Anda di halaman 1dari 85

METODE KERJA PELAKSANAAN

PENINGKATAN JALAN SECARA UMUM UR JASA


KONSEUM-CIKONDANG TAHAP II DI KABUPATEN
CIANJUR
PT. BEVERINT SURYA SEJATI
2017
METODE KERJA PELAKSANAAN

BANTUAN INFRASTRUKTUR JASA KONSTRUKSI UNTUK PENINGKATAN DAN REHABILITASI JALAN


CIPEUYEUM-CIKONDANG TAHAP II DI KABUPATEN CIANJUR PROVINSI JAWA BARAT

Umum :
Untuk meningkatkan kemudahan transport yang aman dan nyaman dan menjawab tuntutan
dan kebutuhan jaman yang semakin mendesak akan kebutuhan Transportasi yg baik
,meningkatkan kesejahtertaan ekonomi Rakyat maka perlu kiranya dibuatkan Access Jalan
yang Memadai dan memenuhi Standar Safety disekitar Lokasi ini. maka dibawah ini kami
sajikan Tahapan Pengerjaan Peningkatan Jalan Secara Umum

TAHAPAN PENGERJAAN

. Mobilisasi Alat & Bahan


. Pekerjaan Subbase Course
Pekerjaan Base Course
. Pekerjaan Surface Course
. Pekerjaan Hotmix
. Pekerjaan Beton ( Rigit )
.Pekerjaan Jembatan
. Pekerjaan Test Lab
. Pekerjaan Saluran
. Pekerjaan Marka dan Zebra Cross
. Pekerjaan Patok Km dan HM

SIRKULASI MOBILISASI ALAT BERAT


Untuk Pekerjaan Proyek proyek ini untuk mobilisasi tidak merupakan hal yang terlalu sulit
karena acces ke Proyek ini sudah ada jalan existing.
Alat Alat yang di Mobilisasi al : Excavator Dump Truck Buldozer Water Tank dan sebagai alat
Penunjang Utama adalah Theodolit dan Level,Buldozer,Vibro Roller,Pheunematic,Asphalt
Spray,Tandem Roller,Asphalt Finisher, loader dan Genset
B
V
R
S
S

PEKERJAAN MARKING/ BOUWPLANK


Untuk dapat menghasilkan ketepatan kerja, maka Survey merupakan hal yang
utama,perintis jalan untuk Dimulainya pekerjaan,pokok utama dari pelaksanaan
Proyek.Mengingat pentingnya survey,maka selalu harus Dipikirkan caranya kita dapat
memberikan patokan (as-as),sehingga memudahkan setiap pekerja dilapangan Untuk
membacanya.Dengan menggunakan Pesawat Theodolit dan Level yang sudah
ditera.Penempatan bench mark ( bouwplank ) harus bebas dari kemungkinan
terganggunyabench mark tersebut. Papan bouwplank adalah suatu alat bantu dalam
pelaksanaan pengukuran suatu object di dalam menentukan perkiraan ( asumsi ) elevasi ( +
0.00 ) dan as as object tsb. Karena merupakan alat bantu, maka setelah perkiraan elevasi
object tsb sudah terpasang tetap, maka papan bouwplank ini dapat dibongkar.

METODE PEKERJAAN JALAN


Umum : Secara Umum Pekerjaan di Proyek ini adalah Penambahan Badan Jalan dengan
Mengacu Kepada Kontruksi Jalan pada umumnya yang saya Paarkan dalam Metode Kerja ini
dan Pekerjaan Perbaikan2 Jalan Existing yang berlubang dengan metode sama seperti
Pembuatan Kontruksi Jalan Baru diakhiri dengan Menggelar Asphalt Hotmix setebal 4 Cm.
1.Kontruksi dasar Sub base dengan CBR 50 % (subbase course);
2.Base course dengan CBR 80 % (base course);
3.Lapisan Premcoat
4.Asphalt Hotmix 4 cm

1. Lapis permukaan/penutup (surface course)

2. Lapis pondasi (base course);


3. Lapis pondasi bawah (subbase course);

4. Lapisan tanah dasar (subgrade

Pekerjaan Penambahan Badan Jalan :


Pekerjaan Pembersihan Lokasi :
Pekerjaan ini terdiri dan peningkatan kembali dan pembentukan kembali bahu
jalan yang ada, termasuk pembersihan tumbuh-tumbuhan, pemotongan, perapihan,
pengurugan dengan bahan terpilih serta pemadatan untuk mengembalikan bahu
jalan mencapai garis, kemiringan dan dimensi yang benar

Penyiapan Lapangan
Semua tumbuh-tumbuhan harus dibongkar dari bahu jalan yang ada, rumput,
alang -alang, semak-semak dan tumbuhan lainnya harus dipotong ulang
seperlunya sebelum pembentukan kembali.

Pembentukan Kembali
Bahu jalan yang harus dibentuk kembali oleh tenaga kasar, traktor atau motor
grader.
Pekerjaan tersebut mencakup pembongkaran daerah-daerah yang tinggi,
pengurugan daerah-daerah rendah dengan bahan lebihan, dan pembentukan
kembali bahu jalan tersebut sampai memenuhi kelandaian, garis batas dan
ketinggian
Pemadatan
Seluruh pembentukan kembali dan peningkatan bahu jalan harus diikuti
pemadatan dengan mesin gilas roda ban atau peralatan pemadatan lain yang
cocok yang disetujui oleh Direksi Teknik. Pemadatan harus dilaksanakan sampai
memenuhi persyaratan kepadatan normal untuk mempersiapkan tanah dasar.
Pelaksanaan
Penyiapan lapangan untuk menempatkan bahan bahu Jalan, termasuk
galian bahan yang ada dan perapian ujung Jalan kendaraan yang ada,
dilaksanakan seperti ditunjukkan pada Gambar Rencana.
Tanah Dasar atau formasi harus disiapkan dan diselesaikan sesuai dengan
pekerjaan-pekerjaan yang ditentukan
Bahu ja!an pada kedua sisi jalan tidak boleh dibangun pada waktu yang
bersamaan, harus dibangun satu sisi dulu, baru berikutnya pada sisi yang lain.

Pekerjaan Subbase Course :


Lapis Pondasi Bawah
o Lapis Pondasi Bawah adalah lapisan konstruksi pembagi beban kedua yang
berupa bahan berbutir diletakkan di atas lapisan tanah dasar yang
dibentuk dan dipadatkan, serta langsung di bawah Lapis Pondasi Atas
perkerasan.
o Pekerjaan Lapis Pondasi Bawah terdiri dari menempatkan, memproses,
mengangkut, menebarkan, mengairi dan memadatkan bahan Lapis Pondasi
Bawah berbutir yang disetujui sesuai dengan gambar-gambar.
Pelaksanaan Pekerjaan
o Bahan Lapis Pondasi Bawah harus ditempatkan dan ditimbun di tempat yang
bebas dari lalu-lintas serta saluran -saluran dan lintasan air di sekitarnya.
o Lapis Pondasi Bawah tersebut dicampur dilapangan ruas jalan yang ber
sangkutan dengan menggunakan tenaga kerja atau motor grader. Pengadukan
yang merata diperlukan dan bahan tersebut harus dipasang dalam lapisan-
lapisan melebihi 20 cm tebalnya atau ketebalan lain seperti diperintahkan oleh
Direksi Teknik agar dapat mencapai tingkat pemadatan yang ditetapkan.
o ketebalan Lapis Pondasi Bawah terpasang harus sesuai dengan Gambar
Rencana dan seperti dinyatakan dalam Daftar Penawaran, atau seperti yang
diperintahkan oleh Direksi Teknik di lapangan untuk memenuhi kondisi lapis
bawah dasar yang sebenarnya.
Penghamparan dan Pemadatan
o Penghamparan akhir LPB sampai ketebalan dan kemiringan melintang Jalan
yang diminta harus dilaksanakan dengan kelonggaran kira-kira 15%, penurunan
ketebalan untuk pemadatan lapisan-lapisan Lapis Pondasi Bawah. Segera
setelah penghamparan dan pembentukan akhir masing-masing lapisan harus
didapatkan sampai lebar penuh Lapis Pondasi Bawah permukaan, dengan
menggunakan mesin gilas roda baja atau mesin gilas roda ban Pneumatic atau
peralatan pemadat lain yang disetujui oleh Direksi Teknik.
o Penggilasan untuk pembentukan dan pemadatan bahan Lapis Pondasi Bawah
akan bergerak secara gradual dari pinggir ke tengah, sejajar dengan garis
sumbu jalan dan harus terus menerus sampai seluruh permukaan telah
didatarkan secara merata. Pada bagian-bagian super elevasi, kemiringan
melintang Jalan atau kelandaian yang terjal, penggilasan harus bergerak dari
bagian yang lebih rendah ke bagian jalan yang lebih tinggi. Setiap
ketidakteraturan atau bagian ambles yang mungkin terjadi, harus dibetulkan
dengan menggaru atau meningkatkan dan menambahkan bahan Lapis Pondasi
Bawah untuk membuat permukaan tersebut mencapai bentuk dan ketinggian
yang benar
o Bagian-bagian yang sempit di sekitar Kerb atau dinding yang tidak dipadatkan
dengan mesin gilas, harus dipadatkan dengan pemadat atau mesin tumbuk
yang disetujui.

o Kandungan kelembaban untuk pemasangan harus dijaga dalam batas-batas 3%


kurang dari kadar air optimum sampai 1% lebih dari kadar air o ptimum dengan
penyemprotan air atau pengeringan seperlunya, dan bahan Lapis Pondasi
Bawah dipadatkan untuk menghasilkan kepadatan yang ditetapkan, ke seluruh
ketebalan penuh masing-masing lapisan, mencapai 100% kepadatan kering
maksimum yang ditetapkan
Pekerjaan Base Course :
Lapis Pondasi Atas Jalan merupakan lapisan struktur utama di atas Lapis
Pondasi Bawah (atau di atas lapis tanah dasar dimana tidak dipasang Lapis Pondasi
Bawah). Pembangunan Lapis Pondasi Atas terdiri dari pengadaan, pemrosesan,
pengangkutan, penghamparan, penyiraman dengan air, dan pemadatan agregat batu
atau kerikil alami pilihan dalam Lapis Pondasi Atas, di atas satu Lapis Pondasi Bawah
atau di atas lapis tanah dasar yang telah disiapkan.
Agregat Lapis Pondasi Atas (LPA) Kelas A
o Agregat ditempatkan pada lokasi di atas Lapis Pondasi Bawah (Subbase
Course) yang sudah disiapkan dalam volume yang cukup untuk menyediakan
penghamparan dan pemadatan ketebalan yang diperlukan.
o Agregat dihampar dengan tangan oleh pekerja atau dengan motor grader
sampai satu campuran yang merata, dengan batas kelembaban yang optimum.
o Agregat harus dihampar dalam lapisan yang tidak melebihi ketebalan 20 cm,
dalam satu cara sehingga kepadatan maksimum yang telah ditetapkan dapat
dicapai.
Penghamparan dan Pemadatan
o Pada penghamparan akhir sampai ketebalan dan kemirngan melintang yang
diperlukan, dilaksanakan dengan cara cadangan sekitar 10% pengurangan
ketebalan untuk pemadatan bahan-bahan Lapis Pondasi Atas segera setelah
penghamparan dan pembentukan akhir setiap lapisan LPA.
o Saat penggilasan untuk pembentukan dan pemadatan alat pengilas maju
sedikit demi sedikit dari pinggir ke tengah dari perkerasan, sejajar dengan
sumbu jalan dan dilaksanakan dalam operasi yang terus menerus untuk
membuat pemadatan matang yang merata. Pada bagian super elevasi, miring
melintang atau kemiringan yang terjal, penggilasan harus berjalan dari bagian
Jalan yang lebih rendah menuju kebagian atas.
o Setiap ketidak aturan atau penurunan setempat yang mungkin terjadi, harus
diperbaiki dengan membongkar permukaan yang sudah dipadatkan,
menggaruk. Bahan pengisi tambahkan yaitu setiap timbul rongga diantara
agregat-agregat. Penempatan bahan pengisi / halus dan penggilasan harus
diteruskan sampai isian berikut tidak dapat dimasukkan lagi. Pada akhir
pekerjaan, permukaan lapisan Makadam harus menyerupai batu mozaik yang
padat dan bebas dari rongga-rongga.

Peralatan Pelaksanaan

1. Alat Pengangkutan
Sejumlah truk angkutan yang cukup harus disediakan untuk mengangkut campuran aspal
yang sesuai dengan program pekerjaan yang telah disetujui. Truk-truk tersebut harus
dilengkapi dengan dasar logam rata ketat, dibersihkan dan yang sebelumnya dilapisi minyak
bakar
2. Alat untuk penyebaran dan penyelesaian
Bilamana diminta demikian didalam daftar penawaran dan daftar unit produksi, peralatan
untuk penyebaran dan penyelesaian harus satu paver betenaga mesin sendiri yang mampu
bekerja sampai ke garis, tingkat dari penampang melintang yang diperlukan dan dapat
memenuhi persyaratan-persyaratan terhadap volume dan penampilan kualitas
3. Peralatan Pemadatan
Mesin gilas roda baja(mesin gilas roda 3 atau tandem 6 10 ton)
Sebuah mesin gilas dan bertekanan dengan ban dipompa mencapai tekanan 8,5 kg/cm2 dan
dengan penyediaan untuk ballast dari 1500 kg 2500 kg muatan per roda.
4. Peralatan untuk menyemprot lapis aspal resap pelekat atau lapis aspal pelekat
Sebuah distributor/penyemprot aspal bertekanan harus disediakan dengan penyediaan untuk
pemanasan aspal.

(2) Penyiapan Lapangan


a. Penyiapan lokasi
1) Sebelum dilakukan pembongkaran aspal terebih dahulu dilakukan pengukuran lokasi yang
akan dikerjakan sesuai dengan gambar kerja
2) Lokasi diberi tanda berupa cat sesuai dengan batas ukuran yang ditentukan dan harus
mendapat persetujuan dari Pengawas Lapangan. Lokasi yang rusak yang akan diperbaiki harus
dibongkar dengan hati-hati sesuai dengan batas tanda yang diberikan, pembongkaran
dilakukan harus berbentuk persegi empat, sisi daerah yang dibongkar harus tegak lurus dan
rata.
3) Aspal bekas bongkaran harus diangkut keluar lokasi kerja dan dibuang pada tempat yang
ditentukan dan lobang yang dibongkar harus dibersihkan dari material lepas.
4) Sebelum dilapisi dengan tack/prime coat bagian yang diperbaiki harus terlebih dahulu
dibersihkan dengan kompresor sehingga bebas dari debu dan kotoran yang lepas

b. Pemasangan di atas lapisan pondasi atas


1) Bilamana memasang di atas pondasi, maka pondasi tersebut bentuk dan profilnya harus sama
benar dengan yang diperlukan untuk penampang melintang dan dipadatkan sepenuhnya
sampai mendapat persetujuan Pengawas Lapangan
2) Sebelum memasang aspal hotmix, pondasi lapangan tersebut harus dilapisi dengan aspal resap
pelekat pada tingkat pemakaian 0,6 l/m2 atau tingkat lainnya menurut perintah Pengawas
Lapangan

c. Pemasangan di atas satu permukaan aspal yang ada

1) Bilamana pemasangan tersebut sebagai satu lapis ulang terhadap satu permukaan aspal yang
ada, setiap kerusakan pada permukaan perkerasan yang ada, termasuk lubang-lubang,
bagaian amblas, pinggiran hancur dan cacat permukaan lainnya harus dibetulkan dan
diperbaiki

2) Sebelum pemasangan aspal hotmix, permukaan yang ada harus kering dan dibersihkan dari
semua batu lepas dan bahan lain yang harus dibuang dan akan dilabur dengan aspal perekat
yang disemprotkan pada tingkat pemakaian tidak melebihi 0,5 l/m2 kecuali diperintahkan lain
oleh Pengawas Lapangan.
Penyebaran dengan mesin
1) Sebelum operasi pengerasan dimulai, screed paver harus dipanaskan dan campuran aspal
harus dimasukkan/dituang ke dalam paver pada satu temperatur di dalam batas-batas antara
140 - 110 C.
2) Selama pengoperasian paver, campuran aspal tersebut harus disebarkan dan diturunkan
sampai ketingkat, ketinggian dan bentuk penampang melintang yang diperlukan di atas
seluruh lebar perkerasan yang sepantasnya.
3) Paver tersebut harus beroperasi pada satu kecepatan yang tidak menimbulkan retak-retak
pada permukaan, cabik-cabik atau ketidakteraturan lainnya dalam permukaan. Tingkat
penyebaran harus sebagaimana yang disetujui oleh Pengawas Lapangan memenuhi tebal
rencana.
4) Jika suatu segresi, penyobekan atau pencungkilan permukaan akan terjadi, paver tersebut
harus dihentikan dan tidak boleh berlapangan kembali sampai penyebabnya ditemukan dan
diperbaiki. Penambahan yang kasar atau bahan yang telah segresi harus dibuat betul dengan
menyebarkan bahan halus (fines) serta digaruk dengan baik. Akan tetapi penggarukan harus
dihindarkan sejauh mungkin dan partikel kasar tidak boleh disebarkan di atas permukaan
yang disecreed.

Penyebaran dengan tenaga manusia


1) Harus disediakan tenaga kerja yang cukup untuk memungkinkan truk angkutan dibongkar
muatannya, serta campuran aspal panas tesebut disebarkan dengan penundaan minimum.
Bilamana truk-truk atap datar digunakan untuk pengiriman, campuran tersebut harus
dibongkar muatannya dengan sekop dan dituangkan secara tegak di atas lintasan lapangan
sedemikian sehingga menimbulkan sgresi sedikit mungkin. Tidak boleh ada coba-coba
dilakukan untuk menyebar campuran tersebut di atas permukaan yang disecreed.
2) Campuran aspal tersebut harus disebarkan dengan sekop dan garuk yang digunakan
berpasangan untuk merapihkan permukaan secara final. Papan penggun lapangan atau
batang lurus akan digunakan untuk mengatur permukaan diantara papan screed.
3) Dimana diperlukan untuk penyebaran tangan, kedua papan pinggir dan papan punggung
lapangan harus dipasang dan campuran aspal harus disebarkan, bekerja dari pinggir menuju
ke papan tengah dan kedepan dari sambungan melintang. Penyebaran harus dilaksanakan
untuk menghasilkan suatu permukaan yang seragam tanpa segresi.

Pemadatan Lapisan Aspal

a. Pengendalian suhu
1) Secepatnya setelah campuran tersebut telah disebarkan dan menurun, permukaan tersebut
harus diperiksa dan setiap kualitas tidak baik harus diperbaiki
2) Suhu campuran lepas terpasang harus dipantau dan penggilasan akan dimulai ketika suhu
campuran tersebut turun dibawah 110 C dan harus diselesaikan sebelum suhu turun di
bawah 65 C.
3) Penggilasan campuran tersebut akan terdiri dari operasi terpisah, bekerja sedekat mungkin
kepada urutan penggilasan berikut ini:

Waktu sesudah Suhu Penggilasan C


Penghamparan

1. Tahapawal penggilasan 0 10 menit 110 100

2. Penggilasankedua/antara 10 20 menit 100 80

3. Penggilsan akhir 20 45 menit 80 65

b. Prosedur pemadatan
1) Tahap awal penggilasan dan penggilasan final akan dikerjakan semuanya dengan mesin gilas
roda baja. Penggilasan kedua atau penggilasan antara akan dilakukan dengan sebuah mesin
gilas ban pneumatic. Mesin gilas pemadatan akan beroperasi dengan roda kemudi sedekat
mungkin ke paver.
2) Kecepatan mesin gilas tidak boleh melebihi 4 km/jam untuk mesin gilas roda baja, dan 6
km/jam untuk mesin gilas ban pneumatic serta akan selalu cukup lambat untuk menghindari
penggeseran campuran panas. Garis penggilasan tidak boleh terlalu berubah-ubah atau arah
penggilasan berbalik secara tiba-tiba yang akan menimbulkan pergeseran campuran.
3) Penggilasan kedua atau penggilasan antara mengikuti sedekat sepraktis mungkin di belakang
penggilasan pemadatan awal dan harus dilaksanakan sementara campuran tersebut masih
pada satu temperatur bahwa akan menghasilkan pemadatan maksimum. Penggilasan akhir
akan dikerjakan bilamana bahan tersebut masih dalam kondisi cukup padat dikerjakan untuk
membuang semua tanda-tanda bekas mesin gilas.
4) Penggilasan akan dimulai secara memanjang pada sambungan dan dari pinggiran sebelah luar
yang akan berlangsung sejajar dengan sumbu lapangan, penggilasan dimulai dari sisi rendah
maju menuju sisi tinggi. Lintasan berikutnya dari mesin gilas akan bertumpang tindih pada
paling sedikit separuh lebar mesin gilas dan lintasan tidak boleh berhenti pada titik-titik
ditempat satu meter dari titik ujung lintasan-lintasan tersebut.
5) Bila menggilas sambungan memanjang, mesin gilas pemadat pertama-tama harus bergerak di
atas lintasan yang sudah dilewati sebelumnya sedemikian sehingga tidak lebih dari 15 cm dari
roda kemudi jalan/lewat di atas pinggir perkerasan yang tidak terpadatkan. Mesin gilas haru
terus menerus sepanjang jalur ini menggeser posisinya sedikit demi sedikit menyilang
sambungan tersebut dengan lintasan berikutnya, sampai diperoleh satu sambungan yang
dipadatkan rapih secara menyeluruh.
6) Penggilasan akan bergerak maju secara terus-menerus sebagaimana diperlukan untuk
mendapatkan pemadatan yang seragam selama waktu bahwasanya campuran tersebut dalam
kondisi dapat dikerjakan dan sampai semua tanda-tanda bekas mesin gilas, roda-roda
tersebut harus dijaga selalu basah tetapi air yang berlebihan tidak diizinkan.

(5) Penyelesaian
a. Alat berat atau meisn gilas tidak diizinkan berdiri di atas permukaan yang baru selesai sampai
permukaan tersebut mendingin secara menyeluruh dan matang.
b. Permukaan aspal hotmix sesudah pemadatan harus halus dan rata kepada punggung lapangan
dan tingkat yang ditetapkan di dalam toleransi yang ditentukan. Setiap campuran yang
menjadi lepas-lepas dan hancur, bercampur dengan kotoran atau yang telah menjadi tidak
sempurna dalam setiap arah, harus dipadatkan segera untuk menyesuaikan dengan luas
disekitarnya dan setiap luas yang menunjukkan kelebihan atau kekurangan bahan aspal
c. Sementara permukaan tersebut sedang dipadatkan dan diselesaikan, pinggiran-pinggiran
dalam garis secara rapih. Setiap bahan-bahan yang berlebih harus dipotong lurus setelah
penggilasan final.
ILUSTRASI PHOTO PEKERJAAN OVER LAY
HOTMIX
PELAKSANAAN PEKERJAAN PERKERASAN BETON SEMEN

Sebelum memulai pekerjaan, atas persetujuan direksi terlebih dahulu dilakukan


mobilisasi alat yang digunakan dalam pekerjaan ini, untuk demobilisasi atau pemulangan
alat ke besecamp. Selain itu pada pekerjaan persiapan awal yang paling penting adalah
mempelajari situasi lapangan dan melengkapi persyaratan yang sudah ditentukan dalam
bestek, untuk pertama pemasangan plang proyek selanjutnya memulai pengukuran pada
lokasi pekerjaan, yaitu berupa situasi, potongan memanjang, potongan melintang, yang
dituangkan dalam gambar, termasuk gambar konstruksi, yang disesuaikan dengan
lapangan, dan disertai dengan foto dokumentasi 0%, juga gambar gambar kerja (shop
Drawing ). Pada bagian bagian konstruksi yang kurang jelas harus diperjelas dengan
membuat gambar detailnya, serta menghitung kebutuhan material / bahan yang
diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan tersebut.Bersamaan dengan ini mobilisasi
dilaksanakan, dan tak kalah pentingnya adalah membuat MC0( MutuaChek Nol ) sehingga
penempatan dana dapat dikontrol dengan baik dan terukur. . Perkerasan beton semen
(Rigid Pavement) merupakan suatu struktur perkerasan yang umumnya terdiri dari tanah
dasar, lapis pondasi bawah dan lapis beton semen dengan atau tanpa tulangan.
Perkerasan beton dapat menanggung beban dari pejalan kaki dan kenderaan hingga 8
ton, dan dapat bertahan sampai 5 atau 10 tahun. Perkerasan jalan beton semen atau secara
umum disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat (slab) beton semen sebagai lapis pondasi
dan lapis pondasi bawah (bisa juga tidak ada) di atas tanah dasar.
Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton sering disebut sebagai lapis pondasi
karena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi sebagai
lapis permukaan. Perkerasan beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi,
akan mendistribusikan beban ke bidang tanah dasar yang cukup luas sehingga bagian
terbesar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton sendiri. Hal ini
berbeda dengan perkerasan lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh dari tebal lapis
pondasi bawah, lapis pondasi dan lapis permukaan.Karena yang paling penting adalah
mengetahui kapasitas struktur yang menanggung beban, maka faktor yang paling
diperhatikan dalam perencanaan tebal perkerasan beton semen adalah kekuatan beton itu
sendiri.
Adanya beragam kekuatan dari tanah dasar dan atau pondasi hanya berpengaruh
kecil terhadap kapasitas struktural perkerasannya. Lapis pondasi bawah jika digunakan di
bawah plat beton karena beberapa pertimbangan, yaitu antara lain untuk menghindari
terjadinya pumping, kendali terhadap sistem drainasi, kendali terhadap kembang-susut
yang terjadi pada tanah dasar dan untuk menyediakan lantai kerja (working platform)
untuk pekerjaan konstruksi. Secara lebih spesifik, fungsi dari lapis pondasi bawah adalah :
Menyediakan lapisan yang seragam, stabil dan permanen.
Menaikkan harga modulus reaksi tanah dasar (modulus of sub-grade reaction = k),
menjadi modulus reaksi gabungan (modulus of composite reaction).
Mengurangi kemungkinan terjadinya retak-retak pada plat beton.
Menyediakan lantai kerja bagi alat-alat berat selama masa konstruksi.

Terakhir apabila pekerjaan ini sudah selesai secara keseluruhan kita lakukan
demobilisasi dan yang lebih penting lagi harus dibuat gambar aktualnya dan photo
dokumentasi 100% yang diikuti dengan final quantity. Pembuatan photo dokumentasi
selama pelaksanaan pekerjaan pada keadaan kondisi sebelum pelaksanaan, pada saat
pelaksanaan dan setelah selesai pelaksanaan pekerjaan (0%, 50%, dan 100 %) pengambilan
opname photo tersebut dilakukan satu titik, / posisi pengambilan tetap. Selain itu membuat
laporan pelaksanaan pekerjaan harian, mingguan, dan bulanan yang meliputi : progres
kemajuan pekerjaan, jumlah tenaga kerja, peralatan, dan bahan yang digunakan. Untuk
dokumentasi ini dilakukan selama masa pekerjaaan hingga selesai pekerjaan. Kemudian
perlu diadakan koordinasi dengan pihak proyek beserta masyarakat setempat (pemuka
masyarkat stempat) guna dapat membicarakan masalah masalah yang mungkin timbul
apabila pekerjaan ini dimulai, baik menyangkut teknis maupun non teknis

Pembangunan Fasilitas penunjang akan dilakukan seiring Mobilisasi Tenaga


Kerja,dan peralatan yang diperlukan. Kebutuhan peralatan sudah tertera didalam RKS
mobilisasi peralatan ini dilakukan selama pekerjaan dilaksanakan hingga pekerjaan selesai.
Demobilisasi dilakukan setelah semua pekerjaan selesai dilakukan dan disetujui oleh
Direksi dan Consultant Supervisi.

Manajemen Dan Keselamatan Lalu Lintas

Dalam melaksanakan pekerjaan Pembangunan Jalan Lingkungan Komplek SMA


Unggul Ali Hasyimi, daerah pekerjaan dalam area sekolah. Setiap tahapan pekerjaan yang
akan dilaksanakan mulai dari awal Pelaksanaan Pekerjaan sampai dengan akhir kegiatan di
lapangan diusahakan tidak mengganggu arus lalu lintas dan kegiatan belajar mengajar yang
ada di sekitar lokasi pekerjaan. Aktifitas arus lalu lintas yang terhambat akibat adanya
kegiatan proyek akan merugikan pengguna jalan raya.Agar dalam pelaksanaan pekerjaan
tidak terjadi kerugian dipihak pengguna jalan, maka Manajemen lalu lintas dapat
dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :
Mengatur secara tepat jadwal pelaksanaan setiap jenis pekerjaan di lapangan.
Memasang rambu-rambu di sekitar lokasi pekerjaan, dan menempatkannya
secara tepat dan benar.
Menempatkan petugas pengatur lalu lintas untuk mengatur dan mengarahkan arus
lalu lintas.

Pada saat pekerjaan, rambu-rambu diletakkan sepanjang daerah galian, tujuannya


agar lalu linatas tidak masuk atau terperosok ke dalam daerah galian. Rambu-rambu yang
dipasang haruslah mempunai cat dengan pantulan cahaya, guna menghindari kecelakaan di
malam hari.

Pekerjaan Timbunan Pasir Urug


Peralatan : Stamper
Bahan : Pasir urug

1. Excavator memuat material (pasir urug) kedalam dump truck di borrow area kemudian
diangkut kelokasi pekerjaan
2. Tiba di lokasi pekerjaan, material (pasir urug) didumping dari dump truck kemudian
dilakukan penghamparan, penghamparan material (pasir urug) dilakukan oleh pekerja
dengan menggunakan alat manual
4. Hamparan material (pasir urug) disiram air sebelum dilakukan pemadatan, pemadatan
dilakukan oleh pekerja menggunakan stamper tangan sampai didapatkan kepadatan
setebal 5 cm.

Pekerjaan Dowel
Bahan :
Baja Tulangan 8 & Baja Tulangan D 16
Kawat Beton
Tulangan baja menggunakan baja berdiameter 8 cm menggunakan kawat beton dan
jarak sengkang 15 cm dengan lebar penulangan 30 cm dengan ketebalan pengecoran 20
cm. Pekerjaan pemasangan dilakukan sebelum pekerjaan pengecoran atau beton K-350.
kawat tersebut diletakkan sepanjang badan jalan yang akan dilakukan pembetonan dan
ditempatkan pada level 7,5 cm dari urugan pasir. Untuk dapat menempatkan tersebut
sesuai dengan gambar kerja,. Setiap sambungan lempengan tersebut diikat dengan
menggunakan kawat beton. Penggunaan jenis Dowel tersebut harus sesuai dengan
spesifikasi teknik dan disetujui oleh konsultan pengawas.
Ilustrasi Pekerjaan Dowel

Pekerjaan Begesting
Adapun pelaksanaan pekerjaanya sebagai berikut :
1. Bekisting dibuat dari plaat besi 3 mm dan rangka yang kokoh terbuat Hollow 4x4
sama sekali tidak diijinkan memakai bambu sebagai rangka bekisting.
2. Bekisting harus rapat dan kedap air, terutama pada sambungan - sambungan.
Pada saat pengecoran beton, tidak boleh ada cairan atau adukan beton yang
mengalir keluar karena bocor.
3. Untuk permukaan luar beton yang tidak akan diplester (semi exposed), permukaan
dalam bekisting/ plat besi sebaiknya dilapisi bahan sejenis minyak yang disetujui
oleh Direksi/ Pengawas untuk memudahkan pembongkaran bekisting itu kelak.
Penggunaan oli bekas tidak bisa dibenarkan.
4. Penggunaan ulang dari (bahan) bekisting yang sudah pernah dipakai harus atas
seijin Direksi/ Pengawas.
5. Bekisting yang sudah dipasang, harus diperiksa oleh Direksi/ Pengawas terlebih
dahulu sebelum pengecoran. Direksi berhak menolak dan memerintahkan
pembongkaran atau perbaikan terhadap bekisting yang dianggapnya tidak
memenuhi syarat baik kekuatan maupun ukuran ukurannya.

Pekerjaan Beton

Beton mutu sedang K 350

Bahan :
Semen
Pasir Beton
Agregat Kasar
Kayu
Perancah
Paku
:
Alat Con Pan.
Mixer
Truck Mixer
Water Tanker
Alat Bantu

Adapun pelaksanaan pekerjaanya sebagai berikut :


Bila tidak ditentukan lain, adukan beton harus dibuat dengan menggunakan mesin
pengaduk beton atau ready mix. Penentuan jenis dan ukuran beton molen harus
sepengetahuan Direksi. Permukaan bagian dalam molen harus selalu bersih, tidak
diperbolehkan ada kerak - kerak beton sisa adukan yang dibuat sebelumnya.
Campuran adukan beton harus dibuat sesuai dengan Rencana Campuran Beton
yang sesuai dengan RKS. Sehubungan dengan hal itu, jumlah PC, bahan - bahan
adukan dan air untuk membuat adukan beton harus ditakar dengan alat - alat penakar
yang tertera dalam RKS.
ALAT PENGECORAN(MIXER,CONC PUMP,MOLEN & VIBRATOR
Waktu Pengadukan
Lamanya waktu yang digunakan untuk mengaduk semua campuran beton adalah paling
sedikit 1 1/2 menit untuk 1 m3 beton dihitung dari saat sesudah semua bahan kecuali
air, dimasukkan kedalam molen.
Lamanya waktu pengadukan harus ditambah bila kapasitas mesin lebih besar dari l m3.
Contoh : untuk 2 m3, waktu pengadukan adalah : 1 1/2 menit + 1 menit = 2 1/2 menit dan
seterusnya.
Kekentalan Adukan Beton
Kekentalan adukan beton harus diperiksa, sesuai dengan (SKSNI T15-1990-03).
Pemeriksaan kekentalan ini harus disaksikan oleh Direksi/Pengawas.
Untuk memenuhi persyaratan kekentalan adukan beton ini, jumlah air yang
digunakan dapat dirubah, disesuaikan perubahan keadaan cuaca atau kelembapan
bahan - bahan adukan.

Pengecoran Beton
Pelaksanaan pengecoran beton harus disaksikan oleh Direksi/Pengawas.
Pengecoran beton tidak boleh dilaksanakan bila keadaan cuaca buruk.
Adukan beton yang tidak memenuhi syarat tidak boleh dipakai dan harus dikeluarkan
dari tempat pekerjaan.
Pada waktu pengecoran, adukan beton tidak boleh dijatuhkan tinggi jatuh lebih dari
1,5 m. Bila tinggi jatuh adukan beton lebih dari 1,5 m maka kerikil akan terpisah dari
adukan dan akan membentuk sarang - sarang kerikil yang berongga.
Untuk pengecoran yang dalam/tinggi, dapat menggunakan saluran vertikal dan/ atau
corong yang licin agar adukan beton yang melaluinya tetap homogen.
Pengecoran harus dilakukan dengan merata, adukan beton yang telah dicorkan,
tidak boleh didorong atau dipindahkan lebih dari 2 (dua) meter dalam arah datar.
Bagian struktur yang pengecorannya harus dilakukan lapis demi lapis, tiap lapis harus
mempunyai tinggi yang merat/seragam dan tidak melebihi 100 cm, harus dihindarkan
terjadinya lapisan, yang tingginya tidak seragam dan berbentuk miring. Pengecoran
lapisan yang berikutnya harus dilakukan
pada waktu lapisan sebelumnya masih lunak. Pemakaian conveyor belt untuk
mengangkut adukan
beton harus seijin Direksi.
Dalam cuaca panas, Rekanan harus melakukan langkah langkah pengamanan agar
adukan beton tidak terlalu cepat mengering, misalnya dengan cara melindunginya dari
panas matahari secara langsung.

Gambar Proses Pengecoran


Adukan beton yang telah dicor ke dalam bekisting, harus digetarkan dengan
menggunakan alat penggetar (vibrator) agar diperoleh beton yang padat dan homogen
serta tidak terjadi sarang - sarang kerikil.
Pada waktu digunakan, jarum penggetar tidak boleh menyentuh bekisting atau besi
tulangan.
Pencelupan jarum penggetar kedalam adukan beton tidak boleh terlalu lama
sebab bisa mengakibatkan pemisahan unsur unsur adukan beton.
Ukuran diameter jarum penggetar yang digunakan harus disesuaikan dengan
keadaan/dimensi bagian yang harus dicor.

Gambar Proses Mengetarkan Beton Dengan Menggunakan Alat Penggetar (vibrator)


Pembentukan Tekstur Permukaan
Setelah dipadatkan, permukaan beton semen harus diratakan
Beton yang masih plastis diberi tekstur permukaan dengan mendirikan burlap,
penyikatan dengan kawat dan pembuatan alur
Menyikat melintang, cocok untuk lalulintas sedang atau tinggi, dapat dikerjakan secara
manual atau mekanis, penyikatan dilakukan secara melintang dan kedalaman tekstur
1,5 mm
Perawatan Selama Proses Pengerasan Beton
Beton yang telah dicor harus dijaga tetap basah sekurang - kurangnya selama 14 (empat
belas) hari setelah dicor, dengan cara disirami air, atau ditutup dengan karung goni yang
dibasahi atau dengan cara lain yang dapat dibenarkan.
Air tidak diperbolehkan mengalir melalui permukaan beton yang baru dicor dengan
kecepatan aliran yang bisa merusak permukaan beton tersebut.
Sama sekali tidak diijinkan menaburkan semen kering dan pasir di permukaan beton
yang masih basah.

Gambar Pembentukan Tekstur Permukaan


Perlindungan Dari Air Hujan/Perawatan Beton
Lembaran plastik dan baja sisi acuan atau papan kayu harus tersedia setiap saat untuk
melindungi permukaan dan sisi perkerasan beton yang baru dihampar, bila terjadi hujan
Bila hujan menerpa perkerasan beton yang baru dihampar belum mengeras, tutup
permukaan dengan lembaran plastik
Tambahan air pada permukaan perkerasan akan menaikkan rasio air semen yang
berpotensi mengurangi durabilitas

Gambar Pekerjaan Perlindungan Dari Air Hujan/Perawatan Beton


Pembukaan
Bekisting
Bila tidak ditentukan lain oleh Direksi/ Pengawas, dalam keadaan normal bekisting
pelat hanya boleh dibongkar setelah beton berumur 28 hari.
Pembongkaran bekisting harus dilakukan dengan tenaga statis tanpa getaran,
goncangan atau pukulan yang bisa merusak beton.

Quality Control
Pengujian Beton
Test kubus
Slump test
Uji kuat tekan
Uji kelenturan
Gambar Pembuatan benda uji

BAGAN ALUR PEKERJAAN

MULAI

PENYIAPAN ALAT
PASIR URUG = 5 CM

PEMASANGAN DOWEL

PENGECORAN BETON

PERAWATAN BETON

PEMBUKAAN BEGESTING

SELESAI
PETA, GAMBAR SITUASI DAN ALUR MOBILISASI PENGECORAN JALAN
BANTUAN INFRASTRUKTUR JASA KONSTRUKSI UNTUK PENINGKATAN DAN REHABILITASI JALAN
CIPEUYEUM-CIKONDANG TAHAP II DI KABUPATEN CIANJUR PROVINSI JAWA BARAT

PETA SITUASI JALAN CIPEUYEUM-CIKONDANG PETA GOOGLE EARTH JALAN CIPEUYEUmCIKONDANG

BS
Kode Terdapat lokasi manuver
BS Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 == 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

Dengan 5 pick up stand


Efektif Pengecoran per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
BR

BQ

Kode Terdapat lokasi manuver


BR Kebutuhan pengecoran untuk 8 STA : = 400 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 400 m3 dibutuhkan 400 : 7 = 57 molen


- Dalam 400 m3 dibutuhkan 57 X 7 = 399 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 399 : 5 = 45
80 menit
pengangkutan (mobile)

Total waktu penyelesaian 399 x atau


45 = 17955
299 menit
jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 50 m
299 : 5 = 60 jam
7,5
Kode Terdapat lokasi manuver
BQ Kebutuhan pengecoran untuk 6 STA : = 300 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 300 m3 dibutuhkan 300 : 7 = 43 molen
- Dalam 300 m3 dibutuhkan 43 X 7 = 301 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 301 : 5 = 60


35 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 301 x 35 ==


atau 10535
176 menit
jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 176
50 m : 5 == 35 jam
5,8 jam
BO
BP

Kode Terdapat lokasi manuver


BP Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 203 : 5 = 25 pengangkutan
41 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x atau


25 = 5075 menit
85 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5085m : 5 = 17 jam
4,2
Kode Terdapat lokasi manuver
BO Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen
- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 203 : 5 = 41


25 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x 25 ==


atau 5075 menit
85 jam

Dengan 5 pick up stand


Efektif Pengecoran per by 5085m : 5 == 17 jam
4,2 jam
BN

BL

BM

Kode Terdapat lokasi manuver


BN Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 98 : 5 = 15 pengangkutan
20 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 =


atau 1470 menit
25 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5025m : 5 = 5 jam
2,5
Kode Terdapat lokasi manuver
BM Kebutuhan pengecoran untuk 6 STA : = 300 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 300 m3 dibutuhkan 300 : 7 = 43 molen
- Dalam 300 m3 dibutuhkan 43 X 7 = 301 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 301 : 5 = 60 menit


35 pengangkutan (mobile)

Total waktu penyelesaian 301 x 35 ==


atau 10535
176 menit
jam

Dengan 5 pick up stand


Efektif Pengecoran per by 176
50 m : 5 == 35 jam
5,8 jam
Kode Terdapat lokasi manuver
BL Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen
- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 203 : 5 = 41


25 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x 25 ==


atau 5075 menit
85 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5085m : 5 == 17 jam
4,2 jam
BH

BI BJ BK

Kode Terdapat lokasi manuver


BK Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 203 : 5 = 25 pengangkutan
41 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x atau


25 = 5075 menit
85 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5085m : 5 = 17 jam
4,2
Kode Terdapat lokasi manuver
BJ Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

Dengan 5 pick up stand


Efektif Pengecoran per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
Kode Terdapat lokasi manuver
BI Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 98 : 5 = 15 pengangkutan
20 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 =


atau 1470 menit
25 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5025m : 5 = 5 jam
2,5
Kode Terdapat lokasi manuver
BH Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

Dengan 5 pick up stand


Efektif Pengecoran per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
BD

BE

BF BG

Kode Terdapat lokasi manuver


BG Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 98 : 5 = 15 pengangkutan
20 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x atau


15 = 1470 menit
25 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5025m : 5 = 5 jam
2,5
Kode Terdapat lokasi manuver
BF Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
Kode Terdapat lokasi manuver
BE Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 203 : 5 = 25 pengangkutan
41 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x atau


25 = 5075 menit
85 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5085m : 5 = 17 jam
4,2
Kode Terdapat lokasi manuver
BD Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen
- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 203 : 5 = 41


25 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x 25 ==


atau 5075 menit
85 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5085m : 5 == 17 jam
4,2 jam
BC
BB

Kode Terdapat lokasi manuver


BC Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 203 : 5 = 25 pengangkutan
41 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x atau


25 = 5075 menit
85 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5085m : 5 = 17 jam
4,2
Kode Terdapat lokasi manuver
BB Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
BA

Kode Terdapat lokasi manuver


BA Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen
- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 203 : 5 = 41


25 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x 25 ==


atau 5075 menit
85 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5085m : 5 == 17 jam
4,2 jam
AA AB

AC AD

Kode Terdapat lokasi manuver


AA Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 98 : 5 = 15 pengangkutan
20 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x atau


15 = 1470 menit
25 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5025m : 5 = 5 jam
2,5
Kode Terdapat lokasi manuver
AB Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

Dengan 5 pick up stand


Efektif Pengecoran per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
Kode Terdapat lokasi manuver
AC Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 203 : 5 = 25 pengangkutan
41 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x atau


25 = 5075 menit
85 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5085m : 5 = 17 jam
4,2
Kode Terdapat lokasi manuver
AD Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
AG

AE AF AH

Kode Terdapat lokasi manuver


AE Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 203 : 5 = 25 pengangkutan
41 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x atau


25 = 5075 menit
85 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5085m : 5 = 17 jam
4,2
Kode Terdapat lokasi manuver
AF Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
Kode Terdapat lokasi manuver
AG Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 98 : 5 = 15 pengangkutan
20 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 =


atau 1470 menit
25 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5025m : 5 = 5 jam
2,5

Kode Terdapat lokasi manuver


AH Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3
- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
AL AM

AJ

AI AK

Kode Terdapat lokasi manuver


AI Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 98 : 5 = 15 pengangkutan
20 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x atau


15 = 1470 menit
25 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5025m : 5 = 5 jam
2,5
Kode Terdapat lokasi manuver
AJ Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
Kode Terdapat lokasi manuver
AK Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 98 : 5 = 15 pengangkutan
20 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 =


atau 1470 menit
25 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5025m : 5 = 5 jam
2,5

Kode Terdapat lokasi manuver


AL Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

Dengan 5 pick up stand


Efektif Pengecoran per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
Kode Terdapat lokasi manuver
AM Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 = 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
AO

AN

AP

Kode Terdapat lokasi manuver


AN Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up

- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup
Rencana Standby 5 mobil pick up

Jadi
Waktu mobilisasi alat 203 : 5 = 25 pengangkutan
41 menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x atau


25 = 5075 menit
85 jam

Efektif
DenganPengecoran per by
5 pick up stand 5085m : 5 = 17 jam
4,2

Kode Terdapat lokasi manuver


AO Kebutuhan pengecoran untuk 2 STA : = 100 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 100 m3 dibutuhkan 100 : 7 = 14 molen
- Dalam 100 m3 dibutuhkan 14 X 7 = 98 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 98 : 5 == 20


15 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 98 x 15 ==


atau 1470 menit
25 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5025m : 5 == 5 jam
2,5 jam
Kode Terdapat lokasi manuver
AP Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen
- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 203 : 5 = 41


25 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x 25 ==


atau 5075 menit
85 jam

Dengan 5 pick up stand


Efektif Pengecoran per by 5085m : 5 == 17 jam
4,2 jam
AQ

Kode Terdapat lokasi manuver


AQ Kebutuhan pengecoran untuk 4 STA : = 200 m3
Metode kerja :

- Menggunakan mobil pick up kapasitas = 1 m3

- 1 molen = 7 m3

- 1 molen = 7 m3/1 m3 = 7 pick up


- Dalam 200 m3 dibutuhkan 200 : 7 = 29 molen
- Dalam 200 m3 dibutuhkan 29 X 7 = 203 mobil pickup

Rencana Standby 5 mobil pick up

Waktu mobilisasi alat Jadi 203 : 5 = 41


25 pengangkutan
menit (mobile)

Total waktu penyelesaian 203 x 25 ==


atau 5075 menit
85 jam

DenganPengecoran
Efektif 5 pick up stand
per by 5085m : 5 == 17 jam
4,2 jam
JEMBATAN
Pekerjaan Kontruksi Jembatan pada Proyek ini tahapannya sebagai berikut :
1. Pekerjaan Persiapan (Bongkaran Batu Kali, Beton, Baja, Plat Lantai, Railing)
2. Pekerjaan Abutmen Kontruksi Batu Kali
3. Pekerjaan Beton (termasuk pekerjaan Beton Plat Lantai)
4. Pekerjaan Angkur, Grouting &Expansion Joint
5. Pekerjaan Baja
6. Pekerjaan Railling Jembatan
Metode Pelaksanaan Pembuatan Jembatan
1. Pekerjaan Persiapan (bongkaran batu kali, beton, baja, plat lantai, railing)
Setelah Pekerjaan Persiapan dilakukan yaitu pembongkaran (Bongkaran Batu Kali, Beton, Baja,
Plat Lantai, Railing) termasuk pembersihan hasil bongkaran pekerjaan selanjutnya adalah :
a. Membelokan arah aliran sungai supaya tidak merendam pekerjaan lokasi abutmen yaitu
dengan memasang bantalan bantalan karung pasir dari dasar sungai sampai ke elevasi yang
diperlukan. Material yang digunakan Karung goni diisi pasir dan kawat bronjong
b. Setelah aliran air dapan diarahkan yakinkan lokasi abutmen kering sehingga kita bisa
memulai pekerjaan dasar abutmen tersebut
c. Zona marking (survey) untuk menentukan titik abutmen yang presisi dari existing kepada
rencana penambahan/pelebaran sesuai dengan gambar perencanaan, alat yang digunakan
Theodholite, waterpass, bak ukur, meteran manual, patok, dan tanda-tanda centerline
maupun elevasi.
d. Setelah lokasi additional abutmen di bowplank baru dimulai pekerjaan galian sesuai dengan
gambar perencanaan.
e. Kontruksi yang digunakan adalah pasangan batu kali sesuai dengan spek dan gambar
perencanaan.

Ilustrasu Pekerjaan Abutmen

2. Pekerjaan Beton (termasuk pekerjaan Beton Plat Lantai)


Setelah Pekerjaan Abutmen selesai dilanjutkan dengan pekerjaan beton untuk dudukan angkur
untuk penempatan balok baja IWF 600.200 (Gelagar Utama) dan IWF 400.200 (Balok Anak)
a. Pastikan selama pekerjaan pelaksanaan untuk pekerjaan abutman dalam space pasangan
batu kali dipasang angkur dengan besi D16 dari dasar sungai sampai top abutmen. Angkur
ini akan berfungsi sebagai pengikat kontruksi batu kali dengan kontruksi diatasnya yang aka
nada konstruksi balok beton yang fungsinya memikul beban tersebut, karena diatas
abutmen aka nada konstruksi beton yang akan dipasang angkur baut untuk mengikat
gelagar baja tersebut.
b. Pastikan sebelum Pekerjaan beton diatas abutmen dilaksanakan dipasang angkur baut D16
yang akan memegang plat besi T=12 mm untuk mengikat Gelagar baja IWF 600.200 & IWF
400.200

Angkur 4 dia.
BasePlate t=12 22mm
Proses Pemasangan Angkur mm

1. Pasang Mal Triplek sesuai ukuran


rencana
2. Pasang Angkur Bold ikat kepada
tulangan
kolom pedestal menggunakan
Bendraat
Muka air
3. Cek ketinggian Angkur secara
proposional sesuai design
4. Pasang Bekisting Kolom Pedestal
5. Inpeksi dengan Pengawas
6. CorBalokPedestal selama Pengecoran
Harus diawasi Posisi angkur jangan
sampai berubah/bergeser
7. Setelah Pengecoran Balok Pedestal
Selesai dan sudah Kering Pekerjaan
Selanjutnya adalah memasang
Padding pada pada Top of Balok
Pedestal dengan menggunakan
material Cement Grouting Jenis No
Shring Cement
8. Setelah Cement Grouting Cukup
Umur Maka Pekerjaan Selanjutnya
adalah pekerjaan Erection

c. Pekerjaan Baja secara umum


Metode Pelaksanaan Secara Umum :
1. Pengecekan Elevasi dan Siku Jembatan
2. Konfirmasi
3. Cutting Material
4. Pengiriman Material
5. Fabrikasi dan Pekerjaan Zincromat
6. Pemasangan Angkur
8. Pemasangan Stifner
14. Finishing
MATERIAL
1. Seluruh material baja yang digunakan adalah baja dengan tegangan leleh minimal
3900 kg/cm2 (ASTM A 606). Khusus untuk bolt structural digunakan baja
mutu
tinggi (ASTM 325 N).
2. Semua baja yang digunakan adalah baja baru yang belum pernah digunakan.
3. Material baja bersih dari karat dan kotoran lain yang menempel.
4. Material baja yang digunakan lurus dan tidak penyok.
5. Las yang digunakan adalah las listrik dengan electrode yang sesuai dengan
ASTM A 5.1.

PEMAHAMAN GAMBAR

1.Denah keseluruhan, ukuran -ukuran total bangunan, jarak dan dimensi


2. Detail-detail gambar ( yang terkait dengan tabel baja ):
* Sambungan
* Pengelasan
* Baut-baut
* Angkur-angkur / pengangkuran
* Profil IWF 600.200 & IWF 400.200
PEKERJAAN PERSIAPAN DAN FABRIKASI
1. Sebelum dilakukan pekerjaan pembuatan rangka baja,seluruh material baja yang
akan digunakan sudah tersedia di lapangan dan di cek untuk mendapat persetujuan
dari pengawas lapangan.

2. Material baja yang berada dilokasi, ditempatkan sedemikian rupa untuk


menghindari kontak langsung antara baja dengan tanah, dan penumpukan
diberikan tumpuan yang kuat untuk menahan beban tumpukan.(Wood Sleeper)

3. Setiap 5 m komponen yang dirakit diberi minimal 1 tumpuan.

4. Toleransi bentang hasil rakitan yang diizinkan adalah 5 mm dari shop drawing
yang disetujui dan pertemuan antara komponen sesuai dengan gambar kerja.

5. Sebelum dipasang, material baja yang mengalami deformasi akan diperbaiki


terlebih dahulu dengan cara yang tidak merusak bahan. Bila perbaikan dilakukan
dengan pemanasan, temperature tidak lebih dari 650 C.

6. Pelaksanaan pembuatan struktur rangka baja dapat dilakukan di luar lokasi (work
shop) pekerjaan dengan pertimbangan untuk efektivitas pelaksanaan pekerjaan
itupun atas persetujuan Direksi.

PERALATAN YANG DIGUNAKAN

1. Electric Welding Machine


2. Diesel Welding Machine
3. Steel Punching Machine
4. Grinding Machine
5. Torch Steel Cutting Machine
6. Automatic Hoist lifting machine
7. Manual Hoist lifting
8. Magnetic Drilling Machine
9. Air compressor
10. Standing DrillIng Machine
11.Tool and Consumable
PEMOTONGAN, TEKUK DAN MEMBUAT LUBANG
1. Pemotongan material baja dilakukan dengan cara mekanik yaitu : gergaji,
grinding atau pemotongan otomatis dengan gas. Deformasi dan kerusakan
akibat pemotongan akan
diperbaiki dan dihaluskan.
2. Pekerjaan tekuk untuk material baja dilakukan dengan pemanasan
10.
dibawah 650 C.
3. Pekerjaan perlubangan untuk bolt dilakukan dengan bor. Kotoran disekitar
lubang bolt akan dibersihkan. Letak lubang bolt akurat dan berhubungan
satu
dengan lain pada titik pertemuan batang. Toleransi ketelitian lubang bolt
diizinkan sampai 1 mm.

BOLT, MUR DAN RING


1. Sebelum pelaksanaan, bidang kontak pada sambungan harus bersih dari karat,
debu, minyak, pernis, atau lapisan lain.
2. Bolt yang digunakan adalah bolt baja mutu tinggi (ASTM-325-N)
(bidang geser tidak ulir)) diameter .
3. Bila permukaan kepala bolt atau mur membentuk kemiringan dengan baja antara
1/20 atau lebih, maka akan minta persetujuan dari pengawas lapangan.
4. Pengencangan dilakukan dengan memutar mur. Hanya bila tidak bisa dihindari
kepala bolt boleh diputar dengan persetujuan pengawas lapangan.
5. Bolt pada sambungan yang dikombinasikan dengan las akan
dikencangkan terlebih dahulu sebelum pengelasan dilaksanakan.
6. Bolt yang digunakan adalah yang baru, tidak boleh ada cacat dan karat yang
timbul pada bolt pada saat pemasangan baut.
7. Setelah selesai pemasangan dan pengencangan bolt akan dicheck kembali
sehingga pada saat pengoperasian tidak ada pergerakan bolt yang dapat
mengakibatkan bolt longgar.

PENGELASAN
1. Welder kami adalah welder yang berpengalaman, yang memiliki sertifikat ahli
pengelasan.
2. Semua prosedur pengelasan yang akan kami lakukan sesuai dengan prosedur
dan mendapat persetujan dari pengawas lapangan.
3. Pengelasan tidak akan kami lakukan seandainya kondisi cuaca hujan, berangin
kencang dan bila permukaannya kotor, basah
4. Mesin las yang kami gunakan mencapai kapasitas 25 40 volt dan 200 400
Amp.
5. Ukuran, bentuk dan panjang pengelasan tidak kurang atau lebih dari yang
ditentukan dalam gambar tanpa persetujuan Pengawas Lapangan. Setiap lapis
tahapan pengelasan akan dibersihkan dari kerak las.
6. Pengelasan tidak akan berpindah tempat tanpa persetujuan dari Pengawas
lapangan.
7. Base metal dengan tebal kurang dari 3mm tidak akan digunakan untuk
pengelasan yang bersifat structural.
8. Penghentian pengelasan akan dilakukan pada tempat yang dijamin tidak akan
terjadi pembengkokan / pemuntiran.
9. Permukaan yang akan dilas rata dan dijamin tidak akan terjadi pembengkokan /
pemuntiran pada bahan yang dilas selama pengelasan dan permukaan yang dilas
bebas dari kotoran, minyak, material lepas dan lain lain.
10.Semua bahan las (filter metal) yang telah diambil dari tempat aslinya dilindungi
dan disimpan dengan baik sehingga sifat sifat yang berhubungan dengan
pengelasan tidak berubah. Elektroda dalam keadaan basah tidak dibenarkan
untuk digunakan. Elektroda tipe low hydrogen harus dikeringkan dahulu menurut
petunjuk dari pabrik sebelum digunakan.
11.Bagian las yang cacat akan dihilangkan tanpa merusak base metal. Penambahan
las untuk mengganti yang dibuang akan dilakukan dengan menggunakan
elektroda dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan elektroda yang digunakan
elektroda yang digunakan untuk pengelasan utama dan tidak akan berdiameter
lebih dari 4 mm. Cacat base metal atau las lemah akan dibetulkan dengan
membuang dan mengganti seluruh las atau dengan petunjuk sebagai berikut:
a.Overlap atau cembung yang berlebihan yaitu dengan membuang weld metal
yang berlebihan.
b. Las terlalu cekung,under size atau under cutting yaitu dengan menambahkan
las.
c. Las keropos, kemasukan kotoran, pencampuran base dan weld yang tak
sempurna yaitu dengan membuang dan melakukan las ulang.
d. Retak las atau base metal yaitu dengan membuang retak dan perkuatan dengan
metal 50mm pada ujung ujung retak dan lakukan pengelasan ulang.
12. Peralatan keselamatan pada saat pengelasan Lengkap dan memenuhi
persyaratan kerja.

ILUSTRASI FABRIKASI ILUSTRASI FABRIKASI

ILUSTRASI FABRIKASI ILUSTRASI FABRIKASI


ERECTION
Persiapan dan peralatan :
1. Box
2. Tali tambang
3. Tali baja (sling)
4. Liyer
5. Takel
6. Peralatan Las
7. Blander
8. Kunci / Kunci momen
9. Alat Bantu (balok-balok kayu, dll)

Man Power :
Untuk Erection baja harus dipersiapkan tenaga kerja yang memadai. Tenaga
kerja ini dapat dibagi menurut pekerjaannnya :
- Langsiran baja yang telah difabrikasi ditempatkan di lokasi menurut kode-kode
yang ada.
- Tenaga penarik Liyer dan tali baja.
- Tenaga yang menempat baja pada posisi untuk dipasang baut-baut.
- Tenaga pemasangan tali baja / tali tambang
- Tenaga pengelasan, pasang gording dan pasang mur baut, serta supervisi.
Contoh Erection Gelagar IWF :
1. Schedule fabrikasi dan erection.
2. Perencanaan arah erection, penempatan bahan hasil fabrikasi, misalnya :
Untuk Gelagar baja vakwerk sesuai dengan kode-kode yang terdapat pada
Shop drawing.
3. Erection Gelagar IWF dengan box pipa
4. Pemasangan Regel / koker antar kolom
Pekerjaan Saluran
Galian Biasa

Untuk pekerjaan galian Tanah Biasa dengan alat berat disini kami lakukan dengan memakai excavator
yaitu menggali kedudukan pasangan batu kali dan saluran tanah atau saluran terbuka. Setelah
pemasangan bouplank sesuai dengan dimensi yang telah ditentukan pemasangan bouplank ini
beriring dengan pekerjaan Galian tanah Biasa harus mencakup seluruh galian yang tidak
diklasifikasikan sebagai galian batu, galian struktur, galian sumber bahan (borrow excavation) dan
galian perkerasan beraspal. Selama pelaksanaan pekerjaan galian Biasa, lereng sementara galian
yang stabil dan mampu menahan pekerjaan, struktur atau mesin di sekitarnya, harus dipertahan-kan
sepanjang waktu, penyokong (shoring) dan pengaku (bracing) yang memadai harus dipasang
bilamana permukaan lereng galian mungkin tidak stabil. Bilamana diperlukan, menyokong atau
mendukung struktur di sekitarnya, yang jika tidak dilaksanakan dapat menjadi tidak stabil atau rusak
oleh pekerjaan galian tersebut.

Galian Berbatu

Galian Batu harus mencakup galian bongkahan batu dengan volume 1 meter kubik atau lebih dan
seluruh batu atau bahan lainnya yang menurut Direksi Pekerjaan adalah tidak praktis menggali tanpa
penggunaan alat bertekanan udara atau pemboran. Galian ini tidak termasuk galian yang menurut
Direksi Pekerjaan dapat dibongkar dengan penggaru (ripper) tunggal yang ditarik oleh traktor dengan
berat maksimum 15 ton dan tenaga kuda netto maksimum sebesar 180 PK (Tenaga Kuda) dengan
mengunakan alat berat setara excavator. Peralatan berat untuk pemindahan tanah, pemadatan atau
keperluan lainnya Pekerjaan ini merupakan ketelitian sangat hati-hati yang mana dilokasi terdapat
pipa PDAM, terkecuali bilamana pipa atau struktur lainnya yang telah terpasang dalam galian dan
ditimbun kembali dengan bahan yang disetujui Direksi Pekerjaan dan telah dipadatkan.

Urugan Biasa

Pekerjaan yang dilaksanakan disini adalah pekerjaan timbunan tanah dipasangan dengan tanah
bekas galian dipadat dan diratakan.
Sebelum menempatkan material timbunan diatas pondasi atau diatas timbunan, seluruh daerah yang
akan menerima beban material timbunan harus dibasahi secara optimum diratakan. Pemadatan
timbunan dapat dilaksanakan dengan padatdan diratakankan sampai kepadatan maksimum atau
sesuai dengan spesifikasi, begitulah seterusnya sampai timbunan selesai.

- Bahan-Bahan Timbunan

Bahan-bahan timbunan harus tanah kohesif dengan batas cairnya disesuaikan dengan spesifikasi
timbunan sehingga akan membentuk massa yang relatif kedap air setelah pemadatan. Bilamana
kesesuaian suatu bahan diragukan, Direksi dapat meminta diadakannya tes-tes untuk menentukan
batas-batas Atterberg dari pada bahan sebelum menentukan kesesuaiannya.

Timbunan tanah disini adalah timbunan tanah bekas galian yang sesuai dengan spesifikasi timbunan
harus disisihkan pada waktu menggali kemudian ditumpuk pada suatu tempat.

Untuk menimbun kami rencanakan setiap pasangan naik berlahan diiringingi denga timbunan
belakang pasangan. kalau untuk pekerjaan saluran timbunannya dibentuk seperti tanggul dan
dipadatkan sesuai dengan spesifikasi teknisnya.

Pasangan Batu

Pasangan batu kali disini adalah untuk membuat Saluran dan Bangunan Air, adapun ketentuan yang
akan kami ikuti disini secara garis besar saja diantaranya :

Adukan untuk spesi digunakan campuran 1 PC berbanding 4 Pasir jadi didalam pengadukan
harus benar-benar merata aduknya sehingga tidak terjadi kelemahan disuasi sisi spesi nantinya.
Adukan yang akan dipasang harus mendapat persetujuan Direksi dan dibuatkan bak takaran agar
tidak terjadi kekurangan atau kelebihan semen.

Air yang digunakan harus air yang bersih dan tidak mengandung zat-zat yang merusak ikatan semen.

Adukan harus diaduk sebanyak yang diperlukan sehingga tidak terjadi adukan terletak selama + 30
menit (adukan yang sudah terletak + 30 menit tidak dibenarkan memakainya).

Suling-suling perlu dibuatkan terutama untuk pekerjaan yang desakan air tanahnya tinggi sehingga
pada masa-masa tekanan air tanah bertambah keras tidak akan merusak konstruksi dan airnya akan
mencari celah keluar lewat suling-suling tersebut. Suling-suling dibuat dari pipa PVC 2 dan paling
tidak 1 buah tiap radius 2 m dan dibelakangnya diberi saringan dari ijuk, kerikil, dan batu-batu kecil.
Pekerjaan ini disesuaikan dengan bestek dan spesifikasi teknisnya atau petunjuk dari Direksi
nantinya.

Pertama sekali setelah pekerjaan galian dilakukan oleh si penggali lalu kami persiapkan peralatan
tukang yang termasuk kotak adukan dan kotak takaran yang diminta kepada direksi lalu kami
membuatkan request atau izin untuk melaksanakan pekerjaan pasangan yang kami ajukan kepada
pengawas lapangan dan setelah dimensi galian oke oleh direksi dan izin pekerjaan pasangan ditanda
tangani kami langsung melaksanakan pekerjaan pasangan batu kali dengan spesifikasi yang telah
ditentukan.

Saluran Terbuka Saluran Tertutup dengan Plat


Beton
Ilustrasi Pekerjaan Box Culvert

Ilustrasi Pekerjaan Box Culvert

Pekerjaan Marka Dan Zebra Cross :


Pekerjaan ini dilakukan dengan secara Manual dan dibantu dengan alat mekanik untuk
pekerjaan Marka tetapi pekerjaan ini mengacu kepada atuiran aturan Bina Marga dan
Kementrian Pekerjaan umum ketentuan ketentuannya sbb :
1. Marka yang melekat pada jalan harus memiliki ketahanan permukaan yang memadai.
2. Penempatan marka harus diperhitungkan untuk dapat meningkatkan keselamatan
lalu lintas.
3. Marka jalan yang dipasang harus memiliki keseragaman dan konsistensi yang mudah
ditafsirkan oleh pemakai jalan.
4. Pada jalan tanpa penerangan, maka jalan harus memantulkan sinar lampu kendaraan
sehingga terlihat jelas oleh pengemudi pada saat gelap.
5. Permukaan marka jalan tidak boleh licin dan tidak boleh menonjol lebih dari 6
milimeter di atas permukaan jalan.
6. Zebra Cross adalah simbol yang menandakan perlidungan terhadap para pejalan kaki
yang hendak menyeberang, jadi Pejalan kaki akan mempunyai sebuah hak untuk
didahulukan dan diberi kesempatan untuk berjalan.

ILUSTRASI PHOTO PEKERJAAN MARKA JALAN


DAN ZEBRA CROSS
PEKERJAAN PENUNJANG
Pekerjaan penunjang merupakan pekerjaan sementara yangmempengaruhi kelancaran /
keberhasilanpennyelesaian
pekerjaan dan salah satunya adalah Manajemen Pengaturan Lalu Lintas. Manajemen
Pengaturan Lalu LintasPengaturan lalu lintas merupakan hal yang sangat penting untuk
diperhatikan dalam pelaksanaanpekerjaan jalan ini . untuk setiap tahapan pekerjaan dan
sepanjang waktu pelaksanaan, diupayakan tidakmengganggu aktifitas arus lalu lintas yang
ada di jalan tersebut. Terhambatnya aktifitas arus lalu lintas dilokasi pekerjaan dan daerah
sekitarnya akan menimbulkan kerugian bagi pengguna jalan dalam berbagaiaspek, safety
bagi para pengguna jalan perlun mendapat jaminan agar tidak menimbulkan kerugian
bagiseluruh pihak.Manajemen pengaturan lalu lintas dalam pelaksanaan pekerjaan dapat di
lakukan dengan dengan berbagai cara antara lain:-memasang berbagai jenis rambu rambu
pengaman di sekitar lokasi pekerjaan secara tepat danbenar, baik secara fungsi bentuk dan
lokasi penempatan sesuai spesifikasi dan ketentuan yang ada. Menempatkan petugas
pengatur lalu lintas secara efektif dan efisien untuk mengatur danmengerahkan arus lalu
lintas yang ada.Mengatur secara tepat jadwal pelaksanaan setiap jenis pekerjaan yang ada.
Pekerjaan pekerjaanyang akan menimbulkan gangguan besar (friction) terhadap arus lalu
lintas, di atur jadwalnyasedemikian rupa sehingga pelaksanaan pekerjaan tidak terlalu
mengganggu arus lalu lintas yang adadan menimbulkan kepadatan arus lalulintas yang
berarti.Jika tidak memingkinkan melakukan pekerjaan pada siang hari, maka untuk pekrjaan
tertentu seperti overlay , akan dilakukan pada malam hari dengan memasang penerangan yang cukup,
agar tidakmengganggu arus lalu lintas.
PENERAPAN PELAKSANAAN K3 SECARA SPESIFIK ITEM PEKERJAAN

1. Penerapan K3 untuk Alur Lalu Lintas Saat Pekerjaan Alat Berat (Back Hoe, Motor Grader,
Stamper)

a. Sistem Buka Tutup

50 m
Informasi Proyek Informasi Proyek

Grader

Petugas K3

Metode Sistem Buka Tutup :

1. Sebelum pekerjaan alat berat dilaksanakan terlebih dahulu plank proyek dipasang
masing-masing dalam jarak 5o m (1 STA) yang berfungsi untuk menutup setengah
badan jalan sebagai area yang nantinya akan dilaksanakan pekerjaan dan sebagai tanda
bagi pengendara untuk berhati-hati karena adanya pekerjaan jalan.
2. Selanjutnya ditempatkan 2 buah trafffic cone yang dipasang pada masing-masing ujung
plank proyek sebagai tanda/rambu bagi pengendara.
3. Untuk alur lalu lintas, maka petugas K3 berfungsi sebagai pengatur alurnya dengan
menempatkan petugas K3 pada masing-masing ujung plank proyek untuk melakukan
pengaturan alur lalu lintas dengan sistem buka tutup yang mana saat kendaraan dari
arah timur bergerak, kendaraan dari barat distop terlebih dahulu.

b. Sistem Tutup Total

50 m
Informasi Proyek Informasi Proyek

Petugas K3

Grader

Petugas K3

2. Penerapan K3 Pada Pekerjaan Jalan Di Lokasi Area Padat Perumahan

50 m

Rumah Rumah Rumah

10 m
Rumah
Police Line

Petugas K3
Petugas K3

Alat berat

Petugas K3
Petugas K3

Police Line

Rumah Rumah Rumah

3. Penerapan K3 Pada Pekerjaan Jalan Di Lokasi Area Pesawahan


50 m

10 m
Police Line

Petugas K3

Alat berat

Petugas K3

(DAN PENERAPAN PELAKSANAAN K3 SECARA UMUM KAMI LAMPIRKAN TERSENDIRI DALAM


MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA SECARA UMUM TERLAMPIR TERSENDIRI)

Demikian Metode Kerja ini kami buat semoga menjadi dapat dijadikan Panduan dalam Pelaksanaan
BANTUAN INFRASTRUKTUR JASA KONSTRUKSI UNTUK PENINGKATAN DAN REHABILITASI JALAN
CIPEUYEUM-CIKONDANG TAHAP II DI KABUPATEN CIANJUR PROVINSI JAWA BARAT

Jakarta, 01 Maret 2017


PT. BEVERINT SURYA SEJATI

Tikna Murni

Direktur Utama