Anda di halaman 1dari 46

PERIOPERATIF CARE PADA ANAK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah (Keperawatan Anak II)

Dosen Pengampu : Fiki Wijayanti.,Ns.,M.kep

OLEH :

1. Rani Eka Suryani (010115a099)


2. Nilam Anggi Ashari (010115a080)
3. Putu Novi Ernawati (010115a141)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

2017 / 2018

1
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas
kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya-Nya kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah (perioperatif care pada anak).

Tugas dari mata kuliah keperawatan gerontik telah kami susun dengan maksimal
dan mendapatkan dari beberapa sumber sehingga dapat memperlancar pembuatan tugas
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada beberapa sumber yang
telah membantu dalam pembuatan makalah ini dan tak lupa saya ucapkan terimakasih
kepada dosen pengampu mata kuliah ini ibu Fiki Wijayanti.,Ns.,M.kep

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan dan cara pengeditan kerapiaan dalam tugas ini. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari dosen
pembibing dan pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk banyak
orang dan dapat memberikam manfaat maupun inspirasi terhadap para pembaca.

Ungaran, 18 agustus 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ...........................................................................................................

DAFTAR ISI ..........................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar Belakang .....................................................................................................


b. Tujuan .................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

a. Definisi keperawatan perioperatif ........................................................................


b. Indikasi Pembedahan ...........................................................................................
c. Klasifikasi Pemedahan .........................................................................................

BAB III PEMBAHASAN KEPERAWATAN PRAOPERATIF

a. Keperawatan dalam Fase Bedah Preoperatif .......................................................


b. Pengkajian ............................................................................................................
c. Tinjauan kesehatan emosional .............................................................................
d. Pemeriksaan Fisik ................................................................................................
e. Pemeriksaan Diagnostik.......................................................................................
f. Diagnose keerawatan ...........................................................................................
g. Intervensi..............................................................................................................
h. Perawatan akut .....................................................................................................
i. Persiapan pada hari bedah ....................................................................................
j. Transpormasi ke ruangan operasi ........................................................................

BAB IV PEMBAHASAN KEPERAWATAN INTRAOPERATIF

a. Tahap bedah intraoperatif ....................................................................................


b. Proses keperawatan di tahap bedan intraoperatif .................................................
c. Implementasi ........................................................................................................

3
d. Dokumentasi asuhan keperawatan intaroperatif ..................................................
e. evaluasi ................................................................................................................

BAB V PEMBAHASAN KEPERAWATAN PASCA OPERASI

a. Tahap bedah pascaoperasi....................................................................................


b. Proses Keperawatan Dalam Perawatan Pascaoperatif .........................................
c. Diagnose keperawatan .........................................................................................
d. Intervensi..............................................................................................................
e. Implementasi ........................................................................................................
f. evaluasi ................................................................................................................

BAB IV PENUTUP
a. Kesimpulan ..........................................................................................................
b. Saran ....................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................

4
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi
hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan
membahayakan bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya
menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami.
Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing
yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala
macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan.
Perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap tindakan
pembedahan baik pada masa sebelum, selama maupun setelah operasi. Intervensi
keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan klien baik secara fisik
maupun psikis. Tingkat keberhasilan pembedahan sangat tergantung pada setiap
tahapan yang dialami dan saling ketergantungan antara tim kesehatan yang terkait
(dokter bedah, dokter anstesi dan perawat) di samping peranan pasien yang kooperatif
selama proses perioperatif.
Ada tiga faktor penting yang terkait dalam pembedahan, yaitu penyakit pasien,
jenis pembedahan yang dilakukan dan pasien sendiri. Dari ketiga faktor tersebut
faktor pasien merupakan hal yang paling penting, karena bagi penyakit tersebut
tidakan pembedahan adalah hal yang baik/benar. Tetapi bagi pasien sendiri
pembedahan mungkin merupakan hal yang paling mengerikan yang pernah mereka
alami. Mengingat hal terebut diatas, maka sangatlah pentig untuk melibatkan pasien
dalam setiap langkah langkah perioperatif. Tindakan perawatan perioperatif yang
berkesinambungan dan tepat akan sangat berpengaruh terhadap suksesnya
pembedahan dan kesembuhan pasien.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum

5
Untuk para pembaca mahasiswa maupun perawat dapat mengetahui bagaimana
keperawatan perioperatif pada anak itu sendiri, dan menambah pengetahuan dan
wawasan para pembaca dan perawat.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang ingin dicapai penulis dalam makalah ini adalah :
a. Untuk mengetahui bagaimana keperawatan perioperatif
b. Untuk mengetahui mengenai keperawatan preoperasi
c. Untuk mengetahui mengenai keperawatan intraoperasi
d. Untuk mengetahui mengenai keperawatan pascaoperasi

6
BAB II

KEPERAWATAN PERIOPERATIF

A. Definisi keperawatan perioperatif


Asuhan keperawatan perioperative adalah perawatan yang diberikan sebelum
(praoperasi), selama (intraoperasi), dan setelah operasi (pascaoperasi).Ini terjadi di
rumah Sakit, di pusat-pusat bedah yang ada di rumah sakit, di pusat-pusat bedah yang
berdiri sendiri, atau di kantor-kantor penyedia layanan kesehatan.
Keperawatan perioperatif adalah instilah yang digunakan untuk menggambarkan
keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman bedah pasien.
Factor-faktor penting yang terkaitan dalam pembedahan yaitu penyakit pasien,
pembedahan yang dilakukan dan factor pasien sendiri. Dari ketiga factor tersebut
factor pasien merupakan hal yang peling penting, karena pada factor penyakit tertentu
dan factor tindakan pembedahan adalah hal yang sudah berjalandengan baik dan
benar.
Hal ini didasarkan pada pemahaman perawat tentang prinsip-prinsip penting,
termasuk hal-hal berikut :
1. Pelayanan yang berkualitas tinggi dan perawatan yang berfokus pada keselamatan
klien
2. Kerja tim multidisiplin
3. Komunikasi terapeutik yang efektif dan kolaborasi dengan klien, keluarga klien,
dan tim bedah.
4. Pengkajian dan intervensi dalamsemua tahap operasi dengan efektif dan efisien.
5. Advokasi untuk klien dan keluarga klien
6. Memahami pengendalian biaya.

Tahap-tahap di dalam keperawatan perioperatif :

1. Fase pra operasi


Fase pra operasi dimulai ketika dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika
pasien berada di meja operasi sebelum pembedahan dilakukan. Lingkup aktivitas
keperawatan selam waktu tersebut dapat mencangkup pengkajian dasar pasien di

7
tatanan klinik ataupun rumah, wawancara praoperasi dan menyiapakan pasien
untuk anestesi yang diberikan dan pembedahan.
Tujuan perawatan praoperasi :
a. Menciptakan hubungan yang baik dengan pasien, memberika penyuluhan
tentang tindakan anesthesia.
b. Mengkaji, merencanakandan memenuhim kebutuhan pasien
c. Mengetahu akibat tindakan anesthesia yang akan dilakukan
d. Mengantisipasi dan menggulangi kesulitan yang mungin timbul.
2. Fase intra operasi
Fase intar operasi dimulai ketika asien masuk atau dipindahkan ke
instalasi bedah (meja operasi) dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruangan
pemulihan (recovery room) atau istilah lainnya adalah post anestesi care unit
(PACU). Pada fase ini ruangna lingkup aktivitas keperawatan mencangkup
pemasangan intarvena kateter, pemberian medifikasi intarvena, melakukan
pemantaun kondisi fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedah dan
menjaga keselametan pasien.
Perawatan anestesi dimulai sejak pasien berada di meja operasi sampai
dengan pasien dipindahkan ke ruangan pulih sadar.
Tujuan :
Mengupayaan fungsi vital pasien selama anestesi berada dalam kondisi optimal
agar pembedah dapat berjalan lancar dengan baik.
3. Fase pasca operasi
Fase pasca operasi dimulai dengan masuknya pasien ke ruangan pemulihan dan
berakhir dengan evaluasi tindakan lanjut pada tatanan klinik atau ruang perawatan
bedah atau dirumah. Ringkup ativitas keperawatan melipti rentang aktivitas yang
luas selama periode ini. Pada fase ini focus pengkajian efek agen atau obat
anestesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas perawat
berfokus pada peningkatan penyembuhan dan rehabilitasi dan pemulangna pasien.
Perawatan pasca anestesi atau pembedahan di mulai sejak pasien dipindahkan ke
ruangan pulih sadar sampai diserah terimakan kembali pada perawat di rungan
rawat inap. Jika kondisi klien tetap kritis pasien dipindahkan ke ICU.

8
Tujuan :
a. Mengawasi kemajuan pasien sewaktu masa pulih
b. Mecegah dan segera mengatasi komplikasi yang terjadi
c. Menilai kesadaran fungsi vital tubuh pasien untuk menentukan saat
pemindahan / pemulangan pasien.

Pengkajian yang dilakukan perawat pada periode perioperatif diantaranya adalah :

1. Rumah atau klinik


a. Melakukan pengkajian periopertif awal
b. Merencanankan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien
c. Melibatakan keluarga dalam wawancara
d. Memastika kelengkapan pemeriksaan pra-operatif
e. Mengkaji kebutuhan klien terhadap transpotasi da perawatan pasca operasi
2. Unit perawatan bedah
a. Melengkapi pengkajian pre-operatif
b. Koordinasi penyuluhan terhadap pasien dengan staf kepewaratan lain
c. Menjelaskan fase-fase dalam periode perioperatif dan hal-hal mungkin
akan terjadi
d. Membuat rencana asuhan keperawatan.
3. Ruang operasi
a. Mengkaji tingkat esadaran klien
b. Melakukan penilaian ulang lembar observasi pasien atau rekam medis
c. Mengidentifikasi pasien
d. Memastiakn daerah pembedahan
B. Indikasi Pembedahan
Tindakan pembedahan (operasi) dilakukan berdasarkan tau sesuai berdasarkan
indikasi. Beberapa indikasi yang dapat dilakukan pembedahan diantaranya adalah
indikasi :
1. Diagnostik, misalnya eksisi tumor atau laparotomi eksplorasi
2. Kuratif, misalnya infeksi tumor atau mengangkat afendiks yang mengalami
inflamasi

9
3. Reparatif, misalnya memperbaiki luka multiple
4. Rekontruksi atau kosmetik, misalnya mammoplasty atau bedah plastic
5. Paliatif, misalnya menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah, seperti
pemasangan selang gastrostomi yang dipasang untuk mengkonpensasi terhadap
ketidakmampuan menelan makanan.
C. Klasifikasi Pemedahan

Jenis-jenis prosedur bedah di klasifikasikan menurut keseriusan, urgensi, dan


tujuan. Beberapa prosedur dapat bergabung ke dalam lebih dari satu klasifikasi.
Misalnya, operasi pengangkatan dan bekas luka adalah minor dalam keseriusan,
elektif di urgensi, dan rekonstruksi di tujuan. Seringnya pembagian kelas-kelas
tersebut tumpang tindih. Prosedur yang mendesak adalah juga penting dalam tingkat
keseriusannya. Kadang-kadang operasi yang sama dilakukan untuk alasan yang
berbeda pada klien yang berbeda. Sebagai contoh, gastrektomi mungkin dilakukan
sebagai prosedur darurat untuk reseksi tukak yang telah berdarah atau sebagai
prosedur mendesak untuk menghapus pertumbuhan kanker. Klasifikasi menunjukkan
kepada perawat tingkat perawatan yang dibituhkan oleh klien.

Tipe Deskripsi Contoh


Keseriusan
Mayor Menyangkut tindakan rekonstruksi Bypass arteri coroner,
yang luas atau perubahan di dalam reseksi kolon,
bagian tubuh; memiliki risiko besar pengangkatan laring,
terhadap kehidupan. reseksi lobus paru.

Minor Menyangkut perubahan minimal Ekstraksi katarak, bedah


dalam bagian tubuh; sering digunakan plastic wajah, ekstraksi
untuk mengoreksi deformitas; gigi.
termasuk risiko minimal dibanding
dengan bprosedur mayor.

Kedaruratan

10
Elektif Dilakukan atas kebutuhan dasar klien; Bunionektomi, bedah
tidak terlalu esensial dan tidak selalu plastic wajah, perbaikan
penting untuk kesehatan hernia, rekonstruksi
payudara.

Mendesak Penting untuk kesehatan klien, sering Pemotongan tumor


dilakukan untuk mencegah masalah kanker pengangkatan
tambahan lainnya menjadi kantung empedu
berkembang (misalnya: kerusakan disebabkan oleh batu
jaringan atau kegagalan fungsi organ); empedu, perbaikan
tetapi tidak darurat. vascular dari arteri yang
tersumbat.

Darurat Harus diselesaikan dengan segera Memperbaiki usus buntu


untuk menyelamatkan jiwa atau yang berlubang,
mempertahankan fungsi bagian tubuh. memperbaiki luka
amputasi, mengontrol
hemoragi internal

Tujuan
Diagnostik Pembedahan eksplorasi yang Eksplorasi laparotomy
memungkinkan penyedia layanan (insisi kedalam ruang
kesehatan untuk menegakkan peritoneal untuk melihat
diagnosis; biasanya termasuk organ abdominal).
pengangkatan jaringan untuk
pemeriksaan diagnostik selanjutnya

Ablatif Eksisi atau pengangkatan bagian Amputasi, pengangkatan


tubuh yang terserang penyakit usus buntu,
kolesistektomi.

11
Paliatif Menghilangkan atau mengurangi Kolostomi, debridemen
intensitas gejala penyakit; tidakakan (pembersihan) jaringan
menyembuhkan nekrotik, reseksi akar
saraf

Rekonstruksi/ Pemulihan fungsi atau penampilan Fiksasi internal


restoratif atas jaringan yang trauma atau yang darifraktur, perbaikan
tidak berfungsi. bekas luka.

Prosedur Pengangkatan orang dan / atau Transplantasi ginjal,


transplatansi jaringan dari seseorang dengan jantung, atau hati
kematian otak yang berat untuk
ditransplantasikan kepada oranglain.

Konstruksi Memulihkan fungsi hilang atau Memperbaiki palatum


mengurangi sebagai hasil dari yang terbelah,
kelainan bawaan lahir merapatkan kerusakan
septum arterial di
jantung.

Kosmetika Dilakukan untuk meningkatkan Blefaroplasti untuk


penampilan seseorang mengoreksi kelainan
bentuk kelopak mata,
rinoplasti untuk
mengubah bentuk
hidung.

12
BAB III

KEPERAWATAN BEDAH PRAOPERASI

A. Keperawatan dalam Fase Bedah Preoperatif


Semua bayi dan anak yang dijadwalnya untuk menjalani tindakan pembedahan
harus dinilai prabedah, baik untuk mendeteksi dini keadaan yang memerlukan terapi
spesifik, maupun untuk optimasi, serta untuk menesehati orang tuanyamengenai
kemungkinan keadaan selama anestesi dan pemedahan.
Dalam preopratif klien yang menjalani operasi masuk kedalam tempat pelayanan
kesehatan dalam berbagai tingkat kesehatan. Klien mungkin masuk rumah sakit atau
pusat bedah rawat jalan pada hari yang telah di tentukan dengan perasaan yang relatif
sehat dan siap menghadapi operasi elektif. Sebaliknya, seseorang dalam kecelakaan
bermotor mungkin menghadapi operasi darurat tanpa memiliki waktu untuk
persiapan. Kemampuan untuk menjalin hubungan dan memelihara hubungan
profesional dengan klien merupakan komponen penting dari fase perioperatif.
Perawat harus melakukan ini dengan cepat, tetapi penuh kasih dan efektif.
Klien telah melakukan berbagai uji dan prosedur untuk mengonfirmasi atau
menyingkirkan perubahan yang dibutuhkan dalam pembedahan. Kebanyakan
pengujian terjadi sebelum hari operasi. Biasanya klien yang dijadwalkan untuk
operasi rawat jalan harus menjalani tes yang dilakukan beberapa hari sebelum
operasi. Pengujian yang dilakukan pada hari operasi biasanya terbatas untuk tes
seperti pemantauan glukosa untuk klien dengan diabetes. Perawat perlu mengenali
dengan baik tes tersebut, tujuannya, dan bagaimana cara memonitor hasil.
B. Pengkajian
Tujuan dari pengkajian klien sebelum operasi adalah untuk menetapkan fungsi
normal klien perioperatif untuk mencegah dan meminimalkan kemungkinan
komplikasi pascaoperasi. Rawat jalan dan program bedah pada hari yang sama
memberikan tantangan dalam pengumpulan pengkajian lengkap dalam waktu yang
terbatas. Klien hanya diterima dalam waktu beberapa jam sebelum pembedahan,
sehingga sangat penting bagi anda untuk mengatur dan memverifikasi data yang
diperoleh sebelum operasi dan menerapkan rencana perawatan perioperatif.

13
Sebagian besar pengkajian dimulai sebelum memasuki ruang bedah, tempat
penyedian layanagn kesehatan, klinik tempat penerimaan, klinik anestesi, atau
melalui telepon. Agar tidak membuang-buang waktu menduplikasi informasi dari
pemeriksaan praoperasi, fokuslah pada pengukuran penting untuk semua sistem tubuh
untuk memastikan bahwa tidak seorang pun mengabaikan masalah yang penting.
a. Riwayat keperawatan
Anda akan melakukan wawancara awal untuk mengumpulkan riwayat klien.
Jika klien tidak dapat dihubungkan dengan semua informasi yang diperlukan,
percayakan pada anggota keluarga sebagai sumber daya.
b. Riwayat Kesehatan
Tinjauan ulang riwayat medis klien ini termasuk penyakit dan operasi masa
lalu serta alasan utama mencari perawatan medis. Rekam medis klien saat ini dan
catatan medis dari rumah sakit masalalu adalah sumber data. Penyakit yang sudah
ada sebelumnya memengaruhi piliha agen anastesi yang di gunakan, serta
kemampuan klien untuk menoleransi operasi dan mencapai pemulihan penuh.
Tinjau kembali apakah klien menjalani apakah klien menjalani operasi rawat
jalan untuk kondisi medis yang meningkatkan resiko untuk komplikasi selama
atau setelah operasi. Sebagai contoh, klien yang memiliki riwayat gagal jantung
kongesif (congesive heart failure/CHF) mungkin mengalami penurunan lenih
lanjut dalam fungsi jantung, baik intraoperasi atau pascaoperasi.
Riwayat pembedahan sebelumnya memengaruhi tingkat perawatan fisik yang
dibutuhkan setelah prosedur pembedahan yang akan datang. Sebagai contoh, klien
yang telah menjalani toratoktomi sebelumnya memiliki resiko lebih besar untuk
komplikasi paru pascabedah reseksi tumor paru-paru dibandingkan dengan klien
dengan paru-paru normal.
c. Faktor Resiko
Berbagai kondisi dan faktor meningkatkan risiko operasi seseorang. Pengetahuan
tentang faktor resiko memungkinkan anda untuk mengambil tindakan yang
diperlukan dalam perencanaan perawatan.
1. Umur

14
Klien yang sangat muda dan sangat tua memiliki resiko selama operasi
karena belum matang atau menurunnya status fisiologis. Angka mortalitas
lebih tinggi pada klien bedah yang sangat muda dan sangat tua. Selama
operasi, perawat dan pemberi layanan kesehatan sangat memperhatikan hal
yang berkaitan dengan mempertahankan suhu tubuh normal bayi. Bayi
memiliki refleks menggigil yang belum cukup berkembang, dan variasi
tentang sushu sering terjadi.
Selama operasi, bayi mengalami kesulitan mempertahankan volume
sirkulasi darah normal. Seorang bayi memiliki jumlah volume darah total
yang lebih sedikit dibandingkan anak yang lebih tua orang dewasa. Bahkan
kehilangan sejumlah kecil darah menjadi masalah yang serius. Mengurangi
volume sirkulasi menyulitkan bayi untuk merespon tuntutan peningkatan
oksigen selama operasi.
Seiring usia yang lebih tinggi, klien memiliki kapasitas fisik yang
menurun untuk beradaptasi dengan stres operasi karena penurunan fungsi
tubuh tertentu. Meskipun beresiko, sebagian besar klien yang menjalani
operasi adalah lansia.
2. Nutrisi
Jaringan normal memperbaiki diri dan bertahan terhadap infeksi
tergantung pada gizi yang cukup. Bedah mengintensifkan kebutuhan ini.
Setelah operasi, klien membutuhkan minimal 1500 kkal/hari untuk
memelihara cadangan energi. Peningkatan protein, vitamin A dan C. Seorang
klien yang kekurangan gizi rentan terhadap toleransi yang rendah terhadap
anestesi, keseimbangan negatif nitrogen dari kekurangan protein, gangguan
mekanisme pembekuan darah, infeksi, penyembuhan luka yang lama, dan
potensi untuk kegagalan multiorgan. Banyak klien yang di rawat di rumah
sakit menampilkan beberapa derajat gizi buruk. Jika klien telah menjalani
operasi elektif, coba perbaiki ketidakseimbangan nutrisi sebelum operasi.
Namun, jika klien yang kurang gizi harus menjalani prosedur darurat, upaya
untuk memulihkan gizi dilakukan setelah operasi.

15
3. Obesitas
Obesitas meningkatkan resiko pembedahan dengan mengurangi fungsi
ventilasi dan fungsi jantung. Apnea obstruksif, hipertensi, penyakit arteri
koroner, diabetes melitus, dan gagal jantung kongesif yang umum di populasi
bariatrik (kegemukan). Embolus, atelektasis, dan pneumonia juga merupakan
komplikasi pascaoperasi yang lebih sering pada klien yang obesitas. Klien
sering mengalami kesulitan memulai kembali aktivitas fisik normal setelah
pembedahan serta rentan untuk penyembuhan luka dan infeksi luka karena
struktur jaringan lemak yang kurang berisi suplai darah. Sering kali sulit untuk
menutup luka bedah klien yang obesitas karena adanya lapisan adiposa yang
tebal, sehingga klien beresiko untuk mengalami dehisens (pembukaan garis
jahitan) dan pengeluaran isi perut yang menonjol melalui sayatan bedah.
4. Apnea Tidur Obstruksif (Obstruktive Sleep Apnea/OSA)
OSA adalah sindrom periodik, obstruksi jalan nafas lengkap atau
sebagian saat tidur. Hal ini sering diakibatkan oleh desaturasi oksigen saat
tidur. Kaji riwayat diagnosis OSA dan penggunaan saluran udara tekanan
positif kontinu (CPAP), tekanan ventilasi positif noninvasif (NIPPV), atau
pemantauan apnea. Anjurkan klien dengan diagnosis OSA menggunakan
CPAP atau NIPPV untuk membawa mesin mereka sendiri ke rumah sakit atau
pusat bedah rawat jalan. Namun, banyak klien dengan OSA tidak terdiaknosis.
Oleh karena itu, untuk mengkaji resiko OSA, pertanyaan difokuskan untuk
klien dan keuarga tentang mendengkur, apnea saat tidur, sering tersadar saat
tidur, sakit kepala pagi, kantuk sinag hari, dan kelelahan kronis.
5. Imunokompromis
Untuk klien dengan kanker, sumsum tulag dapat berubah dan
meningkatkan risiko infeksi. Selain itu, terapi radiasi kadang-kadang
diberikan sebelum operasi untuk mengurangi ukuran tumor/kanker sehingga
dapat dilakukan pembedahan. Radiasi memiliki beberapa efek pada jaringan
normal yang tidak dapat dihindari, seperti kelebihan penipisan lapisan kulit,
kerusakan kolagen, dan gangguan vaskularisasi jaringan. Idealnya dokter
bedah menunggu untuk melakukan operasi 4-6 minggu setelah selesai

16
perawatan radiasi. Jika tidak, klien mugkin menghadapi masalah
penyembuhan luka serius. Selain itu, obat kemoterapi digunakan untuk
pengobatan kanker, obat imunosupresi digunakan untk mencegah penolakan
setelah kondisi transplantasi organ meningkatkan resiko infeksi.
6. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit
Tubuh merespons operasi sebagai bentuk trauma. Pemecahan sejumlah
besar protein menyebabkan keseimbangan nitrogen negatif, dan terjadi
peningkatan tingkat glukosa darah. Sebagai hasil dari respons stres
adrenokortikal, tubuh menahan natrium dan air, dan mengeluarkan kalium
dalam 2 sampai 5 hari pertama setelah operasi. Tingkat keparahan dari respon
stres memengaruhi tingkat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
7. Persepsi dan pengetahuan tentang bedah
Pengalaman masa lalu klien terhadap operasi memengaruhi respons
fisik dan psikologis terhadap prosedur. Kaji pengalaman klien yang
sebelumnya terhadap operasi sebagi dasar untuk pengajaran, mengatasi
ketakutan,dan menjelaskan kekhawatiran. Minta klien untuk mendiskusikan
jenis operasi sebelumnya, tingkat ketidaknyamanan, tingkat kecacatan, dan
tingkat perawatan ynag dibutuhkan secara keseluruhan.
Pengalaman bedah memengaruhi keutuhan keluarga secara
keseluruhan, begitu juga klien. Oleh karena itu, persiapkan baik klien dan
keluarga untuk pengalaman bedah. Pemahaman terhadap pengetahuan klien
dan keluarga, harapan dan persepsi memungkinkan anda untuk merencanakan
pengajaran dan untuk memberikan tindakan dukungan emosional individual.
Setiap klien merasa takut terhadap tempat pembedahan. Beberapa
dikarenakan pengalaman masa lalu di rumah sakit, peringatan dari teman dan
keluarga, atau kurangnya pengetahuan. Kaji pemahaman klien dari operasi
yang direncanakan, implikasinya, dan kegiatan pascaoperasi yang
direncanakan. Ajukan pertanyaan seperti ceritakan apa yang anda pikir akan
terjadi sebelum dan sesudah operasi atau jelaskan apa yang anda ketahui
tentang operasi.

17
d. Riwayat Pengobatan
Jika klien secara teratur menggunakan resep atau obat diluar, dokter
bedah atau pemberi anastesi mungkin menghentikan sementara obat tersebut
sebelum oerasi atau menyesuaikan dosis. Obat tertentu memiliki implikasi
khusus untuk klien bedah, menciptakan resiko lebih besar untuk komplikasi.
Tanya klien jika mereka mengonsumsi obat-obatan herbal, karena banyak
klien melihat herbal tidak sebagai obat-obatan dan sering menghilangkannya
dari riwayat pengobatan mereka. Untuk klien yang di rawat di rumah sakit,
obat resep yang diambil sebelum operasi secara otomatis dihentikan
pascaoperasi kecuali pemberi layanan kesehatan meneruskan pengobatan
tersebut.
1. Alergi
Kaji adanya alergi obat-obatan yang klien terima selama periode
perioperatif. Selain itu, kaji terhadap alergi lateks, makanan, dan alergi
kontakk (misalnya; plester, salep, atau solusi cairan).
2. Sumber Dukungan
Penting untuk menentukan sejauh mana dukungan dari anggota keluarga
dan teman-teman klien. Karena keluarga tidak selalu berarti hubungan
darah, maka yang terbaik adalah membiarkan klien mengidentifikasi
sumber dukungannya.
e. Pengkajian Nyeri Praoperasi
Pengkajian praoperasi harus mencakup penggunaan instrumen rasa sakit untuk
menilai keberadaan dan tingkat keparahan nyeri. Beberapa instrumen untuk
klien anak dan dewasa telah menunjukkan reliabilitas dan validitas.
Pengkajian nyeri sering kita perlukan untuk mengingatkan perawat untuk
mengobati rasa sakit dan menilai keberhasilan dari intervensi nyeri.
C. Tinjauan Kesehatan Emosional
Ketika klien memiliki penyakit kronis, keluarga yang bersangukatn takut bahwa
operasi akan mengakibatkan cacat lebih lanjut atau berharap bahwa ini akan
meningkatkan gaya hiduo mereka.

18
Untuk memehami dampak operasi pada klien dan kesehatan emosional keluarga, kaji
perasaan klien tentang operasi, konsep diri, citra tubuh, dan sumber koping.
1. Operasi
Bedah pengangkatan dari setiap bagian tubuh yang sakit sering meninggalkan
cacat permanen. Kehilangan fungsi tertentu (misalnya, dengan kolostomi atau
amputasi) mungkin membentuk kekhawatiran klien. Kaji perubahan citra tubuh
yang akan klien terima akibat hasil dari operasi. Individu akan bereaksi berbeda
tergantung pada kebudayaan mereka, usia, konsep diri, dan harga diri.
2. Konsep diri
Klien degan konsep diri positif lebih mungkin untuk mengalami pendekatan
pengalaman bedah yang tepat. Kaji konsep diri dengan meminta klien untuk
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan pribadi. Klien yang cepat mengkritik
atau menghina karakteristik pribadi mungkin memiliki penghargaan diri yang
rendah.
3. Sumber koping
Pengkajian perasaan dan konsep diri mengungkapkan apakah klien dapat
mengatasi stress pada pembedahan. Tanyakan klien tentang manajemen stres
masa lalu dan perilaku yang membantu menyelesaikan segala ketegangan atau
kegugupan. Ketika melihat sumber koping klien, tanyakan klien tentang anggota
keluarga dan teman-teman tertentu yang mungkin memberikan dukungan.
D. Pemeriksaan Fisik
1. Survei umum
Kaji klien terhadap penampilan kurang gizi. Tingi, berat badan, dan riwayat
penurunan berat badan baru-baru ini merupakan indikator yang penting untuk
status gizi. Tanda-tanda vital preoperatif, termasuk tekanan darah saat duduk dan
berdiri, memberikan data dasar yang penting untuk membandingkan perubahan
yang terjadi selama dan setelah operasi.
2. Kepala dan leher
Periksa platum lunak dan sinus hidung. Sinus drainase adalah indikasi infeksi
sinus atau pernapasan. Periksalah distensi vena juguralis. Kelebihan cairan dalam
sistem peredaran darah atau kegagalan jantung untuk berkontraksi secara efisien

19
menyebabkan distensi vena juguralis dan mengungkapkan resiko komplikasi
kardiovaskuler selama operasi.
Selama pemeriksaan mukosa oral, identifikasi apakah ada gigi yang longgar atau
gigi palsu karena mereka bisa lepas selama intubasi endotrakeal. Catat gigi palsu
sehingga mereka dapat dilepaskan sebelum operasi khususnya jika klien akan
menerima anastesi umum.
3. Kulit
Hati-hati memeriksa kulit, terutama pada kulit diatas tulang yang menonjol,
seperti tumit, siku, sakrum, dan tulang belikat. Selam operasi, klien sering kali
diletakkan pada posisi tetap selama beberapa jam. Akibatnya, klien memiliki
peningkatan risiko ulkus tekan.
4. Toraks dan Paru
Pengkajian pada pola pernapasan klien dan ekskursi dada dapat mengukur
kapasitas ventilasi. Penurunan fungsi ventilasi menempatkan klien pada resiko
untuk komplikasi pernapasan. Auskultasi suara napas akan menunjukkan apakah
klien mengalami kongesti paru atau penyempitan saluran napas. Atelektasis atau
uap air yang ada dalam saluran udara akan memperburuh pernapasan klien selama
operasi.
5. Jantung dan Sistem Vaskular
Kaji karakter denyut apikal dan dengarkan suara jantung. Kaji denyut perifer,
pengisian kembali kapiler, serta warna dan suhu ekstremitas. Jika denyut nadi
perifer tidak terab, gunakan instrumen doppler untuk mengkajinya.waktu
pengisian kembali kapiler yang dapat diterima adalah kurang dari 2 detik.
6. Abdomen
Kaji abdomen untuk ukuran, bentuk, dan adanya distensi. Tanyakan apakah klien
buang air besar dengan teratur, dan tanyakan tentang warna dan konsistensi feses.
Auskultasi bunyi usus.
E. Pemeriksaan diagnostik :
1. Fotosinar-X dada adalah pemeriksaan kondisi jantung dan paru-paru
2. EKG adalah mengukur aktivitas listrik jantung untuk menentukan apakah denyut
jantung, irama, dan factor lainnya normal.

20
F. Diagnosis keperawatan
Kelompokan pola dalam mendefinisikan karakteristik yang dikumpulkan selama
pengajian untuk mendefinisikan diagnosis keperawatan untuk klien bedah. Klien
dengan masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya cenderung memiliki berbagai
diagnosis berisiko. Sebagai contoh, klien yang sudah menderita bronkitis, memiliki
suara nafas tidak normal dan batuk produktif, akan berisiko untuk tidakefektifnya
bersihan jalan nafas. Sifat operasi dan status kesehatan klien memberikan definisi
karakteristik untuk beberapa diagnosis keperawatan. Sebagai contoh klien yang
sedang mengalami pembedahan yang berisiko dalam berkembangnya infeksi di lokasi
bedah, di lokasi IV, atau dalam aliran darah (sepsis). Diagnosis risiko infeksi akan
membutuhkan perhatian anda dari saat masuk sampai masa pemulihan.
G. Intervensi
Intervensi untuk keperawatan perioperatif menyedikan klien /keluarga pemahaman
lengkap tentang operasi dan menekankan klien secra fisik dan psikologis untuk
intervensi bedah.
a. Invormed consent. Operasi tidak dapat di lakukan secara legal atau etik sampai
klien memahami kebutuhan prosedur, langkah-langkah yang terlibat risiko, hasil
yang diharapkan dan pengobatan alternative.
b. Promosi kesehatan. Kegiatan promosi kesehatan selama fase praoperasi focus
pada pemeliharaan kesehatan, pencegahan komplikasi, dan dukungan rehabilitasi
yang mungkin dibutuhkan pascaoperasi.
1) Pendidikan praoperatif
Pendidikan untuk klien merupakan aspek penting dari pengalaman bedah
klien, disediakan dalam format yang sistematis dan terstruktur dengan prinsip-
prinsip mengajara dan belajar, pendidikan praoperatif berkaitan dengan
harapan klien pascaoperasi dan memberikan pengaruh positif terhadap
pemulihan klien. Perawat memanggil klien sampai dengan 1 minggu sebelum
operasi untuk memperjelas pertanyaan dan memperkuat penjelasan.
2) Klien menyebut alasan intruksi praoperasi dan latihan.
Dengan memberikan dasar pemikiran untuk prosedur praoperasi dan
pascaoperasi, klien lebih siap untuk berpartisipasi dalam perawatan, setiap

21
program pengajaran praoperasi termasuk didalamnya penjelasan dan
demonstrasi latihan pascaoperasi, yaitu pernafasan diafragma, spirometri
insentif, batuk, berbalik, dan olahraga kaki. Latihan ini membantuk .mencegah
komplikasi pascaoperasi.
3) Klien menyebutkan waktu bedah tatalaksana kepada klien dan keluarga
perkiraan waktu operasi akan dimulai dan kapan mereka harustiba di rumah
sakit atau ASC, dokter bedah akan menginformasikan klien dan keluarga
tentang antisipasi lamanya operasi. penundaan yang tidak terduga terjadi
karena berbagai alasan. Buat keluarga mengerti bahwa penundaan terjadi
karena berbagai alas an dan tidak selalu menunjukkan masalah.
4) Klien membahas monitoring dan terapi antisipasi pascaoperasi.
Klien dan keluarga perlu mengetahui tentang peristiwa pascaoperasi jika
mereka memahami frekuensi pemantauan tanda vital pascaoperasi sebelum
hari operasi, mereka akan lebih memperhatikan ketika perawat mengukur
tanda vital. Anda juga menjelaskan apakah klien cenderung untuk memiliki
jalur IV. Pemantauan jalur, perban, atau tabung drainase atau akan
membutuhkan dukungan ventilator.
5) Klien menjelaskan prosedur bedah dan perawatan pascaoperasi.
Setelah dokter bedah menjelaskan tujuan dasar dari prosedur bedah. Beberapa
klien akan mengajukan pertanyaan tambahan untuk menjelaskan informasi.
Pertama, klarifikasi tentang apa yang di dikusikan klien dengan dokter bedah,
ketik aklien memiliki sedikit atau tidak ada pemahaman tentang operasi, ahli
bedah memberitahu bahwa klien membutuhkan penjelasan lebih lanjutan
dapat menambah penjelasannya.
6) Klien menjelaskan kegiatan pascaoperasi jelisoperasi yang klien jalani
menentukan seberapa cepat mereka dapat melanjutkan aktivitas fisik normal
dan kebiasaan makan yang teratur, jelaskan bahwa kemajuan bertahap dalam
aktivitas dan makan adalah hal yang normal. Jika menoleransi dengan baik
aktivitas dan diet, tingka taktivitas akan maju lebih cepat.
7) Klien mengungkapkan penurunan rasa sakit.

22
Nyeri adalah salah satu ketakuatan klien. Nyeri setelah operasi tidak terduga.
Informasikan klien dan keluarga tentang intervensi yang tersedia untuk
mnghilangkan rasa sakit misalnya, analgesik, posisi, belat, dan latihan
relaksasi klien perlu mengetahui jadwal untuk obat analgesik, rute pemberian
dan efekefeknya.
8) Klien mengungkapkan perasaan mengenai bedah.
Kenali klien sebagai individu yang unik. Klien dan keluarga perlu waktu
untuk mengungkapkan perasaan tentang operasi. Tingkat kecemasan klien
mempengaruhi frekuensi diskusi. Sementara pemberian perawatan rutin,
dorong klien untuk mengekspresikan kecemasan. Keluarga dapat membantu
mendiskusikan masalah tanpa klien, sehingga rasa takut mereka tidak akan
menakuti klien atau sebaliknya.
H. Perawatan Akut
Kegiataan perawatan akut dalam tahap praoperasi fokus pada intervensi secara fisik
mempersiapkan klien untuk bedah.
1. Persiapan fisik
Tingkat perawatan fisik sebelum operasi tergantung pada status kesehatan klie,
opersi direncanakan, dan preferensi dokter bedah. Seorang klien yang mengalami
sakit yang serius menerima perawatan yang lebih mendukung dalam bentuk
obat-obata, terapi cairan IV, dan monitoring daripada klien yang menghadapi
prosedur elektif kecil.
2. Penatalaksanaan Cairan Normal dan Keseimbangan Elektrolit
Klien bedah rentan terhadap ketidakseimbangan cairran dan elektrolit sebagai
akibat dari asupan yang tidak memadai atau kehilangan cairan berlebihan selama
operasi. Seorang klien biasanya tidak mengonsumsi apa-apa melalui mulut
(NPO) setelah tengah malam pada pagi hari operasi, untuk menjaga perut
kosong, dengan demikian akan mengurangi resiko muntah dan aspirasi. Puasa
dari asupang ringan atau non-ASI selama 6 jam atau lebih, ASI selama 4 jam
atau lebih, dan cairan murni selama 2-3 jam sebelum prosedur elektif yang
membutuhkan anastesi umum, anestesi regional, atau sedasi, sekarang
direkomendasikan.

23
Selama operasi, mekanisme normal untuk mengendalikan keseimbangan cairan
dan elektrolit, termasuk respirasi, pencernaan, sirkulasi, dan eliminasi akan
terganggu. Kehilangan darah yang banyak dan cairan tubuh lainnya kadang-
kadang terjadi. Sebelum operasi, klien di dukung untuk makan makanan tinggi
protei, dengan karbohidrat, lemak, dan vitamin yang cukup. Jika klien tidak bisa
makan karena perubahan gastrointestinal atau kerusakan dalam kesadaran, anda
mungkin akan melalui rute IV untuk mengganti cairan.
3. Pengurangan Risiko Infeksi Bedah
Risiko mengalami infeksi luka bedah ditentukan oeh jumlah dan jenis
mikroorganisme yang mencemari luka, kerentanan dari penderita, dan luka
bedah itu sendiri. Kulit merupakan tempat favorit mikroorganisme untuk tumbuh
dan berkembang biak. Tanpa persiapan kulit yang tepat, risiko infeksi luka
pascaoperasi akan tinggi. Banyak dokter bedah meminta klien mandi atau
membersihkan diri saat malam sebelum operasi.
4. Pencegahan Inkontinensia Bowel dan Kandung Kemih
Manipulasi bagian dari saluran pencernaan selama operasi menghasilkan
ketiadaan peristaltik selama 24 jam dan kadang-kadang lebih lama. Usus kosong
mengurangi risiko cedera pada usus dan meminimalkan kontaminasi dari luka
operasi jika sebagian usus diinsisi atau dibuka sengaja atau jika operasi usu
direncanakan.
5. Promosi Istirahat dan Kenyamanan
Istirahat penting untuk penyembuhan normal. Kegelisahan tentang operasi yang
akan datang dengan mudah dapat mengganggu kemampuan untuk bersantai atau
tidur. Kondisi dasar yang membutuhkan pembedahan sering menyakitkan, dan
mengganggu istirahat lebih lanjut. Cobalah untuk membuat linkungan klien
dengan tenang dan nyaman.
I. Persiapan pada Hari Pembedahan
Perawat menyelesaikan beberapa prosedur rutin sebelum mengirimkan klien untuk
perasi :
1. Kebersihan

24
Langkah-langkah dasar kebersihan memberikan kenyamanan tambahan sebelum
operasi. Jika klien di rawat di RS tidak mau mandi lengkap, maka mandi parsial
dapat menyegarkan dan menghilangkan sekresi yang mengganggu atau drainase
dari kulit.karena klien tidak bisa memakai pakaian tidur pribadi ke ruang operasi
karena dapat membahayakan, sediakan baju RS yang bersih. Jika klien telah
NPO beberapa jam terakhir, mulut klien sering kali menjadi snagat kering.
Tawarkan klien obat kumur dan pasta gigi, sekali lagi peringatkan klien untuk
tidak menelan.
2. Rambut dan Kosmetik
Selama operasi dengan klien dibawah anastesi umum, kepala klien diposisikan
untuk memasukkan sebuah selang endotrakeal ke jalan napas. Prosedur ini
mungkin meibatkan manipulasi rambut dan kulit kepala klien. Untuk
menghindari cidera, inta klien untuk tidak menggunakan jepit rambut atau klip
sebelum berangkat operasi. Jepit rambut dan klip dapat menjadi sumber listrik
dan menyebabkan luka bakar. Hapus hiasan rambut atau juga rambut palsu.
Kepang atau ikat rambut panjang. Klien menggunakan topi sekali pakai sebelum
memasuki ruangan operasi.
3. Melepas Potesa
Semua jenis perangkat palsu sangat mudah hilang atau rusak selama operasi.
Klien perlu melepas potesa, termasuk gigi palsu, mata buatan, dan alat bantu
dengar. Jika klien memiliki penjepit atau belat, tanyaka kepada penyedia layanan
kesehatan untuk menentukan apakah bisa tetap digunakan oleh klien.
4. Nilai Kemanan
Jika klien mempunyai barang berharga, berikan semua kepada keluarga atau
simapn untuk diamankan. Banyak RS meminta klien untuk menandatangani surat
untuk membebaskan institusi dari tanggung jawab atas barang berharga yang
hilang.
6. Mempersiapkan usus dan kandung kemih
Beberapa klien membutuhkan enema atau katartik di pagi hari sebelum operasi
untuk memastikan usus kosong. Jika demikian, berikan setidaknya satu jam
sebelum klien akan pergi, berikan waktu bagi klien untuk defekasi tanpa terburu-

25
buru. Instruksikan klien untuk BAK sebelum berangkat ke ruang operasi dan
sebelum memberikan obat preoperasi. Kandung kemih yang kosong mengurangi
rasa tidak nyaman selama prosedur dan mengurangi risiko inkontinensia selama
operasi.
7. Tanda-tanda Vital
Perawat mengukur suatu set tand vital final preoperatif. Jika tanda-tanda vital
praoperasi tidak normal, pembedahan mungkin perlu di tunda. Beritahukan
penyedia layanan kesehatan akan setiap kelanan, sebelum mengirim klien untuk
operasi.
8. Dokumentasi
Sebelum klien pergi ke ruang operasi, periksa isi laporan medis untuk
memastikan bahwa hasil laboratorium yang bersangkutan telah tersedia. Periksa
formulir persetujuan untuk keakuratan informasi. Sebuah daftar praoperasi
menyediakan pedoman untuk memastikan penyelesaian intervensi keperawatan.
Periksa catatan keperawatan untuk memastikan bahwa dkumentasi perawatan
adalah yang terkini.
9. Melakukan prosedur khusus
Beberapa klien membutuhkan pemasanfan infus IV atau tabung nasogastrik
sebelum berangkat untuk operasi atau di tempat praoperasi.
10. Pemberian pengobatan praoperasi
Munculnya bedah rawat jalan telah mengurangi penggunaan obat sebelum
operasi. Namun, penyediaanestesi atau bedah kadang-kadang meminta obat
preanestesi untuk mengurangi kecemasan klie, sejumlah anestesi umum
diperlukan, resiko mual dan muntah dan aspirasi resultan, serta sekresi saluran
pernapasan.
11. Sensitivitas lateks/alergi
Ketika insiden dan preavalensi sensitivitas latelks dan alergi meningkat,
kebutuhan untuk mengenali sumber potensi lateks sangat penting. Ruang operasi
dan unit perawatan pascaanestesi (PACU) berisi produk-produk yang
mengandung lateks yang tak terhitung banyaknya.

26
Tanda dan gejala reaksi lateks meliputi efek lokal mulai dari urtikaria dan
tonjolan merah datar atau tinggi ke vaskuler, scaling, atau erupsi perdrahan.
Dermatitis akut kadang-kadang terjadi. Rhinitis dan/atau rhinorrea adalah reaksi
umum lainnya baik pada reaksi lateks ringan dan berat.
J. Transpormasi ke ruangan operasi
Personil diruangna operasi memberitahukan deivisi keperawatan atau area operasi
bila waktu operasi telah tiba. Dibanyak rumah sakit, perawat atau transpoter diminta
membawa tandu untuk mengakut klien. Transpoter mengcek gelang indentifikasi
klien untuk dua pengidentifikasian terhadap klien untuk memastikan bahwa orang
yang tepat akan dioperasi. Karena beberapa klien menerima obat praoperasi, para
perawat dan transpoter membentu klien saat dipinda dari tempat tidur ke brankar
untuk mencegah jautuh. Klien rawat jalan yang akan operasi dibawa keruangan
operasi jika mampu dan tidak perlu obat-obatan,. Berikan keluarga kesempatan untuk
mengujungi klien sebelum diantar ke ruangan operasi. Keluarga langsung keruangan
tunggu. Di beberapa rumah sakit keluarga diperbolehkan untuk menunggu bersama
klien di rungan tunggu sampai dia dibawa ke rungan operasi.
Setelah lien meninggalkan divisi perawat siapkan tempat tidur dan ruangan untuk
mengembalikan klien jika klien kembali ke divisi perawatan yang sama. Sebuah unit
pascaoperasi harus memiliki hal-hal sebagai beikut :
1. Spignomanometer / monitor tekanan darah otomatis noninvasive, stetoskop dan
thermometer.
2. Mangkok emesis, gaun bersih, kain lap, handuk dan tisu wajah, tingkat IV
3. Peralatan pengisap, peralatan O2 dan oksimetri
4. Ekstra bantal untuk memposisikan klien dengan nyaman
K. Evaluasi
Perawat penerima dan perawat di daerah preoperatif mengevaluasi hasil dalam
periode praoperasi. Walaupun waktu yang tersedia untuk mengevaluasi hasil sebelum
operasi sangat terbatas. Bandingkan status klien dengan hasil yang diharapkan untuk
menentukan apakah intervensi yang baru / direvisi dan atau diagnose keperawatan
perlu dilaksanakan. Anda akan dapat mengevaluasi tingkat pengetahuan klien yang
dihasilakan dari intervensi pengajaran. Jadikan evaluasi yang menyeluruh dalam anda

27
yang menentukan apakah intruksi lebih lanjut diperlukan saat operasi. Intervensi
berlanjut selama dan setelah operasi, sehingga untuk menntukan tujuan dan hasil
tidak terjadi sampai setelah proses operasi.

28
BAB IV

KEPERAWATAN BEDAH INTAROPERATIF

A. Tahap bedah intraoperatif


Anestesi dapat dipertahankan dengan obat intravena, anestesi inhalasi, atau kombinasi
keduanya. Pada bayi dan anak yang sakit berat, terutama yang diduga harus
mendapatkan ventilasi pasca bedah, opioids sintesis dosis tinggi, seperti fentalin atau
sufentalin, memberikan anestesi dengan kestabilan hemodinamik dengan sangat baik.
Perawatan klien selama operasi membutuhkan persiapan yang hati-hati dan
pengetahuan tentang peristiwa yang terjadi selama prosedur pembedahan. Perawat
biasanya berfungsi dalam salah satu dari dua peran dalam ruang operasi, perawat
sirkulasi atau perawat scrub. Perawat sirkulasi haruslah seorang RN. Tanggung
jawab perawat sirkulasi meliputi penelaahan terhadap pengkajian praoperasi,
menetapkan, dan melaksanakan rencana perawatan intraoperatif, mengevaluasi
perawatan, serta memastikan kesinambungan perawatan pascaoperasi. Perawat
sirkulasi membantu prosedur yang dibutuhkan seperti intubasi endotrakeal dan
administrasi darah. Selain itu, perawat sirkulasi memonitor teknik streril dan
lingkungan ruang operasi yang aman, membantu ahli bedah dan tim bedah dengan
mengoperasikan peralatan nonstreril, menyediakan pasokan tambahan, verifikasi
spons dan jumlah instrument, serta memastikan catatan tertulis yang akurat dan
lengkap.
1. Area Preoperatif (Holding)
Di beberapa RS, klien memasuki area holding, yang juga dikenal sebagai
unit perawatan preanestesi atau unit perawatan praoperasi (Presurgical Care
Unit PSCU), di luar kamar operasi. Di dalam PSCU, jelaskan langkah yang
akan diambil dalam mempersiapkan klien untuk bedah, pastikan bahwa data
yang diperoleh telah tepat, kaji kesiapan klien baik secara fisik dan emosional,
dan perkuat pengajaran. Perawat di PSCU adalah anggota staf kamar operasi
dan memakai jas, topi, dan sepatu scrub bedah sesuai dengan kebijakan
pengendalian infeksi. Dalam beberapa tempat bedah rawat jalan, perawat primer

29
perioperatif menerima klien, bersikulasi untuk prosedur operasi, dan mengelola
pemulihan klien dan proses keluar.
Di area preoperatif, perawat atau ahli anestesi memasang selang IV ke
lengan untuk membuat rute pengganti cairan dan obat IV. Sebuah tabung besar
(18 gauge) kateter IV digunakan untuk memudahkan cairan infuse dan produk
darah jika diperlukan. Perawat memasang manset tekanan darah, yang tetap di
tempatnya selama operasi sehingga operator anestesi dapat membaca tekanan
darah. Perawat biasanya meninjau daftar praoperasi, dan penyedia anestesi
dapat melakukan pengkajian klien saat ini.
Karena pengobatan praoperasi, klien mulai merasa mengantuk. Suhu di PSCU
dan ruang operasi yang berdekatan biasnya dingin. Tawarkan selimut tambahan
pada klien. Kesadaran mulai menurun saat ini. Lama tinggal klien dalam PSCU
biasanya singkat.
3. Penerimaan di Ruang Operasi
Pindahkan klien ke ruang operasi melalui brankar. Klien biasanya masih
terjaga dan akan melihat perawat dan pemberi layanan kesehatan memakai
masker bedah lengkap, gaun, dan kacamata. Staf dengan hati-hati memindahkan
klien ke meja ruang operasi, pastikan bahwa brankar dan meja operasi terkunci
di tempatnya. Setelah klien di atas meja, kencangkan tali pengaman di sekitar
klien. Dukung klien dengan menjelaskan prosedur dan mendorong klien untuk
mengajukan pertanyaan. Pemandangan dan suara di kamar bedah kadang-
kadang menakutkan bagi klien.
B. Proses keperawatan di tahap bedan intraoperatif
Dalam PSCU, lakukan pengkajian berfokus pada praoperasi untuk memverifikasi
bahwa klien siap untuk operasi dan rencana perawatan intraoperatif. Karena klien
tidak akan mampu berbicara sendiri selagi di bawah anestesi umum, pengkajian
praoperasi di dalam ruang operasi adalah penting untuk keselamatan klien.
C. Implementasi
Fokus utama dari Asuhan Intraoperatif adalah untuk mencegah cedera dan
komplikasi berhubungan dengan anestesi, operasi, posisi, dan penggunaan peralatan.

30
Perawat perioperatif adalah pembela klien selama operasi dan melindungi mertabat
dan hak-hak klien setiap saat.
1. Perawatan Akut
a. Persiapan Fisik : Setelah mengamankan klien di meja kamar operasi, pasang
perangkat monitor untuk klien sebelum operasi. Klien yang menerima
anestesi umum dan regional mendapatkan pemantauan EKG kontinu.
Tempatkan elektroda pada dada dan kaki untuk merekam aktivitas listrik
jantung. Sebuah monitor di kamar operasi menampilkan aktivitas listrik
jantung. Oksimetri pulsasi memonitor saturasi oksigen. Pasang alas pada
kauterisasi listrik pada kulit. Terapkan stoking antiemboli (Misalnya stoking
elastis) atau stoking kompresi sekuensial intraoperatif (terutama untuk kasus-
kasus yang berdurasi lama) atau pascaoperasi sesuai dengan kebijakan
institusi. Dokumentasikan perangkat aplikasi, pengisisan kembali kapiler,
dan toleransi klien terhadap prosedur. Untuk operasi ekstremitas, nilai denyut
perifer distal di lokasi operasi. Ukur suhu secara kontinu melalui kandung
kemih, kerongkongan, atau rektum.
b. Pengenalan Anestesi ; Klien menjalani prosedur bedah menerima satu dari
empat tipe anestesi yaitu :
1. Anestesi umum : Agen anestesi modern lebih mudah untuk pemulihan
dan memungkinkan klien untuk sembuh dengan efek negatif yang lebih
sedikit. Menghasilkan imobilisasi klien yang tenang dan tak bergerak dan
tidak ingat prosedur bedah. Durasi anestesi bergantung pada lamanya
operasi. Risiko terbesar dari anestesi umum adalah efek samping dari
agen anestesi termasuk depresi kardiovaskuler atau iritabilitas, depresi
pernapasan, serta kerusakan hati dan ginjal.
2. Anestesi Regional : Induksi anestesi regional menghasilkan hilangnya
sensasi di daerah tubuh. Metode induksi, seperti tulang belakang,
epidural, atau blok saraf perifer memengaruhi porsi jalur sensorik yang
dibius. Tidak ada kehilangan kesadaran yang terjadi akibat anestesi
regional, tetapi klien sering mengantuk. Operator anestesi memberikan
anestesi regional dengan infiltrasi dan aplikasi lokal. Risiko dapay terjadi

31
pada anestesi ini, karena tingkat anestesi bisa meningkat yang berarti
bahwa agen anestesi bergeral ke atas di tulang belakang, hal ini mungkin
akan mempengaruhi pernapasan. Meninggikan posisi atas tubuh
mencegah paralisisis pernapasan.
3. Anestesi Lokal : Melibatkan hilangnya sensasi di tempat yang diinginkan
(misalnya bagian kulit yang tumbuh atau kornea mata). Agen obat bius
(misalnya lidokain) menghambat konduksi saraf sampai obat tersebut
berdifusi ke dalam sirkulasi. Agen disuntikkan secara lokal atau
dioleskan. Klien mneglami kehilangan dalam sensasi nyeri dan sentuhan
serta aktivitas motorik dan otonom (misalnya mengosongkan kandung
kemih). Anestesi lokal umum dilakukan untuk prosedur minor dalam
operasi rawat jalan. Penyedia perawatan kesehatan sering masuk ke
daerah operasi dengan memberikan anetesi lokal untuk mempromosikan
nyeri pascaoperasi.
4. Sedasi Sadar : Secara rutin digunakan untuk prosedur yang tidak
memerlukan anestesi lengkap melainkan tingkat kesadaran yang ditekan.
Seorang klien dibawah sedasi sadar independen harus mempertahankan
jalan napas yang paten dan ventilasi yang memadai dan mampu merespon
dengan tepat terhadap rangsangan verbal atau stimulasi taktil ringan
(Rothrock, 2007). Sedative IV yang bekerja singkat, seperti midazolam
(Versed) diberikan. Keuntungan dari sedasi sadar meliputi sedasi yang
memadai dan mengurangi rasa takut dan kecemasan dengan risiko
minimal,amnesia, menghilangkan rasa sakit dan rangsangan berbahaya,
tanda-tanda vital klien stabil, serta pemulihan cepat.
D. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Intraoperatif
Selama fase intaoperatif, lanjutkan rencana perawatan praoperasi. Sebagai contoh,
ikuti asepsis ketat untuk meminimalkan risiko infeksi luka bedah. Sepanjang prosedur
operasi, pastikan catatan kegiatan perawatan klien dan prosedur yang dilakukan oleh
personel kamar operasi telah akurat. Dokumentasi perawatan intraoperatif
memberikan data yang berguna untuk periode pascaoperasi klien.

32
E. Evaluasi
Evaluasi intervensi dilakukan selama fase intraoperatif selama prosedur bedah. Terus
pantau tanda vital asupan dan keluaran. Ukur suhu tubuh klien Selma dan setelag
penyelesaian prosedur. Periksa kulit dibawah landasan alas dan didaeran dimana
posisi tertekan. Dan beriakan informasi terkini pada anggota keluarga di rungan
tunggu

33
BAB V

KEPRAWATAN BEDAH PASCA OPERATIF

A. Tahap bedah pascaoperatif


Faslitas ruangan pemulihan dan ruangan perawatan anak harus dapat
memberiakan pengawasan berkesinambungan patensi jalan nafas, ventilasi yang
cukup, dan stabilitas sirkulasi. Sekuele anestesi umum yang sering terjadi pada bayi
dan anak meliputi eksitasi pasca anestesi, muntah dan nyeri. Pada kebanyakn kasus
muntah dapat diredahkan dengan pemberian butirofenon (droferidol), fenotiazin
(proklorferasi), metoklopranid atau ondasentron.
Dimana dalam tahap ini, setelah operasi perawatan klien menjadi kompleks
sebagai akibat dari perubahan fisiologi yang terjadi klien yang menjalani anestesi
umu lebih cendrung mengadapi komplikasi dari pada mereka yang hanya bius lokal
atau sedasi sadar. Klien yang membutuhkan anestesi umum juga memiliki area
operasi yang luas. Sebaliknya, klien bedah rawat jalan yang telah mandapat anestesi
lokal dengan tidak adanya sedasi dan memiliki tanda-tanda vital stabil biasanya
segara eluar dari rumah sakit. Seorang lien yang telah mengalami anestesi regional
atau umm biasanya ditransfer ke PACU akan stabil keluar dari RS, sedangkan klien
yang mendapatkan anestesi lokal pergi langsung ke unit perawatan atau kembali ke
pusat operasi berjalan.
Sebelum program pascaoperasi klien melibatkan dua tahap, yaitu : periode
pemulihan segera dan pemulihan pascaoperasi. Untuk klien bedah rawat jalan,
pemulihan berlangsung hanya 1-2 jam, dan pemulihan terjadi dirumah untuk klien
dirawat dirumah sakit, pemulihan terjadi selama beberapa jam dan menjalani proses
penyembuhan terjadi 1 atu lebih, tergantung pada tingkat operasi dan respon klien.
1. Pemulihan segera pascaoperatif
Sebelum kedatangan klien ke dalam PACU, perawat pacu mendapatkan
data dari tim bedah dikamar operasi mengenai status umum klien dan kebutuhan
peralatan khusus dan asuhan keperawatan.
Ketika klien diterima di pacu, personel memberitahukan wilayah asuhan klien
pada saat kedatangan klien. Hal ini memungkinkan staf keperawatan untuk

34
mengkonfirmasi anggota keluarga. Anda biasanya akan menyaran kan anggota
keluarga untuk tetap berada di ruangan tunggu yang ditunujuka sehingga mereka
dapat ditemui ketika ahli bedah datang untuk mnjelaskan kondisiklien.
Merupakan tangguangjawab ahli bedah menggambarkan status klien, hasil
operasi, dan setiap komplikasi terjadi. Anda dalah sumber yang berharga jika
komplikasi muncul pada tahap operasi.
Ketika klien memasuki PACU, perawat dan anggota tim operasi
mendiskusikan status klien . tujuan keselamatan joint commission 2008 (2007)
pendekatan standar ntuk komunikasi penyerahan yang memberika operasi yang
akurat tentang perawatan klien. Perawatan dan layanan, kondisi saat ini, dan
setiap perubahan terbaru atau diantisipasi. Penyerahan bersifa interaktif. Untuk
klien bedah, laporan tim boleh mencangkup tinjauan agen anestesi yang
diberikan sehingga perawat PACU mampu mengatasi seberapa ceoat klien harus
kembali sadar dan untuk mengantisipasi kebutuhan analgesic. Laporan mengenai
cairan IV atau produk darah yang diberikan selama produk darah yang diberikan
selama operasi untuk keseimbangan cairan an elektrolit. Perawat kamar operasi
atau ahli anatesi membahas apakah ada komplikasi selama operasi, seperti
kehilangan darah yang berlebiha atau penyimpangan jantung. Mereka juga
melaporkan posisi klien intraoperatif dan kondisi kulit. Laporan ini sering terjadi
pada perawat PACU menerima klien perawat PACU berda dekat dengan klien
untuk pemantauan peralatan seperti : monitor tekanan darah noinvansif, monitor
EKG,dan oksimetri pulsasi klien menerima beberapa bentuk oksigen selam
periode pemulihan berlangsung.
2. Keluar dari PACU
Evaluasi kesiapan klien untuk keluar dari PACU dengan sadar kesetabilan
tanda vital dibandingkan dengan data praoperasi . hasil lai keluar termasuk
control tubuh. Fungsi ventilator yang baik dan status oksigenasi. Orientasi
kedaerah sekitarnya. Tidak ada komplikasi sakit dan mual minimal. Drainase
luka terkendali, keluaran urine yang memadai serta keseimbangan cairan dan
elektrolit. Klien yang operasi luas memerlukaan anestesi dengan durasi yang
lebih lama dari biasanya sembuh lebih lambat.

35
Ketika klien siap untuk dipulangkan dari PACU, omunikasi penyeraha lain
terjadi anatar PACU dan perawat pada unit keperawatan. Komunikasi ini melipti
tanda-tanda vital, jenis operasi dan anestesi yang dilakukan, kehilangan darah,
penurunan kesadaran, kondisi fisik umum, adanya jalur IV, tabung drainase dan
tampilan. Laporan perawat PACU membantu perawat pada tatanan perawatan
akut untuk mengantisipasi kebutuhan khusus klien dan mendapatkan peralatan
yang diperlukan.
Staf kamar operasi memindahkan kilen kebrankar menuju ke unit
perawatan. Anggota staf mentransfer klien ke tempat tidur dengan aman. Perawat
PACU,jika membantu memindahkan klien, menunjukan asuhan keperawatan
akut, catatan ruang pemulihan, ulasan kondisi klien dan tentu saja perawatan.
Perawat PACU, juga menlaah ulang perintah penyedia perawatan kesehatan yang
membutuhkan perhatian. Sebelum perawat PACU meninggalkan daerah akut,
staf perawat malakukan satu se pengkajian lengkap tanda vital untuk
membandingkan dengan temuan PACU. Variasi minor tanda vital terjadi setelah
transportasi klien.
3. Pemulihan bedah rawat jalan
Ketelitian dan tingkat perawatan pemulihan pascaoperasi tergantung dari
kondisi klien rawat jalan, jenis operasi, dan anestesi. Dalam beberapa kasus klien
akan melalui kedua tahap I (PACU) dan tahap II pemulihan. Menilai dan merawat
klien yang membutuhkan pemantauan yang ketat sama seperti memantau klien
rawat inap di fase I. dengan mnggunakan PARS, skor 8 sampai 10 menentukan
klien keluar dari PACU. Setelah klien stabil dan tidak lagi memerlukan
pemantauan yang ketat anda mentransfer mereka ke fase pemulihan II. Denga
agen dan anastesi yang baru, klien lebih sadar di ruang operasi. Oleh karena itu,
banyak klien operasi rawat jalan mampu melewati tahap I, ini dikenal sebagai
fasttracking.
Tahap pemulihan II terdiri dari sebuah ruang lengkap dengan kursi-kursi
medis, meja samping da umpan kaki. Fasilitas dapur untuk menyiapkan makanan
ringan dan minuman bisanya terletak di tempat itu, begitu juga dengan kamar
mandi. Telah menambahkan lima area yang berfungsi untuk menilai klien bedah

36
rawat jalan. Yang merupakan postanesthesia recovery score for ambulatory
patient (PARSAP). Suasana tahap II membeikan kenyamanan dan kesejahteraan
klien dan keluarga sampai keluar. Anda memamtau klien tapi tidak pada itensitas
yang sama seperti pada tahap I. pada tahap pemulihan II, mulailah pendidikan
pascaoperasi dengan klien dan anggota keluarga.
Klien dipulangkan ke rumah setekah operasi jika mereka memenehui
riteria tertentu. Bila anda mengguanakan PARSAP< klien harus mencapai skor 18
atau lenih tinggi sebelum pulang. Pengecualian diperbolehkan jika klien tidak
dapat berjalan atau mengguanakan kaki sebelum operasi. Klien dan osa dikenal
atau beresiko tinggi tidak bias keluar dari area pemulihan e rumah sampai mereka
tidak lagi beresiko untuk depresi pernafasan pascaoperasi, dimana membutuhkan
waktu untuk tinggal lebih lama. Mual dan muntah pascaoperasi kadang-kadang
terjadi ketika klien dirumah walaupun gejala tidak muncul di pusat operasi.
Pilihan untuk terapi prokfilaksis meliputi pengguanan obat ondansentron,
stimulasi listrik transkutan acupoint, atau dengan patch skopolamin transdermal.
Tinjau instruksi tertulis dan pasca operasi bersama klien dan keluarga
sebelum memulangkan klien, dan pastikan mereka menyampaikan pemahaman
mereka. Selalu lakukan serah terima klien kepada orang dewasa
bertanggungjawab.
4. Pemulihan Operasi
Klien rawat inap tetap di PACU sampai kondisi merea stabil, mereka emudian
kembali pada defisi perawatan pascaoperasi. Asuhan keperawatan berfokus pada
pengembalian klien ke tingkat kesehatan yang relative fungsional segera
mungkin. Kecepatan pemulihan tergantung pada jenis atau tingkat operasi, factor
resiko, manajemen nyeri, dan komplikasi pascaoperasi.

B. Proses Keperawatan Dalam Perawatan Pascaoperatif


Pada devisi perawatan akut : kaji jalan nafas, peredaran darah, cairan dan elektrolit,
saraf, kulit, dan insisi / status luka, sampai klien keluar dari fasilitas perawatan akut.
Pengelolaan klien juga penting.
1. Pengkajian

37
Setelah pengkajian pada kedatangan klien untuk pemulihan, ukur tanda-
tanda vital dan observasi lainnya setiadaknya setiap 15 menit atau sering,
tergantung kondisi klien dan kebijakan unit.
Pengkajian ini biasanya berlanjut sampai klien keluar dari PACU. Monitor tanda-
tanda vital pad unit perawatan pada pascaoprasi perjam selama 4 jam dan
kemudian setiap 4 jam. Ketika kondisi kien stabil, frekuensi pengkajian biasanya
akan berkuarng menjadisatu kali pershiff sampai klien keluar selalu dasari
frekuensi pengkajian pada kondisi klien saat ini. Jangan berasumsi bahwa
pemantaunlebih lanjut tidak diperlukan jika klien tampak normal ketika
pengkajian awal. Kondisi klien dapat berubah dengan cepat terutama pada periode
pascaoperasi.
Dokumentasi secara saksama hasil pengkajian, ternasuk tanda vital, tingkat
kesadaraan, kondisi balutan atau drainase, tingkat kenyaman, status cairan IV, dan
pengukuran keluaran urine. Masuk data klien pada lembar alur, cata
komputerisasi klien, atau catat kemajuan tertulis. Temuaan awal pemberian dasar
untuk membandingkan perubahan pascaoperasi.
Setelah menyelesaikan pengkajian pada area perawatan akut, segera penuhi
kebutuhan klien, mungkinkan kelurga untik mengujungi, jelaskan tujuan prosedur
pascaoperasi atau peralatan dan status klien. Keluarga perlu tahu bahwa klien
akan tertidur selama hamper seluruh sisa hari itu sebagai efek dari anestesiumum
dan pengobatan nyeri. Ingkan keluarga bahwa hilangnya sensasi dan gerakan di
kaki akan tetap hiang beberapa jam jika klien mendapatkan anestesi spinal atau
epidural.
a. Jalan nafas dan pernafasan
Pada bayi yang lebih muda, terutama usia kurang dari 6 bulan, pemeliharan jalan
nafas dan kecukupan upaya bernafas lebih menimbulan masalah, sesehingga lebih
banyak menggunakan endotrakeal pada kasus-kasus ini, kecuali untuk operasi
yang sangat singkat.
Agen anestesi tertentu menyebabkan depresi pernafasan. Jadi waspadi pernafasan
dangkal, lamabat, dan batuk lemah. Kaji patensi jalan nafas, irama, kedalam
ventilasi, simetris gerakan ding-ding dada, suara nafas dan warna mukosa. Jika

38
bernafas tida biasa dangkal, letakan tangan anda didekat hidung atau mulut klien
merasa hembusan udara. Nilai normal oksimetri pulsa berkisar antara 92% dan
100% saturasi kebingungan pascaoperasi marupakan efek sekuder dari hipoksi,
terutama pada anak.
Alat jalan nafas mulut dan hidung sering dimasukan saat berada di dalam
kamar operasi atau PACU setelah pengangatan selang endotrakeal. Hal ini
memelihara kepatenn jalan nafas sampi klien dapa menlindungi jalan nafas
mereka. Ketia klien terbangun , merka akan meludhkan alat jalan nafas atau
perawat meminta klien meludahinnya, kemampuan untuk melakukannya
menandakan kembali reflex muntah normal.
Pada klien pasca anestesi lidah penyeb sebagian besar penghalang jalan
nafas, pengkajian akan kepatenan jalan nafas yang terus menerus sngat penting.
Klien tetap dalam posisi berbaring miring sampai nafas bersih.
b. Transfuse darah
Kriteria transfusi perioperatif pada anak telah di modifikasi, sebagaian karena
semakinmeningkatkan keamanan hemodilusi ringan serta, makin tinggi terhadap
insfeksi yang ditularkan melalui darah. Keputusan dalam melakukan transfuse
tidak hanya tergantung pada hematokrit saja tetapi, pada perkiraan atau
perhitungan kehilangna darah, perhitugan volume darah, tahap tentu operasi, dan
factor resiko penderita. Misalnya : jika seorang bayi kehilangna 30% volume
daranya selama pemotongan awal kraniotomi atau reseksi hati., yang
mengantisipasi terjadi pendarahan lebih lanjut yang mungkin saja terjadi dengan
cepat maka transfuse tiak boleh ditunda. Sebaliknya anak sehat berusia 12 tahun
dengan berat 45 kg yang kehilangna 30% volume darahnya (sekitar 1200 ml) pada
akhir osteotomi panggul, dengan hemodinamik stabil, keluaran urin sangat baik
dan hematokrit 22% setelah penggantian kristaloid cukup makan transfuse dapat
dihindari.
c. Kontrol Suhu
Biasanya pada bayi akan terjadi hipotermi atau hipertermi, jika ruang
operasi dan lingkungan kamar pemulihan sangat dingin. Klien secara anestesi
menurunkan tingkat fungsi tubuh dan akhirnya menurunkan metabolisme dan

39
suhu tubuh. Ketika klien mulai terbangun, mereka mengeluh mersa diingin dan
tidak nyaman. Lama waktu yang dihabiskan di rungan operasi dan rungan lama
berkontribusi terhadap kehilangan panas. Operasi yang mengharuskan rongga
tubuh terbuka juga berkontribusi terhada kehilangna panas. Monitor suhu dengan
teliti dibagian perawatan akut, karena suhu tinggia mengkin merupakan indikasi
pertama infeksi, evaluasi klien untuk potensi sumber infeksi termasuk lokasi IV,
sayatan luka bedah, serta saluran pernafasan dan saluran kemih.
d. Keseimbangan cairan dan elektrolit
Proses pembedahan klien berisiko untuk mengalami abnormalitas cairan
dan elektrolit. Kaji status hidrasi dan fungsi jantung dan saraf untuk tanda-tanda
perubahan elektrolit. Monitor dan bandingkan nilai-nilai laboratorium dan nilai-
nilai dasar dari klien. Satu-satunya sumber asupan cairan klien segera setelah
pembedaha adalah kateter IV. Periksa lokasi insersi kateter klien untuk
memastikan bahwa kateter benar diposisikan dalam pembuluh darah sehingga
cairan mengalir bebas. Catatan yang akurat dari asupan dan keluaran dapat
menilai fungsi ginjal dan peredaran darah. Ukur semua sumber keluaran,
termasuk urine, keluaran dari pembedahan, darinase lambung, dan drainase dari
luka, dan perhatikan setiap keluaran yang tidak terlihat dari diaphoresis. Kaji
berat badan setiap hari untuk waktu beberapa hari pertama setelah operasi dan
bandingkan dengan berat preoperative.
e. Fungsi neurologis
Selama didalam PACU, klien sering mengantuk, ketika agen di anastesi
dimetabolisme, reflex klien kembali, kekuatan klien kembali, dan tingkat orientasi
normal kembali. Pastikan klien terorientasi dir dan rumah sakit sebelum
dikeluarakan dari PACU. Kaji repleks pupil dan muntah, cengkraman tangan dan
gerakan kaki, jika klien menjalani operasi sebagian sistem saraf, lakukan
pengkajian neuorologis secara lebih menyeluruh.
Klien dengan anestesi regional mulai merasakan fungsi motorik sebelum
sensasi sentuh kembali. Periksa sensai klien sepanjang dermatom (segmen kulit
yang dilapisi oleh segmen tertentu dari sumsum tulang belakang. Mengetahui
dimana anestesi diberikan akan membantu memeriksa distribusi dari saraf tulang

40
belakang yang terkena dampak. Biasanya anda menilai tingkat dermatom dengan
menyentuh klien secara bilateral di dermato yang sama dengan
mendokumentasikan diman klien merasakan sentuhan.
f. Integritas kulit dan kondisi luka
Didalam PACU kaji kondisi kulit klien, titik-titik ruam, peteki, lecet atau
luka bakar. Ruam biasanya menunjukan sensitivitas obat atau alergi. Lecet dan
peteki didapat dari hasil posisi yang tidak sesuai atau tahanan yang melapisi
lapisan kulit atau dari gangguan pembukuan. Rasa terbakar mungkinmenujukan
bahwa landasan alat kauterisasi listrik saahditempata pada kulit klien.
Setelah operasi hamper semua luka bedah diperban untuk melindungi
lokasi luka dan mengumpulakn drainase. Perhatikan jumlah,warna,bau dan
kosistensi drainase diperban. Hal ini paling mudah digunakan untuk segera meliha
drainase serosanguineous pasca operasi. Jia drainase muncul pada permukaan luar
pembalut, cara lain untuk menilai drainase adalah menandai parameter luar dari
drainase dengan plester atau menandai dan member tanggal pad waktu yang
tercatat. Dengan cara ini dapat dngan mudah mencatat jika drainase meningkat.
g. Fungsi perkemihan
Tergantung pada pembedahannya beberapa klien tidak mndapatkan
kembali control fungsi kemih selam 6-8 jam setelah anestesi. Anastesi spinal dan
epidural sering mencegah klen dari sensasi kandung kemih yang penuh. Raba
perut bagian bawah tepat di simfisi pubis untuk mengkaji distensi kandung kemih.
Pembedahan yang melibatan bagia pad saluran kemih biasanya akan
menyebabkan urine berdarah paling sedikit selama 12-24 jam, tergantung pada
jenis operasi. Perawat di perawatan akut akan memberikan pengkajian yang
berkelanjutan dari fungsi perkemihan.
h. Fungsi gastrointestinal
Anestesi memperlambatkan fungsi gastrointestinal dansering menyebakan
mual. Biasanya fase pemulihan langsung, suara usus yang diaukultasi yang di 4
kuadran sering kali hanya sedikit atau bahkan tidak ada. Inspeksi abdomen untuk
memeriksa perut kembung yang mungkin disebabkan oleh akumulasi gas. Pada
klien yang telah menjalankan oerasi perut., kembung akan berkembang jika

41
terjadi pendarahan internal., tetapi ini adalah tanda yang terlambat dari
pendarahan. Distensi juga terjadi pada klien yang mengalami ileus paralitik (suatu
halangan nomekanik karena kurnagnya gerak peristaltic usus). Dari penanganan
operasi dari usus.
Suara denting tinggi disertai oleh distensi perut menunjukan bahwa usus
tidak berfungsi dengan baik. Tanyakan apakah klien membuang gas (flatus) ini
merupakan tanda penting yang menunjukan funsi usus normal.
i. Kenyamanan
Ketika klien bagun dari anestesi umum, sensasi rasa sakit menjadi
menonjol. Klien meraskan nyeri sebelum mendapatkan kembali kesdaran penuh.
Nyeri insisi aku menyabakan klien menjadi gelisah dan mengkin menjadi
tanggungjawab atas perubahan sementara pada tanda vital. Sulit bagi klien untuk
mulai batuk dan sulit bernafas dalam ketika mereka merasa nyeri. Klien
mendapatkan anestesi regional atau local biasanya tidak mengalami sakit pada
awalnya, karena daerah insisi masih dibius. Pengajian atas ketidaknyamaan lien
dan evaluasi terapi nyeri adalah fungsi penting perawat. Skala nyeri metode yang
efektif bagi parawat untuk menilai nyeri pascaoperatif, mengevaluasi respon
terhadap analgesic, dan objektif dokumen keparahan nyeri.
C. Diagnosis Keperawatan
Tentukan status dari dignosa keperawatan praoperasi melalui pembagian pengkajian
data baru pascaoperasi dan mengidentifikasi diagnose baru yang relevan. Diagnosis
sebelumnya seprti gangguan integritas kulit, dapat beranjut setelah masalah
pascaoperasi. Identifikasi factor-faktor resiko baru yang mengarah ke identifikasi
diagnosa keperawatan tambahan.
D. Intervensi
selama fase penyembuhan, gunakan data pengkajian fisi saat ini, dan analisis
perawatan praoperasi untuk renaca perawatan klien. Intruksikan dokter bedah
pascaoperasi juga menjadi pedoman. Instruksi pascaoperasi yang khas meliputi :
1. Pantau tanda vital dan pengkajian khusus dengan sering
2. Jenis cairan IV dan kecepatan cairan
3. Penerusan obat sebelum operasi sebagai kondisi yang memungkinkan

42
4. Cairan dan makanan yang diperoleh lewat mulut
5. Tingkat aktivitas klien yang diperbolehkan untuk dilanjutkan
6. Posisis klien yang harus dipertahakan sementara di tempat tidur
7. Masukan dan keluaran
8. Laboratorium tes dan foto sinar x
9. Arahan khusus
Tujuan dan hasil :
Setelah mendapatkan hasil akhir, klien pada akhirnya akan mencapai tujuan mobilitas
independen pada tingkat praoperasi atau lebih baik. Maka hasil yang diharapkan
adalah sebagai berikut :
1. Tanda-tanda vital klien kembali seperti fase preoperative
2. Saluran respirasi klien paten dan tidak dibantu
3. Cairan dan elektrolit klien tetap seimbang
4. Suhu klien kembali ke awal dan tetap stabil
Menetapkan prioritas :
Dalam PACU, prioritas perawatan meliputi pengkajian dan stabiitas jalan nafas,
intervensi untuk saluran uadara mengalami penurunan serta pengkajian pernafasan
klien, status sirkulasi dan nuerologi, dan control nyeri. Selagi klien baik fokuskan
prioritas pada kemajuan kegiatan klien untuk mengembalikan lien pada fungsi
preopratif atau lebih baik.
Perawatan kelaborasi :
Pada tahapan pemulihan, berkolaborasi pada rencana perawatan dengan terapi
pernafasan,makanan, pekerjaan sosial, perawatan rumah dan hal lain untuk memenuhi
kebutuhan multidispliner klien. Tujuan dan semua disiplin ilmu ini adalah membatu
klien untuk kembali ke tinngkatterbaik yang mungkin pada fungsi dengan transisi
yang lancar kembali kerumah. Peran keluarga dalam rencana perawatan penting
untuk pemulihan.
E. Implementasi
Penyebab utan komplikasi pascaoperasi meliputi luka bedah, efek imobilisasi dan
menjalani proses penyembuhan, resiko praoperasi seperti uasia, serta pengaruh
anestesi dan analgesic. Intervensi keperawatan langsung pada komplikasi pada

43
pascaoperasi sehinggan mencegah klien kembali ketingkat tertinggi dalam fungsi
sebisa mungkin. Kegagalan klien untuk menjadi lebih aktif dalam pemulihan
manembah resiko komplikasi. Hamper semua sistem tubuh terpengaruh.
Pertimabngan keterkaitan semua sistem dan terapiyang diberiakan.
F. Evaluasi
Evaluasi keefektifan perawatan anda berdasarkan hasil yang diharapakan yang
dibuat setelah operasi, dalam semua ruang lingkup bedah, konsultasikan dengan
klien atau keluarga untuk mengumpulkan data evaluasi. Anda dapat mengevaluasi
klien bedah rawat jalan via telpon ke rumah klien. Menanyakan apakah komplikasi
telah berkembang, dan apakah memahami pembahasan atau obat-obatan, lakukan
panggialan telpon 24 jam setelah operasi. Hal ini memungkikan anda untuk
mengevaluasi kemajuan pemulihan.
Dalam perawatan akut evaluasi klien bedah terus berlangsung jika klien gagal
untuk mengalami kemajuan seperti yang diharapkan, revisi rencana keperawatan
klien . lakukan segala upaya untuk membantu klien kembali sehat dan fungsional.
Bagian dari evaluasi anda menentukan sejauh mana klien dan keluarga
mempelajari langkah-langkah perawatan diri. Klien dering harus merawat perban,
ikuti pembatasan kegiatan, teruskan terapi obat-oabatandan amati tanda-tanda dan
gejala komplikasi pada saat pulang ke rumah. Sebuah arahan untuk perawatan
dirumah membantu klien untuk tidak dapat melakukan aktivitas parawatan diri.
Dengan waktu tinggal yang singkat di RS dan pembedahan rawat jalan., sangat
penting untuk mengevaluasi harapan awal klien dengan proses pascaoperasi.

44
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan
Asuhan keperawatan perioperative adalah perawatan yang diberikan sebelum
(praoperasi), selama (intraoperasi), dan setelah operasi (pascaoperasi). Ini terjadi di
rumah Sakit, di pusat-pusat bedah yang ada di rumah sakit, di pusat-pusat bedah yang
berdiri sendiri, atau di kantor-kantor penyedia layanan kesehatan.
Keperawatan perioperatif adalah instilah yang digunakan untuk menggambarkan
keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman bedah pasien.
Selain itu tahapan bedah / perioperati itu sendiri di bagi menjadi 3 tahapan
(praoperasi), selama (intraoperasi), dan setelah operasi (pascaoperasi), dn makalah ini
juga menjelaskan indikasi pembedahan dan klasifikasi pembedahannya.
B. Saran
Bagi para pembaca dan khususnya tenaga kesehatan dengan adanya makalah ini
semoga dapat menambah wawasannya mengenai perioperatif care pada pediatric
sendiri, dan saat kita memberikan asuhan keperawatan agar bisa memberikan asuhan
yang optimal kepada anak / pasien.jangan lupa untuk dibaca dan di mengerti karena ini
menyangkut pembedahan pada anak.

45
DAFTAR PUSTAKA

46