB dapat masuk ke PD PAL JAYA adalah 30OC.
mengeluarkan biogas apabila berada Suhu ini memenuhi syarat, di mana
dalam kondisi anaerobik. Seperti syarat suhu yang diperbolehkan
penjelasan pada Bab 2, dijelaskan adalah 20-25OC, 30-37 OC, 50-55
bahwa biogas dapat dimanfaatkan OC, dan di atas 65 OC.
sebagai bahan bakar untuk Untuk menghitung jumlah
memasak. Untuk menghasilkan biogas yang dapat dihasilkan,
biogas, SDB yang sudah ada dapat digunakan data konsentrasi BOD
dimodifikasi sehingga membuat dan COD. Data BOD dan COD diolah
kondisi anaerobik. menggunakan rumus 1 dan 2 yang
Biogas yang terjadi nantinya telah dijelaskan pada Bab 3. Langkah
akan dimanfaatkan oleh penduduk pertama perhitungan jumlah biogas
yang bermukim di sekitar PD PAL adalah mencari jumlah COD dan
JAYA. Kawasan pemukiman yang BOD per satuan waktu. Pada
paling dekat dengan IPAL PD PAL penelitian ini digunakan satuan
JAYA adalah Pemukiman RT 014/ miligram per detik (mg/dt). Jumlah
RW 006 Kelurahan Guntur, BOD dan COD per satuan waktu
Kecamatan Setiabudi. Kawasan ini dicari dengan mengalikan
memiliki Kepala Keluarga (KK) konsentrasi BOD dan COD masing-
sebanyak 79 KK dan penduduk masing periode dengan debit air
sebanyak 166 jiwa. limbah yang masuk ke IPAL PD PAL
JAYA. Menurut pemantauan yang
3.2. Analisa Kecukupan Biogas dilakukan oleh laboran PD PAL
Untuk melakukan analisa JAYA, debit rata-rata air limbah yang
kecukupan biogas langkah pertama masuk melalui Sewer D adalah 0,5
yang dilakukan adalah menghitung liter/detik. Untuk Sewer Landmark,
potensi biogas. Untuk menghitung

137
Jurnal Ilmu Lingkungan , Vol 11 (2) : 132-140, 2013 ISSN : 1829-8907

debit rata-rata air limbah yang rata-ratanya sekitar 0,17


masuk adalah 42 liter/detik. liter/hari/rumah.
Langkah berikutnya adalah Berdasarkan jumlah konsumsi
mencari jumlah materi yang dapat rata-rata dan jumlah pengguna
teroksidasi (Mo) menggunakan LPG dan minyak tanah, dapat dicari
rumus 1 dengan memasukkan data konsumsi seluruh warga RT
jumlah BOD dan COD per satuan 014/RW006 Kelurahan Guntur,
waktu dari masing-masing waktu Kecamatan Setiabudi untuk LPG
pemantauan. Data jumlah Mo dan Minyak Tanah setiap harinya.
kemudian dikalikan dengan potensi Jumlah konsumsi seluruh warga
produksi biogas, sesuai rumus 2. dicari dengan perkalian antara
Berdasarkan Gambar 5 dan suhu rata-rata dan jumlah pengguna
rata-rata air limbah di IPAL PD PAL LPG dan minyak tanah.
JAYA, yakni 30OC, didapatkan Berdasarkan perhitungan
potensi produksi biogas sebesar 500 didapatkan hasil total konsumsi
liter/kg. LPG seluruh warga RT 014/RW006
Berdasarkan hasil perhitungan Kelurahan Guntur, Kecamatan
potensi biogas, didapatkan air Setiabudi adalah 32,43 kg/hari.
limbah IPAL PD PAL JAYA dapat Untuk minyak tanah, total
menghasilkan biogas dari 2,46 konsumsinya adalah 1,7 liter /hari.
liter/detik hingga 7,51 liter/detik 3.2.3. Kecukupan Biogas
jika berada pada kondisi anorganik. Analisa kecukupan biogas
Secara rata-rata, air limbah IPAL PD menghitung konsumsi minyak
PAL JAYA dapat menghasilkan tanah dan LPG yang dapat
biogas hingga 5,02 liter/detik atau dikurangi dengan adanya
setara dengan 144,65 m3/hari. pemanfaatan biogas selama 20
3.2.2. Kebutuhan LPG dan Minyak Tanah tahun. Berdasarkan hasil
Masyarakat RT 014/RW006 perhitungan kebutuhan LPG pada
Kelurahan Guntur, Kecamatan subab 4.3, rata-rata jumlah LPG
Setiabudi ada yang menggunakan yang dibutuhkan seluruh warga
LPG dan minyak tanah sebagai per harinya adalah 15,1 kg LPG.
bahan bakar untuk memasak. Untuk minyak tanah, rata-rata
Pengumpulan data awal dilakukan jumlah minyak tanah yang
dengan wawancara menggunakan dibutuhkan warga setiap harinya
quesioner. Total ada 31 responden adalah 0,6 liter. Rata-rata ini akan
yang diwawancara. Berdasarkan digunakan sebagai data pada tahun
hasil wawancara, ada 4 responden pertama. Data tahun pertama akan
atau 13% dari total responden diproyeksikan untuk 20 tahun
yang menggunakan minyak tanah. mendatang. Proyeksi dihitung
Untuk pengguna LPG ada 27 orang menggunakan rumus 5 dengan
atau sekitar 87%. Proporsi ini rasio 7%.
digunakan untuk mencari proporsi Proyeksi dari kebutuhan
pengguna LPG dan minyak tanah minyak tanah dan LPG kemudian
secara keseluruhan dengan disetarakan dengan kebutuhan
dikalikan 79. biogas. Kesetaraan kebutuhan LPG
Berdasarkan perhitungan, dengan biogas dihitung
didapatkan perkiraan bahwa menggunakan rumus 3 dan
jumlah pengguna minyak tanah kesetaraan kebutuhan minyak
ada 10 keluarga dan pengguna LPG tanah dengan biogas dihitung
ada 69 keluarga. Berdasarkan hasil menggunakan rumus 4.
quesioner, konsumsi LPG rata-rata Setelah disetarakan akan
di RT 014 RW006 Kelurahan didapatkan total kebutuhan biogas
Guntur, Kecamatan Setiabudi dari pengguna LPG dan pengguna
adalah sekitar 0,47 kg/hari/rumah. minyak tanah. Proyeksi total
Untuk minyak tanah, konsumsi kebutuhan biogas selanjutnya akan

138
RAHMANI.P, HARTONO,MD, KUSNOPUTRI, H : KAJIAN KELAYAKAN PEMANFAATAN BIOGAS

dibandingkan dengan proyeksi konsumsi LPG adalah nilai t-hitung


potensi biogas. Perbandingan ini sebesar 11,098 dan nilai Sig (2-
dilakukan untuk mendapatkan Tailed) sebesar 0,000. Hasil yang
informasi mengenai cukup didapatkan untuk perbandingan
tidaknya potensi biogas dalam konsumsi minyak tanah adalah t-
memenuhi kebutuhan bahan bakar hitung sebesar 36,614 dan nilai Sig
warga. Data awal potensi biogas (2-Tailed) sebesar 0,000.
adalah 144,65 m3/hari. Bila dibandingkan dengan t-
Perhitungan proyeksi potensi tabel yakni 1,725 , nilai t-hitung baik
biogas juga dilakukan dari konsumsi LPG maupun
menggunakan rumus 5. konsumsi minyak tanah melebihi t-
Berdasarkan analisa, didapatkan tabel. Bila dibandingkan dengan
hasil bahwa potensi biogas jauh tingkat kesalahan, yakni 0,05, nilai
melebihi kebutuhan biogas dengan Sig (2-Tailed) baik dari konsumsi
selisih 62,63 m3 - 663,06 m3. Selain LPG maupun konsumsi minyak
itu terlihat pula dari tahun ke tanah dibawah 0,05. Hal ini berarti
tahun potensi biogas semakin jauh bahwa perbedaan konsumsi LPG
melebihi kebutuhan biogas. Hal ini dan minyak tanah saat tidak ada
menandakan bahwa potensi biogas pemanfaatan biogas dengan ada
dari IPAL PD PAL JAYA cukup pemanfaatan biogas cukup
untuk memenuhi kebutuhan signifikan. Adanya signifikansi
biogas seluruh warga. Adanya berarti bahwa proyek ini layak
selisih yang tinggi antara potensi secara lingkungan.
biogas dengan kebutuhan biogas
bukan menjadi masalah. Hal ini 4. Kesimpulan
dikarenakan adanya kemungkinan Kesimpulan berdasarkan pembahasan
kebocoran pada pipa, sehingga pada Bab 4 adalah sebagai berikut:
tidak seluruh biogas yang 1. Potensi biogas dari IPAL PD PAL
terproduksi dapat disalurkan ke Jaya cukup untuk memenuhi
warga. Bahkan jauh lebih baik jika kebutuhan memasak warga
potensi biogas melebihi kebutuhan sekitar, sehingga layak secara
biogas dibandingkan jika potensi teknis.
biogas sama dengan kebutuhan 2. Pemanfaatan biogas dari IPAL PD
biogas. PAL JAYA dapat mengurangi
3.3. Analisa Pengurangan Konsumsi LPG konsumsi LPG dan Minyak Tanah
dan Minyak Tanah di DKI Jakarta secara signifikan,
Analisa pengurangan konsumsi sehingga layak secara lingkungan.
LPG dan minyak tanah dilakukan
dengan cara analisa Paired Sample T Daftar Pustaka
Test. Langkah pertama adalah Andrews, P. 2008. Energy Scarcity, Oil
menetapkan tingkat kesalahan dan Depletion, and Environmental
degree of freedom (df). Tingkat Accountability - Balancing Priorities
kesalahan ditetapkan sebesar 5%. in Times of Uncertainty.
Nilai df pada berdasarkan data yang Enviromation, 51. 417-422.
dibandingkan adalah 20. Nilai df dan Ariani, E. 2011. Faktor Keberhasilan
tingkat kesalahan digunakan untuk Pengembangan Biogas di
menentukan t-tabel. Berdasarkan Permukiman Transmigrasi Sungai
nilai df = 20 dan tingkat kesalahan = Rambutan SP .1. Jurnal
0,05 didapatkan nilai t-tabel sebesar Ketransmigrasian, 28. 34 - 44.
1,725. Arthur, R., Baidoo, M. F., Brew-
Langkah selanjutnya adalah Hammond, A., dan Bensah, E. C. 2011.
melakukan analisa Paired Sample T Biogas generation from sewage in
Test dengan SPSS. Hasil yang four public universities in Ghana: A
didapatkan pada perbandingan solution to potential health risk.

139
Jurnal Ilmu Lingkungan , Vol 11 (2) : 132-140, 2013 ISSN : 1829-8907

Biomass and Bioenergy, 35. 3086- resource base. Biomass and


3093. Bioenergy, 28. 133150.
Baehaqi, A. dan Nasution, T. 012. LPG 3 Le Hyaric, R., J.-P. Canler, B. Barillon, P.
KG di Jakarta Langka, Harga Naik. Naquin and R. Gourdon (2010). Pilot-
http://www.indosiar.com/fokus/lpg scale anaerobic digestion of
-3-kg-di-jakarta-langka-harga- screenings from wastewater
naik_95902.html, 3 Juni 2012, pk. treatment plants. Bioresource
20.49 WIB. Technology, 101. 90069011.
Bansal, M., R.P. Saini, dan D.K. Khatod. Limmee-chokchai, B. and S. Chawana.
2013. Development of cooking sector 2007. Sustainable energy
in rural areas in India A review. development strategies in the rural
Renewable and Sustainable Energy Thailand: The case of the improved
Reviews, 17. 4453. cooking stove and the small biogas
Bouille, E., dan Dubois, V. 2004. digester. Renewable and Sustainable
Traitement, puration et valorisation Energy Reviews, 11. 818837.
des effluents dune fromagerie. Padmono, D. dan J.P. Susanto. 2007.
http://hmf.enseeiht.fr/travaux/CD0 Biogas sebagai energi alternatif
405/beiere/4/html/binome3/dim_i antara mitos dan fakta ilmiah. Jurnal
nst.htm, 5 Juni 2012, 19.01 WIB. Teknik Lingkungan, 8. 34-42.
Gosens, J., Y. Lu, G. He, B. Bluemling, dan Purohit, P., A. Kumar, S. Rana, dan T.C.
T.A.M.Beckers. 2013. Sustainability Kandpal (2002). Using Renewable
effects of household-scale biogas in Energy Technologies for Domestic
rural China. Energy Policy, 54. 273 Cooking in India: A Methodology for
287. Potential Estimation. Renewable
Fantazzini, D., M. Hk, dan A. Energy, 26. 235246.
Angelantoni. 2011. Global oil risks Supranto, J. 1992. Teknik Sampling untuk
in the early 21st century. Energy Survei dan Eksperimen. PT. Rineka
Policy, 39. 78657873. Cipta, Jakarta.
Igoni, A.H., M.J. Ayotamuno, C.L. Eze, Weiland, P. 2010. Biogas production:
S.O.T. Ogaji, dan S.D. Probert. 2008. current state and perspectives.
Designs of anaerobic digesters for Applied Microbiology Biotechnology,
roducing biogas from municipal 85. 849860.
solid-waste. Applied Energy, 85.
430438.
Kalloum, S., H. Bouabdessalem, A. Touzi,
A. Iddou, dan M. S. Ouali. 2011.
Biogas production from the sludge
of the municipal wastewater
treatment plant of Adrar city
(Southwest Algeria). Biomass and
Bioenergy, 35. 2554-2560.
Kementrian ESDM (Energi dan Sumber
Daya Mineral). 2011. Handbook of
Energy & Economic Statistics of
Indonesia.
http://prokum.esdm.go.id/
Publikasi/Handbook%20of%20Ener
gy%20&%20Economic%20Statistics
%20of%20Indonesia%20/Handbook
%202011.pdf, 27 Mei 2012, pk. 20.45
WIB.
Koopmans, A. . 2005. Biomass energy
demand and supply for South and
South-East Asiaassessing the

140

View publication stats