Anda di halaman 1dari 23

BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. AD
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 6 tahun
Alamat : Cempaka Putih
Pekerjaan : Siswi sekolah dasar
No. RM : 00 74 17 **
Tanggal Masuk Poli : 16 Agustus 2017
II. ANAMNESIS
Auto-alloanamnesis pada tanggal 16 Agustus 2017 pukul 18.15 WIB

Keluhan Utama
Kulit kepala terasa gatal pada bagian kepala yang botak 1 bulan yang lalu.

Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien datang ke klinik kulit dan kelamin RS Islam Jakarta Cempaka Putih dengan
keluhan kulit kepala terasa gatal pada bagian atas kepala, gatal dirasakan terus menerus,
os selalu menggaruknya hingga kemerahan dan rambut sedikit demi sedikit rontok, lalu
menjadi botak sejak 1 bulan yang lalu, tidak terasa nyeri pada bagian kulit kepala yang
gatal. Pada saat datang ke klinik Kulit dan Kelamin RS Islam Jakarta Cempaka Putih,
ot os mengatakan rambut os sudah mulai tumbuh, dan terlihat seperti ketombe. Os
belum sempat melakukan pengobatan untuk mengatasi keluhan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumya, riwayat penyakit kulit tidak
ada, tidak ada riwayat atopi.

1
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada yang mengalami hal serupa.

Riwayat Pengobatan
Tidak ada obat-obatan jangka panjang yang rutin dikonsumsi

Riwayat Alergi
Os tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan, obat-obat, dan cuaca dingin
maupun panas.

Riwayat Psikososial

Os adalah seorang siswi SD, tinggal di area perkomplekan bersama ayah, ibu, dan
kedua kakaknya. Kebersihan os diperhatikan oleh ot os, os sehari-hari mandi sebanyak
dua kali sehari dan jarang beraktifitas di luar rumah. Os tidak pernah mengganti
shampo, os memelihara seekor kucing liar dan selalu melakukan kontak di luar aktifitas
jam sekolah dengan hewan peliharaannya tersebut.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan umum : Baik
Kesadaran : compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah : 100 / 80 mmHg
Nadi : 88x / menit
Suhu : 36,6 C
Pernapasan : 20x / menit
Status Antropometri
Berat badan : 21,5 kg
Status Generalis
1. Kepala
Rambut : Berwarna hitam, rontok, distribusi tidak
Merata (lihat di status lokalisata)
Mata : Konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-)

2
Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-/-)
Telinga : Normotia, sekret (-/-)
Mulut : Bibir kering (-), sianosis (-), faring hiperemis
(-), Tonsil T1/T1,
Kulit Kepala : Terdapat skuama tipis, alopesia pada bagian
parietal.
Kulit Wajah : Tidak terdapat lesi
2. Leher
Pembesaran KGB : Tidak teraba pembesaran KGB
Pembesaran Tiroid : Tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid
Kulit Leher : Tidak terdapat lesi
3. Thoraks
Inspeksi : Bentuk & gerakan dada simetris
Palpasi : Vokal fremitus sama kiri dan kanan
Perkusi : Sonor di semua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-),
bunyi jantung I dan II reguler murni, murmur
(-), gallop (-)
Kulit dada : Tidak terdapat lesi
4. Abdomen
Inspeksi : Perut datar
Auskultasi : Bising usus (+) dalam batas normal
Perkusi : Timpani seluruh kuadran abdomen
Palpasi : Supel, turgor baik, nyeri tekan (-),
hepatosplenomegali (-)
Kulit : Tidak terdapat lesi
5. Ekstremitas
Atas : Akral hangat (+/+), edema (-/-), CRT <2/<2
Bawah : Akral hangat (+/+), edema (-/-), CRT <2/<2
Kulit : dalam batas normal.

3
Status Lokalisata (Gambar 1.1)
Distribusi : Regional
Regio : Parietal kapitis
Efloresensi : Lesi sebesar numular, berbatas sirkumskrip, terdapat skuama
pitiriasiformis, krusta, disertai dengan alopesia difus.

4
Gambar 1.1 Tinea Kapitis tipe Grey Patch.

5
IV. Resume
Seorang anak perempuan berusia 6 tahun, datang ke poli kulit dan kelamin RS Islam
Jakarta Cempaka Putih bersama ibunya dengan keluhan kulit kepala terasa gatal pada
bagian kepala yang mengalami kebotakan sejak 1 bulan yang lalu, os belum sempat
melakukan pengobatan untuk mengatasi keluhan. Os memelihara seekor kucing liar di
rumah.

Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah : 100 / 80 mmHg
Nadi : 88x / menit
Suhu : 36,6 C
Pernapasan : 20x / menit
Status Generalis
Rambut : Berwarna hitam, rontok, distribusi tidak merata

Kulit Kepala : Terdapat skuama tipis dan tampak alopesia pada bagian
parietal.

Status Dermatologikus
Distrubusi : Regional
Regio : Parietal kapitis
Efloresensi : Lesi sebesar numular, berbatas sirkumskrip, terdapat
skuama pitiriasiformis, krusta, disertai dengan alopesia
difus.

V. Usulan Pemeriksaan Penunjang


Kerokan kulit kepala dan cabutan rambut dengan KOH 20%

6
VI. Diagnosis Kerja
Tinea Kapitis tipe Grey Patch

VII. Diagnosis Banding


Dermatitis Seboroik

VIII. Manajemen
Promotif : menjelaskan tentang apa itu tinea kapitis, penyebab dan faktor
risiko.
Preventif : tidak bermain dengan hewan peliharaannya.
Kuratif : mengkonsumsi makan sehat bergizi untuk menjaga daya tahan
tubuh agar tidak mudah terinfeksi penyakit.

IX. Penatalaksanaan
1. Sistemik
Griseofulvin 15 20 mg / kg / hari selama 6 8 minggu
2. Adjuvant
Selenium sulfide 1% gunakan selama 5 menit 2 3 kali / minggu selama 2 4
minggu.
X. Analisa Kasus

7
KU: Tinea kapitis, dermatitis
An. AD/ 6 tahun/ gatal pada bagian seboroik, psoriasis,
kepala yang botak sejak 1 bulan yang
lalu alopesia

kulit kepala terasa gatal pada Tinea Kapitis (gatal dan


bagian atas kepala, gatal kemerahan)
dirasakan terus menerus, os Dermatitis Seboroik
selalu menggaruknya hingga
(rasa gatal dan
kemerahan dan rambut sedikit
menyengat, eritema,
demi sedikit rontok, lalu
pada toraks, gluteus,
menjadi botak sejak 1 bulan
yang lalu, tidak terasa nyeri inguinal, genital, aksila,
pada bagian kulit kepala yang dengan skuama kuning
gatal. Pada saat datang ke klinik berminyak)
Kulit dan Kelamin RS Islam Alopesia traksi
Jakarta Cempaka Putih, ot os Dermatitis Kontak
mengatakan rambut os sudah (gatal, eritema, edema,
mulai tumbuh, dan terlihat vesikel, bula, lesi
seperti ketombe. Os belum madidans, distribusi
sempat melakukan pengobatan generalisata, unversalis)
untuk mengatasi keluhan.

PF (status dermatologikus)
Distrubusi : Regional Tinea kapitis tipe Grey
Patch
Regio : Parietal kapitis Alopesia traksi (gatal,
kemerahan, bersisik,
Efloresensi : Lesi sebesar folikulitis, pustule, banyak
numular, berbatas sirkumskrip, yang rambut yang patah,
terdapat skuama pitiriasiformis, rambut menipis dan rontok
krusta, disertai dengan alopesia
difus.

8
Pemeriksaan penunjang:
Lakukan pemeriksaan kerokan
Kerokan kulit kepala dan cabutan kulit kepala dan cabutan rambut
rambut dengan KOH 20%, ulang, disertai lampu wood dan
hasilnya bias karena prosedur kultur.
yang salah.

Diagnosis : Tinea Capitis Grey


Patch

Sistemik
Griseofulvin 15 20 mg / kg /
hari selama 6 8 minggu
Adjuvant
Selenium sulfide 1% gunakan
selama 5 menit 2 3 kali /
minggu selama 2 4 minggu.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Tinea kapitis adalah suatu infeksi yang terjadi pada kulit kepala, folikel rambut dan
kulit yang mengelilinginya, infeksi ini disebabkan oleh jamur dermatofita, biasanya spesies
dalam genus Trichophyton dan Microsporum.1

B. Epidemiologi
Tinea kapitis paling sering tampak pada usia 3 - 14 tahun. Efek fungistatik dari
asam lemak pada sebum menunjukan penurunan insiden tinea kapitis setelah masa remaja.2
Insidens tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis di Medan 0,4% (1996 1998), RSCM
Jakarta 0,61 0,87% (1989 1992), Manado 2,2 6% (1990 1991) dan Semarang 0,2%.3
Pada umunya, tinea capitis banyak terjadi pada anak-anak dengan garis keturunan Afrika
tanpa penyebab pasti. Transmisi meningkat seiring menurunnya kebersihan diri, status
sosial ekonomi rendah dan bertempat tinggal di area yang padat.2

Dermatofita antropofilik yang paling sering menyebabkan tinea kapitis di Amerika


Serikat adalah spesies T. tonsurans, sedangkan M. canis adalah spesies dengan prevalensi
tinea kapitis tertinggi di Eropa. Penyebaran tinea kapitis dapat dilihat pada gambar 2.1.

10
(Gambar 2.1) Epidemiologi tinea kapitis di seluruh belahan dunia. Warna solid menunjukan lebih dari 90% kasus di
negara tersebut disebabkan oleh Trichophyton sp. Tanda goresan tanpa warna menunjukan indikasi lebih dari 90%
kasus di negara tersebut disebabkan oleh Microsporum sp. Kombinasi dari goresan dan warna menandakan kedua
spesies Trichophyton dan Microsporum spp jelas sebagai penyebab tinea kapitis pada negara tersebut. Data diambil dari
sebuah artikel yang diterbitkan oleh (MEDLINE) sejak 1995.

C. Etiologi
Berikut adalah penyebab dari tinea kapitis sesuai dengan habitat dan sel inang yang
ditempati (tabel 2.1)2

11
Tabel 2.1 Patogen penyebab tinea kapitis2

D. Patogenesis
Infeksi pada rambut oleh dermatofita memiliki 3 pola penting, yaitu ektotrik,
endotrik, dan favus. Dermatofita memulai infeksi pada stratum korneum perifolikuler dan
menjalar ke area sekitar dan juga ke batang rambut pertengahan akhir fase anagen sebelum
turun ke folikel untuk penetrasi korteks. Dengan pertumbuhan rambut, rambut yang
terinfeksi naik ke atas permukaan kulit kepala yang mana akan patah dikarenakan sangat
rapuh.2

(Gambar 2.2) Demonstrasi grafik pada ektotriks (kiri) dan endotriks (kanan) pada rambut.2

12
1. Pada infeksi ektoriks, hanya antrokonidia pada permukaan batang rambut yang
terlihat, meskipun hifa pada batang rambut juga dapat tampak. Kutikula tampak
hancur, Pada pemeriksaan Lampu Wood, floresens kuning kehijauan dapat
terdeteksi, tergantung dari organisme penyebab.2
2. Pada infeksi endotriks, antrokonidia dan hifa tampak bersamaan pada batang
rambut dan meninggalkan korteks, serta kutikula tampak utuh (intak). Organisme
endotriks tidak menunjukan floresens pada uji Lampu Wood.2
3. Pada perjalanan tinea kapitis yang berkaitan dengan penampakan black dots
memperlihatkan rambut yang rapuh pada permukaan kulit kepala. Favus
dikarakterisasikan dengan hifa yang tersusun longitudinal dan terdapat jarak antara
batang rambut, antrokonidia juga tidak tampak pada rambut yang terinfeksi.2

E. Klasifikasi
1. Non-inflamasi
Disebut juga sebagai seboroik yang membentuk tinea kapitis, sisik adalah faktor
predominan. Tinea kapitis non-inflamasi sering kali terlihat disebabkan oleh organisme
antropofilik seperti M. audouinii or Microsporum ferrugineum. Antrokonidia dapat
membentuk lapisan di sekitar rambut yang terinfeksi, dan merubah warnanya menjadi
abu-abu dan menyebabkan rambut patah di atas kulit kepala. Alopesia mungkin dapat
tidak terlihat atau pada kasus radang dapat terlihat eritem mengelilingi sisik abu-abu
pada alopesia non-scarring dengan batang yang rambut patah.2
2. Tinea Kapitis Black Dot
Bentukan black dot membentuk tinea kapitis dengan jenis yang disebabkan oleh
organisme antropofilik endotriks T. tonsurans dan T. violaceum. Rambut patah tepat
dengan permukaan kulit kepala meninggalkan kesan titik-titik hitam dibelakangnya
dengan alopesia bidang kecil berbentuk poligonal dengan pinggiran berbentuk jari.
Rambut normal juga tertinggal dengan rambut yang patah. Sisik yang difus juga sering
terlihat. Di saat tinea capitis dengan black dot lebih meminimalkan proses
inflamasinya, beberapa pasien dapat berkembang menjadi folikuler pustule, furunkel
seperti nodul, atau kasus jarang yaitu kerion seperti boggy (rawa), masa yang
inflamasi dengan rambut patah dan folikel berlubang yang mengeluarkan nanah.2

13
3. Inflamasi
Patogen zofilik atau geofilik, seperti M. canis, M. gypseum, dan T. verrucosum,
lebih sering menyebabkan tinea kapitis tipe inflamasi. Tipe inflamasi, yang biasanya
menghasilkan reaksi hipersensitifitas terhadap infeksi, Dengan perubahan dari psutul
folikuler menjadi furunkulosis atau kerion. Peradangan yang intens juga menghasilkan
alopesia dengan jaringan parut. Kulit kepala biasanya terasa gatal atau perih. Inflamasi
pada tinea kapitis sering berkaitan dengan limfadenopati servikal posterior, yang mana
terlihat seperti permata yang dapat dijadikan diagnosis banding dari tinea kapitis
dengan penyakit lain yang berkaitan dengan inflamasi pada kulit kepala.2

F. Bantuan Diagnostik Klinis


1. Lampu Wood
Ektotriks spesies Microsporum menunjukkan floresens hijau terang pada rambut yang
terinfeksi di bawah uji lampu Wood, ini dapat membantu untuk menemukan perbedaan
dari infeksi Trichophyton non-floresens (contoh: T. schoenleinii dapat menunjukkan
floresens hijau kusam, penyelidikan ini terbatas mengingat dominasi spesies non-
floresens dari Trichophyton. Berikut adalah salah satu contoh gambaran tinea capitis di
bawah sinar Wood1 (gambar 2.3)5

(gambar 2.3) Tinea capitis yang disebabkan oleh M. canis dan tampak floresens di bawah lampu Wood.5

14
2. Pola Klinis

Adanya limfadenopati regional disertai dengan alopesia dan atau dengan sisik pada
anak yang diduga mengalami tinea kapitis adalah petunjuk penting dalam diagnosis
dan harus dianjurkan untuk melakukan penyelidikan dengan kultur biakan jamur.
Berikut adalah pola klinis yang dapat membantu dalam diagnosis tinea kapitis1 (tabel
2.1)

Pola Klinis Deskripsi Diagnosis Banding


Alopesia dengan bentuk Alopesia areata,
Black Dot rapi disertai titik hitam trikotiloma
(rambut patah hingga
pangkal mendekati
permukaan kulit kepala)
infeksi T. tonsurans
Patchy (belang-belang) Dermatitis Seboroik,
Grey Patch dan alopesia berisisk dermatitis atopi,
dengan atau tanpa dermatitis kontak,
eritematosa psoriasis, alopesia traksi,
lupus eritematosa sistemik
Sisik tersebar luas di kulit Dermatitis seboroik,
Diffuse Scale kepala dengan atau tanpa dermatitis atopi,
eritema dermatitis kontak,
psoriasis, alopesia traksi,
lupus eritematosa sistemik
Pustul yang menyebar Folikulitis bacterial,
Diffuse Pustular dengan sisik, alopesia, dan folikulitis steril (berkaitan
limfadenopati dengan rambut
berminyak)
Boggy (seperti rawa), Pioderma, neoplasia,
Kerion eritematosa, plak pioderma gangrenosum
berkonsistensi lunak (tidak biasa pada anak)
dengan pustul disertai
limfadenopati
Kerak parah berbentuk Psoriasis, pitiriasis
Favus seperti cangkir kuning di amiantasea.
sekitar rambut
(tabel 2.2) Pola klinis berkaitan dengan Tinea Kapitis4

15
Gambar 2.4 Grey Patch Gambar 2.5 Black dots

Gambar 2.6 diffuse scale Gambar 2.7 Kerion

16
3. Dermoskopi

Trikoskopi (dermoskopi) mengarah kepada evaluasi penyakit pada rambut dan kulit
kepala menggunakan dermoskop. Metode ini diciptakan pleh Haliasos et al. dan
Olszewska pada tahun 2006. Trikoskopi adalah tindakan non-invasif, cepat, mudah,
sangat berguna, dan harga terjangkau. Metode yang memungkinkan pemeriksaan in
vivo yang cepat dan dapat diperbesar (untuk memperjelas) pada kulit dengan
penyingkapan atribut morfologis yang sering kali tidak dapat terlihat dengan mata
telanjang.
Dermoskopi direkomendasikan sebagai peralatan tambahan untuk mendiagnosis
tinea kapitis. Potongan rambut dengan bentuk black dot dapat terlihat lebih jelas.
Rambut comma-shaped telah digambarkan pada anak dengan ras kulit putih dengan
infeksi ektotriks. Sedangkan rambut dengan bentuk pilinan (corkscrew hair) telah
dilaporkan pada anak Afro-Caribbean dengan tinea capitis. Berikut hasil gambaran dari
dermoskopi1 (gambar 2.8) dan (gambar 2.9). Comma hair diinterpretasikan sebagai
hifa yang berada di dalam batang rambut dan merupakan suatu tanda adanya infeksi
dermatofita, sedangkan Corkscrew hair adalah suatu variasi dari comma hair yang
terjadi pasien dengan ras kulit hitam yang mengalami tinea kapitis.6

Gambar 2.8 Videodermoskopi 40x, tampak comma and corkscrew hair.6

17
Gambar 2.9 Videodermoskopi 20x, tampak comma and corkscrew hair.6

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan KOH
Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop,mula-mula dengan
pembesaran 10x10, kemudian pembesaran 10x45. Sediaan diambil dari kulit kepala dengan
cara kerokan pada lesi yang diambil menggunakan blunt solid scalpel atau dengan
menggunakan sikat. Pengambilan sampel terdiri rambut sampai akar rambut serta skuama.
Setelah sampel diambil kemudian sampel diletakkan di atas gelas alas, kemuadian
ditambahkan 1-2 tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan rambut
adalah 10% dan untuk kulit 20%. Setelah sediaan dicampurkan dengan KOH, ditunggu 15-
20 menit untuk melarutkan jaringan. Untuk mempercepat pelarutan makan dapat dilakukan
pemanasan sediaan basah di atas api kecil. Pada saat mulai keluar uap dari sediaan tersebut,
pemanasan sudah cukup. Biala terjadi penguapan, maka akan terbentuk Kristal KOH,
sehingga tujuan yang diinginkan tidak tercapai. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata
dapat ditambahkan zat warna pada sediaan KOH misalnya tinta Parker super-chroom blue
black.7

18
Gambar 2.10 Infeksi ektotriks, kutikula tampak hancur3

Gambar 2.11 Infeksi endotriks, kutikula tampak utuh3

19
2. Kultur
Medium kultur yang digunakan untuk jamur dermatofit adalah sabouraud dextrose
agar. Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan langsung
sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini dilakukan dengan
menanamkan bahan klinis pada media buatan yaitu sabouraud dextros agar. Antibiotik
seperti kloramfenikol dan cycloheximide ditambahkan ke media untuk mencegah
pertumbuhan dari bakteri atau jamur kontaminan. Kerokan yang diambil pada lesi di kulit
kepala dengan menggunakan sikat kemudian di ratakan di permukaan media kultur.
Kebanyakan dermatofit tumbuh pada suhu 26C dan diperlukan waktu tumbuh setelah 2
minggu untuk dilakukan pemeriksaan.7

H. Penatalaksanaan
Berikut adalah beberapa tata laksana anjuran yang digunakan dalam penanganan tinea
kapitis:

Diagnosis Laboratorium Lesi kulit kepala pada kasus dugaan harus diambil dengan kerokan kulit menggunakan
pisau bedah, cabutan rambut, sikat atau usapan. Seluruh spesimen seharusnya
diperiksa di bawah mikroskop dan dikultur, jika memungkinkan. (rekomendasi D)
Pengobatan Adanya kerion yang terdapat satu atau lebih dari tanda kardinal secara klinis tampak
(sisik, limfadenopati, alopesia) memiliki alasan untuk memulai pengobatan sambil
meninggu konfirmasi dari pihak mikologi. (rekomendasi B)
Terapi Lini Pertama Griseofulvin dan terbinafine memiliki bukti klinis efektifitas dan secara luas digunakan
sebagai terapi lini pertama.
Pengobatan Gagal Diawali karena kurangnya keluhan, penyerapan obat yang suboptimal, relatif
insensitifitas terhadap organisme dan infeksi ulang. Pada kasus yang mengalami
perbaikan tetapi masih positif terinfeksi jamur, tetap melanjutkan terapi lebih lama
selama 2 4 minggu. Jika tidak ada perbaikan di awal, segera lanjutkan terapi lini
kedua.
Terapi Lini Kedua Itrakonazol aman dikonsumsi, efektif, dan memiliki aktifitas membasmi spesies
Trichophyton dan Microsporum. Jika itrakonazol telah dipilih sebagai terapi lini
pertama, ganti terbinafine sebagai terapi lini kedua untuk infeksi Trichophyton atau
griseofulvin sebagai pembasmi spesies Microsporum, dengan standar regimen dosis
yang ada (rekomendasi C)
Agen Alternatif Untuk kasus yang sulit ditangani pada regimen di atas, obat lain yang dapat
dipertimbangkan dalam kondisi tersebut adalah flukonazol dan vorikonazol.
Pengukur Tambahan Anak-anak yang menerima terapi harus izin masuk ke dalam kegiatan sekolah dan
fokus pada perawatan (rekomendasi D)

Indeks kasus yang disebabkan oleh T. Tonsurans mengingatkan seluruh anggota


keluarga dan orang terdekat untuk melakukan pengobatan pada mereka yang positif
mengalami kasus yang sama. (rekomendasi B)

Pada karier asimptomatis (tidak ada tanda klinis infeksi, kultur positif) dengan jumlah
spora yang tinggi, pengobatan sistemik biasanya sama rata. (rekomendasi D)

20
Pada poin akhir pengobatan lebih kepada penyembuhan secara mikologi dibanding
kesembuhan secara klinis, itulah alasan mengapa sampling mikologi ulang
direkomendasikan hingga ketuntasan secara mikologi tercapai. (rekomendasi D)
Tabel 2.3 (pengobatan pada tinea kapitis)1

Griseofulvin dalam bentuk fine particle dapat diberikan dengan dosis 0,5 1 g
untuk orang dewasa dan 0,25 0,5 g untuk anak-anak sehari atau 10 25 kg/kg
berat badan. Diberikan 1 2 kali sehari.7

Topikal :
Hanya sebagai adjuvant
Selenium sulfide 1% atau 2,5%
Zinc phyrithione 1% atau 2%
Povidone Iodine 2,5%
Ketoconazole 2%

Sistemik :

Dewasa :

Griseofulvin 20 25 mg / kg/ hari/ x (selama 6 8 minggu)

Terbinafin 250 mg / hari/ x (selama 2 8 minggu)

Itrakonazol 5 mg / kg/ day/ x (selama 2 4 minggu)

Flukonazol 6 mg / kg/ hari/ x (selama 3 minggu)

Anak :

Terbinafin 3 6 mg/ kg/ hari/ x (selama 2 8 minggu)

Dosis obat yang lainnya sama.2

21
I. Komplikasi
Kerion Kelsi (kerion) adalah bentuk peradangan parah dari tinea kapitis yang dapat
mengarah kepada jaringan parut dan alopesia permanen jika tidak diobati dengan segera.
Kerion sering dianggap sebagai pioderma karena adanya perih, eritema, dan berkaitan
dengan adanya nanah. Namun, jarang sekali infeksi bakteri dapat menyebabkan alopesia.
Pencabutan rambut pada kasus kerion tidak mengakibatkan rasa sakit, sedangkan pada
pioderma terdapat rasa sakit saat rambut pasien dicabut.4

22
DAFTAR PUSTAKA
1. Fuller, L.C. Barton, R.C Mustapa, M.M. Proudfoot, L.E. Punjabi, S.P. Higgins, E.M. 2014.
British Association of Dermatologists guidelines for the management of tinea capitis.
British Journal of Dermatology 171:45463.
2. Goldsmith, A.L. Katz, I.S. Gilchrest, A.B. Paller, S.A. Leffell, J.D. Wolff, K. 2012.
Fitzpatricks Dermatology In General Medicine. 8th ed. McGraw-Hill. New York. P2284-
6.
3. Suyoso, S. 2012. Tinea Kapitis pada Bayi dan Anak. Airlangga University Publication.
https://rsudrsoetomo.jatimprov.go.id/id/index.php/makalah-
kesehatan?download=71:tinea-kapitis-pada-bayi-anak. 20 Agustus 2017 (22:20).
4. Kelly, B.P. 2012. Superficial Fungal Infection. American Academy of Pediatrics 33:e22
e37.
5. White JM, Higgins EM, Fuller LC. 2007. Screening for asymptomatic carriage
of Trichophyton tonsurans in household contacts of patients with tinea capitis: results of
209 patients from South London. J Eur Acad Dermatol Venereol 21:10614.
6. Elghblawi, E. 2016. Idiosyncratic Findings in Trichoscopy of Tinea Capitis: Comma,
Zigzag Hairs, Corkscrew, and Morse Code-like Hair. Department of Dermatology,
Independent Researcher, Libya 8(4):1803.
7. Menaldi, S.W. 2016. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 7th ed. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. P1134.

23