Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III


ASUHAN KEPERAWATAN URTIKARIA

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK VIII (II C)

1. ANDI KURNIAWAN
2. DESTARI HUDAYANI
3. HAESULAYAH TASIB
4. SASPRAYANI

AKADEMI PERAWAT KESEHATAN PEMERINTAH

PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

2013/2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
dan rahmat beliaulah penulis dapat menyelesaikan sebuah makalah yang berjudul
Asuhan Keperawatan Pada Urtikaria untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan
Medical Bedah III dengan baik dan tepat pada waktunya.

Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing penulis
yaitu Bapak Maksum, SKM.,S.Kep.,Ners.,M.Si yang telah membimbing dalam
pembuatan makalah ini. Dan penulis juga mengucapkan terima kasih banyak kepada
semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini. Baik berupa
materi-materi, pemikairan dan lain sebagainya.Sehingga makalah ini dapat terselesaikan
dengan baik.Dan penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat nantinya bagi para
pembaca.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan


dan sangat jauh dari kata sempurna, seperti kata peribahasa yaitu tak ada gading yang tak
retak.Oleh karena itu, penulis mengaharapkan saran dan keritik yang bersifat membangun
dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Sakra, Maret 2014

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Penyakit alergi merupakan kumpulan penyakit yang sering dijumpai di
masyarakat dan golongan penyakit dengan ciri peradangan yang timbul akibat reaksi
imunologis terhadap alergi lingkungan. Walaupun faktor lingkunan merupakan faktor
penting, faktor genetik dalam manifestasi alergi tidak dapat di abaikan. Adanya alergi
terhadap suatu alergi tertentu menunjukkan bahwa sesorang pernah terpajan dengan
alergi bersangkutan sebelumnya. Penyakit alergi merupakan kumpulan penyakit yang
sering dijumpai di masyarakat. Penyakit alergi merupakan kumpulan penyakit yang
sering dijumpai di masyarakat. (WHO ARIA tahun 2001.

Alergi hidung adalah keadaan atopi yang paling sering dijumpai menyerang 20%
anak dan dewasa muda di Amerika Utara dan Eropa Barat. Di tempat lain alergi hidung
dan penyakit atopi lainya lebih rendah, terutama pada negara yang kurang berkembang.
Insidensi penyakit tinggi pada anak-anak di bawah 5 tahun dan akan menurun secara
bertahap sesuai dengan bertambahnya umur. Rinitis merupakan salah satu penyakit
paling umum yang terdapat diAmerika Serikat, mempengaruhi lebih dari 50 juta orang.

Dilaporkan penyakit alergi yang sering dijumpai di Bagian Penyakit Dalam


RSCM Jakarta adalah asma, rinitis, urtikaria dan alergi makanan. Di Medan dilaporkan
manifestasi klinis pasien alergi saluran pernapasan adalah rinitis 41,9%, asma 30,6%,
asma + rinitis 25% dan batuk kronik 5%. Diperkirakan 10-20 % penduduk pernah atau
sedang menderita penyakit tersebut. Alergi dapat menyerang setiap organ tubuh. Tetapi
organ yang sering terkena adalah saluran napas dan kulit.

Keadaan ini sering berhubungan dengan kelainan pernapasan lainnya, seperti


asma. Rhinitis memberikan pengaruh yang signifikan pada kualitas hidup. Pada beberapa
kasus, dapat menyebabkan kondisi lainnya seperti masalah pada sinus, masalah pada
telinga, gangguan tidur, dan gangguan untuk belajar. Pada pasien dengan asma, rinitis yg
tidak terkontrol dapat memperburuk kondisi asmanya. Rinitis tersebar di seluruh dunia,
baik bersifat endemis maupun muncul sebagai KLB. Di daerah beriklim sedang, insidensi
penyakit ini meningkat di musim gugur, musim dingin, dan musim semi.

Di daerah tropis, insidensi penyakit tinggi pada musim hujan. Sebagian besar
orang, kecuali mereka yang tinggal di daerah dengan jumlah penduduk sedikit dan
terisolasi, bisa terserang satu hingga 6 kali setiap tahunnya.

2. Tujuan
a. Tujuan Umum

Mahasiswa mengetahui tentang berbagai alergi yang dapat ditimbulkan, terutama


pada Rhinitis Alergi dan Urtikaria. Mulai dari penyebabnya, gejala-gejala apa
yang timbul, serta penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penyakit tersebut.
b. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu melakukan pengkajian keperawatan pada pasien dengan
gangguan sistem imunologi : Urtikaria
Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan Urtikaria
Mahasiswa mampu menyusun rencana keperawatan Urtikaria
Mahasiswa mampu melakukan implementasi sesuai dengan rencana
keperawatan Urtikaria
Mahasiswa mampu melakukan evaluasi keperawatan Urtikaria
Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada penyakit
Urtikaria
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Urtikaria adalah lesi sementara yang terdiri dari bentol sentral yang dikelilingi
oleh haloeritematosa. Lesi tersendiri adalah bulat, lonjong, atau berfigurata, dan
seringkali menimbulkan rasa gatal. (Harrison, 2005)
Urtikaria, yang dikenal dengan hives, terdiri atas plak edematosa (wheal) yang
terkait dengan gatal yang hebat (pruritus). Urtikaria terjadi akibat pelepasan histamine
selama respons peradangan terhadap alegi sehingga individu menjadi tersensitisasi.
Urtikaria kronis dapat menyertai penyakit sistemik seperti hepatitis, kanker atau
gangguan tiroid. (Elizabeth, 2007).
Urtikaria merupakan istilah klinis untuk suatu kelompok kelainan yang
ditandai dengan adanya pembentukan bilur-bilur pembekakan kulit yang dapat
hilang tanpa meninggalkan bekas yang terlihat. Pada umumnya kita semua pernah
merasakan salah satu bentuk urtikaria akibat jath (atau didorong) hingga gatal-gatal.
Gambaran patologis yang utama adalah didapatkannya edema dermal akibat
terjadinya dilatasi vascular, seringkali sebagai respons terhadap histamine (dan
mungkin juga mediator-mediator yang lain) yang dilepas oleh sel mast.(Tony, 2005)

B. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM IMUN


Sistem Imun (bahasa Inggris: immune system) adalah sistem pertahanan
manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau
serangan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan parasit. Sistem kekebalan
juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang
terjadi pada autoimunitas, dan melawan sel yang teraberasi menjadi tumor.
(Wikipedia.com)
Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar
biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem
kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi
bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh.
Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang,
sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu,
dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan
terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan
resiko terkena beberapa jenis kanker.
Fungsi dari Sistem Imun :
Sumsum
Semua sel sistem kekebalan tubuh berasal dari sel-sel induk dalam sumsum
tulang. Sumsum tulang adalah tempat asal sel darah merah, sel darah putih
(termasuk limfosit dan makrofag) dan platelet. Sel-sel dari sistem kekebalan
tubuh juga terdapat di tempat lain.
Timus
Dalam kelenjar timus sel-sel limfoid mengalami proses pematangan sebelum
lepas ke dalam sirkulasi. Proses ini memungkinkan sel T untuk mengembangkan
atribut penting yang dikenal sebagai toleransi diri.
Getah bening
Kelenjar getah bening berbentuk kacang kecil terbaring di sepanjang perjalanan
limfatik. Terkumpul dalam situs tertentu seperti leher, axillae, selangkangan dan
para-aorta daerah. Pengetahuan tentang situs kelenjar getah bening yang penting
dalam pemeriksaan fisik pasien.
Mukosa jaringan limfoid terkait (MALT)
Di samping jaringan limfoid berkonsentrasi dalam kelenjar getah bening dan
limpa, jaringan limfoid juga ditemukan di tempat lain, terutama saluran
pencernaan, saluran pernafasan dan saluran urogenital.

C. KLASIFIKASI
Jenis urtikaria : (Mark,1996)

1. Idiopatik adalah kelompok terbesar, merupakan sepertiga dari kasus urtikaria akut
dan dua pertiga dari urtikaria kronik.
2. Fisik. Sekitar 15% kasus. Biasanya dapat ditemukan penyebab yang dikenali.
Terdapat beberapa jenis :
1) Dermatografisme : reaksi terhadap goresan keras pada kulit yang timbul
dalam 1 sampai 3 menit dan berlangsung 5 sampai 10 menit.
2) Urtikaria kolinergik. Olahraga atau berkeringat merupakan agen pencetusnya,
menyebabkan timbulnya 10% reaksi, mengenai orang muda, dan dapat
berlangsung selama 6 sampai 8 tahun. Lesi timbul sebagai wheal berukuran 1
sampai 2 mm pada dasar eritematosa yang menyaru serta ditemukan pada
batang badan dan lengan tanpa mengenai telapak tangan, telapak kaki, dan
aksila.
3) Urtikaria dingin. Reaksi terhadap pajanan dingin atau penghangatan kembali
setelah terpajan dingin
4) Urtikaria sinar matahari. Reaksi yang jarang terjadi, disebabkan oleh pajanan
sinar matahari. Penyakit ini timbul sebagai pruritus dan eritema, yang diikuti
oleh urtikaria. Awitan mendadak dan timbul pada setiap kelompok usia.
5) Urtikaria tekanan lambat. Reaksi yang jarang terjadi, disebabkan oleh tekanan
terus-menerus.
6) Urtikaria akuagenik. Reaksi yang jarang terjadi, disebabkan oleh kontak
dengan air. Urtikaria panas setempat. Reaksi yang jarang terjadi, disebabkan
oleh air panas.

D. ETIOLOGI

Etiologi Urtikaria. (Harrison, 2005) :


1. Gangguan kulit primer
Urtikaria fisikal, yang terdiri dari:
Dermatografisme
Urtikaria solaris
Urtikaria dingin
Penyakit sistemik

2. Urtikaria kolinergik
Penyebab terjadinya urtikari bisa karena: (Davey, 2005)
Obat-obatan sistemik dapat menimbulkan urtikaria secara imunologik yang
mampu menginduksi degranasi sel mast, bahan kolinergik misalnya
asetilkolin, dilepaskan oleh saraf kolinergik kulit yang mekanismenya
belum diketahui langsung dapat mempengaruhi sel mast untuk melepaskan
mediator. Obat-obatan seperti : Aspirin, kodein, morfin, OAINS
Jenis makanan yang dapat menyebabakan alergi misalnya: telur, ikan,
kerang, coklat, jenis kacang tertentu, tomat, tepung, terigu, daging sapi,
udang, dll.
Inhalan bisa dari serbuk sari, spora, debu rumah.
Infeksi Sepsis fokal (misalnya infeksi saluran kemih, infeksi saluran
pernafasan atas, hepatitis,Candida spp, protozoa, cacing)
Sistemik : SLE, retikulosis, dan karsinoma
Faktor fisik seperti cahaya (urtikaria solar), dingin (urtikaria dingin),
gesekan atau tekanan (dermografisme), panas (urtikaria panas), dan getaran
(vibrasi) dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast.
Genetik, terjadi difesiensi alfa-2 glikoprotein yang mengakibatkan
pelepasan mediator alergi.

E. PATOFISIOLOGI
Urtikaria sering terjadi dan merupakan akibat dari degranulasi sel mast (reaksi
imunolpgis tipe 1) sebagai respons terhadap antigen, dengan pelepasan histamin dan
mediator vasoaktif lainnya, yang menyebabkan timbulnya eritema dan edema. Pasien-
pasien dengan kondisi ini, 70% diantaranya mengalami urtikaria idiopatik (dimana
antigennya tidak diketahui), sisanya mengalami bentuk urtikaria lain. Urtikaria, jika
berat juga dapat mengenai jaringan subkutan dan mengakibatkan terjadinya
angioedema (pembengkakan pada tangan, bibir, sekitar mata, dan walaupun jarang
tetapi penting untuk diperhatikan yaitu pada lidah atau laring). (Davey, 2005).
Proses urtikaria akut dimulai dari ikatan antigen pada reseptor IgE yang saling
berhubungan dan kemudian menempel pada sel mast atau basofil. Selanjutnya,
aktivasi dari sel mast dan basofil akan memperantarai keluarnya berbagai mediator
peradangan. Sel mast menghasilkan histamine, triptase, kimase, dan sitokin. Bahan-
bahan ini meningkatkan kemampuan degranulasi sel mast dan merangsang
peningkatan aktivitas ELAM dan VCAM, yang memicu migrasi limfosit dan
granulosit menuju tempat terjadinya lesi urtikaria (Anonimous, 2007).
Peristiwa ini memicu peningkatan permeabilitas vascular dan menyebabkan
terjadinya edema lokal yang dikenal sebagai bintul (wheal). Pasien merasa gatal dan
bengkak pada lapisan dermal kulit. Urtikaria akut bisa terjadi secara sistemik jika
allergen diserap kulit lebih dalam dan mencapai sirkulasi. Kondisi ini terjadi pada
urtikaria kontak, misalnya urtikaria yang terjadi karena pemakaian sarung tangan
latex, dimana latex diserap kulit dan masuk ke aliran darah, sehingga menyebabkan
urtikaria sistemik.
Urtikaria akut juga bisa terjadi pada stimulasi sel mast tanpa adanya ikatan
IgE dengan allergen. Misalnya, pada eksposure pada media radiocontrast, dimana
pada saat proses radiologi berlangsung, akan terjadi perubahan osmolalitas pada
lingkungan yang mengakibatkan sel mast berdegranulasi (Anonimous, 2007).
Faktor imunologik maupun nonimunologik mampu merangsang sel mast atau
basofil untuk melepaskan mediator tersebut. Pada yang nonimunologik mungkin
sekali siklik AMP (adenosin mono phosphate) memegang peranan penting pada
pelepasan mediator. Beberapa bahan kimia seperti golongan amin dan derivate
amidin, obat-obatan seperti morfin, kodein, polimiksin, dan beberapa antibiotic
berperan pada keadaan ini.
Bahan kolinergik misalnya asetilkolin, dilepaskan oleh saraf kolinergik kulit
yang mekanismenya belum diketahui langsung dapat mempengaruhi sel mast untuk
melepaskan mediator. Faktor fisik misalnya panas, dingin, trauma tumpul, sinar X,
dan pemijatan dapat langsung merangsang sel mast. Beberapa keadaan misalnya
demam, panas, emosi, dan alcohol dapat merangsang langsung pada pembuluh darah
kapiler sehingga terjadi vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas (Djuanda, 2008).
Faktor imunologik lebih berperan pada urtikaria yang akut daripada yang
kronik, biasanya IgE terikat pada permukaan sel mast dan atau sel basofil karena
adanya reseptor Fc bila ada antigen yang sesuai berikatan dengan IgE maka terjadi
degranulasi sel, sehingga mampu melepaskan mediator. Keadaan ini jelas tampak
pada reaksi tipe I (anafilaksis), misalnya alergi obat dan makanan.
Komplemen juga ikut berperan, aktivasi komplemen secara klasik maupun
secara alternative menyebabkan pelepasan anafilatoksin (C3a, C5a) yang mampu
merangsang sel mast dan basofil, misalnya tampak akibat venom atau toksin bakteri.
Ikatan dengan komplemen juga terjadi pada urtikaria akibat reaksi sitotoksik dan
kompleks imun pada keadaan ini juga dilepaskan zat anafilatoksin. Urtikaria akibat
kontak terjadi pemakaian bahan serangga, bahan kosmetik, dan sefalosporin.

F. MANIFESTASI KLINIS
Bentuk klinis Urtikaria fisik : (Tony, 2005)
1. Dermografisme : bilur-bilur tampak sesudah adanya bekas-bekas garukan. Hal ini
bisa timbul tersendiri atau bersama dengan bentuk-bentuk urtikaria yang lain.
2. Penekanan (timbulnya belakangan) : bilur-bilur timbul dalam waktu sampai 24
jam sesudah terjadinya penekanan.
3. Urtikaria kolinergik : yang diserang adalah laki-laki muda ; kulit yang berkeringat
disertai oleh adanya bilur-bilur kecil berwarna putih dengan lingkaran berwarna
merah pada badan bagian atas.

G. KOMPLIKASI
1. Purpura dan excoriasi
2. Infeksi sekunder
3. Bibir kering

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan Diagnostis Urtikaria :
a) Urtikaria akut. Uji laboratorium pada umumnya tidak diperlukan.
b) Urtikaria kronik. Jika penyebab agen fisik telah disingkirkan, maka
penggunaan pemeriksaan laboratorium, radiografik, dan patologik berikut ini
dapat memberikan petunjuk untuk diagnosis penyakit sistemik yang samar.
2. Uji rutin
a) Laboratorium. Hitung darah lengkap dengan diferensial, profil kimia, laju
endap darah (LED), T4, pengukuran TSH, urinalisis dan biakan urine,
antibody antinuclear
b) Radiografik. Radiograf dada, foto sinus, foto gigi, atau panorex
c) Uji selektif. Krioglobulin, analisis serologic hepatitis dan sifilis, factor
rheumatoid, komplemen serum, IgM, IgE serum
d) Biopsi kulit. Jika laju endap darah meningkat, lakukan biopsy nyingkirkakulit
untuk men kemungkinan vaskulitis urtikaria.

I. PENATALAKSANAAN MEDIS
Pengobatan (Arvin, 1996) pada kebanyakan keadaan, urtikaria merupakan
penyakit yang sembuh sendiri yang memerlukan sedikit pengobatan lainnya, selain
dari antihistamin. Hidroksizin (Atarax) 0,5 ml/kg, merupakan salah satu antihistamin
yang paling efektif untuk
mengendalikan urtikaria, tetapi difenhidramin (Benadryl), 1,25 mg/kg, dan
antihistamin lainnya juga efektif. Jika perlu, dosis ini dapat diulangi pada interval 4-6
jam.
Epinefrin 1 : 1000, 0,01 ml/kg, maksimal 0,3 ml, biasanya menghasilkan
penyembuhan yang cepat atas urtikaria akut yang berat. Hidroksizin (0,5 ml/kg setiap
4-6 jam) merupakan obat pilihan untuk urtikaria kolinergik dan urtikaria kronis.
Penggunaan bersama antihistamin tipe H1 dan H2 kadang-kadang membantu
mengendalikan urtikaria kronis. Antihistamin h2 saja dapat menyebabkan eksaserbasi
urtikaria. Siproheptadin (Periactin) (2-4 mg setiap 8-12 jam) terutama bermanfaat
sebagai agen profilaksis untuk urtikaria dingin.
Siproheptadin dapat menyebabkan rangsangan nafsu makan dan penambahan
berat pada beberapa penderita. Tabir surya merupakan satu-satunya pengobatan yang
efektif untuk urtikaria sinar matahari. Kortikosteroid mempunyai pengaruh yang
bervariasi pada urtikaria kronis ; dosis yang diperlukan untuk mengendalikan
urtikaria sering begitu besar sehingga obat-obat tersebut menimbulkan efek samping
yang serius. Urtikaria kronis sering tidak berespons dengan baik pada manipulasi diet.
Sayang sekali, urtikaria kronis dapat menetap selama bertahun-tahun.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien.
2. Keluhan Utama.
Biasanya pasien mengeluh gatal, rambut rontok.
3. Riwayat Kesehatan.
a. Riwayat Penyakit Sekarang :
Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada
keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk
menanggulanginya.
b. Riwayat Penyakit Dahulu :
Apakah pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit
lainnya.
c. Riwayat Penyakit Keluarga :
Apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini atau
penyakit kulit lainnya.
d. Riwayat Psikososial :
Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang
mengalami stress yang berkepanjangan.
e. Riwayat Pemakaian Obat :
Apakah pasien pernah menggunakan obat-obatan yang dipakai pada kulit,
atau pernahkah pasien tidak tahan (alergi) terhadap sesuatu obat.
f. Pemeriksaan fisik
KU : lemah
TTV : suhu naik atau turun.
Kepala : Bila kulit kepala sudah terkena dapat terjadi alopesia.
Mulut :Dapat juga mengenai membrane mukosa terutama yang
disebabkan oleh obat.
Abdomen : Adanya limfadenopati dan hepatomegali.
Ekstremitas : Perubahan kuku dan kuku dapat lepas.
Kulit : Kulit periorbital mengalami inflamasi dan edema sehingga terjadi
ekstropion pada keadaan kronis dapat terjadi gangguan pigmentasi.
Adanya eritema , pengelupasan kulit , sisik halus dan skuama.

B. DIAGNOSA KEPEAWATAN
1. Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya luka akibat gangguan
integritas
2. Resiko kerusakan kulit berhubungan dengan terpapar alergen
3. Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan pruritus
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus
5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus.
6. Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan inadekuat
informasi

C. INTERVENSI
1. Dx : Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya luka akibat
gangguan integritas
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
Kriteria Hasil : a. Hasil pengukuran tanda vital dalam batas normal.
b. Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi (kalor,dolor,
rubor, tumor, infusiolesa)

Intervensi Rasional
a. Lakukan tekni aseptic dan antiseptic a. Dengan teknik septik dan aseptik dapat
dalam melakukan tindakan pada pasien. mengirangi dan mencegah kontaminasi
b. Ukur tanda vital tiap 4-6 jam kuman.
c. Observasi adanya tanda-tanda infeksi b. Suhu yang meningkat adalah imdikasi
d. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk terjadinya proses infeksi
pemberian diet c. Deteksi dini terhadap tanda-tanda infeksi
e. Libatkan peran serta keluarga dalam d. Untuk menghindari alergen dari makanan
memberikan bantuan pada klien. e. Memandirikan keluarga
f. Jaga lingkungan klien agar tetap bersih f. Menghindari alergen yang dapat
meningkatkan urtikaria.

2. Dx : Resiko kerusakan kulit berhubungan dengan terpapar alergen


Tujuan : Tidak terjadi kerusakan pada kulit
Kriteria Hasil : Klien akan mempertahankan integritas kulit, ditandai
dengan menghindari alergen.

Intervensi Rasional
a. Ajari klien menghindari atau a. Menghindari alergen akan
menurunkan paparan terhadap alergen menurunkan respon alergi.
yang telah diketahui. b. Menghindari alergen akan
b. Pantau kegiatan klien yang dapat menurunkan respon alergi
menyebabkan terpapar langsung c. Menghindari dari bahan makanan
dengan alergen. Seperti : stimulan fisik yang mengandung alergen.
dan kimia d. Binatang sebaiknya hindari
c. Baca label makanan kaleng agar memelihara binatang atau batasi
terhindar dari bahan makan yang keberadaan binatang di sekitar area
mengandung alergen. rumah.
d. Hindari binatang peliharaan. e. AC membantu menurunkan paparan
e. Gunakan penyejuk ruangan (AC) di terhadap beberapa alergen yang ada
rumah atau di tempat kerja, bila di lingkungan.
memungkinkan.
f.

3. Dx : Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan pruritus


Tujuan : Rasa nyaman klien terpenuhi
Kriteria Hasil :
a) Klien menunjukkan berkurangnya pruritus, ditandai dengan berkurangnya
lecet akibat garukan.
b) klien tidur nyenyak tanpa terganggu rasa gatal
c) klien mengungkapkan adanya peningkatan rasa nyaman
Intervensi Rasional
a. Jelaskan gejala gatal berhubungan dengan a. Dengan mengetahui proses fisiologis
penyebabnya (misal keringnya kulit) dan dan psikologis dan prinsip gatal serta
prinsip terapinya (misal hidrasi) dan siklus penangannya akan meningkatkan
gatal-garuk-gatal-garuk. rasa kooperatif.
b. Cuci semua pakaian sebelum digunakan b. Pruritus sering disebabkan oleh
untuk menghilangkan formaldehid dan dampak iritan atau allergen dari
bahan kimia lain serta hindari menggunakan bahan kimia atau komponen
pelembut pakaian buatan pabrik. pelembut pakaian.
c. Gunakan deterjen ringan dan bilas pakaian c. Bahan yang tertinggal (deterjen)
untuk memastikan sudah tidak ada sabun pada pencucian pakaian dapat
yang tertinggal. menyebabkan iritasi.
d. Jaga kebersihan kulit pasien d. Mengurangi penyebab gatal karena
e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terpapar alergen.
obat pengurang rasa gatal e. Mengurangi rasa gatal.

4. Dx : Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus


Tujuan : Klien bisa beristirahat tanpa adanya pruritus
Kriteria Hasil :
a. Mencapai tidur yang nyenyak.
b. Melaporkan gatal mereda
c. Mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat.
d. Menghindari konsumsi kafein
e. Mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur.
f. Mengenali pola istirahat/tidur yang memuaskan.

Intervensi Rasional
a. Mengerjakan hal ritual menjelang a. Udara yang kering membuat kulit terasa
tidur. gatal, lingkungan yang nyaman
b. Menjaga agar kulit selalu lembab. meningkatkan relaksasi.
c. Menghindari minuman yang b. Tindakan ini mencegah kehilangan air,
mengandung kafein menjelang kulit yang kering dan gatal biasanya tidak
tidur. dapat disembuhkan tetapi bisa
d. Melaksanakan gerak badan secara dikendalikan.
teratur. c. Kafein memiliki efek puncak 2-4 jam
e. Nasihati klien untuk menjaga setelah dikonsumsi.
kamar tidur agar tetap memiliki d. Memberikan efek menguntungkan bila
ventilasi dan kelembaban yang dilaksanakan di sore hari.
baik. e. Memudahkan peralihan dari keadaan
terjaga ke keadaan tertidur.

5. Dx : Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit


yang tidak bagus.
Tujuan : Pengembangan peningkatan penerimaan diri pada klien
tercapai
Kriteria Hasil :
a. Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri.
b. Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri.
c. Melaporkan perasaan dalam pengendalian situasi.
d. Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri.
e. Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang lebih sehat.
f. Tampak tidak meprihatinkan kondisi.
g. Menggunakan teknik penyembunyian kekurangan dan menekankan teknik
untuk meningkatkan penampilan

Intervensi Rasional

a. Kaji adanya gangguan citra diri a. Gangguan citra diri akan menyertai setiap
(menghindari kontak mata,ucapan penyakit/keadaan yang tampak nyata bagi
merendahkan diri sendiri). klien, kesan orang terhadap dirinya
b. Identifikasi stadium psikososial berpengaruh terhadap konsep diri.
terhadap perkembangan. b. Terdapat hubungan antara stadium
c. Berikan kesempatan pengungkapan perkembangan, citra diri dan reaksi serta
perasaan. pemahaman klien terhadap kondisi kulitnya.
d. Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan c. Klien membutuhkan pengalaman
klien, bantu klien yang cemas didengarkan dan dipahami.
mengembangkan kemampuan untuk d. Memberikan kesempatan pada petugas
menilai diri dan mengenali untuk menetralkan kecemasan yang tidak
masalahnya. perlu terjadi dan memulihkan realitas
e. Dukung upaya klien untuk situasi, ketakutan merusak adaptasi klien
memperbaiki citra diri , spt merias, e. Membantu meningkatkan penerimaan diri
merapikan. dan sosialisasi.
f. Mendorong sosialisasi dengan orang f. Membantu meningkatkan penerimaan diri
lain. dan sosialisasi.

6. Dx : Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan


inadekuat informasi
Tujuan : Terapi dapat dipahami dan dijalankan
Kriteria Hasil :
a. Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit.
b. Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi.
c. Melaksanakan mandi, pembersihan dan balutan basah sesuai program.
d. Menggunakan obat topikal dengan tepat.
e. Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.

Intervensi Rasional
a.Kaji apakah klien memahami dan mengerti a. Memberikan data dasar untuk
tentang penyakitnya. mengembangkan rencana penyuluhan
b. Jaga agar klien mendapatkan b. Klien harus memiliki perasaan bahwa
informasi yang benar, memperbaiki sesuatu dapat mereka perbuat,
kesalahan konsepsi/informasi. kebanyakan klien merasakan manfaat.
c.Peragakan penerapan terapi seperti, mandi c. Memungkinkan klien memperoleh cara
dan pembersihan serta balutan basah. yang tepat untuk melakukan terapi.
d. Nasihati klien agar selalu menjaga d. Dengan terjaganya hygiene, dermatitis
hygiene pribadi juga lingkungan. alergi sukar untuk kambuh kembali.
e.tekankan perlunya melanjutkan terapi e. penghentian dini dapat mempengaruhi
/penggunaan obat-obatan topikal. pertahanan alami tubuh melawan
f. identifikasi sumber-sumber pendukung infeksi.
yang memungkinkan untuk f. keterbatasan aktivitas dapat mengganggu
mempertahankan perawatan di rumah kemampuan pasien untuk memenuhi
yang dibutuhkan. kebutuhan sehari-hari.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Urtikaria, yang dikenal dengan hives, terdiri atas plak edematosa (wheal)
yang terkait dengan gatal yang hebat (pruritus). Urtikaria terjadi akibat pelepasan
histamine selama respons peradangan terhadap alegi sehingga individu menjadi
tersensitisasi. Urtikaria kronis dapat menyertai penyakit sistemik seperti hepatitis,
kanker atau gangguan tiroid. (Elizabeth, 2007)

Penyebab terjadinya urtikari bisa karena: Obat-obatan, Jenis


makanan , Inhalan yang berasal dari serbuk sari, spora, debu rumah, Infeksi Sepsis
fokal (misalnya infeksi saluran kemih, infeksi saluran pernafasan atas,
hepatitis,Candida spp, protozoa, cacing), Sistemik : SLE, retikulosis, dan
karsinoma, Faktor fisik seperti cahaya (urtikaria solar), dingin (urtikaria dingin),
gesekan atau tekanan (dermografisme), panas (urtikaria panas), dan getaran (vibrasi)
dapat langsung menginduksi degranulasi sel mast, serta Genetik.

B. Saran
Mempelajari tentang penyakit urtikaria member kita manfaat yang besar.
Terutama kita sebagai calon perawat professional (mahasiswa/mahasiswi
keperawatan). Karena penyakit ini terkadang sangat sulit untuk di diagnosa. Untuk
itu perlu pemahaman yang sangat besar bagi kita untuk mempelajari materi ini.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8 (Vol. 3). EGC :
Jakarta
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
Graham,Robin & Brown Tony Burns. (2005). Lecture Notes : Dermatologi Edisi
Kedelapan. Erlangga Medical Series : Jakarta.
Herharia,Rospa. (2009). Askep Gangguan System Integumen. TIM : Jakarta.
Kumala, Poppy. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC.
Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan
Praktik. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C. (2002). Buku Ajar Keperawatn Medikal- Bedah, Vol 1.