Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Setiap individu atau organisasi tidak akan terlepas dari masalah. Masalah pada
dasarnya adalah penyimpangan atau ketidaksesuaian dari apa yang semestinya terjadi
atau tercapai. Kesalahan dalam melakukan identifikasi masalah akan menyebabkan
kesalahan dalam penyelesaiannya. Perawat dalam memberikan perawatan sebagai
bagian dari pemberi layanan kesehatan, yaitu memberi asuhan keperawatan dengan
menggunakan proses keperawatan akan selalu dituntut untuk berfikir kritis dalam
berbagai situasi. Penerapan berfikir kritis dalam proses keperawatan dengan kasus nyata
yang akan memberikan gambaran kepada perawat tentang pemberian asuhan
keperawatan yang komprehensif dan bermutu sehiga keputusan dapat diambil.
Pengambilan keputusan dalam penyelesaian masalah adalah kemampuan mendasar
bagi praktisi kesehatan, khususnya dalam asuhan keperawatan. Tidak hanya berpengaruh
pada proses pengelolaan asuhan keperawatan, tetapi penting untuk meningkatkan
kemampuan merencanakan perubahan. Perawat pada semua tingkatan posisi klinis harus
memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan yang efektif,
baik sebagai pelaksana/staf maupunsebagai pemimpin.
Pemecahan masalah termasuk dalam langkah proses pengambilan keputusan, yang
difokuskan untuk mencoba memecahkan masalah secepatnya. Masalah dapat
digambarkan sebagai kesenjangan diantara apa yang ada dan apa yang seharusnya
ada.Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang efektif diprediksi bahwa
individu harus memiliki kemampuan berfikir kritis dan mengembangkan dirinya dengan
adanya bimbingan dan role model di lingkungan kerjanya.
Oleh karena pentingnya pengambilan keputusan, maka perlu diberlakukan suatu
pembahasan secara mendalam mengenaisuatu dari masalah, agar kita dapat memahami
esensi dari pengambilan keputusan itu sendiri melalui berpikir kritis. Selain sebagai
kewajiban tugas kelompok, makalah ini diperbuat bertujuan untuk memberi pemahaman
kepada pembaca, agar mampu memahami konsep Berpikir Kritis dan Pengambilan
Keputusansecara sederhana dan jelas.

1
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Apakah pengertian berpikir kritis ?
1.2.2. Bagaimanakah keterkaitan berpikir kritis dengan keperawatan ?
1.2.3. Apa saja ciri-ciri berpikir kritis?
1.2.4. Bagaimanakah sikap perawat dalam berpikir kritis
1.2.5. Bagaimanakah penerapan berpikir kritis?
1.2.6. Apa saja model berpikir kritis?
1.2.7. Apakah pengertian pengambilan keputusan?
1.2.8. Apa saja hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan?
1.2.9. Bagaimanakah metode pengambilan keputusan?
1.2.10. Apa saja langkah-langkah pemecahan masalah?
1.2.11. Bagaimanakah format pengambilan keputusan?
1.2.12. Apa saja faktor pengambilan keputusan?
1.2.13. Bagimannakah contoh aplikasi pengambilan keputusan?

1.3.Tujuan
1.3.1. Mengetahui pengertian berpikir kritis
1.3.2. Mengetahui keterkaitan berpikir kritis dengan keperawatan
1.3.3. Mengetahui ciri-ciri berpikir kritis
1.3.4. Memahami sikap perawat dalam berpikir kritis
1.3.5. Mengetahui penerapan berpikir kritis
1.3.6. Memahami model berpikir kritis
1.3.7. Memahami pengertian pengambilan keputusan
1.3.8. Mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan
1.3.9. Memahami metode pengambilan keputusan
1.3.10. Mengetahui langkah-langkah pemecahan masalah
1.3.11. Memahami format pengambilan keputusan
1.3.12. Memahami faktor pengambilan keputusan
1.3.13. Memahami contoh aplikasi pengambilan keputusan
1.4.Manfaat
1.4.1. Memberikan informasi mengenai pengertian berpikir kritis
1.4.2. Memberikan informasi mengenai keterkaitan berpikir kritis dengan keperawatan
1.4.3. Memberikan informasi mengenai ciri-ciri berpikir kritis
1.4.4. Memberikan informasi mengenai sikap perawat dalam berpikir kritis
2
1.4.5. Memberikan informasi mengenai penerapan berpikir kritis
1.4.6. Memberikan informasi mengenai model berpikir kritis
1.4.7. Memberikan informasi mengenai pengertian pengambilan keputusan
1.4.8. Memberikan informasi mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dalam
pengambilan keputusan
1.4.9. Memberikan informasi mengenai metode pengambilan keputusan
1.4.10. Memberikan informasi mengenai langkah-langkah pemecahan masalah
1.4.11. Memberikan informasi mengenai format pengambilan keputusan
1.4.12. Memberikan informasi mengenai faktor pengambilan keputusan
1.4.13. Memberikan informasi mengenai contoh aplikasi pengambilan keputusan

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Berfikir Kritis
Berpikir kritis merupakan sebuah komponen esensial yang memperlihatkan
kebiasaan berpikir seperti : percaya diri, perspektif kontekstual, kreativitas, fleksibilitas,
rasa ingin tahu, integritas intelektual, intuisi, berpikiran terbuka, tekun dan refleksi. Para
pemikir kritis melatih keterampilan kognitif dalam menganalisis, menerapkan standar,
membedakan, mencari informasi, memberi alasan logis, memperkirakan, dan mengubah
pengetahuan (Rubenfeld & Scheffer, 2006).
Berpikir kritis adalah reflektif, pemikiran yang masuk akal tentang masalah
keperawatan tanpa ada solusi dan difokuskan pada keputusan apa yang harus diyakini dan
dilakukan (Kataoka-Yahiro & Saylor, 1994 dalam Potter & Perry, 2005). Menurut
pendapat Siegel (1980 dalam Reilly & Obermann, 2002) menyatakan berpikir kritis
memerlukan evaluasi terhadap ide. Berpikir kritis merupakan berpikir yang rasional.
Berpikir kritis ini memerlukan kemampuan untuk mengevaluasi suatu pernyataan dan
mengidentifikasi suatu alasan, misalnya bukti yang melandasi evaluasi tersebut. Siegel
juga mengatakan seseorang dapat dikatakan berpikir kritis jika seseorang mampu
mengenali kepentingan dan memiliki keyakinan yang kuat terhadap alasan yang
mendasari alasannya tersebut. Saat mengkaji tuntutan, mengevaluasi prosedur, atau
membuat keputusan, dia mencari alasan yang mendasari pengkajian, evaluasi dan
keputusannya.
2.2 Keterkaitan Berfikir Kritis Dengan Keperawatan
Menurut Facione (2004 dalam Potter & Perry, 2009) mengatakan berpikir kritis
terdiri dari enam sub-skill dan aplikasinya dalam keperawatan adalah sebagai berikut :
1. Interpretasi (Interpretation)
Interpretasi merupakan proses memahami dan menyatakan makna atau signifikansi
variasi yang luas dari pengalaman, situasi, data, peristiwa, penilaian, persetujuan,
keyakinan, aturan, prosedur dan kriteria. Interpretasi meliputi sub-skill kategorisasi,
pengkodean, dan penjelasan makna.
2. Analisis (Analysis)
Analisis adalah proses mengidentifikasi hubungan antara pernyataan, pertanyaan,
konsep, deskripsi, atau bentuk-bentuk representasi lainnya untuk mengungkapkan
keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi dan opini.
3. Inferensi (Inference)
4
Inferensi merupakan proses mengidentifikasi dan memperoleh unsur yang
dibutuhkan untuk menarik kesimpulan, untuk membentuk suatu dugaan atau hipotesis,
mempertimbangkan informasi yang relevan dan mengembangkan konsekuensi yang
sesuai dengan data., pernyataan, prinsip, bukti, penilaian, keyakinan, opini, konsep,
deskripsi, pertanyaan dan bentuk-bentuk representasi lainnya
4. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan suatu proses pengkajian kredibilitas pernyataan atau
representasi yang menilai atau menggambarkan persepsi, pengalaman, situasi, penilaian,
keyakinan atau opini seseorang serta mengkaji kekuatan logis dari hubungan aktual
antara dua atau lebih pernyataan, deskripsi, pertanyaan atau bentuk representasi lainnya.
5. Eksplanasi (Explanation)
Eksplanasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mempresentasikan hasil
penilaian seseorang dengan cara meyakinkan dan koheren.
6. Pengontrolan diri (Self-Regulation)
Pengontrolan diri adalah kesadaran untuk memantau aktivitas kognitif sendiri,
unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, dan hasil-hasil yang
dikembangkan, terutama melalui penggunaan keterampilan dalam menganalisis,
mengevaluasi penilaian inferensial seseorang dengan suatu pendangan melalui pengajuan
pertanyaan, konfirmasi,validasi atau pembetulan atas penilaian seseorang.
2.3 Ciri-Ciri Berfikir Kritis
1. Mampu membuat simpulan dan solusi yang akurat, jelas, dan relevan terhadap
kondisi yang ada.
2. Berpikir terbuka dengan sistematis dan mempunyai asumsi, implikasi, dan
konsekuensi yang logis.
3. Berkomunikasi secara efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang kompleks.
Berpikir kritis merupakan cara untuk membuat pribadi yang terarah, disiplin,
terkontrol, dan korektif terhadap diri sendiri. Hal ini tentu saja membutuhkan
kemampuan komunikasi efektif dan metode penyelesaian masalah serta komitmen
untuk mengubah paradigma egosentris dan sosiosentris kita.Saat kita mulai untuk
berpikir kritis, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan disini, yaitu:
a. Mulailah dengan berpikir apa dan kenapa, lalu carilah arah yang tepat untuk
jawaban dari pertanyaan tersebut.
b. Tujuan pertanyaan akan apa dan kenapa.
c. Informasi yang spesifik untuk menjawab pertanyaan diatas.
5
d. Kriteria standar yang ditetapkan untuk memenuhi jawaban atas pertanyaan.
e. Kejelasan dari solusi permasalahan/pertanyaan.
f. Konsekuensi yang mungkin terjadi dari pilihan yang kita inginkan.
g. Mengevaluasi kembali hasil pemikiran kita untuk mendapatkan hasil yang
maksimal.
Beberapa kriteria yang dapat kita jadikan standar dalam proses berpikir kritis ini
adalah kejelasan (clarity), tingkat akurasi (accuracy), tingkat kepresisian (precision)
relevansi (relevance), logika berpikir yang digunakan (logic), keluasan sudut pandang
(breadth), kedalaman berpikir (depth), kejujuran (honesty), kelengkapan informasi
(information) dan bagaimana implikasi dari solusi yang kita kemukakan (implication).
Kriteria-kriteria di atas tentunya harus menggunakan elemen-elemen penyusun
kerangka berpikir suatu gagasan atau ide. Sebuah gagasan/ide harus menjawab beberapa
hal sebagai berikut. Tujuan dari sebuah gagasan/ide.
1. Pertanyaan dari suatu masalah terhadap gagasan/ide.
2. Sudut pandang dari gagasan/ide.
3. Informasi yang muncul dari gagasan/ide.
4. Interpretasi dan kesimpulan yang mungkin muncul.
5. Konsep pemikiran dari gagasan/ide tersebut.
6. Implikasi dan konsekuensi.
7. Asumsi yang digunakan dalam memunculkan gagasan/ide tersebut.
Dasar-dasar ini yang pada prinsipnya perlu dikembangkan untuk melatih
kemampuan berpikir kritis kita. Jadi, berpikir kritis adalah bagaimana menyeimbangkan
aspek-aspek pemikiran yang ada di atas menjadi sesuatu yang sistemik dan mempunyai
dasar atau nilai ilmiah yang kuat. Selain itu, kita juga perlu memperhitungkan aspek
alamiah yang terdapat dalam diri manusia karena hasil pemikiran kita tidak lepas dari
hal-hal yang kita pikirkan.
Sebagaimana fitrahnya, manusia adalah subjek dalam kehidupan ini. Artinya
manusia akan cenderung berpikir untuk dirinya sendiri atau disebut sebagai egosentris.
Dalam proses berpikir, egosentris menjadi hal utama yang harus kita hindari. Apalagi
bila kita berada dalam sebuah tim yang membutuhkan kerjasama yang baik. Egosentris
akan membuat pemikiran kita menjadi tertutup sehingga sulit mendapatkan inovasi-
inovasi baru yang dapat hadir. Pada akhirnya, sikap egosentris ini akan membawa
manusia ke dalam komunitas individualistis yang tidak peka terhadap lingkungan sekitar.
Bukan menjadi solusi, tetapi hanya menjadi penambah masalah. Semakin sering kita
6
berlatih berpikir kritis secara ilmiah, maka kita akan semakin berkembang menjadi tidak
hanya sebagai pemikir kritis yang ulung, namun juga sebagai pemecah masalah yang ada
di lingkungan.
2.4 Sikap Berfikir Kritis dalam Keperawatan
1. Tanggung Gugat
Ketika individu mendekati suatu situasi yang membutuhkan berfikir kritis,adalah
tugas individu tersebut untuk mudah menjawab apapun keputusan yang
dibuatnya.Sebagai perawat profesional,perawat harus membuat keputusan dalam
berespons terhadap hak, kebutuhan, dan minat klien. Perawat harus menerima tanggung
gugat untuk apapun penilaian yang dibuatnya atas nama klien.
2. Berfikir Mandiri
Untuk berfikir mandiri, seseorang menantang cara tradisional dalam berfikir, dan
mencari rasional serta jawaban logis untuk masalah yang ada.
3. Mengambil Risiko
Kemauan dan niat mengambil risiko dibutuhkan untuk mengenali keyakinan apa
yang salah dan untuk kemudian melakukan tindakan didasarkan keyakinan yang
didukung oleh fakta yang kuat. Kecuali seseorang mampu mengambil risiko, maka orang
tersebut mengalami kesulitan untuk menerima perubahan.
4. Kerendahan Hati
Pemikir kritis menerima bahwa mereka tidak mengetahui dan mencoba untuk
mendapatkan pengetahuan yang diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat.
Keselamatan dan kesejahteraan klien mungkin berisiko jika perawat tidak mampu
mengenali ketidakmampuannya untuk mengatasi masalah praktik.
5. Integritas
Pemikir kritis mempertanyakan dan menguji pengetahuan dan keyakinan pribadinya
seteliti mereka menguji pengetahuan dan keyakinan orang lain.
6. Ketekunan
Pemikir kritis terus bertekat untuk menemukan solusi yang efektif untuk masalah
perawatan klien. Perawat belajar sebanyak mungkin mengenai masalah, mencoba
berbagai pendekatan untuk perawatan, dan terus mencari sumber tambahan sebagai
pendekatan yang tepat digunakan.
7. Kreativitas

7
Kreativitas mencakup berfikir orginal. Hal ini berarti menemukan solusi diluar apa
yang dilakukan secara tradisional. Sering kali klien menghadapi masalah yang
membutuhkan pendekatan unik.

2.5 Penerapan Berpikir Kritis


Ada 4 hal pokok penerapan berpikir kritis dalam keperawatan, yaitu :
1. Penggunaan Bahasa dalam Keperawatan
Berpikir kritis adalah kemampuan meggunakan Bahasa secara reflektif, dimana
perawat dapat menggunakan Bahasa verbal dan non-verbal dalam mengekspresikan ide,
pikiran, fakta-fakta, perasaan, keyakinan, dan sikapnya terhadap klien, sesama perawat,
dan profesi lainnya. Secara non-verbal, yaitu dalam melakukan pendokumentasian
keperawatan.
2. Argumentasi dalam Keperawatan
Dalam kehidupan sehari-hari, perawat dihadapkan pada situasi dimana harus
beragumentasi untuk menemukan, menjelaskan kebenaran, mengklasifikasi isu,
memberikan penjelasan, serta mempertahankan terhadap suatu tuntutan atau tuduhan.
Menurut Badman (1988), argumentasi terkait dengan konsep berpikir kritis dalam
keperawatan, yaitu :
a. Berhubungan dengan situasi perdebatan.
b. Debat tentang suatu isu.
c. Upaya untuk mempegaruhi individu/kelompok.
d. Terdapat penjelasan yang rasional.
3. Pengambilan Keputusan dalam Keperawatan
Dalam kehidupan sehari-hari, perawat harus mengambil keputusan yang tepat untuk
klien.
4. Penerapan Proses Keperawatan
a. Pada Tahap Pengkajian
Perawat dituntut untuk dapat mengumpulkan data dan memvalidasinya dengan hasil
observasi. Perawat harus melaksanakan observasi yang dapat dipercaya dan
membedakannya dari data yang tidak sesuai. Hal ini merupakan keterampilan dasar
berpikir kritis. Lebih jauh perawat diharapakan dapat mengelola dan mengkategorikan
data yang sesuai dan diperlukan. Untuk memiliki keterampilan ini, perawat harus
memiliki kemampuan dalam mensintesa dan menggunakan ilmu-ilmu seperti biomedik,
ilmu dasar keperawatan, ilmu perilaku, dan ilmu sosial.
8
b. Perumusan Diagnosa Keperawatan
Tahap ini adalah tahap pengambilan keputusan yang paling kritikal. Dimana perawat
dapat menentukan masalah yang benar-benar dirasakan oleh klien, beserta dengan
argumentasi yang rasional. Semakin perawat terlatih untuk berpikir kritis, maka akan
semakin tajam dalam menentukan masalah atau diagnosa keperawatan klien, baik
diagnosa keperawatan aktual, risiko, maupun sejahtera.
c. Perencanaan Keperawatan
Saat merumuskan rencana keperawatan, perawat menggunakan penget ahuan dan
keterampilanuntuk mengembangkan hasil yang diharapkan untuk mengevaluasi asuhan
keperawatan yang diberikan. Hal ini merupakan keterampilan lain dalam berpikir kritis,
pemecahan masalah atau pengambilan keputusan. Untuk hal ini, dibutuhkan kemampuan
perawat dalam bidang ilmu keperawatan dan keterampilan yang baik dalam membuat
rencana keperawatan agar tindakan keperawatan yang dilakukan benar.
d. Implementasi Keperawatan
Pada tahap ini, perawat menerapkan ilmu yang dimiliki terhadap situasi nyata yang
dialami klien. Dalam metode berpikir ilmiah, pelaksanaan tindakan keperawatan adalah
keterampilan perawat dalam merawat klien. Oleh karena itu, pelaksanaan tindakan
keperawatan merupakan suatu tindakan nyata yang dapat menentukan apakah perawat
dapat berhasil mencapai tujuan atau tidak.
e. Evaluasi Keperawatan
Pada tahap ini perawat mengkaji sejauh mana efektivitas tindakan yang telah
dilakukan sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu terpenuhinya
kebutuhan dasar klien. Pada proses evaluasi, standar dan prosedur berpikir kritis sangat
memegang peranan penting karena pada fase ini perawat harus dapat mengambil
keputusan apakah tujuan yang diinginkan telah tercapai, termasuk semua kebutuhan
dasar klien terpenuhi, apakah diperlukan tindakan modifikasi untuk memecahkan
masalah klien, atau bahkan harus mengulang penilaian terhadap tahap perumusan
diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan sebelumnya.
2.6 Model Berpikir Kritis
Dalam penerapan pembelajaran pemikiran kritis di pendidikan keperawatan, dapat
digunakan tiga model, yaitu sebagai berikut :
1. Feeling Model
9
Model ini menerapkan pada rasa, kesan, dan data atau fakta yang ditemukan.
Pemikir kritis mencoba mengedepankan perasaan dalam melakukan pengamatan,
kepekaan dalam melakukan aktifitas keperawatan dan perhatian. Misalnya terhadap
aktifitas dalam pemeriksaan tanda vital, perawat merasakan gejala, petunjuk dan
perhatian kepada pernyataan serta pikiran klien.
2. Vision Model
Model ini digunakan untuk membangkitkan pola pikir, mengorganisasi dan
menerjemahkan perasaan untuk merumuskan hipotesis, analisis, dugaan dan ide tentang
permasalahan perawatan kesehatan klien, beberapa kritis ini digunakan untuk mencari
prinsip-prinsip pengertian dan peran sebagai pedoman yang tepat untuk merespon
ekspresi.
3. Examine Model
Model ini digunakan untuk merefleksi ide, pengertian dan visi. Perawat menguji ide
dengan bantuan kriteria yang relevan. Model ini digunakan untuk mencari peran yang
tepat untuk analisis, mencari, meguji, melihat konfirmasi, kolaborasi, menjelaskan dan
menentukan sesuatu yang berkaitan dengan ide.
Model berpikir kritis dalam keperawatan menurut Costa and Colleagues (1985) yang
dikenal sebagai The six Rs, yaitu sebagai berikut :
a. Remembering (mengingat)
b. Repeating (mengulang)
c. Reasoning (memberi alasan)
d. Reorganizing (reorganisasi)
e. Relating (berhubungan)
f. Reflecting (memantulkan/merenungkan)
2.8 Pengertian Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan adalah proses memilih sejumlah alternatif. Pengambilan
keputusan penting bagi manager administrator karena proses pengambilan keputusan
mempunyai peran penting dalam memotivasi, kepemimpinan, komunikasi, koordinasi,
dan perubahan organisasi (Usman, 2013). Mengambil keputusan adalah memilih
alternatif dari dua atau beberapa alternatif yang ada untuk menentukan arah tujuan yang
ingiin dicapai. Alternatif-alternatif tersebut dapat berupa suatu kondisi fisik, atau usaha-
usaha yang kreatif, atau tempat menghimpun pemikiran, perasaan dan pengetahuan untuk
melaksanakansauatu tindakan (Terry, 2012).

10
Menurut pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah
suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah dengan pengumpulan
fakta-fakta dan data, menentukan alternatif yang matang untuk mengambil suatu
tindakan yang tepat.
2.9 Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Pengambilan Keputusan
Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan :
1. Dalam proses pengambilan keputusan tidak terjadi secara kebetulan.
2. Pengambilan keputusan tidak dilakukan secara sembrono tapi harus berdasarkan pada
sistematika tertentu :
a. Tersedianya sumber-sumber untuk melaksanakan keputusan yang akan diambil.
b. Kualifikasi tenaga kerja yang tersedia
c. Falsafah yang dianut organisasi.
d. Situasi lingkungan internal dan eksternal yang akan mempengaruhi administrasi
dan manajemen di dalam organisasi.
3. Masalah harus diketahui dengan jelas.
4. Pemecahan masalah harus didasarkan pada fakta-fakta yang terkumpul dengan
sistematis.
5. Keputusan yang baik adalah keputusan yang telah dipilih dari berbagai alternatif
yang telah dianalisa secara matang.
Apabila pengambilan keputusan tidak didasarkan pada kelima hal diatas, akan
menimbulkan berbagai masalah :
1. Tidak tepatnya keputusan.
2. Tidak terlaksananya keputusan karena tidak sesuai dengan kemampuan organisasi
baik dari segi manusia, uang maupun material.
3. Ketidakmampuan pelaksana untuk bekerja karena tidak ada sinkronisasi antara
kepentingan organisasi dengan orang-orang di dalam organisasi tersebut.
4. Timbulnya penolakan terhadap keputusan.
Sikap atau watak berfikir kritis dapat ditingkatkan dengan memantapkan secara
positif dan memotivasi lingkungan kerja. Kreativitas penting untuk membangkitkan
motivasi secara individu sehingga mampu memberikan konsep baru dengan pendekatan
inovatif dalam memecahkan masalah atau isu secara fleksibel dan bebas berpikir.
Keterbukaan menerima kritik akan mengakibatkan hal positif seperti; semakin
terjaminnya kemampuan analisa seseorang terhadap fakta dan data yang dihadapi dan
akan meningkatkan kemampuan untuk mengatasi kelemahan.
11
2.10 Metode Pengambilan Keputusan
Prinsip utama untuk menetapkan suatu masalah adalah mengetahui fakta, kemudian
memisahkan fakta tersebut dan melakukan interpretasi data menjadi fakta objektif dan
menentukan luasnya masalah tersebut. Manajer membutuhkan kemampuan untuk
menetapkan prioritas pemecahan masalah. Umumnya untuk pemecahan masalah selalu
menggunakan metoda coba-coba dan salah, eksperimen, dan atau tidak berbuat apa-apa
(do nothing). Pembuatan keputusan dapat dipandang sebagai proses yang
menjembatani hal yang lalu dan hal yang akan datang pada saat manajer hendak
mengadakan suatu perubahan.

Memahami masalah yang lalu


Perencanaan kemungkinan
Menduga masalah yang akan
datang

Pengambilan Keputusan
Mengenalkan Perubahan

Lampau Kini Akan datang

12
Bagan : Proses Pemecahan masalah

Proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan seperti pada gambar di


bawah ini :

masalah

Pengumpulan data

Mengembangkan pemecahan

Analisa data

Memilih alternatif

Implementasi

Evaluasi

Proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan diatas adalah salah satu
penyelesaian yang dinamis. Penyebab umum gagalnya penyelesaian masalah adalah
kurang tepat mengidentifikasi masalah. Oleh karena itu identifikasi masalah adalah
langkah yang paling penting. Kualitas hasil tergantung pada keakuratan dalam
mengidentifikasi masalah.

13
Identifikasi masalah dipengaruhi oleh informasi yang tersedia, nilai, sikap dan
pengalaman pembuat keputusan serta waktu penyelesaian masalah. Terutama waktu
yang cukup untuk mengumpulkan dan mengorganisir data.
2.11 Langkah-langkah Pemecahan Masalah

1. Mengetahui hakekat dari masalah dengan mendefinisikan masalah yang dihadapi.


Untuk mengetahui hakekat suatu masalah tidaklah mudah, karena masalah yang
sebenarnya dihadapi sering terselubung dan tidak terlihat jelas. Oleh karena itu
diperlukan keahlian, pendidikan dan pengalaman untuk membuat diagnosa yang tepat.
Untuk itu manajer perawat dan bidan agar selalu mengembangkan kemampuannya dan
belajar dari pengalaman di masa lalu untuk mempelajari perubahan yang terjadi.
2. Mengumpulkan fakta-fakta dan data yang relevan.
Pengumpulan data atau informasi dikerjakan secara berkesinambungan melalui
proses yang sistematis, sehingga upaya untuk mengantisipasi keadaan/masalah yang
mungkin timbul akan lebih mudah dilaksanakan seperti ;
a. Apakah masalah yang dihadapi diketahui dengan jelas?
b. Apakah keadaan yang dihadapi merupakan masalah sebenarnya?
c. Apakah sistem pelaporan di dalam organisasi sudah memungkinkan untuk
prediksi secara tepat?
3. Mengolah fakta dan data.
Fakta-fakta dan data yang telah terkumpul dengan baik diolah secara sistematis yang
akhirnya akan merupakan suatu informasi yang akan digunakan sebagai bahan untuk
pengambilan keputusan. Analisa fakta dan data perlu dihubungkan dengan serangkaian
pertanyaan sebagai berikut :
a. Situasi yang bagaimanakah yang menimbulkan masalah?
b. Apa latar belakang dari masalah?
c. Apa pengaruh dan hubungan antara masalah yang dihadapi dengan tujuan,
rencana dan kebijakan organisasi?
d. Apa konsekuensi atas keputusan yang diambil?
e. Apakah pemecahan masalah sesuai dengan kapasitas organisasi?
f. Apakah waktu pengambilan tepat?
g. Siapa yang akan ditugaskan mengambil tindakan?

14
4. Menentukan beberapa alternatif pemecahan masalah.
Fakta-fakta dan data yang telah terkumpul dengan baik diolah secara sistematis yang
akhirnya akan merupakan suatu informasi yang akan digunakan sebagai bahan untuk
pengambilan keputusan. Analisa fakta dan data perlu dihubungkan dengan serangkaian
pertanyaan sebagai berikut :
a. Situasi yang bagaimanakah yang menimbulkan masalah?
b. Apa latar belakang dari masalah?
c. Apa pengaruh dan hubungan antara masalah yang dihadapi dengan tujuan,
rencana dan kebijakan organisasi?
d. Apa konsekuensi atas keputusan yang diambil?
e. Apakah pemecahan masalah sesuai dengan kapasitas organisasi?
f. Apakah waktu pengambilan tepat?
g. Siapa yang akan ditugaskan mengambil tindakan?
5. Memilih cara pemecahan dari alternatif yang dipilih.
Baik buruknya sesuatu keputusan yang diambil sangat tergantung atas kemampuan
menganalisa kekuatan dan kelemahan alternatif-alternatif yang dihadapi. Dalam usaha
menganalisa alternatif yang ada seseorang perlu memperhitungkan :
a. Siapa yang terlibat/dipengaruhi setiap alternatif ?
b. Tindakan apa yang diperlukan ?
c. Reaksi apa yang mungkin timbul ?
d. Dimana sumber reaksi tersebut ?
e. Interaksi apa yang diperlukan ?
6. Memutuskan tindakan yang akan diambil
Pada setiap pengambilan keputusan selalu disertai dengan pengambilan resiko. Pada
umumnya pilihan diambil dari beberapa alternatif jika diduga bahwa pilihan itu akan
memberikan manfaat yang paling besar baik untuk jangka panjang maupun jangka
pendek. Namun demkian perlu dipertimbang juga bahwa resiko yang menyertai bersifat
moderat.
7. Evaluasi.
Untuk mengadakan penilaian yang baik, diperlukan obyektivitas dalam melakukan
penilaian atau evaluasi. Biasanya suatu hal yang sangat sukar bagi seseorang untuk
menilai dirinya sendiri secara obyektif. Oleh karena itu pelaksanaan penilaian dapat
diserahkan kepada pihak ketiga yang tidak terlibat langsung dalam proses pengambilan
keputusan untuk memperoleh tingkat obyektivitas setinggi mungkin. Untuk proses
15
evaluasi perlu diperhatikan mengenai tempat dan siapa yang bertanggung jawab serta
kapan hal tersebut dilaksanakan, contoh; sebelumnya manajer menetapkan suatu
kebijakan baru dalam merespon keluhan pengunjung. Untuk menjamin bahwa kegiatan
itu efektif perlu kerja sama dengan semua staf terkait. Kemudian bagaimana penemuan
itu akan dikomunikasikan kepada personal lainnya.

2.12 Format Pengambilan Keputusan


Format Pengambilan Keputusan
Isu/masalah : ______________________________________________________
Tujuan : ______________________________________________________
______________________________________________________
Pilihan :
1. ___________________________________________________________
2. ___________________________________________________________
3. ___________________________________________________________

Evaluasi dari pilihan :

Pilihan Keuntungan Kerugian

1.
2.
3.
4.
5.

Pilihan yang masuk ke kolom keuntungan itulah yang menjadi prioritas pengambilan
keputusan. Mungkin ada 2 atau 3 pilihan, maka diseleksi lebih jauh untuk memilih satu
pilihan.
a. Rangking sesuai prioritas dari pilihan tersebut
b. Seleksi pilihan yang terbaik

16
2.13 Faktor Pengambilan Keputusan
Banyak faktor yang berpengaruh kepada individu dan kelompok dalam pengambilan
keputusan, antara lain:
1. Faktor Internal
Faktor internal dari diri manajer sangat mempengaruhi proses pengambilan
keputusan. Faktor internal tersebut meliputi: keadaan emosional dan fisik, personal
karakteristik, kultural, sosial, latar belakang filosofi, pengalaman masa lalu, minat,
pengetahuan dan sikap pengambilan keputusan yang dimiliki.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal termasuk kondisi dan lingkungan waktu. Suatu nilai yang
berpengaruh pada semua aspek dalam pengambilan keputusan adalah pernyataan
masalah, bagaimana evaluasi itu dapat dilaksanakan. Nilai ditentukan oleh salah satu
kultural, sosial, latar belakang, filosofi, sosial dan kultural.
2.14 Contoh Aplikasi Pengambilan Keputusan
Seorang wanita berusia 40 tahun menderita tumor dia menolak untuk di obati di
karenakan biaya yang kurang mencukupi, namun dia pernah mendatangi puskesmas
terdekat untuk berobat dan konsultasi untuk menyelamatkan hidup nya, maka di perlukan
suatu operasi dengan segera. Tetapi dia tetap saja menolak untuk dioperasi dengan alas
an tidak adanya biaya, tidak inggin orang lain (anak-anak nya) susah akan
keberadaannya seperti itu dan membiarkan tumor itu menjadi besar hingga ia meninggal.
Anak-anak nya pun tidak bisa berbuat apa-apa, dan mereka menghargai keputusan
ibunya walaupun dengan berat hati. Begitu pula suaminya dia bekerja hanya sebagai kuli
yang hanya cukup untuk keperluan sehari-hari saja.
PENYELESAIAN DILEMA ETIK
Kerangka pemecahan dilema etik, menurut kozier and Erb (1989)
1. Mengembangkan data dasar
a. Orang-orang yang terlibat dalam dilema etik tersebut : klien, suami, anak,
perawat, rohaniawan
b. Tindakan yang diusulkan sebagai klien dia mempunyai otonomi untuk
membiarkan penyakitnya menggerogoti tubuhnya walaupun sebenarnya bukan
hal itu yang di inginkannya. Dalam hal ini, perawat mempunyai peran dalam
pemberi asuhan keperawatan, peran advocad (pendidik) serta sebagai konselor

17
yaitu membela dan melindungi ibu tersebut untuk hidup dan menyelamatkan
jiwanya dari ancaman kematian.
c. Maksud dari tindakan dengan memberikan pendidikan, konselor, advokasi di
harapkan klien mau menjalani operasi serta dapat membuat keputusan yang tepat
terhadap masalah yang saat ini dihadapi.
d. Konsekuensi tindakan yang diusulkan operasi dilaksanakan
a) Biaya Biaya yang dibutuhkan klien cukup besar untuk dilaksanakannya
operasi
b) Psikososial Pasien merasa bersyukur diberi umur yang panjang (bila operasi
itu lancar dan baik) namun klien juga dihadapkan pada kecemasan akan
kelanjutan hidupnya bila ternyata operasi itu gagal serta biaya-biaya yang
akan di keluarkan.
c) Fisik Klien mempunyai bentuk tubuh yang normal tidak terdapat
pembesaran dalam tubuhnya (perut) dan bila dibiarkan begitu saja cepat atau
lambat akan terjadilah kematian
Bila operasi tidak dilaksanakan
a) Biaya Tidak mengeluarkan biaya apa-apa
b) Psikososial Klien dihadapkan pada suatu ancaman kematian terjadi
kecemasan dan rasa sedih dalam hatinya
c) Fisik Timbulnya pembesaran di daerah abdomen
2. Identifikasi Konflik Akibat Situasi Tersebut
a. Untuk memutuskan apakah operasi dilakukan pada wanita tersebut, perawat
dihadapkan pada konflik tidak menghormati otonomi klien
b. Apabila tindakan operasi tidak di lakukan perawat dihadapkan pada konflik :
a) Tidak melaksanakan sumpah profesi
b) Tidak melaksanakan kode etik profesi dan prinsip-prinsip moral :
advokasi,benefesience, justice, avoiding, killing.
c) Tidak melaksanakan perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan
d) Perasaan bersalah (quilty) akibat tidak melaksanakan tindakan operasi yang
memungkinkan timbulnya kematian.
3. Tindakan Alternatif Terhadap Tindakan Yang Diusulkan
a. Mengusulkan dalam tim yang terlibat dalam masalah klien untuk dilakukannya
operasi, konsekuensi

18
a) Usul diterima atau ditolak aleh tim dan pihak yang terlibat dalam
penanganan klien
b) Mungkin klien secara psikologis akan menjadi lebih siap untuk menghadapi
tantangan akan kehidupan ini
c) Resiko pengeluaran biaya yang tak terduga/ tidak dapat diprediksi b.
Mengangkat dilema etik ini kepada komisi etik keperawatan yang lebih
tinggi untuk mempertimbangkan apakah operasi ini dilakukan atau tidak
konsekuensi :
d) Mungkin memperoleh tanggapan yang memuaskan
e) Mungkin memperoleh tanggapan yang kurang memuaskan
f) Tidak tertutup kemungkinan untuk tidak di tanggapi sama sekali c. Meminta
izin kepada pimpinan lembaga pelayanan kesehatan (klinik kesehatan) untuk
menyampaikan informasi mengenai kondisi klien yang sebenarnya.
Konsekuensi :
g) Koordinator lembaga pelayanan menyetujui atau menolak
h) Klien meperoleh informasi dan dapat memahami kondisinya, serta dapat
mengambil sikap untuk memutuskan tindakan yang terbaik untuk dirinya.
i) Kondisi psikologis klien lebih baik atau bertambah buruk karena responnya
terhadap informasi yang diperoleh

4. Menetapkan Siapa Pembuat Keputusan Pada kasus wanita tersebut merupakan


masalah yang komplek dan rumit, membuat keputusan dilakukan operasi atau tidak
dapat diputuskan oleh pihak tertentu saja tetapi harus diputuskan secara bersama-
sama.
a. Pengambilan keputusan harus melibatkan tim yang terkait dan klien
b. Keputusan dibuat untuk :
a) Pihak yang terkait dengan wanita tersebut untuk melakukan operasi atau
tidak
b) Klien, keputusan yang dibuat dapat memperoleh kepastian apakah dilakukan
operasi atau tidak.
c. Kriteria penetapan siapa pembuat keputusan
a) Tim Kumpulan dari beberapa pihak yang berkepentingan dan yang paling
memahami kondisi fisik dan psikologis klien. Masalah yang dihadapi
Sangay komplek dan rumit yang tidak hanya memerlukan pertimbangan
19
ilmiah, tetapi juga pertimbangan etik sehingga pembuat keputusan akan
lebih bijaksana dilakukan oleh tim.
b) klien klien dalah orang yang paling berkepentingan dalam pengambilan
keputusan yang dibuat oleh klien bisa berubah secara tiba-tiba yang akan
mempengaruhi keputusan tim
c) Keluarga keterlibatan keluarga dalam upaya penyelesaian masalah cukup
menentukan mengingat secara ekonomis klien masih Belem mendapatkan
biaya diperoleh darimana sehingga keluarga mempunyai peranan yang
cukup menemtukan masalah
d. Prinsip moral yang ditekankan berdasarkan prioritas dalam kasus ini :
a) Otonomi
b) Benefesiensi
c) Justice
d) avoiding killing
5. Mengidentifikasi Kewajiban Perawat
a) menghindari klien dari ancaman kematian
b) menghargai otonomi klien dan berusaha menyeimbangkan dengan
tanggung jawab pemberi pelayanan kesehatan
c) menghindarkan klien dari tindakan yang tidak menguntungkan bagi
dirinya
d) melaksanakan prinsip-prinsip kode etik keperawatan
e) membantu sistem pendukung yang terlibat

6. Membuat keputusan Keputusan yang dapat diambil sesuai dengan hak otonomi klien
dan dari pertimbangan tim kesehatan, sebagai seorang perawat, keputusan yang
terbaik adalah dilakukan operasi berhasil atau tidak itu adalah kehendak yang maha
kuasa sebagai manusia setidaknya kita telah berusaha.

20
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Simpulan
Berpikir kritis merupakan sebuah komponen esensial yang memperlihatkan
kebiasaan berpikir seperti : percaya diri, perspektif kontekstual, kreativitas, fleksibilitas,
rasa ingin tahu, integritas intelektual, intuisi, berpikiran terbuka, tekun dan refleksi.
Berpikir kritis merupakan jaminan yang terbaik bagi perawat mencapai sukses dalam
berbagai aktifitas dan merupakan suatu penerapan profesionalisme serta pengetahuan
tekhnis atau keterampilan tekhnis dalam memberikan asuhan keperawatan.
Seorang manajer keperawatan harus mempunyai keberanian untuk mengambil
keputusan dan memikul tanggung jawab atas akibat dari resiko yang timbul sebagai
konsekuensi dari keputusan yang telah diambilnya. Pada hakekatnya, pengambilan
keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah yang
difokuskan untuk memecahkan masalah secepatnya dimana individu harus memiliki
kemampuan berfikir kritis dengan menggunakan pendidikan dan pengalaman yang
berharga yang cukup efektif dalam pemecahan masalah.

3.2 Saran
Saran penulis, sebagai tenaga kesehatan, perawat sedapat mungkin harus selalu
berpikir kritis dalam penanganan pasien tentunya tetap beracuan pada tugas dan peran
perawat sebelum mengambil suatu keputusan

21
DAFTAR PUSTAKA
Anshoory, Yulia Tika. 2014. Makalah Pengambilan Keputusan.
https://www.academia.edu/17124504/Makalah_Pengambilan_Keputusan (Online).
Diakses pada 12 September 2017.
Marriner, A.T. (1995). Nursing Management and Leadership ( 5th ed), Mosby St Louis,
Miayam, Nazumi. 2015. Berpikir Kritis dalam Keperawatan.
https://www.academia.edu/6749060/BERFIKIR_KRITIS_DALAM_KEPERAWATA
N_BAB_I_PENDAHULUAN (Online). Diakses pada 12 September 2017.
Baltimore.
Swansburg, A.C. (1996). Management and Leadership for Nurse Managers. Jones and
Bartlett Publishers International, London England

22