Anda di halaman 1dari 21

Makalah Oral Biology

Komposisi, Biokimia, dan Fisiologi


Saliva

Disusun Oleh :

Marta Rayani. S 04101004082

Zulfikar Lafran 04101004083

Elini Febriani 04101004084

Program Studi Kedokteran Gigi

Fakultas Kedokteran

Universitas Sriwijaya

Tahun Ajaran 2011/2012


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan rahmatnya kami dapat menyelesaikan Makalah Oral Biology yang berisi Komposisi,
Biokimia, dan Fisiologi Saliva tepat pada waktunya. Makalah Oral Biology ini kami buat
dengan tujuan agar kita semua bisa lebih memahami komposisi atau kandungan yang terdapat
dalam saliva, biokimia saliva termasuk sekresi protein saliva serta enzim yang berperan, dan
fungsi fisiologis dari saliva. Pembuatan makalah ini kami lakukan melalui pencarian literatur
ataupun studi pustaka yang sumbernya dapat dipercaya.
Dengan demikian kami mengharapkan agar para pembaca makalah ini, baik
para dokter, dosen pengasuh, mahasiswa - mahasiswi dan para masyarakat awam dapat
memahami serta mengerti pemahaman mengenai Komposisi, Biokimia, dan Fisiologi Saliva
lebih mendalam. Penulis menyadari bahwa makalah ini mungkin masih jauh dari sempurna,
untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran sehingga mendapatkan perbaikan dimasa
mendatang.
Akhir kata penulis ucapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat, baik untuk diri penulis
sendiri maupun untuk para pembaca.

Palembang, 22 September 2011

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Saliva adalah suatu cairan kompleks yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar
saliva mayor dan minor yang ada pada mukosa rongga mulut. Tiga kelenjar mukosa mayor
yaitu parotis, submandibularis, dan sublingualis. Sementara yang termasuk kelenjar saliva
minor adalah kelenjar ludah kecil yang terdapat dalam mukosa pipi, bibir, palatum dan
glosopalatal. Saliva adalah bagian dari rongga mulut yang sangat perlu untuk diketahui
beberapa sifat yang ada di dalamnya termasuk juga komposisi, biokimia, dan fungsi yang ada
di dalamnya.
Pengetahuan saliva adalah dasar dari sebuah penatalaksanaan setiap kasus yang ada si
dalam rongga mulut, maka sangat perlu sekali memahami akan beberapa karakteristik dari
saliva itu sendiri.

1.2.TUJUAN
1. Untuk mengetahui Komposisi Saliva
2. Untuk mengetahui Biokimia Saliva
3. Untuk mengetahui Fisiologi Saliva
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Saliva adalah cairan eksokrin yang terdiri dari 99% air, berbagai elektrolit yaitu
sodium, potasium, kalsium, kloride, magnesium, bikarbonat, fosfat, dan terdiri dari protein
yang berperan sebagai enzim, immunoglobulin, antimikroba, glikoprotein mukosa, albumin,
polipeptida dan oligopeptida yang berperan dalam kesehatan rongga mulut.
Kelenjar saliva mayor yang terdiri dari kelenjar parotis, kelenjar sublingual dan
kelenjar submandibular menghasilkan 95% total volume saliva, sedangkan sebagian kecil
dihasilkan oleh kelenjar saliva minor yang terdiri dari kelenjar vonEbner, dan kelenjar yang
terletak di bawah mukosa bibir bawah, lidah, palatum, bukal dan faring (Lavelle, 1988;
Amerongen, 1991; Ferguson, 1999).

I. Komposisi Saliva
Komposisi saliva bervariasi tergantung pada waktu siang dan malam hari, sifat dan
besar stimulus, keadaan psikis orang yang diteliti, diet, kadar hormon, gerak badan dan obat.
Komponen saliva, yang dalam keadaan larut disekresi oleh kelenjar saliva, dapat dibedakan
dalam komponen anorganik dan (bio)organik (Amerongen, 1991).

Komposisi yang terkandung dalam saliva adalah:


1. Komponen Organik
Saliva terdiri dari banyak komponen organik dengan fungsi berbeda, seperti reaksi enzimatis,
pelapisan permukaan jaringan, perlindungan terhadap jaringan gigi dan kontrol pertumbuhan
jaringan (Bradley, 1995). Komponen saliva yang paling utama adalah protein. Selain itu,
terdapat komponen lain seperti asam lemak, lipid, glukosa, asam amino, ureum dan amoniak.
Protein yang secara kuantitatif penting adalah amilase, protein kaya prolin, musin dan
imunoglobulin (Amerongen, 1991).
1) Enzim saliva
Amilase: Amilase merupakan protein saliva konsentrasi tinggi. Amilase adalah enzim
pencernaan yang terutama diproduksi oleh kelenjar parotis dan submandibular. Amilase
mengubah tepung kanji dari glikogen menjadi kesatuan karbohidrat yang lebih kecil dan
akibat pengaruh amilase, polisakarida dapat dicerna dengan mudah (Amerongen, 1991).
Lisozim: Lisozim mempunyai fungsi proteksi terhadap bakteri yaitu berperan aktif
menghancurkan dinding sel bakteri Gram positif dan sangat efektif dalam melisiskan
bakteri. Pada saliva, lisozim berasal dari kelenjar parotis, kelenjar submandibular dan
kelenjar sublingual (Bradley.1995).
Asam fosfatase: buffer saliva dan anti pelarutan saliva.
Lipase: sekresi kelenjar lingual untuk pencernaan lemak
Peroksida: Peroksida berperan sebagai sistem antibakteri yang banyak hadir pada
kelenjar parotis, terdiri dari hidrogen peroksida, tiosanat dan laktoproksidase (Rensburg,
1995). Sistem ini menghambat produksi asam dan pertumbuhan bakteri streptokokus dan
laktobasilus yang ikut menjaga pH rongga mulut sekaligus mengurangi terjadinya karies
akibat asam yang dihasilkan oleh bakteri (Grant, et al., 1988).
Kalikerein: mengubah serum beta globulin menjadi bradikmin yang gunanya untuk
vasodilatasi untuk meningkatkan sekresi kelenjar Amilase.
2) Mucin
Jika fungsi utama saliva adalah lubrikasi, kandungan organic yang paling penting mucin
atau mukoprotein. Biasanya merupakan glycoprotein yang mengandung lebih dari 40%
karbohidrat, bertindak sebagai lubrikan pada permukaan epitel seluruh traktus digestive.
Mereka memiliki protein core dengan oligosakarida pada rantainya, dilekatkan oleh O-
glycosidic linkage. Dua prinsip mucin dari kelenjar saliva submandibular adalah terisolasi
dan memiliki kareakteristik. Mereka dikenal dengan MG1 dan MG2. MG2 lebih kecil,
memiliki ukuran molekul 200-250 kDa sedangkan MG1 lebih besar memiliki ukuran diatas
1000kDa. Protein core MG2 adalah rantai peptide tunggal dengan threonin, proline, serine
dan alanin sebagai asam amino mayor. Rantai peptide ini account sekitar 30% molekul dan
karbohidrat dengan beberapa 170 rantai pendek oligosakarida melekat seperti bristle of
bottlebrush. Mucin yang besar memiliki protein core yang dengan komposisi dasar yang
sama dengan MG2, tapi account ini hanya unutk 15% dari berat total. Rantai oligisakarida
lebih besar dari MG2, bervariasi antara 4 dan 16 residu gula. Dalam mukoprotein residu
karbohidrat termasuk fucose dan N-acetiglukosamin serta N-asetilgalaktosamin dalam jumlah
besar. Molekul panjang MG1 berkontribusi dalam sifat lubrikasi dari saliva.
3)Immunoglobulin
Immunoglobulin terlibat pada sistem penolakan fisik dan agen antibakteri. Immunoglobulin
terdiri dari sebagian besar IgA sekretorik (SIgA) dan sebagian kecil IgM dan IgG. Aktivitas
antibakteri SIgA yang terdapat dalam mukosa mulut bersifat mukus dan bersifat melekat
dengan kuat, sehingga antigen dalam bentuk bakteri dan virus akan melekat erat dalam
mukosa mulut yang kemudian dilumpuhkan oleh SIgA. Bakteri mulut yang diselubungi oleh
SIgA lebih mudah difagositosis oleh leukosit (Amerongen, 1991; Rensburg, 1995). S-IgA
terbanyak di hasilkan kelenjar parotis.85 % saliva mayor dan 30%-35% saliva minor. Fungsi
immunoglobulin adalah penetralisir virus,antibodi terhadap antigen bakteri dan makanan,dan
pertahanan rongga mulut dan saluran cerna.
4) Protein Kaya Prolin
Parotis dan submandibular mengandung glikoprotein yang kaya akan prolin. ; juga
memiliki karbohidrat sekitar 40% pada molekulnya. Glikoprotein yang kaya prolin ini
memiliki rantai peptide tunggal dengan enam unit oligosakarida yang melekat. Perannya
dalam lubrikasi kecil. Protein kaya prolin membentuk suatu kelas protein dengan berbagai
fungsi penting yaitu mempertahankan konsentrasi kalsium di dalam saliva agar tetap konstan
yang menghambat demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi (Amerongen, 1991).
5) Mukus Glikoprotein
Mukus glikoprotein merupakan lapisan pada rongga mulut yang berfungsi dalam lubrikasi
jaringan rongga mulut, pengatur interaksi antara epitel permukaan dengan lingkungan luar
dan perangkap bakteri.
6) Hormon
Parotin: proses kalsifikasi dan pemeliharaan kadar kasium serum
Faktor pertumbuhan saraf:tumbuh dan pembentukan saraf simpatik
7) Karbohidrat
Sebagai ikatan dalam protein saliva dimana konsentrasi sama dengan darah
8) Laktoferin
Laktoferin merupakan hasil produksi sel epitel kelenjar dan leukosit PMN yang mempunyai
efek bakterisid yang merupakan salah satu fungsi proteksi terhadap infeksi mikroorganisme
ke dalam tubuh manusia (Roth dan Calmes, 1981). Laktoferin juga mengikat ion ion Fe+,
yang diperlukan bagi pertumbuhann bakteri (Amerongen, 1991).
9) Laktoperoksidase
Laktoperoksidase menkatalisis oksidasi tiosanat menjadi hipotiosianat yang mampu
menghambat pertumbuhan dan pertukaran zat bakteri (Amerongen, 1991).
10) Gustin
Gustin berfungsi dalam proses kesadaran pegecap (Amerongen, 1991).
11) Nitrogen
Hasil degradasi dari protein mikroba,darah,metabolisme KH,dan beberapa vitamin larut air .
12) Komponen organik yang lain
Substansi-substansi golongan darah
Sekitar 805 dari komunitas barat mensekresikan substansi-substansi golongan darah dari
golongan darah AOB ke dalam saliva mereka. Antigen golongan darah lainnnya, dengna
pengecualian lewis A dan lewis B, tidak disekresikan, walaupun Lewis A juga
disekresikan oleh subjek sebaliknya status non-sekretor. Saliva kelenjar parotid tidak
mengandung substansi-substansi golongan darah. Antigen golongan darah sebagian besar
karbohidrat dengan sejumlah kecil protein, termasuk substansi H yang dihasilkan oleh
orang dengan golongan darah O sebaik substansi A dan B. Sifat saliva ini kadang-kadang
penting untuk forensik.
Gula
Sejumlah kecil gula ditemukan pada saliva, konsentrasi glukosa mengikuti plasma
glukosa tapi kadang-kadang seratus kali lebih kecil.
Lipid
Lipid yang terkandung dalam saliva sangat rendah tapi itu termasuk hormon steroid. Hal
ini sangat penting untuk dua alasan : ada fakta bahwa estrogen dan testosteron
mempengaruhi populasi bakteri oral, dan faktanya bentuk ikatan non-protein steroid dapat
memberikan jalan masuk saliva yang berarti bahwa steroid yang terdapat dalam saliva
dapat diuji untuk memperoleh ukuran dari konsentrasi steroid bebas dalam plasma. Hal ini
berarti bahwa kumpulan non-invasif dari seluruh saliva dapat digunakan untuk mengontrol
level hormon plasma.
Asam amino, ammonia, urea, sialin
Diantara komponen-komponen lainnya dari saliva adalah asam amino, sebuah tetrapeptida
yang dinamakan sialin dengan komposisi GGKR (gly-gly-lys-arg), urea, asam urea,
amonia, dan kreatinin. Urea siap dipecah dengan lempengan urea untuk menghasilkan
amonia, sialin juga diubah ke dalam amonia dalam plak, dan amonia ada dengan
sendirinya. pH dental plak tampak dimunculkan amonia dari tiga sumbr ini , ini
menyediakan produksi sebuah kombinasi asam plak dan perbaikan lebih plak alkalin
selama periode berpuasa.

2. Komponen Anorganik
Komponen anorganik yang terdapat di dalam saliva berupa ion kalsium, magnesium,
fluorida, HCO3, kalium, natrium, klorida, NH4, CO2,N2,dan O2. Selain itu terdapat gas
seperti karbondioksida, nitrogen dan oksigen (Rensburg, 1995). Dari kation yang terdapat di
dalam saliva, natrium dan kalium memiliki konsentrasi tertinggi. Komponen terpenting dalam
saliva: natrium dan kalium juga anion cl,bikarbonat. Air dan komponen ionik berasal dari
plasma darah tetapi konsentrasinya tidak sama.
Klorida sangat penting untuk aktivitas enzimatik amilase. Kalium dan fosfat yang
terkandung dalam saliva sangat penting untuk remineralisasi email. Kadar fluorida di dalam
saliva dipengaruhi oleh konsentrasi fluorida di dalam air minum dan makanan. Tiosianat
merupakan suatu gen antibakteri yang bekerja sama dengan sistem laktoperoksidase.
Bikarbonat atau Hidrogen Karbonat (HPO42-) adalah ion bufer terpenting dalam saliva. Dalam
saliva yang dirangsang, ion ini menghasilkan 85% dari kapasitas bufer dalam sistem fosfat
14%. Konsentrasi bikarbonat pada kelenjar parotis dan kelenjar submandibular meningkat
dengan meningkatnya aliran saliva (Amerongen, 1991).
a. Kalsium dan fosfat
Pada komposisi ion, tiga ion yang paling penting dalam saliva adalah kalsium, fosfat,
dan hidrogen karbonat kalsium dan fosfat penting karena membantu mencegah dissolution
dari enamel sedangkan hidrogen karbonat penting karena bersifat buffer. Selain itu ada dua
ion lain yang juga berperan dalam melindungi permukaan enamel : fluoride karena
kemampuannya bersubstitusi menjadi hydroxyapatite lattice, dan thiocyanate karena
aktivitas antibacterialnya ketika diubah menjadi hypothiocyanate oleh salivary
lactoperoxidase.
Kalsium dan fosfat yang terdapat di dalam unstimulated saliva : 1,4 mmol/l dan 6
mmol/l, sedangkan di dalam stimulated saliva : 1,7 dan 4 mmol/l. Kalsium dalam bentuk
ion banyaknya sekitar 50 % dalam saliva sekitar 40 % bergabung dengan ion lain dan
10 % terikat dengan protein saliva. Fosfat, hampir seluruhnya dalam bentuk ion
kemungkinan 10 % menjadi organik fosfat. Konsentrasi fosfat menurun dengan
meningkatnya aliran saliva.
Peningkatan pH atau peningkatan konsentrasi kalsium atau fosfat dapat menyebabkan
pengendapan garam kalsium yang membentuk kalkulus. Konsentrasi kalsium dalam saliva
dapat berubah-ubah pada kecepatan aliran (flow) yang berbeda. Sewaktu konsentrasi
kalsium meningkat bersama kecepatan aliran pada saat sekresi, saliva akan memiliki
sejumlah kecil dari saliva submandibularis dan jumlah yang lebih besar dari saliva parotis
dengan kecepatan aliran yang tinggi. Saliva parotis hanya mempunyai konsentrasi kalsium
setengah dari yang ada pada saliva submandibula. Konsentrasi fosfat dalam saliva justru
cenderung berkurang pada kecepatan aliran yang tinggi. Mungkin dikarenakan fosfat yang
disekresikan di dalam duktus dan semakin cepat disekresi, saliva yang melewati duktus
juga semakin cepat.
Fosfat mempunyai konsentrasi yang rendah pada saliva kelenjar minor. Konsentrasi
kalsium yang tinggi juga membantu menjelaskan kenapa kalkulus sering muncul di sisi
lingual pada gigi incisivus bawah.
b. Natrium
Saliva istirahat(menurun)->meningkat bila sekresi meningkat. Fungsi untuk menjaga
keseimbangan ionik
c. Klorida
Dihasilkan oleh sekresi sel asinus = konsentrasi plasma. Fungsi untuk menjaga
keseimbangan elektrokimia
d. Iodin
Konsentrasi saliva lebih tinggi dari konsentrasi plasma. Iodin terus-menerus di
sekresikan ke dalam saliva
e. Fluorida
Fungsi dalam proses pembentukan plak
f. Tiosinat
Thiocyanat adalah komponen system antibakteri dalam saliva yang berfungsi sebagai
sistem bakteriostatik laktoperoksidae Thiocyanat dalam saliva ditemukan berasosiasi
dengan insiden kecil dari dental karies. Mekanismenya adalah oksidasi dari thiocyanat
menjadi hypothiocyanat dengan oksigen aktif yang dihasilkan oleh bakteri peroksida akan
dipecahkan oleh salivary lactoperoksida. Hypothiocyanit adalah agen antibakteri yang kuat.
Thiocyanat mencapai saliva melalui transport dalam duktus dan konsentrasinya menurun
seiring dengan meningkatnya daya alir (flow). Konsentrasi thiocyanat dalam saliva tinggi
pada perokok dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi anak-anak yang merokok,
walaupun orang-orang perokok kelas tinggi juga memiliki konsentrasi ion yang tinggi
dalam salivanya.
3. Gas
Pada saat pertama sekali saliva dibentuk, saliva mengandung gas oksigen yang larut,
nitrogen dan karbon dioksida dengan jumlah yang sama dengan serum. Ini memperlihatkan
bahwa konsentrasi karbon dioksida cukup tinggi dan hanya dapat dipertahankan pada larutan
yang memiliki tekanan didalam kelenjar duktus, tetapi pada saat saliva mencapai rongga
mulut banyak karbon dioksida yang lepas.
4. Zat-zat Aditif di Rongga Mulut
Merupakan berbagai substansi yang tidak ada didalam saliva pada saat saliva mengalir
dari dalam duktus, akan tetapi menjadi bercampur dengan saliva didalam rongga mulut. Yang
termasuk kedalam zat-zat aditif yaitu mikroorganisme, leukosit dan dietary substance.
Volume rata-rata saliva yang dihasilkan perhari berkisar 1-1,5 liter. Pada orang
dewasa laju aliran saliva normal yang distimulasi mencapai 1-3 ml/menit, rata-rata terendah
mencapai 0,7-1 ml/menit dimana pada keadaan hiposalivasi ditandai dengan laju aliran saliva
yang lebih rendah dari 0,7 ml/menit. Laju aliran saliva normal tanpa adanya stimulasi
berkisar 0,25-0,35 ml/menit, dengan rata-rata terendah 0,1-0,25 ml/menit dan pada keadaan
hiposalivasi laju aliran saliva kurang dari 0,1 ml/menit.1,3,19
Nilai pH saliva normal berkisar 6 7. 3,19,20 Konsumsi karbohidrat padat maupun
cair dapat menyebabkan terjadinya perubahan pH saliva dimana karbohidrat akan
difermentasi oleh bakteri dan akan melekat ke permukaan gigi. Dengan adanya sistem buffer
pada saliva, pH akan kembali netral setelah 20 menit terpapar karbohidrat yang
berkonsistensi cair dan 40-60 menit pada karbohidrat yang berkonsistensi padat.

Faktor yang mempengaruhi Komposisi Saliva :


1. Kecepatan sekresi
Makin meningkat kecepatan ekskresi, makin meningkat pula konsentrasi protein, natrium,
klorida, dan bikarbonat, sedangkan konsentrasi magnesium dan fosfat menurun.
2. Lamanya stimulasi
Pada kecepatan sekresi yang konstan,komposisi saliva dapat bervariasi tergantung
lamanya stimulasi.
3. Sifat stimulus
Garam menstimulasi protein di dalam saliva menjadi lebih banyak. Gula meningkatkan
konsentrasi amilase pada saliva.
4. Tipe Kelenjar
Tanpa stimulasi kelenjar parotis menyumbang 10% dari jumlah saliva, dengan stimulasi
saliva kelenjar parotis menjadi predominan.
5. Diet
Diet menyebabkan perubahan konsentrasi fosfat plasma dan urea.
6. Usia
Konsentrasi kalsium, magnesium, dan klorida pada anak-anak lebih tinggi dalam saliva
dewasa. Konsentrasi natrium, kalsium, dan klorida rendah pada saliva parotis tanpa
stimulasi dari subjek berusia lebih dari 70 thn.

II. Biokimia Saliva


Air liur atau saliva sebagian besar diproduksi oleh tiga kelenjar utama yakni kelenjar
parotis, kelenjar sublingual dan kelenjar submandibula. Volume air liur yang diproduksi
bervariasi yaitu 0,5 1,5 liter setiap hari tergantung pada tingkat perangsangannya.
Mengutip Guyton & Hall dalam Textbook of Medical Physiology, air liur atau saliva
mengandung dua tipe pengeluaran atau sekresi cairan yang utama yakni sekresi serus yang
mengandung ptyalin (suatu alfa amylase) yang merupakan enzim untuk mencernakan
karbohidrat dan sekresi mucus yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan atau
perlindungan permukaan yang sebagian besar dihasilkan oleh kelenjar parotis.
Kelenjar saliva yang utama adalah kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis.
Sekresi saliva normal sehari-hari berkisar antara 800-1500 mililiter dengan pH sekitar 6
sampai 7. Saliva terutama mengandung sejumlah besar ion kalium dan ion bikarbonat,
kebalikan dari plasma dimana lebih banyak mengandung ion natrium dan klorida.
Saliva mengandung 2 tipe sekresi protein yang utama:
1. sekresi serosa yang mengandung ptialin (suatu a-amilase), sebuah enzim untuk
mencernakan serat.
2. sekresi mukosa yang mengandung musin, sebuah glikoprotein yang melubrikasi makanan
dan memproteksi mukosa oral. Musin jug mengandung IgA, sistem imun yang pertama
menghadang bakteri dan virus; lisozim, berfungsi menghacurkan dinding bakteri; laktoferin,
mengikat zat besi; dan protein kaya akan prolin, memproteksi gigi. Oleh karena itu pada
keadaan defisit saliva (xerostomia) ronga mulut menjadi berulserasi, terinfeksi, dan karies
gigi akan meluas.
Masing-masing kelenjar menghasilkan tipe sekresi yang berbeda.Kelenjar
submaksilaris mengandung asinus mukosa maupun asinus serosa. Sekresi primer dihasilkan
oleh kedua asinus ini yang berupa ptialin dan/atau musin. Sewaktu sekres primer mengalir
melalui duktus, terjadi dua proses transpor aktif utama yang memodifikasi komposisi ion
saliva.
1. ion-ion natrium secara aktif direabsorbsi dari semua duktus salivarius (interkalatus), dan
ion-ion natrium disekresi secara aktif sebagai pengganti natrium. Oleh karena itu, konsentrasi
natrium dari saliva sangat berkurang, sedangkan konsentrasi ion kalium meningkat. Karena
reabsorbsi ion natrium melebihi sekresi ion kalium, menyebabkan konsentrasi ion klorida
turun menjadi sangat rendah, menyesuaikan penurunan pada konsentrasi ion natrium.
2. ion-ion bikarbonat disekresi oleh epitel duktus ke dalam lumen duktus. Hal ini sedikitnya
sebagian disebabkan oleh pertukaran ion bikarbonat dengan ion klorida.
Hasil akhir dari transpor aktif adalah pada kondisi istirahat, konsentrasi masing-
masing ion natrium dan klorida dalam saliva hanya sekitar 15 mEq/liter, ion kalium 30
mEq/liter, ion bikarbonat 50-70 mEq/liter. Selama salivasi maksimal, konsentrasi ionik saliva
berubah karena sekresi primer oleh sel-sel asini meningkat 20 kali lipat [misal saat
mengkonsumsi asam]. Oleh karena sekresi saliva bertambah, konsentrasi natrium klorida
akan meningkat sekitar setengah sampai dua pertiga konsentrasi dalam plasma, sedangkan
konsentrasi kalium turun hanya empat kali konsentrasi dalam plasma.
Dalam hal pencernaan, air liur berperan dalam membantu pencernaan karbohidrat.
Karbohidrat atau tepung sudah mulai dipecah sebaagian kecil dalam mulut oleh enzim ptyalin.
Enzim dalam air liur itu memecah tepung (amylum) menjadi disakarida maltosa dan polimer
glukosa kecil lainnya.
Air liur juga mencegah kerusakan dengan beberapa cara. Pertama, aliran air liur itu
sendiri membantu membuang bakteri atau kuman patogen juga pertikel makanan yang
memberi dukungan nutrisi metabolik bagi bakteri itu sendiri.
Kedua, air liur mengandung beberapa faktor yang menghancurkan bakteri salah
satunya adalah ion tiosianat dan beberapa cairan proteolitik terutama lisosim yang
menghancurkan bakteri,membantu ion tiosianat membunuh bakteri, mencerna partikel
makanan dan air liur mengandung antibody protein yang menghancurkan bakteri.
Sekresi saliva berada dibawah kontrol saraf. Rangsangan pada (1) saraf parasimpatis
dari nukleus salivatorius superior(bagian dari nervus fasialis dan berlokasi di pontine
tegmentum) menyebabkan sekresi liur cair dalam jumlah besar dengan kandungan bahan
organik yang rendah. Sekresi ini disertai oleh vasodilatasi mencolok pada kelenjar, yang
disebabkan oleh pelepasan VIP (vasoactive intestine polipeptide). Polipeptida ini adalah co-
transmitter dengan asetilkolin pada sebagian neuron parasimpatis pascaganglion. Rangsangan
(2) saraf simpatis menyebabkan vasokonstriksi dan sekresi sedikit saliva yang akan bahan
organik dari kelenjar submandibulais.
Makanan dalam mulut menyebabkan refleks sekresi saliva, juga rangsangan serat-
serat vagus eferen di ujung esofagus yang dekat dengan gaster. Faktor-faktor yang
menyebabkan rangsang sekresi saliva adalah: melihat, mencium dan mengkonsumsi makanan
yang meningkatkan nafsu makan. Daerah nafsu makan pada otak, terletak di daerah pusat
parasimpatis hipotalamus anterior, dan berfungsi sebagai respon terhadap sinyal dari daerah
pengecapan dan penciuman dari korteks serebral dan amigdala.

Mekanisme Sekresi Saliva


Sekresi saliva sebagian besar merupakan proses aktif yang menunjukan bahwa proses
tersebut memerlukan energi. Proses ini dibedakan menjadi dua fase (Lavelle, 1988;
Amerongen, 1991):
1. Sintesis dan sekresi cairan asinar oleh sel sekretori.
Sifat rangsang yang menstimulasi kelenjar saliva dapat berupa rangsang adrenergik ( dan )
maupun kolinergik, karena sel diinervasi baik simpatis maupun parasimpatis. Rangsang
adrenergik menghasilkan saliva yang pekat, kaya protein, kaya kandungan musin dan berbuih.
Pada rangsang kolinergik, neurotransmitter asetilkolin menghasilkan sekresi cairan yang kuat
dengan kadar protein yang rendah. Akibat rangsangan, melalui eksositosis sel menghasilkan
cairan sekresinya kepada lumen. Rangsang tersebut menyebabkan aliran darah ke asinus
meningkat sehingga mempermudah pembentukan cairan asinar. Cairan asinar ini disebut juga
saliva primer.
2. Perubahan yang terjadi pada duktus striata.
Saliva diangkut dari lumen melalui duktus yang melibatkan kontraksi sel mioepitel. Selama
pengankutan ke rongga mulut, susunan saliva diubah dari cairan isotonik dengan konsentrasi
ion yang hampir sama dengan plasma menjadi hipotonik dengan konsentrasi ion natrium dan
klorida yang rendah. Perubahan initerjadi karena di dalam duktus, air dan elektrolit disekresi
dan atau diabsorbsi oleh sel epitel, terutama pada duktus striata.

Biokimia di dalam saliva:


Amilase
Amilase dalam saliva berupa amilase yang disekresikan oleh kelenjar parotis.
Fungsi utama dari enzim ini adalah untuk memecah karbohidrat, dalam hal ini pati sehingga
dapat diolah oleh tubuh. Amilase adalah enzim hidrolisis yang mengkatalisis hidrolisis rantai
-1,4 glucosidic pada polisakarida untuk menghasilkan dekstrin, oligosakarida, maltosa dan
D-glukosa.
Amilase dibedakan menjadi menurut substrat yang dipecah adalah sebagai berikut:
1) Alfa-amilase
Menghidrolisis rantai -1, 4 glukosa mengahsilkan dekstrin,oligosakarida, dan
monosakarida.
2) Eksoamilase
Terdiri dari beta-amilase dan glukoamilase (gama-amilase,amiloglukosida) hasil dari
beta-amilase adalah beta-limit dekstrin danmaltosa. Sedangkan hasil dari gama-
amilase adalah glukosa.

Hidolisis rantai lurus polyglukosa seperti amilosa maupun rantai bercabang dari
poliglukosa seperti amilopektin dan glikogen dilakukan dalam tingkatan yang berbeda. Untuk
amilosa, enzim ini memecah rantai -1,4 hemiacetal (-C-O-C-), menghasilkan maltosa dan
sedikit sisa glukosa. Hasil yang didapat ketika rantai cabang yang dihirolisis adalah maltosa,
glukosa dan dekstrin-dekstrin. Akan tetapi, rantai -1, 6 pada rantai cabang, tidak
terpengaruh oleh enzim. -amilase pada hewan dan manusia disebut endoamylase karena
menyerang rantai -1, 4 secara acak di sembarang tempatsepanjang rantai polyglukosa.
Polisakarida besar tersebut akan segera pecah menjadi unit-unit kecil.
Amilase bekerja pada pH optimum antara 6,9 sampai 7,0. Enzim ini biasanya bekerja
pada suhu 37oC, meskipun masih tetapaktif pada 50o C dan bahkan sebagian prosedur
menggunakan temperatur yang lebih tinggi. lfa-amilase adalah kalsium metaloenzim.
Meskipun begitu,aktivitas penuh ditunjukkan dengan adanya anion seperti klorid, brom,
nitrat,klorat atau fosfat monohidrogen. Aktivatifasi yang paling efektif adalah klorid dan
brom. Pada kelenjar saliva disekresikan amilase (S-type) sebagai penghidrolisis awal dari
kanji ketika makanan masih dalam mulut dan esofagus .
Amilum adalah polimer lurus dari glukosa yang diikat dengan(14). Amilum dapat
dibentuk dari beribu-ribu unit glukosa. Pada pencernaan, amilosa belum terlalu siap untuk
dicerna dari pada amilopektin.Pada pencernaan, enzim amilase bekerja pada ikatan terakhir
yang dipecah menjadi gula.

Amylose structure
Lisozim atau Muramidase
Lisozim merupakan suatu protein kation yang kecil, berada pada sebagian besar
cairan-cairan tubuh diantaranya pada saliva. Lisozim saliva mewakili enzim untuk pertahanan
imun saliva non-spesifik.
Struktur lisozim: lisozim merupakan suatu peptidoglikan N-acetylmuramoylhydrolase
yang sering dihubungkan dengan nama muramidase. Substrat alamnya adalah peptidoglikan,
disebut juga murein merupakan komponen utama dari dinding sel bakteri.
Dinding sel bakteri terdiri atas suatu jaringan makromolekul disebut peptidoglikan
(murein, mukopeptida). Peptidoglikan terdiri dari disakharida yang berulang-ulang melekat
pada polipeptida dan membentuk suatu pola dari molekulmolekul kecil mengelilingi seluruh
sel. Disakharida merupakan monosakharida disebut N-acetylglucosamine (NAG) dan N-
acetylmuramic acid (NAM).
Enzim yang menunjukkan aktivitas bakteriosid dengan memecah ikatan antara N-
asetil glukosamin dan N-asetil muramik dinding sel bakteri.
Peran lisozim saliva terhadap bakteri rongga mulut Lisozim saliva merupakan suatu
zat pertahanan tubuh secara alamiah yang dapat melisis beberapa spesies bakteri dan
mengagregasi sel-sel bakteri di rongga mulut dengan menghambat kolonisasinya pada
permukaan mukosa mulut dan gigi. Lisozim saliva sangat berperan dalam kontrol karies.

Peroksidase
Enzim yg labil terhadap panas ditemukan dalam saliva yg dgn adanya ion thiosianat
dan hidrogen peroksida mematikan Laktobasilus asidofilus dengan menghambat pengambilan
lisisn dan menginaktifkan beberapa streptokokus dengan menghambat enzim glikolisis.

Laktoferin
Protein yg stabil terhadap panas yg ditemukan dalam saliva dan air susu Mempunyai
efek bakteriostatik pada spektrum jasad renik yg luas dan akan memberikan efek dgn cara
mengosongkan lingkungan zat besi pd konsentrasi yg akan meggagalkan pertumbuhan
bakteri.

Agglutinin saliva
Glikoprotein saliva terikat pada adhesin bakteri oral dan menyebabkan aglutinasi
bakteri yang memudahkan pembuangannya.
Komplemen: protein yang labil terhadap panas ditemukan dalam serum normal dalam
keadaan inaktif dan berisi 9 protein (C1-C9). Aktivasi komplemen menyebabkan bermacam-
macam fungsi termasuk kemotaksis bakteri,opsonisasi dan lisis.

III. Fisiologi Saliva


Sumbangan berbagai kelenjar saliva kepada produksi total saliva sangat tergantung
pada sifat dan tingkat rangsang (Roth and Calmes, 1981; Houwink dkk., 1993). Sifat
rangsang dapat merupakan rangsang mekanis misalnya mengunyah makanan; kimiawi yaitu
asam, manis, pahit, asin dan pedas; neuronal yaitu sistem saraf otonom baik simpatis maupun
parasimpatis; psikis atau stress; protesa; rangsangan karena sakit (Amerongen,1991;
Houwink dkk., 1993). Tingkat sekresi saliva dipengaruhi oleh posisi tubuh, sekresi terbanyak
ditemuka pada posisi berdiri sekitar 100%, pada posisi duduk sekitar 69%, dan pada posisi
berbaring 25%. Pada perokok ditemukan sekresi saliva yang lebih banyak daripada yang
tidak merokok, sedangkan di ruangan gelap sekresi kelenjar parotis menurun dibandingkan
dengan ruang yang terang (Roth and Calmes, 1981).
Tipe kelenjar, makanan, usia, dan jenis kelamin juga termasuk faktor yang
mempengaruhi sekresi saliva (Roth and Calmes, 1981). Beberapa obat obatan seperti
antikolinergik, analgesik, antipsikotik, antihistamin, antidepresan, antihipertensi, amfetamin,
antiparkinson, dan atropin memiliki efek samping yang dapat menyebabkan berkurangnya
kecepatan aliran saliva (Edgar, 1996).
Jumlah total saliva setiap 24 jam bekisar 500 600 ml atau sekresinya 0,35 0,42 ml.
Pada malam hari sekresi saliva hampir terhenti (+ 10 ml/8 jam). Kelenjar parotis pada malam
hari sama sekali tidak menghasilkan saliva. Sumbangan relatif kelenjar submandibular pada
malam hari adalah 70%, sedangkan kelenjar sublingual dan kelenjar saliva tambahan sekitar
30% (Amerongen, 1991).
Berbagai faktor dapat menyebabkan berkurangnya sekresi saliva yaitu efek radiasi,
perubahan hormonal pada wanita menopause dan faktor psikologis seperti rasa takut, cemas
dan stres, atau penyakit pada kelenjar saliva seperti Sindroma Sjorgen (Roth and Calmes,
1981).
Saliva memiliki fungsi yang penting untuk membantu efisiensi kerja tubuh dan
kesehatan secara umum. Fungsi saliva terdiri dari:
1. Fungsi Digesti
Saliva bertanggung jawab untuk membantu proses pencernaan awal dalam proses
pembentukan bolus-bolus makanan. Enzim -amylase atau enzim ptyalin merupakan salah
satu komposisi dari saliva yang berfungsi untuk memecah karbohidrat menjadi molekul yang
lebih kecil ( maltose, maltotriose dan dekstrin) (Rensburg, 1995).
2. Fungsi Antibakteri
Fungsi antibakteri yang terkandung dalam saliva, yaitu:
a.) IgA Sekretorik (SIgA)
Sekitar 90% terdapat pada saliva yang dihasilkan oleh kelenjar parotis dan 85% dari
keseluruhan saliva di dalam rongga mulut adalah SIgA. Aktivitas antibakteri SIgA yang
utama adalah mencegah kolonisasi bakteri dengan mengikat antigen spesifik yang adhesif.
Selain itu,
kolonisasi juga dapat dihindarkan dengan aglutinasi bakteri yang akan dihancurkan saat
melewati esofagus atau mempengaruhi enzim spesifik yang penting untuk metabolisme
bakteri. Bakteri pada rongga mulut mudah difagosit setelah dilapisi SIgA (Rensburg,
1995).
b.) Peroksidase
Sistem antibakteri peroksidase terutama didapatkan pada saliva yang dihasilkan dari
kelenjar parotis. Sistem antibakteri ini menghambat produksi asam dan pertumbuhan
banyak mikroorganisme termasuk di dalamnya laktobasilus, streptokokus dan fungi
(Rensburg, 1995).
c.) Lisozim
Lisozim saliva aktif menghancurkan dinding sel mikroorganisme gram positif namun
aktivitas lisozim harus dikombinasikan dengan tiosianat agar efektif dalam melisiskan
bakteri (Rensburg, 1995).
3. Lubrikasi
Saliva membentuk lapisan seromukos yang berperan sebagai pelumas dan melindungi
jaringan rongga mulut dari agen-agen yang dapat mengiritasi. Mucin sebagai protein dalam
saliva memiliki peranan sebagai pelumas, perlindungan terhadap dehidrasi, dan dalam proses
pemeliharaan viskoelastisitas saliva. Kandungan glikoprotein dalam saliva itu juga
bertanggungjawab dalam proses pengunyahan, pembentukan bolus makanan, penelanan,
bicara dan melindungi permukaan mukosa dari iritasi (Rensburg, 1995). Lidah memerlukan
saliva sebagai pelumas selama bicara, tanpa adanya saliva maka proses bicara akan menjadi
lebih sulit.
4. Pengecapan
Saliva memiliki komponen gustin yang berperan dalam pertumbuhan dan pergantian
sel tunas pengecap (Amerongen, 1991). Aliran saliva yang terbentuk didalam acini bersifat
isotonik, saliva mengalir melalui duktus dan mengalami perubahan menjadi hipotonik.
Kandungan hipotonik saliva terdiri dari glukosa, sodium, klorida, urea dan memiliki kapasitas
untuk memberikan kelarutan substansi yang memungkinkan gustatory buds merasakan aroma
yang berbeda. Makanan tidak dapat dirasakan pada mulut kering tanpa saliva (Rensburg,
1995).
5. Aksi Bufer
Buffer adalah suatu substansi yang dapat membantu untuk mempertahankan agar pH
tetap netral. Buffer dapat menetralisasikan asam dan basa. Saliva berperan menekan
perubahan derajat asam (pH) di dalam rongga mulut, baik oleh makanan asam maupun asam
yang dikeluarkan oleh mikroorganisme (Amerongen, 1991). Derajat asam dan kapasitas bufer
saliva sangat bergantung pada kandungan bikarbonat dan juga kandungan fosfat anorganik
dalam saliva. Pada aliran saliva yang tinggi, bikarbonat merupakan buffer yang efektif
melawan asam dengan membentuk asam bikarbonat yang lemah yang akan terurai menjadi
air dan karbondioksida (Rensburg, 1995).
6. Pembersihan Mekanis
Saliva berfungsi sebagai self cleansing terutama pada saat tidur dimana produksi
saliva berkurang. Saliva mengandung enzim lysozyme yang berperan penting dalam
mengontrol pertumbuhan bakteri di rongga mulut. Adanya aliran saliva dapat mengurangi
akumulasi plak, mikroorganisme tidak mempunyai kesempatan untuk berkolonisasi pada gigi
karena tidak ada makanan yang menempel, dan pembasahan elemen gigi akan mengurangi
keausan oklusal yang disebabkan oleh daya pengunyahan (Amerongen, 1991). Koloni
mikroorganisme dan sisa makanan terlepas karena aksi pembersihan dari saliva dan
kemudian tertelan (Rensburg, 1995).
7. Pembekuan Darah
Saliva memiliki peranan dalam membantu proses pembekuan darah pada jaringan
rongga mulut, dimana dapat dilihat secara klinis waktu pendarahan menjadi lebih singkat
dengan adanya bantuan saliva. Waktu pembekuan darah akan berkurang dengan keberadaan
protein saliva yang mirip faktor pembekuan VII, IX dan platelet. Pembekuan darah yang
terjadi ketika darah bercampur dengan saliva walaupun bekuan darah yang terbentuk kurang
padat bila dibandingkan dengan pembekuan darah normal. Telah dilakukan percobaan yang
menunjukan bahwa saliva, khususnya saliva yang berasal dari kelenjar submandibular dapat
meningkatkan penyembuhan luka dikarenakan adanya factor pertumbuhan epidermal pada
saliva (Rensburg, 1995).
8. Keseimbangan Air
Penurunan aliran saliva akan menghasilkan adanya suatu sensasi haus yang dapat
meningkatkan intake cairan tubuh. Setelah minum, cairan tubuh akan kembali normal dan
keseimbangan cairan terjaga kembali sehingga volume saliva kembali seperti semula
(Rensburg, 1995).
9. Integritas Enamel Gigi
Saliva juga memiliki peranan penting dalam mempertahankan integritas kimia fisik
dari enamel gigi dengan cara mengatur proses remineralisasi dan demineralisasi. Faktor
utama untuk mengontrol stabilitas enamel adalah hidroksiapatit sebagai konsentrasi aktif
yang dapat membebaskan kalsium, fosfat, dan fluor didalam larutan dan didalam pH saliva.
10. Penghambatan karies oleh saliva melalui:
a. Aksi mekanis dengan membersihkan permukaan gigi
b. Aksi immunologi dengan cara mensekresikan IgA
c. Aksi enzimatik dengan peroksidae dan sistem lisozim
d. Komposisi saliva yaitu flouride, kalsium, dan ion fosfat, yang dapat meningkatkan
remineralisasi lesi-lesi karies
11. Diferensiasi dan Pertumbuhan Syaraf (NGF) dan Epidermal (EGF)
Faktor pertumbuhan syaraf (Nerve Growth Factor) yang dihasilkan oleh glandula
submandibularis dibutuhkan bagi diferensiasi dan pertumbuhan sel-sel syaraf adrenergik.
Selain itu, glandula submandibularis juga menghasilkan faktor pertumbuhan epidermal
(Epidermal Growth Factor) yang berperan pada perkembangan jaringan kulit, epitel dan
erupsi elemen gigi-geligi. Kedua protein saliva tersebut diresorpsi melalui saluran usus
lambung, atau langsung diteruskan pada peredaran darah. Selajutnya sebagai hormon
dapat bekerja pada sel-sel sasaran.
DAFTAR PUSTAKA

Amerongen , A. Van Nieuw. 1991. Ludah dan Kelenjar Ludah : Arti Bagi Kesehatan
Edgar, W. M. 1992. Saliva : It s Secretion, Composition and Function. Brit Dent J. 305 312.
Ferguson, D. B. 1999. Oral Bioscience. China : Churchill Livingston.
Gilvery, Goldstein. 1996. Biokimia Suatu Pendekatan Fungsional. Edisi 3. Airlangga
University Press: Surabaya
Guyton, A. C.; J. E. Hall. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ke 9. Terj. I. Setiawan,
Ken A. T. dan A. Santoso. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. 1016,1018.
Lavelle, C. L. B. 1988. Applied Physiology of The Mouth. 2nd ed. Bristol : John Wright &
Sons Limited. 128 133.
Murray, Robert, Granner, Daryl K. 1999. Biokimia Harper. Edisi 24. EGC: Jakarta
Rensburg, B. G. J. V. 1995. Oral Biology. Chicago: Quintessenc Publishing Co. Inc. 469.
Roth, G. I. ; R. Calmes. 1981. Oral Biology. St. Louis : The C. V. Mosby Co. 8 : 196 232.
Tortora, Gerard J., Bryan D.2006. Principles of Anatomy and Physiology. John Wiley &
Sons,Inc.Unated States of America