Anda di halaman 1dari 25

PERANAN NITROGEN DAN BAHAN ORGANIK TANAH DALAM

KESUBURAN TANAH DAN TANAMAN


(Laporan Akhir Praktikum Kesuburan Tanah)

Oleh

Kelompok 2

Sinta Alvianti 1514121018


Ni Wayan Chintia Nova 1514121029
Leni Purnama Sari 1514121033
Sugeng Priyanti 1514121041
Putri Septia Ningrum 1214121137

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap orang berkepentingan terhadap tanah. Tanah sebagai sumberdaya alam


yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai macam aktivitas guna
memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam usaha pertanian tanah mempunyai fungsi
utama sebagai sumber penggunaan unsur hara yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan tanaman, dan sebagai tempat tumbuh dan berpegangnya akar serta
tempat penyimpan air yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup
tumbuhan.

Tanah merupakan bagian dari tubuh alam yang menutupi bumi dengan lapisan
tipis, disintesis dalam bentuk profil dari pelapukan batu dan mineral, dan
mendekomposisi bahan organik yang kemudian menyediakan air dan unsur hara
yang berguna untuk pertumbuhan tanaman. Faktor yang mempengaruhi kualitas
tanah pada bagian fisiknya adalah tekstur tanah, bahan organik, agregasi,
kapasitas lapang air, drainase, topografi, dan iklim. Sedangkan yang
mempengaruhi pada bagian pengolahannya adalah Intensitas pengolahan tanah,
penambahan organik tanah, pengetesan pH tanah, aktivitas mikrobia dan garam.
Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah
untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun,
kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun
(Poerwowidodo, 2000).

Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena


intensitasnya yang cenderung meningkat, sehingga tercipta tanah rusak-rusak
yang jumlah maupun intensitasnya meningkat. Kerusakan tanah secara garis besar
dapat digolongkan menjadi tiga yaitu kerusakan sifat tanah kimia, biologi, dan
fisika. Oleh sebab itu maka dilakukanya praktikum peranan nitrogen dan bahan
organik tanah dalam kesuburan tanah dan tanaman.

1.2 Tujuan

Tujuan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Mengetahui peranan N bagi pertumbuhan tanaman.
2. Mengetahui peranan bahan organik bagi peningkatan pertumbuhan tanaman.
3. Kombinasi bahan organik dan pupuk N terhadap peningkatan pertumbuhan
tanaman
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Manfaat Pupuk terhadap Kesuburan Tanah

Manfaat pupuk secara umum adalah menyediakan unsur hara yang kurang atau
bahkan tidak tersedia di tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Namun
secara lebih terinci manfaat pupuk dapat dibagi dalam dua macam, yaitu yang
berkaitan dengan perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Manfaat utama dari
pupuk yang berkaitan dengan sifat fisika tanah yaitu memperbaiki struktur tanah
dari padat menjadi gembur. Struktur tanah yang amat lepas, seperti tanah berpasir
juga dapat diperbaiki dengan penambahan pupuk, terutama pupuk organik.
Manfaat lain pemberian pupuk adalah mengurangi erosi pada permukaan tanah.
Dalam hal ini pupuk berfungsi sebagai penutup tanah dan memperkuat struktur
tanah di bagian permukaan. Manfaat yang berkaitan dengan sifat kimia tanah
adalah menyediakan unsur hara yang dibutuhkan bagi tanaman (Marsono dan
Sigit, 2002).

2.2 Nitrogen dalam Tanah

Nitrogen merupakan salah satu faktor kunci yang membatasi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Gejala yang tampak pada tanaman akibat kekurangan
hara nitrogen adalah pertumbuhannya terhambat yang berdampak pada
penampakannya yang kerdil, daun-daun tanaman berwarna kuning pucat (gejala
spesifik), dan kualitas hasilnya rendah. Nitrogen dibutuhkan oleh tanaman dalam
jumlah yang besar, umumnya menjadi faktor pembatas pada tanah-tanah yang
tidak dipupuk. Nitrogen merupakan bagian utuh dari struktur khlorofil, warna
hijau pucat atau kekuningan disebabkan kekahatan Nitrogen, sebagai bahan dasar
DNA dan RNA. Bentuk NH3 (amoniak) diserap oleh daun dari udara atau dilepas
dari daun ke udara, jumlahnya tergantung kosentrasi di udara (Ferguson et al.,
2010).

2.3 Aplikasi Pupuk Nitrogen

pupuk N termasuk pupuk yang higrokopis (menarik uap air) pada kelembapan
73% sehingga urea mudah larut dalam air dan mudah diserap oleh tanaman. Jika
diberikan ke tanah, pupuk ini akan mudah berubah menjadi amoniak dan
karbondioksida yang mudah menguap. Sifat lainnya ialah mudah tercuci oleh air
sehingga pada lahan kering pupuk nitrogen akan hilang karena erosi. Maka dari
itu pemberian pupuk N secara bertahap perlu dilakukan agar unsur nitrogen
tersedia bagi tanaman jagung di lahan kering (Lingga dan Marsono, 2008).

2.4 Pupuk Organik

Pupuk organik merupakan pupuk yang sebagian atau seluruhnya berasal dari
hewan maupun tumbuhan yang berfungsi sebagai penyuplai unsur hara tanah
sehingga dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah menjadi lebih
baik. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisik tanah karena pembentukan
agregat yang lebih stabil, memperbaiki aerasi dan drainase tanah, dapat
mengurangi erosi karena infiltrasi air hujan berlangsung baik serta kemampuan
tanah menahan air meningkat. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat kimia tanah
karena dapat meningkatkan unsur hara tanah baik makro maupun mikro,
meningkatkan efisiensi pengambilan unsur hara, meningkatkan kapasitas tukar
kation, dan dapat menetralkan sifat racun Al dan Fe. Pupuk organik juga dapat
memperbaiki sifat biologi tanah karena pupuk organik menjadi sumber energi
bagi jasad renik/mikroba tanah yang mampu melepaskan hara bagi tanaman
(Setyorini, 2005).

2.5 Peran Bahan Organik Tanah


Peranan bahan organik dengan hasil akhir dekomposisi berupa humus dapat
meningkatkan kesuburan fisik tanah. Humus mempunyai luas permukaan dan
kemampuan adsorpsi lebih besar daripada lempung. Sehingga meningkatkan
kemampuan mengikat air. Sifat liat (plastisitas) dan kohesi humus yang rendah
meningkatkan struktur tanah yang kurang sesuai pada tanah bertekstur halus dan
meningkatkan granulasi (pembutiran) agregat sehingga agregat tanah lebih
mantap. Agregasi tanah yang baik secara tidak langsung memperbaiki
ketersediaan unsur hara. Hal ini karena agregasi tanah yang baik akan menjamin
tata udara dan air tanah yang baik pula, sehingga aktivitas mikroorganisme dapat
berlangsung dengan baik dan meningkatkan ketersediaan unsur hara. Peranan
bahan organik dalam meningkatkan kesuburan fisik tanah juga dengan
mengurangi plastisitas dan kelekatan serta memperbaiki aerasi tanah. Humus juga
menyebabkan warna tanah lebih gelap sehingga penyerapan panas (Syukur,
2005).
III. BAHAN DAN METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Percobaan dilaksanakan pada bulan maret 2017 sampai dengan juni 2017 di
Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

3.2 Metode Percobaan

3.2.1 pembagian Kelompok


Mahasiswa dibagi menjadi 12 kelompok. Masing masing kelompok terdiri dari
6-6 orang. Masing-masing kelompok diberi tanggung untuk mengurus satu petak
percobaan berukuran 2 x 3 meter.

3.2.2 perlakuan Praktikum


Perlakuan praktikum kali ini adalah
1. Perlakuan bahan organik (kotoran sapi)
Perlakuan praktikum ini ada dua yaitu 0 dan 20 ton/hektar. Pemeberian bahan
organic di berikan seminggu sebelum penanaman.
2. Perlakuan pupuk N yang terdiri dari 5 dosis, yaitu 0. 45, 90, 135, 225 kg
N/ha. Pemberian pupuk N dilakukan dua kali , yaitu setengah dosis diberikan
dua minggu setelah tanam, dengan cara ditugal, setengah dosis sisanya
deberikan setelah 3nam minggu setelah tanam. Pupuk dasar P dan K yaitu
masing-masing pupuk SP-36 dengan dosis 150 kg/ha dan KCL 50 kg/ha
deberikan sekaligus bersamaan dengan pemberian pupuk N yang pertama.
3.2.3 Perhitungan Pupuk
Perhitungan pupuk yang digunakan yaitu
1. Pupuk organik
Luas petak : 2 x 3 = 6 2 dan luas per hektar = 10.000 2
Dosis pupuk 20 ton/ha = 20.000 2
Kebutuhan pupuk per petak : 6/10.000 x 20.000 kg =12 kg/petak

2. Pupuk N
Kebutruhan pupuk per petak adalah sebagai berikut

Dosis pupuk N Dosis pupuk N Dosis pupuk N Dosis pupuk

kg/ha kg/ha kg/petak urea kg/petak

0 0 0 0

45 100 27 60

90 200 54 120

135 300 81 180

225 500 135 300

Contoh perhitungan
Luas petak : 2 x 3 = 6 2 dan luas per hektar = 10.000 2
Dosis pupuk 45 kg/ha
Kebutuhan N per petak : 6/10.000 x 45 x 10.000 kg =27 g/petak dst
Kadar N dalam pupuk N adlah 45 %
Maka kebutuhan pupuk N per petak = 100/45 x 27 g = 60g, dst.

3. Pupuk dasar P dan K


Luas petak : 2 x 3 = 6 2 dan luas per hektar = 10.000 2
a. Dosis pupuk P (lihat di atas) adalah 72 kgP2 O5 /ha, maka
Kebutuhan pupuk P per petak = 6/10.000 x 72 x 10.000 kg =43,3 g/petak
b. Kadar P2 O5 dalam pupuk SP-36 adalah 36%, maka
Kebutuhan pupuk SP-36 per petak = 100/36x 43,3 = 120 g P2 O5 /petak
c. Kadar P2 O5 dalam pupuk TSP adalah 48%, maka
Kebutuhan pupuk TSP per petak = 100/48x 43,3 = 90 g P2 O5 /petak
d. Dosis pupuk K (lihat di atas) adalah 50 kgP2 O5 /ha, maka
Kebutuhan pupuk P per petak = 6/10.000 x 50 x 10.000 kg = 30 g/petak
e. Kadar K 2 O dalam pupuk KCL adalah 50%, maka
Kebutuhan pupuk KCL per petak = 100/50 x 30 = 60 g /petak

3.3 Pelaksanaan Praktikum

3.3.1 Pembuatan petak percobaan, penanaman dan pemeliharaan


1. Secara keseluruhan maka seluruh mahasisa membuat petak praktikum yang
berukuran 2x3 meter sebanyak 12 buah, dan antar petak 100 cm dan atau
50cm.
2. Bersihkan gulmanya dan lakukan pengolahan tanah dengan cangkul.
3. Tanami masing-masing petak dengan benih jagung Yng telah disediakan 1
buah per lubang dengan jarak tanam 75x25 cm.
4. Setelah satu minggu lakukan penyulaman apabila terdapat benih jagung yang
tidak tumbuh.
5. Pada minggu kedua lakukan pemupukan yaitu dosis pupuk N bersamaan
dengan pupuk dasar P dan K. semua pupuk diberikan secara tugal 7,5 cm
disamping baris tanaman.
6. Lakukan pemeliharaan tanaman secara intensif setiap minggu yaitu dilakukan
pembersihan gulma dan pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila
diperlukan.
7. Lakukan pengamatan setiap minggu. Data pengamatan diserahkan kepada
asisten dan minggu berikutnya dibuat laporannya dan diserahkan pada
asisten,

3.3.2 Denah Percobaan di Lapang


Dalam pelaksanaan praktikum maka maasiswa dibagi dalam 12 kelompok.
Masing-masing kelompok mahasiswa mendapatkan tanggung jawab 1 petak
sehingga semuanya terdapat 12 petak. Adapun perlakuan pada masing-masing
petak atau kelompok adalah sebagaimana yang terdapat dalam denah dibawah ini.
B0N2 (kel.1) B1N0 (kel.2)
B1N4 (kel.3) B0N0 (kel.4)
B0N5 (kel.5) B1N1 (kel.6)
B1N5 (kel.7) B0N1 (kel.8)
B0N4 (kel.9) B1N3 (kel.10)
B1N2 (kel.11) B0N3 (kel.12)

Dimana :
B0N2 ( kel. 1) = petak tersebut tanpa diberi bahan organic dan diberi pupuk N
dengan dosis N2 = 90 kg/ha, dikerjakan oleh kelompok 1.
B1N0 ( kel. 2) = petak tersebut diberi bahan organik dan tanpa diberi pupuk N
dikerjakan oleh kelompok 2.
Keterangan :
B0 = tanpa perlakuan bahan organic
B1 = diberi perlakuan bahan organic 12 kg per petak
N0 = tanpa pupuk N
N1 = diberi pupuk N dengan dosis 45 kg/ha
N2 = diberi pupuk N dengan dosis 90 kg/ha
N3 = diberi pupuk N dengan dosis 135 kg/ha
N4 = diberi pupuk N dengan dosis 180 kg/ha
N5 = diberi pupuk N dengan dosis 225 kg/ha

3.3.3 Pengamatan
Parameter yang diamati dari praktikum ini adalah
1. Pertumbuhan : tinggi tanman, jumlah daun dan diameter batang, dan indeks
kehijauan daun diamati setelah tanaman berumur 2 minggu dan dilakukan
setiap seminggu sekali.
2. Pada pertumbuhan maksimum, panen 1 atau 2 puhon jagung untuk
mengetahui berat kerig akar dan tajuk tanaman dan perbandingan tajuk/akar.
Caranya : potong tanaman sekitar 2 -5 cm diatas permukaan tanah kemudian
dibersihkan dan dimasukkan kedalam kantong kertas. Cabut akarnya lalu
dibersihkan / dicuci dengan air kran, ditiriskan, kemudian dimasukkan
kedalam kantomg kertas. Selanjutna dioven pada suhu 650C selama 72 jam.
Timbang bertnya masing-masing.
3. Produksi : panjang tongkol lingkar tongkol dan produksi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Grafik Rerata Tinggi Tanaman Jagung 1 Minggu Setelah Tanam

Tinggi Tanaman 1 MST


40
Tinggi Tanaman (cm)

30
20
10
0
B0N2
B1N0
B1N4
B0N0
B0N5
B1N1
B1N5
B0N1
B0N4
B1N3
B1N2
B0N3

Perlakuan

4.1.2 Grafik Rerata Tinggi Tanaman Jagung 2 Minggu Setelah Tanam

Tinggi Tanaman 2 MST


40
Tinggi Tanaman (cm)

30
20
10
0
B0N2

B0N4
B1N0
B1N4
B0N0
B0N5
B1N1
B1N5
B0N1

B1N3
B1N2
B0N3

Perlakuan
4.1.3 Grafik Rerata Tinggi Tanaman Jagung 3 Minggu Setelah Tanam

Tinggi Tanaman 3 MST


60
Tinggi Tanaman (cm)

40

20

Perlakuan

4.1.4 Grafik Rerata Tinggi Tanaman Jagung 4 Minggu Setelah Tanam

Tinggi Tanaman 4 MST


150
Tinggi Tanaman (cm)

100

50

Perlakuan

4.1.5 Grafik Rerata Tinggi Tanaman Jagung 5 Minggu Setelah Tanam

Tinggi Tanaman 5 MST


200
Tinggi Tanaaman (cm)

150
100
50
0

Perlakuan
4.1.6 Grafik Rerata Tinggi Tanaman Jagung 6 Minggu Setelah Tanam

Tinggi Tanaman 6 MST


200
150
Tinggi Tanaman (cm)

100
50
0

Perlakuan

4.1.7 Grafik Rerata Jumlah Daun Tanaman Jagung 1 Minggu Setelah


Tanam

Jumlah Daun 1 MST


8
Jumlah Daun (helai)

6
4
2
0

Perlakuan

4.1.8 Grafik Rerata Jumlah Daun Tanaman Jagung 2 Minggu Setelah


Tanam

Jumlah Daun 2 MST


10
Jumlah Daun (helai)

8
6
4
2
0

Perlakuan
4.1.9 Grafik Rerata Jumlah Daun Tanaman Jagung 3 Minggu Setelah
Tanam

Jumlah Daun 3 MST


12
Jumlah Daun (helai)

10
8
6
4
2
0

Perlakuan

4.1.10 Grafik Rerata Jumlah Daun Tanaman Jagung 4 Minggu Setelah


Tanam

Jumlah Daun 4 MST


15
Jumlah Daun (helai)

10

Perlakuan

4.1.11 Grafik Rerata Jumlah Daun Tanaman Jagung 5 Minggu Setelah


Tanam

Jumlah Daun 5 MST


15
Jumlah Daun (helai)

10

Perlakuan
4.1.12 Grafik Rerata Jumlah Daun Tanaman Jagung 6 Minggu Setelah
Tanam

Jumlah Daun 6 MST


20
Jumlah Daun (helai)

15
10
5
0

Perlakuan

4.1.13 Grafik Rerata Diameter Batang Tanaman Jagung 5 Minggu Setelah


Tanam

Diameter Batang 5 MST


3
Diameter Batang (cm)

2.5
2
1.5
1
0.5
0

Perlakuan

4.1.14 Grafik Rerata Diameter Batang Tanaman Jagung 6 Minggu Setelah


Tanam

Diameter Batang 6 MST


4
Diameter Batang (cm)

3
2
1
0

Perlakuan
4.2 Pembahasan

Jagung ditanam pada lahan petak-petak dengan luas 6 m2 tiap petak. Terdapat 12
petak areal pertanaman jagung dengan berbagai perlakuan berupa perbandingan
pemberian pupuk bahan organik dan pupuk N dengan unsur nitrogen. Berdasar
grafik tinggi tanaman jagung dengan beberapa perlakuan, minggu pertama setelah
tanam, jagung dengan perlakuan B1N0 (12 kg bahan organik, tanpa nitrogen)
memiliki nilai tinggi tanaman tertinggi yaitu 34 cm. Hal ini dapat disebabkan oleh
mudahnya bahan organik diserap oleh tanaman sehingga dapat langsung
mendukung pertumbuhan sejak fase awal. Kemudian diminggu kedua setelah
tanam, tanaman tertinggi yaitu pada jagung perlakuan B1N3 (12 kg bahan
organik, 81 gr pupuk N) dengan nilai 36,33 cm. Hal ini dapat terlihat bahwa
suplai nitrogen jauh lebih besar daripada perlakuan B1N0. Pupuk N dengan
kandungan nitrogen merupakan pupuk sintetik yang butuh waktu lebih lama untuk
dapat diserap tanaman dibandingkan pupuk organik, maka pengaruh pupuk N ini
baru terlihat saat 2 minggu setelah tanam. Nitrogen berfungsi untuk mendukung
pertumbuhan tanaman dan membantu pembentukan klorofil. Minggu ketiga
setelah tanam, jagung dengan perlakuan B1N3 masih mengungguli dalam tinggi
tanaman dibandingkan dengan jagung perlakuan lain. Namun minggu ke empat
setelah tanam, jagung dengan perlakuan B1N4 (12 kg bahan organik, 108 pupuk
N) memiliki nilai tinggi tanaman tertinggi yaitu 101 cm. Jelas terlihat bahwa dosis
pupuk N B1N4 lebih banyak dibandingkan B1N3. Minggu kelima setelah tanam,
perlakuan jagung dengan B1N3 memiliki nilai tinggi tanaman paling banyak yaitu
156 cm. Perubahan posisi tertinggi dari B1N4 ke B1N3 dapat dipengaruhi oleh
faktor lingkungan seperti air, kebersihan lahan, tanah, kelembaban dan lain-lain.
Kemungkinan pada areal tanam jagung B1N4 terdapat gulma yang lebih banyak
pada areal B1N3 sehinggga terjadi kompetisi unsur hara antara jagung dengan
gulma. Selain itu, kekurangan suplai air sebagai bahan baku pembentukan
fotosintat juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman jagung. Dan minggu keenam
setelah tanam, jagung dengan perlakuan B1N3 tetap berada pada posisi memiliki
tinggi tanaman tertinggi dibandingkan dengan jagung perlakuan lain. Nitrogen
memang berguna untuk mendukung pertumbuhan tanaman, namun apabila dosis
nitrogen yang berlebihan justru tidak mendukung tanaman untuk tumbuh secara
normal. Kelebihan unsur N dapat memperpanjang umur tanaman dan
memperlambat proses kematangan (Sarno, 2017).

Pertambahan jumlah daun pada tanaman jagung menjadi parameter tingkat


pertumbuhan jagung. Minggu pertama setelah tanam, jagung dengan perlakuan
B1N0 memiliki daun paling banyak yaitu 7 daun. Hal ini berkaitan dengan
mudahnya bahan organik diserap tanaman sehingga tanaman sangat responsif
untuk melakukan pertumbuhan. Minggu kedua setelah tanam, jagung dengan
perlakuan B1N1 (12 kg bahan organik, 27 gram pupuk N) memili jumlah daun
paling banyak yaitu 8 daun. Keberadaan pupuk N sebagai pensuplai nitrogen
mempengaruhi pertambahan jumlah daun pada tanaman jagung. Minggu ketiga
setelah tanam, jagung dengan perlakuan B0N1 (tanpa bahan organik, 27 gram
pupuk N) memiliki jumlah daun paling banyak yaitu 9 daun. Jumlah daun juga
dipengaruhi oleh keberadaan hama yang menyebabkan daun rusak dan
menguning. Minggu keempat setelah tanam, jagung dengan perlakuan B1N3
memiliki jumlah daun terbanyak yaitu 11 daun. Jumlah nitrogen pada perlakuan
B1N3 lebih besar daripada jumlah nitrogen perlakuan B0N1, sehingga daun
paling banyak berada pada B1N3. Minggu kelima setelah tanam, jagung denga
perlakuan B1N3 masih memiliki jumlah daun terbanyak yaitu 13 daun. Dan
minggu terakhir pengamatan yaitu minggu keenam setelah tanam, jumlah daun
terbanyak berada pada jagung dengan perlakuan B0N3 yaitu 15 daun. Keberadaan
nitrogen mampu membantu proses petumbuhan tanaman seperti pertambahan
jumlah daun dalam batas dosis tertentu yaitu 135 kg N/ha atau 81 gram N/petak.
Hal ini terbukti pada posisi jagung dengan perlakuan dosis tertinggi yaitu B1N5
tidak memiliki pertumbuhan paling bagus baik dalam hal jumlah daun maupun
tinggi tanaman.

Tidak hanya tinggi tanaman dan jumlah daun yang menjadi parameter
pertumbuhan tanaman jagung pada fase vegetative, namun diameter batang juga
menjadi parameter pertumbuhan sebagai respon tanaman terhadap suplai pupuk
baik bahan organik maupun nitrogen. Minggu kelima dan keenam setelah tanam,
jagung dengan perlakuan dosis tertinggi yaitu B1N5 (12 kg bahan organik, 135 gr
pupuk N) memiliki diameter paling besar yaitu 2,6 cm (5 MST) dan 2,9 cm
(6 MST). Diameter batang sangat responsif terhadap dosis pupuk bahan organik
dan pupuk nitrogen, sehingga pada dosis tertinggi memiliki nilai diameter yang
paling besar.
V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum ini sebagai berikut :


1. Nitrogen berfungsi untuk mendukung fase vegetatif pertumbuhan tanaman
jagung seperti tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang.
2. Bahan organik berperan dalam meningkatkan kesuburan tanah dengan cara
meningkatkan aktivitas mikroorganisme, menambah bahan organik tanah, dan
meningkatkan kapasitas ikat air serta stabilitas agregat tanah.
3.
DAFTAR PUSTAKA

Lingga dan Marsono, 2008. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya.


Bandung.

Marsono dan Sigit. 2002. Pupuk Akar, Jenis dan Aplikasi. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Poerwowidodo, 2000. Telaah Kesuburan Tanah. Angkasa Bandung. Bandung.

Sarno, M.A Pulung., M.A.S Arif. 2017. Penuntun Praktikum Pengelolaan


Kesuburan Tanah. Jurusan Ilmu Tanah Universitas Lampung. Bandar
Lampung.

Setyorini, D. 2005. Pupuk organik tingkatkan produksi tanaman. Warta Penelitian


dan Pengembanagn Pertanian. Vol (4) 2: 13-15.

Suriawiria, U. 2002. Pupuk Organik Kompos dari Sampah. Humaniora. Bandung.

Syukur, A., 2005. Pengaruh pemberian bahan organik terhadap sifat-sifat tanah
dan pertumbuhan caisim di tanah pasir pantai. Jurnal Ilmu Tanah dan
Lingkungan Vol 5 (1) : 2005.
LAMPIRAN
DATA PERTUMBUHAN FASE VEGETATIF TANAMAN JAGUNG
PRAKTIKUM KESUBURAN TANAH
KELAS A AGROTEKNOLOGI 2015

Tabel 1. Tinggi Tanaman (cm)


1 2 3 4 5 6
Kelompok Perlakuan MST MST MST MST MST MST
1 B0N2 8.25 11.83 21 38.8 68.2 133.2
2 B1N0 34 3.5 54.5 58.5 62.5 44
3 B1N4 17.8 20.83 30.8 101 120 130
4 B0N0 10.7 11.83 18.33 27.8 34.3 39
5 B0N5 10.2 9 19.4 34.2 73.4 128.3
6 B1N1 13.7 17.5 30.17 60.5 90.2 138.3
7 B1N5 22.3 23 34.5 68.7 112 141
8 B0N1 11.2 23 39.17 79 128 137.7
9 B0N4 12.5 23.67 47 75.3 149 155
10 B1N3 15.3 36.33 56.83 92.8 156 184.7
11 B1N2 9.33 19 42.17 67 104 139.3
12 B0N3 13.8 26.17 31.17 63.2 121 138.3

Tabel 2. Jumlah daun (helai)


1 2 3 4 5 6
Kelompok Perlakuan MST MST MST MST MST MST
1 B0N2 4.33 6.17 7.83 9.33 9.667 10
2 B1N0 7.5 5.83 7.67 9.17 8.833 6.83
3 B1N4 5.17 7.5 8.83 9.83 10.83 13.7
4 B0N0 4.17 5.5 6.67 6.83 7.333 9.17
5 B0N5 4.5 5.83 8 10.3 10.17 10.8
6 B1N1 5 7.83 9.17 10.7 12.5 14
7 B1N5 5.5 7.67 10.5 11.2 12.17 12
8 B0N1 6 7.67 9.67 9.83 9.667 9.67
9 B0N4 4.17 5.5 7.5 10 10.83 12.2
10 B1N3 5.17 7.17 9.33 11.7 13.67 14.2
11 B1N2 2.17 3.83 5.67 7.5 9.167 11.7
12 B0N3 3.33 6.33 8.17 9.83 11 15.5

Tabel 3. Diameter batang (cm)


5 6
Kelompok Perlakuan MST MST
1 B0N2 1.342 1.6
2 B1N0 1.605 1.7
3 B1N4 2.008 2.21
4 B0N0 1.105 1.26
5 B0N5 1.397 1.6
6 B1N1 1.847 1.98
7 B1N5 2.692 2.92
8 B0N1 2.067 2.31
9 B0N4 1.618 2.01
10 B1N3 0.858 1.6
11 B1N2 1.9 2.53
12 B0N3 1.715 2.58
DATA PENGAMATAN FASE GENERATIF TANAMAN JAGUNG MANIS
( Zea mays L. Saccharata) PRAKTIKUM PENGELOLAAN KESUBURAN
TANAH KELAS A AGROTEKNOLOGI 2015
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG

1. Bobot Tongkol Sampel (Kg)

2.Bobot Tongkol Perpetak (Kg)

3.Diameter Tongkol (cm)

4.Panjang Tongkol (cm)