Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK

RANGKUMAN BAB 3, 4, 5, DAN 6

Dosen Terkait :
Abdul Halim, Prof., Dr., M.B.A., Ak., CA.

Disusun Oleh :
Made Ari Widiartini 15/381960/EK/20541

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS


UNIVERSITAS GADJAH MADA
2017
PROBLEMATIKA IMPLEMENTASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Pendahuluan
Robins dan Coulter (2016) menyatakan bahwa manajer adalah seseorang yang
mengoordinasikan dan mengawasi pekerjaan orang lain agar tujuan organisasi dapat tercapai.
Menurut Griffin (2016), manajer adalah seseorang yang tanggungjawab utamanya adalah untuk
menjalankan proses manajemen. Sedangkan manajemen adalah serangkaian aktivitas yang diarahkan
terhadap sumber daya organisasi dengan tujuan mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
Mekanisme perencanaan pembangunan
Proses perencanaan pembangunan secara khusus diatur dalam UU 25/2004, sedangkan proses
penganggaran diatur dalam UU 17/2003. Dokumen-dokumen perencanaan pembangunan pada UU
25/2004 terdiri atas :
1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP)
2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
3. Rencana Pembangunan Jangka Pendek (RKP)
4. Rencana Strategis Kementrian/Lembaga (Renstra-KL)
5. Rencana Kerja Kementrian/Lembaga (Renja-KL)
6. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD)
7. Rencana Pembangunan Tahuan Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD)
Beberapa peraturan terkait perencanaan pembangunan lainnya antara lain :
a. PP Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah
b. PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan
Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
c. Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8
Tahun 2008
Permasalahan dalam perencanaan pembangunan
Dokumen perencanaan yang lemah menyebabkan pembangunan menjadi tidak terarah dan
pada akhirnya tujuan pembangunan tidak dapat tercapai. Terdapat dua permasalahan utama yaitu :
1. Permasalahan non-teknis yaitu lemahnya komitmen pemerintah daerah dalam perencanaan
pembangunan, keterbatasan data dari masin-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD),
serta lemahnya kapasitas sumber daya perencana di daerah.
2. Permasalahan teknis yaitu lemahnya konsistensi antara visi, misi, tujuan, sasaran, strategi,
kebijakan, program, dan kegiatan,s erta tidak jelasnya indikator sasaran untuk masing-masing
progra, dan kegiatan, serta tidak jelasnya indikator sasaran untuk masing-masing program
dan kegiatan.
Permasalahan lemahnya komitmen dapat dikaitkan dengan risiko politik yang dapat
memengaruhi komitmen kepada daerah dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan.
Selain itu, kurang akuratnya data yang digunakan dapat mengakibatkan perumusan strategi yang
salah. Kapabilitas sumber daya perencanaan juga perlu ditingkatkan baik dengan pendidikan dan
pelatihan ataupun melalui perekrutan.
Menurut Kementrian PPN/Bappenas, sinergitas perencanaan pembangunan dan
penganggaran yaitu:
1. Sinergitas antara perencanaan pembangunan dengan penganggaran nasional
2. Sinergitas antara perencanaan pembangunan dengan penganggaran daerah
3. Sinergitas antara perencanaan pembangunan nasional dengan pembangunan daerah
Permasalahan pada sinergitas perencanaan pembangunan dan penganggaran disebabkan oleh
beberapa hal sebagai berikut:
1. Legal structure
a. Tata cara pelaksanaan perencanaan pembangunan dan penganggaran belum menjadi satu
kesatuan yang sistemik
b. Tidak ada muatan sanksi bagi pihak-pihak yang tidak mengikuti sistem perencanaan
pembangunan nasional
c. Tidak ada peraturan yang lebih tinggi di atas UU yang dapat menjadi perekat dan dapat
menyelesaikan pertentangan dan perbedaan penafsiran antar UU
d. Kelembagaan penyusunan perencanaan dan penganggaran terpisah
2. Legal substance
a. Substansi perencanaan pembangunan dan penganggaran belum tajam mengarah pada
upaya mencapai tujuan pembangunan
b. Program dalam RPMJD dapat berbeda dengan program RPJMN
c. Pelaporan masih bersifat parsial dan belum dijadikan sebagai bahan penyusunan rencana
d. Muncul dokumen perencanaan yang dianggap sebagai dokumen tandingan
e. Perencanaan pembangunan tidak mengakomodasi adanya perubahan
f. Periodesasi pemilihan antar kepala daerah antar daerah tidak bersamaan sehingga
RPJMD antar daerah menjadi tidak bersamaan
3. Legal culture
a. Terdapatnya ego kelembagaan dan lemahnya koordinasi internal lembaga pemerintah
b. Kepentingan politik DPR/DPRD
c. Masih rendahnya SDM perencana

Sumber: Halim, Abdul. 2016. Manajemen Keuangan Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.
PENERIMAAN PAJAK PEMERINTAHAN PUSAT
Pendahuluan
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan UU dengan tidak mendapat jasa
timbal yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

2013 2014 2015 2016 2017

Pendapatan Dalam
1,432,058.60 1,545,456.30 1,496,047.33 1,784,249.90 1,736,256.70
Negeri

Penerimaan Perpajakan 1,077,306.70 1,146,865.80 1,240,418.86 1,539,166.20 1,495,893.80


Penerimaan Bukan Pajak 354,751.90 398,590.50 255,628.48 245,083.60 240,362.90
Sumber : data BPS Penerimaan Perpajakan

Indikator yang dapat digunakan untuk melihat sejauh mana tingkat kepatuhan pembayaran
pajak dan potensi pajak di suatu negara adalag rasui pajak. Rasio pajak merupakan perbandingan
antara jumla penerimaan pajak dengan produk domestik bruto suatu negara. Semakin tinggi
penerimaan pajak maka semakin tinggi rasio pajak.
Intensifikasi dan Ekstensifikasi
Ekstensifikasi berkaitan dengan upaya menambah atau meningkatkan jumlah wajib pajak
terdaftar, sedangkan intensifikasi dilakukan dengan mengoptimalkan penerimaan pajak dari wajib
pajak yang telah terdaftar. Dalam hal intensifikasi terdapat tiga hal yang penting untuk dilaksanakan:
a. Profiling atau pembuatan profil : wajib pajak dibuatkan profil untuk memantau kepatuhan
b. Benchmarking atau pembadingan : pembayaran wajib pajak dibandingkan dengan
pembayaran oleh wajib pajak lain dengan profil yang sama
c. Mapping atau pemetaan : mengelompokkan wajib pajak sesuai kebutuhan atau keunggulan
Reformasi Perpajakan
Reformasi perpajakan terbagi dalam dua periode : tahun 2002 2009 (Reformasi perpajakan
jilid 1) dan tahun 2009-2013 (Reformasi Perpajakan Jilid 2). Reformasi perpajakan Jilid 1 meliputi:
a. Pembaruan dan pemutakhiran administrasi perpajakan
b. Reformasi kebijakan melalui amandemen undang-undang tentang perpajakan
c. Intensifikasi dan ekstensifikasi
Reformasi Perpajakan Jilid 2 terdiri atas beberapa kegiatan yaitu:
a. Pengembangan SDM melalui peningkatan kapasitas dan kompetensi pegawai
b. Kegiatan mapping, profiling, dan benchmarking yang terotomatisasi
c. Penyempurnaan pelayanan pembayaram dan kegiatan perbaikan melalui program Project for
Indonesian Tax Administration Reform (PINTAR)
PINTAR merupakan program penyempurnaan sistem administrasi perpajakan yang terdiri
dari empat komponen yaitu: penyempurnaan sistem dan proses bisnis utama; manajemen sumber
daya manusia; kepatuhan perpajakan; manajemen perubahan.
Perubahan Peraturan Perundangan-undangan tentang Perpajakan
Tiga UU mengalami perubahan dalam masa reformasi perpajakan yaitu :
a. UU nomor 28 Tahun 2007 tentang perubahan Ketiga atas UU nomor 6 tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
b. UU nomor 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan
c. UU nomor 42 tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas UU nomor 8 Tahun 1983 tentang
Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
Terdapat beberapa poin penting dalam perubahan UU PPh yaitu:
a. penurunan tarif PPh dan peningkatan PTKP untuk menyesuaikan tarif PPh dengan negara-
negara tetangga yang lebih rendah dan meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak serta untuk
mendorong kegiatan produksi dan investasi.
b. pembebasan biaya fiskal ke luar negeri penerapan tarif PPh lebih tinggi pada Wajib Pajak
yang tidak memiliki NPWP untuk mendorong wajib pajak memiliki NPWP dan ekstensifikasi
pajak.
Program Penghapusan Sanksi Pajak (sunset policy)
Sunset policy merupakan fasilitas penghapusan sanksi pajak penghasilan orang pribadi atau
badan berupa bunga atas kekurangan pembayaran pajak yang dapat dinikmati oleh masyarakat yang
belum maupun sudah memiliki NPWP pada tanggal 1 Januari 2008. Sunset policy diatur dalam UU
Nomor 28 Tahun 2007. Sunset policy jilid 2 yang dilaksanakan tahun 2015 memberikan beberapa
kelebihan yaitu:
a. insentif diberikan kepada seluruh jenis pajak
b. insentif diberikan untuk WP baru atau SPT pembetulan
c. intensif diberikan atas keterlambatan pembayaran maupun keterlambatan pelaporan SPT
Pelaksanaan Sensus Pajak Nasional
Sensus pajak nasional merupakan kegiatan dalam rangka menyempurnakan data atau basis
perpajakan yang lebih baik. Dengan adanya data dari sensus pajak nasional, diharapkan dapat
menjadi input bagi DJP sehingga akan ada kebijakan atau terobosan untuk dapat meningkatkan
kepatuhan wajib pajak sehingga penerimaan perpajakan juga akan meningkat.

Sumber: Halim, Abdul. 2016. Manajemen Keuangan Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.
PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP)
Pendahuluan
PNDB diatur dalam peraturan perundang-undangan, diataranya melalui :
a. UU nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak
b. PP Nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak
c. PP Nomor 73 Tahun 1999 tentang Tata Cara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang Bersumber dari Kegiatan Tertentu
d. PP Nomor 1 Tahun 2004 tentang Tata Cara Penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi
Penerimaan Negara Bukan Pajak
e. PP Nomor 29 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penentuan Jumlah, Pembayaran, dan Penyetoran
Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Terutang
Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak
PNBP dalam UU Nomor 20 Tahun 1997 dapat dikelompokkan ke dalam :
a. Penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana pemerintah
b. Penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam
c. Penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan
d. Penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan pemerintah
e. Penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda
administrasi
f. Penerimaan berupa hibah yang merupakan hak pemerintah
g. Penerimaan lainnya yang diatur dalam undang-undang tersendiri
PNBP memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai berikut.
a. Fungsi budgeter : PNBP merupakan sumber penerimaan negara yang diperoleh setelah
memberikan pelayanan jasa atau menjual barang milik negara kepada masyarakat
b. Fungsi Regulasi : PNBP sebagai sarana untuk mengatur kebijakan pemerintah dalam
berbagai aspek dalam rangka menggerakkan roda pembangunan
PNBP yang telah dipungut dapat digunakan untuk kegiatan tertentu oleh instansi yang bersangkutan
setelah pimpinan instansi yang bersangkutan mengajukan permohonan yang minimal dilengkapi :
a. Tujuan penggunaan dana PNBP
b. Rincian kegiatan pokok instansi dan kegiatan yang akan dibiayai PNBP
c. Jenis PNBP berserta tarif yang berlaku
d. Laporan realisasi dan perikiraan tahun anggaran berjalan serta perkiraan untuk dua tahun
anggaran mendatang
Penerimaan Negara Bukan Pajak dihitung dengan menggunakan tarif :
a. Spesifik : tarif yang ditetapkan dengan nilai nominal uang
b. Advalorem : tarif yang ditetapkan dengan persentase dikalikan dengan satuan nilai
c. Ketentuan perundang-udangan
Potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak
Potensi PNBP yang belum tergali, misalnya:
a. Pemberian jasa atau kerja sama dengan pihak ketiga belum memperhitungkan bagian PNBP
b. Tarif terlalu rendah
c. Pemanfaatan aset dan fasilitas penunjang belum maksimal
d. Wajib bayar belum seluruhnya terdata
e. Peraturan terkait penyesuaian tarif belum direvisi
f. Kementrian/lembaga belum menginventarisasi dan melaporkan potensi PNBP
Untuk dapat mengoptimalkan pencapaian target PNBP ini, pemerintah perlu melakukan :
a. Meningkatkan lifting minyak dan efisiensi cost recovery
b. Pengoptimalan penerimaan dividen BUMN
c. Penggalian potensi penerimaan dari kegiatan pelayanan dan jasa oleh kementrian / lembaga
d. Evaluasi ulang terhadap kontrak kerja eksploitasi SDA
e. Menggali potensi penerimaan lain
f. Pengoptimalam penerimaan dari sektor kelautan
g. Pencatatan semua kategori PNBP dan harus masuk ke kas negara
h. Pengelolaan PNBP yang transparan dan akuntabel
Permasalahan dalam pengelolaan PNBP dan solusi pemecahannya antara lain sebagai berikut.
Tahapan Permasalahan Usulan Solusi
Perencanaan K/L menyampaikan target PNBP yang Membangun database PNBP
kurang realistis
Proses pembahasan yang membutuhkan Mengembangkan penyusunan online
biaya dan waktu yang cukup besar
Penetapan Proses penetapan membutuhkan waktu Melakukan kajian penetapan jenis
Jenis & Tarif yang lama PNBP
Mendelegasikan persetujuan perubahan
tarif
Penyetoran Terlambat melakukan penyetoran ke kas Penyetoran PNBP secara berkala untuk
negara jenis PNBP tertentu
Memudahkan sistem penyetoran
Pelaporan Tidak tertib dalam menyampaikan Membangun sistem modul dan
laporan realisasi PNBP triwulan pelaporan penerimaan negara untuk
PNBP
Penggunaan PNBP hanya dapat digunakan oleh satker Memperluas konsep earnmarking
penghasil PNBP
Penggunaan langsung tanpa melalui Mempercepat mekanisme pencairan dana
mekanisme APBN
Sumber: Halim, Abdul. 2016. Manajemen Keuangan Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.
MANAJEMEN PINJAMAN LUAR NEGERI
Perspektif Utang Luar Negeri
1. Dasar hukum utang luar negeri
a. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
b. UU Nomor 01 Tahun 2004 tentang perbendaharaan negara
c. UU tentang APBN yang ditetapkan setiap tahun
d. PP Nomor 10 Tahun 2011
e. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional Nomor Per-005/M.PPN/06/2006
f. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 514/KMK.08/2010
2. Definisi utang luar negeri
Setiap pembiayaan melalui utang yang diperoleh pemerintah dari pemberi pinjaman luar negeri
yang diikat oleh suatu perjanjian pinjaman dan tidak berbentuk surat berharga negara, yang
harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.
3. Prinsip utang luar negeri
Prinsip pengelolaan utang luar negeri menurut Pasal 2 PP Nomor 10 Tahun 2011 adalah
transparab; akuntabel; efisien dan efektif; kehati-hatian; tidak disertai ikatan politik; dan tidak
memiliki muatan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan negara.
4. Penggunaan utang luar negeri
Sesuai Pasal 7 PP nomor 10 Tahun 2011 yaitu untuk membiayai defisit APBN; membiayain
kegiatan prioritas kementerian/lembaga; mengelola portofolio utang; diteruspinjaman kepada
Pemerintah Daerah; diteruspinjaman kepada BUMN; dihibahkan kepada Pemerintah Daerah.
5. Sumber utang luar negeri
Sesuai dengan Pasal 7 PP nomor 10 Tahun 2011 adalah kreditur multilateral; kreditur bilateral;
kreditur swasta asing; dan lembaga penjamin kredit ekspor.
Pinjaman Program : Definisi, Tujuan, dan Kebijakan Perencanaa
1. Definisi pinjaman program
Pinjaman program adalah pinjaman yang terkait dengan program yang telah dan akan dilakukan
oleh pemerintah Indonesia.
2. Tujuan pinjaman program
Tujuan pinjaman program adalah untuk budget support dan pencairannya dikaitkan dengan
pemenuhan matriks kebijakan di bidang kegiatan untuk mencapai MDG.
3. Kebijakan perencanaan pinjaman program
Kebijakan pemerintah tentang manajemen utang luar negeri antara lain sebagai berikut.
a. Mempertimbangkan kemampuan pemerintah untuk membayar kembali pinjaman
b. Mempertimbangkan kemampuan pelaksana kegiatan dalam penyerapan dana pinjaman
c. Mencapai kemandirian dalam pendanaan pembangunan
d. Pendanaan luar negeri sebagai salah satu alternatif sumber pendanaan pembangunan perlu
dimanfaatkan secara optimal
Pelaksanaan Pinjaman Program
Berdasarkan Pasal 32 ayat (2) PP Nomor 10 Tahun 2011, perjanjian luar negeri paling sedikit
memuat tengtang jumlah, peruntukan, hak dan kewajiban, dan ketentuan dan persyaratan. Terdapat
beberapa pinjaman program antara lain :
1. Pinjaman Program World Bank (WB)
2. Pinjaman Program Asian Developmeny Bank (ADB)
3. Pinjaman Program Jepang (JICA)
4. Pinjaman Program Prancis (AFD)
Permasalahan Pinjaman Program
Beberapa permasalahan yang sering terjadi antara lain sebagai berikut.
1. Permasalahan biaya-biaya pinjaman
Beberapa biaya tambahan untuk mendapatkan pinjaman antara lain sebagai berikut
a. Comitment fee : biaya akibat dana pinjaman tidak segera dicairkan sesuai perjanjian
b. Tied loan : mensyaratkan Indonesia menggunakan barang dan jasa dari negara kreditur
c. Biaya bunga
d. Biaya di muka (up-front fee) : ditarik ketika perjanjian pinjaman berlaku efektif
2. Risiko depresiasi
3. Penyerapan pinjaman yang belum optimal
Faktor penyebab rendahnya penyerapan pinjaman ini antara lain karena :
a. Adanya perbedaan ketentuan antara satu pemberi pinjaman dengan lainnya
b. Kurangnya persiapan pengelola proyek untuk mengimplementasikan kegiatan
c. Keterlambatan atau belum ada alokasi dana pendamping dalam penyusunan awal APBN
d. Pilihan kreditur tidak banyak
e. Pengawasan dan koordinasi pelaksanaan kegiatan belum optimal
Solusi Pinjaman Program
a. Mengupayakan kesamaan ketentuan mekanisme pelaksanaan proyek antara para kreditur
b. Mengupayakan kesamaan ketentuan antara kreditur, peminjam, dan pelaksana kegiatan
c. Menuntut kepada kreditur agar menurunkan atau menghilangkan biaya pinjaman
d. Mengupayakan kesesuaian perencanaan dan pelaksanaan penyediaan dana dan jadwal kegiatan

Sumber: Halim, Abdul. 2016. Manajemen Keuangan Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.