Anda di halaman 1dari 9

Makalah Oral Biologi

Disusun oleh:

Maulia Septiari (04101004013)

Rininta Rizky Winanda (04101004014)

Ramadia Dara (04101004015)

Tumbuh Kembang Palatum

Fakultas Kedokteran

Program Studi Kedokteran gigi

Universitas Sriwijaya
Palatum

Palatum terdiri atas dua bagian yaitu palatum keras yang tersusun atas tanduk-tanduk palatum
dari sebela depan tulang maksilaris, dan lebih kebelakang terdiri atas dua tulang palatum. Di
belakang ini terletak palatum lunak yang merupakan lipatan menggantung yang dapat
bergerak dan yang terdiri atas jaringan fibrus dan selaput lendir. Gerakannya digerakkan oleh
ototnya sendiri di tengah palatum lunak menggantung keluar sebuah posesus berbentuk
kerucut yang di sebut uvula. Dari sini tiang-tiang lengkungan (fauses) melengkung ke bawah,
kesamping kiri, dan kanan tiang-tiang ini terdapat lipatan rangkap otot dan selaput lendir
yang di sebelah kanan dan kiri di sebut tonsil.

Palatum durum di bentuk oleh sebagian maxsilla di bagian depan dan os palatinum di bagian
belakang. Tulang di lapisi oleh periosteum dan membrana mukosa. Palatinum molle, di
bentuk oleh otot dan jaringan ikat yang di lapisi membrane mukosa, bersambungan dengan
palatum durum di bagian depan. Uvula adalah tonjolan lunak berbentuk kerucut yang
menggantung pada garis tengah. Pada setiap sisi terdapat dua arcus membrane mukosa dan
dinatranya merupakan tonsil.

Sumber: Evelyn C. Pearce, Anatomi & Fisiologi U.Ps . Jakartan : Gramedia pustaka utama

Perdarahan palatum

Palatum durum di perdarahi oleh a. palatine major dan a. incisive dari a. nasalis
(terutama rami nasopalatina). Arteri-arteri ini merupakan cabang a. maxsillaris.
Palatum molle mendapat perdarahan dari :

a. Aa. Palatine minores, cabang a maxsilaris


b. Beberapa cabang a.pharyngea ascendens dan palatine ascendens yang berjalan menuju
palataum di atas tepi atas m constrictor pharyngis superior. A. pharyngea ascendens
adalah cabang pertama a. carotis eksterna sedangkan a. palatine ascendens adalah
cabang bagaian cervicalis a.facialis
c. Rami dorsales linguae cabang dari a. lingualis

OS Palatinum

Posisi

Di belakangan palatum durum, dinding samping cavum nasi, orbita, fossa pterygopalatina.

Bagian-bagian

Lamina perpendicularis, lamina horizontalis dan processus pyramidalis

Persendian

Maxilla, os etmoidalle, os sphenoidale, vomer, concha nasalis inferior

Perkembangan

Os palatinum terbentuk dalam membrane selama masa kehidupan fetus yang berhubungan
erat dengan permukaan dalam cartilage capsula nasalis dari satu pusat penulangan di daerah
lamina perpendicularis dari tulang yang terletak di dekat procesus pyramidalis.

Sumber: Dixon, D Andrew. 1993. Anatomi untuk Kedokteran Gigi Edisi 5. Jakarta:
Hipocrates
Perkembangan Os palatinum

Os palatinum berkembang pada membrane di sisi medial (bagian dalam) cartilage capsula
nasi. Penulangan di mulai pada minggu ketujuh sampai kedelapan masa kehidupan fetus
pada region tuberositas dalam hubungan yang erat terhadap n. palatinus descendens
penulangan akan meluas keatas sebagai suatu lamina verticalis dan horizontal sebagai
procesus palatinus. Pada akhir bulan kedua (panjang 30mm pengukuran CR) semua
proccesus tulang sudah dapat dilihat. Pada mulanya os palatinum terpisah dari maxsilla
dengan adanya bagian belakang dinding lateral capsula nasalis. Namun bersama dengan akan
bertumpang tindih dengan bagian dalam pacies nasalis maxsillae dan ikut membantu
membentuk dinding medial sinus maxsillaris. Derah ini nantinya juga akan ikut membantu
batas posterior dari orificium ke daerah sinus maxsillaris.

Perkembangan Otot palatum

Otot-otot pengunyahan, otot wajah, otot palatum molle, pharynx, larynx berbentuk dari arcus
pharyngeus (brachialis). Otot vertebra m. obritalis dan otot lingua serta mm. infrahyoidei
terbentuk dari somiti bagian atas.

Otot terbentuk dari kelompok sel-sel otot primitive (myoblastus) yang terbelah secara
berkesinambungan sampai masa pertengahan kehidupan fetus. Sesudah itu pertumbuhan
sekanjutnya yang berlangsung adalah berupa penambahan ukuran (hipertrofi) dari serabut-
serabut individual. Hubungan saraf dengan serabut sedang berkembang terbentuk pada awal
perkembangan tetapi gerak refleks dan aktivitas fungsional yang normal baru akan terjadi
pada akhir masa kehidupan fetus. Otot akan mendapat perlekatan skletalnya kadangkala
setelah diferensiasi dari myoblastus berlangsung

Melalui fungsinya, otot akan bertambah besar. Penambahan ukuran ini di sebabkan walaupun
tidak seluruhnya, karena hipertrofi serabut individual melebihi ukuran normal bersama
dengan bertambahnya ketebalan dari setiap serabut. Melalui proses disuse atrofi, otot akan
mengecil dan mungkin sebagian di gantikan dengan jaringan fibrosa. Hipertrofi otot
berhubungan erat dengan hipertrofi serabut. Saraf motorik seiring dengan penebalan serta
bertambah padatnya bagian elemen skeletal yang bersangkutan. Efisiensi otot tergantung
pada jumlah unit motorik yang dapat diaktifkan pada saat tertentu; kehalusan gerakan otot
tergantung pada derajat perkembangan mekanisme proprioseptif.

Pertumbuhan palatum
Semasa fetus dan setelah bayi berusia satu tahun ketika sutura interfrontalis palatum media
dan sutura mandibularis (symphysis) membentuk system sutura sagitalis, pertembuhan lebar
cavum oris sebagian disebabkan karena pemisahan tulang-tulang yang mengelilingi system
sutura ini. Pada akhir tahun pertama sutura frontalis dan sutura mandibularis akan bergabung
dan walaupun sutura palatine mediana masihtetap ada, sutura ini tidak lagi merupakan daerah
pertumbuhan yang penting sesudah masa ini.

Pertumbuhan selanjutnya dari cavum oris umumnya dikarenakan deposis tulang di sepnjang
margo alveolaris, pada permukaan bawah palatum facies facialis mandibulae serta maxsilae,
facies lingualis processus alveolaris umunya teresorpsi dalam batasan tertentu tetapi
penambahan lebar palatum biasanya diakibatkan karena pertumbuhan processus alveolaris
kearah bawahdan keluar.

Langit-langit palatum selain mengelilingi cavum oris juga merupakan bagian dari penonjolan
wajah dimana processuis alveolaris yang membawa gigi geligi akan terdukung dan stress
mastikasi akan didistribusikan ke cranium dan basis cranii.

Sumber:Rohan W. johanes. Embriologi fungsional. EGC

Drainase lympatica palatum


Vasa lympatica dari region anterior palatum durum berdrainase kedepan ke pembuluh yang
menghubungkan vasa lymphatica facialis dan masuk ke lymponodus submandibularis vasa
lymphatica dari bagian belakang palatum durum berjalan masuk ke lymponodus cervicalis
anterioles profundi setelah menembus m. constrictor pharyngis superior terlebih dahulu.

Palatum molle mempunyai sejumlah besar drainase lymphatica yang berjalan pada kedua sisi
untuk bergabung dengan beberapa vasa lymphatica yang mendrainase tonsila dan secara
bersama-sama keduanya menembuis m.constrictor pharyngis superior masauk ke
lymphonodusretropharyngeales, parotitidei profundi dan servicales anteriores profundi.

Otot palatum molle

Struktur ini berperan penting dalam proses menelan ,bicara dan pengunyahan. Teridiri dari
lembaran aponeurotik sentral, aponeurosis palapina yang melekat pada tepi posterior durum
dan mengandung otot-otot berikut ini.

1. M. tensor veli palatine

Otot ini keluar dari fosa scaphoidea pada basis lamina medialis prosesus pterigoidei dan dari
sisi lateral kartilago tuba auditiva. Turun pada sisi lateral lamina medialis prosesus terigoidei
dalam hubungan yang erat terhadap origo m. terigoideus medialis dan berakhir pada tendon
yang masuk kedalam palatum molle di atas m. constrictor faringis superior dengan cara
mencantol disekitar hamulus pterigoideus. Di antara tendon otot dan tulang terdapat bursa
yang kecil. Di dalam palatum serabut tendon menyebar menjadi aponeurosis palatine tempat
perlekatan serabut ke tepi posterior palatum durum.

Suplai saraf dan fungsi :

N. mandibularis cabang N kranialis V (N.trigeminus), melalui ganglion ofticum dan cabang-


cabangnya ke pterygoideus medialis. Fungsinya adalah mengencangkan palatum molle di
atas dorsum lingual dan memungkinkan otot palatum lainnya bekerja denga basis yang kuat.

2. M. levator veli palatine

Keluar dari permukaan bawah apeks parspetrosa ossis temporalis dan sisi medial kartilago
tuba auditiva. Di dalam palatum molle melekat pada aponeurosis palatine dan otot-otot sisi
sebrangnya.

Suplai saraf dan fungsi:


Berasal dari plexus pharyngeus (parscranialis n. XI atau n. accessorius) berfungsi
mengangkat palatum molle bila aponeurosis palatine tegang.

3. M. palatoglosus

Keluar dalam palatum molle dari permukaan bawah aponeurosis palatine dan berlanjut
melintasi garis median bersama otot sisi sebrangnya. Berjalan pada plica palatoglosus (pilar
anterior fauces) dan berinsersi pada sisi belakang lingua.

Suplai saraf dan fungsi:

Dari plexus pharyngeus (berasal dari pars cranialis n. XI atau n. accessorius) berfungsi
mengangkat bagian posterior lingua ke palatum dan depresi palatum molle ke dorsu lingua;
kedua otot ini bekerja bersama untuk mendekatkan arcus palatoglossus.

4. M. patalopharyngeus

Berorigo pada palatum molle dari dua lapisan:

a. Lapisan posterior superior terletak di balik membrane mukosa cavum nasi dan
berhubungan dengan serabut otot sisi sebrangnya
b. Lapisan anterior inferior keluar dari aponeurosis palatine dan tepi posterior palatum
durum.
Pada bagian samping palatum molle terdapat dua unit lapisan dan serabut yang
berjalan kebawah dan belakang pada plica palatopharyngea di dinding samping
pharyng dan belakang tonsila. Otot ini berinsersi pada tepi posterior kartilago
thyroidea dan membrane mukosa pharyng. Bergabung dengan serabut yang berjalan
turun dari kartilago tuba auditiva (m. salpingopharyngeus)

Suplai saraf dan fungsi :

Dari plexus pharyngeus (berasal dari pars cranialis n. XI atau n. accessorius). Berfungsi
menekan palatum molle dan menarik didnding pharyngs keatas, kedepan dan kemedial.
Kedua otot bekerja bersama mengarah ke arcus palatopharyngeus (pilar posterior fauces) dan
berfungsi mngecilkan isthmus oropharynx.
5. M. uvulae

Berasal dari spina nasalis posterior pada bagian belakang palatum durum dan menuju
belakang melalui palatum molle ke ujung uvula.

Suplai saraf dan fungsi:

Plexus pharyngea (n.accesorius). aksi saraf ini memperpendek uvula.

Struktur palatum molle lainnya:

Tepat berada di atas membrane mukosa yang meutupi permukaan bawah palatum molle
terletak massa jaringan limfoid dan jaringan glandula mukosa yang meluas kedepan menuju
permukaan bawah platum durum. Glandula mukosa mengsekresi ulkus pada dorsum lingua.
Serabut sekretomoris parasympaticus berasal dari ganglion sphenopalatina.

Persarafan palatum molle berasal dari beberapa sumber yaitu:

a. A. palatine ascendens yang merupakan cabang dari a. facialis


b. Rami dorsalis linguae yang merupakan cabang a. lingualis, berjalan ke palatum
melalui plica palatoglosus
c. Aa. Palatini minors yang merupakan cabang a. palatine, merupakan cabang ketiga dari
a. maxsillaris, yang berjalan ke palatum molle melalui foramina palatine minors

Vena-vena palatum molle berdrainase ke plexus pharyngeus, vasalimphatica berdrainase ke


glandula servicales profunda superior yang di capai setelah terlebih dahulu melintasi m.
constrictor pharyngis superior.

m. tensor palatine di persarafi n. mandibularis cabang trigeminus; otot lainnya di persarafi


oleh pars cranialis n accesorius melalui n. vagus dan plexus pharyngeus. Persarafan sensorik
berasal dari devisi maxsillaris n. cranialis V melalui aa. Palatine minores. N glosopharyngeus
juga ikut mempersarafi bagain lateral palatum molle bersamaan serabut sensorik batas
membrane mukosa yang mengelilingi permukaan bawah (oral) dari palaum molle tertutup
epithelium stratificatum squamosum; pada facies nasalis atas tertutup epithelium columner
siliatum.

Catatan klinis:
Paralysis platum molle dapat timbul akibat dipteria, suatu penyakit yang sering yang di
temukan pada masa lalu tetapi untungnya dewasa ini sudah cukup jarang di temukan dan
dapat di cegah. Bila otot palatum terserang, palatum molle tidak akan dapat terangkat selama
proses menelan. Makanan atau cairan akan keluar melalaui hidung.

Celah perkembangan pada palatum molle akan menimbulkan gangguan bicara dan menelan
yaitu dengan terputusnya cecontinuean atau neurosis palatine dan aksi m.tensor dan levator
veli palatine pada lembaran jaringan ini. Serabut tensor palatine pada lembaran jaringan ini.
Serabut tensor veli palatine yang tersusun horizontal tidak dapat membentuk barrier jaringan
yang kuat, karakteristik palatum molle normal. M. levator veli palatini tidak dapat
mengangkat jaringan ini agar berkontak dengan dinding posterior pharynx atau membentuk
sphincter velopharyngeal dengan m. constrictor pharyngx untuk mengontrol aliran udara dan
makananpada region palatum molle.

Prosedur pembedahan untuk memperbaiki celah palatum molle harus di lakukan untuk
mengembalikan kontinuitas m. tensor veli palatini yang melintas pada garis median palatum
dan memungkinkan terjadinya kontak velopharyngeal. Prosedur pembedahan kadang-kadang
mencakup upaya mematahkan hamulus pterygoideus agar m. tensor veli palatine dapat
dengan mudah di tarik bersama-sama pada garis median. Prosedur lainnya dapat mencakup
pengangkatan mukoperiosteum di atas palatum durum agar jaringan lunak dapat di gerakkan
ke posterior, dengan cara ini jaringan palatum molle yang di butuhkan dapat terbentuk.

Refrensi :

Evelyn C. Pearce, Anatomi & Fisiologi U.Ps . Jakartan : Gramedia pustaka utama

Dixon, D Andrew. 1993. Anatomi untuk Kedokteran Gigi Edisi 5. Jakarta: Hipocrates

Rohan W. johanes. 2003. Embriologi Fungsional Perkembangan Organ Fungsi Manusia Ed 2.


Jakarta: EGC

Wibowo Daniel S. 2005. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta: Gramedia