Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH PROGESTERON DAN ESTRADIOL TERHADAP MOTILITAS DAN

VIABILITAS SPERMATOZOA IKAN WADER (Barbodes binonatus)


Effect of Progesteron and Estradiol on Motility and Viability Spermatozoa Barbodes binonatus

Erni Tri Utami (081311433040), Sherly Yohana (081311433073), dan Nurul


Istiqomah(081311433017)
1
Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga. Jl. Mulyorejo, Surabaya
60115 Indonesia
*email :erni.tri-13@fst.unair.ac.id , sherly.yohana-13@fst.unair.ac.id

Abstrak
Progesteron dan Estradiol merupakan suatu hormon yang biasa diproduksi oleh hewan betina dan
manusia.Hormon tersebut memasuki perairan melalui urine dan atau feses yang selanjutnya
dapat memasuki lingkungan perairan sebagai bahan pencemar yang dapat berperan sebagai
oksidan yang dapat menurunkan kualitas, kuantitas sperma, dan menimbulkan feminisasi hewan
jantan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian hormon
progesteron dan estradiol terhadap motilitas dan viabilitas spermatozoa ikan wader (Barbodes
binonatus).Terdapat 4 perlakuan terhadap spermatozoa dengan 4 konsentrasi hormon
progesteron dan estradiol dari pil KByaitu kelompok kontrol diberi 0 ppm(K), kelompok
perlakuan I diberi 0,15 ppm (K1), kelompok perlakuan II diberi 0,30 ppm (K2) dan kelompok
perlakuan III diberi 0,45 ppm (K3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh senyawa
estrogenik dapat menurunkan motilitas dan viabilitas pada spermatozoa bila dibandingkan
dengan kontrol.

Kata kunci: progesteron, estradiol, Barbodes binonatus ,viabilitas, motilitas, spermatozoa

Abstract
Progesterone and Estradiol is a hormone commonly used by females and humans. The hormone
can be used as a contaminant that can act as an oxidant that can degrade the quality, quantity of
sperm, and feminization embryo of males. The purpose of this study is to determine the influence
of hormones Progesterone and estradiol on the motility and viability of the wader spermatozoa
(Barbodes binonatus). There were 4 treatments for spermatozoa with 4 hormones progesterone
and estradiol from the birth control pill, the control group was given 0 ppm (K), the treatment
group I was given 0.15 ppm (K1) , Treatment group II was given 0.30 ppm (K2) and treatment
group III was given 0.45 ppm (K3). The results showed that estrogenic effect can decrease
motility and viability in spermatozoa when compared with control.

Keywords : progesterone, estradiol, Barbodes binonatus , viabilitas, motilitas, spermatozoa

PENDAHULUAN
Ikan wader (Barbodes binonatus) tetangga seperti Malaysia, Filipina,
merupakan spesies air tawar famili Thailand, Vietnam, Kamboja, Brunei
Cyprinidae yang menyebardi beberapa Darusalam, hingga ke India dan sebagian
daerah diIndonesia (Sumatera, Jawa, China. Spesies ini memiliki nilai ekonomi
Kalimantan, Lombok dan Bali), juga Negara untuk dikonsumsi. Biasanya ikan wader
dapat dijumpai di sungai yang airnya bahan estrogenik yang didapat dari pil KB
mengalir berarus agak lambat hingga tenang, dengan merk dagang Mycroginon
namun habitatnya mulai tercemar oleh
banyak sekali senyawa, salah satunya adalah Alat
progesteron dan estradiol, suatu hormon Alat yang digunakan dalam penelitian ini
yang biasa diproduksi oleh hewan betina dan yaitu, akuarium, aerator, gelas ukur, pipet
manusia. Hormon tersebut memasuki tetes, cawan petri, mikroskop cahaya
perairan melalui urin dan atau feses yang (Olympus CX21), gelas objek datar, gelas
selanjutnya dapat memasuki lingkungan objek cekung, mikropipet 20 l; 200l dan
perairan (Schafersman, 2000). 1000 l.
Di lingkungan, senyawa ini berperan
sebagai bahan pencemar yang bersifat toksik Pembuatan Larutan Stok Estrogen
karena kemampuannya sebagai oksidan atau Larutan stok estrogen dibuat dengan
radikal bebas yang dapat menurunkan berbagai variasi konsentrasi, yaitu 0 ppm
kualitas, kuantitas sperma, dan sebagai kontrol; 0,15 ppm; 0,30 ppm; dan
menimbulkan feminisasi hewan jantan 0,45 ppm sebagai perlakuan. Karena
(Cody, 2001, Knobil, 1999). progesteron dan estradiol yang digunakan
Pergerakan sperma diperlukan untuk masih dalam bentuk pil, maka perlu
pembuahan dan kualitas sperma sebagai dilakukan penghalusan. Penghalusan
indeks yang dapat diandalkanuntuk dilakukan dengan menggunakan mortar dan
kesuburan spermatozoa. Penurunan tingkat pestle. Setelah halus, bubuk tersebut
fertilisasi pada ikan dapat disebabkan oleh kemudian dilarutkan dengan menggunakan
penurunan ukuran populasi karena paparan akuades sebanyak 100 ml dalam gelas
polutan bahkan dapat menyebabkan beaker. Larutan stok progesteron dan
kepunahan spesies (Kime, 1995). Jumlah estradiol dari pil KB kemudian disimpan dan
sperma juga merupakan hal yang penting ditutup menggunakan alumunium foil untuk
untuk mengetahui kesuburan suatu selanjutnya digunakan saat penelitian.
spesies.Sehingga, kehidupan sperma sangat
penting untuk mengetahui indikator dari Pengamatan Motilitas Spermatozoa
kualitas sperma pada ikan (Flajshans et al., Sebelum dilakukan pengamatan motilitas
2004). spermatozoa, ikan dipelihara di dalam
Berdasarkan permasalahan tersebut, akuarium berukuran 50 x 35 x 35 cm dengan
maka penelitian ini bertujuan untuk untuk aerasi selama 24 jam dan air akuarium
mengetahui pengaruh hormon estrogen diganti setiap dua atau tiga hari sekali
dengan berbagai konsentrasi terhadap dengan mengurangi sebanyak setengah isi
motilitas dan viabilitas spermatozoa ikan air akuarium yang akan diganti dan
wader (Barbodes binonatus). ditambahkan dengan air akuarium yang akan
diganti. Ikan yang sudah diambil
METODE PENELITIAN spermatozoanya diletakkan di akuarium
yang berbeda supaya dapat memproduksi
Bahan spermatozoa kembali, setiap pengambilan
Penelitian ini menggunakan spermatozoa sampel spermatozoa digunakan ikan yang
dari ikan wader. Pewarnaan pada berbeda.
pengamatan viabilitas menggunakan larutan Untuk dapat mengkoleksi spermatozoa
Eosin 1% dan Nigrosin 10%. Bahan kimia ikan dilakukan dengan teknik stripping yaitu
yang digunakan NaCl 0,9%, aquades, dan dengan menekan atau mengurut lubang
urogenital ikan dari arah anterior ke Jika hasil analisis varians bermakna (p <
posterior. Ikan dipegang dengan bagian 0,05) dilanjutkan dengan uji Duncan untuk
dorsal ada dibawah dan bagian ventral mengetahui beda antar kelompok perlakuan.
menghadap ke atas. Kepala ikan ditutup oleh Pengujian selanjutnya, untuk mengetahui
tangan kanan, sedangakan ekornya disangga asumsi data memiliki varians bersifat
oleh tangan kiri. Bagian lubang urogenital homogen menggunakan Levene test.Data
dilap dengan tisu. Bagian abdomen ikan yang berdistribusi normal dan tidak
diurut dari anterior ke arah posterior menuju homogen dianalisis menggunakan uji
lubang urogenital hingga pada lubang Brown-Forsythe dan dilanjutkan dengan uji
tersebut keluar cairan berwarna putih susu Games-Howell.Jika hasil data tidak
(milt). berdistribusi normal, maka dianalisis dengan
Setelah milt diperoleh, pembuatan uji non parametik yakni uji Kruskal-Wallis
suspensi spermatozoa dilakukan dengan yang bertujuan untuk mengetahui apakah
cara, suspensi spermatozoa yang sudah pengaruh pada tiap perlakuan secara
dicampur dengan NaCl 0,9% dicampurkan signifikan 0,05. Selanjutnya akan dilakukan
sebanyak 20 l ke dalam larutan progesteron uji lanjutan menggunakan uji Mann-Whitney
dan estradiol dengan berbagai konsentrasi untuk mengetahui secara signifikan antar
sebanyak 40 l. perlakuan (Nazir, 1999).
Pengamatan motilitas dilakukan dengan
menilai motilitas lalu diamati dibawah
mikroskop dengan perbesaran total 100x dan HASIL
diamati motilitas kelompok spermatozoa Gambar 1. Rata-rata Durasi Motilitas
dengan pengulangan sebanyak 10 kali.

Pengamatan Viabilitas Spermatozoa


Pengamatan viabilitas spermatozoa
dilakukan denganpencampuran suspensi
spermatozoa dengan larutan eosin 1% dan
larutan nigrosin 10% dengan perbandingan
1:1:1 dan dilakukan pengamatan dibawah
mikroskop dengan total perbesaran 100x.
Pengamatan dilakukan pada satu lapang
pandang sebanyak 100 sel spermatozoa dan
dilakukan pengulangan sebanyak 10 kali.

Analisis Data
Data yang diperoleh diuji secara statistik
menggunakan menggunakan software SPSS
Releasefor Windows versi 21 dengan 10 kali
pengulangan.Semua data terlebih dulu diuji Hasil pengamatan terhadap rata-rata
normalitas distribusidengan menggunakan durasi motilitas individu dan masa
uji Kolmogrorov-Smirnov. Kemudian data spermatozoa menunjukkan bahwa
berdistribusi normal dan bervarians pemberian progesteron dan estradiol ke
homogen (p > 0,05) diuji dengan analisis dalam suspensi spermatozoa dapat
varians (ANOVA) dengan 2 arah untuk menurunkan laju motilitas individu maupun
mengetahui pengaruh kelompok perlakuan. masa spermatozoa secara signifikan pada
setiap penambahan konsentrasi progesteron Pada konsentrasi 0,30 ppm memiliki nilai +
dan estradiol yang diberikan. yang berarti memiliki kriteria sedang dengan
tidak terlihat gelombang melainkan hanya
Gambar 2. Rata-rata Motilitas Kecepatan gerakan-gerakan individu aktif progresif dan
Individu Spermatozoa pada konsentrasi 0,45 ppm memiliki nilai 0
yang berarti termasuk dalam kriteria buruk
dengan hanya sedikit atau tidak ada gerakan
individual.
Hal ini dapat terjadi karena hormon
progesteron dan estradiol merupakan bahan
toksik bagi spermatozoa, bahan toksik yang
berperan sebagai oksidan atau radikal bebas
yang dapat melemahkan organel
mitokondria yang merupakan organel yang
berfungsi untuk memberikan energi untuk
pergerakan (motilitas) spermatozoa.
Sehingga semakin tinggi konsentrasi
progesteron dan estradiol maka motilitas
spermatozoa akan menurun.

Gambar 4. Presentase Viabilitas


Spermatozoa
Rata-rata kecepatan motilitas individu
spermatozoa juga mengalami penurunan laju
kecepatan yang signifikan seiring Presentase Viabilitas
bertambahnya konsentrasi progesteron dan Spermatozoa
estradiol yang diberikan.
0 ppm 0,15 ppm 0,30 ppm 0,45 ppm
Gambar 3.Kecepatan Motilitas Massa 8%
Spermatozoa
18% 41%
Konsentrasi
0 0,15 0,30 0,45 33%
ppm ppm ppm ppm
Motilitas +++ ++ + 0

Kecepatan motilitas masa spermatozoa


pada konsentrasi 0 ppm memiliki nilai +++
yang berarti memiliki kriteria yang sangat
baik karena terlihat gelombang-gelombang
besar, banyak, gelap, tebal dan aktif yang
bergerak cepat dan berpindah-pindah cepat.
Pada konsentrasi 0,15 ppm memiliki nilai
++ yang berarti memiliki kriteria nilai baik
dengan terlihat gelombang kecil, tipis,
jarang, kurang jelas dan bergerak lamban.
Gambar 5. Gambar Mikroskopik spermatozoa sehingga pewarna utama
Spermatozoa (Eosin) dapat masuk ke dalam membran sel.
Penambahan progesteron dan estradiol
berpengaruh terhadap kerusakan membran
sel spermatozoa. Hal ini ditunjukkan dengan
menurunya viabilitas sel seiring
meningkatnya konsentrasi hormon
progesteron dan estradiol.
Pada pengamatan yang dilakukan
dalam menyajikan data persentase hidup
spermatozoa berdasarkan rerata dari 10 kali
pengulangan pada setiap
perlakuan.Persentase hidup spermatozoa
semakin menurun seiring dengan
meningkatnya perlakuan konsentrasi
hormon estrogen yang diberikan.Hasil
Disetiap perlakuan viabilitas spermatozoa
pengamatan pada viabilitas spermatozoa
yang diberikan menunjukkan penurunan
Ikan wader (Barbodes binonatus)
yang signifikan, ketika konsentrasi
menunjukkan bahwa persentase hidup
progesteron dan estradiol bertambah, laju
terbaik terdapat pada perlakuan kontrol
viabilitas spermatozoa mengalami
yakni 41%. Pada persentase hidup
penurunan yang signifikan, penurunan yang
spermatozoa terendah terdapat pada
paling tinggi terdapat pada perlakuan
perlakuan penambahan hormon estrogen
dengan konsentrasi dari 0,15 ppm ke
0,45 ppm yaitu 8%. Hal tersebut
konsentrasi 0,30 ppm dengan penurunan
menunjukkan penurunan persentase hidup
presentase sebersar 15%.
yang cukup signifikan. Penurunan
persentase hidup dimulai pada perlakuan
penambahan hormon estrogen 0,15 ppm
PEMBAHASAN
yang mengalami penurunan mendekati 33%
Pengaruh progesteron dan estradiol
dari persentase hidup spermatozoa perlakuan
terhadap viabilitas spermatozoa Ikan
kontrol atau tanpa penambahan hormon
wader (Barbodes binonatus)
estrogen. Berdasarkan data tersebut terlihat
Viabilitas spermatozoa merupakan suatu bahwa Estrogen berpengaruh terhadap
kemampuan sel sperma untuk bertahan viabilitas spermatozoa Ikan wader
hidup dalam kondisi tertentu.Pengamatan (Barbodes binonatus)
viabilitas spermatozoa dilakukan dengan
Pengaruh progesterone dan estradiol
melakukan pewarnaan Eosin-Nigrosin.
terhadap motilitas spermatozoa Ikan
Pewarna Eosin bertindak sebagai pewarna
wader (Barbodes binonatus)
utama, sedangkan pewarna Nigrosin
bertindak sebagai pewarna tandingan. Motilitas spermatozoa merupakan
spermatozoa dikatakan hidup apabila kemampuan sperma bergerak menuju pada
spermatozoa tidak berwarna atau transparan, sel telur dalam proses fertilisasi.
sedangkan pada spermatozoa yang Keberhasilan fungsi sperma dalam fertilisasi
mengalami kematian akan berwarna merah dipengaruhi oleh kualitas spermatozoa.
muda, hal ini disebabkan karena progesteron Dalam menilai suatu kualitas spermatozoa
dan estradiol dapat merusak membran sel menggunakan +++ yang menunjukkan
pergerakannya sangat bagus, ++ Learning (RBL) pada Praktikum
menunjukkan pergerakannya sedang, + Spermatologi sehingga laporan hasil
menunjukkan pergerakannya buruk Research Based Learning (RBL) mampu
sedangkan 0 menunjukkan tidak ada diselesaikan. Ucapan terima kasih kami
pergerakan spermatozoa. Bagian ucapkan pada Yuli Winarsih dan Khusnita
spermatozoa yang sangat berpengaruh pada Giarti selaku asisten dosen yang telah
motilitas adalah ekor. Pada ekor terdapat membantu dalam proses pelaksanaan
organ mitokondria yang berperan sebagai hingga penyusunan jurnal hasil RBL ini
sumber energi untuk pergerakan. Pada saat terselesaikan dengan baik.
pemberian perlakuan yakni ditambah dengan
hormon estrogen berbagai kosentrasi, DAFTAR PUSTAKA
motilitas spermatozoa semakin menurun.
Hal ini disebabkan karena estrogen sangat Cody, N., Tanpa Tahun. Motion
toksik dan merusak mitokondria, sehingga Magazine.DES given to Young too Tall
mitokondria tidak dapat menghasilkan Girls
energi yang digunakan sebagai pergerakan.
in Appalling Medical Experiment.
Pada perlakuan kontrol spermatozoa
Cody, Pat. 2001. Environmental Estrogen-
memiliki rata-rata +++ karena pergerakan
Global Problem. Berkeley, California.
spermatozoa masih sangat baik, tapi pada
Healthcare/In Motion Magazine.
perlakuan yang dipapar estrogen dengan
Guilette Jr., L.J., T.S. Gross, G.R. Masson,
konsentrasi 0,15 ppm memiliki rata- rata ++,
J.M Matter, H. F. Percival, and A.R.
perlakuan yang dipapar estrogen dengan
Woodward, 1998.Developmental
konsentrasi 0,30 ppm memiliki rata-rata
Abnormalities of the Gonad
yaitu ++, sedangkan perlakuan yang dipapar
andAbnormal Sex Hormone
estrogen dengan konsentrasi 0,45 ppm
Concentration in Juvenile Alligators
memiliki rata-rata paling kecil yaitu 0. from
Contaminaned and Control Lakes in
KESIMPULAN Florida.Environmental Health
perspectives Volume 102, No. 8,
Kesimpulan dari penelitian ini ialah August 1998.
terdapat pengaruh dari konsentrasi hormon Guyton, A.C. and Hall, J.E., 2006. Textbook
progesteron dan estradiol terhadap viabilitas of Medical Physiology. 11 th ed.
dan motilitas spermatozoa Ikan wader Philadelphia, PA, USA.
(Barbodes binonatus) dilihat dari penurunan Hayati A., 2011. Spermatologi. Surabaya.
nilai viabilitas dan motilitas spermatozoa Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair
yang signifikan seiring dengan tingginya (UAP).
konsentrasi progesteron dan estradiol yang Kuiper, G., G.J.M, Carlquist, and J.A.
diberikan. Gustafson, 1998.Estrogen: Both A Male
And Female Hormone.
Nazir, M., 1999.Metode Penelitian, Ghalia
UCAPAN TERIMA KASIH Indonesia, Jakarta.
Ucapan terimakasih kami ucapkan Science&Medicine 5, Jul/Aug, 36-45.
kepada Dr. Alfiah Hayati dan M. Hilman www.midelife-passa-
Fuadil Amin, M. Si. selaku dosen ges.com/page4.html.
pembimbing yang telah membimbing LBN-LIPI.1980. Sumber Protein Hewani.
selama pelaksanaan Research Based PN Balai Pustaka. Jakarta
Rustidja, 1999. Pemisahan Spermatozoa x
dan y Ikan Mas (Cyprinus Carpio).
Universitas Brawijaya. Malang
Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia dari
Sel ke Sistem (edisi ke-2).Jakarta :
EGC : 601 606.