Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hukum adat menurut Prof. Dr. Soekanto adalah keseluruhan adat ( yang tidak
tertulis ) dan hidup di dalam masyarakat berupa kesusilaan, kebiasaan dan
kelaziman yang mempunyai akibat hukum. Hukum adat pada saat kini selalu di
pertanyakan kekuatan mengikatnya kedalam hukum positif Indonesia, karena
bentuk dari hukum adat adalah merupakan suatu hukum yang tidak tertulis yang
hidup dan berkembang dalam masyarakat. Dari pengertian tersebut seolah-olah
hukum adat bertentangan dengan asas legalitas dalam hukum positif Indonesia.
Hukum adat seolah-olah hanya mengikat untuk masyarakat pedesaan dan
pedalaman. Padahal hukum adat adalah hukum murni bangsa Indonesia yang
eksistensinya tidak bisa dilupakan begitu saja. Hukum adat adalah hukum yang
hidup dan tumbuh dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Hukum adat tidak
bisa mati karena akan selalu bergerak dinamis menyesuaikan kehidupan
masyarakat itu sendiri.

Dalam sistem Hukum Agraria Nasional atau Hukum Tanah nasional, hukum
adat dijadikan sebagai sumber utama dalam penyusunannya. Hal tersebut
terdapat dalam Pasal 5 Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960
yang berbunyi Hukum Agraria yang berlaku atas bumi, air, dan ruang angkasa
ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan
Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia
serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-undang ini dan
dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan
unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama. Serta tercantum dalam Pasal 3
Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 yang berbunyi Dengan
mengingat ketentuan pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak serupa
itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataan masih
ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan
Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan
dengan Undang-Undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi. Dari
kedua pasal tersebut terlihat bahwa dalam hukum agraria nasional atau hukum
tanah nasional bersumber dari sistem hukum adat dan masih menganggap
eksistensi hukum adat dalam hukum agraria nasional.

Memang hukum agraria nasional bersumber dari hukum adat dan hukum adat
dalam sistem hukum agraria nasional dijadikan sebagai pelengkap dari sumber
hukum yang tertulis karena sistem dalam hukum adat yang kita kenal adalah
sitem komunal atau lebih mengutamakan kepentingan umum daripada
kepentingan individu. Sistem tersebut dipercaya bisa memberikan dampak
hukum yang positif bagi hukum agraria nasional. Hal lain sistem hukum adat
dirasakan sebagai suatu tatanan hukum yang cocok bagi kepribadian hukum
nasional.

Hukum positif yang berlaku saat ini khususnya hukum agraria nasional
banyak sekali bersumber dan menjadikan hukum adat sebagai pedoman
penyusunan hukum positif tersebut. Apabila suatu hukum positif pada umumnya
atau hukum agraria pada khususnya bertentangan dengan dengan sistem hukum
adat maka hal tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku dalam
masyarakat. Eksistensi hukum adat dalam hukum positif tidak akan pernah mati,
karena sistem hukum adat bersifat elastis dan dinamik. Bagaimana kekuatan
mengikat hukum adat bila kita bandingkan dalam sistem hukum positif Indonesia
menjadi suatu hal yang menarik untuk dibahas dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini yaitu:


1. Apakah yang dimaksud dengan sistem hukum adat?

2. Bagaimana implikasi hukum adat dalam sistem hukum tanah nasional?

3. Bagaimana kedudukan hukum tanah adat dalam hukum agraria nasional?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dari makalah kami yaitu:

1. Untuk memenuhi tugas Hukum Adat dari Ibu Dr. Hj. Any Nugroho SH, MH.

2. Untuk bertujuan agar para pembaca dapat mengetahui sistem hukum adat dan
eksistensi hukum adat dalam hukum positif nasional.

3.Agar pembaca mengetahui implikasi hukum adat dalam sistem hukum tanah
nasional.

4. supaya dapat mengetahui kedudukan hukum tanah adat dalam hukum tanah
nasional atau hukum agraria nasional.

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan kami yaitu:

1. Menambah pengetahuan kita tentang sistem hukum adat.

2. Menambah wawasan tentang eksistensi hukum adat dalam hukum positif


nasional.

3. Menambah pengetahuan dan wawasan kita tentang implikasi hukum adat


dalam sistem hukum tanah nasional atau hukum agraria nasional.

4. Menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang kedudukan hukum tanah


adat dalam hukum tanah nasional atau hukum agraria nasional.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sistem Hukum Adat

Sulit untuk menentukan definisi hukum adat yang benar, karena setiapa pakar
memiliki definisi sendiri-sendiri mengartikan sistem hukum adat. Hukum adat
adalah suatu hukum yang menjadi budaya asli bangsa Indonesia. Menurut kami
Hukum Adat merupakan hukum yang berkembang dalam masyarakat yang
memiliki kekuatan mengikat dan ditaati dalam diri masyarakat adat yang secara
umum berbentuk tidak tertulis. Hukum adat masyarakat satu dengan lainnya
berbeda-beda tergantung dengan sistem masyarakat itu sendiri. Karena pada
dasarnya hukum adat itu tumbuh dan hidup dalam masyarakat menyesuaikan
sistem dari masyarakat itu sendiri.

Hukum adat juga memiliki kekuatan materil yang mengikat bagi masyarakat
adat, ada beberapa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kekuatan materil
hukum adat antara lain; seberapa jauh hukum adat selaras dengan nilai
kemasyarakatan, seberapa jauh peraturan yang diterapkan selaras dengan sistem
hukum yang berlaku, dan seberapa jauh hukum adat tersebut dapat membawa
perubahan keadaan sosial dalam masyarakat. Hal-hal tersebut merupakan suatu
yang menjadi faktor-faktor tinggi rendahnya kekuatan mengikat hukum adat.

Menurut Berrand ter Haar, yang menjadi sumber pengenal hukum adat adalah
keputusan penguasa adat. Sedangkan menurut Koesnoe yang menjadi sumber
pengenal hukum adat adalah apa yang benar-benar terlaksana di dalam pergaulan
hukum dalam masyarakat yang bersangkutan, yang dimaksud dengan pergaulan
hukum adalah gejala sosial yang secara dikehendaki atau tidak oleh para pihak
yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan yang terkandung gejala-gejala
sosial.

Hukum adat memiliki ciri-ciri atau corak-corak khas sebagai berikut:

1. Mempunyai sifat kebersamaan atau komunal yang kuat, artinya manusia


menurut hukum adat merupakan makhluk dalam ikatan kemasyarakatan yang
erat, rasa kebersamaan ini meliputi seluruh lapangan hukum adat.

2. Mempunyai ciri atau corak religius/kepercayaan-magis yang berhubungan


dengan pandangan hidup alam Indonesia.

3. Hukum adat diliputi oleh pikiran penataan serba konkrit, artinya hukum adat
sangat memperhatikan banyaknya dan berulang-ulangnya perhubungan hidup
yang konkrit atau jelas.

4. Hukum adat mempunyai sifat yang visual, artinya perhubungan hukum


dianggap hanya terjadi, oleh karena ditetapkan dengan suatu ikatan yang dapat
dilihat.

Menurut Prof. Dr. R. Soepomo, SH dalam bukunya Bab-bab Tentang Hukum


Adat dituliskan sistem hukum adat anatara lain Bahasa Hukum, Pepatah Adat
dan Penyelidikan Hukum Adat. Berikut akan dijelaskan mengenai hal tersebut:

A. Bahasa Hukum

Maksud dari Bahasa Hukum adalah kata-kata yang dipakai terus-menerus


untuk menyebut dengan konsekuen suatu perbuatan atau keadaan, lambat laun
menjadi istilah yang mempunyai isi yang tertentu. Bagi hukum adat di
Indonesia, pembinaan bahasa hukum adalah soal yang minta perhatian khusus
kepada para ahli hukum Indonesia.
Hukum adat, pembinaan bahasa hukum ini justru masih merupakan suatu
masalah yang sangat meminta perhatian khusus pada para ahli hukum
Indonesia. Baik Van Vollenhoven dan Ter Haar, mengemukakan dengan jelas
betapa pentingnya soal bahasa hukum adat bagi pelajaran serta pengertian
sistem hukum adat dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan hukum adat
selanjutnya.

Dalam kata jual sebagai istilah hukum adat tidaklah sama artinya dengan
kata verkopen sebagai istilah hukum barat. Dalam sistem hukum adat,
pembelian barang dengan tidak membayar kontan bukanlah termasuk
perbuatan jual, melainkan termasuk dalam golongan hutang piutang.

Dalam sistem hukum adat, segala perbuatan dan keadaan yang bersifat
sama disebut dengan istilah yang sama pula. Misalnya istilah gantungan
dipakai untuk menyebut segala keadaan yang belum bersifat tetap.

B. Pepatah Adat

Diberbagai lingkaran hukum adat terdapat pula pepatah adat yang sangat
berguna sebagai petunjuk tentang adanya sesuatu peraturan hukum adat.

Prof. Snouck Hurgronje menegaskan bahwa pepatah adat tidak boleh


dianggap sebagai sumber atau dasar hukum adat. Pepatah adat harus diberi
interprestasi yang tepat agar terang maknanya. Pepatah adat memang baik
untuk diketahui dan disebut, akan tetapi pepatah itu tidak boleh dipandang
sebagai pasal-pasal kitab undang-undang, pepatah adat tidak memuat
peraturan hukum positif.

Vergouwen menulis bahwa pepatah adat tidak mempunyai sifat normatif


seperti pasal undang-undang. Pepatah itu hanya mengandung aliran hukum
dalam bentuk yang menyolok saja. Ten Haar berkata bahwa pepatah adat
bukan merupakan sumber hukum adat, melainkan mencerminkan dasar
hukum yang tidak tegas. Prof. Soepomo menegaskan bahwa pepatah adat
memberi lukisan tentang adanya aliran hukum yang tertentu.

C. Penyelidikan Hukum Adat

Berlakunya suatu peraturan hukum adat tampak dalam putusan


(penetapan) petugas hukum, misalnya putusan kepala desa, putusan kepala
adat dan sebagainya. Yang dimaksud dengan putusan atau penetapan itu ialah
perbuatan atau penolakan perbuatan (non-action) dari pihak petugas hukum
dengan tujuan memelihara atau untuk menegakan hukum.

Maka dari itu penyelidikan hukum adat haruslah ditujukan kepada


Research tentang putusan-putusan petugas hukum, selain itu kita juga harus
menyelidiki kenyataan sosial (social reality), yang merupakan dasar bagi para
petugas hukum untuk menentukan putusan-putusannya.

Untuk mendapatkan hasil penyelidikan sebagaimana mestinya, kenyataan


sosial yang merupakan dasar bagi para petugas hukum untuk menentukan
putusan-putusanya, wajib pula diindahkan serta dipahami. Cara melakukan
Field Research wajib menemui para pejabat desa, orang-orang tua, orang-
orang terkemuka, serta menanyakan fakta-fakta yang telah dialami atau
diketahui sendiri oleh mereka itu.

2.2 Eksistensi Hukum Adat Dalam Hukum Positif Nasional

Hukum adat adalah suatu hukum asli dari bangsa Indonesia. Hukum adat
tidak akan bisa mati terhapus oleh waktu. Sedangkan hukum positif adalah
hukum yang berlaku saat ini. Dalam penerapannya hukum adat, hukum adat
selalu menjadi sumber hukum bagi hukum positif Indonesia. Pada dasarnya
sistem hukum positif tidak akan pernah melenceng dari sistem huku adat, karena
hukum positif itu sendiri tidak mungkin bertentangan dengan hukum masyarakat
yang ada. Apabila hukum positif bertentangan pasti akan ditolak dalam
masyarakat.

Hukum adat pada masa kini dianggap sudah tidak mempunyai kekuatan
mengikat dan hanya ada dalam masyarakat-masyarakat tertentu saja, padahal
pada dasarnya hukum adat selalu ada dalam kehidupan kita baik dalam
kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Hukum adat tetap akan selalu ada
dan memiliki kekuatan mengikat dalam diri sendiri yang mengandung kekuatan
moril dari setiap individu. Hukum adat akan selalu megikuti perkembangan
masyarakat yang dinamis dalam mencapai tujuannya, sehingga hukum adat akan
tidak lekang dimakan waktu.

Dalam hukum positif atau hukum yang berlaku saat ini banyak sekali
bersumber dalam hukum adat dan menjadikan hukum adat sebagai patokan
dalam penyusunan hukum, seperti dalam sistem hukum agraria yang berpedoman
dalam sistem-sistem adat terutama dalam hukum adat atas tanah atau hak-hak
ulayat dan sebagainya. Hukum adat harus bersifat dinamis sehingga dapat
menyesuaikan antara kebutuhan hidup dalam masyarakat dan hukum positif,
sebaliknya setiap hukum positif tidak boleh bertentangan dengan hukum adat
yang hidup dalam masyarakat.

Dari hal-hal diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa eksistensi hukum adat
dalam hukum positif Indonesia akan selalu ada dan tidak akan pernah mati.
Hukum adat dan hukum positif menjadi suatu yang saling melengkapi antara satu
dengan lainnya. Apabila hukum adat bertentangan dengan kebiasaan masyarakat
maka hukum adat tersebut tidak akan bisa eksistensi, sehingga apabila sudah
dirasa sudah tidak memberikan atau tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat
maka hukum adat tersebut akan berganti dengan sendirinya sesuai dengan
kehidupan masyarakat yang kompleks. Selain itu eksistensi hukum adat dalam
hukum positif juga tidak akan pernah mati.
2.3 Implikasi Hukum Adat Dalam Hukum Tanah Nasional

Hukum Agraria Nasional menurut Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5


Tahun 1960 adalah suatu kelompok berbagai bidang hukum yang masing-masing
mengatur hak-hak penguasaan atas sumber daya alam yang meliputi hukum
tanah, hukum air, hukum pertambangan, hukum perikanan, dan hukum
penguasaan atas tenaga dan unsur-unsur dalam ruang angkasa, tapi dalam
makalah ini kami batasi hanya mengenai dalam sistem Hukum Tanah. Pengertian
Hukum Tanah adalah keseluruhan ketentuan hukum yang tertulis dan tidak
tertulis yang semuanya mempunyai objek pengaturan yang sama, yaitu hak-hak
penguasaan atas tanah sebagai lembaga hukum dan sebagai hubungan hukum
konkrit, beraspek perdata yang dapat disusun dan dipelajari secara sistematis
hingga keseluruhannya menjadi suatu kesatuan yang merupakan suatu sistem.

Dalam Pasal 3 Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960


menyatakan bahwa dalam Hukum Agraria Nasional atau Hukum Tanah Nasional
bersumber dan mengakui adanya Hukum Adat atau hak-hak Ulayat. Hak Ulayat
adalah hak dari masyarakat hukum adat atas lingkungan tanah wilayahnya yang
memberikan kewenangan tertentu kepada penguasa adat untuk mengatur dan
memimpin penggunaan tanah. Dalam Undang-Undang Pokok Agraria dan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Agraria Ka. BPN Nomor 5 Tahun 1999 hak-hak
ulayat diakui dengan syarat eksistensinya masih ada dan pelaksanaanya sesuai
dengan negara serta tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.
Selanjutnnya kriteria eksistensi hukum adat adalah adanya hak ulayat, tanah
ulayat, dan berlaku serta ditaati warga masyarakat. Dalam hal tersebut jelas
Undang-Undang Pokok Agraria masih mengakui adanya hak-hak ulayat dan
hukum adat, dalam Undang-Undang Pokok Agraria juga dijelaskan peranan
hukum adat dalam pembangunan hukum tanah nasional adalah sebagai sumber
utama pembangunan hukum tanah nasional dan sebagai pelengkap hukum tanah
nasional tertulis. Hukum adat adalah hukum asli golongan rakyat pribumi yang
berbentuk tidak tertulis dan mengandung unsur nasional yang asli dan sifat
kemasyarakatan dan kekeluargaan yang berasaskan keseimbangan dan meliputi
oleh suasana keagamaan.

Dalam Undan-Undang Pokok Agraria pengertia hukum adat meliputi lima


aspek yaitu, konsepsi, asas, lembaga hukum, sistem dan norma yang tertulis.
Konsepsi hukum adat meliputi sistem komunalistik, religius yang
memungkinkan penguasaan tanah secara individual dengan hak atas tanah yang
bersifat pribadi, sekaligus mengandung unsur kebersamaan, karena pada
hakekatnya sistem hukum adat menggunakan asas komunal atau lebih
mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Konsepsi
hukum adat diakomodasikan dalam Pasal 1 ayat (2), Pasal 3, Pasal 6, dan Pasal
16 Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960. Sedangkan asas-asas
hukum tanah adat meliputi Asas Religiusitas ( Pasal 1 Undang-Undang Pokok
Agraria ), Asas Kebangsaan ( Pasal 1 ayat (1), Pasal 2 ayat (1), dan Pasal 5
Undang-Undang Pokok Agraria ), Asas demokrasi ( Pasal 9 ayat (2) Undang-
Undang Pokok Agraria ), Asas Kemasyarakatan dan Keadilan Sosial ( Pasal 6,7,
10, 11, dan 13 Undang-Undang Pokok Agraria ), Asas Penggunaan dan
Pemeliharaan secara berencana ( Pasal 14 dan 15 Undang-Undang Pokok Agraria
) serta Asas Pemisahan Horizontal dengan bangunan dan tanah di atasnya.
Sedangkan Lembaga Hukum Adat dalam Hukum Tanah Nasional disempurnakan
dan disesuaikan seperti Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB),
pendaftaran tanah, dan lain-lain.

2.4 Kedudukan Hukum Tanah Adat dalam Hukum Agraria Nasional

Dalam banyak peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia


saat ini, hukum adat atau adat istiadat yang memiliki sanksi, mulai mendapat
tempat yang sepatutnya sebagai suatu prodok hukum yang nyata dalam
masyarakat. Dalam banyak kasus, hukum adat sedemikian dapat memberikan
kontribusi sampai taraf tertentu untuk menjamin kepastian hukum dan keadilan
bagi masyarakat. Hukum saat ini malahan dijadikan dasar dasar pengambilan
keputusan hakim, sehingga dapat terlihat bahwa hukum adat itu efesien, efektif,
aplikatif, dan come force ketika dihadapkan dengan masyarakat modern dewasa
ini. Sehingga dalam hukum agraria nasional hukum adat dijadikan juga sebagai
landasannya.

Hukum agraria pada masa penjajahan Hindia Belanda bersifat dualistis,


yaitu hukum agraria barat, dan hukum adat bangsa Indonesia. Hukum agraria
barat berlaku bagi orang-orang Belanda, orang eropa dan yang dipersamakan
dengan mereka, sedang hukum agraria adat berlaku bagi golongan bumi putera
(penduduk asli).

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 adalah Undang-Undang yang dibuat


bangsa Indonesia dan dikeluarkan setelah Indonesia merdeka. Dalam undang-
undang ini disebutkan bahwa hukum agraria nasional didasarkan kepada hukum
adat. Penegasan itu dapat dijumpai dalam:

1. Konsideran berpendapat, huruf a;

2. Penjelasan umum angka III (1);

3. Penjelasan Pasal 16;

4. Pasal 56;

Ketentuan hukum adat itu tidak boleh bertentangan dengan kepentingan


nasional. Contoh ini disebutkan dalam penjelasan umum angka II. 3 dalam
hubungan dengan pelaksanaan hak ulayat. Sekalipun penguasa-penguasa adat
mempunyai kewenangan untuk mengatur dan memimpin penggunaan tanah hak
ulayat dalam wilayahnya, namun kewenangan itu tidak boleh menghalangi
program pemerintah untuk mencapai kemakmuran rakyat, umpama pembukaan
tanah secara besar-besaran untuk areal perkebunan atau untuk pemindahan
penduduk.

Hukum agraria nasional itu, berdasarkan atas hukum adat tanah, yang
bersifat nasional, bukan hukum adat yang bersifat kedaerahan atau regional.
Artinya, untuk menciptakan hukum agraria nasional, maka hukum adat yang ada
di seluruh penjuru nusantara, dicarikan format atau bentuk yang umum dan
berlaku bagi seluruh persekutuan adat. Tentu saja, tujuannya adalah untuk
meminimalisir konflik pertanahan dalam lapangan hukum tanah adat.

Berpatokan pada hukum adat sebagai sumber utama dalam mengambil


bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembangunan hukum tanah nasional, maka
tetap dimungkinkan untuk mengadopsi lembaga-lembaga baru yang belum
dikenal dalam hukum adat. Disamping itu, dapat pula mengambil lembaga-
lembaga hukum asing guna memperkaya dan memperkembangankan hukum
tanah nasional. Namun demikian, dalam mengadopsi lembaga-lembaga baru
tersebut syaratnya tidak bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945. Adapun
lembaga-lembaga baru tersebut adalah

1. Pendaftaran Tanah;

2. Hak Tanggungan;

3. Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pengelolaan.

Hukum agraria nasional tidak hanya tercantum dalam Undang-Undang


Pokok Agraria 1960 saja, tetapi juga terdapat dalam peraturan perundang-
undangan lainnya yang mengatur tentang perjanjian-perjanjian ataupun transaksi-
transaksi yang berhubungan dengan tanah. Misalnya Undang-Undang Nomor 2
Tahun 1960 Tentang Perjanjian Bagi Hasil Pertanian. Di sini dapat dilihat bahwa
semua masalah hukum tanah adat secara praktis di akomodasi oleh peraturan
perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah (penguasa).
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hukum positif adalah hukum yang berlaku saat ini atau masa sekarang.
Eksistensi hukum adat dalam hukum positif Indonesia tetap hukum positif adalah
hukum yang berlaku saat ini atau masa sekarang. Eksistensi hukum adat dalam
hukum positif Indonesia tetap ada. Hukum adat dan hukum positif saling
melengkapi antara satu dengan lainnya. Hukum positif tidak akan pernah
bertentangan dengan hukum adat, begitupun hukum adat juga tidak akan
bertentangan dengan hukum positif. Hukum adat dan hukum positif harus
bergerak mengikuti perubahan masyarakat secara elastis dan dinamis.

Dalam Undang-Undang Pokok Agraria masih menggunakan sumber hukum


adat sebagai pedoman penyusunanya. Hukum adat menjadikan sumber utama
serta pelengkap dari hukum tertulis atas tanah. Penyusunan hukum tanah nasional
tidak boleh bertentangan dengan sistem tanah adat serta harus berdasarkan hak-
hak ulayat yang masih berlaku. Syarat diakuinya hak ulayat dalam Undang-
Undang Pokok Agraria adalah eksistensinya masih ada dan pelaksanaanya sesuai
dengan kepentingan nasional dan negara serta tidak bertentangan dengan
peraturan perundangan yang lebih tinggi. Berdasarkan Pasal 1, 2, 4, 9, 16
Undang-Undang Pokok Agraria dapat disimpulkan dan diketahui bahwa hukum
tanah adat mengenai

Hukum tanah adat di Indonesia telah mengalami perkembangan dalam


berbagai hal, karena ini disesuaikan dengan adanya perkembangan zaman tidak
tertulis, tepat keberadaannya masih tetap dipandang kuat oleh para masyarakat.
Begitu juga kiranya dengan tanah adat yang sudah merupakan bagian dari diri
mereka dan tetap dipertahankan kelestariannya jika ada pihak-pihak yang ingin
merusaknya. Memang, setelah perkembangan zaman ditambah lagi setelah
berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria, hukum tanah adat masih tetap diakui
sepanjang tidak betentangan dengan kepentingan nasional dan negara.

Penjelasan Undang-Undang Pokok Agraria paragraf III, menegaskan bahwa


hukum adat yang dimaksud dalam Undang-Undang Pokok Agraria adalah
hukum adat yang disempurnakan dan disesuaikan dengan kepentingan
masyarakat dalam negara yang modern dan dalam hubungannya dengan dunia
internasional, serta disesuaikan dengan sosialisme Indonesia. Sehingga hukum
agraria nasional adalah prinsip-prinsip dan konstruksi-konstruksi hukum adat
yang ada di Indonesia yang dipergunakan.

3.2 Saran

Kini walaupun Undang-Undang Pokok Agraria sudah berlaku namun masih


banyak masyarakat yang tetap berpedoman pada hukum tanah adat, yang sangat
disayangkan disini hukum tanah adat tidak dapat memberikan kepastian hukum
bagi masyarakat. Maka adapun usaha yang dapat dilakukan pemerintah antara
lain:

a. Adanya jaminan kepastian hukum bagi pemilik tanah ulayat sebagaimana


dimaksud dalam Undang-Undang Pokok Agraria;
b. Perlu lebih ditingkatkan penyuluhan dan sosialisasi serta informasi kepada
masyarakat luas akan pentingnya hak-hak atas tanah serta pendaftarannya;
c. Lembaga-lembaga pengkajian dan penelitian masalah hukum adat dan badan
pemantau urusan pertanahan perlu diperbanyak keberadaannya.

Semua hal tersebut diatas dalam menyusun kebijaksanaan politis dan hukum
bidang agraria, menuntut tetap diperhatikannya hukum tanah adat yang berlaku
secara nasional.
DAFTAR PUSTAKA

Referensi:

Ridwan, Ahmad Fauzie.1982. Hukum Tanah Adat Multi Disiplin Pembudayaan


Pancasila. Jakarta: Dewaruci Press.

Harsono, Boedi. 1994. Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-


Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaanya, Jilid I Hukum Tanah Nasional.
Jakarta: Djambatan.

Soekanto, Soerjono. 1981. Hukum Adat Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.

Supardi, 2008. Hukum Agraria. Jakarta: Sinar Grafika.

Peraturan Perundang-Undangan:

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok


Agraria.