Anda di halaman 1dari 35

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Middle East Respiratory Syndrome (MERS)


Middle East Respiratory Syndrome atau MERS adalah penyakit
saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus korona. Asal virus korona
belum diketahui secara pasti, tapi para pakar menduga bahwa virus ini
kemungkinan besar berasal dari unta yang tinggal di Arab Saudi dan
sekitarnya. MERS dapat menyebabkan risiko kematian lebih dari 587
orang dari seluruh dunia pada tahun 2012 ke 2015 (MOH, 2015). MERS
memang menular, tapi penularannya tidak semudah flu biasa. Virus
penyebab MERS umumnya menyebar melalui kontak langsung, misalnya
pada orang yang merawat penderita MERS tanpa menerapkan pencegahan
penularan terhadap diri sendiri.

2.2 Etiologi
MERS Co-V adalah merupakan salah satu jenis virus yang
menyerang organ pernafasan orang mengidapnya yang merupakan jenis
penyakit saluran pernafasan yang bisa mengakibatkan kematian. MERS
CoV adalah merupakan singkatan dari Middle East Respiratory Syndrom-
Corona Virus. Virus ini merupakan jenis baru dari kelompok Corona virus
(Novel Corona Virus).
Ordo : Nidovirales
Familia : Corona viridae
Genus : Corona virus

Informasi yang diperoleh dari website Kementrian Kesehatan RI


memberitakan bahwasannya virus ini berbeda dengan corona virus lain
yang telah ditemukan sebelumnya. Sehingga kelompok studi Corona Virus
dari Komite Internasional untuk Taksonomi Virus memutuskan bahwa
Novel Corona Virus tersebut dinamakan sebagai MERS-CoV. Virus ini
tidak sama dengan Corona Virus penyebab Severe Acute Respiratory

3
Syndrome (SARS), namun mirip dengan Corona Virus yang terdapat pada
kelelawar.

2.3 Patofisiologi
MERS disebabkan oleh virus dari genus coronavirus. Genus
coronavirus termasuk virus yang menyerang binatang. Pada manusia,
coronavirus biasanya menyebabkan flu, dan SARS. Meskipun begitu,
MERS-CoV adalah virus corona yang berbeda dari SARS-CoV. Meskipun
belum dipastikan, MERS)-CoV diduga berasal dari kelelawar yang
menular pada manusia dan cara penyebarannya belum diketahui. MERS-
CoV menyebar dari manusia ke manusia dengan cara terpapar langsung
ingus atau kotoran lain dari saluran pernafasan manusia yang telah
terinfeksi MERS-CoV. MERS-CoV sering menjangkiti orang yang
merawat individu yang mengidap MERS.

4
2.4 Web of Causation Virus MERS - CoV

Langsung: melalui Tidak langsung : melalui


droplet pada saat kontak dengan hewan /
pasien bersin benda yang terinfeksi virus

Virus masuk melalui Virus masuk melalui


saluran cerna saluran pernapasan

Diare Respon hormonal Koloni patogen Infeksi saluran ME


napas bawah

MK : Resiko Antigen Antibodi


ketidakseimbangan Antigen berikatan berikatan dengan Aktivasi sel mast dan basofil
Elektrolit dengan antibodi komplemen

Penumpukan fibrin, Aktivasi prosos fagositosis Pelepasan histamin


eksudat leukosit oleh neutrofil dan makrofag dan bradikinin

Pelepasan pirogen ( Penumpukan sekret Jarang terjadi di


sitokin ) pada bronkus dan Indonesia
alveoli

Merangsang saraf vagus Batuk, sesak MK : Defisiensi


pengetahuan

Sinyal terkirim ke SSP MK: Ketidakefektifan Gangguan difusi


bersihan jalan napas oksigen pada
kapiler dan alveoli
Merangsang hipotalamus Metabolisme
Meningkat
5
MK : Gangguan
pertukaran gas
Meningkatkan suhu Peningkatan
penggunaan energi

MK : Hipertermi MK : Ketidakefektifan
Keletihan
perfusi jaringan

MK : Intoleransi
Aktivitas

2.5 Manifestasi Klinis


Beberapa gejala yang diakibatkan oleh koronavirus MERS adalah
demam, batuk, napas yang pendek-pendek, serta munculnya pneumonia
dalam beberapa kasus. MERS merupakan salah satu bentuk koronavirus
yang masih misterius. Hingga saat ini peneliti masih mencari tahu
bagaimana koronavirus baru ini bisa menginfeksi manusia.
Sebagian besar orang yang terinfeksi MERS-Cov berkembang
menjadi penyakit saluran pernapasan berat dengan gejala gejala demam,
batuk, dan napas pendek. Sekitar separuh dari jumlah penderita meninggal.
Sebagian dari penderita dilaporkan menderita penyakit saluran pernapasan
tingkat sedang.
Mula-mula gejalanya mirip seperti flu dan bisa mencakup: demam,
myalgia, lethargy, gejala gastrointestinal, batuk, radang tenggorokan dan
gejala non-spesifik lainnya. Satu-satunya gejala yang sering dialami
seluruh pasien adalah demam di atas 38 C (100.4 F). Sesak napas bisa
terjadi kemudian.Gejala tersebut biasanya muncul 210 hari setelah
terekspos, tetapi sampai 13 hari juga pernah dilaporkan terjadi. Pada
kebanyakan kasus gejala biasanya muncul antara 23 hari. Sekitar 1020%
kasus membutuhkan ventilasi mekanis.
Awalnya tanda fisik tidak begitu kelihatan dan mungkin tidak ada.
Beberapa pasien akan mengalami tachypnea dan crackle pada auscultation.
Kemudian, tachypnea dan lethargy kelihatan jelas.

6
Merujuk pada definisi kasus WHO, klasifikasi kasus MERS-CoV
adalah sebagai berikut :
1. Kasus dalam penyelidikan (underinvestigated case) *)
a. Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan
tiga keadaan di bawah ini:
Demam (38C) atau ada riwayat demam,
Batuk,
Pneumonia berdasarkan gejala klinis atau gambaran radiologis
yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Perlu waspada pada pasien dengan gangguan system kekebalan


tubuh (immuno-compromised) karena gejala dan tanda tidak jelas.
Salah satu kriteria berikut :
1) Seseorang yang memiliki riwayat perjalanan ke Timur Tengah
(negara terjangkit) dalam waktu 14 hari sebelum sakit kecuali
ditemukan etiologi/ penyebab penyakit lain.
2) Adanya petugas kesehatan yang sakit dengan gejala sama setelah
merawat pasien ISPA berat (SARI/ Severe Acute Respiratory
Infection), terutama pasien yang memerlukan perawatan intensif,
tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian,
kecuali ditemukan etiologi/penyebab penyakit lain.
3) Adanya klaster pneumonia (gejala penyakit yang sama) dalam
periode 14 hari, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat
bepergian, kecuali ditemukan etiologi/penyebab penyakit lain.
4) Adanya perburukan perjalanan klinis yang mendadak meskipun
dengan pengobatan yang tepat, tanpa memperhatikan tempat
tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi/
penyebab penyakit lain.

b. Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan


sampai berat yang memiliki riwayat kontak erat dengan kasus

7
konfirmasi atau kasus probable infeksi MERS-CoV dalam waktu 14
hari sebelum sakit

2. Kasus Probabel **)


a. Seseorang dengan pneumonia atau ARDS dengan bukti klinis,
radiologis atau histopatologis DAN Tidak tersedia pemeriksaan
untuk MERS-CoV atau hasil laboratoriumnya negative pada satu
kali pemeriksaan spesimen yang tidak adekuat. DAN Adanya
hubungan epidemiologis langsung dengan kasus konfirmasi MERS-
CoV.

b. Seseorang dengan pneumonia atau ARDS dengan bukti klinis,


radiologis atau histopatologis DAN Hasil pemeriksaan laboratorium
inkonklusif (pemeriksaan skrining hasilnya positif tanpa konfirmasi
biomolekular). Adanya hubungan epidemiologis langsung dengan
kasus konfirmasi MERS-CoV.

3. Kasus Konfirmasi **)


Seseorang yang terinfeksi MERS-CoV dengan hasil pemeriksaan
laboratorium positive.

*) update per 27 Juni 2013 **) update per 3 Juli 2013

KLASTER
Adalah bila terdapat dua orang atau lebih memiliki penyakit yang
sama,dan mempunyai riwayat kontak yang sama dalam jangka waktu 14
hari. Kontak dapat terjadi pada keluarga atau rumah tangga, dan berbagai
tempat lain seperti rumah sakit, ruang kelas, tempat kerja, barak militer,
tempat rekreasi, dan lainnya.

8
HUBUNGAN EPIDEMIOLOGIS LANGSUNG
Adalah apabila dalam waktu 14 hari sebelum timbul sakit :
Melakukan kontak fisik erat, yaitu seseorang yang kontak fisik atau
berada dalam ruangan atau berkunjung (bercakap-cakap dengan radius
1 meter) dengan kasus probable atau konfirmasi ketika kasus sedang
sakit. Termasuk kontak erat antara lain :
Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar dan
membersihkan ruangan di tempat perawatan kasus
Orang yang merawat atau menunggu kasus di ruangan
Orang yang tinggal serumah dengan kasus
Tamu yang berada dalam satu ruangan dengan kasus
Bekerja bersama dalam jarak dekat atau didalam satu ruangan
Bepergian bersama dengan segala jenis alat angkut / kendaraan.

Kontak erat adalah :


Seseorang yang merawat pasien termasuk petugas kesehatan atau
anggota keluarga, atau seseorang yang berkontak erat secara fisik.
Seseorang yang tinggal ditempat yang sama (hidup bersama,
mengunjungi) kasus probable atau kasus konfirmasi ketika kasus
sedang sakit

Jemaah haji yang baru pulang dari Saudi Arabia dilakukan


pengamatan selama 14 hari sejak tanggal kepulangan. Jamaah haji
diberikan K3JH dan bila dalam kurun waktu 14 hari sejak tanggal
kepulangan mengalami sakit batuk, demam, sesak napas agar datang ke
petugas kesehatan dengan membawa K3JH.

2.6 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan laboratorium khusus untuk MERS-CoV tidak tersedia
secara rutin, namun polymerase chain reaction (PCR) untuk MERS-CoV

9
tersedia di beberapa laboratorium pelaksana dan balai penelitian dan
pengembangan kesehatan (BALITBANGKES) di Jakarta.

Pemeriksaan Laboratorium
WHO dan Centers for Disease Control (CDC) merekomendasikan
pengambilan spesimen dari lokasi dan waktu yang berbeda pada kasus
tersangka MERS. Spesimen yang berasal dari saluran nafas bawah seperti
dahak, aspirat trakea dan bilasan bronkoalveolar mempunyai titer virus
tertinggi. Spesimen saluran pernapasan atas (nasofaring dan orofaring)
tetap diambil terutama bila spesimen saluran napas bawah tidak
memungkinkan dan pasien tidak memiliki tanda-tanda atau gejala infeksi
pada saluran pernapasan bawah dan dilakukan pemeriksaan virus influenza
A dan B, virus influenza A subtype H1, H3, dan H5 di negara-negara
dengan virus H5N1 ditemukan pada unggas (peternakan); RSV, virus
parainfluenza, rhinoviruses, adenoviruses, metapneumoviruses manusia,
dan corona virus baru. Sampel dari saluran napas harus diambil setiap 2-4
hari untuk memastikan bersihan virus sesudah dua pemeriksaan menunjuk-
kan hasil negatif. Virus MERS-CoV juga dapat ditemukan di dalam cairan
tubuh lainnya seperti darah, urine dan feses, tetapi kegunaan sampel
tersebut dalam mendiagnosis infeksi MERS-CoV belum pasti.
Pemeriksaan diagnosis laboratorium kasus infeksi MERS-CoV dilakukan
dengan metoda reverse transcriptase polymerase chain reaction RT-PCR.
Dilakukan juga:
- Pemeriksaan darah untuk menilai viremia
- Swab konjungtiva jika terdapat konjungtivitis
- Urin
- Tinja
- Cairan serebroospinal jika dapat dikerjakan
Data selama ini menunjukkan bahwa spesimen saluran nafas
bawah cenderung lebih positif daripada spesimen saluran napas atas.
Pemeriksaan Diagnostik lain yang bisa dilakukan antara lain:
1. Spesimen Klinis Rutin

10
Kultur mikroorganisme sputum dan darah pada pasien dengan
pneumonia.
2. Spesimen dari saluran napas atas dan bawah
Dilakukan pemeriksaan Virus Influenza A dan B, virus
influenza A subtype H1, H3, H5, dan H5N1.
3. Pemeriksaan Spesimen Corona Virus Baru ( Pemeriksaan Untuk
Konfirmasi Diagnosa) Dilakukan dengan menggunakan Reverse
Transcriptase Polymerase Chain.
4. Reaction (RT-PCR)
Bahan Pemeriksaan :
Spesimen dari saluran napas atas (hidung/nasofaring/dan atau swab
Tenggorokan
Spesimen saluran nafas bawah ( Sputum , aspirat endotracheal,
kurasan bronkoalveolar)
Tempat Pemeriksaan : Laboratorium Badan Litbangkes RI Jakarta
Pengambilan specimen serial dari beberapa tempat dalam waktu
beberapa hari (setiap 2-3 hari) untuk melihat Viral Sheeding
Hasil laboratorium inkonklusif adalah apabila di dapatkan :
Hasil positif pada pemeriksaan skrining yang tidak diikuti dengan
pemeriksaan konfirmasi molekuler.
Hasil pemeriksaan serologis dinyatakan positif pada pemeriksaan
laboratorium
Harus mendapat pemeriksaan virologis dan serologis tambahan
untuk dapat menetapkan konfirmasi kasus MERS-CoV:
o Bila memungkinkan, gunakan spesimen yang berasal dari saluran
pernapasan bagian bawah: dahak, aspirate endotracheal, cairan
bilasan bronckhoalveolar
o Jika kasus tidak memiliki gejala atau tanda infeksi saluran napas
bawah dan tidak tersedia spesimen dari saluran napas bawah, maka
harus diambil spesimen nasofaring dan orofaring.
o Jika pada pemeriksaan usap nasofaring hasilnya negative
sementara kasus diduga kuat mengidap MERS-CoV, maka kasus

11
harus menjalani pemeriksaan ulang dengan menggunakan
spesimen
1. Saluran napas bawah
2. Nasofaring ditambah orofaring
3. Serologis (fase akut dan konvalesen)
Konfirmasi laboratorium
Saat ini diperlukan pemeriksaan diagnostik molekuler yang
mencakup satu hasil PCR positif dengan target 2 genom spesifik, atau satu
target positif dengan sequensing pada yang kedua. Akan tetapi,
rekomendasi interim untuk pemeriksaan laboratoris untuk MERS-CoV
harus merujuk pada standar konfirmasi laboratoris terkait.

2.7 Penatalaksanaan
2.7.1 Terapi Penunjang
1. Spesimen saluran napas dan spesimen lainnya untuk pemeriksaan
laboratorium.
a. Spesimen klinis rutin (kultur mikroorganisme sputum dan
darah) pada pasien dengan pneumonia, idealnya sebelum
penggunaan antibiotik.
b. Spesimen dari saluran napas atas (hidung, nasofaring dan/ atau
swab tenggorokan) dan saluran napas bagian bawah (sputum,
aspirat endotrakeal, bilasan bronkoalveolar) dan dilakukan
pemeriksaan virus influenza A dan B,virus influenza A subtipe
H1, H3, dan H5 di negara negara dengan virus H5N1
ditemukan pada unggas (peternakan); RSV, virus
parainfluenza, rhinoviruses, adenonviruses,
metapneumoviruses manusia, dan corona virus baru.
2. Terapi oksigen pada pasien ISPA berat /SARI
a. Berikan terapi oksigen pada pasien dengan tanda depresi napas
berat, hipoksemia (SpO2 <90%) atau syok.
b. Mulai terapi oksigen dengan 5 L/ menit lalu titrasi sampai
SpO2 90% pada orang dewasa yang tidak hamil dan SpO2
92-95% pada pasien hamil.

12
c. Pulse oximetry, oksigen, selang oksigen dan masker harus
tersedia di semua tempat yang merawat pasien ISPA berat/
SARI. Jangan membatasi oksigen dengan alasan ventilatory
drive terganggu.
3. Berikan antibiotik empirik untuk mengobati Pneumonia
Pada pasien pneumonia komunitas (CAP) dan diduga terinfeksi
MERS-CoV, dapat diberikan antibiotik secara empirik (berdasarkan
epidemiologi dan pola kuman setempat) secepat mungkin sampai tegak
diagnosis. Terapi empirik kemudian disesuaikan berdasarkan hasil uji
kepekaan.
4. Gunakan manajemen cairan konservatif pada pasien ISPA berat/ SARI
tanpa syok.
Pada pasien ISPA berat/SARI harus hati-hati dalam pemberian
cairan intravena, karena resusitasi cairan secara agresif dapat
memperburuk oksigenasi, terutama dalam situasi terdapat keterbatasan
ventilasi mekanis.
5. Jangan memberikan kortikosteroid sistemik dosis tinggi atau terapi
tambahan lainnya untuk pneumonitis virus diluar konteks uji klinis.
Penggunaan jangka panjang sistemik kortikosteroid dosis tinggi
dapat menyebabkan efek samping yang serius pada pasien dengan
ISPA berat/ SARI, termasuk infeksi oportunistik, nekrosis avascular,
infeksi baru bakteri dan kemungkinan terjadi replikasi virus yang
berkepanjangan. Oleh karena itu, kortikosteroid harus dihindari kecuali
diindikasikan untuk alasan lain.
6. Pemantauan secara ketat pasien dengan ISPA berat/ SARI bila terdapat
tanda-tanda perburukan klinis, seperti gagal nafas, hipoperfusi
jaringan, syok dan memerlukan perawatan intensif (ICU).

2.7.2 Langkah pencegahan dan pengendalian infeksi


Langkah pencegahan infeksi MERS-CoV sama dengan pencegahan
infeksi pada penyakit flu burung dan Emerging Infectious Disease lainnya
yang mengenai saluran napas. Buku pedoman pencegahan dan
pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya telah

13
disusun oleh Kementerian kesehatan RI. Pedoman ini hanya menggaris
bawahi hal yang penting pengendalian infeksi MERS-CoV. Hal yang
harus dilakukan dalam pengendalian infeksi MERS-CoV:

a. Tindakan pencegahan transmisi droplet.


b. Tindakan pencegahan standar diterapkan pada setiap pasien yang
diketahui atau dicurigai memiliki infeksi pernafasan akut, termasuk
pasien dengan dicurigai, probable atau terkonfirmasi MERS-CoV
c. Pencegahan infeksi dan tindakan pengendalian harus dimulai ketika
pasien masuk triase dengan gejala infeksi pernapasan akut yang
disertai demam.
d. Pengaturan ruangan dan pemisahan tempat tidur minimal 1 meter
antara setiap pasien ISPA dan pasien lainnya yang tidak menggunakan
APD.
e. Pastikan triase dan ruang tunggu berventilasi cukup.
f. Terapkan etika batuk.
g. Tindakan pencegahan airborne digunakan untuk prosedur yang
menimbulkan penularan aerosol. Risiko penularan pada petugas.

2.7.3 Pengobatan dan Vaksin MERS-CoV


Sampai saat ini belum ada terapi yang khusus menangani virus ini,
belum ada pengobatan maupun vaksin. Hanya gejalanya saja yang bisa
diobati. Selain itu, belum ditemukan juga metode pengobatan yang secara
spesifik dapat menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh MERS-CoV
(Gamazi, 2015).

1. Pengobatan anti viral yang spesifik memang belum ada, dan


pengobatan yang dilakukan pun hanya tergantung dari kondisi pasien.
Para pakar sejauh ini telah sepakat bahwa cara pencegahan paling baik
adalah dengan menjaga higienitas badan dan lingkungan. Virus ini
dapat bertahan hidup pada permukaan objek untuk beberapa lama.
Cara pencegahannya adalah dengan melakukan PHBS (Pola Hidup
Bersih dan Sehat), dan juga menghindari kontak erat dengan penderita,
serta menggunakan masker, menjaga kebersihan tangan dengan sering

14
mencuci tangan dengan sabun dan menerapkan etika batuk ketika sakit
juga perlu untuk diterapkan dengan baik pula (Gamazi, 2015).
2. Perawatan medis yang diberikan di rumah sakit hanyalah bersifat
suportif untuk meringankan gejala (Gamazi, 2015).
3. Karena MERS-CoV disebabkan oleh virus yang mirip seperti SARS,
Mers-CoV telah diekstrapolari dari pengalaman dengan wabah SARS
dan beberapa data eksperimen yang masih sangat terbatas. Seperti
SARS, pasien dengan Mers-CoV sering membutuhkan suplementasi
oksigen, dan dalam kasus-kasus yang parah, mereka memerlukan
ventilasi mekanis dan perawatan intensif yang lebih mendukung
(Gamazi, 2015).
4. Beberapa obat telah dicoba untuk menyembuhkan pasien penderita
MERS, namun percobaan itu tak memberikan manfaat yang konklusif,
hingga saat ini penelitian lebih lanjut harus terus dilakukan hingga
akhirnya virus MERS benar-benar bisa dibasmi dan tidk menjangkiti
seluruh dunia lagi (Gamazi, 2015).
5. Obat virus MERS sampai saat ini memang belum ditemukan secara
pasti, padahal penularan virus MERS telah mencapai ke 25 negara.
Sebagai alternatif obat virus MERS, para dokter menggunakan lebih
dari dua lusin jenis obat. Mulai dari obat kemoterapi lini lama hingga
obat malaria, yang kemungkinan besar mampu melawan virus MERS
ini (Gamazi, 2015).

2.8 Komplikasi
Berdasarkan data WHO, kasus MERS-CoV sebagian besar
menunjukkan tanda dan gejala pneumonia. Hanya satu kasus dengan
gangguan kekebalan tubuh (immunocompromised) yang gejala awalnya
demam dan diare, berlanjut pneumonia. Komplikasi kasus MERS-CoV
adalah pneumonia berat dengan gagal napas yang membutuhkan alat bantu
napas non invasif atau invasif, Acute Respiratory Distress Syndrome
(ARDS) dengan kegagalan multi-organ yaitu gagal ginjal, Disseminated
12 Intravascular Coagulopathy (DIC) dan perikarditis. Beberapa kasus
juga memiliki gejala gangguan gastrointestinal seperti diare. Dari seluruh

15
kasus konfirmasi, separuh diantaranya meninggal dunia. Sedangkan
menurut dinkes ponorogo tahun 2014 komplikasi mers adalah pneumonia
berat dengan gagal napas yg membutuhkan alat bantu invasive dan
Noninvasive,acute respiratory distress syndrome (ARDs) dengan
kegagalan multiorgan yaitu gagal ginjal, Disseminated intravascular
coagulopathy(DIC) dan perikarditis. Komplikasi MERS Menurut
Kemenkes RI tahun 2013 adalah:

1. Pneumonia berat dengan gagal napas yang membutuhkan alat


bantu napas non invasive atau invasive;
2. Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan kegagalan
multi organ yaitu gagal ginjal, Disseminated Intravascular
Coagulopathy (DIC); dan
3. Perikarditis.

2.9 Asuhan Keperawatan MERS


2.9.1 Pengkajian
a. Identitas pasien
Meliputi nama, umur, alamat, pekerjaan, pendidikan, jenis
kelamin, agam, dan suku bangsa
b. Keluhan utama
Demam disertai menggigil dan rasa sakit di sekujur badan
penderita, batuk, gangguan pernapasan seperti pneumonia.

2.9.2 Riwayat Kesehatan


a. Riwayat penyakit sekarang
Demam >38 C, batuk, sesak, dan kesulitan bernafas
b. Riwayat penyakit dahulu
Kontak dekat dengan orang yang didiagnosis suspek atau
probable MERS dalam 14 hari terakhir
Riwayat perjalanan ke tempat yang terkena wabah MERS
dalam 14 hari terakhir
Bertempat tinggal di tempat yang terjangkau wabah MERS

16
2.9.3 Pemeriksaan fisik
Untuk pasien dengan MERS, pemeriksaan fisik lebih spesifik
kearah sistem imun dan hematologi, bisa menggunakan pemeriksaan
B6 (Breath, Blood, Brain, Bladder, Bowel, Bone).
2.9.4 Diagnosa keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d. penumpukan secret
b. Gangguan pertukaran gas b.d. penurunan O2 dalam udara inspirasi
c. Hipertermi b.d. perubahan pada regulasi temperature
d. Intoleransi aktivitas b.d. kelemahan, ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan O2
e. Ketidakefektifan perfusi jaringan b.d. hipoksia jaringan.
f. Resiko ketidakseimbangan elektrolit b.d. diare
g. Defisit pengetahuan b.d. penyakit.

2.9.5 Intervensi Keperawatan

Rencana Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan Kriteria Intervensi
Keperawatan
Hasil
Ketidakefektifan NOC : Pastikan
bersihan jalan nafas Respiratory status : kebutuhan
Berhubungan dengan Ventilation oral/tracheal
: Respiratory status : suctioning
Infeksi, Airway patency Anjurkan klien
disfungsi Aspiration control untuk istirahat
neuromuscular, dan nafas dalam
hyperplasia Kriteria hasil : Posisikan klien
dinding bronkus, Mendemonstrasikan untuk
alergi jalan batuk efektif dan memaksimalkan
nafas, asma, suara nafas yang ventilasi
trauma bersih, tidak ada Lakukan
Obstruksi jalan sianosis dan dyspnea fisioterapi dada
nafas : spasme (mampu jika perlu
jalan nafas,

17
sekresi tertahan, mengeluarkan Keluarkan secret
banyaknya sputum, bernafas dengan batuk
mukus, adanya dengan mudah, dan atau suction
jalan nafas tidak ada pursed Auskultasi suara
buatan, sekresi lips) nafas, catat
bronkus, adanya Menunjukkan jalan adanya suara
eksudat di nafas yang paten tambahan
alveolus, adanya (klien tidak merasa Kolaborasi
benda asing di tercekik, irama pemberian
jalan nafas nafas, frekuensi bronkodilator
pernafasan dalam Monitor status
Batasan rentang normal, hemodinamik
Karakteristik : tidak ada suara nafas Atur intake
Suara nafas abnormal) untuk dan output
tambahan Mampu cairan
Perubahan mengidentifikasi dan Monitor
frekuensi mencegah faktor respirasi dan
pernapasan yang penyebab status oksigen
Sianosis Saturasi oksigen pertahankan
Kesulitan dalam batas normal hidrasi yang
berbicara atau Foto thoraks normal adekuat untuk
mengeluarkan mengencerkan
suara secret
Penurunan bunyi Jelaskan kepada
nafas klien dan
Dyspnea keluarga tentang
Batuk yang tidak penggunaan
efektif peralatan :
oksigen, suction,
inhalasi

18
Diagnosa Rencana Keperawatan
Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Gangguan NOC : NIC :
Pertukaran Gas Respiratory status : Gas Posisikan klien
Berhubungan exchange untuk
dengan : Keseimbangan asam basa, memaksimalkan
Ketidakseimban elektrolit ventilasi
gan perfusi Respiratory status : Lakukan fisioterapi
ventilasi ventilation dada jika perlu
Perubahan Vital signs status Keluarkan secret
membrane dengan batuk atau
kapiler alveolar Kriteria Hasil : suction
Mendemonstrasikan Auskultasi suara
Batasan peningkatan ventilasi dan nafas, catat adanya
Karakteristik : oksigenasi yang adekuat suara nafas
pH darah arteri Memelihara kebersihan tambahan
abnormal paru-paru dan bebas dari Atur intake cairan
Pernafasan tanda-tanda distress Monitor respirasi
abnormal pernafasan dan status oksigen
Warna kulit Mendemostrasikan batuk Catat pergerakan
abnormal efektif dan suara nafas dada, amati
Diaphoresis yang bersih, tidak ada kesimetrisan,
Penurunan CO2 sianosis dan dyspnea penggunaan otot
Dyspnea (mampu mengeluarkan tambahan, retraksi
Hiperkapnea sputum, mampu bernafas otot supraclavicular
Hipoksia dengan mudah, tidak ada dan intercostal

Takikardia pursed lips) Monitor suara nafas,


Tanda-tanda vital dalam seperti dengkur
rentang normal Monitor pola nafas
AGD dalam batas normal Auskultasi suara
Status neurologis dalam nafas, catat area

19
batas normal penurunan/tidak
adanya ventilasi dan
suara tambahan
Monitor TTV,
AGD, elektrolit dan
status mental
Observasi sianosis
khususnya
membrane mukosa
Jelaskna kepada
klien dan keluarga
tentang persiapan
tindakan dan tujuan
penggunaan alat
tambahan
Auskultasi bunyi
jantung, irama, dan
denyut jantung

Diagnosa Rencana Keperawatan


Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Hipertermia NOC : NIC :
Berhubungan dengan Thermoregulasi Monitor suhu
: sesering mungkin
Penyakit/trauma Kriteria Hasil : Monitor warna dan
Peningkatan Suhu normal suhu kulit
metabolism Nadi dan RR dalam rentang Monitor tekanan
Aktivitas yang normal darah, nadi, dan RR
berlebih Tidak ada perubahan warna Monitor penurunan

20
Dehidrasi kulit dan tidak ada pusing, tingkat kesadaran
merasa nyaman Monitor intake dan
Batasan output
Karakteristik : Berikan antipiretik
Kulit kemerahan Selimuti klien
Peningkatan suhu Berikan cairan
tubuh diatas suhu intravena
normal Kompres klein pada
Kejang lipat paha dan aksila
Takikardia Tingkatkan sirkulasi
Takipnea udara
Kulit terasa Tingkatkan intake
hangat cairan dan nutrisi
Monitor TD, nadi,
suhu, dan RR
Catat adanya
fluktasi tekanan
darah
Monitor hidrasi
seperti turgor kulit,
kelembaban
membrane mukosa

Rencana Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Intoleransi Aktivitas NOC : NIC :
Berhubungan dengan : Self Care : ADLs Observasi
Tirah baring atau Toleransi adanya
imobilisasi aktivitas pembatasan klien
Kelemahan Konservasi dalam

21
menyeluruh energy melakukan
Ketidakseimbangan aktivitas
antara suplai Kriteria Hasil : Kaji adanya
oksigen dengan Berpartisipasi faktor yang
kebutuhan dalam aktivitas menyebabkan
Gaya hidup fisik tanpa kelelahan
monoton disertai Monitor nutrisi
peningkatan dan sumber
Batasan Karakteristik : tekanan darah, energi yang
Respon tekanan nadi dan RR adekuat
darah abnormal Mampu Monitor pasien
terhadap aktivitas melakukan akan adanya
Respon frekuensi aktivitas sehari kelelahan fisik
jantung abnormal hari (ADLs) dan emosi secara
terhadap aktivitas secara mandiri berlebihan
Dyspnea setelah Keseimbangan Monitor respon
beraktivitas aktivitas dan kardivaskuler
Menyatakan merasa istirahat terhadap
letih Tanda-tanda vital aktivitas
kembali normal (takikardi,
disritmia, sesak
nafas, diaporesis,
pucat, perubahan
hemodinamik)
Monitor pola
tidur dan
lamanya
tidur/istirahat
pasien
Kolaborasikan
dengan Tenaga
Rehabilitasi

22
Medik dalam
merencanakan
progran terapi
yang tepat.
Bantu klien
untuk
mengidentifikasi
aktivitas 20 yang
mampu
dilakukan
Bantu untuk
memilih aktivitas
konsisten yang
sesuai dengan
kemampuan
fisik, psikologi
dan sosial
Bantu untuk
mengidentifikasi
dan mendapatkan
sumber yang
diperlukan untuk
aktivitas yang
diinginkan
Bantu untuk
mendapatkan alat
bantuan aktivitas
seperti kursi roda
Bantu untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang
disukai

23
Bantu klien
untuk membuat
jadwal latihan
diwaktu luang
Bantu
pasien/keluarga
untuk
mengidentifikasi
kekurangan
dalam
beraktivitas
Sediakan
penguatan positif
bagi yang aktif
beraktivitas
Bantu pasien
untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
Monitor respon
fisik, emosi,
sosial dan
spiritual

Rencana Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan Intervensi
Keperawatan
Kriteria Hasil
Ketidakefektifan NOC : NIC :
perfusi jaringan Circulation Monitor adanya
perifer Status daerah tertentu yang

24
Berhubungan dengan Tisue Perfusion : hanya peka terhadap
: Cerebral panas/dingin/tajam/tu
Hipoksia jaringan mpul
Penurunan Kriteria Hasil : Batasi gerakan kepala,
saturasi oksigen Tekanan sistole leher dan punggung
dan diastole Monitor kemampuan
Batasan dalam rentang BAB
Karakteristik : yang diharapkan Kolaborasi pemberian
Tidak ada nadi Tidak ada tanda- analgesik
Perubahan fungsi tanda
motoric peningkatan
Perubahan tekanan
karakteristik kulit intrakranial
(warna,
elastisitas, kuku,
sensasi, suhu)
Perubahan
tekanan darah di
ekstremitas
Kelambatan
penyembuhan
luka perifer
Penurunan nadi
Edema

Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan


Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Defisit Pengetahuan : NOC : Teaching : disease
Keterbatasan Kowlwdge Process
kognitif : disease Berikan

25
Interpretasi process penilaian
terhadap informasi Kowledge : tentang
yang salah health tingkat
Kurangnya Behavior pengetahuan
keinginan untuk Kriteria Hasil : pasien
mencari informasi Pasien dan tentang
Tidak mengetahui keluarga proses
sumber-sumber menyatakan penyakit
informasi. pemahaman yang spesifik
Batasan Karakteristik : tentang Jelaskan
Memverbalisasikan penyakit, patofisiologi
adanya masalah kondisi, dari penyakit

Ketidakakuratan prognosis dan

mengikuti instruksi dan bagaimana

Perilaku tidak program hal ini

sesuai. pengobatan berhubungan


Pasien dan dengan
keluarga anatomi dan
mampu fisiologi,
melaksanak dengan cara
an prosedur yang tepat.
yang Gambarkan
dijelaskan tanda dan
secara gejala yang
benar biasa muncul
Pasien dan pada
keluarga penyakit,
mampu dengan cara
menjelaska yang tepat
n kembali Gambarkan
apa yang proses
dijelaskan penyakit,

26
perawat/tim dengan cara
kesehatan yang tepat
lainnya Identifikasi
kemungkina
n penyebab,
dengna cara
yang tepat
Sediakan
informasi
pada pasien
tentang
kondisi,
dengan cara
yang tepat
Hindari
harapan yang
kosong
Sediakan
bagi
keluarga
informasi
tentang
kemajuan
pasien
dengan cara
yang tepat
Diskusikan
perubahan
gaya hidup
yang
mungkin
diperlukan

27
untuk
mencegah
komplikasi
di masa yang
akan datang
dan atau
proses
pengontrolan
penyakit
Diskusikan
pilihan terapi
atau
penanganan
Dukung
pasien untuk
mengeksplor
asi atau
mendapatkan
second
opinion
dengan cara
yang tepat
atau
diindikasikan
Eksplorasi
kemungkina
n sumber
atau
dukungan,
dengan cara
yang tepat
Rujuk pasien

28
pada grup
atau agensi
di komunitas
29ocal,
dengan cara
yang tepat
Instruksikan
pasien
mengenai
tanda dan
gejala untuk
melaporkan
pada
pemberi
perawatan
kesehatan,
dengan cara
yang tepat.

2.10 Asuhan Keperawatan Kasus


2.10.1 Kasus
Tn. A berusia 60 tahun datang ke RS dr. Soetomo bersama istrinya
dengan keluhan sesak, sering batuk-batuk disertai demam, dan pusing. Tn.
A berprofesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia di negara Arab Saudi selama
20 tahun dan Tn. A mengalami gejala ini sejak 3 hari yang lalu saat setelah
kepulangan dari tempat Tn.A bekerja. Hasil pemeriksaan TTV : TD
130/90, nadi : 123x/menit, RR : 40x/menit, suhu : 39oC.

2.10.2 Pengkajian
a. Data Demografi
Nama : Tn. A

Usia : 60 tahun

29
Jenis kelamin : Laki-laki

Alamat : Undaan, Surabaya

Agama : Islam

Pekerjaan : TKI di Arab Saudi

Suku bangsa : Jawa

b. Keluhan Utama
Keluhan yang paling dirasakan oleh Tn. A adalah sesak nafas dan
demam tinggi 39oC.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Tn. A berumur 60 tahun datang ke RS dr. Soetomo bersama
istrinya dengan keluhan sesak, sering batuk-batuk disertai demam, dan
pusing. Tn. A mengalami gejala ini sejak 3 hari yang lalu saat setelah
kepulangan dari tempat Tn.A bekerja.
d. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Tn. A tidak memiliki penyakit sebelumnya.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tn. A tidak memiliki riwayat penyakit tertentu yang diturunkan
dan atau ditularkan.

2.10.3 Pemeriksaan Fisik


Breath (B1)
Terjadi retraksi otot-otot interkostalis, terjadi penggunaan otot
bantu pernapasan (otot-otot abdomen), frekuensi pernapasan RR
40 x/menit (takipnea), batuk produktif, sputum berwarna kuning
kental, ada pernapasan cuping hidung, terdapat bunyi crackles
pada kedua daerah paru, fase ekspirasi lebih panjang.
Blood (B2)
Suara jantung S1/S2 irama tunggal, nadi = 123x/menit (takikardi),
tekanan darah = 130/90 mmHg, akral dingin, konjungtiva
berwarna pucat, demam tinggi dengan suhu 39oC
Brain (B3)
Tingkat Kesadaran GCS : Composmentis (4-5-5),

30
Bladder (B4)
Pola eliminasi urin = 2x/hari, volume output = 800cc/hari, warna
urin kuning pekat, intake 1.600 cc/hari.
Bowel (B5)
Klien kadang terasa mual dan nafsu makan menurun.
Bone (B6)
Tn. A merasa letih dan terjadi kelemahan otot pada Tn. A

2.10.4 Pemeriksaan Penunjang


Hasil pemeriksaan X-ray: terdapat bercak infiltrate pada kedua
lobus kiri dan kanan paru, terutama pada lobus basalis.
Dari pemeriksaan Laboratoriun kultur dahak : (+) terdapat virus
MERS CoV dan (+) Mycoplasma Pneumoniae.

2.10.5 Analisa Data


Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS: Virus MERS Ketidakefektifan
Tn. A mengeluh Bersihan Jalan Nafas
sesak napas dan Masuk melalui saluran (00031)
batuk. nafas Domain 11.
DO: Keamanan/Perlindungan
RR 40x/menit, dahak Infeksi saluran nafas Kelas 2. Cedera Fisik
purulen dan bawah (parenkim paru)
berwarna
kekuningan, Antigen-antibodi
kontraksi otot berikatan dengan
aksesoris molekul komplemen
pernapasan, dan
pernapasan cuping Aktivasi sel mast dan
hidung. basofil

Pelepasan histamin dan


bradikinin

31
Aktivasi proses
fagositosis

Penumpukan fibrin,
eksudat, ritrosit dan
leukosit

Penumpukan sekret pada


bronkus

Mengganggu jalan napas


DS: Virus MERS Hipertermi (00007)
Tn. A mengeluhkan Domain 11.
badannya yang Masuk melalui saluran Keamanan/Perlindungan
demam tinggi nafas Kelas 6. Termoregulasi
DO:
Suhu Tn. A : 390C Infeksi saluran nafas
bawah (parenkim paru)

Antigen-antibodi
berikatan dengan
molekul komplemen

Aktivasi sel mast dan


basofil

Pelepasan histamin dan


bradikinin

Aktivasi proses
fagositosis

32
Penumpukan fibrin,
eksudat, ritrosit dan
leukosit

Pelepasan pirogen
(sitokin)

Merangsang saraf vagus

Sinyal terkirim ke SSP

Merangsang hipotalamus

Meningkatkan suhu
DS: Virus MERS Intoleransi Aktivitas
Tn. A mengeluh (00092)
kelelahan dan badan Masuk melalui saluran Domain 4.
terasa lamas. nafas Aktivitas/Istirahat
DO: Kelas 4. Respons
Tn.A nampak lemah Infeksi saluran nafas Kardiovaskular/Pulmonal
dan letih, bawah (parenkim paru)
konjungtiva tirlihat
pucat Respon hormonal

Antigen-antibodi
berikatan dengan
molekul komplemen

Aktivasi sel mast dan


basofil

33
Pelepasan histamin dan
bradikinin

Aktivasi proses
fagositosis

Penumpukan fibrin,
eksudat, ritrosit dan
leukosit

Pelepasan pirogen
(sitokin)

Merangsang saraf vagus

Sinyal terkirim ke SSP

Merangsang hipotalamus

Metabolisme meningkat

Peningkatan penggunaan
energi

Keletihan

2.10.6 Diagnosa Keperawatan


a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d penumpukan sekret pada
bronkus
b. Hipertemi b.d rangsangan hipotalamus untuk meningkatkan suhu
c. Intoleransi aktivitas b.d keletihan akibat peningkatan penggunaan energy

34
2.10.7 Intervensi Keperawatan

Diagnosa
Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas (00031)
Domain 11. Keamanan/Perlindungan
Kelas 2. Cedera Fisik
NOC NIC
Dalam waktu 2x24 jam klien dapat Manajemen Jalan Nafas (3140)
meningkatkan bersihan jalan nafas 1. Kolaborasikan dengan tim medi
dengan outcomes: tentang pemeberian terapi
Status Respirasi : Kepatenan Jalan oksigenasi.
Nafas (0410) 2. Kolaborasikan denga tim medis
1. Klien menunjukkan RR normal untu terapi Tn.A dengan
(16-20x/menit) pemberian obat Ribavirin dan
2. Klien mampu mengeluarkan obat-obatan lainnya
sekret 3. Ajarkan klien untuk melakukan
3. Batuk yang dialami klien sudah batuk efektif
mereda 4. Lakukan fisioterapi dada
4. Tidak terdapat akumulasi sputum 5. Monitor terhadap status
5. Klien tidak mengalami dyspnea, oksigenasi dan pernafasan serta
baik ketika istirahat maupun suara nafas klien
beraktivitas

Diagnosa
Hipertermi (00007)
Domain 11. Keamanan/Perlindungan
Kelas 6. Termoregulasi
NOC NIC
Dalam waktu 1x24 jam, klien dapat Regulasi Suhu (3900)
menurunkan suhu tubuhnya dengan 1. Melakukan monitor suhu badan
outcomes: klien
Termoregulasi (0800) 2. Melakukan monitor terhadap TTV

35
1. Klien menunjukkan suhu tubuh klien (TD, RR, nadi)
yang normal (35,9oC-37,6oC) 3. Memberikan intake cairan dan
2. Klien sudah tidak mengalami nutrisi yang cukup untuk klien
pusing lagi 4. Melakukan kolaborasi dengan
3. Klien tidak mengalami dehidrasi dokter untuk memberikan
Keparahan Infeksi (0703) antipiretik
1. Klien tidak menghasilkan sputum Kontrol Infeksi (6540)
yang purulen 1. Melakukan edukasi kepada klien
2. Klien tidak mengalami penurunan dan keluarga mengenai cara
berat badan menghindari infeksi
2. Mengajarkan klien dan kelurga
mengenai cuci tangan yang
baikdan benar
3. Memberikan klien waktu istirahat
yang cukup

Diagnosa
Intoleransi Aktivitas (00092)
Domain 4. Aktivitas/Istirahat
Kelas 4. Respons Kardiovaskular/Pulmonal
NOC NIC
Dalam waktu 3x24 jam, klien dapat Manajemen Energi (0180)
melakukan aktivitasnya kemblai dengan 1. Mengajarkan klien untuk
outcomes : mengatur aktivitas dan
Toleransi Aktivitas (00005) manajemen waktu untuk
1. Klien mampu menjalankan ADLs mencegah terjadinya kelelahan
(Activity of Daily Living) seperti 2. Bantu klien untuk
biasa mengidentifikasi aktivitas yang
2. Tanda-tanda vital klien normal dapat dilakukannya
ketika melakukan aktivitas 3. Melakukan monitor jika terjadi
Koservasi Energi (00002) kelelahan yang berlebihan pada

36
1. Klien mampu menyeimbangkan klien
antara kebutuhan istirahat dan
aktivitas
2. Klien mampu mengatur
aktivitasnya sesuai dengan
kemampuannya

2.10.8 Evaluasi
a. S = Klien mengatakan bahwa dapat bernapas dengan lega dan dapat
mengeluarkan dahak dengan baik.
O = Klien nampak segar, tidak ada tanda-tanda anemia (Konjungtiva
merah, wajah tampak segar)
A = Laporan subjektif dan objektif memuaskan, kriteria hasil tercapai,
masalah teratasi secara keseluruhan.
P = intervensi diberhentikan.
b. S = Klien mengatakan tidak ada masalah tentang suhu tubuhnya.
O = Klien nampak segar dan suhu tubuh klien menjadi normal (36,5oC).
A = Laporan subjektif dan objektif memuaskan, kriteria hasil tercapai,
masalah teratasi keseluruhan.
P = Intervensi diberhentikan.
c. S = Klien mengatakan bahwa dirinya mampu beraktifitas kembali dengan
normal.
O = Klien nampak bugar dan aktif dalam menjalankan aktivitasnya.
A = Laporan subjektif dan objektif memuaskan, kriteria hasil tercapai,
masalah teratasi keseluruhan.
P = Intervensi diberhentikan.

37