Anda di halaman 1dari 32

Tips Memilih Keris Bagi Pemula

Tujuan memiliki keris akan mempengaruhi pertimbangan dalam memilih keris. Tujuan
memiliki keris antara lain untuk investasi, koleksi/hobby atau keduanya atau mungkin
juga untuk memperoleh tuah dari keris. Untuk tujuan yang terakhir sebaiknya tidak
digunakan mengingat tuah tidak dapat dibuktikan (sekedar saran daripada syirik).

Sebenarnya menilai sebuah keris hampir sama dengan jika menilai sebuah lukisan. Pada
orang-orang tertentu yang mempunyai citarasa seni tersendiri, kadang menilai tinggi
lukisan yang menurut orang kebanyakan biasa-biasa saja. Sedangkan lukisan yang
menurut orang secara umum indah, dianggap kurang bagus karena dianggap tidak ada
jiwanya. Jadi disini faktor subjektivitas sangat tinggi. Lukisan dari pelukis terkenal selalu
dianggap bagus, dan secara umum orang akan mem-beo bahwa lukisan tersebut bagus,
apalagi jika dilihat dari latar sejarah, cara mendapatkannya serta nilai pengganti sewaktu
memperolehnya. Padahal kadang muncul pola pemasaran yang tidak sehat melalui lelang
atau pemborongan lukisan dari pelukis tertentu sehingga menjadi barang langka di
pasaran sehingga memunculkan kesan lukisan dari pelukis tersebut bernilai seni tinggi
dan nilai pengganti yang mahal untuk mendapatkannya. Intilah kerennya "BOM-BOM-
AN"

Hal yang sama berlaku juga terhadap keris. Maka disini akan muncul penggemar yang
fanatik terhadap keris tangguh tertentu atau buatan mpu tertentu. Disini pola "bom-bom-
an" kadang muncul, sehingga timbul image bahwa keris tangguh tertentu atau buatan
mpu tertentu adalah yang terbaik, termahal dsb. Jadi bagi pemula agar hati-hati dalam
usaha mendapatkan sebuah keris, jangan terpengaruh jualan "kecap".

Tulisan ini adalah meninjau keris dari segi eksoteri (fisik keris). Hampir semua literatur
selalu menganjurkan memilih keris berdasarkan tangguh, wutuh, sepuh dan ditambahi
kriteria lainnya (Ensiklopedi Keris, hal 16). Ada juga yang mengembangkan menjadi
Kriteria Lahiriah (TUH-SI-RAP-PUH-MOR-JA-NGUN-NGGUH), Kriteria Emosional
(Gebyar, Greget, Guwaya, Wingit, Wibawa), dan Kriteria Spiritual (Angsar, Sejarah,
Tayuh). Sekali lagi tulisan ini hanya membahas aspek fisik keris, karena kriterial
emosional sangat subyektif dan spiritual justru tidak dapat dibuktikan.

Pengertian Tangguh

1
Kadang bagi pemula agak membingungkan, terutama bagaimana menentukan tangguh
dan sepuh? Kalau wutuh dapat dengan mudah dipahami, yaitu asal tidak cacat, rincikan
masih lengkap, bilah dan pesi masih utuh. Yang menjadi pertanyaan mungkin apa
bedanya tangguh dengan sepuh, toh tangguh selalu menunjukkan ke-sepuh-an (usia)
keris.

Masih terdapat dualisme pengertian tangguh, yang pertama :

Tangguh adalah konsep penarihan waktu pembuatan keris berdasarkan bahan, bentuk dan
garapan (Keris Jawa, hal 367). Tangguh adalah prakiraan gaya kedaerahan atau zaman
dibuatnya sebilah keris atau tombak, yang dijabarkan dari pasikutannya, pengamatan
jenis besinya, pamornya dan bajanya. Dapat disimpulkan bahwa tangguh terkait erat
dengan masa pemerintahan kerajaan di Jawa dan/atau tempat dibuatnya sebuah tosan aji.
Penentuan tangguh dapat ditempuh melalui pengamatan atas gaya/garap keris (bentuk
ganja, bentuk sor-soran, rincikan, luk dll) serta pengamatan atas logam. Berdasar masa
pemerintahan, muncul Tangguh Pajajaran, Jenggala, Kahuripan, Singosari, Majapahit,
Demak, Pajang, Mataram Senopaten, Mataram Sultan Agung, Mataram Amangkuratan,
Cirebon, Surakarta dan Jogjakarta. Berdasar lokasi/tempat dibuatnya memunculkan
Tangguh Sedayu, Tuban, Madura Tua, (masa Majapahit), Pengging (masa Demak-
Pajang), Madura Muda, Cirebon, Madiun (masa Mataram), Surakarta dan Jogjakarta.

Yang Kedua berkaitan dengan penampilan keris (gaya), seperti yang dikatakan tangguh
Pengging adalah yang luk-nya rengkol atau tangguh Segaluh gandiknya agak maju,
tangguh Mataram Senopaten bilahnya mengesankan trengginas sedangkan Mataram
Amangkuratan bilahnya birawa (besar, panjang dan relatif tebal). Berdasarkan hal ini
maka keris yang luk-nya rengkol akan dibilang Tangguh Pengging tanpa
mempertimbangkan kapan dibuat dan siapa mpu pembuatnya. Atau jika sirah cecaknya
cenderung membulat, biasanya Tangguh Tuban.

Dari dua pengertian di atas, pengertian pertama yang lebih sering digunakan. Dengan
demikian jika mengetahui masa pemerintahan, diketahui tangguhnya, maka diketahui
pula sepuh-nya.

Bagi penggemar keris pemula, mungkin pada tahap awal akan mengalami kesulitan untuk
menentukan tangguh suatu keris. Proses belajar yang paling mudah adalah dengan
banyak bergaul dengan keris, dengan pengertian banyak mengamati ciri-ciri fisik keris.

2
Wesi (Logam Besi) dan Baja

Setelah menyatu dalam satu keris pengamatan kandungan logam pada keris lebih
didasarkan pada bobot/berat keris. Makin banyak kandungan baja, maka cenderung lebih
berat. Selanjutnya pengamatan terhadap baik/kurang baiknya logam, secara kasar dapat
berpedoman pada berikut :

Logam dengan kesan basah > kering


Logam dengan kesan rabaan halus > kasar
Logam yang berurat > madas
Logam dengan kesan padat > berpori

*Berserat, Keras dan tahan karat

3
*Halus, Basah, Liat dan tahan karat

*Halus, Basah, Keras dan sangat tahan karat

*Halus, Berpasir, dan kurang tahan karat

4
*Madas, Kering dan kesan berpori

*Madas, Keras dan kurang tahan karat

Image Campuran dari "DISKUSI SEPUTAR KERIS DAN TOSAN AJI"


@KASKUS

5
6
7
8
9
10
11
12
Garap

Pengamatan yang gampang untuk penilaian kualitas garap dapat diketahui dari aspek
fisik maupun aspek estetika. Aspek fisik menyangkut, apakah pada bilah, ganja sampai
dengan pesi tidak terdapat cacat bawaan sewaktu pembuatan keris. Cacat bawaan ini
biasanya berwujud retakan kecil pada bilah, ganja maupun pesi. Jadi seperti jika kita
menghaluskan kayu dengan ketam secara manual, kadang ada bagian yang "cowel" dan
tidak halus.

Aspek estetika berkaitan dengan :

Apakah pakem keris sudah benar, baik menyangkut dhapur (kelengkapan


rincikan) maupun pamor
Untuk keris luk bagaimana dengan luk-nya, apakah serasi antara panjang, lebar
dan jarak antara luk sampai ke ujung keris
Pada rincikan biasanya kesempurnaan garap dapat dilihat dari pembuatan
kembang kacang, tikel alis, sogokan, sraweyan dan greneng (ron dha). Cacat pada
kembang kacang sangat mempengaruhi nilai suatu keris.
Ganja dapat dilihat dari posisi bawah dan posisi samping. Perlu diperhatikan
penyatuan antara bilah dan ganja, lebar ganja serta keserasian dengan bilah. Dari
13
posisi bawah dapat diperhatikan pembuatan sirah cecak, gulu meled, wetengan
sampai buntut urang apakah serasi atau tidak. Sebagai catatan, bahwa sebagian
besar ganja pada keris "sepuh" akan lebih panjang dari wadidang. Ini disebabkan
wadidang yang lebih tipis dari ganja mengalami ke-aus-an.

Pesi yang umum biasanya makin mengecil kearah ujung, tetapi ada juga yang
hampir sama. Sebagai catatan, pesi pada keris "sepuh" biasanya pangkal lebih
kecil dari pada yang tertanam pada ganja dan semakin ke ujung makin mengecil.
Hal ini disebabkan ke-aus-an, karena seringnya dilepas sewaktu diwarangi
sehingga sewaktu melepas dan menanam ke dalam dederan/pegangan timbul
gesekan yang menyebabkan aus.

Pamor

Pamor akan dilihat dari bahan pamor, jenis pamor, kesempurnaan garap pamor yang
dihubungkan dengan tingkat kesulitan pembuatan. Dari segi bahan, maka pamor meteorit
menduduki nilai tertinggi disusul bahan nikel dan Luwu. Jika keris diwarangi, pamor
meteorit akan menampilkan warna putih dengan gradasi yang tidak seragam, sedangkan
pamor nikel akan menampilkan warna putih terang. Pamor Luwu terkesan suram.
Selanjutnya pamor yang terang dengan kesan padat dan menancap kuat pada bilah
dianggap lebih bagus daripada pamor "nggajih".

Ditinjau dari jenis pamor, secara umum pamor miring dianggap lebih tinggi nilai
penggantinya dibanding pamor mlumah meski tidak selalu demikian. Beberapa pamor
mlumah tertentu nilainya juga cukup tinggi seperti udan mas, sekar pala, bonang
sarenteng dll. Sebenarnya nilai suatu pamor sangat tergantung dari tingkat kesulitan
sewaktu pembuatan. Ini yang menjawab mengapa pamor udan mas, bonang sarenteng
cukup tinggi nilainya, yaitu karena tingkat kesulitannya tidak di bawah pamor miring
tertentu.

Tingkat kesulitan untuk pamor miring juga berbeda-beda. Pamor miring dengan penutup
di sepanjang bilah (wengkon) pasti lebih sulit pembuatannya sehingga nilainya lebih
tinggi. Pembuatan beberapa pamor miring yang tingkat kesulitannya sangat tinggi antara
lain blarak sineret (wengkon), ron genduru (sungsang dan wengkon) dan eri wader.

Dari keseluruhan nilai keris, pamor ini pengaruhnya sangat besar. Hal ini dapat
dimaklumi mengingat bahan pamor yang baik cukup mahal serta tingkat kesulitan
pembuatan keris sangat ditentukan dari jenis pamor yang akan dibuat.

14
Dhapur

Nilai sebuah keris tidak dapat terlepas dari hukum permintaan dan penawaran. Yang
dapat diidentifikasi dari hukum permintaan dan penawaran antara lain dhapur keris dan
ketersediaan keris. Berdasar pengalaman dhapur keris jenis tertentu dan dhapur keris
yang cukup langka permintaannya cukup banyak. Keris luk 13 dhapur Sengkelat meski
jumlahnya cukup banyak tetapi peminatnya juga sangat banyak. Keris luk 11, baik
dhapur Sabuk Inten maupun Carita Keprabon peminatnya juga cukup banyak. Secara
umum keris luk 13, 5 dan 3 lebih banyak peminatnya.

Untuk keris lurus dhapur Karna Tinanding, Pasopati, dan Jalak terutama Jalak Sumelang
Gandring peminatnya cukup banyak sementara ketersediaannya (yang baik) terbatas.

Selanjutnya dhapur keris yang menggunakan stilasi hewan atau manusia pada gandiknya,
biasanya mempunyai nilai lebih. Dengan garapan, logam, pamor, tangguh serta keutuhan
yang hampir seimbang, keris dengan gandik naga atau singa mempunyai nilai yang
sangat jauh berbeda. Urut-urutan secara umum, nilai tertinggi ada pada keris dengan
gandik nagaraja (naga dengan kuluk/kupluk raja sebagaimana kepala Kresna atau Adipati
Karna dalam pewayangan), diikuti Singa (Singabarong), Naga Primitif, dll.

Ilmu tangguh adalah pengetahuan (kawruh) untuk memperkirakan jaman pembuatan


keris, dengan cara meneliti ciri khas atau gaya pada rancang bangun keris, jenis besi keris
dan pamornya.

Dalam catatan kuno, dituliskan ciri-ciri secara tertulis. Notasi itu meyakini akan adanya
sebuah gaya atau langgam dari setiap kerajaan. Artinya pada jaman Majapahit diyakini
kerisnya memiliki beberapa ciri gaya atau langgam yang seragam. Begitu pula jaman
kerajaan Mataram dan seterusnya jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat diyakini
memiliki gayanya masing-masing.

Keyakinan terhadap bahan besi dan pamor juga menjadi panduan dalam ilmu tangguh ini.

Adapun pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut:

1. Kuno

(Budho) tahun 125 M 1125 M

15
meliputi kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, Medang Kamulan, Tulisan,
Gilingwesi, Mamenang, Pengging Witaradya, Kahuripan dan Kediri.

2. Madyo Kuno

(Kuno Pertengahan) tahun 1126 M 1250 M.

Meliputi kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Pajajaran dan Cirebon.

3. Sepuh Tengah

(Tua Pertengahan) tahun 1251 M 1459 M

Meliputi Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan


Blambangan.

4. Tengahan

(Pertengahan) tahun 1460 M 1613 M

Meliputi Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram

5. Nom

(Muda) tahun 1614 M 1945

Meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta.

6. Kamardikan 1945 hingga seterusnya.

Adalah keris yang diciptakan setelah Indonesia merdeka, 1945.

Pada waktu itu pun raja di Surakarta Hadiningrat ke XII mendapat julukan Sinuhun
Hamardika. Keris yang diciptakan pada era ini masuk dalam penggolongan keris
kamardikan.

Tangguh merupakan seni yang digandrungi oleh komunitas pecinta keris, karena disini
terletak suatu seni dalam nilai kemampuan; semacam uji kemampuan dari sesama
penggemar keris. Tangguh juga menjadi sebuah nilai pada harga sebilah keris sesuai
trend yang ada dari masa ke masa.

Tangguh dalam kamus bahasa Jawa (S. Prawiroatmodjo) diartikan sebagai boleh
dipercaya, tenggang, waktu yang baik, sangka, persangkaan, gaya, lembaga,
macam (keris).
16
Namun demikian, tuntutan modernitas dan keinginan yang kritis (sisi ilmiah) masa kini,
tangguh dituntut menjadi pasti (exact), artinya ilmu tangguh akan bergeser menyesuaikan
jaman untuk dapat melengkapi salah satu kriteria dalam melakukan sertifikasi sebilah
keris. Tuntutan ini adalah hal yang realistik karena generasi muda tak lagi menyanjung
sesepuh yang belum tentu memiliki wawasan yang benar. Penyanjungan sesepuh adalah
ciri etnografis dari budaya paternalistik dalam sub kultur Jawa (Nusantara). Namun
demikian ilmu tangguh harus tetap dipertahankan keberadaannya, kepercayaan pada
sesepuh akan bergeser pada sertifikasi suatu badan bahkan mungkin institusional berskala
nasional.

Dalam sisi pandang yang kritikal pada abad modern ini, tangguh menjadi sebuah
rangsangan baru untuk meneliti secara lebih pasti, betul dan tepat (exact) menentukan
sebilah tangguh keris. Maka tingkat pengetahuan yang tertuang pada masa dulu melalui
catatan, buku dan naskah kuno menjadi sebuah catatan yang masih kurang memenuhi
hasrat keingin-tahuan perkerisan pada saat sekarang. Catatan atau buku kuno tidak
melampirkan contoh sketsa atau foto apa yang dimaksudkan pada uraiannya. Tulisan
kuno tentang tangguh juga belum bisa menjamin si penulis adalah orang mengetahui
keris, bisa jadi penulis adalah seorang pujangga yang menulis secara puitis, karena waktu
itu memang tidak memiliki target bahwa tulisannya akan menjadi sebuah kawruh yang
meningkat menjadi ilmu seni menangguh.

Ilmu tangguh sering menjadi sebuah polemik, karena terkendala oleh banyak hal, antara
lain; kendala wawasan, kendala tempat (domisili atau keberadaan), kendala oleh
narasumber yang sebetulnya berskala lokal, kendala oleh karena minat atau selera pada
jenis keris dan banyak sekali hal-hal yang memancing perdebatan.

Salah satu cara untuk membangun sebuah ilmu tangguh yang representatif tentu harus
melakukan pendataan dan penelitian ulang, salah satunya adalah dengan meneliti
penyesuaian antara keris penemuan (artefak) dengan situsnya (geografis); meneliti dan
mengkaji ulang catatan kuno dan memperbandingkannya satu buku dengan buku yang
lain. Saat ini pun di perpustakaan keraton masih banyak sumber yang dapat menjadi
referensi, baik buku-buku bahkan contoh keris berserta kekancingannya.

Dibawah ini ciri-ciri sebuah keris dan tangguhnya :

Jenggala

Ganja pendek, wadidangnya tegak, ada-ada seperti punggung sapi, besi padat-halus dan
hitam pekat, pamor seperti rambut putih dan sogokan tanpa pamor.

Pajajaran

17
Ganja ambatok mengkurep, berbulu lembut, sirah cecak panjang, besi berserat dan
kering, potongan bilah ramping, pamor seperti lemak/gajih, blumbangan atau pejetan
lebar, sogokan agak lebar dan pendek.

Majapahit

Potongan bilah agak kecil/ramping, ganja sebit rontal kecil luwes, sirah cecak pendek dan
meruncing, odo-odo tajam, besi berat dan hitam. Pamor ngrambut berserat panjang-
panjang. Pasikutan keris Wingit.

Tuban

Ganja berbentuk tinggi berbulu, sirah cecak tumpul, pamor menyebar, potongan bilah
cembung dan lebar.

Bali

Ukuran bilah besar dan panjang, lebih besar dari ukuran keris jawa, besi berkilau, pamor
besar halus dan berkilau.

Madura Tua

Besi kasar dan berat, sekar kacang tumpul dan pamor besar-besar/agal

Mataram

Bentuk ganja seperti cecak menangkap mangsa, sogokan berpamor penuh, sekar kacang
seperti gelung wayang, pamor tampak kokoh, dan atas puyuan timbul/menyembul (ujung
sogokan)

Kartosura

Besi agak kasar, bila ditimang agak berat, bilah lebih gemuk, ganja berkepala cicak yang
meruncing

Surakarta

Bilah seperti daun singkong, besi halus, pamor menyebar, puyuan meruncing, gulu meled
pada ganja pendek, odo-odo dan bagian lainnya tampak manis dan luwes.

Yogyakarta

Ganja menggantung, besi halus dan berat, pamor menyebar penuh keseluruh bagian bilah.

18
Catatan diatas hanya sebagai contoh penulisan kriteria tangguh, yang tentu seharusnya
disertai contoh barangnya berupa foto, sketsa atau blad. Maka hal yang sebenarnya ilmu
tangguh memang masih perlu disempurnakan.

(catatan ini diambil dari beberapa notasi diantaranya dari Forum Diskusi Keris Yahoo
Grup)

Ada beberapa tangguh keris berdasarkan pakem Jawa diantaranya :

1. Tangguh Segaluh (Abad 12)

2. Tangguh Pajajaran (Abad 12)

3. Tangguh Kahuripan (Abad 12)

4. Tangguh Jenggala (Abad 13)

5. Tangguh Singasari (Abad 13)

6. Tangguh Majapahit (1294-1474)

7. Tangguh Madura (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)

8. Tangguh Blambangan (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)

9. Tangguh Sedayu (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)

10. Tangguh Tuban (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)

11. Tangguh Sendang (1294-1474, Era Invansi Kerajaan Majapahit)

12. Tangguh Pengging (1475-1479)

13. Tangguh Demak (1480-1550)

14. Tangguh Pajang (1551-1582)

15. Tangguh Madiun (Abad 16)

16. Tangguh Koripan (Abad 16)

17. Tangguh Mataram (1582-1749)

a) Panembahan Senapati Sutawijaya (1582-1601)

19
b) Panembahan Seda Krapyak Mas Jolang (1601-1613)

c) Sultan Agung R.M. Rangsang (1613-1645)

d) Amangkurat I Seda Tegal Arum (1645-1677)

e) Amangkurat II (1677-1703)

f) Amangkurat III Sunan Mas (1703-1705)

g) Paku Buwono I Sunan Puger (1705-1719)

h) Amangkurat IV Sunan Prabu (1719-1725)

i) Paku Buwono II (1725-1749)

18. Tangguh Cirebon (Abad 16)

19. Tangguh Surakarta (1749-sekarang)

a) Paku Buwono III (1749-1788)

b) Paku Buwono IV (1788-1820)

c) Paku Buwono V (1820-1823)

d) Paku Buwono VI (1823-1830)

e) Paku Buwono VII (1830-1858)

f) Paku Buwono VIII (1858-1861)

g) Paku Buwono IX (1861-1893)

h) Paku Buwono X (1893-1939)

i) Paku Buwono XI (1839-1944)

j) Paku Buwono XII (1944-sekarang)

20. Tangguh Yogyakarta (1755-sekarang)

a) Hamengku Buwono I P. Mangkubmi (1755-1792)

b) Hamengku Buwono II Sultan Sepuh (1792-1810)

20
c) Hamengku Buwono III (1810-1814)

d) Hamengku Buwono IV (1814-1822)

e) Hamengku Buwono V (1822-1855)

f) Hamengku Buwono VI (1855-1877)

g) Hamengku Buwono VII (1877-1921)

h) Hamengku Buwono VIII (1921-1939)

i) Hamengku Buwono IX (1939-1990)

j) Hamengku Buwono X (1990-sekarang)

PAMOR
1. SENI DAMAST

MURBOCH SMITH dalam karangannya PERSIAN ART mengira bahwa seni membuat
senjat dari besi dicampur nekel, yang dinamakan seni Damast, berasal dari negara Persia,
terutama dari kota-kota Ispahan, Kasveen dan Shiraz. Setelah besi baja dan nekel ditempa
menjadi satu, kemudian diproses dengan ZAG, suatu cairan Arsenik-dioksida dan zat
asam. Besi dan baja karena proses kimia itu menjadi hitam, sedang nekelnya tetap putih,
sehingga nampak sebagai garis putih beraneka bentuk pada mata pedang yang
menyebabkan senjata itu nampak estetis lebih menarik dan bernilai.

Senjata Damast yang kebanyakan berupa pedang itu, baru dikenal orang Eropa pada awal
abad XVIII ketika barang-barang itu dihadiahkan oleh raja Persia kepada czar Rusia. Seni
Damast tadi dari Persia melalui India diimpor ke Indonesia, maka di duga bahwa orang
Indonesia bisa membuat keris berpamor, baru sesudah kedatangan orang Hindu.

Akan tetapi ketika orang Hindu pada awal abad 1 mengadakan migrasi besar-besaran ke
pulau Jawa, orang pribumi di pulau Jawa ternyata sudah mempunyai peradaban yang
cukup tinggi, antara lain mereka sudah bisa membuat senjata dari bahan besi. Kalau
dugaan ini betul, maka keris yang tidak berpamor yang dinamakan keris PENGAWAK
WAJA itu umurnya lebih tua daripada keris yang berpamor. Juga belum dapat ditentukan
bahwa nekel yang dipakai untuk senjat Damast tadi, asalnya dari PAMOR seperti halnya
pada keris.

2. PAMOR BAHAN PEMBUATAN KERIS.

21
Bahan keris yang sangat penting ialah Pamor. Pamor adalah benda yang berasal dari
angkasa, yang jatuh di bumi jagad ini. Benda semacam itu ada 3 jenis, yaitu:

a. Meteorit yang mengandung besi dan nekel.

b. Siderit yang mengandung hanya besi saja.

c. Aerolit yang berupa batu, tetapi sangat keras, yang juga disebut Batu Pamor (Watu
Pamor).

Ketiga-tiganya bisa digunakan untuk bahan pembuatan keris. Hanya apabila sudah
menjadi keris, bisa dibeda-bedakan karena warnanya berbeda-beda. Pamor Meteorit pada
bilah keris warnanya putih atau putih keabu-abuan. Pamor siderit pada bilah keris
warnanya hitam, dinamakan Pamor Ireng atau Pamor Sanak. Pamor Aerolit pada bilah
keris warnanya kuning keabu-abuan dan bercampur menjadi satu dengan besi, sehingga
hampir tidak bisa dibeda-bedkan dengan besinya. Pamor ini juga disebut Pamor Jalada.
J.E. Jasper & Mas Pringadie dalam buku De Inlandsche Kunstnijverheid in Ned Indie,
1930, mengatakan bahwa kebanyakan keris yang terdapat di Indonesia memakai pamor
Luwu, yang kadar nekelnya sedikit sekali. Pamor ini asalnya dari Kabupaten Luwu
daerah pegunungan Torongku dan Ussu di Sulawesi Utara Pamor ini sejak jaman baheula
diperdagangkan oleh nelayan suku Bugis ke Philipina Selatan, Malaka, Sumatera,
Kalimantan, jawa, Madura, Bali, Lombok dan seluruh pelosok Nusantara. Maka dari
sebab itu pamor tadi juga dinamakan Pamor Bugis.

3. PAMOR PRAMBANAN

Adapun pamor yang kadar nekelnya agak banyak, ialah dinamakan Pamor Prambanan.
Meteorit yang beratnya kurang lebih 40.000 kg ini pernah jatuh dari angkasa ke bumi
jagad ini ketika tahun 1784 pada jaman Susuhunan Paku Buwana III bertahta di
Surakarta, di Daerah Prambanan. Jatuhnya Meteorit yang luar biasa itu menimbulkan
suatu kawah yang dalamnya kurang lebih 10 meter dan lebar 15 meter, dan menyebabkan
kebakaran dan kerusakan pada desa-desa sekitarnya. Ketika meteorit tersebut diangkut ke
Kraton Surakarta, disambut dengan upacara besar-besaran yang dipimpin oleh Adipati
Jayaningrat. Apabila Kraton atau para pembesar hendak membuat keris atau tombak,
diambilnya pamor itu sedikit. Akan tetapi setiap kali Raja membuat keris, para abdi
dalem empu keris Ngalap Berkah mohon diberi pamor juga. Pamor tersebut sampai
sekarang masih disimpan baik-baik di dalam Kraton Surakarta dan di beri nama Kyai
Pamor. Sepotong kecil dari Pamor tersebut pernah dikirim oleh Residen Yogyakarta J.R.
Couperus ke Laboratorium di Bogor untuk diselidiki secara ilmiah dan analisanya
menunjukkan bahwa Pamor Prambanan itu mengandung 94, 50% besi murni, 5,00%
nekel dan 0,50% zat Fosfor. Ketika tanggal 30 Mei 1982 tamu agung dari Negeri Belanda
Putri Yuliana dan Pangeran Bernhard berkunjung di Kraton Surakarta, mereka juga
meminjam pamor Prambanan tersebut dan diberi penjelasan seperlunya. Pamor
Prambanan itu mulai digunakan untuk pembuatan keris dan tombak baru pada jaman

22
Susuhunan Paku Buwana IV. Paku Buwana III belum sempat menggunakan Pamor
Prambanan tadi karena pada tahun 1788 sudah tutup usia. Maka keris atau tombak yang
bilahnya Paku Buwana IV sampai Paku Buwana X. Sesudah itu tidak dibuat keris lagi.
Maka apabila ada orang mengatakan bahwa ada keris Majapahit/Mataram memakai
pamor Prambanan pada bilahnya, hal itu kurang betul adanya. Pamor Prambanan pada
bilah keris warnanya putih bersih dan terasa kasap bila diraba.

4. UDAWADANA

Yang dinamakan Udawadana ialah keadaan, menetapnya, terbentuknya dan sifatnya


pamor pada bilah keris. Pamor keris apabila sudah menetap pada bilah keris, dapat dibagi
dalam 2 jenis, yaitu:

a. Pamor Jwalana ialah pamor yang terjadi terbentuk dengan sendirinya karena suhu
panas api ketika ditempa. Jadi secara alamiah, seperti antara lain: Pamor Jalada, Pamor
Hurab-hurab, Pamor Ngulit Semangka, Pamor Mega Mendhung, dan lain-lain.

b. Pamor Anukarta ialah pamor yang sengaja dibuat, dibentuk dan diatur oleh Sang Empu
yang membuat keris, seperti antara lain: Pamor Ron Kendhuru, Pamor Blarak Ngirit,
Pamor Sekar Lampes, Pamor Kenanga Ginubah, Pamor Wiji Timun, Pamor Udan Mas,
Pamor Beras Wutah, Pamor Untu Walang, dan lain-lain.

Pamor apabila sudah menetap pada bilah keris, bisa mempunyai sifat

netep-nandhes-ngambang-ngawat-ngrambut-mlumah,

-miring-nungkak-mubyar-kelem-keras-sap-sapan.

Pamor titipan ialah pamor yang warnanya sangat putih, bersih seperti perak, lebih putih
dan lebih bersih daripada pamor sekitarnya, pamor ini tergolong pamor yang berkualitas
tinggi dan langka adanya. Keris yang pda bilahnya terdapat pamor titipan, tergolong keris
kualitas tinggi. Pamor titipan ini tidak bisa dibuat oleh sang empu dengan sengaja.
Nampaknya Pamor titipan pada bilah keris secara alamiah, secara gaib. Jadi empu keris
tidak bisa membuat pamor titipan. Penampilan pamor titipan pada bilah keris bisa
menambah sifat keris menjadi wingit, singer, angker, berwibawa dan menambah
guwaya pada keris. Bilah keris kelihatan lebih bercahaya, lebih berseri-seri dan lebih
menarik. Kecuali menambah guwaya, pamor titipan pun juga menambah kekuatan gaib
(magic power) pada keris. Maka makin banyak pamor titipan pada bilah keris, akan
makin baik. Yang dinamakan Pamor titipan Munggul ialah pamor yang bentuknya
membisul seperti jerawat sebesar kepala jarum, warnanya putih bersih dan juga sangat
langka adanya. Pamor ini juga tergolong pamor yang berkualitas tinggi. Dari jumlah
seribu keris, belum tentu terdapat satu keris yang memakai pamor munggul. Menurut
kepercayaan orang. Pamor Munggul ini bisa menambah keris lebih ampuh dan
berwibawa, maka sangat banyak dicari orang. Pamor Munggul ini juga tidak dibuat

23
degnan sengaja oleh sang empu. Nampaknya pamor munggul pada bilah keris juga secara
gaib.Yang dinamakan Pamor Jenar (=kuning), ialah pamor yang warnanya kuning
keemas-emasan, juga sangat langka adanya. Pamor ini menetapnya pada bilah keris
seperti binti-bintik diujung keris atau di Sor-soran yaitu bagian bilah di bawah Ganja.
Pamor Jenar asalnya dari meteorit yang mengandung cupronekel, pamor jenar bukanlah
Wesi Kuning seperti orang mengira. Yang dinamakan Wesi Kuning adalah campuran 7
logam, yaitu: besi-emas-perak-tembaga-nekel-perunggu dan timah. Sekarang kiranya
sudah tidak ada empu lagi yang bisa membuat Wesi Kuning. Cara dan mantranya untuk
membuatnya sudah dibawa masuk ke liang kubur oleh sang empu. Kalau ada keris yang
memakai Wesi Kuning, biasanya sebagai tumbal untuk menangkis bahaya. Wesi Kuning
pada bilah keris kebanyakan berupa bintik-bintik kecil sebesar kepala jarum atau
potongan rambut, diselipkan pada ujung keris atau pada Sor-soran. Pada cerita
Damarwulan dituturkan, bahwa Menakjingga, raja Blambangan mempunyai pusaka
pedang yang dibuat dari bahan Wesi Kuning. Kiranya tidaklah mungkin bahwa pedang
tadi seluruhnya dibuat dari Wesi Kuning, melainkan merupakan pedang biasa dari besi
yang diselipkan Wesi Kuning sedikit. Menurut kepercayaan orang, Wesi Kuning
mempunyai khasiat bisa menyebabkan kekebalan terhaap segala jenis senjata. Konon
seorang Insinyur bangsa Jerman pernah mencoba membuat Wesi Kuning secara ilmiah,
akan tetapi tanpa hasil karena ketujuh logam tadi tidak bisa bercampur, dan berkumpul
menjadi satu benda. Wesi Kuning yang asli warnanya tidak seperti emas, tidak seperti
kuningan dan berbau harum.

5. PAMOR WIRASAT DAN KHASIATNYA

Pamor Wirasat ialah pamor yang mempunyai bentuk dan nama beraneka macam dan juga
berkhasiat, seperti antara lain: Pamor Kulbuntet yang berkhasiat apabila tertimpa bahaya
yang sekonyong-konyong/mendadak bisa menangkis peluru. Pamor ini biasanya terdapat
pada Sor-soran di bawah Ganja. Kebanyakan pamor Kulbuntet ini juga terdapat pada
Luwuk, yaitu senjat pedang asal dari Sulawesi. Dikatakan orang bahwa senjat Luwuk itu
kecuali bisa emnangkis peluru, juga sangat ampuh. Pamor Batulapak mempunyai khasiat
dalam keadaan bahaya si pemakai bisa tidak terlihat oleh orang lain (invisible). Pamor
Udan Mas mempunyai khasiat bisa mendatangkan kekayaan, terutama apabila
didampingi uang kepingan emas. Pamor Putri Kinurung bertempat di Gandhik. Kalau
bolak balik lebih baik. Khasiatnya dalam peperangan si pemakai dapat terhindar dari
bahaya. Pamor Ujung Gunung bertempat di Bongkot, di bawah Ganja, kalau bolak-balik
juga lebih baik. Khasiatnya bisa mengangkis bahaya. Pamor Tumpuk bertempat di
Bongkot. Adapun khasiatnya adalah sangat baik untuk berdagang, bisa mendatangkan
untung. Pamor Panguripan berkhasiat untuk berdagang, bisa mendatangkan untung.
Pamor Andon Lulut berkhasiat si pemakai kuat dalam bersanggama dan bisa beristeri
banyak. Pamor Sang Hyang Lumuriku berkhasiat untuk berdagang, bisa mendatangkan
untung. Pamor Wirasat, yagn tercatat jumlahnya semua ada 96 jenis.

Di samping pamor ayng berkhasiat baik, tentu juga ada bentuk pamor yang mempunyai
pengaruh tidak baik bahkan bisa berbahaya, seperti antara lain:

24
Pamor Buntel Mayit berkhasiat (mempunyai watak) selalu hendak membunuh orang.

Pamor Kudhung Mayit berwatak hendak membunuh si pemakai sendiri (senjata makan
tuah).

Pamor Pegat Waja mempunyai watak si pemakai selalu dalam kesukaran, selalau cekcok
dalam keluarga.

Pamor Nyahak berwatak suka membuat perkara, keadaan rumah tangga selalu heboh,
tidak tenteram, tidak rukun dengan tetangga.

Pamor Pedhot mempunyai watak si pemakai selalu gagal dalam cita-citanya.

Adapun pamor yang berwatak buruk itu tidak sengaja dibuat oleh sang empu, melainkan
merupakan suatu kegagalan, suatu mis-product, dan sebab sang empu ketika sedang
menggarap keris, ia kurang konsentrasi, kurang sawiji. Maklumlah karena empu keris itu
juga orang biasa, yang bisa lupa, bisa lengah. Situasi dan kondisi sang empu ketika
membuat keris bisa mempunyai pengaruh psikis terhadap keris yang sedang dibuatnya.
Maka seorang empu keris yang sedang menggarap pusaka, harus dalam keadaan suka
rena lega lila sabar sareh. Apabila ia sedang dalam keadaan miring (=marah) atau
sungkawa (= sedih) sebaiknya jangan menggarap keris harus ditunda dulu. Sebaiknya
keris yang memakai pamor buruk itu disimpan di museum atau di labuh dibuang ke
sungai atau laut, jangan dipakai oleh orang.

6. ESOTERI PAMOR KERIS

Esoteri ialah segi yang rahasia, sedang lawannya adalah Eksoteri yaitu segi yang terang.
Maka Esoteri Pamor Keris ialah segi yang rahasia dari pamor keris itu Pamor adalah
benda gaib terjatuh dari angkasa ke jagad bumi ini. Dalam perjalanannya dari angkasa ke
bumi bergeseran dengan Atsir (aether) yang menambah kuatnya gataran-getaran kosmis
tadi. Seorang empu keris yang membuat pusaka, dianggap melaksanakan perkawinan
antara Bapa Angkasa dan Ibu Pratala. Pamor yang asalnya dari angasa dicampur,
dijadikan satu, dikawinkan dengan besi yang asalnya dari bumi. Maka dari itu,
pembuatan keris dianggapnya suatu perbuatan mistik sakral, yang harus dikerjakan
dengan segala ketekunan dan pengabdian. Sebelum sang empu mengawali pekerjaannya,
ia bersuci lahir bathin terlebih dahulu dengan mandi keramas kemudian menjalankan
mutih, yaitu selama beberapa hari hanya makan nasi putih tanpa lauk-pauk dan minum
air putih atau ngebleng, yaitu selama beberapa hari tidak amkan tidak minum tidak
tidur dan tidak berbicara dalam kamar tertutup. Selama menjalankan Tapabrata, sang
empu tadi bersemadi dan bermeditasi mohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa untuk diberi
kekuatan jasmaniah dan rohaniah, diberi petunjuk di dalam memilih besi, baja dan pamor
yang baik, serta menentukan hari pasaran dan saat yang cocok dan harmonis. Secara
tradisional pembuatan keris juga dilengkapi dengan sesaji bermacam-macam, seperti:
Tumpeng Robyong SEga Wuduk Sega Punar Sega Kabuli Sega Golong Jenang

25
Abang Jenang Baro-baro Jajan Pasar Gedhang Ayu Suruh Ayu Kembang Telon,
Gula-klapa dan Menyan. Segala tindakan sang empu diawali dengan mengucap mantra-
mantra, dengan maksud mengadakan komunikasi kosmis. Sang Empu yang sendang
membuat keris, merasa bahwa ia bukanlah seorang seniman, melainkan hanya suatu alat
dari tangan Tuhan Yang Mahakuasa utnuk membuat sesuatu yang bermanfaat. Maka
nama si empu tidak pernah dicantumkan pada keris. Yang terpenting ialah hasil karyanya
dan supra-natural, adalah berkat Allah SWT. Kebajikan yang Tuhan Mahakuasa
limpahkan dan isikan kepada keris, setelah sang empu bersungguh-sungguh bersuci diri
dan memohon kemurahan Allah SWT. Maka keris merupakan bersatunya yang gaib
dengan yang fisik, manunggalnya yagn fisik dengan yang Meta-Fisik dan mengandung
tanda-tanda kebesaran Tuhan Yang Mahakuasa.

(Dikutip dari Pamor Keris., tulisan Mr. B.P.H. Sumodiningrat., Seri Penerbitan Proyek
Javanologi No.9/th.ke 1., 1983)

Makna Desain Keris

Pulang Geni

Pulang Geni merupakan salah satu dapur keris yang populer dan banyak dikenal karena
memiliki padan nama dengan pusaka Arjuna. Pulang Geni bermakna ratus atau dupa atau
juga Kemenyan. Bahwa manusia hidup harus berusaha memiliki nama harum dengan
berperilaku yang baik, suka tolong menolong dan mengisi hidupnya dengan hal-hal atau
aktivitas yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Manusia harus berkelakuan baik dan
selalu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak, tentu namanya akan
selalu dikenang walau orang tersebut sudah meninggal. Oleh karena itu, keris dapur
Pulang Geni umumnya banyak dimiliki oleh para pahlawan atau pejuang.

Kidang Soka

Kidang Soka memiliki makna kijang yang berduka. Bahwa hidup manusia akan selalu
ada duka, tetapi manusia diingatkan agar tidak terlalu larut dalam duka yang dialaminya.
Kehidupan masih terus berjalan dan harus terus dilalui dengan semangat hidup yang
tinggi. Keris ini memang memiliki ciri garap sebagaimana keris tangguh Majapahit,
tetapi dilihat pada penerapan pamor serta besinya, tidak masuk dikategorikan sebagai
keris yang dibuat pada zaman Majapahit. Oleh karena itu, dalam pengistilahan perkerisan
dikatakan sebagai keris Putran atau Yasan yang diperkirakan dibuat pada zaman
Mataram. Kembang Kacang Pogog semacam ini umumnya disebut Ngirung Buto.

26
Sabuk Inten

Sabuk Inten merupakan salah satu dapur keris yang melambangkan kemakmuran dan
atau kemewahan. Dari aspek filosofi, dapur Sabuk Inten melambangkan kemegahan dan
kemewahan yang dimiliki oleh para pemilik modal, pengusaha, atau pedagang pada
zaman dahulu. Keris Sabuk Inten ini menjadi terkenal, selain karena legendanya, juga
karena adanya cerita silat yang sangat populer berjudul Naga Sasra Sabuk Inten karangan
Sabuk Inten karangan S.H. Mintardja pada 1970-an.

Naga Sasra

Naga Sasra adalah salah satu nama dapur Keris Luk 13 dengan gandik berbentuk
kepala naga yang badannya menjulur mengikuti sampai ke hampir pucuk bilah. Salah
satu dapur keris yang paling terkenal walau jarang sekali dijumpai adanya keris Naga
Sasra Tangguh tua. Umumnya keris dapur Naga Sasra dihiasi dengan kinatah emas
sehingga penampilannya terkesan indah dan lebih berwibawa. Keris ini memiliki gaya
seperti umumnya keris Mataram Senopaten yang bentuk bilahnya ramping seperti keris
Majapahit, tetapi besi dan penerapan pamor serta gaya pada wadidhang-nya
menunjukkan ciri Mataram Senopaten.

Sepertinya keris ini berasal dari era Majapahit akhir atau bisa juga awal era Mataram
Senopaten (akhir abad ke-15 sampai awal abad ke-16). Keris ini dulunya memiliki
kinatah Kamarogan yang karena perjalanan waktu, akhirnya kinatah emas tersebut hilang
terkelupas. Tetapi secara keseluruhan, terutama bilah keris ini masih bisa dikatakan utuh.
Keris dapur Naga Sasra berarti ular yang jumlahnya seribu (beribu-ribu) dan juga
dikenal sebagai keris dapur Sisik Sewu. Dalam budaya Jawa, naga diibaratkan sebagai
penjaga. Oleh karena itu, banyak kita temui pada pintu sebuah candi atau hiasan lainnya
yang dibuat pada zaman dahulu. Selain penjaga, naga juga diibaratkan memiliki wibawa
yang tinggi. Oleh karena itu, keris Naga Sasra memiliki nilai yang lebih tinggi daripada
keris lainnya.

Sengkelat

Sengkelat adalah salah satu keris dari jaman Mataram Sultan Agung (awal abad ke-17).
Pamor keris sangat rapat, padat, dan halus. Ukuran lebar bilah lebih lebar dari keris
Majapahit, tetapi lebih ramping daripada keris Mataram era Sultan Agung pada
umumnya. Panjang bilah 38 cm, yang berarti lebih panjang dari Keris Sengkelat Tangguh
Mataram Sultan Agung umumnya. Bentuk luknya lebih rengkol dan dalam dari pada
keris era Sultan Agung pada umumnya. Ganja yang digunakan adalah Gonjo Wulung
(tanpa pamor) dengan bentuk Sirah Cecak runcing dan panjang dengan buntut urang yang
nguceng mati, Kembang Kacang Nggelung Wayang. Jalennya pendek dengan Lambe
Gajah yang lebih panjang dari Jalen. Sogokan tidak terlalu dalam dengan janur yang tipis

27
tetapi tegas sampai ke pangkal bilah. Warangka keris ini menggunakan gaya Surakarta
yang terbuat dari kayu cendana.

Raga Pasung atau Rangga Pasung

Raga Pasung, atau Rangga Pasung, memiliki makna sesuatu yang dijadikan sebagai upeti.
Dalam hidup di dunia, sesungguhnya hidup dan diri manusia ini telah diupetikan kepada
Tuhan YME. Dalam arti bahwa hidup manusia ini sesungguhnya telah diperuntukkan
untuk beribadah, menyembah kepada Tuhan YME. Dan karena itu kita manusia harus
ingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini sesungguhnya semu dan
kesemuanya adalah milik Tuhan YME.

Bethok Brojol

Bethok Brojol adalah keris dari tangguh tua juga. Keris semacam ini umumnya ditemui
pada tangguh tua seperti Kediri/Singasari atau Majapahit. Dikatakan Bethok Brojol
karena bentuknya yang pendek dan sederhana tanpa ricikan kecuali Pijetan sepeti keris
dapur Brojol.

Puthut Kembar

Puthut Kembar oleh banyak kalangan awam disebut sebagai Keris Umphyang. Padahal
sesungguhnya Umphyang adalah nama seorang empu, bukan nama dapur keris. Juga ada
keris dapur Puthut Kembar yang pada bilahnya terdapat rajah dalam aksara Jawa kuno
yang tertulis Umpyang Jimbe. Ini juga merupakan keris buatan baru, mengingat tidak
ada sama sekali dalam sejarah perkerisan di mana sang empu menuliskan namanya pada
bilah keris sebagai label atau trade mark dirinya. Ini merupakan kekeliruan yang bisa
merusak pemahaman terhadap budaya perkerisan.

Puthut dalam terminologi Jawa bermakna cantrik, atau orang yang membantu atau
menjadi murid dari seorang pandita/empu pada zaman dahulu. Bentuk Puthut ini konon
berasal dari legenda tentang cantrik atau santri yang diminta untuk menjaga sebilah
pusaka oleh sang Pandita, juga diminta untuk terus berdoa dan mendekatkan diri kepada
Sang Pencipta. Bentuk orang menggunakan gelungan di atas kepala, menunjukkan adat
menyanggul rambut pada zaman dahulu. Bentuk wajahnya, walau samar, masih terlihat
jelas guratannya. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa dapur Puthut mulanya dibuat
oleh Empu Umpyang yang hidup pada era Pajang awal. Tetapi ini pun masih belum bisa
dibuktikan secara ilmiah karena tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah.

28
Pajang

Ada keris yang bernama Pajang-Majapahit, yang berarti keris buatan Pajang yang dibuat
pada era Majapahit akhir. Penamaan keris ini perlu diteliti kembali mengingat perbedaaan
zaman antara Kerajaan Majapahit (abad ke-14-15) dengan zaman Kerajaan Pajang (abad
ke-17), meski dalam Nagarakretagama yang ditulis pada zaman Majapahit disebutkan
adanya wilayah Pajang pada zaman tersebut.

Keris Lurus Semelang

Keris Lurus Semelang dalam bahasa Jawa bermakna kekhawatiran atau kecemasan
terhadap sesuatu. Sedangkan Gandring memiliki arti setia atau kesetiaan yang juga
bermakna pengabdian. Dengan demikian, Sumelang Gandring memiliki makna sebagai
bentuk dari sebuah kecemasan atas ketidaksetiaan akibat adanya perubahan. Ricikan keris
ini antara lain: gandik polos, sogokan satu di bagian depan dan umumnya dangkal dan
sempit, serta sraweyan dan tingil. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa keris dapur
Sumelang Gandring termasuk keris dapur yang langka atau jarang ditemui walau banyak
dikenal di masyarakat perkerisan. (Ensiklopedia Keris: 445-446).

Sumelang Gandring

Pusaka ini hilang dari Gedhong Pusaka Keraton. Lalu Raja menugaskan Empu Supo
Mandangi untuk mencari kembali pusaka yang hilang tersebut. Dari sinilah berawal tutur
mengenai nama Empu Pitrang yang tidak lain juga adalah Empu Supo Mandrangi
(Ensiklopedia Keris: 343-345).

Tilam Upih

Tilam Upih dalam terminologi Jawa bermakna tikar yang terbuat dari anyaman daun
untuk tidur, diistilahkan untuk menunjukkan ketenteraman keluarga atau rumah tangga.
Oleh karena itu, banyak sekali pusaka keluarga yang diberikan secara turun-temurun
dalam dapur Tilam Upih. Ini menunjukkan adanya harapan dari para sesepuh keluarga
agar anak-cucunya nanti bisa memeroleh ketenteraman dan kesejahteraan dalam hidup
berumah tangga.

Sedangkan Pamor ini dinamakan Udan Mas Tiban. Ini karena terlihat dari penerapan
pamor yang seperti tidak direncanakan sebelumnya oleh si empu. Berbeda dengan
kebanyakan Udan Mas Rekan yang bulatannya sangat rapi dan teratur, Udan Mas Tiban

29
ini bulatannya kurang begitu teratur tetapi masih tersusun dalam pola 2-1-2. Pada 1930-
an, yang dimaksud dengan pamor Udan Mas adalah Pamor Udan Mas Tiban yang
pembuatannya tidak direncanakan oleh sang empu (bukan pamor rekan). Ini dikarenakan
pamor Udan Mas yang rekan dicurigai sebagai pamor buatan (rekan). Tetapi toh juga
banyak keris pamor udan mas rekan yang juga merupakan pembawaan dari zaman
dahulu.

Oleh banyak kalangan, keris dengan Pamor Udan Mas dianggap memiliki tuah untuk
memudahkan pemiliknya mendapatkan rezeki. Dengan rezeki yang cukup,diharapkan
seseorang bisa membina rumah tangga dan keluarga lebih baik dan sejahtera. Lar Gang
Sir konon merupakan kepanjangan dari Gelar Ageman Siro yang memiliki makna bahwa
gelar atau jabatan dan pangkat di dunia ini hanyalah sebuah ageman atau pakaian yang
suatu saat tentu akan ditanggalkan. Karena itu jika kita memiliki jabatan/pangkat atau
kekayaan, maka janganlah kita sombong dan takabur (ojo dumeh). Jangan mentang-
mentang memiliki kekuasaan, pangkat dan jabatan atau kekayaan, maka kita bisa
seenaknya sendiri sesuai keinginan kita tanpa memikirkan kepentingan orang lain.

Keris berasal dari Kepulauan Jawa diduga telah digunakan antara abad ke-9 dan ke-14.
Dalam beberapa pandangan penggolongan pembabakan keris ini dapat digolongkan ke
dalam:

Keris Buddha dan pengaruh India-Tiongkok

Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Buddha dan Hindu.
Candi di Jawa Tengah adalah sumber utama budaya zaman tersebut. Namun sayang,
sedikit sumber yang menginformasikan penggunaan keris atau sesuatu yang serupa
dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris.

Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa protokeris berbentuk pisau
lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga
Knaud, didapat dari Sri Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik
Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342 Masehi), meski ada yang meragukan
penanggalannya.

Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson di


Vietnam yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dengan dunia
Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati
Dongson.

Keris Modern

Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern
yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh bentuknya pada
masa Majapahit (abad ke-14) dan Kerajaan Mataram baru (abad ke-17-18).

30
Pembagian masa keris juga terbagi dalam beberapa tahapan zaman, sebagi berikut:

1. Zaman Tangguh Budho (Kuno)

Zaman Kerajaan Purwacarita, empunya adalah: Mpu Hyang Ramadi, Mpu Iskadi,
Mpu Sugati, Mpu Mayang, dan Mpu Sarpadewa.
Zaman Kerajaan Tulis, empunya adalah Mpu Sukmahadi.
Zaman Kerajaan Medang Kamulan, empunya adalah Mpu Bramakedali.
Zaman Kerajaan Giling Wesi, empunya adalah: Mpu Saptagati dan Mpu Janggita.
Zaman Kerajaan Wirotho, empunya adalah Mpu Dewayasa I.
Zaman Kerajaan Mamenang, empunya adalah Mpu Ramayadi.
Zaman Kerajaan Pengging Wiraradya, empunya adalah Mpu Gandawisesa, Mpu
Wareng, dan Mpu Gandawijaya.
Zaman Kerajaan Jenggala, empunya adalah Mpu Widusarpa dan Mpu
Windudibya.

2. Zaman Tangguh Madya Kuno (Kuno Pertengahan)

Zaman Kerajaan Pajajaran Makukuhan, empunya adalah: Mpu Srikanekaputra,


Mpu Welang, Mpu Cindeamoh, Mpu Handayasangkala, Mpu Dewayani, Mpu
Anjani, Mpu Marcu kunda, Mpu Gobang, Mpu Kuwung, Mpu Bayuaji, Mpu
Damar jati, Mpuni Sumbro, dan Mpu Anjani.

3. Zaman Tangguh Sepuh Tengahan (Tua Pertengahan)

Zaman Kerajaan Jenggala, empunya adalah Mpu Sutapasana.


Zaman Kerajaan Kediri.
Zaman Kerajaan Majapahit.
Zaman Tuban/sezaman Majapahit, empunya adalah: Mpu Kuwung, Mpu Salahito,
Mpu Patuguluh, Mpu Demangan, Mpu Dewarasajati, dan Mpu Bekeljati.
Zaman Madura/sezaman Majapahit, empunya adalah: Mpu Sriloka, Mpu Kaloka,
Mpu Kisa, Mpu Akasa, Mpu Lunglungan, dan Mpu Kebolungan.
Zaman Blambangan/sezaman Majapahit, empunya adalah: Mpu Bromokendali,
Mpu Luwuk, Mpu Kekep, dam Mpu Pitrang.

4. Zaman Tangguh Tengahan (Pertengahan)

Zaman Kerajaan Demak, empunya adalah Mpu Joko Supo.


Zaman Kerajaan Pajang, empunya adalah Mpu Omyang, Mpu Loo Bang, Mpu
Loo Ning, Mpu Cantoka, dan Japan.
Zaman Kerajaan Mataram, empunya adalah: Mpu Tundung, Mpu Setrobanyu,
Mpu Loo Ning, Mpu Tunggulmaya, Mpu Teposono, Mpu Kithing, Mpu Warih
Anom, dan Mpu Madrim.

31
5. Zaman Tangguh Nom (Muda)

Zaman Kerajaan Kartasura, empunya adalah: Mpu Luyung I, Mpu Kasub, Mpu
Luyung II, Mpu Hastronoyo, Mpu Sendang Warih, Mpu Truwongso, Mpu
Luluguno, Mpu Brojoguno I, dan Mpu Brojoguno II.
Zaman Kasunanan Surakarta, empunya: Mpu Brojosentiko, Mpu Mangunmalelo,
Mpu R.Ng. Karyosukadgo, Mpu Brojokaryo, Mpu Brojoguno III, Mpu
Tirtodongso, Mpu Sutowongso, Mpu Japan I, Mpu Japan II, Mpu Singosijoyo,
Mpu Jopomontro, Mpu Joyosukadgo, Mpu Montrowijoyo, Mpu Karyosukadgo I,
Mpu Wirosukadgo, Mpu Karyosukadgo II, dan Mpu Karyosukadgo III.

Tahapan-tahapan zaman kerajaan berhubungan langsung dengan tahapan zaman


perkerisan. Dengan demikian pada setiap zaman kerajaan itu terdapat beberapa
orang eyang/empu yang bertugas untuk menciptakan keris.

Empu Keris

Pertama, empu berarti sebutan kehormatan misalnya Empu Sedah atau Empu Panuluh.
Arti kedua adalah ahli dalam pembuatan keris. Dalam kesempatan ini, empu yang kami
bicarakan adalah seseorang yang ahli dalam pembuatan keris. Dengan tercatatatnya
berbagai nama keris pastilah ada yang membuat. Pertama-tama yang harus diketahui
adalah tahapan zaman terlahirnya keris itu, kemudian meneliti bahan keris, dan ciri
khas sistem pembuatan keris. Ilmu untuk kepentingan itu dinamakan tangguh. Dengan
ilmu tangguh itu, kita dapat mengenali nama para empu dan hasil karyanya yang berupa
bilahan-bilahan keris, pedang, tombak, dan lain-lainnya.

Keris-keris ciptaan empu itu setiap zaman memunyai ciri-ciri khas tersendiri. Maka dari
itu, para pendata benda pusaka itu tidak kebingungan. Ciri khas terletak pada segi garap
dan kualitas besinya. Kualitas besi merupakan ciri khas yang paling menonjol, sesuai
dengan tingkat sistem pengolahan besi pada zaman itu, juga penggunaan bahan pamor
yang memunyai tahapan-tahapan pula. Bahan pamor yang mula-mula dipergunakan batu
meteor atau batu bintang yang dihancurkan dengan menumbuknya hingga seperti
tepung. Kemudian kita mengenali titanium semacam besi warnanya keputihan seperti
perak; besi titanium dipergunakan pula sebagai bahan pamor. Titanium memunyai sifat
keras dan tidak dapat berkarat, sehingga baik sekali untuk bahan pamor. Sesuai dengan
asalnya di Prambanan maka pamor tersebut dinamakan pamor Prambanan. Keris dengan
pamor Prambanan dapat dipastikan bahwa keris tersebut termasuk bertangguh Nom,
karena diketemukannya pada zaman Kerajaan Mataram Kartasura (1680-1744).

32