Anda di halaman 1dari 14

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan pada Pasien

dengan PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis)

Oleh :

Kadek Putra Sanchaya

1302105042

Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

2014
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
Pengertian
Penyakit paru obstruksi kronik adalah klasifikasi luas dari gangguan yang
mencakup bronkitis kronik, bronkiektasis, emfisema dan asma, yang merupakan
kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran
masuk dan keluar udara paru-paru. ( Brunner & Suddarth )
Penyakit paru obstruksi kronik adalah suatu penyakit yang menimbulkan
obstruksi saluran napas, termasuk didalamnya ialah asma, bronkitis kronis dan
emfisema pulmonum.
Penyakit paru obstruksi kronik adalah kelainan paru yang ditandai dengan
gangguan fungsi paru berupa memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh
adanya penyempitan saluran napas dan tidak banyak mengalami perubahan dalam
masa observasi beberapa waktu.
Penyakit paru-paru obstruksi menahun merupakan suatu istilah yang
digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai
oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi
utamanya.

Etiologi
Etiologi penyakit ini belum diketahui. Penyakit ini dikaitkan dengan factor-
faktor risiko yang terdapat pada penderita antara lain:

1. Merokok
2. Polusi udara
3. Infeksi paru-paru berulang
4. Umur (semakin tua semakin berisiko)
5. Jenis kelamin
6. Ras
7. Pemajanan tempat kerja ( batu bara, kapas, padi-padian)

Epidemiologi
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) sangat kurang dikenal di masyarakat.
Di Amerika Serikat pada tahun 1991 diperkirakan terdapat 14 juta orang menderita
PPOK, meningkat 41,5% dibandingkan tahun 1982, sedangkan mortalitas menduduki
peringkat IV penyebab terbanyak yaitu 18,6 per 100.000 penduduk pada tahun 1991
dan angka kematian ini meningkat 32,9% dari tahun 1979 sampai 1991. WHO
menyebutkan PPOK merupakan penyebab kematian keempat didunia yaitu akan
menyebabkan kematian pada 2,75 juta orang atau setara dengan 4,8%. Selain itu
WHO juga menyebutkan bahwa sekitar 80 juta orang akan menderita PPOK dan 3
juta meninggal karena PPOK pada tahun 2005.
Data Badan Kesehatan Dunia (WHO), menunjukkan bahwa pada tahun 1990
PPOK menempati urutan ke-6 sebagai penyebab utama kematian di dunia, sedangkan
pada tahun 2002 telah menempati urutan ke-3 setelah penyakit kardiovaskuler dan
kanker (WHO,2002). Hasil survei penyakit tidak menular oleh Direktorat Jenderal
PPM & PL di 5 rumah sakit propinsi di Indonesia (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Lampung, dan Sumatera Selatan) pada tahun 2004, menunjukkan PPOK
menempati urutan pertama penyumbang angka kesakaitan (35%), diikuti asma
bronkial bronkial (33%), kanker paru (30%) dan lainnya (2%) (Depkes RI, 2004).

Patofisiologi/Pathway
PPOK dapat terjadi oleh karena terjadinya obstruksi jalan nafas yang
berlangsung bertahun-tahun. Salah satu penyakit yang dapat memicu terjadinya PPOK
ini adalah Asma. Hipersensitif yang terjadi karena bahan-bahan alergen menyebabkan
terjadinya penyempitan bronkus ataupun bronkiolus akibat bronkospasme, edema
mukosa ataupun hipersekresi mukus yang kental. Karena perubahan anatomis tersebut
menyebabkan kesulitan saat melakukan ekspirasi dan menghasilkan suara mengi.
Apabila asma ini terus berlangsung lama, semakin menyempitnya bronkus atau
bronkiolus selama bertahun-tahun dapat menyebabkan PPOK terjadi.
Fungsi paru-paru menentukan konsumsi oksigen seseorang, yakni jumlah
oksigen yang diikat oleh darah dalam paru-paru untuk digunakan tubuh. Konsumsi
oksigen sangat erat hubungannya dengan arus darah ke paru-paru. Berkurangnya
fungsi paru-paru juga disebabkan oleh berkurangnya fungsi sistem respirasi seperti
fungsi ventilasi paru.
Faktor-faktor risiko tersebut diatas seperti rokok dan polusi udara
menyebabkan perbesaran kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan sel goblet
akan meningkat jumlahnya, serta fungsi silia menurun menyebabkan terjadinya
peningkatan produksi lendir yang dihasilkan, akan mendatangkan proses inflamasi
bronkus dan juga menimbulkan kerusakan pada dinding bronkiolus terminalis. Akibat
dari kerusakan akan terjadi obstruksi bronkus kecil (bronkiolus terminalis), yang
mengalami penutupan atau obstruksi awal fase ekspirasi. Udara yang mudah masuk
ke alveoli pada saat inspirasi, pada saat ekspirasi banyak terjebak dalam alveolus dan
terjadilah penumpukan udara (air trapping). Hal inilah yang menyebabkan adanya
keluhan sesak napas dengan segala akibatnya. Adanya obstruksi pada awal ekspirasi
akan menimbulkan kesulitan ekspirasi dan menimbulkan pemanjangan fase ekspirasi.
Fungsi-fungsi paru: ventilasi, distribusi gas, difusi gas, maupun perfusi darah akan
mengalami gangguan (Brannon, et al, 1993).
PATHWAY
Pencetus Rokok dan Polusi
Asma, Bronkitis, emfisema

kurang pengetahuan PPOK

Perubahan anatomis
Ansietas
parenkim paru

Perbesaran Alveoli

Hipertiroid kelenjar mukosa

Penyempitan saluran udara

Ekspansi paru
menurun

Suplay O2 tida adekuat

Hipoksia

Sesak

Pola Nafas Tidak


Efektif

Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala akan mengarah pada dua tipe pokok:
1. Mempunyai gambaran klinik dominan kearah bronchitis kronis (blue bloater).
2. Mempunyai gambaran klinik kearah emfisema (pink puffers).
Tanda dan gejalanya adalah sebagi berikut:
1. Kelemahan badan
2. Batuk
3. Sesak napas
4. Sesak napas saat aktivitas dan napas berbunyi
5. Mengi atau wheeze
6. Ekspirasi yang memanjang
7. Bentuk dada tong (Barrel Chest) pada penyakit lanjut.
8. Penggunaan otot bantu pernapasan
9. Suara napas melemah
10. Kadang ditemukan pernapasan paradoksal
11. Edema kaki, asites dan jari tabuh.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan radiologis
Pada bronchitis kronik secara radiologis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a. Tubular shadows atau farm lines terlihat bayangan garis-garis yang parallel,
keluar dari hilus menuju apeks paru. Bayangan tersebut adalah bayangan
bronkus yang menebal.
b. Corak paru yang bertambah
Pada emfisema paru terdapat 2 bentuk kelainan foto dada yaitu:
a. Gambaran defisiensi arteri, terjadi overinflasi, pulmonary oligoemia dan bula.
Keadaan ini lebih sering terdapat pada emfisema panlobular dan pink puffer.
b. Corakan paru yang bertambah.
2. Pemeriksaan faal paru
Pada bronchitis kronik terdapat VEP1 dan KV yang menurun, VR yang
bertambah dan KTP yang normal. Pada emfisema paru terdapat penurunan VEP1,
KV, dan KAEM (kecepatan arum ekspirasi maksimal) atau MEFR (maximal
expiratory flow rate), kenaikan KRF dan VR, sedangkan KTP bertambah atau
normal. Keadaan diatas lebih jelas pada stadium lanjut, sedang pada stadium dini
perubahan hanya pada saluran napas kecil (small airways). Pada emfisema
kapasitas difusi menurun karena permukaan alveoli untuk difusi berkurang.
3. Analisis gas darah
Pada bronchitis PaCO2 naik, saturasi hemoglobin menurun, timbul
sianosis, terjadi vasokonstriksi vaskuler paru dan penambahan eritropoesis.
Hipoksia yang kronik merangsang pembentukan eritropoetin sehingga
menimbulkan polisitemia. Pada kondisi umur 55-60 tahun polisitemia
menyebabkan jantung kanan harus bekerja lebih berat dan merupakan salah satu
penyebab payah jantung kanan.
4. Pemeriksaan EKG
Kelainan yang paling dini adalah rotasi clock wise jantung. Bila sudah
terdapat kor pulmonal terdapat deviasi aksis kekanan dan P pulmonal pada
hantaran II, III, dan aVF. Voltase QRS rendah Di V1 rasio R/S lebih dari 1 dan
V6 rasio R/S kurang dari 1. Sering terdapat RBBB inkomplet.
5. Kultur sputum, untuk mengetahui petogen penyebab infeksi.
6. Laboratorium darah lengkap

Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan PPOK adalah:
1. Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala tidak hanya pada fase akut,
tetapi juga fase kronik.
2. Memperbaiki kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas harian.
3. Mengurangi laju progresivitas penyakit apabila penyakitnya dapat dideteksi lebih
awal.
Penatalaksanaan PPOK pada usia lanjut adalah sebagai berikut:
1. Meniadakan faktor etiologi/presipitasi, misalnya segera menghentikan merokok,
menghindari polusi udara.
2. Membersihkan sekresi bronkus dengan pertolongan berbagai cara.
3. Memberantas infeksi dengan antimikroba. Apabila tidak ada infeksi antimikroba
tidak perlu diberikan. Pemberian antimikroba harus tepat sesuai dengan kuman
penyebab infeksi yaitu sesuai hasil uji sensitivitas atau pengobatan empirik.
4. Mengatasi bronkospasme dengan obat-obat bronkodilator. Penggunaan
kortikosteroid untuk mengatasi proses inflamasi (bronkospasme) masih
controversial.
5. Pengobatan simtomatik.
6. Penanganan terhadap komplikasi-komplikasi yang timbul.
7. Pengobatan oksigen, bagi yang memerlukan. Oksigen harus diberikan dengan
aliran lambat 1 2 liter/menit.
8. Tindakan rehabilitasi yang meliputi:
a. Fisioterapi, terutama bertujuan untuk membantu pengeluaran secret bronkus.
b. Latihan pernapasan, untuk melatih penderita agar bisa melakukan pernapasan
yang paling efektif.
c. Latihan dengan beban olahraga tertentu, dengan tujuan untuk memulihkan
kesegaran jasmani.
d. Vocational guidance, yaitu usaha yang dilakukan terhadap penderita dapat
kembali mengerjakan pekerjaan semula.
e. Pengelolaan psikosial, terutama ditujukan untuk penyesuaian diri penderita
dengan penyakit yang dideritanya.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal proses keperawatan dan suatu proses yang sistematis
dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien.
Pengkajian meliputi :
1. Identitas ( Nama, Usia, Alamat, Agama, Pekerjaan, Pendidikan Dll).
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
b. Riwayat penyakit sekarang
c. Riwayat penyakit dahulu :
d. Riwayat penyakit keluarga :
3. Pengkajian fisik
a. Kedaan umum :
b. Sistem respirasi :.
c. Sistem kardiovaskuler :
d. Sistem urogenital :
e. Sistem muskuloskeletal :
f. Abdomen :
Inspeksi :
Auskultasi :
Palpasi :
Perkusi :

Pengkajian fungsional Gordon


a) Persepsi dan pemeliharaan kesehatan

b) Pola nutrisi dan metabolik

c) Pola eliminasi

d) Pola aktivitas dan latihan

e) Pola istirahat tidur


f) Pola persepsi sensori dan kognitif

g) Pola hubungan dengan orang lain

h) Pola reproduksi / seksual

i) Pola persepsi diri dan konsep diri

j) Pola mekanisme koping

k) Pola nilai kepercayaan / keyakinan

Data Subjektif dan Data Objektif yang biasanya ditemukan pada pasien PPOK yaitu:
1. Data Subyektif
a. Batuk tidak efektif atau tidak batuk
b. Nafas terasa berat, dalam, dan lambat
c. Badan lemas disertai pusing
d. Kurang nafsu makan dan berat badan turun
e. Selalu terjaga pada malam hari
2. Data Objektif
a. Pernafasan dilakukan dengan usaha dan tampak adanya bantuan otot-otot
pernafasan
b. Dispneu, takipneu
c. Batuk nonproduktif ataupun produktif disertai sputum kental
d. Sianosis, takikardi, gelisah, pulse paradoksus
e. Kelainan pada bentuk dada
f. Fase ekspirasi memanjang
g. Bendungan vena jugularis
h. Suara nafas ronchii atau wheezing
i. Klien tampak kepayahan, gelisah
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan utama pasien mencakup berikut ini:
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas pendek, mucus,
bronkokontriksi dan iritan jalan napas.
2. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.
C. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1 Pola napas tidak Setelah diberikan askep 1. NIC Label
efektif selama ...x 24 jam diharapkan a. Airway Management
berhubungan perbaikan dalam pola - Posisikan Klien untuk 1. agar oksigenasi berjalan
dengan napas pernafasan dengan NOC memaksimalkan dengan lancar
pendek, mucus, Label: oksigenasi 2. agar jalannya oksigen masuk
bronkokontriksi a. Respiratory Status : - Berikan bantuan udara lancar dan lebih mudah
dan iritan jalan Ventilation dengan menggunakan
napas. Dengan kriteria hasil: nebulizer secara tepat 3. untuk mengetahui apakah
- Respiration Rate klien - Auskultasi suara nafas, terdapat penurunan atau
normal. catat adanya penurunan peningkatan suara nafas
- Kedalamaninspirasiklien dan peningkatan suara
1. agar aliran oxygen yang
normal. nafas
diberikan tepat.
b. Respiratory Status: b. oxygen therapy
Airway Patency - monitoring aliran oxygen
- Respiratory rate pasien yang diberikan
dalam batas normal.
- Pasien tidak menggunakan
otot bantu nafas.
5 Ansietas Setelah dilakukan asuhan NIC Label : Anxiety Reduction
berhubungan keperawatan selama 2x24 jam 1. Bersikap tenang, sehingga 1. Tindakan yang tepat agar
dengan diharapkan pasien tidak mampu mendekati ketenangan kekhawatiran dapat berkurang
kurangnya merasa cemas 2. Memberikan informasi factual 2. Untuk membantu menurunkan
pengetahuan NOC label : tentang diagnosis, ansietas terkain kurangnya
Anxiety Self-Control pengobatan, dan prognosis informasi
1. Dapat menghilangkan dari penyakit klien 3. Untuk mendapat dukungan dari
pencetus dari ansietas 3. Mengajak keluarga untuk pihak lain sehingga dapat
2. Dapat mencari informasi selalu bersama dengan pasien menurunkan ansietas
untuk menurunkan ansietas
3. Dapat merencanakan
strategi koping jika
berhadapan dalam situasi
tertekan
D. evaluasi

Dx Evaluasi

1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas S : Pasien mengatakan masih sedikit sesak
pendek, mucus, bronkokontriksi dan iritan jalan napas.
O : Kedalamaninspirasiklien terlihat lenbihringan

A : Tujuan tercapai sebagian

P : lanjutkan intervensi

2. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan S : pasien mengatakan sedikit lebih tenang

O : pasien tidak terlihat cemas

A : Tujuan tercapai, masalah teratasi

P : pertahankan kondisi pasien


Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth.2002.Keperawatan Medikal Bedah Volume 1. Jakarta. Penerbit Buku


Kedokteran

Bulecheck, Gloria N., Butcher, Howard K., Dochterman, J. McCloskey. 2012. Nursing
Interventions Classification (NIC) : Fifth Edition. Iowa : Mosby Elsevier

Jonson, Marion. 2012. Nursing Outcomes Classification (NOC) : Fifth Edition. St. Louis,
Missouri : Mosby Elsevier

Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.


Jakarta : EGC