Anda di halaman 1dari 27

BIOREMEDIASI TUMPAHAN MINYAK BUMI DI LAUT

(Tugas Kimia Dalam Kehidupan)

Disusun oleh

Riyan Fadlya Amha 1317011061


Riski Rahmadani 1317011063
Shela Anggun Septiana 1317011065
Sinta Dewi Oktariani 1317011067
Siti Nabilla Shofa 1317011069

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan hidayah-Nya ,sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kimia dalam
kehidupan dengan judul bioremidiasi tumpahan minyak tepat pada waktunya.
Kami sendiri menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan serta masih jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu, kami
mengharapkan adanya kritik dan saran demi perbaikan dan penyempurnaan ini.

Makalah ini disesuaikan dengan berdasarkan materi-materi yang ada. Makalah ini
bertujuan agar dapat menambah pengetahuan dan kreativitas dalam belajar ilmu
kimia. Serta dapat memahami nilai-nilai dasar yang direflesikan dalam berfikir
dan bertindak.

Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan bagi pihak
yang membutuhkan.

Bandar Lampung , 01 Juni 2014

penulis
DAFTAR ISI

halaman

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ..................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................. 1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................... 2

1.3 Tujuan Penulisan ....................................... 2

1.4 Manfaat Penulisan............................................................................... 3

1.5 Metode Penulisan.................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bioremediasi... 4


2.2 Proses Bioremediasi..... 4
2.3 Bahan Bahan Berbahaya Akibat Tumpahan Minyak..... 8
2.4 Dampak Dari Pencemaran Minyak Di Laut 11
2.5 Metode Penanggulangan Tumpahan Minyak Di Laut.... 14

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Air merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia, hampir 90%
kehidupan manusia memerlukan air untuk melangsungkan hidup. Sumber air yang
dapat diperoleh yaitu dari sungai, mata air, air terjun, danau, dan laut. Selain
untuk dikonsumsi air juga dapat digunakan sebagai sarana mata pencaharian bagi
manusia. Salah satu contohnya adalah laut, yang dapat dimanfaatkan untuk para
nelayan mencari ikan, dan air laut dapat dimanfaatkan untuk pembuatan garam.
Begitu banyak yang dapat dimanfaatkan dari air, namun sekarang ini persentase
air bersih di dunia makin menipis. Hal ini disebabkan maraknya pencemaran
lingkungan terutama air. Air sendiri mempunyai standar 3B (tidak berwarna,
berbau dan beracun), air yang tidak memenuhi tiga kategori standar tersebut
termasuk air yang sudah tercemar.

Penyebab terjadinya pencemaran air terebut bisa dari mana saja, salah satu
contohnya buangan limbah kapal minyak. Limbah buangan tersebut bisa
diakibatkan karena ketidaksengajaan dari pihak pengelola atau memang mereka
dengan mudahnya membuang limbah ke laut. Kasus tumpahan Kapal Minyak
yang terjadi di beberapa Negara di dunia terjadi pula di Indonesia. Seperti kasus
yang terjadi di Balikpapan. Akibat tumpahan minyak yang mereka sebut dengan
Lantung selama enam bulan, nelayan di sana tidak dapat mencari ikan.Wilayah
yang paling rentan dari pencemaran lingkungan akibat tumpahan minyak tersebut
terdapat di wilayah pesisir. Karena 70 persen pengeboran minyak ada di lepas
pantai. Kasus seperti ini hanya menjadi catatan pemerintah tanpa penanggulangan
tuntas. Akibat dari tumpahan minyak tersebut kehidupan biota-biota di air akan
terancam, hal itu juga berpengaruh terhadap mata pencaharian seorang nelayan,
karena ikan-ikan dilaut akan mati bila air laut terkontaminasi oleh limbah minyak
tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai


berikut :

1. Mengetahui Pengertian Bioremidiasi.


2. Mengetahui Proses Bioremidiasi.
3. Mengetahui Bahan-Bahan Berbahaya Akibat Tumpahan Minyak Bumi
Dilaut .
4. Mengetahui Dampak Yang Ditimbulkan Dari Tumpahan Minyak Bumi
Dilaut.
5. Mengetahui Proses Penanggulangan Tumpahan Minyak Dilaut.

1.3 Tujuan Penulisan

Dari rumusan masalah tersebut dapat diketahui bahwa tujuan penulisan


makalah ini adalah :

1. Untuk Mengetahui Pengertian Bioremidiasi.

2. Untuk Mengetahui Proses bioremediasi

3. Untuk Mengetahui Bahan-Bahan Berbahaya Akibat Tumpahan Minyak

Bumi Dilaut.

4. Untuk Mengetahui Dampak Yang Ditimbulkan Dari Minyak Bumi Dilaut.

5. Untuk Mengetahui Proses Penanggulangan Tumpahan Minyak Dilaut.


1.4 Manfaat Penulisan

Dari segenap pembahasan yang telah dipaparkan, harapan yang ingin


diwujudkan dalam makalah ini tercakup secara teoritis dan secara praktis
yang meliputi :
1.Secara teoritis
Makalah ini diharapkan berguna untuk memberikan sumbangan terhadap
usaha peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan.
2. Secara praktis
Tujuan praktis dari makalah ini adalah: Mendorong dosen dan
mahasiswa/mahasiswi untuk dapat memahami bioremediasi-tumpahan
minyak bumi dilaut .

1.5 Metode Penulisan

Metode yang digunakan penulis dalam penulisan makalah ini antara lain :
Studi elektromedia
Dengan memanfaatkan fasilitas Internet dan situs-situs pendukung guna
memperoleh referensi sekunder.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN BIOREMEDIASI

Bioremediasi berasal dari dua kata yaitu bio dan remediasi yang dapat
diartikan sebagai proses dalam menyelesaikan masalah. Menurut Munir
(2006), bioremediasi merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi
lingkungan dengan memanfaatkan proses biologi dalam mengendalikan
pencemaran. Menurut Sunarko (2001), bioremediasi mempunyai potensi
untuk menjadi salah satu teknologi lingkungan yang bersih, alami, dan paling
murah untuk mengantisipasi masalah-masalah lingkungan. Sehingga dapat
disimpulkan, bioremediasi adalah salah satu teknologi untuk mengatasi
masalah lingkungan dengan memanfaatkan bantuan mikroorganisme.
Mikroorganisme yang dimaksud adalah khamir, fungi, dan bakteri yang
berfungsi sebagai agen bioremediator.

Selain mikroorganisme, ternyata dapat pula memanfaatkan tanaman air


sebagai bioremediasi. Menurut Stowell (2000) dalam Yusuf (2008), tanaman
air memiliki kemampuan secara umum untuk menetralisir komponen-
komponen tertentu di dalam perairan dan sangat bermanfaat dalam proses
pengolahan limbah cair.

Proses pengolahan limbah cair oleh mikroba dalam mendegradasi senyawa


kimia yang berbahaya di lingkungan sangat penting. Dalam proses
degradasinya, mikroba menggunakan senyawa kimia tersebut untuk
pertumbuhan dan reproduksinya melalui berbagai proses oksidasi (Munir,
2006). Misalnya mengubah bahan kimia menjadi air dan gas yang tidak
berbahaya misalnya CO2. Saat terjadinya bioremediasi, enzim-enzim yang
diproduksi oleh mikroba memodifikasi senyawa kimia berbahaya dengan
mengubah struktur kimianya biasa disebut biotransformasi. Pada banyak
kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, di mana senyawa kimia
terdegradasi, strukturnya tidak kompleks dan akhirnya menjadi metabolit
yang tidak berbahaya dan tidak beracun (Aguskrisno, 2011).

2.2 PROSES BIOREMEDIASI

Mikroba dalam mengolah senyawa kimia berbahaya dapat berlangsung


apabila adanya mikroba yang sesuai dan tersedia kondisi lingkungan yang
ideal tempat tumbuh mikroba seperti suhu, pH, nutrient, dan jumlah oksigen.
Aplikasi bioremediasi di Indonesia mengacu pada keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 128 Tahun 2003 mengatur tentang tatacara dan
persyaratan teknis pengolahan limbah dan tanah terkontaminasi oleh minyak
bumi secara biologis. Bioremediasi dapat dilakukan dengan menggunakan
mikroba lokal. Pada umumnya, di daerah yang tercemar jumlah mikroba yang
ada tidak mencukupi untuk terjadinya bioproses secara alamiah (Suhardi,
2010).

Teknologi bioremediasi dalam menstimulasi pertumbuhan mikroba dilakukan


dengan dua cara yaitu

1. Biostimulasi adalah memperbanyak dan mempercepat pertumbuhan


mikroba yang sudah ada di daerah tercemar dengan cara memberikan
lingkungan pertumbuhan yang diperlukan, yaitu penambahan nutrien dan
oksigen. Jika jumlah mikroba yang ada dalam jumlah sedikit, maka harus
ditambahkan mikroba dalam konsentrasi yang tinggi sehingga bioproses
dapat terjadi. Mikroba yang ditambahkan adalah mikroba yang
sebelumnya diisolasi dari lahan tercemar kemudian setelah melalui
proses penyesuaian di laboratorium di perbanyak dan dikembalikan ke
tempat asalnya untuk memulai bioproses. Namun sebaliknya, jika
kondisi yang dibutuhkan tidak terpenuhi, mikroba akan tumbuh dengan
lambat atau mati. Secara umum kondisi yang diperlukan ini tidak dapat
ditemukan di area yang tercemar (Suhardi, 2010).
2. Bioaugmentasi merupakan penambahan produk mikroba komersial ke
dalam limbah cair untuk meningkatkan efisiensi dalam pengolahan
limbah secara biologi. Hambatan mekanisme ini yaitu sulit untuk
mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroba dapat berkembang
dengan optimal. Selain itu mikroba perlu beradaptasi dengan lingkungan
tersebut (Uwityangyoyo, 2011). Menurut Munir (2006), dalam beberapa
hal, teknik bioaugmentasi juga diikuti dengan penambahan nutrien
tertentu.
3. Bioremediasi intrinsik terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang
tercemar.

Contoh Penelitian Bioremediasi

Bioremediasi Limbah Pestisida Dengan Mikroba Indigen


Mikroba indigen merupakan mikroba alamiah atau mikroba setempat. Pada
lahan pertanian, penggunaan pestisida yang berlangsung lama akan menekan
pertumbuhan mikroba indigen yang berfungsi untuk merombak senyawa
toksik (organofosfat) tersebut. Karena itu, diperlukan pengisolasian mikroba
di laboratorium. Organofosfat merupakan pestisida yang memiliki toksisitas
yang tinggi. Pestisida golongan organofosfat merupakan jenis pestisida yang
banyak digunakan di Indonesia, khususnya untuk mengendalikan hama
sayuran dan padi. Senyawa aktif pestisida golongan organofosfat seperti metil
parathion. Menurut Lakshmirani dan Lalithakumari (1994) dalam Tisnadjaja
(2001), Pseudomonas putida mampu untuk menggunakan metil parathion
sebagai sumber karbon dan sumber fosfor dalam pertumbuhannya. Pada tahap
pertama dari proses degradasi, enzim organofosforus acid anhudrase yang
dikeluarkan oleh P. putida menghidrolisis metil parathion menjadi p-
nitrophenol. Sementara p-nitrophenol dikonversi lebih lanjut menjadi
hydroquinone dan 1,2,4 benzenetriol yang akan dirubah lebih lanjut menjadi
maleyl acetate. Pseudomonas putida mampu tumbuh dalam media sederhana
(LB) dengan mengorbankan berbagai macam senyawa organik dan mudah
diisolasi dari tanah (batubara, tembakau) dan air tawar. Pertumbuhan
optimalnya antara 25-30C. P. putida mampu mendegradasi benzena, toluena,
dan Ethylbenzene (Anonim, 2011).

Perlu dipahami bahwa tingkat pertumbuhan mikroba yang lebih baik tidak
selalu diikuti oleh terjadinya proses degradasi yang tinggi, namun begitu bila
pertumbuhan terlalu rendah maka tidak akan terjadi proses biodegradasi yang
signifikan. Tingkat ketersediaan glukosa sebagai sumber karbon dalam media
menpunyai pengaruh nyata pada tingkat degradasi, hal ini berkaitan dengan
tingkat pertumbuhan yang dicapai (Tisnadjaja, 2001).

Selain masalah di atas, enzim-enzim degradatif yang dihasilkan oleh mikroba


tidak mampu mengkatalis reaksi degradasi polutan yang tidak alami,
kelarutan polutan dalam air sangat rendah, dan polutan terikat kuat dengan
partikel-partikel organik atau partikel tanah. Selain itu, pengaruh lingkungan
seperti pH, temperatur, dan kelembapan tanah juga sangat berperan dalam
menentukan kesuksesan proses bioremediasi (Munir, 2006).

Pengembangan Proses Bioremediasi Secara Ex-Situ


Dalam pengembangan proses bioremediasi residu pestisida metidation telah
dilakukan percobaan dalam skala erlenmeyer dengan menggunakan air
limbah yang di ambil dari selokan sekitar areal tanaman bawang merah di
daerah Brebes sebagai bahan dasar media. Untuk menunjang tingkat
pertumbuhan mikroba, ke dalam air limbah ditambahkan nutrisi dengan
komposisi urea 2 g/l, KH2PO4 1 g/l, K2HPO4 1,5 g/l, glukosa 5 g/l dan pH
awal media tercatat 7,41. Sementara konsentrasi metidation yang
ditambahkan adalah 100 ppm. Dalam percobaan ini dilakukan variasi kondisi
sebagai berikut:

1. Media disterilisasi dan dibiarkan tanpa inokulasi (A1)


2. Media tidak disterilisasi dan juga tidak diinokulasi (B1)
3. Media disterilisasi dan kemudian diinokulasi dengan isolat 3 (A2)
4. Media tidak disterilisasi dan diinokulasi dengan isolat 3 (B2)
Dari pengamatan terhadap laju dan tingkat pertumbuhan mikroba yang
diamati dengan mengukur OD, terlihat bahwa pada A1 tidak ada
pertumbuhan sementara pada B1 ada pertumbuhan yang cukup nyata. Ini
menunjukkan adanya pertumbuhan dari mikroba indigen yang ada dalam air
limbah. Sementara dari perbandingan tingkat pertumbuhan antara A2 dan B2,
terlihat bahwa sampai 72 jam waktu inkubasi pada B2 terjadi tingkat
pertumbuhan yang lebih tinggi, tapi pada waktu inkubasi lebih lama atau
mulai jam ke 90, terlihat bahwa tingkat konsentrasi sel pada A2 lebih tinggi
dibanding B2. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya persaingan dari
beberapa mikroba dalam memanfaatkan nutrisi telah menyebabkan nutrisi
tersebut cepat habis dan selanjutnya mengalami kematian dari mikroba-
mikroba tersebut (Tisnadjaja, 2001).

Proses Mikroba Mendegradasi senyawa Hidrokarbon


Senyawa hidrokarbon aromatis polisiklis (PAH) dalam minyak memiliki
toksisitas yang cukup tinggi. Efek toksik dari hidrokarbon yang terdapat
dalam minyak berlangsung melalui larutnya lapisan lemak yang menyusun
membran sel, sehingga menyebabkan hilangnya cairan sel atau kematian
terhadap sel (Rosenberg and Ron, 1998) dalam Munir (2006). Ketahanan
PAH di lingkungan dan toksisitasnya meningkat sejalan dengan peningkatan
jumlah cincin benzenanya (Mueller et al. 1998) dalam Munir (2006).
Beberapa golongan mikroorganisme telah diketahui memiliki kemampuan
dalam memetabolisme PAH. Bakteri dan beberapa alga menggunakan dua
molekul oksigen untuk memulai pemecahan cincin benzena PAH, yang
dikatalis oleh enzim dioksigenase untuk membentuk molekul cis-dihidrodiol.
Kebanyakan jamur mengoksidasi PAH melalui pemberian satu molekul
oksigen untuk membentuk senyawa oksida aren yang dikatalisis oleh
sitokrom P-450 monooksigenase. Pada jamur busuk putih, bila terdapat
H2O2, enzim lignin peroksidase yang dihasilkan akan menarik satu elektron
dari PAH yang selanjutnya membentuk senyawa kuinon (Cerniglia and
Sutherland, (2001) dalam Munir (2006)). Cincin benzena yang sudah terlepas
dari PAH selanjutnya dioksidasi menjadi molekul-molekul lain dan
digunakan oleh sel mikroba sebagai sumber energi.
2.3 BAHAN BAHAN BERBAHAYA AKIBAT TUMPAHAN MINYAK

Pencemaran minyak bumi (crude oil) dapat terjadi di udara, tanah dan air.
Pencemaran minyak bumi pada tanah dianggap sebagai kontaminan yang
dapat mengurangi produktifitas tanah. Kecemasan bahwa pencemaran ini
akan menjadi masalah di masa yang akan datang adalah hal yanag sangat
beralasan mengingat bentuk,sifat dan jumlahnya semakin besar/luas serta
terus mengalami peningkatan.

Kontaminan dalam tanah adalah bahan kimia yang dapat diakibatkan oleh
kegiatan manusia. Kontaminan dapat masuk ketanah secara sengaja dan tidak
disengaja. Kesengajaan seperti aplikasi pestisida, kegiatan pengeboran
minyak bumi baik secara modern maupun tradisional, serta contoh tidak
sengajaan seperti tumpahan minyak karena kecelakaan, kebocoran dll.
Kontaminan tanah juga disebut sebagai limbah berbahaya atau pencemar
(pollutant) tanah, terdiri atas berbagai macam bahan kimia (Alexander, 1994
dalam Hairiah, 2009) termasuk :

1. Larutan mengandung klor, sepeti triklorotilena (TCE) dan


tetracloroetilena (PCE)
2. Bahan peledak, seperti 2,4,6-trinitrotoluena (TNT)
3. Logam seperti kromium dan timbal
4. Radionukleida seperti plutonium
5. Pestisida, seperti atrazin, benlat dan mathion.
6. BTEX (benzene, toluene, ethyl benzene, xylema)
7. PAH (polycyclic aromatic hydrocarbon) seperti kreosol.
8. PCB (polychlorinated biphenyl), seperti campuran aroclor

Limbah berbahaya adalah limbah yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:


korosif, mudah terbakar, reaktif, leachate beracun, dan mudah menular
(limbah rimah sakit). Limbah atau tumpahan minyak bumi menjadi masalah
pencemaran sebab limbah ini digolongkan menjadi limbah berbahaya dan
beracun.

Pemenuhan kebutuhan secara global menuntut manusia untuk melakukan


pembangunan-pembangunan yang dalam pelaksanaan operasionalnya
memerlukan energy sebagai bahan penggerak. Pembangunan secara tidak
langsug memerlukan penggunaan sumber daya alam seperti minyak bumi.
Sampai saat ini minyak bumi merupakan sumber bahan bakar yang belum
tergantikan oleh bahan lain. Bila dalam penggunaanya tidak dilakukan
dengan bijaksana dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan maka tidak
dapat dipungkiri akan menimbulkan permasalahan lingkungan hidup
(pencemaran). Pencemaran akan mengakibatkan ketidak seimbangan dan bila
terjadi terus menerus dapat membahayakan kehidupan baik manusia,
tumbuhan maupum hewan di alam ini.

Dalam proses penambangan minyak bumi tentunya akan ada limbah-limbah


yang di hasilkan. Limbah lumpur minyak bumi merupakan produk yang tidak
mungkin dihindari oleh setiap perusahaan pertambangan minyak bumi dan
menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan (Sumastri, 2005). Sebab
lumpur limbah minyak bumi mempunyai komponen hidrokarbon atau Total
petroleum Hydrocarbon (TPH) yaitu senyawa organik yang terdiri atas
hidrogen dan karbon contohnya benzene, toluene, ethylbenzena dan isomer
xylema.

Total petroleum Hydrocarbon (TPH) ialah merupakan pengukuran


konsentrasi pencemar hidrokarbon minyak bumi dalam tanah atau serta
seluruh pencemar hidrokarbon minyak dalam suatu sampel tanah yang sering
dinyatakan dalam satuan mg hidrokarbon/kg tanah (Nugroho, 2006).

Lumpur minyak bumi termasuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3),
jika mengacu pada PP no. 85 tahun 1999 tentang limbah B3. Dalam peraturan
tersebut ditegaskan bahwa setiap produsen yang menghasilkan limbah B3
hanya diizinkan menyimpan limbah tersebut paling lama 90 hari sebelum
diolah dan perlu pengolahan secara baik sehingga tidak mencemari
lingkungan di sekitarnya. Menurut UU nomor 23 tahun 2009 tentang
pengelolaan limbah B3 adalah dapat dilakukan dengan pengurangan,
penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan,
dan/atau penimbunan .

Pencemaran minyak bumi di tanah merupakan ancaman yang serius bagi


kesehatan manusia. Minyak bumi yang mencemari tanah dapat mencapai
lokasi air tanah, danau atau sumber air yang menyediakan air bagi kebutuhan
domestik maupun industri sehingga menjadi masalah serius bagi daerah yang
mengandalkan air tanah sebagai sumber utama kebutuhan air bersih atau air
minum. Pencemaran minyak bumi, meskipun dengan konsentrasi hidrokarbon
yang sangat rendah sangat mempengaruhi bau dan rasa air tanah (Atalas dan
Bartha 1997 dalam Nugroho, 2006).

Limbah harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang jika mengandung


bahan pencemar yang mengakibatkan rusaknya lingkungan, atau paling tidak
berpotensi menciptakan pencemaran. Dalam suatu proses pengolahan limbah,
harus dibuat perkiraan terlebih dahulu dengan mengidentifikasi sumber
pencemaran, fungsi dan jenis bahan, sistem pengolahan kualitas dan jenis
buangan, serta fungsi B3. Dengan mengacu pada prakiraan tersebut, maka
dibuat program pengendalian dan penanggulangan pencemaran mengingat
limbah, baik dalam jumlah besar maupun kecil, dalam jangka panjang
ataupun pendek akan mengakibatkan terjadinya perubahan pada lingkungan
(Kristanto, 2002).

Tambang Minyak Bumi dan Gas Alam yang dikelola secara


tradisional/tambang rakyat di Kabupaten Bojonegoro yang berada di wilayah
kecamatan Kadewan terdapat 74 unit sumur yang meliputi desa Wonocolo 44
sumur dengan kapasitas produksi 25.771 liter/hari, desa Hargomulyo 18
sumur dengan kapasitas produksi 12.771 liter/hari dan desa Beji 12 sumur
dengan kapasitas produksi 8.249 liter/hari. Pada setiap kegiatan penambangan
di sumur bor (cutting) tersebut, terdapat tumpahan minyak pada lahan sekitar
akibat proses pengangkutan minyak, baik melalui pipa, alat angkut, maupun
ceceran akibat proses pemindahan (Nugroho, 2006).

Pada tanah yang tercemar minyak bumi, contoh saja di daerah pertambangan
Bojonegoro jika di analisis kandungan nutien, mengandung unsur makro
untuk karbon (C) 8,53% (sedang), Nitrogen (N) 0,20% (rendah), Fosfor (P)
0,01% (sangat rendah), Kalium (K) 0,22 % (sedang) dan kadar TPH yaitu
41.200 mg/kg. Dari hasil analisis ini, tanah tidak baik untuk pertumbuhan
tanaman dan pertanian karena hara N tergolong rendah dan senyawa
hidrokarbon tergolong tinggi.
Salah satu upaya secara biologis untuk mengatasi tanah tercemar hidrokarbon
adalah dengan melakukan bioremediasi. Bioremediasi merupakan alternatif
yang dilakukan dimana tanah yang tercemar dibersihkan dengan
memanfaatkan kemampuan mikroorganisme untuk mendegradasi kontaminan
yang bersifat ramah terhadap lingkungan karena tanah yang sudah tercemar
umumnya tidak dapat ditanami (Nugroho, 2006).

Polusi dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut


yang selalu menjadi fokus perhatian masyarakat luas, karena akibatnya sangat
cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak
makhluk hidup di sekitar pantai tersebut. Pencemaran minyak semakin
banyak terjadi sejalan dengan semakin meningkatnya permintaan minyak
untuk dunia industri yang harus diangkut dari sumbernya yang cukup jauh,
meningkatnya jumlah anjungan anjungan pengeboran minyak lepas pantai.
dan juga karena semakin meningkatnya transportasi laut.

Berdasarkan PP No.19/1999, pencemaran laut diartikan sebagai masuknya/


dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan
baku mutu dan/atau fungsinya (Pramudianto, 1999). Sedangkan Konvensi
Hukum Laut III (United Nations Convention on the Law of the Sea =
UNCLOS III) mengartikan bahwa pencemaran laut adalah perubahan dalam
lingkungan laut termasuk muara sungai (estuaries) yang menimbulkan akibat
yang buruk sehingga dapat merusak sumber daya hayati laut (marine living
resources), bahaya terhadap kesehatan manusia, gangguan terhadap kegiatan
di laut termasuk perikanan dan penggunaan laut secara wajar, menurunkan
kualitas air laut dan mutu kegunaan serta manfaatnya (Siahaan, 1989 dalam
Misran, 2002).

A. Sumber Pencemaran Minyak di Laut


Menurut Pertamina ( 2002), Pencemaran minyak di laut berasal dari :

1. Ladang Minyak Bawah Laut;


2. Operasi Kapal Tanker;
3. Docking (Perbaikan/Perawatan Kapal);
4. Terminal Bongkar Muat Tengah Laut;
5. Tanki Ballast dan Tanki Bahan Bakar;
6. Scrapping Kapal (pemotongan badan kapal untuk menjadi besi tua);
7. Kecelakaan Tanker (kebocoran lambung, kandas, ledakan, kebakaran dan
tabrakan);
8. Sumber di Darat (minyak pelumas bekas, atau cairan yang mengandung
hydrocarbon ( perkantoran & industri );
9. Tempat Pembersihan (dari limbah pembuangan Refinery )

2.4 DAMPAK DARI PENCEMARAN MINYAK DI LAUT

Komponen minyak yang tidak dapat larut di dalam air akan mengapung yang
menyebabkan air laut berwarna hitam. Beberapa komponen minyak
tenggelam dan terakumulasi di dalam sedimen sebagai deposit hitam pada
pasir dan batuan-batuan di pantai. Komponen hidrokarbon yang bersifat
toksik berpengaruh pada reproduksi, perkembangan, pertumbuhan, dan
perilaku biota laut, terutama pada plankton, bahkan dapat mematikan ikan,
dengan sendirinya dapat menurunkan produksi ikan. Proses emulsifikasi
merupakan sumber mortalitas bagi organisme, terutama pada telur, larva, dan
perkembangan embrio karena pada tahap ini sangat rentan pada lingkungan
tercemar (Fakhrudin, 2004). Sumadhiharga (1995) dalam Misran (2002)
memaparkan bahwa dampak-dampak yang disebabkan oleh pencemaran
minyak di laut adalah akibat jangka pendek dan akibat jangka panjang.

1. Akibat jangka pendek.


Molekul hidrokarbon minyak dapat merusak membran sel biota laut,
mengakibatkan keluarnya cairan sel dan berpenetrasinya bahan tersebut ke
dalam sel. Berbagai jenis udang dan ikan akan beraroma dan berbau minyak,
sehingga menurun mutunya. Secara langsung minyak menyebabkan kematian
pada ikan karena kekurangan oksigen, keracunan karbon dioksida, dan
keracunan langsung oleh bahan berbahaya.

2. Akibat jangka panjang.


Lebih banyak mengancam biota muda. Minyak di dalam laut dapat termakan
oleh biota laut. Sebagian senyawa minyak dapat dikeluarkan bersama-sama
makanan, sedang sebagian lagi dapat terakumulasi dalam senyawa lemak dan
protein. Sifat akumulasi ini dapat dipindahkan dari organisma satu ke
organisma lain melalui rantai makanan. Jadi, akumulasi minyak di dalam
zooplankton dapat berpindah ke ikan pemangsanya. Demikian seterusnya bila
ikan tersebut dimakan ikan yang lebih besar, hewan-hewan laut lainnya, dan
bahkan manusia.

Secara tidak langsung, pencemaran laut akibat minyak mentah dengan


susunannya yang kompleks dapat membinasakan kekayaan laut dan
mengganggu kesuburan lumpur di dasar laut. Ikan yang hidup di sekeliling
laut akan tercemar atau mati dan banyak pula yang bermigrasi ke daerah lain.
Minyak yang tergenang di atas permukaan laut akan menghalangi sinar
matahari masuk sampai ke lapisan air dimana ikan berdiam. Menurut
Fakhrudin (2004), lapisan minyak juga akan menghalangi pertukaran gas dari
atmosfer dan mengurangi kelarutan oksigen yang akhirnya sampai pada
tingkat tidak cukup untuk mendukung bentuk kehidupan laut yang aerob.

Lapisan minyak yang tergenang tersebut juga akan mempengarungi


pertumbuhan rumput laut , lamun dan tumbuhan laut lainnya jika menempel
pada permukaan daunnya, karena dapat mengganggu proses metabolisme
pada tumbuhan tersebut seperti respirasi, selain itu juga akan menghambat
terjadinya proses fotosintesis karena lapisan minyak di permukaan laut akan
menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam zona euphotik, sehingga
rantai makanan yang berawal pada phytoplankton akan terputus Jika lapisan
minyak tersebut tenggelam dan menutupi substrat, selain akan mematikan
organisme benthos juga akan terjadi perbusukan akar pada tumbuhan laut
yang ada.

Pencemaran minyak di laut juga merusak ekosistem mangrove. Minyak


tersebut berpengaruh terhadap sistem perakaran mangrove yang berfungsi
dalam pertukaran CO2 dan O2, dimana akar tersebut akan tertutup minyak
sehingga kadar oksigen dalam akar berkurang. Jika minyak mengendap dalam
waktu yang cukup lama akan menyebabkan pembusukan pada akar mangrove
yang mengakibatkan kematian pada tumbuhan mangrove tersebut. Tumpahan
minyak juga akan menyebabkan kematian fauna-fauna yang hidup berasosiasi
dengan hutam mangrove seperti moluska, kepiting, ikan, udang, dan biota
lainnya.

Bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa minyak yang terperangkap di


dalam habitat berlumpur tetap mempunyai pengaruh racun selama 20 tahun
setelah pencemaran terjadi. Komunitas dominan species Rhizophora mungkin
bisa membutuhkan waktu sekitar 8 (delapan ) tahun untuk mengembalikan
kondisinya seperti semula.

Ekosistim terumbu karang juga tidak luput dari pengaruh pencemaran


minyak. Menurut O'Sullivan & Jacques (2001), jika terjadi kontak secara
langsung antara terumbu karang dengan minyak maka akan terjadi kematian
terumbu karang yang meluas. Akibat jangka panjang yang paling potensial
dan paling berbahaya adalah jika minyak masuk ke dalam sedimen. Burung
laut merupakan komponen kehidupan pantai yang langsung dapat dilihat dan
sangat terpengaruh akibat tumpahan minyak . Akibat yang paling nyata pada
burung laut adalah terjadinya penyakit fisik (Pertamina, 2002). Minyak yang
mengapung terutama sekali amat berbahaya bagi kehidupan burung laut yang
suka berenang di atas permukaan air, seperti auk (sejenis burung laut yang
hidup di daerah subtropik), burung camar dan guillemot ( jenis burung laut
kutub).

Tubuh burung ini akan tertutup oleh minyak, kemudian dalam usahanya
membersihkan tubuh mereka dari minyak, mereka biasanya akan menjilat
bulu-bulunya, akibatnya mereka banyak minum minyak dan akhirnya
meracuni diri sendiri. Disamping itu dengan minyak yang menempel pada
bulu burung, maka burung akan kehilangan kemampuan untuk mengisolasi
temperatur sekitar ( kehilangan daya sekat), sehingga menyebabkan hilangnya
panas tubuh burung, yang jika terjadi secara terus-menerus akan
menyebabkan burung tersebut kehilangan nafsu makan dan penggunaan
cadangan makanan dalam tubuhnya.

Peristiwa yang sangat besar akibatnya terhadap kehidupan burung laut adalah
peristiwa pecahnya kapal tanki Torrey Canyon yang mengakibatkan matinya
burung-burung laut sekitar 10.000 ekor di sepanjang pantai dan sekitar 30.000
ekor lagi didapati tertutupi oleh genangan minyak ( Farb, 1980 ).
Pembuangan air ballast di Alaska sekitar Pebruari-Maret 1970 telah pula
mencemari seribu mil jalur pantai dan diperkirakan paling sedikit 100 ribu
ekor burung musnah (Siahaan, 1989 dalam Misran 2002). .

Menyadari akan besarnya bahaya pencemaran minyak di laut, maka timbullah


upaya-upaya untuk pencegahan dan penanggulangan bahaya tersebut oleh
negara-negara di dunia. Diakui bahwa prosedur penanggulangan seperti:
pemberitahuan bencana, evaluasi strategi penanggulangan, partisipasi unsur
terkait termasuk masyarakat, teknis penanggulangan, komunikasi, koordinasi
dan kesungguhan untuk melindungi laut dan keberpihakan kepada
kepentingan masyarakat menjadi poin utama dalam pencegahan dan
penanggulangan pencemaran minyak. Untuk melakukan hal tersebut, tiga hal
yang dapat dijadikan landasan yaitu aspek legalitas, aspek perlengkapan dan
aspek koordinasi.

Sejak September 2003 Departemen Kelautan dan Perikanan memulai


Gerakan Bersih pantai dan Laut (GBPL). Gerakan ini bertujuan untuk
mendorong seluruh lapisan masyarakat untuk mewujudkan laut yang biru dan
pantai yang bersih pada lokasi yang telah mengalami pencemaran. Dengan
gerakan ini diharapkan bukan hanya didukung oleh pemerintah dan
masyarakat, namun juga didukung oleh para pengusaha minyak dan gas bumi
yang beroperasi di Indonesia.

2.5 METODE PENANGGULANGAN TUMPAHAN MINYAK DI LAUT


Langkah pertama yang harus dilakukan dalam penangannan tumpahan
minyak (oil spill) di laut adalah dengan cara melokalisasi tumpahan minyak
menggunakan pelampung pembatas (oil booms), yang kemudian akan
ditransfer dengan perangkat pemompa (oil skimmers) ke sebuah fasilitas
penerima "reservoar" baik dalam bentuk tangki ataupun balon. Langkah
penanggulangan ini akan sangat efektif apabila dilakukan di perairan yang
memiliki hidrodinamika air yang rendah (arus, pasang-surut, ombak, dll) dan
cuaca yang tidak ekstrem.

Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ


burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent dan
penggunaan bahan kimia dispersan. Setiap teknik ini memiliki laju penyisihan
minyak berbeda dan hanya efektif pada kondisi tertentu.
a. In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan air sehingga
mampu mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut,
penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi, yang
dijumpai dalam teknik penyisihan secara fisik. Cara ini membutuhkan
ketersediaan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau
barrier yang tahan api. Beberapa kendala dari cara ini adalah pada peristiwa
tumpahan besar yang memunculkan kesulitan untuk mengumpulkan minyak
dan mempertahankan pada ketebalan yang cukup untuk dibakar serta
evaporasi pada komponen minyak yang mudah terbakar. Sisi lain, residu
pembakaran yang tenggelam di dasar laut akan memberikan efek buruk bagi
ekologi. Juga, kemungkinan penyebaran api yang tidak terkontrol.

b. Cara kedua yaitu penyisihan minyak secara mekanis melalui dua tahap
yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan
pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan
mekanis yang disebut skimmer. Upaya ini terhitung sulit dan mahal meskipun
disebut sebagai pemecahan ideal terutama untuk mereduksi minyak pada area
sensitif, seperti pantai dan daerah yang sulit dibersihkan dan pada jam-jam
awal tumpahan. Sayangnya, keberadaan angin, arus dan gelombang
mengakibatkan cara ini menemui banyak kendala.
c. Cara ketiga adalah bioremediasi yaitu mempercepat proses yang terjadi
secara alami, misalkan dengan menambahkan nutrien, sehingga terjadi
konversi sejumlah komponen menjadi produk yang kurang berbahaya seperti
CO2 , air dan biomass. Selain memiliki dampak lingkunga kecil, cara ini bisa
mengurangi dampak tumpahan secara signifikan. Sayangnya, cara ini hanya
bisa diterapkan pada pantai jenis tertentu, seperti pantai berpasir dan
berkerikil, dan tidak efektif untuk diterapkan di lautan.

d. Cara keempat dengan menggunakan sorbent yang bisa menyisihkan


minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada permukaan
sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini
berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat sehingga mudah
dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik
hidrofobik,oleofobik dan mudah disebarkan di permukaan minyak, diambil
kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas,
jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung,
vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan
serat nilon)

e. Cara kelima dengan menggunakan dispersan kimiawi yaitu dengan


memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet) sehingga
mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan.
Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut
surfaktan (berasal dari kata : surfactants = surface-active agents atau zat aktif
permukaan).
BAB III

KESIMPULAN

Setelah dilakukan diskusi tentang bioremediasi - tumpahan minyak bumi di laut,


dapat diambil beberapa kesimpulang sebagi berikut:

1. Bioremediasi mempunyai potensi untuk menjadi salah satu teknologi


lingkungan yang bersih, alami, dan paling murah untuk mengantisipasi
masalah-masalah lingkungan.
2. Senyawa kimia berbahaya dapat diolah oleh mikroba apabila mikroba
yang sesuai dan tersedia kondisi lingkungan yang ideal tempat tumbuh
mikroba seperti suhu, pH, nutrient, dan jumlah oksigen.
3. Dalam proses penambangan minyak bumi akan ada limbah-limbah yang di
hasilkan, yaitu: larutan mengandung klor, sepeti triklorotilena (TCE)
dantetracloroetilena (PCE), Bahan peledak, seperti 2,4,6-
trinitrotoluena (TNT), Logam seperti kromium dan timbal, Radionukleida
seperti plutonium, Pestisida, seperti atrazin, benlat dan mathion, BTEX
(benzene, toluene, ethyl benzene, xylema), PAH (polycyclic aromatic
hydrocarbon) seperti kreosol, dan PCB (polychlorinated biphenyl), seperti
campuran aroclor.
4. Dampak yang disebabkan oleh pencemaran minyak di laut adalah akibat
jangka pendek dan akibat jangka panjang. Akibat jangka pendek dapat
merusak membran sel biota laut, mengakibatkan keluarnya cairan sel dan
berpenetrasinya bahan tersebut ke dalam sel. Sedangkan akibat jangka
panjang yaitu, lebih banyak mengancam biota muda, karena biota laut
akan mengkonsumsi minyak bumi dan akan terus tumbuh dengan
kandungan minyak bumi di dalam tubuh biota tersebut hingga dewasa dan
berkembang biak serta dikonsumsi oleh manusia,
5. Ada beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-
situ burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan
sorbent dan penggunaan bahan kimia dispersan.
DAFTAR PUSTAKA

Aguskrisno. 2011. Bioremediasi Lingkungan Berpolutan. http://www.google.com.


Diakses pada tanggal 29, Mei 2014 pukul 18.25 WIB.

Anonim. 2011. Contoh Penelitian Bioremediasi.


http://www.blogspot.com/contoh-penelitian-bioremediasi/. Diakses pada
tanggal 29, Mei 2014 pukul 18.33 WIB.

Munir, Firman. 2006. Pemanfaatan Mikroba Dalam Bioremediasi Suatu


Teknologi Alternatif untuk Pelestarian Lingkungan. Medan: Univeritas
Sumatra Utara Press.

Nugroho, Astri. 2006, Bioremediasi Hidrokarbon Minyak Bumi. Indonesia: Graha


Ilmu Universitas Trisakti.

Siahaan, N.H.T. 1989. Pencemaran Laut dan kerugian yang Ditimbulkan (I),
dalam Harian Angkatan Bersenjata.Jakarta: 8 Juni 1989.

Suhardi, Muhammad. 2010.

Tisnadjaja, D., A. Purnama, E. Yudiadi, R. Pujihastuti, C.S. Ibrahim,


A.Soeksmanto, D.R. Dermana, Suyamto, S.J. Rijadi, Supriatna dan T.
Sumardiman. 2001. Mikroba Indigen. Laporan Teknik Proyek Penelitian
Bioteknologi.