Anda di halaman 1dari 8

LITERATUR SEBAGAI ALAT BANTU PENDEKATAN

1. Pendidikan
1.1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memilikin kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No. 20 Tahun 2003
tentang sistem Pendidikan Nasional). Menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan adalah segala
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapatlah mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinnginya (Majelis
Luhur Persatuan Taman Siswa, 1962). Menurut John Dewey, Pendidikan adalah tuntutan terhadap
proses pertumbuhan dan proses sosialisasi anak. Dalam proses pertumbuhan ini anak
mengembangkan dirinya ke tingkat yang makin lama makin sempurna, sesuai dengan teori evolusi
Darwin (Soemadi Tj. 1981: 24)

1.2. Jalur Pendidikan di Indonesia


Dalam UU No. 20 tahun 2003 Pasal 13 ayat 1 dinyatakan bahwa jalur pendidikan terdiri dari
pendidikan formal, non-formal dan informal:
a. Pendidikan Formal
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas
pendidikan anak usia dini (TK/RA), pendidikan dasar (SD/MI), pendidikan menengah
(SMP/MTs dan SMA/MA), dan pendidikan tinggi (Universitas). Pendidikan formal terdiri
dari pendidikan formal berstatus negeri dan pendidikan formal berstatus swasta.
b. Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai
setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian
penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan
mengacu pada standar nasional pendidikan. Seperti Lembaga Kursus dan Pelatihan,
Kelompok Belajar, Sanggar, dll.
c. Pendidikan Informal
Pendidikan Informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk
kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan
formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional
pendidikan. Seperti : Pendidikan Agama, Budi Pekerti, Etika, Sopan Santun, Moral dan
Sosialisasi.

1.3. Kondisi Pendidikan di Indonesia


Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat tujuh masalah pendidikan yang harus
segera diselesaikan pemerintah, antara lain:
1. Nasib program wajib belajar (wajar) 12 tahun ini masih di persimpangan jalan. Alasannya,
program itu belum memiliki payung hukum. Perbincangan soal realisasi wajar 12 tahun ini
mengemuka sejak awal pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga 2015.
Namun, sepanjang 2016-2017, tidak ada lagi perbincangan dan langkah untuk
mewujudkan hal itu.
2. Angka putus sekolah dari SMP ke jenjang SMA mengalami kenaikan. Hal ini dipicu maraknya
pungutan liar di jenjang MA/SMK/SMA. Banyak kabupaten/kota yang dulu sudah
menggratiskan SMA/SMK, tapi kini mereka resah karena banyak provinsi yang
membolehkan sekolah untuk menarik iuran dan SPP untuk menutupi kekurangan anggaran
untuk pendidikan.
3. Pendidikan agama di sekolah mendesak untuk dievaluasi dan dibenahi, baik metode
pembelajarannya maupun gurunya.
4. Masih lemahnya pengakuan negara atas pendidikan pesantren dan madrasah (diniyah).
Model pendidikan ini berperan sejak dahulu, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Namun, kini perannya termarginalkan karena tidak sejalan dengan kurikulum nasional.
5. Pendistribusian Kartu Indonesia Pintar (KIP) harus tepat sasaran dan tepat waktu.
Bersekolah bagi kaum marginal masih jadi impian. Marginal di sini terutama dialami oleh
warga miskin dan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Angka putus sekolah didominasi
oleh kedua kelompok tersebut. Program BOS, BSM, dan KIP perlu dievaluasi karena
nyatanya masih banyak anak miskin yang susah masuk sekolah. Pendistribusian yang
lambat, alokasi yang tidak akurat, dan juga penyelewengan dana turut menyelimuti
implementasi program tersebut.
6. Kekerasan dan pungutan liar di sekolah masih merajalela. Potret buram pendidikan di
Indonesia masih diwarnai oleh kasus kekerasan di sekolah dan pengaduan pungli. Modus
kekerasan ini sudah sangat rumit untuk diurai, karena para pelakunya dari berbagai arah.
7. Ketidak-sesuaian antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Saat ini ada lebih dari tujuh
juta angkatan kerja yang belum mempunyai pekerjaan. Sementara di saat yang sama, dunia
usaha mengalami kesulitan untuk merekrut tenaga kerja terampil yang sesuai dengan
kompetensi yang dibutuhkan dan siap pakai.

2. Anak Putus Sekolah


2.1. Definisi Anak Putus Sekolah
Gunawan (2010: 71), menyatakan putus sekolah merupakan predikat yang diberikan kepada
mantan peserta didik yang tidak mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan, sehingga
tidak dapat melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan berikutnya. Misalnya seorang warga
masyarakat atau anak yang hanya mengikuti pendidikan di SD sampai kelas lima, disebut
sebagai putus sekolah SD.
Menurut Departemen Pendidikan di Amerika Serikat (MC Millen Kaufman, dan Whitener, 1996)
mendefinisikan bahwa anak putus sekolah adalah murid yang tidak dapat menyelesaikan
program belajarnya sebelum waktunya selesai atau murid yang tidak tamat menyelesaikan
program belajarnya.

2.2. Jenis Putus Sekolah


Menurut Djumhur dan Surya (1975: 179) jenis putus sekolah dapat dikelompokkan atas tiga,
yaitu:
a. Putus sekolah atau berhenti dalam jenjang Putus sekolah dalam jenjang ini yaitu seorang
murid atau siswa yang berhenti sekolah tapi masih dalam jenjang tertentu. Contohnya
seorang siswa yang putus sekolah sebelum menamatkan sekolahnya pada tingkat SD, SLTP,
SLTA dan Perguruan Tinggi.
b. Putus sekolah di ujung jenjang Putus sekolah di ujung jenjang artinya mereka yang tidak
sempat menamatkan pelajaran sekolah tertentu. Dengan kata lain mereka berhenti pada
tingkatan akhir dalam dalam tingkatan sekolah tertentu. Contohnya, mereka yang sudah
duduk di bangku kelas VI SD, kelas III SLTP, kelas III SLTA dan sebagainya tanpa memperoleh
ijazah.
c. Putus sekolah atau berhenti antara jenjang Putus sekolah yang dimaksud dengan berhenti
antara jenjang yaitu tidak melanjutkan pelajaran ketingkat yang lebih tinggi. Contohnya,
seorang yang telah menamatkan pendidikannya di tingkatan SD tetapi tidak bisa
melanjutkan pelajaran ketingkat yang lebih tinggi.

2.3. Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah


Masalah anak putus sekolah disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:
1. Faktor Internal
Faktor internal yang menyebabkan anak putus sekolah antara lain:
a. Kemalasan
b. Hobi Bermain
c. Hukuman

2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang menyebabkan anak putus sekolah antara lain:
a. Keadaan status ekonomi keluarga
b. Perhatian orang tua
c. Hubungan orang tua yang kurang harmonis
d. atar belakang pendidikan orang tua
e. Kurangnya minat anak untuk bersekolah
f. Kondisi lingkungan tempat tinggal anak

Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, mengumumkan hasil
penelitian Hasil Bantuan Siswa Miskin Endline di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Ada temuan menarik, bahwa
sebanyak 47,3 persen responden menjawab tidak bersekolah lagi karena masalah biaya,
kemudian 31 persen karena ingin membantu orang tua dengan bekerja, serta 9,4 persen
karena ingin melanjutkan pendidikan nonformal seperti pesantren atau mengambil kursus
keterampilan lainnya.

Mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolah ini sebagian besar berijazah terakhir sekolah
dasar (42,1 persen) maupun tidak memiliki ijazah (30,7 persen). Meski demikian, rencana untuk
menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ternyata cukup besar, yakni 93,9
persen. Hanya 6,1 persen yan menyatakan tidak memiliki rencana untuk itu.
3. Perpustakaan
3.1. Definisi Perpustakaan
Menurut Sulistyo Basuki (1991: 3) dalam bukunya menyatakan bahwa perpustakaan yaitu
sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku atau bahan pustaka
lainnya yang di sususn menurut sistem tertentu. Menurut Undang-Undang Nomor 43
Tahun 2007, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan
karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan
pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Jadi
pengertian perpustakaan secara umum adalah sebuah bangunan fisik yang didalamnya
menyimpan berbagai jenis koleksi baik tercetak maupun tidak tercetak yang bermanfaat
bagi para pengguna dalam mencari sebuah informasi.
3.2. Jenis Perpustakaan
Menurut Sulistyo Basuki (1991: 42-52) ada beberapa jenis perpustakaan diantanya:
1. Perpustakaan International Perpustakaan international yaitu perpustakaan yang
didirikan oleh 2 negara atau lebih, dimana perpustakaan merupakan bagian dari
sebuah organisasi international.
2. Perpustakaan Nasional Perpustakaan nasional merupakan perpustakaan utama yang
didirikan di ibu kota negara dan paling komprehensif dalam melayani keperluan
informasi dari para penduduk.
3. Perpustakaan Umum Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang dibiayai oleh
dana umum yang terbuka untuk umum atau terbuka bagi siapa saja tanpa memandang
jenis kelamin, agama, ras, usia, pandangan politik, dan pekerjaan.
4. Perpustakaan Sekolah Perpustakaan sekolah yaitu perpustakaan yang terdapat pada
sebuah sekolah dan dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan dengan
tujuan membantu sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
5. Perpustakaan Pribadi Perpustakaan swasta atau perpustakaan pribadi yaitu
perpustakaan yang dikelola oleh pihak swasta atau pribadi dengan tujuan melayani
keperluan bahan pustaka bagi kelompok, keluarga, atau individu tertentu.
6. Perpustakaan Khusus Perpustakaan khusus merupakan perpustakaan yang terdapat di
sebuah departemen, lembaga negara, lembaga penelitian, organisasi massa, industri
maupun perusahaan swasta. Perpustakaan khusus mempunyai koleksi buku 8 yang
hanya terbatas pada beberapa disiplin ilmu saja dan keanggotaan perpustakaan
terbatas pada sejumlah anggota yang ditentukan oleh kebijakan perpustakaan.
7. Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi ialah perpustakaan
yang terdapat dilingkungan perguruan tinggi yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan informasi masyarakat perguruan tinggi yaitu para dosen, mahasiswa, dan
staf pegawai yang terdapat di lingkungan perguruan tinggi tersebut
DAFTAR PUSTAKA

Basuki, Sulistyo. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia

http://www.bpkp.go.id/pustakabpkp/index.php?p=perpustakaan%20ideal

http://www.pelangiblog.com/2016/07/pengertian-dan-definisi-pendidikan.html

https://ekameliyakin.wordpress.com/2013/06/26/jalur-jenjang-dan-jenis-pendidikan/

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/17/05/03/opchjr354-ini-tujuh-masalah-
pendidikan-di-indonesia-menurut-jppi

https://retnaningws.wordpress.com/2015/06/21/faktor-penyebab-anak-putus-sekolah/

http://student.cnnindonesia.com/edukasi/20170417145047-445-208082/tingginya-angka-putus-sekolah-
di-indonesia/

http://fajarriza.blogspot.co.id/2016/02/artikel-penanggulangan-anak-putus.html