Anda di halaman 1dari 14

COOLING TOWER DI PETROKIMIA GRESIK

1. Cooling Tower
Air adalah zat atau unsur kimia yang sangat dibutuhkan manusia
diantaranya untuk industri dan pertanian. Air untuk industri umumnya digunakan
sebagai pendingin (cooler, condensor, cooling tower), sebagai pemanas (heater),
sebagai pembangkit atau steam (driver turbin generator atau pompa), sebagai
evakuasi gas (vacuum system) dan sebagai air minum atau air proses (pelarut,
drinking water, jacket water, boiler feed water).
Kebanyakan sistem pengkondisian udara dan proses-proses industri
menghasilkan kalor yang harus dibuang dan disipasikan. Pada masa lampau, hal
ini dicapai dengan memanfaatkan pengaliran air dingin yang kontinu dari sumber-
sumber air, melewatkannya pada proses yang membutuhkan pendinginan, dan
kemudian membuangnya kembali sebagai air keluaran yang panas. Hal ini secara
langsung dapat menyebabkan gangguan ekologi air. Selain itu, semakin
berkembangnya kehidupan masyarakat dan sektor industri mengakibatkan
dukungan sumber air semakin terbatas baik secara kuantitas maupun kualitas.
Menara pendingin merupakan peralatan digunakan untuk menurunkan
suhu aliran air dengan cara mengekstraksi panas dari air dan mengemisikannya ke
atmosfir. Menara pendingin mengatasi masalah tersebut di atas, karena mampu
menurunkan suhu air lebih dari peralatan-peralatan yang hanya menggunakan
udara untuk membuang kalor. Konsumsi air dari suatu sistem menara pendingin
hanya sekitar 5% dibandingkan dengan sistem pengaliran air sekali lewat yang
telah disebutkan di atas, sehingga merupakan sistem yang paling ekonomis dari
segi konservasi air. Selain itu, jumlah air panas yang terbuang (blowdown)
sangatlah kecil, sehingga efek terhadap ekologi juga sangat minim.
Dalam dunia industri, menara pendingin (cooling tower) bertanggung
jawab terhadap hampir 80% dari kebutuhan air pendingin dalam suatu operasi
pabrik. Adapun sistem mesin pendingin yang paling banyak digunakan adalah
sistem kompresi uap. Secara garis besar komponen sistem pendingin siklus
kompresi uap terdiri dari kompresor, kondensor, katup ekspansi, dan evaporator.
Kompresor, berfungsi untuk mengkompresi refrijeran dari fasa uap
tekanan rendah evaporator hingga ke tekanan tinggi kondensor. Kondensor,
berfungsi untuk mengkondensasi uap refrijeran kalor lanjut yang keluar dari
kompresor. Katup ekspansi, berfungsi untuk menekan (throttling) refrijeran
bertekanan tinggi yang keluar dari konsensor dimana setelah melewati katup
ekspansi ini tekanan refrijeran turun sehingga fasa refrijeran setelah keluar dari
katup ekspansi ini adalah berupa fasa cair dan uap. Evaporator, berfungsi untuk
menguapkan refrijeran dari fasa cair dan uap menjadi fasa uap.
Semua mesin pendingin yang bekerja akan melepaskan kalor melalui
kondensor, refrijeran akan melepas kalornya kepada air pendingin sehingga air
menjadi panas. Selanjutnya air panas ini akan dipompakan ke menara pendingin.
Menara pendingin secara garis besar berfungsi untuk menyerap kalor dari air
tersebut dan menyediakan sejumlah air yang relatif sejuk (dingin) untuk
dipergunakan kembali di suatu instalasi pendingin atau dengan kata lain menara
pendingin berfungsi untuk menurunkan suhu aliran air dengan cara mengekstraksi
panas dari air dan mengemisikannya ke atmosfer.
Prinsip kerja menara pendingin yaitu air dari bak/basin dipompa menuju
heater untuk dipanaskan dan dialirkan ke menara pendingin. Air panas yang
keluar tersebut secara langsung melakukan kontak dengan udara sekitar yang
bergerak secara paksa karena pengaruh fan atau blower yang terpasang pada
bagian atas menara pendingin, lalu mengalir jatuh ke bahan pengisi. Sistem ini
sangat efektif dalam proses pendinginan air karena suhu kondensasinya sangat
rendah mendekati suhu wet-bulb udara. Air yang sudah mengalami penurunan
suhu ditampung ke dalam bak/basin. Pada menara pendingin juga dipasang katup
make up water untuk menambah kapasitas air pendingin jika terjadi kehilangan air
ketika proses evaporative cooling tersebut berlangsung
Menara pendingin (cooling tower) mampu menurunkan suhu air lebih
rendah jika dibandingkan dengan peralatan-peralatan yang hanya menggunakan
udara yang digunakan untuk membuang panas, seperti contohnya radiator yang
terdapat dalam mobil, dan oleh karena itu biayanya lebih efektif dan efisien
energinya. Pada umumnya sistem air pendingin utama terdiri dari komponen :
1) Intake (untuk sistem air pendingin siklus terbuka)
2) Saringan (screen)
3) Pompa (cooling water pump-CWP)
4) Katup dan Pemipaan (piping)
5) Menara pendingin (cooling tower)

Gambar 1. Proses Pendinginan Air dengan Cooling Tower


(Sumber: Eka, 2012)

Sistem Air Pendingin, Sekali lewat ( once through system ) yaitu air dari
sumbernya diolah (sedemikian rupa), dipakai untuk pendingin dan setelah keluar
langsung dibuang. Keuntungan system pendingin sekali lewat ( once through
system ) yaitu :Biaya investasi murah rendah, karena perangkat pengolahan
yangdiperlukan lebih sederhana. Kerugian system pendingin sekali lewat yaitu:
Jumlah air yang dibutuhkan banyak (habis pakai langsung buang), terjadi
pencemaran lingkungan (yang pasti temperatur buangan air cukup panas dan
jumlahnya besar).
Once through system yaitu open evaporative recirculating systems dimana
air tawar yang berasal dari sungai atau danau dipompakan sebagai make-up
cooling tower setelah sebelumnya dilakukan treatment (sedimentasi dan
koagulasi) terlebih dahulu. Air tersebut digunakan untuk mendinginkan proses-
proses di dalam pabrik. Air pendingin yang telah panas kemudian didinginkan di
cooling tower untuk kemudian disirkulasikan kembali ke dalam pabrik. Untuk
menjaga kualitas air, misalnya agar tidak terdapat algae/bacteria dan pengendapan
(scaling), maka perlu diinjeksikan beberapa jenis chemicals tertentu. Kualitas air
juga dijaga melalui mekanisme make-up dan blow-down.
Sistem ini banyak digunakan oleh pabrik yang berada dekat dengan
sumber air tawar atau jauh dari laut. Spesifikasi material untuk peralatan yang
menggunakan air tawar tidak perlu sebagus peralatan yang menggunakan air laut,
karena air tawar lebih tidak korosif dibandingkan dengan air laut. Open
recirculating system banyak digunakan dalam industri. Sistem ini terdiri dari
pompa, HE, dan cooling tower. Pompa akan meresirkulasikan air melalui HE,
mengambil panasnya, lalu membuangnya di cooling tower dimana panas tersebut
akan dibuang dari air dengan cara evaporasi.
Dalam sistem ini, chemical akan lebih banyak digunakan karena
komposisi air akan berubah saat evaporasi berlangsung, dimana konstituen korosi
dan scaling akan lebih pekat. Air pendingin teruapkan sekitar 1% water.
Kehilangan air akibat penguapan ini harus dikompensasi oleh make up air
pendingin. Keungtungan menggunakan Open evaporative recirculating systems
Jumlah kebutuhan air medikit (make up), Memungkinkan untuk mengontrol
korosi Kerugian menggunakan Open evaporative recirculating systems: Investasi
(capital cost) lebih tinggi daripada once through, Memerlukan cooling tower yang
cukup besar, System purge dan blowdown kemungkinan dapat mengakibatkan
pencemaran lingkungan
Closed Nonevaporative Recirculating Systems air tawar pendingin
digunakan untuk mendinginkan proses-proses didalam pabrik. Air tawar
pendingin yang telah panas didinginkan kembali di suatu secondary cooler
(biasanya plate heat exchanger) untuk selanjutnya disirkulasikan kembali secara
tertutup kedalam pabrik. Air laut dipakai untuk mendinginkan secondary cooler
dengan cara hanya sekali pakai (once through), sumber air berasal dari laut
kemudian dibuang lagi ke laut. Closed Nonevaporative Recirculating Systems
yang menggunakan air pendingin yang sama dan disirkulasikan berulang kali
dalam siklus yang kontinu.
Pada sistem ini, komposisi air juga relatif konstan. Air pendingin
didinginkan pada secondary heat exchanger. Tidak ada kehilangan akibat
penguapan juga tidak ada pengembalian.Keungtungan menggunakan Closed
nonevaporative recirculating systems, Air pendinginyang kembali relatif bersih,
Temperatur air pendingin memungkinkan lebih tinggi dari 100oC. Kerugian
menggunakan Closed nonevaporative recirculating systems, Investasi / capital
cost sangat tinggi, Dibatasi oleh equipment secondary heat exchanger.

2. Jenis-jenis Cooling Tower


Bagian ini menjelaskan dua jenis utama menara pendingin: menara
pendingin jenis natural Draft dan jenis mechanical draft. Menara pendingin jenis
natural draft yaitu menara pendingin jenis natural draft atau hiperbola
menggunakan perbedaan suhu antara udara ambien dan udara yang lebih panas
dibagian dalam menara. Begitu udara panas mengalir ke atas melalui menara
(sebab udara panas akan naik), udara segar yang dingin disalurkan ke menara
melalui saluran udara masuk di bagian bawah. Tidak diperlukan fan dan disana
hampir tidak ada sirkulasi udara panas yang dapat mempengaruhi kinerja.
Kontruksi beton banyak digunakan untuk dinding menara dengan
ketinggian hingga mencapai 200 m. Menara pendingin tersebutkebanyakan hanya
digunakan untuk jumlah panas yang besar sebab struktur beton yang besar cukup
mahal. Terdapat dua jenis utama menara natural draft: menara aliran melintang:
udara dialirkan melintasi air yang jatuh dan bahan pengisi berada diluar menara.
Menara dengan aliran yang berlawanan arah: udara dihisap melalui air yang jatuh
dan oleh karena itu bahan pengisi terletak dibagian dalam menara, walaupun
desain tergantung pada kondisi tempat yang spesifik.

Gambar 2. Aliran melintang dan berlawanan arah


(Sumber: Eka, 2012)
Menara pendingin jenis draft mekanik memiliki fan yang besar untuk
mendorong atau mengalirkan udara melalui air yang disirkulasi. Air jatuh turun
diatas permukaan bahan pengisi, yang membantu untuk meningkatkan waktu
kontak antara air dan udara, hal ini membantu dalam memaksimalkan perpindahan
panas diantara keduanya. Laju pendinginan menara draftmekanis tergantung pada
banyak parameter seperti diameter fan dan kecepatan operasi, bahan pengisi untuk
tahanan sistim dll. Menara draftmekanik tersedia dalam range kapasitas yang
besar. Menara tersedia dalam bentuk rakitan pabrik atau didirikan dilapangan,
sebagai contoh menara beton hanya bisa dibuat dilapangan.
Banyak menara telah dibangun dan dapat digabungkan untuk mendapatkan
kapasitas yang dikehendaki. Jadi, banyak menara pendingin yang merupakan
rakitan dari dua atau lebih menara pendingin individu atau sel. Jumlah sel yang
mereka miliki, misalnya suatu menara delapan sel, dinamakan sesuai dengan
jumlahselnya. Menara dengan jumlah sel banyak, dapat berupa garis lurus, segi
empat, atau bundar tergantung pada bentuk individu sel dan tempat saluran udara
masuk ditempatkan pada sisi atau dibawah sel.
Jenis-jenis cooling tower mechanical draft (paksa) antara lain cooling
tower forced draft, Prinsip kerjanya udara dihembuskan ke menara oleh sebuah
fan yang terletak pada saluran udara masuk sehingga terjadi kontak langsung
dengan air yang jatuh. Jenis cooling tower induced draft dengan aliran berlawanan
udara masuk dari salah satu sisi berlawanan. Jenis cooling tower induced draft
dengan aliran melintang. Udara masuk dari samping menara melewati filler.
3. Utilitas di Petrokimia Gresik
PT. Petrokimia Gresik merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
dalam lingkup koordinasi Departemen Perindustrian dan Perdagangan. BUMN ini
bergerak di bidang produksi pupuk dan bahan-bahan kimia serta bidang jasa baik
konstruksi, engineering maupun jasa-jasa lainnya. Sebagai pabrik pupuk kedua di
Indonesia, pemerintah telah merancang keberadaannya sejak tahun 1956 melalui
Biro Perancangan Negara (BPN).
Perusahaan ini terdiri dari tiga unit produksi utama dan beberapa anak
perusahaan patungan. Nama Petrokimia berasal dari kata petroleum chemical
disingkat menjadi Petrochemical, yaitu pabrik yang memproduksi bahan-bahan
kimia yang dibuat dari minyak bumi dan gas. Pada saat ini PT. Petrokimia Gresik
memiliki berbagai bidang usaha dan fasilitas pabrik terpadu yang dikelola sendiri
maupun melalui anak perusahaan dan perusahaan patungan, antara lain :
1) Industri pupuk
2) Industri Pestisida
3) Industri Kimia
4) Industri Peralatan Pabrik
5) Jasa rancang bangun dan perekayasa serta jasa lain
Utilitas I PT. Petrokimia Gresik adalah unit pendukung proses produksi
yang ada di Departemen Produksi I secara langsung, dan sebagai pendukung di
pabrik II maupun pabrik III serta anak perusahaan secara tidak langsung. Tugas
pokok pabrik Utilitas I adalah menyediakan sarana penunjang operasional pabrik I
yang meliputi :
3.1. Penyedian Air
Air merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia. Termasuk
dalam industri membutuhkan air untuk proses maupun unit pendukung produksi.
Sumber-sumber air bisa didapatkan dari air tanah dan air permukaan. Air tanah
adalah air yang berada di bawar permukaan tanah. Air tanah dapat kita bagi lagi
menjadi dua, yakni air tanah preatis dan air tanah artesis. Air tanah preatis adalah
air tanah yang letaknya tidak jauh dari permukaan tanah serta berada di atas
lapisan kedap air/impermeable. Air tanah artesis letaknya sangat jauh di dalam
tanah serta berada di antara dua lapisan kedap air. Air pemukaan adalah air yang
berada di permukaan tanah dan dapat dengan mudah dilihat oleh mata kita.
Contoh air permukaan seperti laut, sungai, danau, kali, rawa, empang, dan lain
sebagainya. Air permukaan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu perairan
darat dan perairan laut.
Air industri merupakan air yang secara tidak langsung digunakan dalam
industri. Pada PT. Petrokimia Gresik, air digunakan dalam industri sebagai air
pendingin (cooling water ), air umpan katel, dan air untuk proses. Sumber air yang
digunakan adalah air dari Water Intake Gunungsari yang diambil dari Sungai
Brantas, serta Water Intake Babat yang diambil dari Sungai Bengawan Solo.
Air industri yang digunakan oleh PT. Petrokimia Gresik dapat mencapai
2.300 2400 m3 per jam. Dengan kemampuan Perusahaan Air Minum ( PDAM )
Surabaya dalam menyediakan air, yaitu sekitar 7000 m3 per jam, maka PT.
Petrokimia Gresik tidak dapat mengandalkan PDAM dalam mencukupi kebutuhan
airnya. Langkah pertama yang dilakukan dalam menghadapi musim kemarau,
terutama siklus 5 tahunan (terjadi pada tahun 2003, 1998 dan periode-periode
sebelumnya) yang menyebabkan berkurangnya debit sungai Brantas dan
Bengawan Solo, dengan menyedot air dari Danau Ngipik yang terdapat dekat
lokasi PT. Petrokimia Gresik. Walaupun begitu, disarankan untuk tidak
menggunakan air Danau ngipik sebagai air minum karena kadar bakteri tinggi.
3.2. Pengambilan Air
PT. Petrokimia Gresik menerima air dari water intake Babat dan
Gunungsari memiliki turbiditas tinggi sehingga harus melalui proses penjernihan
oleh instalasi pengolahan air di tempat yang bersangkutan. Divisi Utilitas
menerima sebagai hard water dengan kesadahan 100-200 ppm. Karena debit air
yang dapat dikirim besar. Hard water memiliki kesadahan yang tinggi sehingga
dapat menyebabkan kerak pada pipa dan menghambat daya cuci dengan sabun.
Oleh karena itu, diperlukan LSU untuk menurunkan hardness (kesadahan) air,
Proses yang digunakan adalah sedimentasi (pengendapan), koagulasi
(penggumpalan), flokulasi (pembuatan flok), dan filtrasi (penyaringan).Prosesnya
dilakukan dengan kapasitas 300 m3/jam.
Gunung Sari mempunyai spesifikasi sebagai berikut karakteristik bahan
baku airnya jenis hard water, pHnya adalah 7,6-8,2, Turbiditasnya adalah 5000
NTU, Kesadahannya 323 ppm, Mutu air yang diharapkan setelah dilakukan
pengolahan Jenisnya hard water, pH nya 7,5-8,5, Turbiditasnya maksimal 3 NTU
(Nephelometric Turbidity Unit) Kesadahan maksimal 220 ppm.
Produk dari Babat berupa hardwater yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan service water dan air hydrant. Produk yang dihasilkan memenuhi
spesifikasi sebagai berikut karakteristik bahan baku air Jenisnya adalah hard
water, pH nya adalah 7-8,5, turbiditas 5000 NTU, Kesadahan total > 170 ppm,
Kesadahan Ca 0,4-1 ppm. Mutu air yang diharapkan setelah dilakukan pengolahan
Jenis hard water pH 7,5-8,5, Turbiditas maksimal 3 NTU, Kesadahan maksimal
220 ppm, dan Residual 0,4 1 ppm
Tahap-tahap proses pengolahan air di Babat dan Gunung Sari secara
umum, yaitu Penghisapan, dilengkapi dengan pompa vacuum. Pemakaian system
ini disebabkan ketinggian permukaan air sungai tidak tetap. Penyaringan,
menggunakan Carse dan Fine Screen untuk menyaring kotoran berukuran besar.
Pengendapan, dilakukan secara gravitasi menggunakan settling pit untuk
mengendapkan partikel yang tersuspensi dalam air. Faktor yang mempengaruhi
adalah laju alir dan waktu tinggal. Flokulasi dan koagulasi, untuk mengendapkan
suspensi partikel koloid yang tak terendapkan karena ukurannya sangat kecil.
Bahan kimia yang digunakan pada proses ini, yaitu Polyelektrolit (FeCl3.6H2O
10%-w), sebagai koagulan untuk mempercepat proses pengendapan dengan
membentuk flok lebih cepat dan lebih besar.
Alum, sebagai flokulan untuk mengikat partikel-partikel kecil yang
menyebabkan keruhnya air menjadi flok-flok yang lebih besar. Kapur (CaCO3),
sebagai pengatur pH. Filtrasi, menggunakan saringan pasir silica (sand filter)
untuk menyaring padatan tersuspensi. Penampungan dan pemompaan, dilakukan
dengan pompa sentrifugal. Dalam pengunaan air yang dikirim dari dua unit
pengolahan di atas dipakai sebagai air Proses, air umpan boiler, air pendingin, air
minum, air hydran dan air service. Air proses adalah air demineralisasi yang bebas
dari mineral seperti ion positif dan ion negatif yang dapat merusak alat dan
mengganggu proses. Prosesnya menggunakan resin penukar kation dengan larutan
regenerasi asam sulfat 2-4 % dan resin penukar anion dengan larutan regenerasi
NaOH 4 %.
Air umpan boiler merupakan air demineralisasi dan bebas dari gas O2,
CO2 yang bersifat korosif. Penghilangannya dengan cara deaerasi. Air demin yang
bebas dari gas O2 dan CO2 harus ditambahkan zat kimia seperti senyawa fosfat
untuk menghindari terbentuknya kerak dan hidrazin (N2H4) untuk menghilangkan
gas O2 serta pengatur pH. Air pendingin menambahkan bahan kimia seperti
senyawa fosfat untuk mencegah korosi. Senyawa Cl2 sebagai antibiocide, asam
sulfat sebagai pencegah terjadinya kerak, pengatur pH, dan mencegah
pengendapan lumpur. Air minum dengan syarat kualitas air minum yaitu tidak
berbau, jernih, tidak mengandung bakteri, tidak berwarna, pH sekitar 7,5.
Digunakan untuk keperluan sanitasi pabrik, kantor, dan perumahan dinas PT.
Petrokimia Gresik.
Air hidran dan air service merupakan hard water yang langsung diambil
dari TK 951. Air hidran digunakan sebagai pemadam kebakaran, sedangkan air
service digunakan sebagai sarana kebersihan pabrik. Terdiri dari beberapa unit,
yaitu Unit Pelunakan Air (Lime Softening Unit), Unit Demineralisasi
(Demineralizing Plant), Unit Menara Pendingin (Cooling Water), Unit
Pembangkit Tenaga Uap, Unit Pembangkit Listrik. Proses Water Dipergunakan
untuk keperluan proses pabrik untuk Cooling Water dipergunakan untuk sarana
pendingin mesin pabrik, proses produksi pabrik, dan air conditioner. Demin Water
Dipergunakan untuk bahan baku pembuatan steam.
Hard water memiliki kesadahan yang tinggi sehingga dapat
menyebabkan kerak pada pipa dan menghambat daya cuci dengan sabun. Oleh
karena itu, diperlukan LSU ( Lime Softening Unit ) untuk menurunkan hardness
(kesadahan) air, terutama mengikat garam-garam Mg dan Ca dengan pengikatan
oleh larutan kapur (lime) dan soda ash sehingga menjadi soft water. Proses yang
digunakan adalah sedimentasi (pengendapan), koagulasi (penggumpalan),
flokulasi (pembuatan flok), dan filtrasi (penyaringan).Prosesnya dilakukan dengan
kapasitas 300 m3/jam.
Untuk menghindari terbentuknya kerak dan korosi, maka air harus
dihilangkan dari mineralnya melalui proses demineralisasi. Air hasil
demineralisasi ini akan digunakan sebagai umpan boiler. Memproses soft water
menjadi demineralizing water (demin water), yaitu air bebas mineral penyebab
pengerakan dalam air boiler dan air proses. Demin Plant I mempunyai kapasitas
100 m3/jam, sedangkan Demin Plant II mempunyai kapasitas 200 m3/jam.
Sand Filter, air umpan dimasukkan ke sand filter, dimana sand filter
tersebut menurunkan turbidity soft water menjadi 2 NTU serta kotoran padatan
(impurities) dari umpan diserap. Cation exchanger, air dari sand filter dimasukkan
ke dalam cation exchanger dari atas. Di dalam cation exchanger, garam-garam
Na, Ca, Mg, dan Ba diabsorpsi oleh resin kation. Resin akan jenuh setelah bekerja
36 jam yang ditunjukkan dengan kenaikkan anion, FMA (Free Mineral Acid),
kenaikkan pH, Na serta total hardness lebih besar dari 0. Karena resin kation telah
jenuh maka perlu diregenerasi selama 2,5 jam dengan larutan H2SO4 2% dan 4%.
Degasifier, keluar dari Cation Exchanger, air kemudian di-spray dari atas
dan dikontakkan dengan udara terkompresi oleh blower dari bawah. Untuk
meringankan beban kerja unit degasifier, maka diberi vent untuk gas-gas tersebut.
Anion exchanger berfungsi untuk mengikat ion-ion negatif yang terkandung di
dalam air. Dari bagian bawah degasifier, air dipompa masuk ke dalam anion
exchanger. Pada proses ini, sisa asam diikat (diabsorpsi) oleh resin anion castel A
500 P. Resin akan jenuh setelah beroperasi 40 jam dengan indikasi : kadar silika
lebih dari 0,1 ppm, pH air yang keluar turun, di bawah 9,7 dan konduktivitas
turun drastis, maks. 45 S/cm. Karena resin anion telah jenuh maka perlu
diregenerasi selama 4,5 jam dengan larutan Caustic Soda (NaOH) 4%.
Mixed-Bed Exchanger Berfungsi menyerap ion positif dan ion negatif yang
masih lolos dari Cation maupun anion Exchanger. Prinsip dari proses ini
berdasarkan pada perbedaan berat jenis, dimana resin anion berada di lapisan atas
dan resin kation berada di lapisan bawah. Resin pada Mixed-Bed Exchanger dapat
mengalami kejenuhan setelah beroperasi selama 3 bulan dengan indikasi
:konduktivitas semakin naik, kadar silika lebih besar dari 0,1 ppm, total hardness
lebih besar dari 0,1 ppm

Di servis unit pabrik amoniak terdapat unit demineralisasi air dengan air
umpan yang berasal dari steam kondensat dari pabrik amoniak dan unit
demineralisasi utilitas I, yang terdiri dari carbon filter, cation exchanger, dan
mixed-bed exchanger (polisher). Berikut spesifikasi produk unit demineralisasi
pH 7 8, total hardness = 0, kadar silica = < 0,01 ppm. Air ini digunakan untuk
air umpan pada Waste Heat Boiler (WHB) dan air proses di pabrik amoniak dan
urea.
3.3. UCT ( Unit Cooling Tower )

Gambar 3. Cooling Tower Counter Current


(Sumber: Isnani, 2015)

Terdapat 2 unit cooling tower yaitu, cooling tower lama dan baru. Cooling tower
merupakan suatu sistem pendingin dengan menggunakan air sebagai media yang
didinginkan melalui proses pertukaran dengan udara sehingga diperoleh suhu yang lebih
rendah. Cooling tower menurunkan suhu dari 42-43 0 C sampai sekitar 10-120 C. Air
dipilih sebagai pendingin karena mudah didapatkan dan dipakai, alat penurun suhu yang
efektif, tidak terurai, dan pada batas suhu penggunaan normal tidak terjadi pemuaian yang
nyata. PT. Petrokimia Gresik memiliki 2 sistem cooling tower , yaitu counter current
yang mendinginkan dengan cara meniupkan udara pada arah yang berlawanan dengan air,
dan cross flow, yaitu dengan meniupkan udara dari samping air yang mengalir.
Walaupun begitu, terdapat masalah masalah seperti kerak, korosi, pertumbuhan
lumut, dan kotoran sehingga air pada cooling water harus dikendalikan. Perlu
diinjeksikan beberapa bahan kimia berikut setiap seminggu sekali. Pada unit cooling
tower ini bertugas untuk menyediakan air pendingin yang memenuhi syarat untuk
keperluan operasional. Syarat kualitas Cooling Water antara lain tidak menimbulkan
kerak, tidak menimbulkan korosi, dan meminimalisasi laju pertumbuhan bakteri.
Gambar 4. Cooling Tower Cross Flow

(Sumber: Isnani 2015)

Beberapa bahan kimia yang harus diinjeksikan tersebut yaitu H2SO4, Cl2,
Nalco 7342, Nalco 7392 dan Nalco 73203. H2SO4 berfungsi menjaga pH 7,5 -8,5.
Cl2 sebanyak 0,2-0,5 ppm, berfungsi sebagai desinfektan membunuh bakteri.
Nalco 7342, berfungsi mengendalikan kadar PO4 agar terjaga antara 5-7 ppm.
Nalco 7392 dan Nalco 73203 berfungsi untuk membunuh organisme serta untuk
menjaga agar mikroorganisme serta jamur yang mati tetap melayang dan tetap
melekat pada tube. Spesifikasi dari Cooling Water adalah :
1) pH = 7,3-7,8
2) Conductivity = < 3000 Mhos/cm
3) Ca-H = 400-600
4) SiO2 = < 150 ppm
5) Free Clorine = 0,2-0,5 ppm
6) PO4 = 5,0-7,0 ppm
Pembagian menara pendingin sebagai berikut T 2211 A-E berfungsi untuk
ammonia plant, terdiri dari 5 cell dengan kapasitas 6700 dan bertipe cross flow
serta sirkulasi terbuka. T 2211 F-H : untuk Urea Plant, terdiri dari 3 cell dengan
kapasitas 4600 dan bertipe cross flow serta sirkulasi terbuka. T 1201 A-F : untuk
Ammonia Plant, terdiri dari 6 cell dengan kapasitas 1700 dan bertipe counter
flow serta sirkulasi terbuka. T 1201 G-J : untuk ZA I/III dan ASP, terdiri dari 4
cell dengan kapasitas 1400 dan bertipe counter flow serta sirkulasi terbuka. T
1201 H-I : untuk Ammonia Plant, terdiri dari 2 cell yang bertipe cross flow serta
sirkulasi terbuka.
Macam Cooling Tower terbuat dari PVC (plastik), digunakan untuk
kapasitas kecil dan prosesnya adalah film filler. Beton, digunakan untuk kapasitas
besar dan prosesnya adalah splash.
DAFTAR PUSTAKA

Eka, R.. 2012. Cooling Tower. https://www.academia.edu/8723958/Tugas_


cooling_tower. (Diakses pada tanggaal 23 September 2017)

Isnani, Y.. 2015. Laporan Kerja Praktek di Petrokimia Gresik. Surabaya: ITS

http://arifiyan-budiman.blogspot.co.id/2012/01/normal-0-false-false-false-in-x-
none-x.html