Anda di halaman 1dari 1

MEMBANTU SESAMA

Oleh : Imam Nawawi

Jika ada amalah yang Allah cintai, Rasulullah anjurkan di luar ibadah, seperti shalat, puasa, zikir dan
liannya, maka hal itu adalah amalan membantu sesama.

Anas bin Malik berkata, Suatu ketika kami bersama Nabi, dan yang paling banyak bernaung di
natara kami adalah orang yang bernaung dengan pakaiannya. Adapun orang-orang yang berpuasa,
mereka tidak melakukan apapun. Sementara orang orang yang berbuka [tidak berpuasa], mereka
mengirim unta tunggangan, bekerja dan mengobati. Nabi kemuadian bersabda orang orang yang
berbuka pada hari ini memborong pahala [HR. Bukhori].

Dalam hal ini sosok Abu Bakar Ash-Shidiq adalah teladan yang luar biasa. Dalam sehari beliau bisa
melakukan lebih dari satu amalan yang hubungannya sangat kuat dengan semangat membantu
sesama.

Suatu hari Rasulullah bertanya, Siapa di antara kamu yang berpuasa hari ini ?, Abu Bakar
menjawab, Aku. Rasulullah bertanya lagi, Siapa di antara kalian yang telah mengikuti pemakaman
hari ini? Abu Bakar berkata, Aku.

Rasulullah berkata lagi, Siapa di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini, Abu
Bakar berkata, Aku. Rasulullah bertanya lagi, Siapakah di antara kalian yang menjenguk orang
sakit hari ini? Abu Bakar menjawab, Aku. Rasulullah kemudian berkata, Jika terkumpul seluruh
amalan pada seseorang (seperti ini), niscaya ia akan masuk surga. [HR. Muslim].

Melalui hadis di atas, seolah-olah Rasulullah menyampaikan pesan tersirat bahwa puasa tidak
semestinya menghalangi seseorang aktif membantu sesama. Apalagi merasa puas hanya karena telah
tekun menjalankan ibadah puasa.

Siapa yang bisa membantu sesama dalam beragam hal, seperti membantu peamakaman sesama yang
meninggal, memberi makan orang miskin dan menjenguk orang sakit maka derajatnya akan lebih
tinggi disisi Allah dan Rasul-Nya.

Dan, lingkup membantu sesama tidak sebatas pada penjelasan di atas. Anas bin Malik bertutur, kami
menegjar seekor kelinci di Marruzhi Zhahran, orang-orang berlari mengejarnya sampai lelah, lalu aku
berlari hingga berhasil menangkapnya. Aku kemudian menyerahkannya kepada Abu Thalhah. Abu
Thalhah kemudian mengirimkan pantat atau pahanya kepada Nabi, lalu beliau menerimanya [HR.
Bukhari].

Dengan kata lain, banyak hal yang bisa kita raih untuk mendapatkan keutamaan di sisi Allah dengan
menumbuhkan semangat membantu sesama. Seperti memberikan kesempatan lebih dahulu kepada
sesama pengguna jalan atau menyingkirkan gangguan air di jalan dan lain sebagainya.

Demikianlah kedudukan amal membantu sesama dalam Islam. Rasulullah bersabda, Siapa yang ingin
diselamatkan oleh Allah dari kesulitan pada Hari Kiamat, hendaklah memberikan kemudahan kepada
orang yang kesulitan [HR. Muslim].

Kini pintu peudli, berbagi membantu sesama sangat terbuka lebar. Ada saudara kita yang ditimpa
musibah gempa, ada yang menghadapi pembantaian, ada yang dililit hutang dan kemiskinan serta ada
yang diperlakukan tidak manusiawi. Inilah kesempatan kita untuk meraih ridha dan surga_nya dengan
gemar mebantu sesama.