Anda di halaman 1dari 2

Sistem saprobik merupakan sistem tertua yang digunakan untuk mendeteksi pencemaran

perairan dari bahan organik yang dikembangkan oleh Kolkwitz dan Marsson
(1908) in Nemerow (1991). Saprobitas menggambarkan kualitas air yang berkaitan dengan
kandungan bahan organik dan komposisi organisme di danau. Komunitas biota bervariasi
berdasarkan waktu dan tempat hidupnya. Dalam sistem ini, suatu organisme dapat bertindak
sebagai indikator dan mencirikan perairan tersebut (Sladecek 1979).

Sistem saprobik didasarkan pada zonasi yang berbeda yang mengalami pengkayaan bahan
organik yang dikarakteristikkan oleh tanaman (alga) dan hewan (bentos) secara spesifik.
Adanya pencemar organik yang masuk ke dalam danau terkait dengan serangkaian waktu dan
jarak aliran yang akan menciptakan kondisi lingkungan yang bebeda di sepanjang danau dan
menghasilkan suksesi komunitas akuatik yang berbeda di danau (Nemerow 1991). Di
sepanjang danau yang menerima limbah tersebut, komunitas biota akan melakukan proses
pemulihan kondisi kualitas air.

Kolkwitz dan Marsson (1909) in Nemerow (1991) mengembangkan penilaian atau penafsiran
dalam penentuan sistem saprobik terhadap limbah organik, dan kemudian membagi zona
danau menjadi tiga zona berdasarkan karakteristiknya, yaitu:

1) Polisaprobik, merupakan zona perairan tercemar berat, kandungan bahan organik


sangat tinggi, kandungan oksigen terlarut rendah atau bahkan tidak ada sama sekali, serta
merupakan zona yang mengalami proses reduksi komunitas (komunitas biota mengalami
penurunan). Pada kondisi ini fitoplankton didominasi oleh Euglenophyceae.

2) Mesosaprobik, merupakan zona perairan tercemar sedang, komponen bahan organik lebih
sederhana, kandungan oksigen lebih tinggi dibandingkan pada zona polisaprobik. Di zona ini
terjadi proses mineralisasi oleh bakteri (konversi bahan organik menjadi bahan anorganik)
yang hasilnya akan dimanfaatkan bagi pertumbuhan alga dan hewan yang toleran pada zona
ini.

3) Oligosaprobik, merupakan zona pemulihan, hanya terjadi pencemaran ringan dengan


kandungan oksigen normal dan proses mineralisasi berlangsung dengan baik. Tumbuhan dan
hewan dapat hidup baik di zona ini.

Klasifikasi oligosaprobik mencerminkan kualitas air bersih (berkaitan dengan perairan yang
tidak tercemar) yang menggambarkan proses mineralisasi berlangsung dengan baik dan
kandungan oksigen normal serta fitoplankton didominasi oleh Desmidiaceae dan
Chlorophyceae. Perairan -mesosaprobik merupakan perairan tercemar ringan; fitoplankton
didominasi oleh Chlorophyceae dan diatom, serta Euglenophyceae mulai jarang/menghilang,
dengan kandungan oksigen terlarut mulai meningkat. Perairan -mesosaprobik merupakan
perairan yang tercemar sedang; fitoplankton didominasi oleh Euglenophyceae, alga biru, dan
diatom. Perairan polisaprobik mencerminkan perairan terpolusi berat; fitoplankton
didominasi oleh Euglenophyceae serta kandungan oksigen terlarut yang rendah (Nemerow
1991).
ahyono, B. 2000. Budidaya Ikan Air Tawar. Yogyakarta : Kanisius.

Effendi, H. 2003. Telah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan
Periaran. Kanisius: Yogyakarta.

Elfinurfajri feridian, 2009. Struktur komunitas fitoplankton serta Keterkaitannya dengan


kualitas perairan Di lingkungan tambak udang intensif. Departemen MSP-FPIK. Institut
pertanian bogor.

Fachrul, 2007. Metode Sampling Bioekologi. Penerbit PT Bumi Aksara, Jakarta.

Nontji A, 2008. Plankton Laut. LIPI Press. Jakarta.

Nugroho, 2006. Bio-indikator Kualitas Air. Penerbit Universitas Trisakti, Jakarta.

Pirzan, 2008. Hubungan Keragaman Fitoplankton dengan Kualitas Air di Pulau Bauluang,
kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

Sachlan. 1982. Planktonologi. Semarang : Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas


Diponegoro.

Sondoro, 2009. Pengertian dan Penggolongan Plankton. http://wordpress.com. Diakses


tanggal 1 November 2011

Supartiwi, E. N. 2000. Karakteristik Komunitas Fitoplankton dan Perifiton Sebagai Indikator


Kualitas Lingkungan Sungai Ciujung, Jawa Barat. Skripsi. Prodi MSP. Institut Pertanian
Bogor.

Wardoyo, S.T.H. 1978. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan
Perikanan. Dalam : Prosiding Seminar Pengendalian Pencemaran Air. (eds Dirjen Pengairan
Dep. PU.), hal 293-300.