Anda di halaman 1dari 12

TUGAS UJIAN BAGIAN KONSERVASI GIGI

oleh

Isha Arfina Haris (04074881517013)

Indira Tri Amirah (04074881517025)

Allisyia Permata Sari (04074881517016)

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

FAKULTAS KEDOKTERAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI

2017
1. Endodontic-Emergencies (Keadaan darurat endodontik)

Kegawatdaruratan dalam endodontik dan infeksi adalah kasus yang dirasakan


penderita berupa sakit (nyeri) dengan berbagai frekuensi nyeri atau pembengkakan
sebelum, selama, atau sesudah perawatan saluran dengan penyebab berupa iritan
yang menimbulkan inflamasi yang hebat di pulpa atau jaringan periradikuler. Hal ini
dikaitkan dengan nyeri atau pembengkakan dan memerlukan penegakan
diagnosis serta perawatan segera. Keadaan darurat ini disebabkan oleh kelainan
dalarn pulpa dan atau jaringan periradikuler. Keadaan darurat juga mencakup cidera
traumatic parali yang mengakibatkan luksasi, avulsi atau fraktur. Berbagai frekuensi
nyeri atau pembengkakan dapat terjadi pada pasien sebelum, selama, atau
sesudah perawatan saluran akar.

Penyebabnya adalah iritan yang menimbulkan inflamasi yang hebat di


jaringan pulpa atau di jaringan periradikuler. Merupakan kepuasan dan
kebahagiaan tersendiri apabila kita berhasil menanggulangi dengan baik seorang
pasien yang datang dalam keadaan sangat kesakitan. Sebaliknya, tak ada yang
lebih menyesakkan hati, baik bagi pasien maupun dokternya., selain apabila
menerima pasien yang rnengalami flare-up setelah dirawat saluran akarnya
padabal pada awalnya gigi tadi asinitoinatik. Para praktisi yang berhasil
biasanya berusaha meningkatkan jumlah pasien kategori pertama sekaligus
menurunkan pasien yang tergolong kategori ke dua. Sikap yang baik,
pengendalian pasien, diagnosis yang tepat, anastesi yang berjalan baik serta
perawatan cepat dan efektif, merupakan komponen integral dan penatalaksanaan
keadaan darurat yang nenantang ini.

PERSEPSI DAN REAKSI NYERI

Nyeri adalah suatu fenomena fisiologis dan psikologis yang kompleks.


Tingkat persepsi nyeri tidak konstan; ambang rangsang nyeri seperti juga reaksi
terhadap nyeri berubah rnenurut keadaan secara signifikan. Komponen psikologis
dan reaksi dan persepsi nyeri terdiri atas kognitif, emosional, dan faktor-faktor
simbolis. Ambang rangsang reaksi nyeri secara signifikan dipengaruhi oleh
pengalaman masa lain dan oleh tingkat kecerdasan yang dialami sekarang serta
status emosionalnya. Untuk mengurangi kecemasan dan dengan demikian
memperoleh informasi yang dapat diandalkan mengenai keluhan utama dan agar
diperoleh kerjasama pasien selama perawatan, klinisi hendaknya:

1. Membangun dan mengendalikan situasi;


2. Membangkitkan kepercayaan pasien;
3. Memberi perhatian dan simpati kepada pasien;
4. Memperlakukan pasien sebagai individu yang penting.

Dengan menangani komponen-komponen nyeri ini, persepsi nyeri dan


ambang reaksi rneningkat secara bermakna. Penatalaksanaan psikologis
merupakan faktor paling penting dalam perawatan keadaan darurat. Patokan
keadaan darurat murni: penyebab atau sumber nyeri adalah satu gigi. Dalam
situasi sedang kesaki tan dan emosional, pasien mungkin mengatakan bahwa
nyeri yang hebat itu berasal dari beberapa gigi. Klinisi ada kalanya percaya
sehingga dapat berakibat serius dan menimbulkan kekeliruan. Ini merupakan
alasan lain mengapa diperlukan kehati-hatian dalam menegakkan diagnosis. Agar
sampai pada diagnosis awal yang tepat dan dapat menentukan sumber nyerinya
klinisi harus mengerjakan hal berikut ini:

1. Dapatkan informasi yang tepat mengenai riwayat medis dan riwayat dentalnya.
2. Ajukan pertanyaan-pertanyaan subjektif ini: riwayat, lokasi, keparahan,
durasi, karakter dan stimuli yang menyebabkan timbulnya nyeri.
3. Lakukan pemeriksaan visual pada wajah, jaringan keras dan lunak rongga
mulut.
4. Lakukan pemeriksaan intraoral
5. Lakukan pengetesan pulpa yang sesuai.
6. Lakukan tes sensitivitas palpasi dan perkusi untuk menentukan status
periapeksnya.
7. Lakukan pemeriksaan radiograf yang sesuai.
Dalam keadaan klinik terdapat tiga macam kasus yang merupakan
indikasi dan memerlukan perawatan darurat untuk meredakan rasa sakit dengan
terapi yang berbeda,yaitu pulpitis akut, pulpitis akut dengan kelainan periapeks, dan
abses periapeks akut.

Ketiga keadaan tersebut hanya dilihat secara klinis tanpa secara


histopatologik karena memerlukan pengambilan jaringan bila akan dilihat secara
hispatologik. Diagnosis biasanya hanya dengan mengetahui keadaan jaringan
pulpa yang vital dan kepekaan perkusi atau terdapatnya pembengkakan. Setelah
diagnosa ditegakkan, baru kemudian perawatan dilakukan dengan sebaik-baiknya
(Bence, 1990). Riwayat penyakit pasien merupakan hal yang sangat penting untuk
ditanyakan.

Menurut Grossman dkk (1988) yang memerlukan perawatan darurat adalah


keadaan sebagai berikut:

1. Pulpitis akut reversibel.


2. Pulpitis akut irevesibel.
3. Abses alveolar akut.
4. Abses periodontal akut (Parietal Abses).
5. Darurat waktu perawatan.
6. Fraktur korona.
7. Fraktur akar.
8. Tooth avulsion.
9. Referred pain.

Dalam bidang Endodontik, perawatan darurat meliputi satu atau beberapa


prinsip operasi dasar sebagai berikut:

1. Menghilangkan penyebab rasa sakit.


2. Buat drainase bila ada cairan eksudat.
3. Mengistirahatkan bagian yang terkena.
4. Memberikan analgesik bila diperlukan.
Jadi jelas bahwa perawatan darurat perlu diberikan untuk menolong
mengurangi rasa sakit bagi penderita dan juga untuk memberi kesempatan
melakukan perawatan selanjutnya (Harty, 1990). Pada gigi yang dirasakan sakit
penting untuk ditentukan apakah jaringan pulpa masih vital. Adanya sebagian
jaringan yang vital dan sebagian nekrose atau sebagian akut dan sebagian
kronis dengan tidak membedakan arah perawatan darurat yang akan dilakukan.
Umumnya bila gigi menjadi sakit tanpa faktor penyebab, seperti makanan,
panas, dingin, manis atau trauma, sakit yang mengganggu pasien tidur di
malam hari, maka tampaknya pulpa terbuka (ireversibel) dan dilakukan
perawatan ekstirpasi pulpa.

1. Pulpitis akut
Yang termasuk dalam kategori ini adalah pulpanya vital dan tidak peka
terhadap perkusi. Gambaran radiografik umumnya menunjukkan jaringan
periapek yang normal dan karies yang dalam. Perawatan pada umumnya adalah:
a. Pada gigi yang berakar tunggal (anterior) = pulpektomi.
b. Pada gigi berakar banyak (molar) = pulpotomi = (Bila pengambilan
janngan pulpa hanya terbatas pada pul chamber).

2. PuIpitis akut dengan kelainan periapeks


Menurut Harty, 1990 disebut periodontitis akut atau radang akut dan
ligament periodontal. Sering disebabkan oleh iritasi melalui saluran akar atau trauma,
umumnya berhubungan dengan pulpitis akut. Perawatannya adalah sebagai berikut:
a. Pada gigi yang berakar tunggal pulpektomi
b. Pada gigi berakar banyak = pulpektomi dengan ekstirpasi pada akar
yang terbesar yang dianggap telah terkena radang, sehingga rasa sakit dapat
reda.

3. Abses periapeks akut


Keadaan ini umunmya mudah ditentukan diagnosenya. Jaringan pulpa
non vital dan peka terhadap perkusi. Biasanya ada pembengkakan dan gigi
goyah, terdapat radiolusensi yang besar dan difus. Karena gigi telah non vital
umumnya tanpa anestesi waktu preparasi kavitas, bila diperlukan dengan blok
anestesi. Perawatannya adalah:
a. Perawatan saluran akar
b. Perawatan bedah Endodontik

Pada perawatan pasien dengan abses periapeks akut tindakan yang


dianggap benar untuk mencapai daerah terinfeksi apabila mungkin adalah
melalui saluran akar. Namun beberapa keadaan sebagai berikut memerlukan
tindakan insisi jaringan lunak atau kadang-kadang jaringan keras untuk
memungkinkan drainase yaitu pada:

a. Saluran akarnya tentutup oleh restorasi dengan pasak inti atau terisi oleh
konus perak dengan metode seksional.

b. Bila setelah dilakukan drainase lewat saluran akar masih tetap bengkak dan
malah bertambah, maka perlu drainase secara bedah endodontik.

c. Penatalaksanaan Kedaruratan Praperawatan Endodontik


Tahapan-tahapan untuk memaksimalkan efisiensi dan meminimalkan kesalahan
dalam identifikasi, diagnosis dan rencana perawatan adalah menentukan masalah
yang dihadapi; melakukan pengkajian riwayat medisnya; menentukan sumber
nyeri; membuat diagnosis pulpa; periradikuler dan periodontal; membuat
rancangan rencana perawatan kedaruratan dan melakukan perawatan.

d. Penatalaksanaan Pasien
Hal ini merupakan faktor yang penting karena pasien yang sedang cemas harus
diyakinkan bahwa dia akan ditangani dengan baik. Untuk mengurangi kecemasan
dan memperoleh informasi mengenai keluhan utama dan agar diperoleh
kerjasama pasien selama perawatan, klinisi hendaknya membangun dan
mengendalikan situasi, membangkitkan kepercayaan pasien, memberikan
perhatian dan simpati kepada pasien dan memperlakukan pasien sebagai individu
yang penting. Penatalaksanaan psikologis merupakan faktor yang penting dalam
perawatan kedaruratan.
e. Penatalaksanaan Penyakit Pulpa dan Periradikuler \
Setelah melakukan pemeriksaan, klinisi harus dapat mengidentifikasi gigi
penyebab dan jaringan pulpa atau periradikuler yang merupakan sumber rasa
nyeri dan harus dapat menentukan diagnosis pulpa dan periradikulernya sehingga
jelas rencana perawatannya.

f. Penatalaksanaan Pulpitis Reversibel Akut


Pasien dapat menunjukan gigi yang sakit dengan tepat. Diagnosis dapat
ditegaskan oleh pemeriksaan visual, taktil, termal, dan pemeriksaan radiograf.
Pulpitis reversibel akut berhasil dirawat dengan prosedur paliatif yaitu aplikasi
semen seng oksida eugenol sebagai tambalan sementara, rasa sakit akan hilat
dalam beberapa hari. Bila sakit tetap bertahan atau menjadi lebih buruk, maka
lebih baik pulpa diekstirpasi. Bila restorasi yang dibuat belum lama mempunyai
titik kontak prematur, memperbaiki kontur yang tinggi ini biasanya akan
meringankan rasa sakit dan memungkinkan pulpa sembuh kembali. Bila keadaan
nyeri setelah preparasi kavitas atau pembersihan kavitas secara kimiawi atau ada
kebocoran restorasi, maka restorasi harus dibongkar dan aplikasi semen seng
oksida eugenol. Perawatan terbaik adalah pencegahan yaitu meletakkan bahan
protektif pulpa dibawah restorasi, hindari kebocoran mikro, kurangi trauma
oklusal bila ada, buat kontur yang baik pada restorasi dan hindari melakukan
injuri pada pulpa dengan panas yang berlebihan sewaktu mempreparasi atau
memoles restorasi amalgam.

g. Penatalaksanaan Pulpitis Ireversibel Akut


Gigi dengan diagnosis pulpitis ireversibel akut sangat responsif terhadap
rangsang dingin, rasa sakit berlangsung bermenit-menit sampai berjam-jam,
kadangkadang rasa sakit timbul spontan, mengganggu tidur atau timbul bila
membungkuk. Perawatan darurat yang lebih baik dilakukan adalah pulpektomi
daripada terapi paliatif untuk meringankan rasa sakit. Tehnik pulpektomi dapat
dilakukan sesuai dengan metode yang digunakan oleh Armilia M (2007).
Pada beberapa kasus, terutama pada gigi saluran ganda, biasanya dokter gigi
tidak cukup waktu untuk menyelesaikan seluruh ekstirpasi jaringan pulpa dan
instrumentasi saluran akar, maka dilakukan pulpotomi darurat, mengangkat
jaringan pulpa dari korona dan saluran akar yang terbesar saja. Biasanya saluran
saluran akar terbesar merupakan penyebab rasa sakit yang hebat, saluran-akar
yang kecil tidak menyebabkan rasa sakit secara signifikan. Pada kasus dengan
saluran akar yang kecil sebagai penyebabnya, pasien akan merasa sakit setelah
efek anestesi hilang. Jika hal ini terjadi, harus direncanakan perawatan darurat
lagi dan seluruh saluran akar harus dibersihkan.

h. Penatalaksanaan Nekrosis Pulpa tanpa Pembengkakan


Walaupun gigi nekrosis tanpa pembengkakan tidak memberikan respons terhadap
stimuli, gigi tersebut mungkin masih mengandung jaringan terinflamasi vital di
saluran akar di daerah apeks dan memiliki jaringan periradikuler terinflamasi
yang menimbulkan nyeri (periodontitis akut). Oleh karena itu, demi kenyamanan
dan kerja sama pasien, anestesi lokal hendaknya diberikan. Setelah pemasangan
isolator karet, debridemen yang sempurna merupakan perawatan pilihan. Jika
waktu tidak memungkinkan, dilakukan debridemen parsial pada panjang kerja
yang diperkirakan. Saluran akar tidak boleh diperlebar tanpa mengetahui panjang
kerja. Selama pembersihan saluran akar dan pada penyelesaian prosedur ini
dilakukan irigasi dengan larutan natrium hipokhlorit, kemudian keringkan dengan
poin kertas isap (paper point), jika saluran akar yang cukup lebar, diisi dengan
pasta kalsium hidroksida dan ditambal sementara. Sejumlah klinisi menempatkan
pelet kapas yang dibasahi medikamen intrakanal di kamar pulpa sebelum
penambalan sementara, sebetulnya pemberian medikamen itu tidak bermanfaat.

i. Penatalaksanaan Kedaruratan Antar Kunjungan


Kedaruratan antar kunjungan disebut juga sebagai falre-up yaitu suatu
kedaruratan murni dan demikian parahnya sehingga perlu perawatan dengan
segera. Walaupun prosedur perawatan telah dilakukan dengan hati-hati dan teliti,
namun komplikasi dapat timbul berupa nyeri dan pembengkakan. Kedaruratan
antar kunjungan ini adalah peristiwa yang sangat tidak diinginkan dan sangat
mengganggu serta harus segera ditangani.
j. Perawatan Flare-up
Aspek terpenting perawatan flare-up adalah menenangkan pasien. Umumnya
pasien merasa ketakutan dan kesal bahkan menyangka bahwa perawatan telah
gagal dan gigi harus dicabut. Berilah keyakinan kepada pasien bahwa rasa nyeri
yang timbul dapat ditanggulangi dan kasusnya akan segera ditangani. Kasus
kedaruratan antar kunjungan dapat dibagi menjadi kasus tanpa dan dengan
pembengkakan, dan yang diagnosis awalnya pulpa vital atau nekrosis. Jika pada
diagnosis awalnya pulpa masih vital, jarang timbul flare-up.

k. Penatalaksanaan Kasus-kasus yang Awalnya Vital Tanpa Pembengkakan dan


Debridemen
Sempurna Biasanya kasus ini disebabkan oleh instrumentasi melebihi apeks akar
(overinstrumentasi) yang mengakibatkan adanya taruma pada jaringan periapikal
atau adanya debris yang terdorong ke dalam jaringan periapikal. Penyebab lain
dapat berupa iritasi kimiawi dari larutan irigasi atau medikamen intrakanal. Pada
kasus ini biasanya pasien merasa peka waktu mengunyah.
Kasus ini mungkin bukan suatu flareup murni, yang dibutuhkan biasanya
hanyalah menenangkan pasien dan memberikan resep analgetik ringan sampai
sedang. Pada umumnya pembukaan gigi tidak akan menghasilkan apa-apa, nyeri
akan menurun secara spontan. Flare-up tidak akan tercegah dengan
kortikosteroid, baik diberikan secara intrakanal atau secara sistemis. Debridemen
yang tidak sempurna akan meninggalkan jaringan yang kemudian terinflamasi
dan menjadi iritan utama. Panjang kerja harus diperiksa ulang dan ditentukan
kembali, kemudian saluran akar dibersihkan hati-hati dan lakukan irigasi dengan
larutan natrium hipokhlorit yang banyak. Keringkan saluran akar dengan poin
kertas isap kemudian diisi pasta kalsium hidroksida lalu tambal sementara. Bila
perlu boleh diberi resep analgetik ringan atau sedang.

l. Penatalaksanaan Kasus-kasus yang Awalnya Nekrosis Tanpa Pembengkakan


Penatalaksanaan pada kasus ini, gigi dibuka dan saluran akar dibersihkan kembali
dan diirigasi dengan larutan natrium hipokhlorit. Saluran akar dikeringkan
dengan poin kertas isap, kemudian diisi bahan medikasi dengan pasta kalsium
hidroksida dan ditutup tambalan sementara. Setelah kunjungan yang banyak,
cenderung menjadi abses apikalis akut, pada kasus ini harus dilakukan drainase,
debridemen diselesaikan yaitu saluran akar dibersihkan kembali dan diirigasi
dengan larutan natrium hipokhlorit. Biarkan isolator karet di tempatnya dan
bukalah giginya, pasien dibiarkan istirahat tanpa nyeri selama 30 menit atau
sampai drainasenya berhenti. Setelah itu keringkan saluran akar, letakkan pasta
kalsium hidroksida dan tutup dengan tambalan sementara.

Sumber: Apriyono, Dwi Kartika. Bagian Ilmu Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Jember. Kedaruratan Endodonsia. Stomatognatic (J.K.G. Unej) Vol.
7 No. 1 2010 : 45-50.
2. Etiologi Kavitas
Etiologi Karies
Karies merupakan penyakit mikrobiologi yang menyerang struktur gigi, dan
menyebabkan demineralisasi pada bagian anorganik dan destruksi pada substansi
organik pada gigi.

Interaksi S mutans dengan pelikel pada permukaan gigi

Akumulasi dan kolonisasi S.mutan

Metabolisme karbohidrat oleh S mjtans menghasilkan asam laktat

Penurunan pH plak suasana asam pada permukaan gigi

Bila pH kritis (pH 5,5) tercapai, mulai terjadi interaksi progresif


ion adam dengan fosfat pada hidroksi apatit

Demineralisasi : melarutkan permukaan Kristal hidroksi apatit


sebagian/penuh

Etiologi Non-karies
Atrisi
Kehilangan struktur gigi akibat proses mekanis dengan gigi antagonis.
Abrasi
Kehilangan struktur gigi akibat proses mekanis dengan objek eksternal
(seperti : sikat gigi, penggunaan tusuk gigi di proksimal gigi). Ciri khas pada
abrasi ialah terdapat cekungan halus pada servikal gigi sesuai dengan jalur
sikat gigi yang horizontal.
Abfraksi
Kehilangan struktur gigi akibat tekanan kunyah berlebih. Tekanan kunyah
berlebih akan membuat pembengkokan elastis pada gigi dan menyebabkan
fraktur mikro pada servikal gigi. Ciri khas dari abfraksi ialah terdapat
cekungan tajam berbentuk V, umunya pada satu atau beberapa gigi yang
mendapat tekanan kunyah berlebih.
Erosi
Kehilangan struktur gigi akibat proses kimiawi ( seperti : asam ekstrinsik (jus
buah/ jus jeruk) dan asam intrinsik (asam lambung yang keluar saat muntah).

Sumber:
Garg, Nisha dan Garg, Amit. Textbook of preclinical concervative dentistry. New
Delhi: Jaypee; 2011
Soeprapto, Andrianto. Pedoman dan tatalaksana praktik kedokteran gigi.
Jogjakarta: STPI Bina Insan Mulia; 2017

3. Etsa Asam
Pada penumpatan menggunakan bahan resin komposit, retensi didapatkan dengan
cara mikro mekanis. Asam fosforik 37% pada etsa akan membuat mikroporus
pada enamel, lalu mikro porus ini akan diisi oleh bonding agent. Dan bonding
agent akan berikatan dengan gigi dan komposit.
Prosedur etsa dimulai dengan mengeringkan permukaan enamel, lalu aplikasi
etsa menggunakan microbrush selama 15-20 detik. Lalu permukaan gigi dibilas
menggunakan air, sampai permukaan gigi bersih dan tidak ada bahan etsa yang
tertinggal. Enamel kemudian dikeringkan. Etsa akan berhasil bila terbentuk
permukaan seperti salju yang berwarna keputihan atau frosted appereance.