Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 12, No 1, April 2017 Eksistensi Peradilan...

(Novea Elysa W) 35-43

EKSISTENSI PERADILAN AGAMA DALAM PERKEMBANGAN EKONOMI


SYARIAH DI INDONESIA KHUSUSNYA DI SEKTOR PERBANKAN SYARIAH

Oleh : Novea Elysa Wardhani


Dosen Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya
Email : noveaelysawardhani@yahoo.co.id

Abstrak : Eksistensi peradilan agama sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman
mengalami perubahan strategis diakui sebagai respon atas perkembangan hukum dan
kebutuhan hukum masyarakat, terutama menyangkut ekonomi syariah seiring kehadiran
Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7
Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, terutama Kompetensi absolut ketentuan Pasal 49
dan Pasal 50. Namun Ketentuan Pasal 55 ayat (2) Undang-Undang Nomor 21 Tahun
2008 tentang Perbankan Syariah menunjukkan adanya reduksi kompetensi absolut
peradilan agama di bidang perbankan syariah uang dimaksudkan untuk memudahkan
penanganan perkara ekonomi syariah, khususnya di bidang perbankan syariah

Kata Kunci : Eksistensi peradilan agama, Ekonomi syariah, Perbankan syariah

PENDAHULUAN
Islam dibentuk dengan tiga pondasi, yaitu
Perkembangan ekonomi Islam yang :1
semakin marak ini merupakan cerminan 1. Aqidah, aqidah adalah keimanan atau
dan kerinduan umat Islam di Indonesia apa yang telah menjadi ketetapan hati
khususnya para pelaku ekonomi yang seseorang. Aqidah dibangun diatas
menginginkan keridhoan dari allah swt. enam dasar keimanan yang lazim
Namun pertanyaannya adalah upaya apa disebut rukun iman. Ibarat suatu
yang bisa kita lakukan untuk bangunan aqidah adalah pondasinya,
meningkatkan dan mengembangkan sementara akhlaq dan syariah adalah
ekonomi Islam di Indonesia. apa yang dibangun di atasnya. Aqidah
Ekonomi Islam di Indonesia saat ini sudah Islam adalah sesuatu yang bersifat
mulai dikenal masyarakat. Menjamurnya taufiqi, artinya suatu ajaran yang hanya
bank-bank berbasis Islam menjadikan dapat ditetapkan dengan adanya dalil
masyarakat lambat laun mulai mengerti dari Allah dan Rasul-Nya saja. Maka,
sistem-sistem dalam ekonomi Islam. sumber ajaran aqidah Islam adalah Al-
Masyarakat mulai setuju pada sistem Quran dan Sunnah.
ekonomi Islam karena ekonomi Islam tidak
memihak pada satu pihak saja, tetapi
1
menyejahterakan semua golongan sebab Sutan Remi Sjahdeni, Perbankan Syariah
ekonomi Islam adalah hak semua orang. (Produk-produk dan aspek-aspek hukumnya),
Jakarta : Kencana,2014), h. 1

ISSN : 2085-4757 35
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 12, No 1, April 2017 Eksistensi Peradilan...(Novea Elysa W) 35-43

2. Akhlak, akhlak adalah segala sesuatu digunakan oleh sistem ini adalah Al-
yang berkaitan dengan perilaku atau Quran dan Hadits. Dalam qaidah Fiqih,
moral. Akhlak adalah cerminan dari jika tidak mendapatkan semua maka
apa yang ada dalam jiwa seseorang, jangan tinggalkan seluruhnya. Maksudnya
sebab keimanan juga dapat dilihat dari adalah jika kita belum bisa menerapkan
perilaku nyata sehari-hari. Akhlak Sistem ekonomi Islam secara menyeluruh
bukanlah perilaku yang dibuat-buat, maka menerapkan sebagian lebih baik
tetapi apa yang kemudian refleks daripada meninggalkan seluruhnya.
keluar sebagai kata atau perilaku Kedudukan ekonomi syariah dalam
seorang manusia. Akhlak dibagi sistem ekonomi nasional mendapat pijakan
menjadi dua, yaitu; akhlak terpuji dan kuat setelah adanya deregulasi sektor
akhlak tercela. perbankan pada 1983, kepada lembaga
3. Syariah, syariah adalah peraturan atau keuangan bank diberikan keleluasaan,
undang-undang yang harus atau tidak termasuk penentuan tingkat suku bunga.
boleh dikerjakan oleh manusia. Syariat Berdasarkan hal tersebut, secara yuridis
adalah sistem nilai Islam yang formal, pengakuan terhadap sistem
mengatur hubungan antara manusia ekonomi syariah telah diakomodasi dalam
dengan Allah, manusia dengan berbagai peraturan perundang-undangan
manusia lainnya dan manusia dengan nasional.
alam semesta. Syariah dibagi menjadi Perkembangan bank Islam sebagai
dua, yaitu; IBADAH, ibadah yaitu bagian dari sistem ekonomi Islam mulai
hubungan manusia dengan Allah. muncul pada pertengahan abad ke 20.
Dalam beribadah, semua dilarang Di Indonesia, perbankan Islam dapat
kecuali ada dalil yang dikatakan terlambat dibandingkan negara-
memerintahkannya, seperti negara lain yang mayoritas penduduknya
shalat, puasa, dan zakat. Kedua adalah muslim. Setelah munculnya bank-bank
MUAMALAH, muamalah yaitu syariah di negara-negara lain, pada
hubungan antara manusia dengan awal tahun 1980 diskusi mengenai bank
manusia lainnya. Dalam syariah sebagai pilar ekonomi Islam
bermuamalah, semua dibolehkan mulai dilakukan. Konkritnya pada tahun
kecuali ada dalil yang melarangnya, 1991 dibentuk suatu Akte Pendirian PT
seperti riba. Sistem ekonomi juga Bank Muamalat Indonesia sebagai hasil
termasuk kedalam komponen Syariah. musyawarah nasional Majelis Ulama
Sebenarnya, sistem ekonomi Islam Indonesia pada tahun 1990 yang
tidak hanya mengacu pada Perbankan saja. menginginkan adanya pendirian bank
Makna ekonomi itu seluas kehidupan Islam di Indonesia. 2
manusia itu sendiri. Semua hubungan Perbankan syariah di Indonesia saat
antara manusia dengan manusia lainnya ini berkembang dengan pesat. Berdasarkan
adalah ekonomi. Sistem ekonomi laporan Otoritas Jasa Keuangan yang
dijalankan berdasarkan syariat Islam atau dimuat dalam Laporan Perkembangan
aturan-aturan Allah. Sistem ini Keuangan Syariah Tahun 2013 jumlah
berlandaskan aturan Allah, bertujuan akhir
pada Allah dan menggunakan sarana yang 2
Muhammad SyafiI Antonio. Bank Syariah
dibolehkan oleh Allah. Referensi yang Wacana Ulama dan Cendikiawan, (Jakarta : Tazkia
Institut,1999), h. 278

ISSN : 2085-4757 36
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 12, No 1, April 2017 Eksistensi Peradilan...(Novea Elysa W) 35-43

bank yang melakukan kegiatan usaha kesungguhan untuk mengatur


berdasarkan prinsip syariah semakin beroperasinya bank Islam di Indonesia.
bertambah. Saat ini terdapat 11 bank Upaya terus menerus dilakukan
umum syariah (BUS), 23 unit usaha semua pihak untuk melengkapi aturan
syariah (UUS), dan 163 bank pembiayaan hukum beroperasinya bank syariah
rakyat syariah (BPRS). Hal ini tentu sangat ternyata membuahkan hasil setelah
menggembirakan, meskipun total aset disahkannya Undang-Undang Nomor 21
perbankan syariah secara nasional masih Tahun 2008 tentang perbankan syariah
sangat kecil dibandingkan dengan pada tanggal 16 Juli 2008. Dengan adanya
perbankan konvensional, yakni dalam undang-undang tersebut, maka semakin
kisaran 5%. Untuk mempertahankan mantaplah keberadaan bank syariah di
perkembangan perbankan syariah ke Indonesia sebagai lembaga perantara
depan, dukungan hukum (legal support) keuangan dalam menjalankan aktivitasnya
terhadap perbankan syariah dari berbagai dapat diterapkan secara optimal, konkrit
aspek sangat diperlukan. Salah satu aspek dan seutuhnya. Seperti diketahui, prinsip
penting yang perlu diperhatikan adalah syariah yang menjadi landasan bank
mengenai penyelesaian sengketa syariah bukan hanya sebatas landasan
perbankan syariah yang mungkin terjadi ideologis saja, melainkan juga sebagai
antara bank syariah, nasabah, dan landasan operasionalnya. Berkaitan dengan
pemangku kepentingan hal itu bagi bank syariah dalam
(stakeholders). Seperti bisnis lainnya, menjalankan aktivitasnya tidak hanya
sengketa di perbankan syariah juga tidak kegiatan usahanya atau produknya saja
dapat dihindarkan. Oleh karena perbankan yang harus sesuai dengan prinsip syariah
syariah didasarkan pada prinsip syariah tetapi juga meliputi hubungan hukum yang
(syariah based), maka mekanisme tercipta dan akibat hukum yang timbul.
penyelesaian sengketanya juga harus Termasuk dalam hal ini jika terjadi
berdasarkan syariah (in compliance with sengketa antara para pihak bank syariah
shariah). dengan nasabahnya.
Kebutuhan masyarakat muslim Berawal diberlakukannya Undang-
Indonesia akan adanya bank yang Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
beroperasi sesuai dengan nilai-nilai dan Perbankan, Peraturan Pemerintah Nomor
prinsip ekonomi Islam, secara yuridis baru 72 Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan
mulai diatur dalam undang-undang No 7 Prinsip Bagi Hasil, Undang-Undang
tahun 1992 tentang perbankan. Dalam Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
undang-undang tersebut eksistensi bank Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
Islam atau perbankan syariah belum tentang Perbankan, kemudian diperkuat
dinyatakan secara eksplisit, melainkan lagi melalui Undang-Undang Nomor 23
baru disebutkan dengan istilah bank Tahun 1999 tentang Bank Indonesia,
berdasarkan prinsip bagi hasil. Pasal 6 hingga diundangkannya Undang-Undang
maupun pasal 13 UU tersebut yang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
menyatakan adanya bank berdasarkan Syariah, kiranya sudah sangat jelas
prinsip bagi hasil terkesan hanya berupa menunjukkan bahwa sistem ekonomi
sisipan, belum begitu tampak adanya syariah terutama dalam sistem perbankan

ISSN : 2085-4757 37
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 12, No 1, April 2017 Eksistensi Peradilan...(Novea Elysa W) 35-43

di Indonesia sudah memiliki legitimasi dan kalangan umat Islam Indonesia. Sedangkan
kepastian hukum secara yuridis formal. kedudukannya terutama di era reformasi
Perspektif yuridis ini mengandung ini mencapai puncak kekokohannya pada
makna bahwa pelembagaan prinsip syariah tahun 2001, saat disepakatinya perubahan
merupakan suatu bentuk konkretisasi ketiga UUD 1945 oleh MPR. Dalam pasal
proses tranformasi subsistem hukum Islam 24 UUD 1945 hasil amandemennya secara
menjadi bagian utuh dalam sistem hukum ekspelisit dinyatakan bahwa lingkungan
positif nasional dan menjadi seperangkat Peradilan Agama disebutkan seabagai
aturan yang secara ekslusif mengatur salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman
sistem operasional kegiatan usaha di Indonesia, bersama lingkungan
perbankan, yang pada gilirannya peradilan lainnya di bawah Mahkamah
memperkuat otoritas hukum Islam dalam Agung. Kemudian ditandai dengan
operasional konsep dan sistem ekonomi disahkannya UU No. 4 Tahun 2004
syariah. tentang kekuasaan Kehakiman sebagai
Secara Konstitusional, dasar hukum perubahan atas UU No. 35 Tahun 1999.
ekonomi syariah berpijak pada Pancasila Dalam UU No. 4 Tahun 2004 disebutkan :
dan UUD 1945 Pasal 29 ayat (1) yang bahwa semua lingkungan peradilan ,
berbunyi, bahwa Negara berdasar atas termasuk Peradilan Agama, pembinaan,
Ketuhanan Yang Maha Esa; dan (2) organisasi, administrasi dan finansialnya
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap dialih dari pemerintah kepada Mahkamah
penduduk untuk memeluk agamanya Agung. 3
masing-masing dan untuk beribadat Kewenangan absolut peradilan agama
menurut agamanya dan kepercayaannya sebagai salah satu pelaku kekuasaan
itu. Ketentuan hukum formal yang kehakiman mengalami perubahan strategis
mengatur pelaksanaan kegiatan ekonomi sebagai respon atas perkembangan hukum
syariah di Indonesia adalah segala dan kebutuhan hukum masyarakat,
ketentuan yang telah melalui proses terutama menyangkut ekonomi syariah
positivisasi oleh negara. Selai itu segala seiring kehadiran Undang-undang Nomor
produk peraturan perundang-undangan 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas
yang berlaku sebagai sumber hukum Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989
tertulis bagi sistem operasional ekonomi tentang Peradilan Agama, terutama
syariah, sepanjang tidak bertentangan Kompetensi absolut ketentuan Pasal 49
dengan prinsip syariah Islam, dalam hal ini dan Pasal 50.
Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Pasal 49 menyebutkan bahwa
dapat dikategorikan sebagai sumber hukum pengadilan Agama bertugas dan
yang bersifat hukum dan menjadi sumber berwenang memeriksa, memutus dan
hukum tertulis. menyelesaikan perkara di tingkat pertama
antara orang-orang yang beragama Islam
PERMASALAHAN di bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah,
wakaf, zakat, infaq, shadaqah, dan
Peradilan Agama adalah salah satu ekonomi Syariah. Juga disebutkan bahwa
peradilan yang menjalankan kekuasaan
3
kehakiman di Indonesia yang berfungsi Jenal Aripin, Peradilan Agama Dalam Bingkai
menyelesaikan perkara perdata tertentu di Reformasi Hukum Indonesia,(Jakarta : Kencana), h.
313

ISSN : 2085-4757 38
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 12, No 1, April 2017 Eksistensi Peradilan...(Novea Elysa W) 35-43

penyelesaian sengketa tidak dibatasi di menyelesaikan sengketa ekonomi syariah. 5


bidang perbankan syariah, melainkan juga Oleh karena itu, pihak pihak-pihak yang
di bidang ekonomi syariah lainnya. Yang melakukan perjanjian beradasarkan prinsip
dimaksud dengan antara orang-orang syariah (ekonomi syariah) tidak dapat
yang beragama Islam adalah termasuk melakukan pilihan hukum untuk diadili di
orang atau badan hukum yang dengan pengadilan yang lain. Namun demikian
sendirinya menundukkan diri dengan dalam sengketa yang berkaitan dengan hak
sukarela kepada hukum Islam mengenai milik atau sengketa keperdataan lain antara
hal-hal yang menjadi kewenangan orang-orang yang beragama Islam dan non
Pengadilan Agama sesuai dengan Islam mengenai sengketa sebagaimana
ketentuan Pasal ini. Kemudian dimaksud dalam Pasal 49 Undang-Undang
terkait ekonomi syariah, penjelasan Pasal Nomor 3 Tahun 2006 sangat terkait dengan
49 huruf (i) menyebutkan bahwa yang peradilan umum. Hal ini ditegaskan pada
dimaksud dengan ekonomi syariah Pasal 50 Undang-Undang Nomor 3 Tahun
adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang 2006 jo. Undang-Undang Nomor 7 Tahun
dilaksanakan menurut prinsip syariah, 1989 ayat (1) dari Pasal 50 menegaskan
antara lain meliputi: bank syariah, lembaga tentang kewenangan Peradilan Umum
keuangan mikro syariah, asuransi syariah, manakala terjadi sengketa kepemilikan atas
reasuransi syariah, reksadana syariah, obyek dari pasal 49. Sedangkan ayat (2)
obligasi syariah dan surat berharga merupakan pembahasan eksepsionalnya, di
berjangka menengah syariah, sekuritas mana ketika para pihak yang bersengketa
syariah, pembiayaan syariah, pegadaian adalah orang-orang yang beragama Islam,
syariah, dana pensiun lembaga keuangan maka sengketa kepemilikan tersebut
syariah, dan bisnis syariah.4 diselesaikan bersama-sama dengan
Ada dua asas untuk menentukan sengketa yang terdapat pada Pasal 49.
kompetensi absolut Pengadilan Agama, Namun berdasarkan pada Pasal 55
yaitu apabila: suatu perkara menyangkut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008
status hukum seorang muslim, atau suatu tentang Perbankan syariah, mengatur
sengketa yang timbul dari suatu mengenai penyelesaian sengketa ekonomi
perbuatan/peristiwa hukum yang syariah di mana salah satunya adalah
dilakukan/terjadi berdasarkan hukum Islam sengketa yang terjadi dalam perbankan
atau berkaitan erat dengan status hukum syariah dan lembaga yang berwenang
sebagai muslim. menyelesaikannya. Pasal 55 tersebut
Sejak lahirnya Undang-Undang berbunyi :
Nomor 3 Tahun 2006 jo. Undang-Undang 1. Penyelesaian sengketa Perbankan
Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Syariah dilakukan oleh pengadilan
Agama maka berdasarkan asas hukum lex dalam lingkungan Peradilan Agama
spesialis derogat lex generalis Pengadilan 2. Dalam hal para pihak telah
Negeri sudah tidak berwenang lagi memperjanjikan penyelesaian
sengketa selain sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), penyelesaian
4 5
Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah : Amran Suadi dkk, Politik Hukum: Perspektif
Dalam Perspektif Kewenangan Peradilan Hukum Perdata Dan Pidana Islam Serta Ekonomi
Agama,(Jakarta : Kencana), h. 425 Syariah,(Jakarta : Kencana, 2016) h. 466

ISSN : 2085-4757 39
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 12, No 1, April 2017 Eksistensi Peradilan...(Novea Elysa W) 35-43

sengketa dilakukan sesuai dengan isi sengketa ekonomi syariah khususnya di


akad sektor Perbankan Syariah?
3. Penyelesaian sengketa sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) tidak boleh ANALISIS
bertentangan dengan prinsip syariah
Dalam penjelasan Pasal 55 tersebut, Perkembangan ekonomi syariah
yang dimaksud dengan penyelesaian memberikan kewenangan baru bagi
sengketa dilakukan sesuai dengan isi akad pangadilan agama. Khususnya di sektor
adalah upaya sebagai berikut : Perbankan Syariah dalam Undang-Undang
1. Musyawarah; Nomor 10 Tahun 1998 Perbankan Syariah,
2. Mediasi perbankan; adanya penegasan penegasan prinsip
3. Melalui Badan Arbitrase Syariah syariah yang membedakan antara bank
Nasional (BASYARNAS) atau konvensional dan bank syariah.6 Kepastian
lembaga arbitrase lain; dan/atau hukum dalam penyelesaian sengketa
4. Melalui pengadilan dalam lingkungan ekonomi syariah merupakan salah satu
Peradilan Umum kebutuhan pelaku ekonomi syariah. Perlu
dicermati pada Pasal 55 Undang-Undang
Berdasarkan Pasal 55 Undang- Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Syariah sebagai undang-undang
Perbankan Syariah penyelesaian terhadap menentukan pengadilan agama sebagai
sengketa yang potensial muncul antara lembaga yang berwenang untuk
nasabah dan bank syariah pilihan hukum menyelesaikan sengketa perbankan
dan forum sengketa sepenuhnya syariah.
diserahkan pada pihak yang terkait. Undang-Undang Nomor 3 Tahun
Apabila diurutkan tahapan penyelesaian 2006 sebagaimana telah diubah dengan
sengketa yang dapat ditempuh antara Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009
nasabah dan bank syariah yaitu diawali tentang Perubahan Kedua Atas Undang-
dengan musyawarah mufakat, mediasi Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang
perbankan, forum ARBITRASE Peradilan Agama (UUPA) merupakan
(BASYARNAS), dan apabila belum dapat produk legislasi yang pertama kali
terselesaikan dapat meneumpuh upaya memberikan kompetensi kepada peradila
litigasi yaitu melalui Pengadilan Agama agama dalam penyelesaian perkara
sesuai dengan Pasal 49 Undang-Undang ekonomi syariah. Sungguhpun demikian
Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan dalam kenyataannya justifikasi kompetensi
Agama dan Undang-Undang Nomor 21 peradilan agama dalam menyelesaikan
Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah perkara ekonomi syariah ini masih
yang selain memberi kewenangan pada diperdebatkan. Dalam suatu pembiayaan
Pengadilan Agama juga memberi dengan menggunakan skema syariah,
kewenangan pada Peradilan Umum. khusus untuk perjanjian jaminan masih
Berdasarkan kedua peraturan tersebut tetap tunduk dan menggunakan seluruh
di atas, Bagaimana dengan Eksistensi ketentuan hukum jaminan yang diatur
Peradilan Agama yang mempunyai
6
kewenangan absolut dalam menyelesaikan Rachmadi Usman, Aspek-aspek Hukum
Perbankan di Indonesia, Citra Aditya Bakti,
Bandung,2012, h. 13

ISSN : 2085-4757 40
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 12, No 1, April 2017 Eksistensi Peradilan...(Novea Elysa W) 35-43

dalam hukum positif di Indonesia. Oleh melakukan eksekusi objek jaminan. Proses
karena itu, seluruh ketentuan jaminan yang eksekusi harus dilakukan dengan cara
digunakan dalam penyaluran kredit secara mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan
konvensional, juga berlaku bagi Negeri melalui proses hukum acara perdata
pembiayaan dengan menggunakan skema hingga putusan pengadilan berkekuatan
syariah dalam perbankan syariah. hukum tetap, bukan ke Pengadilan Agama
Misalnya bank syariah dalam sistem dalam kasus ini lagi-lagi kita harus
operasionanya terutama dalam pembiyaan, mencermati sejauh mana pengadilan
sebagai contoh menggunakan pengikatan agama dapat mengcover kasus-kasus
jaminan Fidusia dengan demikian secara ekonomi syariah khusus dalam Perbankan
otomatis antara bank dan nasabah tunduk syariah dalam melaksnakan pembiayaan
pada Undang-Undang Nomor 42 Tahun yang dituangkan ke dalam akad
1999 Tentang Jaminan Fidusia, Objek pembiayaan misalnya akad Murabahah.
jaminan yang dibebankan dengan akta Contoh lain, dalam praktiknya akad
fidusia yang dibuatkan secara notariel pembiayaan syariah dalam pilihan hukum
dengan tujuan lebih memberikan kekuatan penyelesaian sengketanya seringkali
mengikat sesuai dengan amanat Undang- langsung ditetapkan bahwa apabila terjadi
Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang suatu sengketa, proses itu akan
Jaminan Fidusia atau UUJF, dengan diselesaikan melalui Badan Arbitrase
maksud objek jaminan fidusia akan Syariah Nasional (BASYARNAS).
memiliki kekuatan eksekutorial jika BASYARNAS sesuai dengan
debitur wanprestasi atau melakukan Pedoman Dasar yang ditetapkan oleh
pelanggaran perjanjian kepada kreditur Majelis Ulama Indonesia (MUI) ialah
(parate eksekusi) sesuai dengan Pasal 11 jo lembaga independen, tidak boleh
Pasal 37 UUJF kreditur tidak memiliki hak dicampuri oleh kekuasaan dan pihak-pihak
didahulukan (preferent) di dalam maupun mana pun. Prosedur beracara maupun
di luar kepailitan dan atau likuidasi. pelaksanaan putusan BASYARNAS pada
Dengan demikian kedudukan kreditur prinsipnya tidak ada perbedaan dengan
sebagai kreditur konkuren bukan sebagai lembaga serupa seperti Badan Arbitrase
kreditur preferent. Kreditor Preferen yaitu Nasional Indonesia (BANI). Peraturan
kreditor yang mempunyai hak prosedur yang disusun oleh
mendahului karena sifat piutangnya oleh BASYARNAS mengenai pendaftaran,
Undang-Undang diberi kedudukan pemeriksaan, sampai putusan dan tata
istimewa. Kreditor Preferen terdiri dari biaya tetap mengacu pada Undang-Undang
Kreditor preferen khusus, sebagaimana Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase
diatur dalam Pasal 1139 KUH Perdata, dan dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Kreditor Preferen Umum, sebagaimana Adapun prosedur penyelesaian
diatur dalam Pasal 1149 KUH Perdata. sengketa melalui BASYARNAS dimulai
Sebaliknya masalaha yang sering terjadi dengan penyerahan penyerahan secara
objek jaminan pembiyaan tersebut tidak tertulis oleh para pihak yang sepakat untuk
didaftarkan secara notariel dan tidak menyelesaikan persengketaan melalui
dibuatkan akta pengikatan jaminan, maka BASYARNAS sesuai prosedur yang
apabila nasabah macet dalam pembiayaan berlaku. Pihak yang bersengketa sepakat
bank syariah tidak bisa secara langsung akan menyelesaikan persengketaan mereka

ISSN : 2085-4757 41
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 12, No 1, April 2017 Eksistensi Peradilan...(Novea Elysa W) 35-43

dengan ishlah (perdamaian) tanpa ada semua biaya yang berhubungan dengan
suatu persengketaan berkenaan dengan pembuatan akta pendaftaran dibebankan
perjanjian atas permintaan para pihak kepada para pihak.
tersebut. Kesepakatan ini dicantumkan Perintah pelaksanaan putusan Badan
dalam kalusul arbitrase. Prosedur arbitrase Arbitrase Syariah tersebut diberikan dalam
dimulai dengan didaftarkannya surat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari
permohonan para pihak yang bersengketa setelah permohonan eksekusi didaftarkan
oleh sekretaris BASYARNAS. Berkas kepada Panitera Pengadilan Negeri yang
permohonan itu berisikan nama lengkap, daerah hukumnya meliputi tempat tinggal
tempat tinggal atau tempat kedudukan termohon dalam penyelesaian sengketa
kedua belah pihak atau para pihak. Berkas melalui Badan Arbitrase Syariah. Dengan
juga memuat uraian singkat tentang demikian melaksanakan eksekusi atas
duduknya sengketa dan juga apa yang putusan Arbitrase Syariah itu akan
dituntut. ditetapkan melalui Pengadilan Negeri.
Putusan Badan Arbitrase Syariah
baru dapat dilaksanakan apabila ketentuan
PENUTUP
dalam Pasal 59 Undang-Undang Nomor 30
Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Kesimpulan
Alternatif Penyelesaian Sengketa telah Penyelesaian sengketa bisnis yang
dipenuhi, yaitu: pertama, dalam waktu dilaksanakan atas prinsip-prinsip syariah
paling lama 30 hari terhitung sejak tanggal melalui mekanisme litigasi pengadilan
putusan Badan Arbitrase Syariah terdapat beberapa kendala, antara lain
diucapkan, lembar asli atau salinan belum tersedianya hukum materiil baik
autentik putusan tersebut disrahkan dan yang berupa undang-undang maupun
didaftarkan oleh arbiter atau kuasanya Kompilasi sebagai pegangan para hakim
kepada Panitera Pengadilan Negeri yang dalam memutus perkara. Di samping itu,
daerah hukumnya meliputi tempat tinggal masih banyak aparat hukum yang belum
termohon dalam penyelesaian sengketa mengerti tentang ekonomi syariah atau
melalui Badan Arbitrase Syariah. Kedua, hukum bisnis Islam. Dalam hal yang
penyerahan dan pendaftaran sebagaimana menyangkut bidang sengketa, belum
dimaksud di atas, dilakukan dengan tersedianya lembaga penyidik khusus yang
pencatatan dan penandatanganan pada berkompeten dan menguasai hukum
bagian akhir atau di pinggir putusan oleh syariah. Khusus dalam sektor Perbankan
Panitera Pengadilan Negeri dan arbiter syariah dalam melaksanakan kegiatan
atau kuasanya yang menyerahkan, catatan usahanya baik dalam penghimpunan dana
tersebut merupakan akta pendaftaran. maupun dalam penyaluran dana atau
Ketiga, arbiter atau kuasanyawajib pembiayaan masih mengacu pada hukum
menyerahkan putusan dan lembar asli positif yang berlaku di Indonesia, sehingga
pengangkatan sebagai arbiter atau salinan dalam hal terjadi sengketa maka
autentiknya kepada Panitera Pengadilan penyelesaiannya tidak berbeda dengan
Negeri. Keempat, tidak dipenuhinya sistem perbankan konvensional yaitu tetap
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pada Pengadilan Negeri. Ketentuan Pasal
huruf a tersebut, berakibat putusan 55 ayat (2) Undang-Undang Nomor 21
arbitrase tidak dapat dilaksanakan. Kelima, Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah

ISSN : 2085-4757 42
Jurnal Ilmu Hukum, Jilid 12, No 1, April 2017 Eksistensi Peradilan...(Novea Elysa W) 35-43

menunjukkan adanya reduksi kompetensi Jenal Aripin, Peradilan Agama Dalam


absolut peradilan agama di bidang Bingkai Reformasi Hukum
perbankan syariah. Peradilan agama yang Indonesia, Jakarta : Kencana, 2008
berdasarkan Undang-undang Nomor 3
tahun 2006 mempunyai kompetensi Muhammad SyafiI Antonio. Bank Syariah
menangani perkara ekonomi syariah yang Wacana Ulama dan Cendikiawan,
di dalamnya termasuk perkara perbankan Jakarta : Tazkia Institut, 1999
syariah ternyata dikurangi oleh perangkat
hukum lain yang notabene sebenarnya Rachmadi Usman, Aspek-aspek Hukum
dimaksudkan untuk memudahkan Perbankan di Indonesia, Citra
penanganan perkara ekonomi syariah, Aditya Bakti, Bandung, 2012
khususnya di bidang perbankan syariah.
Sutan Remi Sjahdeni. Perbankan Syariah
Saran (Produk-produk dan aspek
hukumnya), Jakarta : Kencana, 2014
Sistem hukum dan peradilan yang
efektif dalam mendukung perkembangan Peraturan Perundang-undangan :
lembaga keuangan syariah adalah dengan - Undang-Undang Republik Indonesia
cara menjaga konsistensi penerapan hukum Nomor 3 Tahun 2006 Tentang
Islam dalam regulasi lembaga keuangan Perubahan Atas Undang-Undang
syariah, dengan demikian umat Islam yang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan
memanfaatkan sistem keuangan syariah Agama ( Lembaran Negara Republik
selain mendapat kebahagiaan karena Indonesia Tahun 2006 Nomor 22)
menjalankan agamanya juga mendapatkan - Undang-Undang Republik Indonesia
keuntungan dari penerapan sistem tersebut. Nomor 21 Tahun 2008 Tentang
Perbankan Syariah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
DAFTAR PUSTAKA 94)
- Undang-Undang Republik Indonesia
Amran Suadi dkk, Politik Hukum: Nomor 50 Tahun 2009 Tentang
Perspektif Hukum Perdata Dan Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Pidana Islam Serta Ekonomi Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan
Syariah,Jakarta : Kencana, 2016 Agama (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 159)
Adiwarman Karim, Bank Islam Analaisis
Fiqih dan Keuangan), Jakarta : PT.
Raja Grafindo Persada, 2014

Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah :


Dalam Perspektif Kewenangan
Peradilan Agama, Jakarta : Kencana,
2012

ISSN : 2085-4757 43