Anda di halaman 1dari 7

TEORI AKUNTANSI

Conventional Accounting

Disusun Oleh:
Danny Putra Pratama 041411331207
Hanif Rachmawan 041411331217
Aditya Pratama Putra 041411331245
Anis Lathifah 041411331250
Rahmat Fathony S 041411331256
Hibban Razan Afani 041411331259
Mohammad Husen R 041411331264
Dery Halim Zhafir 041411331267
Andara Yahya Pratama 041411333010
Hasabi Sailendra 041411333017
Tubagus Algan Roiston 041411333055

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
A. Prinsip Akuntansi Konvensional
Akuntansi berasal dari kata asing accounting, yang berarti menghitung atau
mempertanggungjawabkan. Hampir seluruh kegiatan bisnis di seluruh dunia
menggunakan kata ini untuk mengambil keputusan, sehingga seringkali disebut sebagai
bahasa bisnis.
Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah
dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan,
sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti
untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.

1. Proses Mengklarifikasi Transaksi


Tahap awal adalah melakukan suatu pembagian transaksi suatu organisasi
atau perusahaan ke dalam jenis-jenis tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Contoh seperti membagi transaksi yang masuk ke dalam penjualan, pembelian,
pengeluaran kas, penerimaan kas dan lain sebagainya ke dalam masing-masing
bagian. Sedangkan untuk transaksi yang jumlahnya kecil dan jarang terjadi bisa
sama-sama dimasukkan ke dalam jenis kategori yang sama yaitu transaksi rupa-
rupa.

2. Proses Mencatat Dan Merangkum


Proses akuntansi selanjutnya adalah melakukan pencatatan. Masukkan
transaksi yang ada ke dalam jurnal yang tepat sesuai urutan transaksi terjadi atau
kejadiannya. sumber-sumber yang dapat dijadikan bukti adanya transaksi yaitu
seperti kertas-kertas bisnis semacam bon, bill, nota, struk, sertifikat, dan lain
sebagainya.
Jurnal yang umumnya ada pada jurnal akuntasi yaitu seperti jurnal penjualan,
jurnal pembelian, jurnal penerimaan kas, jurnal pengeluaran kas dan jurnal umum.
Proses selanjutnya adalah memasukkan jurnal ke dalam buku besar secara berkala.
Hasil pemindahan ke dalam buku besar tersebut akan terlihat dari rangkuman
neraca percobaan.

3. Proses Menginterpretasikan Dan Melaporkan


Proses akuntansi terakhir adalah melakukan pembuatan kesimpulan dari
kegiatan atau pekerjaan laporan keuangan sebelumnya. Segala hal yang
berhubungan dengan keuangan perusahaan dituangkan pada laporan keuangan
tersebut.Dari informasi laporan keuangan baik, dalam bentuk laporan rugi laba,
laporan modal dan neraca, maka seseorang dapat mengetahui apa yang terjadi pada
suatu perusahaan, apakah sudah sesuai dengan tujuan perusahaan. Informasi
tersebut dapat menjadi acuan atau pedoman bagi manajemen untuk mengambil
keputusan kebijakan pada organisasi perusahaan demi mencapai kondisi yang
diinginkan.

Akuntansi konvensional dipengaruhi oleh berbagai macam ideology, akan tetapi


dapat dilihat bahwa ideology yang paling dominan mempengaruhinya adalah ideologi
kapitalisme. Hal ini terlihat dari beberapa pendapat ahli akuntansi yang menjelaskan
mengenai hal tersebut. Diantaranya, Harahap (2001) menyatakan bahwa ilmu akuntansi
konvensional yang berkembang saat ini dilandasi jiwa kapitalisme dan sebaliknya
perkembangan ekonomi kapitalisme sangat dipengaruhi oleh perkembangan akuntansi
konvensional. Bahkan Triyuwono (2001) mengatakan bahwa akuntansi saat ini sudah
bukan berbau kapitalis lagi, tetapi ia (akuntansi) adalah kapitalisme murni dalam
pendapatnya.
System kapitalisme didasari oleh individualism yang kuat, hal ini dapat dilihat dari
pendapat Adam Smith dalam bukunya The Wealth Of Nations, yang mengatakan bahwa
system ekonomi yang efisien dan harmonis dapat diciptakan pada saat pasar menjalankan
fungsinya tanpa intervensi dari pemerintah dan apabila pemerintah mampu menjamin
hak milik individu. Ia menyatakan bahwa dengan memberikan kebebasan yang mutlak
kepada individu untuk memenuhi keinginan pribadinya, kesejahteraan social akan
terwujud. Dengan terjaminnya hak untuk mengelola kekayaan individual, akan timbul
invisible hand yang akan menjamin tercukupinya kebutuhan-kebutuhan semua warga
masyarakat karena produsen akan berproduksi dalam kapasitas penuh.
System kapitalisme menempatkan laba sebagai nilai tertinggi. Keuntungan itu
sendiri sangat penting karena jika laba besar, seorang usahawan akan bertahan dalam
persaingan ketat dengan pengusaha lain. Secara sederhana, tujuan system kapitalis ini
adalah uang. Semakin banyak keuntungan sebuah perusahaan, semakin kuat kedudukan
di pasar, dan sebaliknya (Suseno, 1999:164)
Ekonomi kapitalis hanya melihat sesuatu berdasarkan materi semata, tanpa adanya
kecenderungan-kecenderungan spiritual, pemikiran-pemikiran tentang budi pekerti, dan
tujuan-tujuan yang bersifat non-materi, mereka tidak memperhatikan hal-hal yang
seharusnya dijadikan sebagai pijakan oleh masyarakat, seperti ketinggian moral dengan
menjadikan sifat-sifat terpuji sebagai dasar interaksinya. Termasuk hal-hal yang
mendorongnya, seperti ketinggian spiritual dengan menjadikan kesadaran hubungan
dengan Tuhan sebagai sesuatu yang mengendalikan interaksi-interaksi tersebut (Nabhani,
1996:19)

B. Argumen Mendukung Historical Cost


Penggunaan historical cost pada akuntansi konvensional telah diserang oleh banyak
pihak. Adapun yang mempertahankan historical cost mempunyai argumen sebagai
berikut untuk mempertahankan posisi mereka.
1. Historical cost relevan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Sebagai manajer
yang membuat keputusan mengenai komitmen masa depan, mereka membutuhkan
data transaksi masa lalu. Mereka harus dapat melakukan review atas upaya masa
lalu mereka dan ukuran dari upaya ini adalah biaya historis.
2. Historical cost didasarkan pada transaksi yang aktual, bukan hanya transaksi yang
mungkin terjadi. Dalam historical cost accounting, dilakukan pencatatan atas
transaksi yang aktual. Oleh karena itu disediakan sebuah pencatatan untuk
mendukung angka-angka yang disajikan pada laporan keuangan.
3. Sepanjang sejarah, laporan keuangan berdasarkan biaya historis telah berguna.
Mautz (Godfrey et al, 2000:130) menyatakan,Jika orang-orang yang membuat
keputusan manajemen dan investasi belum menemukan bahwa laporan keuangan
berdasarkan historical cost berguna selama bertahun-tahun, perubahan akuntansi
akan sejak lama dibuat.
4. Pemahaman terbaik konsep profit adalah kelebihan dari harga jual terhadap harga
perolehan/ historical cost.Gagasan profit diterima sebagai ukuran keberhasilan
kinerja. Mautz menyatakan bahwa mengejar keuntungan mengharuskan
penggunaan waktu yang cukup, tempat dan bentuk yang ditambahkan ke bahan,
produk atau jasa yang dibeli sehingga mereka bisa dijual di atas biaya. Keputusan
mengenai akankah melanjutkan lini produk atau divisi atau pabrik tergantung
untuk sebagian besar pada apakah ada sebaran yang menguntungkan antara
pendapatan dan biaya.
5. Akuntan harus menjaga integritas data mereka terhadap modifikasi internal.
Kebanyakan orang berpendapat bahwa historical cost lebih sedikit dalam persoalan
manipulasi dibandingkan current cost atau selling price.
6. Seberapa bergunanya kah informasi income berdasarkan current cost atau
exitprice? Apakah berguna untuk menunjukkan keuntungan sebagai kenaikan nilai
suatu asset yang dimiliki perusahaan yang tidak berniat untuk dijual? Misalkan
sebuah perusahaan memiliki investasi jangka panjang dalam sekuritas dari
perusahaan lain untuk menjamin pasokan bahan baku. Tidak ada maksud untuk
menjual sekuritas terlepas dari fluktuasi harga pasarnya. Seberapa bermanfaat bagi
pengguna untuk menunjukkan variasi harga pasar sebagai keuntungan? Pendukung
current value berpendapat bahwa manajer bertanggung jawab untuk perubahan
nilai, karena sekuritas dapat dijual. Mautz bertanya: How far should we indulge in
such might have been accounting? Is this accounting? Or only wishful thinking?
Jika harga sebuah aset pada akhir tahun lebih rendah dari harga selama tahun
tersebut, ini mendorong kritik terhadap manajemen dari pemegang saham karena
tidak membuang aset lebih awal. Current cost dan exit price accounting
menginduksi pandangan jangka pendek dari keuntungan. Ada alasan penting untuk
mempertahankan aset selain merealisasikan keuntungan secara langsung.
7. Perubahan harga pasar dapat diungkapkan sebagai data tambahan.Dalam banyak
kasus, para pendukung historical cost berpendapat bahwa biaya historis tidak
memiliki perbedaan yang material dengan current cost. Tambahan data pada harga
saat ini adalah cara yang praktis dan efisien dalam berhadapan dengan informasi
tersebut tanpa harus bergeser dari basis historical cost ke current cost.
8. Tidak ada bukti yang cukup untuk membenarkan penolakan terhadap historical
cost accounting. Akuntan tradisional berpendapat bahwa tidak ada bukti empiris
yang meyakinkan yang menunjukkan bahwa informasi current cost atau informasi
akuntansi exit price lebih berguna daripada informasi historical cost. Sebagian
besar studi penelitian menunjukkan bahwa data current cost tidak memberikan
banyak informasi dibanding data historical cost.

C. Kritik terhadap Akuntansi Konvensional


Trueblood Committee ( Harahap, 2001, h. 92 ), menyampaikan kritik terhadap
akuntansi konvensional sebagai berikut :
1. Akuntansi hanya menyangkut laporan historis sehingga tidak dapat menggambarkan
secara eksplisit prospek masa depan.
2. Angka-angka akuntansi umumnya didasarkan pada hasil transaksi pertukaran
sehingga hanya menggambarkan nilai pada saat itu.
3. Dalam akuntansi sering digunakan metode dari beberapa metode yang sama-sama
diterima yang menghasilkan laporan dan informasi berbeda.
4. Akuntansi menekankan pada laporan keuangan yang bersifat umum yang dapat
digunakan semua pihak. Sehingga terpaksa selalu memperhatikan semua pihak
padahal pemakaiannya yang sebenarnya memiliki perbedaan kepentingan.
5. Angka-angka disatu laporan berkaitan dengan angka-angka dilaporan lainnya.
6. Diakui bahwa laporan keuangan yang sekarang tidak menggambarkan likuiditas dan
arus kas.
7. Perubahan dalam daya beli uang jelas ada, namun hal ini tidak tergambarkan dalam
laporan keuangan.
8. Konsep materiality merupakan konsep pelaporan. Batasan terhadap istilah ini agak
abu-abu.

Terdapat kesalahan perspektif filosofis di kalangan akuntan terhadap pengertian


bukti atau Evidential Matters. Evidential Matters dimarjinalisasi pengertiannya
menjadi hanya bukti formal, seharusnya selain memeriksa bukti-bukti formal, legal dan
wajar tetapi harus berdasarkan keyakinan substansi professional yang dimiliki seorang
akuntan di bentengi dengan etika profesi (Bambang Sudibyo, 2002).
Kwik Gian Gie sering sekali menyatakan dalam berbagai media bahwa profesi
akuntan hanya memperhatikan bukti formal bukan substansial, sehingga opini akuntan
publik baginya tidak berguna sama sekali dalam menilai keadaan keuangan perusahaan
( Harahap, 2001, h. 102)

D. Keterbatasan Akuntansi Konvensional


Tidak dapat menciptakan kesejahteraan social
Harus ikut bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi akibat
promosi keuntungan investasi yang dikemukankan informasi akuntansi
Harus ikut bertanggung jawab terhadap kebobrokan social saat ini
Didasarkan pada filsafit barat yang tidak sama dengan falsafat islam yang mengakui
kedaulatan Tuhan, pengakuan pada yang ghaib, keberadaan akhirat dan sebagainya.
Lee Parker (1994) mengatakan bahwa akuntansi akan mengalami krisis di masa
depan. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya akuntansi berubah dari penekanan
decision making kepada penekanan accountability. Dan mampu memberikan informasi
kualitatif dan kuantitatif. Krisis akuntansi ditandai oleh:
Pengurangan jasa akuntan dan auditor, penurunan status social dari borjuis menjadi
proletar karena ketidakmampuan menjadi independen dan otonom dari
langganannya.
Kehilangan monopoli atas jasa informasi akuntansi yang saat ini disupply oleh IT.
Kecurangan dalam lingkungan akuntansi yang dilakukan oleh pihak korporasi dan
akuntan.
Lebel tukang angka yang semakin kental bagi akuntan, yang bisa menetukan
jumlah laba rugi perusahaan.
Tugas-tugas akuntan sudah bisa dilakukanoleh software yang user friendly
sehingga tidak memerlukan keahian akuntansi lagi
Hasil proses ilmu pengetahuan akademik sering tidak match dengan kebutuhan
dan keinginan dunia praktek.

Anda mungkin juga menyukai