Anda di halaman 1dari 77

LAPORAN AKHIR

PELAKSANAAN PEMBEKALAN
PESERTA PLPG TAHUN 2017

Nama Peserta : TRI WAHYU WIDIASTUTI


NUPTK : 7142762663210163

Nomor Peserta : 17031002010314


Bidang Studi Sertifikasi : GURU KELAS TK
Sekolah/Tempat Tugas : TK PERTIWI BOWAN
Kabupaten/Kota/Propinsi : KLATEN/JAWA TENGAH
Mentor Pembekalan : ACHAMD FATHONI
Nomor Telepon Peserta : 088216522523

PANITIA SERTIFIKASI GURU SUB RAYON 141


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
TAHUN 2017
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR PELAKSANAAN PEMBEKALAN
PESERTA PLPG TAHUN 2017

1. Nama Peserta : TRI WAHYU WIDIASTUTI


2. NUPTK : 7142762663210163
3. Nomor Peserta : 17031002010314
4. Nomor Telepon : 088216522523
5. Email : Tiazayui90@gmail.com
6. Bidang Studi Sertifikasi : GURU KELAS TK
7. Status : PNS / Non PNS
8. NIP/NIK :
9. Golongan :
10. TMT Pendidikan : 01 AGUSTUS 2010
11. Jenis Kelamin : PEREMPUAN
12. Tempat, Tgl Lahir : KLATEN, 10 AGUSTUS 1984
13. Pendidikan Terakhir : D4/S1/S2
Nama Perguruan Tinggi : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SURAKARTA
Tahun Lulus : 2013
14. Jenjang Tempat Tugas : TK/SD/SMP/SMA/SMK
15. Mata Pelajaran/Guru Kelas GURU KELAS
16. Sekolah/Tempat Tugas : TK PERTIWI BOWAN
Alamat BOWAN
Kecamatan DELANGGU
NPSN
Kabupaten/Kota/Propinsi : KLATEN/ JAWA TENGAH
kabupaten, ..............................
2017
Kepala Sekolah Peserta,

___SUPADMI_______________________ __________________________
NIP/NIK NIP/NI
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami
dapat menyelesaikan Laporan Akhir Pembekalan PLPG.

Laporan ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari mentor pembimbing sehingga dapat memperlancar jalannya pembuatan
Laporan ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada mentor
pembimbing yang telah berkontribusi dalam pembuatan laporan ini. Terlepas
dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
segi susunan kalimat maupun tata bahasannya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik agar kami dapat memperbaiki
laporan ini dan akhir kata kami berharap semoga laporan akhir pembekalan
Materi PLPG ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. ii


KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv

BAB I. SUMBER BELAJAR PEDAGOGIK ......................................................5


A. Ringkasan materi .......................................................................................5
1. Pengembangan pendidikan karakter dan potensi peserta didik .............5
2. Teori belajar ........................................................................................19
3. Model model pembelajaran .................................................................26
4. Media Pembelajaran ............................................................................30
5. Evaluasi hasil belajar ...........................................................................37
B. Deskripsikan kemajuan setelah pembekalan............................................39
1. Materi yang sudah Anda pahami/kuasai .............................................39
2. Materi yang belum dapat Anda kuasai ................................................40
C. Materi esensial yang tidak ada dalam Sumber Belajar ............................40
D. Materi yang tidak esensial dalam Sumber Belajar ..................................41
E. Masukan-masukan mentor saat kegiatan pembekalan .............................42

BAB II. SUMBER BELAJAR BIDANG STUDI ..............................................43


A. Ringkasan materi ........................................................................................70
B. Deskripsi kemajuan ...................................................................................71
1. Materi yang sudah Anda pahami/kuasai .............................................71
2. Materi yang belum dapat Anda pahami/kuasai ...................................72
C. Materi esensial yang tidak ada dalam Sumber Belajar ...................................72
D. Materi yang tidak esensial namun ada dalam Sumber Belajar .......................74
E. Kemajuan dalam menyelesauikan Latihan Soal Uraian ............................75

BAB III. PENUTUP .............................................................................................77


BAB I. SUMBER BELAJAR PEDAGOGIK

A. RINGKASAN MATERI
1. Pengembangan pendidikan karakter dan potensi peserta didik.
Kompetensi Pedagogik yang harus dikuasai oleh guru salah satunya
adalah memahami karakteristik anak didiknya, sehingga tujuan
pembelajaran, materi yang disiapkan, dan metode yang dirancang untuk
menyampaikannya benar-benar sesuai dengan karakteristik anaknya.
Perbedaan karakteristik anak salah satunya dipengaruhi oleh
perkembangannya.
a. Metode Dalam Psikologi Perkembangan
Metode yang sering dipakai dalam penelitian perkembangan manusia
ada 2, yaitu:
1. Metode Longitudinal
Penelitian yang menggunakan metode Longitudinal yaitu
peneliti mengamati dan mengkaji perkembangan satu atau banyak
orang yang sama usia dalam waktu yang lama.
Kelebihan metode longitudina adalah kesimpulan yang diambil
lebih meyakinkan, karena membandingkan karakteristik anak yang
sama pada usia yang berbeda-beda, sehingga setiap perbedaan dapat
diasumsikan sebagai hasil perkembangan dan pertumbuhan. Adapun
kekurangan metode ini adalah membutuhkan waktu sangat lama
untuk mendapat hasil yang sempurna.
2. Metode Cross Sectional
Metode Cross Sectional adalah penelitian yang mengamati
dan mengkaji banyak anak dengan berbagai usia dalam waktu yang
sama. Penelitian dengan metode ini tidak membutuhkan waktu yang
lama, sehingga hasilnya cepat diketahui. Tetapi penelitian denga
metode ini memiliki kelemahan yaitu peneliti menganalisis
perbedaan karakteristik anak-anak yang berbeda, sehingga
diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan.
b. Pendekatan dalam Psikologi Perkembangan
Kajian perkembangan manusia dapat menggunakan 2
pendekatan, yaitu pendekatan menyeluruh dan pendekatan pendekatan
khusus (Nana Sodih Sukmadinata, 2009). Pendekatan
menyeluruh/global yaitu pendekatan yang menganalisis seluruh segi
perkembangan yakni perkembangan fisik, motorik, sosial, intelektual,
moral, emosi, religi. Sedangkan pendekatan khusus adalah penelitian
yang memfokuskan kajiannya hanya memfokuskan saah satu aspek
saja, misalnya aspek fisik saja, atau aspek moralnya saja.
c. Teori Perkembangan
Ada 2 teori yang akan dibahas dalam modul ini, yaitu Teori
menyeluruh/global (Rousseau, Stanley Hall, Havigurst), dan Teori
Khusus/Spesifik (Piaget, Kohlbergf, Erikson).
1. Jean Jacques Rousseau
Menurutn Rousseau, perkembangan anak terbagi menjadi empat
tahap, yaitu sebagai berikut:
a). Masa bayi infancy (0-2 tahun)
Masa byi infancy adalah masa perkembangan fisik.
Kecepatan pertumbuhan fisik lebih dominan dibandingkan
perkembangan aspek lain, sehingga anak disebut sebagai
binatang yang sehat.

b). Masa anak / childhood (2-12 tahun)

Masa anak/childhood disebut masa perkembangan sebagai


manusia primitive. Kecuali masih terjadi pertumbuhan fisik
secara pesat, aspek lain sebagai manusia juga mulai
berkembang, misalnya kemampuan berbicara, berfikir,
intelektual, moral, dan lain-lain.

c). Masa remaja awal / pubescence (12-15 tahun)


Masa remaja awal/pubescence disebut masa remaja
awal/pubescence, ditandai dengan perkembangan pesat
intelektual dan kemampuan bernalar juga disebut masa
bertualang.

d). Masa remaja / adolescence (15-25 tahun, disebut maswa remaja


/ adolescence. Pada masa ini aspek seksual, sosial, moral, dan
nurani berkembang sangat pesat. Masa ini diebut juga masa hidup
sebagai manusia beradab.

b. Stanley Hall
Stanley Hall membagi masa perkembangan menjadi empat tahap,
yaitu:
1) Masa kanak-kanak / infancy (0-4 tahun)
Pada usia-usia ini, perkembangan anak disamakan dengan
binatang, yaitu melata atau berjalan.
2) Masa anak / childhood (4-8 tahun)
Masa ini disebut masa pemburu, anak haus akan pemahaman
lingkungannya, sehingga akan berburu kemanapun, mempelajari
lingkungan sekitarnya.
3) Masa puber / youth 8-12 tahun)
Pada masa ini anak tumbuh dan berkembang tetapi sebagai
makhluk yang belum beradab. Banyak hal yang masih harus
dipelajari untuk menjadi makhluk yang beradab di
lingkungannya, seperti yang berkaitan dengan sosial, emosi,
moral, intelektual.
4) Masa remaja / adolescence (12 dewasa)
Pada masa ini, anak mestinya sudah menjadi manusia beradab
yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan dunia yang
selalu berubah.
c. Robert J. Havigurst
Robert J. Havigurts menyusun tahap-tahap perkembangan menjadi
5 tahap berdasarkan problema yang harus dipecahkan dalam setiap
fase, yaitu:
1) Masa bayi / infancy (0 tahun)
2) Masa anak awal/early childhood (2/3 5/7 tahun)
3) Masa anak / late childhood (5/7 tahun pubesen)
4) Masa adolesense awal / early adolescence (pubesen pubertas)
5) Masa adolescence / late adolescence (pubertas dewasa)
Ada 10 tugas perkembangan yang harus dikuasai anak pada setiap
fasenya, yaitu:
1) Ketergantungankemandirian
2) Memberi menerima kasih sayang
3) Hubungan sosial
4) Perkembangan kata hati
5) Peran biososio dan psikologis
6) Penyesuaian dengan perubahan badan
7) Penguasaan perubahan badan dan motorik
8) Memahai dan mengendalikan lingkungan fisik
9) Pengembangan kemampuan konseptual dan sistem simbol
10) Kemampuan melihat hubungan dengan alam semesta
d. Jean Piaget (Ilmuwan asal Swiss)
Piaget mengelompokkan menjadi 4 tahap berdasarkan aspek
perkembangan kognitif anak, yaitu:
1) Tahap sensorimotorik (0-2 tahun)
Tahap ini juga disebut masa discriminating dan labeling. Pada
masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak reflex,
bahasa awal, dan ruang waktu sekarang saja.
2) Tahap praoperasional (2-4 ahun)
Pada tahap praoperasional atau prakonseptual, disebut juga
dengan masa intuitif, anak mulai mengembangkan kemampuan
menerima stimulus secara terbatas. Kemampuan bahasa mulai
berkembang, pemikiran masih statis, belum dapat berfikir
abstrak, dan kemampuan persepsi waktu dan ruang masih
terbatas.
3) Tahap operasional konkrit (7-11 tahun)
Tahap ini juga disebut masa performing operation. Pada masa
ini, anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas
menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan,
melipat, dan membagi.
4) Tahap operasonal formal (11-15 tahun)
Tahap ini juga disebut masa proportional thinking. Pada masa
ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi, seperti berfikir
secara deduktif, induktif, menganalisis, mensintesis, mampu
berfikir secara abstrak dan secara reflektif, serta mampu
memecahkan berbagai masalah.
e. Lawrence Kohlberg
Menurut Kohlberg, perkembangan kognitif anak terbagi menjadi 3
tahapan, yaitu:
1) Preconventional Moral Reasoning
Obidience and Paunisment Orientation
Pada tahap ini, orientasi anak masih pada
konsekuensi fisik dari perbuatan benar-salahnya, yaitu
hukuman dan kepatuhan. Mereka hormat kepada penguasa,
penguasalah yang menetapkan aturan / undang-undang,
mereka berbuat benar untuk menghindari hukuman.
Naively Egoistic Orientation
Pada tahap ini, anak beorientasi pada instrument
relative. Perbuatan benar adalah perbuatan yang secara
instrument memuaskan keinginannya sendiri dan (kadang-
kadang) juga orang lain. Kepeduliannya pada
keadilan/ketidakadilan bersifat pragmatic, yaitu apakah
mendatangkan keuntungan atau tidak.
2) Conventional Moral Orientation
Good Boy Orientation
Pada tahap ini, orientasi perbuatan baik adalah yang
menyenangkan, membantu, atau disepakati oleh orang lain.
Orientasi ini juga disebut good/nice boy orientation.
Authority and Social Order Maintenace Orientation
Pada tahap ini, orientasi anak adalah pada aturan dan hukum.
Anak menganggap perlu menjaga ketertiban, memenuhi
kewajiban dan tugas umum, mencegah terjadinya kekacauan
sistem.
3) Post Conventional Moral Reasoning
Contranctual Legalistic Orientation
Pada tahap ini, orientasi anak pada legalitas kontrak sosial.
Anak menyadari bahwa nilai (benar/salah, baik/buruk,
suka/tidak sukad, dll) adalah relatif, menyadari bahwa
hukum adalah instrumen yang disetujui untuk mengatur
kehidupan masyarakat, dan itu dapat diubah melalui diskusi
apabila hukum gagal mengatur masyarakat.
Conscience or Principle Orientation
Orientasi adalah pada prinsip-prinsip etika yang bersifat
universal.
f. Erick Homburger Erickson
Menurut Erickson, bahwa perkembangan anak melewati delapan
tahap perkembangan (developmental stages), disebut siklus
kehidupan (life cycle) yang ditandai dengan adanya krisis
psikososial tertentu.
1) Tahap I (usia 0-1): Turst vs misturst
Kemampuan pada tahap ini adalah: Menerima, dan sebaliknya,
memberi.
Pada tahap Basic trust vs mistrust (infancy bayi), anak baru
mulai mengenal dunia, perhatian anak adalah mencari rasa aman
dan nyaman. Lingkungan dan sosok yang mampu menyediakan
rasa nyaman / aman itulah yang dipercaya oleh anak.
2) Tahap II (usia 2-3): Autonomy vs Shame
Kemampuan yang dimiliki pada tahap ini adalah: menahan atau
membiarkan.
Pada tahap Autonomy vs shame and doubt (toddler masa
bermain), anak tidak
ingin sepenuhnya tergantung pada orang lain. Anak mulai
mempunyai keinginan dan kemauan sendiri.
3) Tahap III (usia 3-6): Initiative vs guilt
Kemampuan pada tahap ini, adalah menjadikan seperti mainan.
Pada tahap Initiative vs guilt (preschoolprasekolah), anak mulai
tumbuh inisiatif yang perlu difasilitasi, didorong, dan dibimbing
oleh orang dewasa disekitarnya.
4) Tahap IV (usia 7-12): Industry vs Inferiorit
Kemampuannya: membuat atau merangkai sesuatu.
Pada tahap ini, Industry vs inferiority (schoolage masa
sekolah), anak cenderung luar biasa sibuk melakukan berbagai
aktifitas yang diharapkan mempunyai hasil dalam waktu cepat.
Keberhasilan dalam aktifitas akan menjadikan anak merasa puas
dan bangga, begitu pula sebaliknya mereka akan kecewa jika
usaha mereka gagal.
Tahap V (usia 12-18): Identity vs role confusion Kemampuan
pada tahap ini adalah: menjadi diri sendiri, berbagi konsep diri.
Pada tahap Identity vs role confusion (asolescence remaja),
anak dihadapkan pada kondisi pencarian identittas diri. Jati diri
ini akan berpengaruh besar pada masa depan. Faktor lingkungan
juga sangat mempengaruhi.
5) Tahap VI (usia 20an): Intimacy vs isolation
Kemampuan pada tahap ini adalah: melepas dan mecari jati diri.
Pada tahap Intimacy vs isolation (young adulthood dewasa
awal), anak mulai menyadari bahwa meskipun harus melakukan
komunikasi dengan masyarakat dan teman sebaya, tetapi dalam
hal-hal tertentu ada yang harus bersifat pribadi.
6) Tahap VII (usia 20-50): Generativity vs Stagnation
Pada tahap ini kemampuannya adalah membuat dan me
melihara.
Pada tahap ini sudah muncul adanya rasa tanggung jawab.
Bentuk kepedulian tidak hanya dalam bentuk peran sebagai
orang tua, tetapi juga perhatian dan kepedulian pada anak-anak
yang merupakan generasi penerus.
7) Tahap VIII (usia > 50: Ego integrity vs despair

Ini merupakan tahap akhir dari siklus kehidupan. Individu akan


melakukan introspeksi, mereview kembali perjalanan hidup yang
telah dilaluiny, diharapkan tidak ada penyesalan.

A. Karakteristik perkembangan anak usia dini.


Anak memliki perkembangan yang unik. Karakteristik perkembangan
anak dikelompokkan sesuai dengan bidang pengembangan pendidikan anak
usia dini, yaitu nilai moral dan agama, sosial-emosional, kognitif, bahasa,
fisik motorik dan seni.
1. Karakteristik perkembangan Nilai Moral dan Agama Anak
Kolhberg (dalam Santrock,2007), mengemukakan bahwa
perkembangan moral manusia berlangsung secara bertahap. Masing-
masing tahap terdiri atas dua level. Pada level pertama, anak belajar
moral berdasarkan orientasi pada kepatuhan dan hukuman. Anak mau
melakukan perbuatan baik karena akan mendapat imbalan yang
menyenangkan sedangkan perbuatan buruk karena ingin menghindari
hukuman, bukan karena kesadaran mau berbuat baik dan meninggalkan
yang buruk.
Pada level selanjutnya orang akan berbuat baik atau sesuai
dengan norma moral karena sudah memahami bahwa standar moral itu
baik untuk dilakukan. Ada keharusan di dalam dirinya untuk berbuat
baik dan jika tidak, maka akan merasa bersalah dan berdosa. Kesadaran
ini akan membawa ketenangan diri dalam kehidupan masyarakat.
Karakteristik perkembangan moral dan nilai keberagamaan
a) Anak usia 1 tahun: pada usia setahun anak sudah mampu
memperhatikan perilaku keagamaan yang diterima melalui
inderanya.
b) Anak usia 2 tahun: pada usia ini anak menunjukkan
perkembangan moral dimana anak mulai meniru perilaku
keagamaan secara sederhana dan mulai mengekspresikan rasa
sayang dan cinta kasih.
c) Anak usia 3 tahun: anak menunjukkan ciri moral tertentu yang
berbeda dengan usia sebelumnya. Di sini anak mampu meniru
secara terbatas perilaku keagamaan yang dilihat dan
didengarnya.
d) Anak usia 4 tahun: anak sudah mampu meniru dan
mengucapkan bacaan doa/lagu-lagu keagamaan dan gerakan
beribadah secara sederhana. Mereka mulai berperilaku
baik/sopan apabila diingatkan. Komunikasi dan interaksi moral
yang baik akan mendorong perkembangan moral secara cepat.
e) Anak usia 5 tahun: anak mampu mengucapkan bacaan doa/lagu-
lagu keagamaan, meniru gerakan beribadah, mengikuti aturan
serta mampu belajar berperilaku baik dan sopan bila diingatkan.
f) Anak usia 6 tahu: dimana anak sudah mampu melakukan
perilaku keagamaan secara berurutan dan mulai belajar
membedakan perilaku baik dan buruk, hal ini Seiring dengan
tahap berpikir.
2. Karakteristik Perkembangan Sosial-Emosional Anak
Perkembangan sosial meliputi dua aspek penting yaitu
kompetensi sosial dan tanggung jawab sosial. Kompetensi sosial
menggambarkan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan
lingkungan sosial secara efektif. Sedangkan tanggung jawab sosial
ditunjukkan dengan komitmen anak terhadap tugas-tugasnya,
menghargai perbedaan individual, memperhatikan lingkungannya, dan
mampu menjalankan fungsinya sebagai warga negara yang baik.
Pada usia 2 tahun, anak-anak mencoba memantapkan identitas
dirinya dan selalu ingin menunjukkan kemauan dan kemampuannya
dengan pernyataan inilah saya, saya bisa. Tidak jarang pada saat
tersebut anak dinilai sebagai anak yang keras kepala.
Pada usia 3 tahun, anak-anak mulai memantapkan
hubungannya dengan anggota keluarga dan orang di luar mereka.
Pada usia 4 tahun, anak mulai memiliki satu atau dua sahabat,
tetapi sahabat ini cepat berganti, kelompok bermain yang dibangun
pada anak usia ini cenderung kecil dan tidak terlalu terorganisir secara
baik. Oleh karena itu kelompok tersebut cepat berganti-ganti.
Emosi merupakan suatu keadaan perasaan yang kompleks yang
disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris (Saputra dan
Rudyanto, 2005). Keadaan kompleks tersebut dapat berupa perasaan
ataupun getaran jiwa yang ditandai dengan perubahan biologis yang
muncul menyertai terjadinya perilaku. Adapun fungsi dari emosi adalah
sebagai bentuk komunikasi tentang kebutuhan dan perasaan pada orang
lain serta mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan
lingkungan sosialnya. Emosi dapat berupa emosi gembira, marah, takut,
dan sedih.
Terjadinya emosi meliputi 5 tahapan, yaitu:
1) adanya dorongan berupa situasi atau peristiwa
2) terjadi aktivitas di pusat sistem syaraf
3) perubahan khusus yang terjadi dalam aspek fisiologis
4) terjadinya perubahan pada bagian fisik yang dapat diamati seperti
wajah-tubuh-suara
5) persepsi dan interpretasi individu pada kondisi emosionalnya.
3. Karakteristik Perkembangan Kognitif Anak
Menurut Piaget (1971:23), anak usia TK berada pada periode
praoperasional (usia 2 7 tahun), adapun ciri-cirinya:
a) Pada usia 24 tahun anak sering bertanya, mencari dan menyelidiki
sendiri. Anak mulai tertarik pada mengapa dan bagaimana.
Masa ini disebut dengan masa prakonseptual.
b) Usia 47 tahun penalarannya berkembang secara intuitif, yaitu
penalaran yang terjadi secara spontan tanpa pertimbangan rasional
maupun intensional, sehingga pendapat dan pemikiran anak bersifat
fragmentaris (lepas-lepas) dan tidak konsisten.
c) Pada perkembangan berikutnya, anak memiliki kemampuan untuk
memahami (concervation) beberapa pengertian baru yaitu tentang
jumlah (usia 5 tahun), berat (usia 6 tahun) , isi atau volume (usia 7
tahun).
d) Penalaran anak masih diwarnai oleh fantasinya, alat-alat permainan
harus hidup/kongkrit sesuai dengan fantasinya.
e) Egosentris anak mulai berkurang, sehingga permainan yang
dilakukan sudah memiliki sifat sosial, anak sudah mebutuhkan
teman bermain.
4. Karakteristik Perkembangan Bahasa Anak
Bahasa merupakn alat untuk berkomunikasi, menyampaikan ide
dan gagasannya, bercakap-cakap dengan orang orang lain dan sebagai
alat berpikir.
Sefeldt dan Nita B (1994), mengemukakan bahwa perkembangan
bahasa anak usia 4-6 tahun secara umum adalah sebagai berikut:
a) Perkembangan bahasa terjadi sangat cepat.
b) Pada usia tiga tahun, anak berbicara secara monolog dan pada usia
4 tahun anak menguasai 90% phonetic dan sintaksis, tetapi masih
sangat umum.
c) Anak sudah mampu terlibat dalam percakapan dengan anak atau
orang dewasa lainnya.
d) Diawal usia 5 tahun, anak sudah memiliki perbendaharaan kata
sebanyak kira-kira 2500 kata.
e) Anak sering mengalami kesulitan mengucapkan suara huruf l, r, sh.
f) Anak sering salah mengerti tentang kata-kata dan digunakannya
sebagai humor.
g) Anak menjadi pembicara yang tidak putus-putus.
5. Karakteristik Perkembangan Motorik Anak
Snowman (Patmonodewo, 1994) mengemukakan bahwa karakteristik
perkembangan fisik-motorik anak adalah:
a) Anak pada umumnya sangat aktif. Mereka memiliki penguasaan
terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukannya
sendiri.
b) Anak memerlukan istirahat yang cukup setelah melakukan suatu
kegiatan. Namun hal tersebut sering tidak disadari dan ingin selalu
melakukan aktivitas yang dapat memuaskan dirinya.
c) Perkembangan otot besar (motorik kasar) lebih dominan dari pada
otot kecilnya (motorik halus). Oleh karena itu, anak belum terampil
melakukan kegiatan yang rumit (kompleks).
d) anak masih sering mengalami kesulitan dalam memfokuskan
pandangannya pada obyek-obyek yang berukuran kecil. Hal ini
karena koordinasi antara tangan dan mata belum sempurna.
e) Tubuh anak masih bersifat lentur, demikian pula tengkorak kepala
yang melindungi otak masih lunak.
f) Anak perempuan lebih terampil dalam melakukan tugas-tugas
praktis khususnya yang berkaitan dengan motorik halus dari pada
anak laki-laki.
6. Karakteristik Perkembangan Seni Anak
Piaget dan Inhelder (seefeldt dan Nita B, 1994), mengemukakan
bahwa anak usia 2-5 tahun berada pada tahap preskematik. Pada tahap
ini, anak memikirkan suatu obyek dan mulai merepresentasikannya
dalam tulisan cakar ayam, tetapi masih memiliki sifat dan fungsi yang
berubah-ubah.

Karakteristik perkembangan kecerdasan visual-spatial antara lain:

a) Anak menikmati dan melewatkan waktu luangnya dengan


membuat ilustrasi, sketsa, menggambar dan melukis.
b) Anak menikmati membuat barang-barang sederhana seperti
menggulung tisu.
c) Anak senang bermain teka-teki dengan puzzle, maze dan teka-teki
visual lainnya.
d) Anak melihat gambaran yang jelas ketika berpikir.
e) Anak banyak berimajinasi dan memiliki imajinasi yang aktif.
f) Anak senang bermain dengan balok-balok.
g) Anak menikmati berlatih sendiri dan menyukai pakaian warna-
warni, serta mud ah memahami peta, bagan dan diagram (Gardner
dalam Lwin,dkk., 1995).
B. Permasalahan Perkembangan Anak
1. Permasalahan Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik dan Motorik Anak
Wiyani (2014), bahwa Permasalahan tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Malnutrisi: masalah kekurangan gizi sering kali dialami oleh anak
karena kurangnya pengetahuan orang tua tentang asupan gizi anak.
Anak yang mengalami malnutrisi menunjukkan gejala seperti badan
yang kurus, lemah, tidak bersemangan.
b. Obesitas: anak yang mengalami obesitas dapat dilihat dari ukuran
tubuhnya yang lebih gemuk ketimbang anak seusianya dan berat
badannya melebihi standar.
c. Masalah dalam keterampilan motorik kasar, seperti
ketidakmampuan dalam mengatur keseimbangan tubuh, reaksi yang
kurang cepat dan koordinasi tubuh yang kurang baik.
d. Masalah yang dialami oleh anak dalam motorik halus, seperti belum
bisa menggambar bentuk yang bermakna, serta belum bisa mewarnai
dengan halus dan rapi.
2. Permasalahan Perkembangan Kognitif Anak
Permasalahan yang berkaitan dengan perkembangan kognitif
adalah:
a. Anak berpikir secara irasional
b. Anak suka berpikiran negatif
c. Gejala lain yang tampak pada anak yang mengalami permasalahan
dalam perkembangan kognitif adalah suka menyalahkan orang lain,
malas masuk sekolah, tidak mau belajar, sulit menghafal kata, nama
benda dan tempat, tidak berkonsentrasi dalam belajar, terlambat
berpikir, pelupa, rasa ingin tahu yang rendah, dan lain sebagainya
(Wiyani, 2014).
3. Permasalahan Perkembangan Bahasa Anak
a. Gagap, di mana anak mengalami gangguan bicara berupa kesalahan
dalam ucapan dengan cara mengulang-ulang bunyi atau suku kata,
atau konsonan.
b. Gangguan bahasa reseptif dan ekspresif; anak yang mengalami
gangguan bahasa reseptif yaitu anak mengalami kesulitan untuk
mengerti apa yang dikatakan oleh orang lain. Sementara anak yang
mengalami gangguan bahasa ekspresif cenderung kesulitan
mengekspresikan dirinya dalam berbicara (Wiyani, 2014).
4. Permasalahan Perkembagan Sosial-Emosional Anak
Santrock (2007), bahwa permasalahan perkembangan sosial-
emosional yaitu anak sering kali mengalami depresi. Depresi pada masa
kanak-kanak ditunjukkan dengan perilaku seperti agresi, kecemasan,
prestasi yang buruk di sekolah, perilaku anti sosial, dan juga hubungan
yang buruk dengan teman sebayanya.
Wiyani (2014), bahwa anak yang mengalami permasalahan dalam
perkembangan sosial emosionalnya antara lain penakut, pencemas,
perasaan bersalah, rasa kecewa berlebihan, rendah diri, dan pemalu.
5. Permasalahan Perkembangan Nilai Moral Agama Anak
Wiyani (2014), mengemukakan bahwa ada 5 problematika
perkembangan moral dan agama yaitu: anak suka berkata kotor, suka
berbohong, suka mencuri, suka menghina, dan berprilaku agresif.

2. Teori Belajar
Dalam proses pembelajaran di PAUD, penguasaan seorang guru
terhadap bahan belajar dan pengelolaan kelas sangat penting, namun
belum cukup untuk menghasilkan pembelajaran yang optimal. Untuk itu
guru wajib menguasai tentang teori-teori belajar, yang digunakan untuk
mengarahkan anak berpartisipasi secara intelektual dalam belajar,
sehingga belajar menjadi bermakna bagi anak. Hal ini sesuai dengan isi
lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 137
Tahun 2014 tentang Standar Pendidik PAUD Guru yang menyebutkan
bahwa penguasaan teori belajar dan prinsip-prinsip bermain sambil belajar
menjadi salah satu unsur kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru.
Jika seorang guru akan menerapkan suatu teori belajar dalam proses
belajar mengajar, maka guru tersebut harus memahami seluk beluk teori
belajar tersebut sehingga selanjutnya dapat merancang dengan baik bentuk
proses belajar mengajar yang akan dilaksanakan. Psikologi belajar atau
disebut dengan Teori Belajar adalah teori yang mempelajari
perkembangan intelektual (mental) anak. Di dalamnya terdiri atas dua hal,
yaitu: (1) uraian tentang apa yang terjadi dan diharapkan terjadi pada
intelektual anak, (2) uraian tentang kegiatan intelektual anak mengenai
hal-hal yang bisa dipikirkan pada usia tertentu. Terdapat beberapa aliran
dalam psikologi belajar, yakni aliran psikologi tingkah laku
(behavioristik), dan aliran psikologi kognitif (konstruktivisme)
1. Teori belajar behavioristik
Psikologi belajar atau disebut juga dengan teori belajar adalah teori
yang mempelajari perkembangan intelektual (mental) individu
(Suherman, dkk: 2001: 30). Didalamnya terdapat dua hal, yaitu 1) uraian
tentang apa yang terjadi dan diharapkan terjadi pada intelektual; dan 2)
uraian tentang kegiatan intelektual anak mengenai hal-hal yang bisa
dipikirkan pada usia tertentu Dikenal dua teori belajar, yaitu teori belajar
tingkah laku (behaviorisme) dan teori belajar kognitif. Teori belajar
tingkah laku dinyatakan oleh Orton (1987: 38) sebagai suatu keyakinan
bahwa pembelajaran terjadi melalui hubungan stimulus (rangsangan) dan
respon (response). Berikut dipaparkan empat teori belajar tingkah laku
yaitu teori belajar dari Thorndike, Skinner, Pavlov, dan Bandura.
a. Teori belajar Thorndike
Edward Lee Thorndike (18741949) mengemukakan beberapa
hukum belajar yang dikenal dengan sebutan Law of effect. Belajar
akan lebih berhasil bila respon anak terhadap suatu stimulus segera
diikuti dengan rasa senang atau kepuasan. Rasa senang atau kepuasan
ini bisa timbul sebagai akibat anak mendapatkan pujian atau ganjaran
lainnya. Stimulus ini termasuk reinforcement. Teori belajar stimulus-
respon yang dikemukakan oleh Thorndike ini disebut juga teori
belajar koneksionisme. Terdapat beberapa dalil atau hukum yang
terkait dengan teori koneksionisme yaitu hukum kesiapan (law of
readiness), hukum latihan (law of exercise) dan hukum akibat (law of
effect).
1) Hukum kesiapan (law of readiness) menjelaskan kesiapan seorang
anak dalam melakukan suatu kegiatan.
2) Hukum latihan (law of exercise) menyatakan bahwa jika
hubungan stimulus- respon sering terjadi, akibatnya hubungan akan
semakin kuat, sedangkan makin jarang hubungan stimulus-respon
dipergunakan, maka makin lemah hubungan yang terjadi.
3) Hukum akibat (law of effect) menjelaskan bahwa apabila asosiasi
yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu
kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat.
Implikasi dari teori belajar Thorndike (koneksionisme) ini dalam
kegiatan pembelajaran sehari-hari adalah:
a. Untuk menjelaskan suatu konsep, guru sebaiknya mengambil contoh
yang sekiranya sudah sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Alat peraga dari alam sekitar akan lebih dihayati.
b. Metode pemberian tugas, metode latihan (drill dan practice) akan
lebih cocok untuk penguatan dan hafalan. Dengan penerapan metode
tersebut anak akan lebih banyak mendapatkan stimulus sehingga
respon yang diberikan pun akan lebih banyak.
c. Hierarkis penyusunan komposisi materi dalam kurikulum merupakan
hal yang penting. Materi disusun dari materi yang mudah, sedang, dan
sukar sesuai dengan tingkat kelas, dan tingkat sekolah.
b. Teori Belajar Pavlov
Pavlov terkenal dengan teori belajar klasik. Pavlov mengemukakan
konsep pembiasaan (conditioning). Terkait dengan kegiatan belajar
mengajar, agar anak belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya,
agar anak muncul perkembangan motorik halus yang baik, maka anak
dibiasakan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan motorik halus
misalnya meronce dan melipat.
c. Teori Belajar Skinner
BF. Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai
peranan yang amat penting dalam proses belajar. Terdapat perbedaan
antara ganjaran dan penguatan. Ganjaran merupakan respon yang sifatnya
menggembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya subjektif,
sedangkan penguatan merupakan sesuatu yang mengakibatkan
meningkatnya kemungkinan suatu respon dan lebih mengarah pada hal-hal
yang dapat diamati dan diukur. Skinner menyatakan bahwa penguatan
terdiri atas penguatan positif dan penguatan negatif.
2. Teori belajar kognitif
Dua pakar yang menonjol di bidang psikologi kognitif, Jean Piaget
(1896-1980) dan Lev Vygotsky (1896-1934). Revolusi kognitif dalam
psikologi merupakan respon terhadap behaviorisme yang mendominasi
sekolah-sekolah pada waktu itu dengan psikologi eksperimen.
a. Teori belajar Bruner
Dalam bukunya (Bruner, 1960) mengemukakan empat tema
pendidikan, yakni: (1) Pentingnya arti struktur pengetahuan. (2)
Kesiapan (readiness) untuk belajar. (3) Nilai intuisi dalam proses
pendidikan. (4) motivasi atau keinginan untuk belajar beserta cara-cara
yang dimiliki para guru untuk merangsang motivasi itu.
Menurut Bruner dalam belajar melibatkan tiga proses yang
berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses tersebut adalah (1)
memperoleh informasi baru, (2) transformasi informasi, dan (3) menguji
relevan informasi dan ketepatan pengetahuan.
Bruner menyebut pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan
kognitif sebagai
konseptualisme instrumental . Pandangan ini berpusat pada dua prinsip,
yaitu: (1) pengetahuan seseorang tentang alam didasarkan pada model-
model tentang kenyataan yang dibangunnya dan (2) model-model
semacam itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan seseorang, kemudian
model-model itu diadaptasi pada kegunaan bagi orang yang bersangkutan.
Bruner (1966) mengemukakan bahwa terdapat tiga sistem
keterampilan untuk menyatakan kemampuan-kemampuan secara
sempurna. Ketiga sistem keterampilan itu adalah yang disebut tiga cara
penyajian (modes of presents), yaitu:
1) Cara penyajian enaktif
Cara penyajian enaktif adalah melalui tindakan, anak terlibat secara
langsung dalam memanipulasi (mengotak-atik )objek, sehingga bersifat
manipulatif.
2) Cara penyajian ikonik
Cara penyajian ikonik didasarkan pada pikiran internal dimana
pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik,
yang dilakukan anak berhubungan dengan mental, yang merupakan
gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.
3) Cara penyajian simbolik
Cara penyajian simbolik didasarkan pada sistem berpikir abstrak,
arbitrer, dan lebih fleksibel.
b. Teori belajar Lev Vygotsky
Menurut pandangan konstruktivisme tentang belajar, individu akan
menggunakan pengetahuan siap dan pengalaman pribadi yang telah
dimilikinya untuk membantu memahami masalah atau materi baru.
Vygotsky menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep
perlu memperhatikan lingkungan sosial. Ada dua konsep penting dalam
teori Vygotsky, yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan
scaffolding. Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak
antara tingkat perkembangan aktual (yang didefinisikan sebagai
kemampuan pemecahan masalah secara mandiri) dan tingkat
perkembangan potensial (yang didefinisikan sebagai kemampuan
pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui
kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu).
Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa
selama tahap- tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan
dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab
yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya.
Vygotsky menekankan bahwa pengkonstruksian pengetahuan seorang
individu dicapai melalui interaksi sosial.
Tahap perkembangan aktual (Tahap I) terjadi pada saat siswa berusaha
sendiri menyudahi konflik kognitif yang dialaminya. Perkembangan
potensial (Tahap II) terjadi pada saat siswa berinteraksi dengan pihak lain
dalam komunitas kelas yang memiliki kemampuan lebih, seperti teman
dan guru, atau dengan komunitas lain seperti orang tua.
Proses internalisasi (Tahap III) menurut Vygotsky merupakan aktivitas
mental tingkat tinggi jika terjadi karena adanya interaksi sosial.
c. Teori belajar Bandura
Teori ini dikenal dengan teori belajar sosial. Bandura mengemukakan
bahwa anak belajar melalui meniru. Pengertian meniru di sini bukan
berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain,
terutama guru.
Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory) dari Bandura
didasarkan pada tiga konsep, yaitu:
1) Reciprocal determinism
Pendekatan yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam bentuk
interaksi timbal-balik yang terus menerus antara kognitif, tingkah
laku, dan lingkungan.
2) Beyond reinforcement
Bandura memandang teori Skinner terlalu bergantung pada
reinforcement. Jika setiap unit respon sosial yang kompleks harus
dipilah- pilah untuk direforse satu persatu, bisa jadi orang malah tidak
belajar apapun.
3) Self-regulation/cognition Teori belajar tradisional sering terhalang
oleh ketidaksenangan atau ketidakmampuan mereka untuk
menjelaskan proses kognitif.
Prinsip dasar belajar sosial (social learning) adalah:
a. Sebagian besar dari yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan
(imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling).
b. Dalam hal ini, seorang anak mengubah perilaku sendiri melalui
penyaksian cara orang/sekelompok orang yang mereaksi/merespon
sebuah stimulus tertentu.
c. Anak dapat mempelajari respons-respons baru dengan cara
pengamatan terhadap perilaku contoh dari orang lain, misalnya:
guru/orang tuanya.
3. Prinsip-prinsip Pembelajaran PAUD
Berdasarkan lampiran IV Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2014 tentang
Kurikulum 2013 PAUD, Prinsip yang digunakan dalam proses
pembelajaran anak usia dini sebagai berikut.
1) Belajar melalui bermain.
Anak di bawah usia 6 tahun berada pada masa bermain. Pemberian
rangsangan pendidikan dengan cara yang tepat melalui bermain, dapat
memberikan pembelajaran yang bermakna pada anak.
2) Berorientasi pada perkembangan anak
Pendidik harus mampu mengembangkan semua aspek perkembangan
sesuai dengan tahapan usia anak.
3) Berorientasi pada kebutuhan anak
Pendidik harus mampu memberi rangsangan pendidikan atau stimulasi
sesuai dengan kebutuhan anak, termasuk anak-anak yang mempunyai
kebutuhan khusus.
4) Berpusat pada anak
Pendidik harus menciptakan suasana yang bisa mendorong semangat
belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi, dan
kemandirian sesuai dengan karakteristik, minat, potensi, tingkat
perkembangan, dan kebutuhan anak.
5) Pembelajaran aktif
Pendidik harus mampu menciptakan suasana yang mendorong anak aktif
mencari, menemukan, menentukan pilihan, mengemukakan pendapat,
dan melakukan serta mengalami sendiri.
6) Berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter
Pemberian rangsangan pendidikan diarahkan untuk mengembangkan
nilai-nilai yang membentuk karakter yang positif pada anak.
7) Berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup
Pemberian rangsangan pendidikan diarahkan untuk mengembangkan
kemandirian anak.
8) Didukung oleh lingkungan yang kondusif
Lingkungan pembelajaran diciptakan sedemikian rupa agar menarik,
menyenangkan, aman, dan nyaman bagi anak.
9) Berorientasi pada pembelajaran yang demokratis
Pembelajaran yang demokratis sangat diperlukan untuk mengembangkan
rasa saling menghargai antara anak dengan pendidik, dan antara anak
dengan anak lain.
10) Pemanfaatan media belajar, sumber belajar, dan narasumber.
Penggunaan media belajar, sumber belajar, dan narasumber yang ada di
lingkungan PAUD bertujuan agar pembelajaran lebih kontekstual dan
bermakna.
3..Model Dan Metode Pembelajaran PAUD
a. Model Pembelajaran PAUD
Model pembelajaran adalah suatu desain atau rancangan yang
menggambarkan proses rincian dan menciptakan situasi lingkungan yang
memungkinkan anak berinteraksi dalam pembelajaran, sehingga terjadi
perubahan perilaku atau perkembangan pada diri anak didik. Adapun
komponen model pembelajaran meliputi: konsep, tujuan pembelajaran,
materi/tema, langkah-langkah/prosedur, metode, alat/sumber belajar, dan
teknik evaluasi/penilaian. Beberapa model pembelajaran PAUD yang saat
ini berkembang dan digunakan oleh satuan pendidikan PAUD di antaranya
(1) Model pembelajaran dengan sudut-sudut kegiatan;
(2) Model pembelajaran kelompok dengan kegiatan pengaman,
(3) Model pembelajaran area, dan
(4) Model pembelajaran sentra.
Ke empat model tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda, untuk
lebih memperjelas ke empat model pembelajaran di PAUD, diuraikan
sebagai berikut;
(1). Model Pembelajaran sudut-sudut Kegiatan
Model pembelajaran ini perlu disediakan sudut-sudut kegiatan untuk
dipilih oleh anak berdasarkan minatnya sebagai pusat kegiatan
pembelajaran. Alat-alat yang disediakan harus bervariasi karena minat
anak yang beragam. Alat-alat tersebut harus sering diganti disesuaikan
dengan tema dan subtema yang akan dibahas. Alat-alat yang diperlukan
pada pembelajaran dengan sudut-sudut kegiatan di atur sedemikian
rupa di dalam ruangan/kelas dan disusun menurut sifat dan tujuan
kegiatannya. Sudut-sudut kegiatan adalah:
a. Sudut keluarga: Alat-alat yang disediakan antara lain adalah meja
kursi tamu,meja-kursi makan, peralatan makan, tempat tidur dan
kelengkapannya, lemari pakaian, lemari dapur, rak piring, peralatan
masak (kompor, panci, dsb), setrika, cermin, bak cucian/ember,
papan cucian, serbet, celemek, dan boneka.
b. Sudut alam sekitar dan pengetahuan: Alat-alat yang disediakan antara
lain, adalah aquarium beserta kelengkapannya, timbangan, biji-
bijian dengan tempatnya, batu-batuan, gambar proses pertumbuhan
binatang, gambar proses pertumbuhan tanaman, magnit, kaca
pembesar, benda-benda laut seperti kulit-kulit kerang, meja untuk
tempat benda-benda yang menjadi obyek pengetahuan, dan alat-alat
untuk menyelidiki alam sekitar.
c. Sudut pembangunan: Alat-alat yang disediakan antara lain adalah
alat-alat untuk permainan konstruksi, seperti balok-balok bangunan,
alat pertukangan, rak-rak tempat balok, macam-macam kendaraan
kecil, permainan lego, menara gelang, permainan pola, dan kotak
menara.
d. Sudut kebudayaan: Alat-alat yang disediakan antara lain adalah
peralatan musik/perkusi, rak-rak buku/perpustakaan, buku-buku
bergambar (seri binatang, seri buah-buahan, seri bunga-bungaan),
buku-buku pengetahuan, peralatan untuk kreativitas, alat-alat untuk
pengenalan bentuk, warna, konsep bilangan, dan simbol-simbol.
e. Sudut Ke-Tuhanan: Alat-alat yang disediakan antara lain adalah
maket-maket rumah ibadah (masjid, gereja, pura, vihara, dll),
peralatan ibadah, alat-alat lain yang sesuai untuk menjalankan
ibadah agama, dan gambar-gambar keagamaan.
(2) Model Pembelajaran Kelompok dengan Kegiatan Pengaman
Model ini anak-anak dalam satu kelas dibagi menjadi beberapa
kelompok (tiga atau empat kelompok sesuai dengan minat dan jumlah
anak) dengan kegiatan yang berbeda-beda. Salah satu kelompok
melakukan kegiatan bersama pendidik dengan tujuan untuk mengetahui
kemampuan anak secara individu. Jenis kegiatannya adalah
pemahaman konsep dan materi yang memiliki tingkat kesulitan. Hal ini
dilakukan secara bergiliran sehingga setiap anak didik mendapat
kesempatan melakukan kegiatan bersama pendidik. Pada saat anak
melakukan kegiatan bersama pendidik di kelompok tersebut, kelompok
lain melakukan kegiatan yang dapat dikerjakan secara mandiri tanpa
lepas dari pengawasan pendidik. Seluru hasil kegiatan yang telah
dilakukan anak, baik di kelompok yang melakukan kegiatan bersama
pendidik ataupun yang mandiri menjadi bahan evaluasi pendidik dalam
menentukan ketercapaian kemampuan anak.
Anak yang sudah selesai melakukan kegiatannya lebih cepat
daripada temannya dapat memilih kegiatan yang diminatinya di
kelompok lain. Apabila tidak tersedia tempat, anak didik boleh bermain
di kegiatan pengaman yang sudah disiapkan pendidik. Alat-alat
bermain/sumber belajar pada kegiatan pengaman antara lain adalah
balok-balok bangunan, mainan konstruksi, macam-macam kendaraan,
kotak menara, alat pertukangan, puzzle, dan permainan pola.
(3) Model Pembelajaran Area
Pada model ini anak diberi kesempatan untuk memilih/ melakukan
kegiatan sendiri-sendiri sesuai dengan minatnya. Model ini
menekankan pada prinsip:
a). memberi pengalaman pembelajaran bagi setiap anak,
b). membantu anak membuat pilihan dan keputusan melalui aktivitas di
dalam area-area yang disiapkan
c). adanya keterlibatan keluarga dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran pada model ini menggunakan 10 (sepuluh) area.
Dalam satu hari dapat dibuka minimal 3 sampai 4 area. Pada area yang
dibuka disiapkan alat peraga dan sarana pembelajaran yang sesuai dengan
RPPM, RPPH yang telah disusun. Adapun ke sepuluh area tersebut adalah:
1) Area agama, 2). Area Balok, 3). Area Berhitung/matematika, 4). Area
IPA, 5). Area Musik, 6). Area Bahasa, 7). Area Membaca dan menulis, 8).
Area Drama, 9). Area Pasir/Air, 10). Area Seni dan Motorik
(4) Model Pembelajaran Sentra
Pada model ini kegiatan pembelajaran dilakukan di sentra-sentra
dimana pendidik berperan sebagai motivator dan fasilitator yang
memberi pijakan-pijakan (scaffolding). Kegiatan pembelajaran tertata
dalam urutan yang jelas mulai dari penataan lingkungan main sampai
pada pemberian pijakan-pijakan ; 1) pijakan lingkungan, 2) pijakan
sebelum bermain, 3) pijakan selama bermain, dan 4) pijakan sesudah
main. Ada 7 (tujuh) Sentra pembelajaran yaitu: 1) Sentra bahan alam
dan sains, 2). Sentra balok, 3). Sentra seni, 4). Sentra bermain peran, 5).
sentra persiapan, 6). sentra agama, 7). sentra musik.Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam memilih model pembelajaran, diantaranya :
a.Pendidik perlu mempertimbangkan sarana dan prasarana yang
tersedia dan menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
b. Pendidik dapat mengembangkan empat model pembelajaran yang
ada (misalnya dengan menambah sudut, area, dan sentra kegiatan,
serta kegiatan pengaman).
c. Pendidik dapat mengembangkan model pembelajaran yang baru
dengan mengkombinasikan empat model yang ada atau menciptakan
model yang baru.
d. Scaffolding adalah dukungan yang terus menerus yang diberikan
kepada anak oleh pendidik (bisa juga oleh orang tua atau anak lain
yang lebih dewasa atau lebih mampu).
e. Dalam pengembangan PAUD di Indonesia, istilah scaffolding sering
diterjemahkan sebagai pijakan (tahap-tahap dalam model
pembelajaran sentra).
2) Metode Pembelajaran PAUD
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan pendidik dalam
melakukan kegiatan pembelajaran kepada anak untuk mencapai
kompetensi tertentu. Metode pembelajaran dirancang dalam kegiatan
bermain yang bermakna dan menyenangkan bagi anak. Jenis-jenis
metode pembelajaran di PAUD diantaranya:
(a) Bercerita
Bercerita adalah cara bertutur dan menyampaikan cerita secara
lisan.
(b) Demonstrasi
Demonstrasi digunakan untuk menunjukkan atau memperagakan
cara untuk membuat atau melakukan sesuatu.
(c) Bercakap-cakap
Bercakap-cakap dapat dilakukan dalam bentuk tanya jawab antara
anak dengan pendidik atau antara anak dengan anak yang lain
(d) Pemberian Tugas
Pemberian tugas dilakukan oleh pendidik untuk memberi
pengalaman yang nyata kepada anak baik secara individu maupun
secara berkelompok.
(e) Sosio-drama/Bermain Peran
Sosio-drama atau bermain peran dilakukan untuk
mengembangkan daya khayal/imajinasi, kemampuan berekspresi,
dan kreativitas anak yang diinspirasi dari tokoh tokoh atau benda-
benda yang ada dalam cerita
(f) Karyawisata
Karyawisata adalah kunjungan secara langsung ke objek-objek di
lingkungan kehidupan anak yang sesuai dengan tema yang sedang
dibahas.
(g) Projek
Projek merupakan suatu tugas yang terdiri atas rangkaian kegiatan
yang diberikan oleh mendidik kepada anak, baik secara individu
maupun secara berkelompok dengan menggunakan objek alam
sekitar maupun kegiatan sehari-hari.
(h) Eksperimen
Eksperimen merupakan pemberian pengalaman nyata kepada anak
dengan melakukan percobaan secara langsung dan mengamati
hasilnya
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam memilih dan
menggunakan metode adalah :
1. Metode yang digunakan oleh pendidik disesuaikan dengan tujuan
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
2. Suatu metode dapat dilakukan dengan baik jika dipahami oleh
pendidik dan disertai media yang sesuai dengan bahan ajar atau
kegiatan yang dilakukan.
3) Perencanaan Pembelajaran PAUD
Perencanaan pembelajaran mempunyai peran penting dalam
memandu guru untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik sekaligus
fasilitator dalam melayani kebutuhan anak didiknya. Perencanaan
pembelajaran dimaksudkan sebagai langkah awal sebelum proses
pembelajaran berlangsung. Dalam proses pembelajaran anak usia dini,
perencanaan pembelajaran dapat diartikan sebagai proses penyusunan
materi pembelajaran, penggunaan media, pendekatan, model dan
metode pembelajaran, serta melakukan penilaian dalam suatu alokasi
waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan
pembelajaran anak usia dini yang meliputi;
- penyusunan Program Semester (Prosem), - penyusunan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM), dan
- penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH).
\Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun kegiatan
pembelajaran antara lain pemilihan tema, penetapan metode,
pemilihan model pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan
penilaian.
4) Penyusunan Perencanaan
a. Penyusunan Program Semester (Prosem)
Prosem berisi menyusunan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang
dikembangkan dari KD yang berisi muatan/materi pelajaran untuk
digunakan dalam menyusun RPPM, dengan dilengkapi susunan
daftar tema untuk satu semester dan alokasi waktu setiap tema.
b.Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM)
RPPM disusun sebagai acuan pembelajaran selama satu minggu.
RPPM dapat berbentuk jaringan tema atau format lain yang
dikembangkan oleh satuan PAUD yang berisi muatan materi yang
akan dikembangkan menjadi kegiatan pembelajaran. RPPM berisi
muatan pembelajaran yang dikembangkan dari Kompetensi Dasar
yang tercantum dalam Prosem sesuai dengan tema, sub tema, dan
alokasi waktu yang telah ditentukan.
Pada akhir satu atau beberapa tema dapat dilaksanakan kegiatan
puncak tema untuk menunjukkan hasil belajar. Puncak tema dapat
berupa kegiatan, makan bersama, pameran hasil karya,
pertunjukkan, panen tanaman, dan kunjungan. Rambu-rambu
penyusunan RPPM :
1. Mengacu pada kompetensi dasar (KD) yang memuat sikap,
pengetahuan, dan keterampilan untuk mewujudkan ketercapaian
kompetensi inti (KI-1, KI-2, KI-3, KI-4).
2. Memilih kegiatan selaras dengan tujuan pembelajaran.
3. Mengembangkan kegiatan main yang berpusat pada anak.
4. Menggunakan pembelajaran tematik.
5. Mengembangkan cara berpikir pendekatan saintifik.
6. Berbasis budaya lokal dan memanfaatkan lingkungan alam
sekitar, sebagai media bermain anak .
Pada pembelajaran di PAUD hal yang terpenting adalah proses
belajar yang menumbuhkan anak senang belajar, senang melakukan
proses saintis, BUKAN menekankan pada penguasaan materi karena
penilaian atau assessment pada program anak usia dini merujuk pada
tahap perkembangan. Namun demikian proses pembelajaran pada
anak usia dini yang dilakukan melalui kegiatan bermain juga
memberikan penambahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
anak yang sesuai dengan Kompetensi Dasar dengan memperhatikan
kemampuan yang sesuai tahap perkembangan anak. Oleh karena itu
pendidik juga harus mampu menurunkan materi yang sesuai dengan
Kompetensi Dasar. Materi tersebut penting dipahami karena:
a) Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan anak.
b) Memperluas pengalaman bermain yang bermakna .
c) Menumbuhkan minat belajar anak.
Langkah penyusunan muatan materi:
a) Pahami STPPA untuk setiap usia perkembangan anak.
b) Pahami inti muatan dari setiap kompetensi dasar. Kemampuan apa
yang diharapkan dari KD tersebut. c) Pahami kedalaman materi
yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.
d) Sesuaikan dengan visi yang ingin diwujudkan dan Tujuan
Pembelajaran yang ingin dicapai pada anak didik selama belajar
di PAUD.
e) Tentukan prioritas muatan materi yang mendukung pencapaian
KD. Contoh perumusan muatan materi:
Tema/subtema : Diriku /Identitasku
Kompetensi Dasar : Mempercayai adanya Tuhan melalui ciptaan-
Nya
1.2. Menghargai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar
sebagai rasa syukur kepada Tuhan.
2.1. Memiliki perilaku yang mencermin kan hidup sehat.
3.1. Mengenal kegiatan beribadah sehari-hari.
4.1. Melakukan kegiatan beribadah sehari-hari dengan tuntunan
orang dewasa
Muatan Materi :
1.2.1.Tuhan menciptakan manusia (NAM).
1.2.2. Doa sebelum dan sesudah belajar dan makan (NAM).
2.1.1.Berbicara sopan menggunakan kata tolong, maaf, terimakasih
(Sosem).
2.1.2.Kerapihan berpakaian (Sosem).
3.1.1. Mengenal tulisan nama sendiri (Bahasa).
3.1.2. Ciri-ciri tubuhku dan tubuh temanku (Kognitif).
4.1.1.Cara mencuci tangan dengan sabun (F.K).
4.1.2. Sholat dengan bantuan guru (FM). Dst

Cara penyusunan RPPM:


a) Tuliskan Identitas Program.
b) Nama TK.
c) Kelompok sasaran/Usia.
d) Semester/ minggu.
e) Tema/sub tema.
f) Kompetensi dasar.
g) Mengembangkan rencana mingguan.
h) Muatan materi diturunkan dari pengetahuan yang akan dikenalkan
sesuai KD.
Contoh RPPM Model Kelompok Dengan Kegiatan Pengaman
Hari/tgl : Senin
Tema/Sub tema : Diriku/Identitasku
KD : 1.1, 2.5,2.6, 3.5, 4.5, 3.10, 4.10, 3.3, 4.3,
3.14, 4.14
Muatan Materi :
1.1.1 .......... (NAM)
2.5.1............(SE )
2.5.1............(SE)
3.5.1............(Kog)
4.2.2............(Kog)
3.10.1...........(Bhs)
4.10.2............(Bhs)
3.3.1..............(FM)
4.3.1..............(FM)
3.14.1............(Seni)
4.14.1............(Seni)
dst
Catatan:
RPPM bisa berbentuk format seperti tersebut diatas menentukan
format RPPM), yang terpenting jelas hari-hari nya dalam satu
minggu, tema/subtema, bidang pengembangan, KD dan Muatan
Materinya dan model pembelajaranna.
Contoh : Ruang Lingkup Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran
1. Tema: Diriku
Subtema: Gambar Rumahku
-Bercakap-cakap tentang alamat rumah (NAM).
-Bermain bersih-bersih rumah (SE).
-Mewarnai gambar rumah (Seni).
-Menebalkan nomor rumah (FM).
-Bermain maze mencari alamat (Kog)
-Mengucapkan syair Rumahku (Bhs).
Kemampuan yang Berkembang .
Sikap :
-Memiliki sikap percaya diri, taat pada aturan, mandiri, tanggung
jawab. Pengetahuan :
-Menyebutkan alamat rumah.
-Memahami cara memecahkan masalah.
-Mengungkapkan kembali apa yang didengarnya.
Keterampilan :
-Mewarnai gambar.
-Menebalkan lambang bilangan.
c. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH)
RPPH merupakan rancangan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam
waktu satu hari yang diambil dari RPPM. RPPH dikembangkan
disesuaikan dengan model pembelajaran yang akan dipilih misalnya
model pembelajaran kelompok dengan sudut-sudut kegiatan, model
pembelajaran kelompok dengan kegiatan pengaman, model
pembelajaran area, dan model pembelajaran sentra. Pengembangan
kegiatan dalam RPPH dikembangkan dengan menggunakan
pendekatan saintifik. Adapun langkah-langkah dalam menyusun
RPPH adalah:
1. Disusun berdasarkan kegiatan mingguan.
2. Kegiatan harian berisi kegiatan pembukaan/awal, inti, kegiatan
istirahat dan penutup/akhir.
3. Pelaksanaan pembelajaran dalam satu hari dilaksanakan sesuai
dengan prinsip-prinsip pembelajaran anak usia dini.
4. Penyusunan kegiatan harian disesuaikan dengan kondisi satuan
pendidikan masing-masing dan menggunakan pendekatan
saintifik.
5. Kegiatan harian dapat dibuat oleh satuan pendidikan dengan
format sesuai kebutuhan masing-masing.
4. Evaluasi hasil belajar
Penilaian hasil kegiatan belajar PAUD adalah suatu proses
mengumpulkan dan mengkaji berbgai informasi secara sistematis, terukur,
berkelanjutan, serta menyeluruh tentang pertumbuhan dan perkembangan
yang telah dicapai oleh anak selama kurun waktu tertentu. Penilaian lebih
ditekankan pada penilaian proses daripada penilaian produk. Penilaian
dilakukan melalui teknik-teknik seperti: pengamatan/ observasi,
percakapan, penugasan, unjuk kerja, hasil karya, catatan anekdot, dan
portofolio merupakan kumpulan dari hasil-hasil karya anak.

Penilaian Autentik
Penilaian autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang
bermakna secara signifikan atas hasil belajar anak untuk ranah sikap,
keterampilan, dan pengetahuan. Penilaian autentik menggambarkan
pembelajaran, belajar dan asesmen yang berjalan saling mengisi. Penilaian
autentik berkaitan dengan unjuk kerja (performance). Penilaian unjuk
kerja ini sebagai upaya yang tepat untuk menilai kemajuan perkembangan
anak.
Penilaian autentik di PAUD adalah penilaian proses dan hasil belajar untuk
mengukur tingkat pencapaian kompetensi sikap (spiritual dan sosial),
pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan secara berkesinambungan.
Penilaian tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh anak, tetapi lebih
menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan oleh anak.

Prinsip Penilaian
1. Mendidik
2. Berkesinambungan
3. Objektif
4. Akuntabel
5. Transparan
6. Sistematis
7. Menyeluruh
8. Bermakna
Lingkup dan Waktu Penilaian
Penilaian proses dan hasil kegiatan belajar anak mencakup semua
aspek perkembangan yang dirumuskan dalam kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Waktu penilaian dilakukan mulai dari
anak datang di TK, selama proses pembelajaran, saat istirahat, sampai
anak pulang. Hasil penilaian dapat dirangkum dalam kurun waktu harian,
mingguan atau bulanan.

Teknik-teknik Penilaian
Pengamatan atau Observasi Merupakan penilaian yang dilakukan
selama kegiatan pembelajaran baik secara langsung maupun tidak
langsung dengan menggunakan lembar observasi, catatan menyeluruh atau
jurnal, dan rubrik.
1. Percakapan
Merupakan penilaian yang dapat digunakan baik pada saat kegiatan
terpimpin maupun bebas.
2. Penugasan
Merupakan penilaian berupa pemberian tugas yang akan dikerjakan
anak dalam waktu tertentu baik secara individu maupun kelompok
baik secara mandiri maupun didampingi. Instrumen penugasan berupa
pekerjaan rumah dan/ atau proyek yang dikerjakan secara individu
atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
3. Unjuk kerja
Merupakan penilaian yang melibatkan anak dalam bentuk pelaksanaan
suatu aktivitas yang dapat diamati.
4. Penilaian Hasil Karya
Merupakan penilaian dengan melihat produk yang dihasilkan oleh
anak setelah melakukan suatu kegiatan.
5. Catatan Anekdot
Merupakan teknik penilaian yang dilakukan dengan mencatat sikap
dan perilaku khusus pada anak ketika suatu peristiwa terjadi secara
tiba-tiba/ insidental baik positif maupun negatif.

Prosedur Penilaian
1. Mengacu pada kompetensi dan dilakukan seiring dengan kegiatan
pembelajaran yang diprogramkan dalam RPPH.
2. Mencatat proses dan hasil belajar anak dengan menggunakan berbagai
teknik dan instrumen penilaian sesuai dengan kegiatan yang dilakukan.
3. Merangkum catatan semua hasil perkembangan anak dan dipindah ke
dalam buku bantu penilaian, buku rangkuman penilaian atau dokumen
lainnya.
4. Mengolah hasil rangkuman selama satu semester menjadi bentuk laporan
deskripsi secara singkat yang meliputi 3 kompetensi yaitu kompetensi
sikap, pengetahuan dan keterampilan. Deskripsi dirumuskan secara
objektif sehingga tidak menimbulkan persepsi yang salah bagi orang tua
atau wali dalam bentuk LPPA (Laporan Pencapaian Perkembangan
Anak).

B. DISKRIPSIKAN Kemajuan yang Anda peroleh setelah pembekalan


atau monitoring :
1. Materi yang sudah Anda pahami.
Materi yang sudah saya pahami adalah materi bab 1,dan Bab 3 tentang
pengembangan pendidikan karakter dan potensi peserta didik dan tentang
model-model pembelajaran. Materi yang disampaikan pada sumber
belajar tersebut mudah dipahami karena jelas dan dengan contoh yang
mudah dipahami, dengan paham materi yang telah dijabarkan pada
sumber belajar maka bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang
pendidikan karakter dan model-model pembelajar sehingga bisa
meningkatkan pembelajaran di dalam kelas.
2. Materi yang belum dapat Anda kuasai.
Materi yang belum saya kuasai adalah materi pada bab.4 dan 2. Tentang
materi teori belajar dan evaluasi hasil belajar, belum begitu menguasai
karena banyaknya teori yang harus di pahami dengan teknik-teknik yang
berbeda dari setiap tokohnya dan kurangnya contoh yang lebih kongkret
sehingga kurang bisa dikuasai. Begitupun dengan materi evaluasi hasil
belajar masih banyak yang harus di pelajari sehingga bisa dipahami
dengan baik dan dapat diterapkan secara benar dalam pembelajaran.
C. Materi ensensial apa saja yang tidak ada dalam sumber belajar. Uraikan
materi yang menurut anda anggap esensial tetapi tidak dijelaskan dalam
bagian ini.
Materi yang esensial tapi yang tidak dijelaskan pada sumber belajar ini
adalah tentang psikologi anak. Pada usia dini, banyak hal yang menarik
perhatian anak sehingga membuat mereka ingin selalu mencoba. Di tahap ini
peran orang tua dan pengajar sangat penting. Memberi dukungan dan arahan
yang baik pada anak adalah cara yang tepat. Seperti dalam psikologi anak
terdapat kecerdasan majemuk yang juga tidak dijelaskan pada sumber belajar
ini, kecerdasan majemuk menurut pakar psikologi Dr. Howard Garned yang
mengemukakan ada 8 kecerdasan majemuk yaitu :
1. kecerdasaan linguistic
2. kecerdasan logik matematik
3. kecerdasan visual dan spasial
4. kecerdasan music
5. kecerdasan interpersonal
6. kecerdasan intrapersonal
7. kecerdasan kinestetik
8. kecerdasan naturalis.
Dikatakan penting karena seorang pengajar perlu memahami
kecerdasan majemuk dan bagaimana penerapan di dalam kelas, agar
pembelajaran dapat berjalan baik dan mencapai hasil yang diinginkan. Karena
setiap anak adalah unik. Masing masing memiliki sifat dan karakteristik yang
berbeda dibandingkan dengan yang lain. Perbedaan in selalu Nampak dalam
berbagai kondisi termasuk ketika di dalam kelas, seorang pengajar akan
berhadapan dengan perbedaan ini. Salah satu jenis perbedaan yang bisa
dilihat adalah kepemilikan atas kecerdasan majemuk yang berbeda.
Pembelajaran berbasis kecerdasaan majemuk merupakan komunikasi dua
arah antara pengajar dan anak didik untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk melengkapi materi ensensial ini di modul, maka saya mencari referensi
lain yang terdapat dalam theory_of_multiple_intelligences.htm.
D. Materi apa saja yang tidak esensial namun ada dalam sumber belajar.
Uraikan materi yang menurut anda tidak esensial namun ada dalam
sumber belajar.
Menurut saya, materi yang tidak esensial yang dijelaskan dalam sumber
belajar adalah pada BAB III P, tentang teori belajar yang dikemukakan pada
tokoh perkembangan Thorndike, yang dijelaskan pada halaman 2 dan 3 pada
sumber belajar penunjang PLPG 2017 materi Pedagogik Guru kelas
PAUD/TK.

Teori belajar anak yang disampaikan oleh THORNDIKE yang


menjelaskan bahwa belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus
dan respon. Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat
asosiasi tersebut dengan latihan-latihan atau ulangan-ulangan yang terus
menerus. Implikasi dari teori behavioris dalam proses pembelajaran dirasakan
kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi peserta didik untuk
berkreasi, bereksperimen dan mengembangkan kemampuannya sendiri.
Karena system pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam
menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin
atau robot. Akibatnya peserta didik kurang mampu untuk berkembang sesuai
dengan potensi yang ada pada diri mereka.
Karena teori belajar tersebut kurang sesuai untuk diterapkan dalam
pendidikan anak usia dini,maka teori belajar yang dikemukakan oleh tokoh
Thorndike kurang ensensial.

E. Masukan-masukan apa saja yang telah diberikan oleh mentor pada saat
kegiatan pembekalan/ monitoring.
Masukan masukan yang diberikan oleh mentor adalah pada laporan tugas 1
yaitu tata tulis diperbaiki perlu banyak baca tentang teori perkembangan.
Untuk laporan kemajuan belajar mandiri kedua tanggapan mentor laporan
lebih bagus. Untuk laporan kemajuan belajar mandiri ketiga tanggapan
mentor adalah A. ringkasan materi sudah lengkap dan padat, B.
pengungkapan kesulitan jelas, C. Analisis materi sudah lebih kritis, D.
pemahaman materi lebih bagus, dan E. Latihan soal sudah sesuai dengan
ringkasan materi
BAB II. SUMBER BELAJAR BIDANG STUDI.
A. Ringkasan materi
BAB I
1. BIDANG PENGEMBANGAN NILAI AGAMA DAN MORAL.
Sebagai jenjang pendidikan yang paling dasar, pendidikan anak usia
dini diharapkan menjadi fondasi yang kuat untuk membentuk sikap dan
karakter peserta didik. Implementasinya dalam kurikulum 13
Pendidikan anak usia dini pengembangan sikap bukan hanya sebagai
dampak ikutan dari pengembangan pengetahuan dan ketrampilan,
melainkan komponen yang harus di rencanakan secara lebih matang dan
mendalam yang dilaksanakan terus menerus sehingga membentuk
kebiasaan lebih lanjut menjadi perilaku yang akhrinya menjadi sikap
dan karakter baik. Hal ini diperlukan mengingat anak mulai kehidupan
sosialnya mulai dari lingkungan keluarga sampai ke lingkungan sekolah
dan masyarakat.
Pengetahuan sikap memperlukan proses yang konsisten dalam
jangka waktu lama. Namun demikian pelaksaananya tetap disesuaikan
dengan cara belajar anak usia dini yang dilaksanakan dengan melalui
kegiatan menyenangkan dan bermakna. Oleh karna itu pendidik atau
guru PAUD hendaknya memiliki wawasan yang kuat tentang hakiki
konsep sikap dan kepribadian atau karakter, sehingga mampu
memfasilitasi untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Istilah moral berasal dari kata Yunani, mores artinya kebiasaan.
Moral berarti aturan tentang baik buruknya perilaku manusia
berdasarkan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Aturan moral
tidak tertulis sehingga keberlakuannya sangat dtentukan oleh ruang dan
waktu. Berbeda dengan saksi hukum yang bersifat tegas dan tertulis,
sanksi moral tidak tegas dan diberikan oleh masyarakat. Sanksi moral
berupa hukuman yang diberikan masyarakat berupa pengucilan dan
tidak diakui sebagai anggota masyarakat.
Moral dapat di kembangkan menjadi materi pembiasaan perilaku
anak dari berbagai sumber yang ada. Standar atau ukuran moral di
dasarkan pada sumber moral yang ada. Melalui pembelajaran
pembiasaan perilaku, anak akan belajar tentang moralitas yang baik
berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, bangsa,Negara
dan agama. Para pendidik PAUD akan membelajarkan moral anak
sehingga ia memiliki kecerdasan moral. Kecerdasan moral yang
dimaksud adalah kemampuan untuk bertindak berdasarkan keyakinan
etika yang kuat sehingga bersikap benar dan terhormat. Anak-anak perlu
diajarai untuk empati, ditumbuh kembangkan nuraninya, mengontrol
keadailan. Berbagai nilai moralitas ini di berikan kepada anak sesuai
dengan karakteristiknya.
Prinsip layanan yang diberikan kepada pengembangan moral dan
nilai keagamman anak usia dini sebagai berikut : (a) beriorentasi pada
perkembangan anak. (b) beriorentasi pada kebutuhan anak berarti
aktivitas pengembangan moral yang dilakukan anak sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan anak. (c) belajar melalui aktivitas bermain.
(d) lingkungan kondusif bagi anak adalah tempat yang aman, nyaman,
dan menyenangkan untuk bermain dan belajar anak. (e) menggunakan
pendekatan tematik. (f) pembelajaran berpusat pada anak. (g) kegiatan
PAKEM ( pembelajaran kreatif, efektif, dan menyenangkan)
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan
moral dan nilai keberagaman serta kebangsaan adalah sebagai berikut.
(a) pengenalan doa dan lagu-lagu keagamaan secara sederhana. (b)
pengenalan bermacam-macam agaman. (c) pengenalan cara beribadah
menurut keyakinanya. (d) pengenalan terhadap ciptaan Tuhan. (e)
penanaman sikap sopan santun dan pengucapan salam pada sesame. (f)
penanaman displin diri pada anak. (g) penanaman sikap dan perilaku
saling menghormati antar sesame. (h) pengembangan sikap kerja sama.
(i) pengembangan rasa percaya diri. (j) penanaman rasa kepedulian
terhadap diri dan lingkungan. (k) pengembangan kemampuan
mengendalikan emosi. (L) penanaman sikap bertanggung jawab.
Metode pengembangan nilai moral dan agama pada anak usia dini
dapat dilakukan melalui pemberiaan keteladanan,pengalaman, bermain
peran dan melalui pengamatan.
1. Keteladanan cara ini dapat dilakukan dengan memberi contoh
dan sauri tauladan yang baik kepada anak.
2. Pengalaman keagamaan.
3. Bermain peran: upaya ini dilakukan dengan berperan tentang
hidup orang kaya yang dermawan.
4. Metode observasi :anak diajak meliht museum,pameran
keagaman, ikut shalat berjamah.
2. BIDANG PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL.
Proses sosialisasi merupakan bagian penting dalam kehidupan
anak. Anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan sosial,mulai
dari lingkungan keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah dan
lingkungan masyarakat. Oleh karna itu pada masa awal
pertumbuhan dan perkembangan anak perlu distimulasi dan
difasilitasi, sehingga perkembangan sosialnya dapat berkembang
dengan baik. Anak usia dini mengalami perkembangan sosial sejak
lahir sampai dewasa.
Perkembangan sosial adalah proses dimana anak
mengembangkan ketrampilan interpersonalnya, belajar menjalin
persahabatan, meningkatkan pemahamannya tentang orang diluar
dirinya. Artinya anak mulai menyadari bahwa ia hidup dilingkungan
sosial, dan menuntut dirinya untuk melakukan interaksi adaptasi
sehingga bisa diterima oleh lingkungan sosial. Dengan
memperhatikan perkembangan sosial tersebut, para pendidik dan
orang dewasa lainnya perlu memahami perkembangan tersebut. Hal
ini bermanfaat agar bisa dijadikan alat deteksi dini bagi
perkembangan anak. Dengan demikian upaya memfasilitasi dan
memotivasi perkembangan sosial anak dapat dilakukan secara
optimal.
Dalam konteks bermain dan permainan, perkembangan sosial
anak terjadi dengan enam kategori ( Parten, dalam Wiyani, 2014).
Keenam kategori tersebut adalah sebagai berikut.
a. Unoccupied play, dimana anak dalam bermain anak
mungkin hanya berjalan berkeliling ruangan atau tetap
diam duduk sambil memandangi ruangan.
b. Solitary play, anak sudah mulai asyik dengan permainanya
sendiri, begitu pula dengan anak yang lain.
c. Onlooker play, anak melihat orang lain sedang dalam suatu
kegiatan bermain tetapi tidak membuat pendekatan sosial.
d. Parallel play, dalam konteks ini anak sudah mulai bermain
secara berdampingan.
e. Assosiative play, anak mulai bermain bersama , berbagai
alat permainan dan berbicara sedikit.
f. Cooperative play, anak secara aktif mengkoordinasikan
kegiatan mereka, bertukar mainan, mengambil peran
tertentu dan dapat memelihara interaksi yang sedang
berlangsung.
Ada beberapa factor yang mempengaruhi kemampuan anak
dalam bersosialisasi yaitu: (1) lingkungan keluarga; (2) lingkungan
sekolah; (3) lingkungan kelompok masyarakat; (4) faktor dalam diri
anak.
Emosi adalah merupakan emosi dari perasaan seseorang.
Ekspresi perasaan seseorang dipengaruhi oleh faktor biologis dan
psikologis. Ekspresi perasaan seseorang bermacam-macam
bentuknya, ada yang positif seperti gembira, senang, simpati, tetapi
bisa dalam konteks negative seperti sedih, takut, cemas, trauma dan
lain sebagainya. Hal ini juga tergantung pada intensitasnya seperti
kecemasan yang berlebihan, luapan kegembiraan yang berlebihan,
dan lain sebagainya. Emosi dipengaruhi oleh minimal 3 hal yakni
faktor biologis, pengalaman masa lalu dan budaya.
Adapun variable yang menimbulkan emosi menurut
Syamsudin (2000), ada tiga variable yaitu : (a) Variabel stimulus:
rangsangan yang menimbulkan emosi. (b) Variabel organik :
perubahan fisiologis yang terjadi saat mengalami emosi. (c) Variabel
respons : pola sambutan ekspresif atas terjadinya pengalaman emosi.
Fungsi emosi bagi anak, emosi memiliki fungsi yang sangat
penting. Berikut fungsi emosi bagi perkembangan anak, antara lain
sebagai berikut :
1. Merupakan bentuk komunikasi sehingga anak dapat
menyatakan segala kebutuhan dan perasaannya kepada
orang lain (sakit diekspresikan dengan menangis)
2. Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan
penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya.
Dalam membantu perkembangan sosial-emosional anak, ada
beberapa prinsip yang dapat dijadikan acuan. Prinsip-prinsip
tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Prinsip-prinsip keseharian. Orang tua dan pendidik dapat
membantu pengembangan kemampuan sosial-emosional anak
dengan cara memberi teladan.
b. Prinsip teknik bertanya. Orang tua dan pendidik dapat
mengajukan pertanyaan terbuka.
c. Kiat-kiat jangka panjang. Upaya yang dapat dilakukan dalam
jangka panjang antara lain: (1) luangkan waktu mendengarkan
apa yang ingin disampaikan oleh anak, ajukan pertanyaan dan
tunggu jawabannya. (2) keluwesan dan kreativitas. (3)
penyesuaian dengan perkembangan.
Untuk memfasilitasi perkembangan sosial dan emosional anak, para
pendidik anak usia dini perlu memperhatikan beberapa prinsip yang
sesuai dengan DAP. Prinsip-prinsip tersebut antara lain sebagai
berikut. (a) semua aspek perkembangan pada anak saling terkait. (b)
perkembangan terjadi dalam urutan yang relatif teratur. (c)
perkembangan berlangsung secara bervariasi antar anak yang satu
dengan yang lain serta tidak merata dalam aspek-aspek
perkembangan yang berbeda. (d) pengalaman awal yang diawali
anak mempunyai efek langsung maupun efek tertentu terhadap
perkembangan anak secara individu. (e) perkembangan berlangsung
kearah yang mengandung kompleksitas, tatanan dan internalisasi
besar. (f) perkembangan anak dipengaruhi oleh konteks sosial
budaya, keluarga, lingkungan, latar belakang pendidikan. (g) anak-
anak adalah pembelajar yang aktif. (h) perkembangan anak adalah
hasil dari interaksi kematangan biologis dan lingkunagn. (i) bermain
adalah wahana yang penting bagi perkembangan sosial, emosi, dan
kognitif anak. (j) perkembangan anak akan meningkat jika anak-
anak mempunyai kesempatan untuk mempraktekkan ketrampilan
baru yang diperolehnya dan jika mereka
3. BIDANG PENGEMBANGAN KOGNITIF.
Kemampuan kognitif merupakan salah satu aspek
perkembangan anak yang sedang mengalami kematangan dan perlu
dikembangkan. Kemampuan kognitif dalam kehidupan sehari-hari
disebut dengan kecerdasan, atau kemampuan berfikir untuk
memperoleh pengetahuan, memanfaatkan pengetahuan yang
dimiliki, dan memecahkan permasalahan yang dihadapi berdasarkan
pengetahuan yang dimilikinya, dengan kata lain kemampuan
kognitif merupakan kemampuan hasil proses berfikir. Dalam bidang
pengembangan kognitif, materi pedukung yang dikaji adalah
pengenalan matematika dan sains. Kedua bidang ini memiliki
keterkaitan dengan pengembangan kognitif karena berkaitan dengan
kemampuan berfikir, pengenalan konsep dan lambang bilangan,
bentuk, warna dan benda-benda yang ada disekitar, serta
kemampuan memecahkan masalah. Berikut dibahas konsep dasar
matematika dan sains untuk anak usia dini pada umumnya dan anak
TK pada khususnya.
a. Pengenalan Matematika.
Hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari terkadang
tidak terlepas dari matematika itu sendiri. Disadari atau
tidak, sebenarnya kita sudah terbiasa dengan berbagai
angka dan perhitungan matematis, namun dengan
pendekatan yang bahasa dan istilah yang berbeda. Oleh
karna itu matematika dapat dipahami sebagai: (1) suatu
pembelajaran tentang pola dan hubungan ; (2) matematika
merupakan cara berfikir analisis; (3) matematika adalah
seni, bentuk-bentuk simetris(diamond,bujur sangkar); (4)
matematika adalah bahasa= bahasa digunakan untuk
mengekspresikan isi pikiran, baik bahasa verbal maupun
bahasa symbol; (5) matematika merupakan alat= untuk
mengevaluasi sesuatu.
Pemahaman terhadap matematika meliputi beberapa
konsep dasar yang saling berkaitan. Bagi anak usia dini
konsep-konsep matematika harus dijelaskan dengan cara
yang kongkrit dan adanya keterlibatan secara langsung.
Konsep-konsep dasar yang dapat dijabarkan pada anak
usia dini meliputi:
a. Mencocok. Mencocok dapat diartikan sebagai
seperangkat benda-benda yang memiliki konsep yang
menyatu , dan pemahaman bahwa satu perangkat
memiliki jumlah sama dengan perangkat lainnya.
b. Perbandingan dan seriasi/urutan
Definisi perbandingan adalah aksi mental
membedakan dan menyamakan satu objek dengan
obyek lain. Ordering adalah ketika 2 benda atau 2
kelompok benda dibandingkan, proses itu disebut
ordering atau urutan atau seriasi.
c. Klasifikasi (classification).
Klasifikasi adalah kegiatan meletakkan benda-benda
ke dalam sebuah kelompok dengan cara memilah
benda-benda yang memiliki satu atau lebih ciri yang
sama atau meyerupai.
b. Pengenalan Sains anak TK.
Pengertian Sains. Sains adalah kerangka
pengetahuan. Pembelajaran sains itu penting karena:
(1) sains adalah bagian penting dari budaya manusia,
yang mempunyai nilai tertinggi dari kapasitas
berpikir manusia. (2) adanya laboratorium yang
ditindak lanjuti dengan penelitian dapat digunakan
untuk mengembangkan bahasa, logika, serta
kemampuan memecahkan masalah dalam kelas. (3)
untuk jangka waktu panjang dapat diciptakan sains-
sains muda.

Pembelajaran sains terhadap anak-anak yang terbaik


adalah ketika mereka termotivasi. Oleh karna itulah maka
pemberian pembelajaran harus menarik, menyenangkan,
menantang, melalui interaksi dengan lingkungan, dilakukan
bersama antara yang seusia dengan dewasa, dengan
menggunakan benda kongkrit.

Tujuan pembelajaran sains pada anak usia dina adalah:


(1) mempersiapkan anak-anak dengan pengalaman yang dapat
membantu mereka menjadi terpelajar secara saintifik; (2)
membimbing anak-anak saat mereka mempelajari kandungan
arti dan membangun indra berdasarkan pengalaman oleh
pemahaman terfokus dengan menggunakan ide sains,
kemahiran, dan sikap mental; (3) berbagi tanggung jawab
dengan anak-anak terhadap apa yang mereka pelajari; (4)
mengadaptasi kurikulum, mengantur waktu dan mengantur
praktek; (5) menguji kemajuan dalam berbagai cara untuk
mengelompokkan mana yang anak-anak ketahui dan dapat
dilakukan.

4. Bidang pengembangan kemampuan berbahasa anak usia dini.

Pengembangan kemampuan berbahasa untuk anak usia dini


merupakan bagian penting. Kemampuan berbahasa merupakan alat
dalam mengakses dan mengelolah pengetahuan yang diperoleh anak.
Oleh karena itu pemerolehan bahasa pada anak usia dini perlu
diperhatikan dan difasilitasi, sehingga anak dapat tumbuh dan
berkembang secara wajar.
Perkembangan bahasa anak usia TK secara umum adalah sebagai
berikut. (a) perkembangan bahasa terjadi sangat cepat, (b) pada usia 3
tahun anak berbicara secara monolog dan 4 tahun menguasai 90%
phonetic dan sintaksis tetapi masih sangat umum, (c) anak sudah
mampu terlibat dalam percakapan dengan anak atau orang dewasa
lainnya. (d) di awal usia 5 tahun anak sudah memiliki perbendaharaan
kata sebanyak kira-kira 2500 kata. (e) anak masih sering mengalami
kesulitan mengucapkan huruf I, r,sh. (f) anak sering salah mengartikan
tentang kata-kata dan digunakan sebagai humor. (g) anak menjadi
pembicara yang tidak putus-putus.
Tujuan utama pengembangan kemampuan berbahasa di TK adalah
anak dapat mengkomunikasikan perasaan, pengalaman, imajinasi, ide
dan gagasan kepada orang lain. Di samping itu di harapkan agar anak
dapat berkomunikasi secara efektif, dengan menggunakan bahasa lisan
yang sesuai dengan lingkungan budaya disekitarnya. Melalui
kemampuan berbahasa, anak dapat memperluas pengetahuannya,
melalui penyerapan informasi dan saling menukar informasi dengan
lingkungan sosialnya.
Dalam pendidikan anak usia dini memerlukan kesempatan
mengembangkan ketrampilan dalam berbahasa. Seefeld dan N. Barbour
(1994) mengemukakan ada 6 ketrampilan dasar berbahasa yang perlu
mendapat perhatian untuk dikembangkan yaitu,
a. Berbicara.
Anak mengembangkan kemampuannya dalam berbicara secara
terang, benar dan jelas, sehingga bisa dipahami oleh
lingkungannya.
b. Menyimak
Anak akan mengembangkan kemampuannya untuk
menyimak/mendengarkan sehingga mereka dapat memahami
lingkunganya. Anak dapat mendengarkan suara atau
pembicaraan orang lain dengan penuh perhatian dan kehati-
hatian untuk memperoleh informasi.
c. Pramembaca.
Bagi anak, berbicara, mendengarkan,membaca dan menulis
merupakan ketrampilan yang saling berkaitan.
d. Pramenulis.
Kemampuan pramenulis diawali dengan pengembangan motorik
halus. Tahap awal anak dalam kegiatan menulis berbentuk
latihan mencoreng.
e. Membaca.
Anak mengembangkan kemampuan membaca dengan bahan-
bahan yang semakin bertambah tingkat kesulitannya dan
berbagai bahan bacaan untuk memperoleh dan
mengiterprestasikan informasi.
f. Menulis.
Kegiatan pramenulis dilanjutkan dengan kegiatan menulis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak,
Bahasa anak dapat berkembang cepat, jika :
1. Anak berada di dalam lingkungan yang positif dan bebas dari
tekanan.
2. Menunjukkan sikap dan minat yang tulus pada anak.
3. Menyampaikan pesan verbal diikuti dengan pesan non verbal.
4. Melibatkan anak dalam komunikasi.

Area pengembangan bahasa anak ada 4 area utama yaitu :

1. Mendengarkan.
Mampu mendengarkan dengan benar dan tepat memainkan
bagian yang penting dalam belajar dan berkomunikasi dan
penting dalam tahap-tahap pertama dari belajar membaca.
2. Berbicara
Cara terbaik untuk mendorong perkembangan bahasa anak-anak
adalah menyisihkan waktu untuk berbicara dengan anak-anak.
Unsur berbicara meliputi: (a) perkembangan kosa kata, (b)
ekspresi, (c) lafal ucapan.
3. Membaca
Membaca bukan sekedar membaca sepintas saja, tetapi membaca
harus melibatkan pikiran untuk memaknainya. Sebelum bisa
membaca, anak-anak harus tau dan menggunakan
perbendahaaran kata-kata dasar yang baik. Dalam mengenalkan
anak pada suatu huruf agar dapat membaca, dapat melalui
beberapa cara antara lain yaitu: (1) menggunakan phonics, (2)
menggunakan kata bermakna.
4. Menggambar dan menulis.
Kaitan antara menggambar dan menulis antara lain: (1) menulis
dan menggambar sama-sama memerlukan keahlian psikomotor,
(2) menulis dan menggambar mempunyai kemampuan kognitif
yang sama, (3) menggambar dan menulis sesuai dengan tahap
perkembangan anak, (4) menulis dan menggambar mempunyai
manfaat/tujuan/kegunaan.
Dalam mengembangkan pembelajaran bahasa dapat
menggunakan salah satu dari 3 pendekatan yang ada. Pendekatan
tersebut adalah :
1. Pendekatan Tradisional.
2. Bahasa keseluruhan
3. Integrasi keaksaraan seimbang

5. Bidang pengembangan fisik motorik anak usia dini.

Perkembangan fisik mencakup ketrampilan motorik kasar dan


motorik halus. Beberapa perkembangan fisik antara lain adalah: (a)
perubahan dalam ukuran badan,(b) perubahan bentuk badan; (c)
perubahan oto; (d) pertumbuhan tulang; (e) penambahan kemampuan
motorik kasar; (f) pengaruh hormon dalam perkembangan fisik; (g)
pertumbuhan fisik yang tidak sesuai; (h) perbedaan jenis kelamin dalam
perkembangan motoric kasar.

Perkembangan motorik kasar pada anak usia dini dapat di lakukan


dengan kegiatan-kegiatan seperti: (a) berjalan dengan berbagai
gerakan; (b) mencari jejak; (c) berjalan seperti binatang; (d) berjalan
naik turun tangga; (e) berbaris, melangkah, berjinjit, berjalan seperti
gerakan kuda lari; (f) berjalan ditempat; (g) melompat seperti katak; (h)
berjalan dengan papan titian maju, mundur, kesamping, membawa
benda; (i) mengambil dan membawa kepingan dari dan ke mangkuk;
(h) membungkuk/mengumpulkan makanan; (j) bermain terowongan;
(k) menginjak alas dengan berbagai bahan seperti karton/plastik, bekas
telur, kain perca, sabut kelapa dll.
Perkembangan motorik halus mengembangkan kemampuan anak
dalam menggunakan jari-jarinya, khususnya ibu jari dan jari
telunjuknya. Kemampuan motorik halus ada bermacam-macam, yaitu:
(a) menggenggam; (b) menjimpit. Selain perkembangan motorik kasar
dan halus ada perkembangan kesehatan dan gizi.

Kesehatan dan gizi.

Sehat menurut undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang


kesehatan (pasal 1 ayat 1) :kesehatan adalah keadaan sejahtera dari
badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomis.

Pendidikan dan pengasuhan kesehatan terhadap anak usia dini


merupakan bagian dari usaha kesehatan masyarakat dengan sasaran
yang spesifik yaitu anak usia 0-6 tahun. Oleh karena itu pendidikan dan
pengasuhan anak usia dini di bidang kesehatan merupakan tanggung
jawab semua pihak. Peningkatan dan kerjasama dilakukan antara orang
tua/keluarga dan masyarakat termasuk organisasi kemasyarakatan dan
pemerintah (pendidikan, kesehatan dan sector lainnya).

Derajat kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor determinan yaitu: (1)


lingkungan; (2) perilaku; (3) pelayanan kesehatan; (4) keturunan.

Penyakit yang sering terjadi pada anak usia dini, yaitu : (1) diare,
(2) kecacingan, (3) demam berdarah dengue(DBD), (4) tuberculosis, (5)
flu burung, (6) difentri, (7) pertussis, (8) tetanus, (9) campak, (10)
poliomeilitis, (11) hepatitis B.

Zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh manusia yang terdapat dalam


bahan makanan terdiri atas.

a. Karbohidrat.
Karbohidrat sebagai sumber energy yang utama dan sumber
panas yang diperlukan oleh system tubuh dan dibutuhkan
dalam jumlah banyak. Sumber karbohidrat adalah padi-padian,
umbi-umbian,kacang-kacangan, dan gula.
b. Lemak
Lemak adalah sumber energy kedua yang diperlukan untuk
melindungi organ tubuh dan merupakan cadangan energy yang
ada dalam tubuh. Sumber lemak dari, lemak jenuh/ minyak dari
hewani dan lemak tak jenuh dari minyak nabati.
c. Protein.
Protein merupakan zat gizi yang paling penting, karena paling
erat hubungannya dengan proses kehidupan. Berdasarkan
sumbernya protein diklasifikasikan menjadi; (1) protein
hewani, yaitu protein yang berasal dari binatang seperti daging,
ayam,susu. (2) protein nabati, yaitu protein yang berasal dari
bahan makanan tumbuh-tumbuhan.
d. Vitamin
Vitamin adalah zat-zat organik komplek yang dibutuhkan
dalam jumlah sangat kecil dan pada umumnya tidak bisa
dibentuk oleh tubuh. Penggolongan vitamin yaitu vitamin larut
dalam lemak (vitamin A, D,E,K) dan vitamin larut dalam air
(vitamin B dan vitamin C).
e. Mineral
Mineral berperan penting dalam pemeliharan fungsi-fungsi
tubuh baik pada tingkat sel, jaringan, organ maupun secara
keseluruhan. Mineral digolongkan ke dalam mineral makro dan
mineral mikro, mineral makro (natrium, klor, kalium, kalsium,
fospor, magnesium, sulfur) mineral mikro (besi, seng, yodium,
selenium, tembaga, mangan, flour, krom, molibden.)
f. Air
Air atau cairan tubuh merupakan bagian utama tubuh yaitu 55-
60 persen dari berat badan atau 70 % dari bagian tubuh tanpa
lemak. Cairan tubuh merupakan media semua reaksi kimia di
dalam sel.

6. Bidang pengembangan seni anak usia dini.


Pendidikan seni merupakan kegiatan mengungkapkan perasaan atau
ungkapan diri. Pendidikan seni bagi anak adalah proses kegiatan dalam
mengungkapkan kegiatan perasaan yang mendasar bagi daya nalar dan
perilakunya. Pendidikan seni merupakan kegiatan yang dapat
menumbuhkan sifat rasa sosial bagi anak dengan melakukan ungkapan
perasaan pada lingkunganya. Beberapa hal yang terkait dengan seni
anak usia dini:
a. Unsur-unsur seni visual yaitu: (1) garis, (2) bentuk, (3) warna, (4)
tekstur, (5) pola, (6) ruang.
b. Program seni anak usia harus meliputi: (1) pengalaman sensori;
(2) pengalaman indah dan kreatif; (3) waktu, ruang, dan bahan-
bahan untuk membuat karya seni; (4) memperkenalkan kata-kata
seni dalam berbagai bentuk dan gaya.
c. Kriteria untuk melaksanakan kegiatan seni; (1) mempersilahkan
anak berekspresi secara individu, (2) ada keseimbangan antara
proses menghasilkan karya seni dan produk dari karya seni itu
sendiri; (3) memberikan anak keterbukaan sehingga anak dapat
berkarya secara kreatif; (4) anak berperan aktif dan terlibat terus
menerus; (5) anak mendapat kesempatan secara naluri untuk
mengeluarkan ide-ide yang akan menginspirasinya; (6)
menggunakan bahan-bahan seni yang ada

Ragam kegiatan seni anak usia dini yaitu, Menggambar sering


disebut sebagai seni grafik dengan menggunakan crayon, kapur dan cat.
Kegiatan menggambar dapat dikembangkan melalui:

a. Seni grafis, dimana anak dapat menggambar menggunakan


pensil, crayon, kapur dan spidol.
b. Mengecat, anak mengecat pada kursi maupun meja, atau
melakukan kegiatan fingerpainting.
c. Menulis, anak melalui pengalaman menulis dengan cara
menekankan suatu benda ke alas atau benda. Kegiatan ini terus
berkembang sehingga menghasilkan coretan yang bermakna.

Musik dan Anak.

Berdasarkan pemahaman terhadap pertumbuhan dan


perkembangan anak, perlu memiliki inisiatif untuk menumbuhkan
pengalaman musik anak melalui ketrampilan-ketrampilan, konsep dan
sikap yang sesuai. Perlu mengingat bahwa dalam perkembangan musik,
sebagaimana dalam proses pertumbuhan, setiap anak adalah unik dan
setiap pola pertumbuhan musik anak harus dipahami dan dihargai.
Berikut ini adalah ketrampilan-ketrampilan yang perlu ditumbuhkan
dalam diri anak dalam hal musik :

(1) Mendengarkan.
Sebagian besar anak dilahirkan dengan kemampuan untuk
mendengarkan. Kemampuan untuk mendengarkan
bagaimanapun juga tidak hanya sekedar memusatkan perhatian
pada bunyi yang diterimannya.
(2) Bergerak
Sejak bayi, anak sudah menunjukkan kemampuan untuk
bergerak. Setiap gerakan merupakan ungkapan dari keberadaan
dan ekspresi dari anak. Gerakan anak dapat dibedakan menjadi 2
yaitu gerakan sadar dan gerakan tidak sadar. Gerakan tidak sadar
merupakan karakteristik bayi yang menunjukkan kematangan
fisik dan intelektual. Gerakan sadar bisa direncanakan dan
spontan.
(3) Menyanyi
Semua anak suka menyanyi. Makin besar usia anak, maka bunyi-
bunyian itu semakin menjadi jelas dan berwujud ucapan,
nyanyian, chanting, dan sebagainya. Chanting merupakan bunyi
yang ditimbulkan anak antara berbicara dan bernyanyi.
(4) Bermain
Dengan alat musik yang sesuai dengan usia anak, anak dapat
belajar secara sederhana baik secara individu maupun kelompok.
Khususnya bagi anak-anak yang memiliki kecerdasan musical,
maka kesempatan untuk bermain dengan alat-alat musik akan
mengembangkan potensi anak dalam bidang musik.
(5) Menciptakan.
Ada beberapa macam mencipta; (a) mencipta melalui
mendengarkan aktif; (b) mencipta melalui gerakan; (c) mencipta
melalui menyanyi dan ; (d) mencipta melalui bermain.

Pembelajaran musik, semua pengalaman akan terbawa ke dalam


pembelajaran mulai dari irama sederhana sampai pada permainan irama
yang lebih menantang. Area-area pembelajaran music yang penting
adalah sebagai berikut.

a. Rhytm. Adalah semua kata yang kita guanakan untuk


melukiskan dasar waktu atau komponen tempo dari music.
b. Melody dan harmoni. Melody bisa diartikan sebagai urutan dari
nada yang diubah atau diulang.
c. Timbre, merupakan kualitas suara yang unik yang dihasilkan
oleh alat music atau suara yang berbeda-beda.
d. Dinamika, merupakan tingkat kekerasan dan kelembutan suara
atau alat music yang dimainkan.

BAB II BERMAIN DAN PERMAINAN


Bermain adalah aktivitas khas yang
menggembirakan,menyenangkan dan menimbulkan kenikmatan. Bagi
anak usia dini bermain bukanlah merupakan kegiatan main-main.
Bermain merupakan kegiatan pokok dan penting untuk anak, karena
bermain bagi anak mempunyai nilai yang sama dengan bekerja dan
belajar bagi orang dewasa. Millestone mengemukakan bahwa
perkembangan anak dapat didukung melalui penataan lingkungan
bermain yang baik. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan maka
dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain memiliki arti yang sangat
penting bagi anak usia dini dalam kehidupannya.
James sully dalam bukunya Essay on Laugther bahwa tertawa adalah
tanda dari kegiatan bermain yang dilakukan sekelompok teman.
Artinya kegiatan bermain mempunyai manfaat tertentu. Bermain adalah
rasa senang dan rasa senang ditandai dengan tertawa. Plato adalah orang
pertama yang menyadari dan melihat arti pentingnya nilai praktis
bermain. Aristoteles berpendapat bahwa anak-anak perlu didorong
untuk bermain. Sedangkan menurut Frobel bahwa beermain dapat
meningkatkan minat, kapasitas serta pengetahuan anak.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat diuraikan


beberapa pengertian bermain : (a) bermain adalah aktivitas yang khas
yang menggembirakan, menyenangkan, dan menimbulkan kenikmatan.
(b) kesibukan yang dipilih sendiri oleh anak sebagai bagian dari usaha
mencoba-coba dan melatih diri. (c) dunia anak adalah dunia bermain.
(d) bermain bagi anak mempunyai nilai yang sama dengan bekerja dan
belajar bagi orang dewasa.

Fungsi dan manfaat bermain meliputi seluruh aspek perkembangan


anak seperti diuraikan berikut :

1. Perkembangan Bahasa.
Aktivitas bermain adalah ibarat laboratorium bahasa anak.
2. Perkembangan moral
3. Perkembangan sosial
4. Perkembangan kognitif
Bermain memungkinkan anak belajar konsep bentuk, warna,
ukuran dan jumlah yang memungkinkan stimulasi bagi
perkembangan intelektualnya.
5. Perkembangan fisik
Bermain memungkinkan anak untuk menggerakkan dan
melatih seluruh otot tubuh.
6. Perkembangan kreativitas.
Bermain dapat merangsang imajinasi dan memberikan
kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai idenya
tanpa merasa takut.
Tahap-tahap perkembangan bermain anak usia dini, menurut Mildred
Parter melalui 6 tahap yaitu :

a. Unoccupied Behavior/ gerakan kosong


b. Onlocker behavior/tingkah laku pengamat
c. Solitary play/ bermain soliter
d. Parraley play/ bermain parallel
e. Associative play/ bermain asosiatif
f. Cooperative play/ bermain koperatif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bermain anak usia
dini. Ada berbagai variasi kegiatan bermain yang dilakukan anak, dan ini
dipengaruhi oelh beberapa faktor sebagai berikut :

1. Kesehatan
Anak yang sehat cenderung akan memiliki berbagai jenis
kegiatan bermain aktif dari pada pasif, sementara anak yang
kurang sehat akan mudah lelah ketika bermain sehingga lebih
menyukai bermain pasif karena tidak membutuhkan energy.
2. Perkembangan Motorik.
Kegiatan bermain aktif lebih banyak menggunakan ketrampilan
motorik terutama motorik kasar. Sedangkan bermain pasif
kurang melibatkan ketrampilan dan koordinasi motorik.
3. Inteligensi.
Anak yang memiliki inteligensi yang pandai( pandai/cerdas)
cenderung akan menyukai baik kegiatan bermain aktif maupun
pasif.
4. Jenis kelamin.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat
kecenderungan perbedaan antara anak laki-laki dan anak
perempuan dalam memilih kegiatan bermain. Perbedaan ini
terjadi karena secara alami dan ditentukan secara genetik.
5. Lingkungan dan taraf sosial ekonomi.
Lingkungan dan taraf sosial ekonomi akan mempengaruhi jenis
kegiatan bermain dan alat permainan yang digunakan oleh anak.
6. Alat permainan.
Ketersediaan berbagai alat permainan yang dimiliki anak
mempengaruhi jenis kegiatan bermain.
Syarat-syarat bermain dan permainan Edukatif anak usia dini.
Bermain dapat memberikan manfaat yang maksimal pada anak jika
terpenuhi syarat-syaratnya. Ada 5 syarat bermain dan permainan edukatif
untuk anak usia dini yaitu:

a. time Play
Anak harus memiliki waktu yang cukup dalam bermain. Masa usia
dini merupakan masa bermain, bukan masa anak untuk dipaksa
belajar atau bekerja.
b. Play things.
Jenis alat permainan harus disesuaikan dengan usia anak dan taraf
perkembangannya. Jumlah alat permainan yang digunakan
hendaknya cukup dengan kebutuhan anak, tidak terlalu sedikit atau
tidak terlalu banyak.
c. Play fellows
Anak harus merasa yakin bahwa ia mempunyai teman bermain jika
ia memerlukan. Jika anak bermain sendiri, maka ia akan kehilangan
kesempatan belajar dari teman-temannya.
d. Play space.
Untuk bermain perlu disediakan tempat yang cukup untuk anak
sehingga anak dapat bergerak bebas.
e. Play rules.
Anak belajar bermain, melalui mencoba-coba sendiri, meniru
teman-temannya atau diberitahu caranya oleh orang lain. Jadi
permainan yang baik adalah permainan yang ada cara atau aturan
mainnya.
BAB III. TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI.
TIK atau Teknologi Informasi dan Komunikasi lebih dikenal dengan
istilah ICT. Istilah ICT mulai dikenal setelah adanya perpaduan antara
teknologi computer, baik perangkat keras( hadware) maupun perangkat
lunak (software). Lucas (dalam Munir, 2008) menyatakan bahwa
teknologi informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan
untuk micro barcode. Informasi yang disampaikan berupa pesan-pesan
elektronik.
Teknologi komunikasi merupakan perangkat-perangkat teknologi
yang terdiri dari hadware, software, proses, dan system, yang
digunakan untuk membantu proses komunikasi yang bertujuan agar
komunikasi berhasil. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi
informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi
segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat
bantu, manipulasi dan pengelolahan informasi. Sedangkan teknologi
komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan
alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang
satu ke yang lain.
TIK mempunyai tiga fungsi utama dalam pembelajaran, yaitu: a)
teknologi berfungsi sebagai alat (tools), hal ini perangkat teknologi
digunakan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, b) teknologi
berfungsi sebagai ilmu pengetahuan, (science), mengandung pengertian
bahwa teknologi adalah bagian dari disiplin ilmu yang harus dikuasai
peserta didik, c) teknologi sebagai bahan dan alat bantu untuk proses
pembelajaran (literacy), mengandung makna bahwa teknologi
berfungsi sebagai alat bantu untuk menguasai kompentensi tertentu
melalui bantuan computer.
Jenis TIK yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran pada
PAUD. Dapat dibedakan menurut cara penggunaanya, yaitu interaktif
dan non interaktif. Berikut berbagai perangkat TIK.
1. Audio dan Video Player.
Audia dan video player adalah perangkat TIK yang paling
mudah diguanakan. Audio dan video player , merupakan media
pembelajaran yang mengganbungkan anatara media audia dan
media visual.
2. komputer
Komputer adalah salah satu perangkat TIK yang sudah banyak
dimanfaatkan keberadaanya dalam proses pembelajaran.
komputer adalah produk kecerdasan manusia, tetapi komputer
dapat pula mempengaruhi kecerdasan manusia. Riset yang
dilakukan terhadap pengaruh computer terhadap perkembangan
intelegensi diperoleh pengaruh yang positif dari keduannya. Hal
tersebut karena kerjasama antara komputer-otak dan intelegensi
yang satu dengan yang lainnya. Bahan ajar ini akan memberikan
panduan bagaimana guru dapat menetapkan tema dan materi
bermain anak untuk selanjutnya memilih aplikasi yang tepat.
3. Internet.
Manfaat internet dalam dunia pendidikan tidak diragukan lagi
dengan tersediannya informasi dalam berbagai bidang dalam
jumlah yang melimpah. Rekdale mengemukakan bahwa internet
sangat potensial untuk mendukung pengembangan professional
guru karena intenet menawarkan beberapa kesempatan untuk
diraih, yakni (a) meningkatkan pengetahuan, (b) berbagi sumber
di antara rekan sejawat, (c) bekerja sama dengan guru-guru dari
luar negri, (d) mengatur komunikasi secara teratur, dan (e)
berpartisipasi dalam forum rekan sejawat baik local maupun
internasional.
BAB IV

PENELITIAN TINDAKAN KELAS.

Pengertian tindakan kelas menurut Kemmis dalam Hopkin 1985,


mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah bentuk
penelitian refklesi diri (self-reflection) yang dilakukan oleh para
partisipan dalam situasi sosial dalam rangka meningkatkan keadilan
dan rasionalitas praktek sosial dan pendidikan mereka sendiri.
Penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang
ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis.

Karena penelitian pada umumnya merupakan upaya mencari sesuatu


kebenaran berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah. Penelitian tindakan
memiliki objek penelitian yang tidak hanya terbatas dikelas, tetapi bisa
diluar kelas, sekolah, organisasi, komunitas atau masyarakat.
Sedangkan penelitian tindakan kelas memiliki obyek khusus berkaitan
dengan proses pembelajaran dikelas.

Beberapa karakteristik PTK antara lain : (a) masalahnya nyata, tidak


dicari-cari, bersifat kontekstual, (b) berorientasi pada pemecahan
masalah, bukan hanya mendeskripsikan masalah. (c) data diambil dari
berbagai sumber. (d) partisipatif, dilakukan sendiri. (e) kolaboratif,
dibantu rekan sejawat.

Tujuan PTK di TK/PAUD adalah untuk mengatasi permasalahan


dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas/kelompok belajar
tertentu di TK/PAUD. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan PTK di
TK dan lembaga PAUD lainnya, maka tujuan PTK adalah untuk
mengatasi permasalahan yang dihadapi guru dan pengembangkan
proses belajar dan pembelajaran serta kemampuan potensi yang
dimiliki anak sebagai dampak dari proses pembelajaran dan bermain
pada anak usia dini.

Langkah-langkah PTK.

1. Mendeskripsikan, mengindentifikasi dan analisis masalah.


Tujuan PTK mendeskripsikan masalah adalah agar dapat
menemukan akar masalah secara tepat. Makin rinci deskripsi
masalah makin mudah menemukan akar masalah, penemuan akar
masalah merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan PTK.
Langkah-langkah berikut ini akan membantu mendiskripsikan
masalah penelitian secara rinci : (a) mulailah dengan satu kalimat
masalah. (b) elaborasi kalimat itu serinci mungkin dengan menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut ini : 1 dari mana tahunya? 2.
Bagaimana datanya? 3. Upaya apa yang telah dilakukan? 4.
Bagaimana hasilnya?. (c) usahakan kalimat masalah dan
elaborasinya itu mencapai - 1 halaman, setelah itu biasanya akan
menemukan akar masalahnya.
2. Merumuskan permasalahan PTK.
Akbar (2010: 74) mengemukakan bahwa persyaratan yang
diperlukan dalam perumusuan masalah PTK adalah sebagai berikut:
(a) masalah peneliti hendaknya dirumuskan dalam bentuk kalimat
Tanya; (b) yang dipermasalahkan dalam rumusan masalah tidak
hanya hasilnya tetapi juga prosesnya; (c) pastikan bahwa setiap
rumusan masalah terkait dengan latar belakang masalah.
3. Membuat rumusan tujuan penelitian.
Tujuan PTK pada dasarnya adalah untuk mengemukakan
permasalahan pembelajaran, menindentifikasi faktor penyebab dan
sekaligus memberikan pemecahan terhadap masalah yang terjadi.
Perbedaan antara rumusan masalah dan tujuan penelitian adalah jika
rumusan masalah dirumuskan dalam kalimat Tanya, maka rumusan
tujuan dirumuskan dalam kalimat pernyataan.
4. Merumuskan manfaat penelitian.
Pembuatan rumusan manfaat penelitian didasarkan pada topik
atau masalah penelitian. Manfaat penelitian menguraikan tentang
dampak dari tercapainya tujuan penelitian. Rumusan manfaat
hendaknya jelas terutama bagi siapa dan deskrpsikan manfaatnya
apa.
5. Mengkaji teori yang relevan.
Dalam penelitian tindakan kelas, peneliti perlu mengadakan
kajian teori yang relevan, sehingga pemecahan masalah menjadi
efektif dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
6. Kerangka berfikir.
Kerangka pemikiran adalah narasi atau pernyataan tentang
kerangka konsep pemecahan masalah yang telah diidentifikasi atau
dirumuskan. Melalui uraian dalam kerangka berpikir, peneliti dapat
menjelaskan secara komprehensif variable-variabel apa saja yang
diteliti dan dari teori apa variable-variabel itu diturunkan, serta
mengapa variable-variabel itu saja yang diteliti.
7. Merumuskan Hipotensi Penelitian.
Hipotensi tindakan merupakan jawaban sementara (bersifat
teoritis) terhadap permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian
tindakan kelas, hipotesis tindakan dirumuskan dengan menyebutkan
dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan
dilakukan. Hipotesis tindakan diperoleh dari hasil kajian teori dan
kerangka pemecahan masalah.
8. Membuat perencanaan tindakan.
Pada tahap ini peneliti membuat perencanaan tindakan untuk
mengatasi permasalahan yang dihadapi. Perencanaan tindakan
disusun untuk membuktikan secara emperis hipotesis tindakan yang
telah dirumuskan.
9. Melaksanakan tindakan.
Kegiatan ini merupakan implementasi dari perencanaan
tindakan yang sudah dirancang sebelumnya. Pada tahap ini peneliti
melakukan kegiatan pembelajaran berdasarkan RKH yang telah
dibuat. Untuk mencapai tujuan penelitian pelaksanaan pembelajaran
tidak cukup dilakukan hanya satu kali. Oleh karena itu untuk satu
siklus kegiatan penelitian terdiri dari beberapa peertemuan. Dalam
pelaksanaan tindakan, peneliti sekaligus juga melakukan observasi
dan refleksi atas tindakan perbaikan pembelajaran yang sedang
berlangsung.
10. Mengadakan observasi.
Pada saat pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan
pengeamatan terhadap proses tindakan pembelajaran. Peneliti
mengumpulkan informasi/data yang diperlukan dengan
menggunakan instrument yang sudah disiapkan sebelumnya.
Mengingat proses tindakan berlangsung secara alamiah dan sulit
diulang-ulang, maka disarankan agar peneliti merekam proses
tersebut baik dengan menggunakan perangkat audio maupun foto
atau rekaman audio.
11. Menganalisis data dan refklesi.
Dasna (2008: 35) mengemukakan bahwa pada tahap ini peneliti
melakukan kegiatan menganalisa, menjelaskan dan menyimpulkan
data yang diperoleh dari bukti empiris serta mengkaitkannya dengan
teori yang telah disusun sebelumnya. Data yang sudah diolah
kemudian ditafsirkan dan diberi makna. Penafsiran dan pemberiaan
makna terhadap hasil analisis data bertujuan agar peneliti dapat
menyimpulkan hasil penelitian secara tepat sesuai dengan focus
peneliti yang dicapai.
12. Membuat kesimpulan.
Paparan data dan hasil analisis data dapat dijadikan dasar untuk
membuat kesimpulan. Kesimpulan dirumuskan berdasarkan jumlah
rumusan masalah dan temuan penelitian.
13. Membuat rencana tindakan lanjut.
Berdasarkan hasil/kesimpulan yang diperoleh pada satu siklus
kegiatan tindakan dan hasil refklesi terhadap tindakan yang telah
dilakukan, maka peneliti perlu menindak lanjuti penelitian tersebut.
Tentu akan muncul pertanyaan kapan PTK berakhir? jawabanya
adalah jika upaya perbaikan sudah mencapai hasil yang maksimal.
Penyusunan proposal penelitian tindakan kelas, komponennya adalah:

a. Judul penelitian
b. Pendahuluan.
1. Latar belakang masalah
2. Rumusan masalah
3. Tujuan penelitian
4. Hipotesis tindakan
5. Manfaat penelitian
6. Ruang lingkup dan keterbatasan penelitian
7. Definisi istilah atau definisi operasional.
c. Kajian teori/kerangka konseptual
d. Metodologi penelitian
1. Rancangan penelitian
2. Latar dan subyek penelitian
3. Teknik pengumpulan data
4. Instrument penelitian
5. Teknik analisa data
e. Daftar pustaka
f. Lampiran.
Membuat laporan PTK, berikut ini komponen laporan penelitian tindaakan
kelas:

1. Bagian awal.
a. Halaman sampul
b. Halaman judul
c. Lembar pengesahan
d. Pernyataan keaslian tulisan
e. Abstrak
f. Kata pengantar
g. Daftar isi
h. Daftar table
i. Daftar gambar
j. Daftar lampiran
2. Bagian inti
BAB 1 PENDAHULUAN

a. Latar belakang masalah


b. Rumusan masalah
c. Hipotesis tindakan
d. Manfaat penelitian
e. Ruang lingkup dan keterbatasan penelitian
f. Definisi istilah/definisi operasional.
BAB II KAJIAN PUSTAKA/KAJIAN TEORI.

a. Kajian konsep/ variable 1


b. Kajian konsep/ variable 2
c. Kajian konsep/ variable 3
d. Kerangka pemecahan masalah.
BAB III METODELOGI PENELITIAN

a. Rancangan penelitian
b. Latar dan subyek penelitian
c. Teknik pengumpulan data
d. Instrument penelitian
e. Teknik analisi data.
BAB IV PAPARAN DAN TEMUAN PENELITIAN

BAB V PEMBAHASAN
BAB VI PENUTUP

a. Kesimpulan
b. Saran
3. Bagian akhir
a. Daftar rujukan
b. Lampiran
c. Riwayat hidup
d. Daftar pustaka.

B. DISKRIPSIKAN Kemajuan yang Anda peroleh setelah pembekalan


atau monitoring :
1. Materi yang sudah Anda pahami.
Materi yang sudah saya pahami adalah materi bab I tentang bidang
pengembangan nilai-nilai agama dan moral, sosial emosional, fisik
motorik dan Bab II tentang bermain dan permainan. Dalam materi tersebut
jelas dalam penyampaiannya, mudah dipahami dan disertakan contoh
sehingga mudah dipahami. dalam materi tersebut kita bisa mendapat
banyak masukan dan pengetahuan tentang materi-materi yang
disampaikan untuk meningkatkan pembelajaran dalam bidang pendidikan
anak usia dini. Dengan materi yang telah disampaikan maka akan banyak
pengalaman yang bisa diberikan untuk pendidik sehingga bisa
mengembangkan pembelajaran di dalam kelas. Menjadi kreatif dan
inovatif sehingga pembelajaran tidak menjadi monoton.
2. Materi yang belum dapat Anda kuasai.
Materi yang belum saya kuasai adalah materi pada Bab I Tentang bidang
pengembangan kognitif dan bidang pengembangan seni dan bab.III
tentang TIK. menjadi sulit untuk dipahami karena isi dalam materi tersebut
kurang adanya contoh yang lebih kompleks dalam Bab III hanya berupa
penjabaran saja sehingga kurang menjadi dipahami. padahal TIK penting
dalam meningkatkan pembelajaran di kelas dengan adanya TIK belajar
menjadi lebih menyenangkan dan kreatif. Seperti halnya pada Bab I
tentang pengembangan kognitif menjadi kurang dikuasai karena sulitnya
pemahaman dalam materi tersebut.

C. Materi ensensial apa saja yang tidak ada dalam sumber belajar.
Uraikan materi yang menurut anda anggap esensial tetapi tidak
dijelaskan dalam bagian ini.
Menurut saya, materi yang Esensial tetapi tidak dijelaskan dalam
modul professional adalah : tentang permainan tradisional yang mampu
mengembangkan semua bidang pengembangan baik itu NAM, SOSEM,
KOGNITIF, FISIK MOTORIK, BAHASA, SENI. Menjadi ensensial
karena pentingnya mengembangkan permainan tradisional. Permainan
tradisional sangat cocok bagi media pembelajaran pendidikan anak usia
dini. Alasannya permainan tradisional mengandung banyak unsur manfaat
dan persiapan bagi anak menjalani kehidupan bermasyarakat. Lewat
permainan tradisional, tidak perlu paksaan. Anak bermain ceria, setelah
permainan usai tanpa mereka sadari ada bekal yang didapatnya, pentingnya
menjaga lingkungan, menghormati sesama, hingga cinta kepada Tuhan.
Dibalik permainan yang terkesan sederhana, sebenarnya permainan
tradisional memiliki manfaat yang baik untuk perkembangan pertumbuhan
anak. Banyak hal yang didapat dari seorang anak dari sebuah permainan
tradisional lewat proses bermain. Dalam hal ini si anak terlibat secara
langsung baik fisik maupun emosi sehingga dapat mempengaruhi masa
pertumbuhannya. Diambil dari sumber referensi ;
pendidikananakusiadini2.blogspot.com.
Menurut saya materi yang Esensial yang tidak di jelaskan dalam
modul professional dalam bab pengembangan anak usia dini yang terdapat
pada pengembangan sosial emosional anak usia dini adalah tentang
karakteristik emosi dan jenis-jenis emosi pada anak usia dini. Dikatakan
penting karena karakteristik emosi anak usia dini yang sering terlihat seperti
emosi anak berlangsung singkat lalu tiba-tiba berhenti. Emosi anak usia dini
sifatnya mendalam,tetapi mudah berganti, dan selain sifatnya terbuka juga
lebih sering terjadi. Sebagai contoh, anak kalau sedang marah dia akan
menangis keras atau berteriak-teriak, tetapi kalau kemauannya dituruti atau
terpenuhi maka tiba-tiba tangisannya berhenti dan bisa langsung tertawa.
Disini lha pentingnya peran seorang pendidik mengetahui karakteristik dan
jenis emosi pada anak. Karena setiap anak mempunyai suatu keunikan, dan
keunikan setiap anak berbeda-beda. Ada anak yang bersifat pendiam,
pemarah, sabar, dan sebagainya.
Menurut saya, materi yang Esensial tetapi tidak dijelaskan dalam
modul professional adalah tentang pembahasan hambatan perkembangan
bahasa anak usia dini, dikatakan ensensial karena keterlambatan berbicara
tidak hanya mempengaruhi penyesuaian akademis dan pribadi anak.
Pengaruh yang paling serius adalah terhadap kemampuan membaca pada
awal anak masuk sekolah. Banyak penyebab keterlambatan bicara pada
anak. Salah satu penyebab paling umum dan paling serius adalah
ketidakmampuan mendorong/memotivasi anak berbicara, bahkan pada saat
anak mulai berceloteh. Apabila anak tidak diberikan rangsangan(stimulasi)
didorong untuk berceloteh hal ini akan menghambat penggunaan didalam
berbahasa/kosakata yang baik dan benar. Referensi :
fazan.web.id/pendidikan perkembangan bahasa pada anak usia dini-
majority.
Menurut saya, materi yang Esensial tetapi tidak dijelaskan dalam
modul professional pada BAB 1 adalah tentang pembahasan pengembangan
fisik motorik anak usia dini adalah mengenai prinsip-prinsip perkembangan
fisik motorik anak usia dini dan Tahapan-tahapan perkembangan motorik
anak usia dini. Dikatakan ensensial karena sebagai pendidik membutuhkan
latar belakang yang kuat untuk memilih kegiatan fisik atau motorik yang
bermakna dan sesuai bagi anak didiknya. Seorang pendidik juga perlu
mempelajari tingkat kemampuan anak didiknya sehingga dapat menentukan
jenis kegiatan dan ukuran keberhasilan yang sesuai dengan tahapan
perkembangan anak. Sumber referensi : melyoelhabox.blogspot.com
Menurut saya, materi yang Esensial yang tidak dijelaskan dalam
sumber belajar pada materi BAB III tentang TIK, adalah tentang
pembelajaran menggunakan media gambar animasi yang sangat cocok
digunakan untuk pembelajaran di PAUD. Dikatakan penting karena media
animasi adalah kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga
menghasilkan gambar bergerak. Pergerakan gambar itu dibentuk dengan
menampilkan urutan gambar yang berubah sedikit demi sedikit pada
kecepatan yang tinggi, sehingga menghasilkan objek gambar static yang
dapat bergerak seperti hidup. Media animasi dalam pembelajaran mampu
menyampaikan suatu konsep yang komplek secara visual dan dinamik,
media animasi digital mampu menarik perhatian anak dengan mudah.
Media animasi juga mampu menarik perhatian dan meningkatkan motivasi
serta merangsang pemikiran anak yang lebih berkesan. Diambil dari
referensi http://bilarik.wordpress.com/2010 dan
blogmediapembelajaranguru.blogspot.com
Menurut saya, materi yang esensial yang tidak dijelaskan dalam
sumber belajar pada BAB IV tentang Peta Konsep. Dikatakan penting
karena peta konsep itu adalah suatu ilustrasi grafis yang konkrit yang dapat
menunjukkan bagaimana suatu konsep berhubungan atau terkait dengan
konsep-konsep lain yang termasuk kategori yang sama. Peta konsep dapat
merupakan suatu skema atau ringkasan dari hasil belajar. Peta konsep
dapat membantu peneliti menyusun konsep dan menghindari
miskomsepsi. Dalam materi pada bab IV hanya terdapat contoh peta
konsep tidak ada penjelasaan tentang peta konsep..referensi dari
http://pkab.wordpress.com
D. Materi apa saja yang tidak esensial namun ada dalam sumber belajar.
Uraikan materi yang menurut anda tidak esensial namun ada dalam
sumber belajar.
Menurut saya materi yang tidak ensesial yang dijelaskan dalam
sumber belajar adalah pada pengembangan kognitif anak usia dini pada
point tentang penjumlahan dan pengurangan, yang di jelaskan pada halaman
57 pada sumber belajar penunjang PLPG 2017 materi Profesional Guru
kelas PAUD/TK.
Karena dalam pendidikan anak usia dini tidak di ajarkan untuk
berhitung. Peraturan itu secara tegas memadatkan agar PAUD tidak
memberikan beban pada anak. Menjadikan lingkungan belajar, sebagai
wadah bermain bagi anak. Penerapan berhitung bagi anak usia dini adalah
dalam bentuk pengenalan.
Menurut saya, materi yang tidak esensial yang dijelaskan dalam
sumber belajar adalah pada halaman 117 tentang ASI, pertama ASI
mengandung lebih dari 4000 sel per mil, terdiri dari tiga macam yaitu :
Bronchus Asosiated lymphosite tissue(BALT), GALT, MALT. Dll. Materi
ini tidak cocok dijelaskan dalam sumber belajar ini, masih ada yang lebih
penting seperti sumber-sumber gizi yang baik untuk meningkatkan
perkembangan fisik anak.

Menurut saya, materi yang tidak esensial namun dijelaskan dalam


sumber belajar adalah pada BAB IV pada poin lampiran tentang anggaran
penelitian yang menyatakan dalam proposal perlu dicantumkan anggaran
yang diperlukan untuk biaya penelitian. Dalam pembuatan PTK masih
jarang sekali dalam lampiran menyertakan anggaran pembuatan PTK,
karena itu adalah privasi masing-masing dari peneliti, masih ada hal yang
penting yang bisa disertakan dalam lampiran selain anggaran pembuatan
proposal. Itu lha kenapa dikatakan kurang esensial.
E. KEMAJUAN DALAM MENYELESAIKAN LATIHAN SOAL
URAIAN.

1. Soal uraian yang dapat anda selesaikan sendiri tanpa bantuan mentor
Soal uraian pada BAB II tentang bermain dan permainan dan pada BAB
III tentang TIK. Mampu diselesaikan sendiri tanpa bantuan dari mentor.

2. Soal uraian yang mana saja yang masih belum dapat Anda selesaikan
dengan baik atau belum sempat dilakukan pembimbingan oleh mentor.
Soal uraian yang belum diselesaikan adalah pada BAB IV pada sumber
belajar modul professional yaitu tentang PENELITIAN TINDAKAN
KELAS.
BAB III PENUTUP.

Berdasarkan hasil dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa


penyusunan laporan akhir pelaksanaan pembekalan peserta PLPG tahun 2017
dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. Tak lupa kami mengucapkan
terimakasih karena kesediannya untuk membaca laporan akhir yang kami
buat guna memenuhi undangan PLPG tahun 2017. Tentunya banyak
kekurangan karena berbagai keterbatasan kami baik berupa pengetahuan
maupun bahan referensi, oleh karena itu masukan berupa saran dan kritik
sangat kami harapkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan akan
berbagai bidang pendidikan pada anak usia dini.