Anda di halaman 1dari 1

BERBAIAT SETIA KEPADA RASULULLAH SAW

Oleh : Hasanul Rizqa

Pada Dzulqodah tahun ke enam hijriah, Nabi Muhammad Rasulullah SAW beserta para sahabat
hendak mengunjungi Makkah. Mereka berencana menunaikan umrah sekaligus melihat sanak
keluarga yang telah lama ditinggalkan.

Begitu sampai di Hudaibiyah, Rasulullah mengutus Utsman bin Affan kepada pendududk Makah
demi mengabarkan maksud kedatangan kaum Muslim. Sesampainya di sana, Utsman justru ditahan
kaum Musyrik Makkah.

Karena itu, Rasulullah SAW mengumpulkan kaum Muslim. Di bawah kerindangan pohon, mereka
bersumpah kepada Nabi SAW untuk memerangi kaum Musyrik dengan teguh hingga kemenangan
tercapai. Ubadah bin ash-Shamit merupakan salah seorang sahabat yang melakukan sumpah setia itu.

Dalam Surah al-Fathaya 18-19, Allah SWT meridhai orang orang Mukmin yang telah berbaiat
tersebut. Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang orang mukmin ketika mereka berjanji
setia kepadmu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu
menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang
dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan, adalah Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Hati kaum Musrik menciut begitu mendengar kabar baiat kaum Muslim. Oleh karena itu, mereka
melepaskan Utsman bin Affan dan mengadakan perjanjian damai. Sejarah mencatatnya sebagai
Perjanjian Hudaibiyah.

Pada masa Rasulullah SAW, Ubadah bin ash-Shamit ditunjuk menjadi penanggung jawab harta
sedekah. Namun, dia juga yang tampail ke depan menghadapi fitnah kaum munafik.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, Abdulah bin Ibay berhasil menghasut Bani Qainuqa sehingga mau
memerangi Islam. Padahal ada perjanjian yang setia mengikat antara mereka dan kaum Muslim.

Ubadah lantas menantang kaum Bani Qainuqa dan mencabut perjanjian setia tersebut dari mereka.
Atas peristiwa ini, firman Allah SWT turun, yakni surah al-Maidah ayat ke-51. Hai orang orang
yang beriman, janganlah kamu mengambil orang orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin
pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa
diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golongan mereka. Sesunggguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.