Anda di halaman 1dari 7

1.

Karakteristik Kewirausahaan

A. Para ahli mengemukakan karakteristik kewirausahaan dengan konsep yang berbeda-beda.


Authur Kurilof dan John M. Mempil (1993 : 20), mengemukakan karakteristik
kewirausahaan dalam bentuk nilai-nilai dan perilaku kewirausahaan seperti :

NILAI-NILAI PERILAKU
Komitmen Menyelesaikan tugas hingga selesai
Resiko moderat Tidak melakukan spekulasi, melainkan berdasarkan perhitungan yang
matang
Melihat peluang Memanfaatkan peluang yang ada sebaik mungkin
Objektivitas Melakukan pengamatan secara nyata untuk memperoleh kejelasan
Umpan balik Menganalisis data kinerja waktu untuk memandu kegiatan
Optimisme Menunjukkan kepercayaan diri yang besar walaupun berada dalam
situasi berat.
Uang Melihat uang sebagai suatu sumber daya, bukan tujuan akhir.
Manajemen proaktif Mengelola berdasarkan perencanaan masa depan.
Sumber : Fundamental Small Business Management, 1993, hal. 20

B. Menurut David (1996) karakteristik yang dimiliki oleh seorang wirausaha memenuhi
syarat- syarat keunggulan bersaing bagi suatu perusahaan/organisasi, seperti inovatif,
kreatif, adaptif, dinamik, kemampuan berintegrasi, kemampuan mengambil risiko atas
keputusan yang dibuat, integritas, daya-juang, dan kode etik niscaya mewujudkan
efektivitas perusahaan/organisasi. Hal ini digambarkan melalui Tabel 1.

Tabel 1. Profil Seorang Wirausahawan menurut David (1996).


Karakteristik profil Ciri Wirausahawan Yang Menonjol
Berprestasi tinggi Ahli memperoleh prestasi
Pengambil resiko Mereka tidak takut mengambil risiko tetapi akan menghindari
risiko-tinggi apabila dimungkinkan.
Pemecah masalah Mereka tanggap mengenali dan memecahkanmasalah yang dapat
menghalangi kemampuannya mencapai tujuan.
Pencari setatus Mereka tidak memperkenankankebutuhan erhadap status
mengganggumisi usahanya.
Tingkatan energy tinggi Dedikasi dan workoholic demi wujudnya sukses.
Percaya diri Tingkat confidence yang tinggi.
Ikatan emosi tinggi Memisahkan antara hubungan emosional dengan karier.
Kepuasan pribadi Menyukai kompleksitas tinggi dengan formalisasi yang rendah
1. Memiliki kreatifitas Tinggi.
Menurut Teodore Levit, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir yang baru dan
berbeda. Menurut Levit, kreativitas adalah berfikir sesuatu yang baru (thinking new
thing), oleh karena itu menurutnya, kewirausahaan adalah berfikir dan bertindak sesuatu
yang baru atau berfikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru. Menurut Zimmerer
dalam Suryana (2003 : 24) mengungkapkan bahwa, ide-ide kreativitas sering muncul
ketika wirausaha melihat sesuatu yang lama dan berfikir sesuatu yang baru dan berbeda.

2. Selalu Komitmen dalam Pekerjaan, Memiliki Etos Kerja dan Tanggung Jawab.
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang
bulat di dalam mencurahkan semua perhatianya pada usaha yang akan digelutinya,
didalam menjalankan usaha tersebut seorang wirausaha yang sukses terus memiliki tekad
yang mengebu-gebu dan menyala-nyala (semangat tinggi) dalam mengembangkan
usahanya, ia tidak setengah-setengah dalam berusaha, berani menanggung resiko, bekerja
keras, dan tidak takut menghadapi peluang-peluang yang ada dipasar. Tanpa usaha yang
sungguh-sunguh terhadap pekerjaan yang digelutinya maka wirausaha sehebat apapun
pasti menemui jalan kegagalan dalam usahanya. Oleh karena itu penting sekali bagi
seorang wirausaha untuk komit terhadap usaha dan pekerjaannya.

3. Mandiri atau Tidak Ketergantungan.


Sesuai dengan inti dari jiwa kewirausahaan yaitu kemampuan untuk menciptakan
seuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan
bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup, maka
seorang wirausaha harus mempunyai kemampuan kreatif didalam mengembangkangkan
ide dan pikiranya terutama didalam menciptakan peluang usaha didalam dirinya, dia
dapat mandiri menjalankan usaha yang digelutinya tanpa harus bergantung pada orang
lain, seorang wirausaha harus dituntut untuk selalu menciptakan hal yang baru dengan
jalan mengkombinasikan sumber-sumber yang ada disekitarnya, mengembangkan
teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk
menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa
yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada
konsumen.

4. Berani Menghadapi Risiko.


Richard Cantillon, orang pertama yang menggunakan istilah entrepreneur di awal
abad ke-18, mengatakan bahwa wirausaha adalah seseorang yang menanggung
resiko.Wirausaha dalam mengambil tindakan hendaknya tidak didasri oleh
spekulasi,melainkan perhitungan yang matang. Ia berani mengambil resiko terhadap
pekerjaannya karena sudah di perhitungkan. oleh sebab itu wirausaha selalu berani
mengambil resiko yang moderat, artinya resiko yang ambil tidak terlalu tinggi dan tidak
terlalu rendah. Keberanian menghadapi resiko yang didukung komitmen yang kuat,
mendorong wirausaha yang terus berjuang mencari peluang sampai memperoleh hasil.
Hasil-hasil itu harus nyata nyata/jelas dan objektif, dan merupakan umpan balik
(feedback) bagi kelancaran kegiatannya (Suryana, 2003: 14-15).
5. Motif Berprestasi Tinggi.
Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha karena
adanya motif tertentu, yaitu motif berprestasi (achievement motive). Menurut Gede
Anggan Suhanda (dalam Suryana, 2003 : 32) Motif berprestasi ialah suatu nilai sosial
yang menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik guna mencapai kepuasan
secara pribadi. Faktor dasarnya adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Seperti yang
dikemukakan oleh Maslow (1934) tentang teori motivasi yang dipengaruhi oleh tingkatan
kebutuhan kebutuhan, sesuai dengan tingkatan pemuasannya, yaitu kebutuhan fisik
(physiological needs), kebutuhan akan keamanan (security needs), kebutuhan harga diri
(esteem needs), dan kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualiazation needs).

2. Keuntungan dan Kerugian Berwirausaha dan Berwiraswasta


A. Berbagai keuntungan menjadi wirausaha menurut Buchari Alma, yaitu :
1. Keuntungan menjadi wirausaha untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.
2. Keuntungan menjadi wirausaha yaitu dapat mendemonstrasikan potensi diri
secara penuh.
3. Keuntungan menjadi wirausaha adalah untuk memperoleh manfaat dan
keuntungan secara maksimal
4. Keuntungan menjadi wirausaha ialah dapat membantu masyarakat dengan usaha-
usaha yang konkret.
5. Keuntungan menjadi wirausaha yaitu membuka peluang untuk menjadi bos,
minimal bagi dirinya sendiri.

Selain keuntungan menjadi wirausaha, terdapat pula kelemahan menjadi wirausaha yaitu :
1. Kelemahan menjadi wirausaha adalah memperoleh pendapatan yang tidak pasti
dan memikul berbagai risiko yang dihadapi. Jika risiko ini telah diantisipasi secara
baik, wirausaha itu akan mampu menggeser risiko tersebut.
2. Kelemahan menjadi wirausaha ialah harus bekerja keras dengan jam kerja yang
mungkin lebih panjang.
3. Kelemahan menjadi wirausaha yaitu kualitas hidupnya mungkin masih rendah
sampai usahanya berhasil. Pada tahap awal, wirausaha harus bersedia untuk
berhemat.
4. Kelemahan menjadi wirausaha adalah memiliki tanggung jawab yang sangat
besar. Banyak keputusan yang harus dibuat, meskipun mungkin ia kurang
menguasai permasalahan tersebut.

B. Bagi wirausahawan tentu tidak akan dengan sengaja bertindak atau mengambil keputusan
tanpa pertimbangan dan perhitungan matang. Berikut ini berbagi keuntungan dan
kerugian dalam menjadi wirausahawan (Suparyanto, 2006:18-28), yakni:

1. Keuntungan berwirausaha:
Dapat memilih bidang usaha sesuai minat dan bakat; seorang wirausahawan dapat
memilih bidang usaha sesuai dengan minat dan bakatnya, maka ia akan mencintai
usahanya, dan jika ia sudah mencintai usahanya maka segenap perhatian dan
kemampuan akan dicurahkan demi perkembangan usaha. Selain bidang usaha yang
dipilih tersebut sesuai dengan minat dan bakat tentunya yang memang dibutuhkan
oleh konsumen agar profitable.

Keuntungan usaha dapat dinikmati sendiri ; usaha yang dijalankan merupakan usaha yang
dimilikinya maka keuntungan dari hasil usaha menjadi miliknya juga. Ia akan memperoleh
minimal dua macam pendapatan. Pertama, pendapatan dari posisinya sebagai pemilik usaha
dan kedua, pendapatan yang diperoleh dari posisinya sebagai manajer.
Memperoleh kepuasan; keberhasilan mengelola usaha akan memberikan kepuasan
tersendiri bagi seorang wirausahawan. Kepuasan ini secara tidak langsung akan
memotivasi dirinya untuk lebih giat bekerja agar perkembangan usaha semakin
lama semakin baik dan kuat dalam menghadapi persaingan. Kepuasan juga akan
mempertebal rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan pihak ketiga termasuk
dengan pelanggan, pemasok, distributor, perbankan dan investor.

Tidak ada yang memerintah; seorang wirausahawan, ia menjadi pemilik sekaligus


manajer dari perusahaannya maka ia juga memegang jabatan tertinggi di
perusahaan tersebut sehingga tidak ada seorangpun yang akan memerintahnya
untuk melakukan tugas- tugas tertentu. Ia hanya diperintah oleh dirinya sendiri dan
ia dapat memerintah orang lain yang bekerja kepada dirinya.

Tidak perlu persetujuan pihak lain dalam membuat keputusan; saat tertentu seorang
wirausahawan harus mengambil keputusan tentang sesuatu hal misalnya keputusan
untuk melakukan ekspansi dengan membuka cabang perusahaan ditempat lain,
keputusan untuk mengikuti pameran produk yang diselenggarakan oleh pihak
tertentu, keputusan joint venture, dll. Seorang wirausahawan sebagai pemilik dan
manajer perusahaan dapat memutuskan semua hal tersebut tanpa harus menunggu
kebijakan dari pihak lain, kalaupun ia meminta pertimbangan dari tenaga ahli atau
konsultan dengan alasan agar keputusan yang akan diambil merupakan keputusan
yang paling baik bagi perkembangan perusahaan. Semua masukan dari pihak lain
menjadi pertimbangan seorang wirausahawan dan pada akhirnya dia sendiri yang
akan mengambil keputusan.

Mempunyai peluang membantu orang lain; Sebagai makhluk sosial seorang


wirausahawan mempunyai cukup peluang untuk membantu orang lain misalnya
dengan mengalokasikan zakat penghasilan untuk membantu korban bencana alam,
peperangan, ataupun mempekerjakan mereka yang mempunyai potensi tetapi belum
bernasib baik mendapatkan pekerjaan, dengan tetap memperhatikan kualitas sesuai
job specification.
2. Kerugian berwirausaha:
Jam kerja panjang dan tidak teratur; wirausahawan tidak menutup kemungkinan
akan bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang mulai dari bangun tidur pagi
hari sampai menjelang tidur kembali di malam hari. Waktu benar-benar tercurah
kepada kepentingan usaha apalagi jika usaha yang dijalankan sedang menghadapi
kerugian atau sebaliknya karena ingin mendapatkan keuntungan yang besar pada
periode tertentu. Selain itu jam kerja wirausahawan tidak menentu. Pada saat
tertentu memiliki waktu luang yang cukup tetapi pada saat lainnya ia sangat sibuk
bahkan sampai lupa beristirahat.

Resiko dan tanggung jawab luas; sehubungan dengan posisinya sebagai pemilik
sekaligus manajer bagi usahanya sendiri maka seorang wirausahawan memiliki
tanggung jawab yang luas terhadap keberhasilan dan kegagalan usahanya.
Wirausahawan harus menanggung resiko pada saat terjadi kerugian pada usahanya.
Tidak menutup kemungkinan resiko harus dipertanggungjawabkan sampai kepada
harta yang dimiliki walaupun berada di luar perusahaan. Hal ini terutama jika
perusahaan bentuknya perseorangan dan pailit sehingga akan ditutup, maka untuk
memenuhi kewajiban kepada pihak ketiga wirausahawan harus menutup semua
kewajiban tersebut walaupun dengan menggunakan harta yang ada dirumah.

Pendapatan tidak stabil; Salah satu kerugian yang dialami oleh wirausahawan
berhubungan dengan pendapatan. Pendapatan wirausahawan tidak dapat dipastikan
atau tidak stabil. Pada periode tertentu pendapatan bersih setelah dikurangi dengan
total pengeluaran akan menghasilkan keuntungan. Besarnya keuntungan dari satu
periode ke periode lainnya berubah-ubah, terkadang besar pada saat lainnya kecil,
bahkan pada periode tertentu wirausahawan mengalami kerugian usaha. Inilah salah
satu resiko yang dapat dialami oleh wirausahawan.

Sering terlibat masalah keuangan; kerugian lain yang dialami oleh hampir setiap
wirausahawan adalah masalah keuangan. Wirausahawan harus berpikir keras untuk
dapat mengalokasikan dana yang ada untuk berbagai kepentingan usaha termasuk
pembelian bahan baku, upah tenaga kerja, biaya promosi dan lain-lain.

Belajar tidak ada akhirnya; wirausahawan dituntut untuk selalu mengadaptasi
berbagai perubahan yang terjadi. Keterlambatan dalam mengikuti perkembangan
dunia usaha akan berakibat kerugian dalam berwirausaha.