Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN TUMOR OTAK

YUSAN PABEBANG
STIKES TANA_TORAJA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) ataupun ganas
(maligna) membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intra cranial) atau di sumsum
tulang belakang (medulla spinalis). Diagnosa tumor otak ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan radiologi dan patologi
anatomi. Dengan pemeriksaan klinis kadang sulit menegakkan diagnosa tumor otak
apalagi membedakan yang benigna dan yang maligna, karena gejala klinis yang ditemukan
tergantung dari lokasi tumor, kecepatan pertumbuhan masa tumor dan cepatnya timbul
gejala tekanan tinggi intrakranial serta efek dari masa tumor kejaringan otak yang dapat
menyebabkan kompresi, infasi dan destruksi dari jaringan otak.
Jumlah penderita kanker otak masih rendah, yakni hanya enam per 100.000 dari
pasien tumor/kanker per tahun, namun tetap saja penyakit tersebut masih menjadi hal yang
menakutkan bagi sebagian besar orang. Pasalnya, walaupun misalnya tumor yang
menyerang adalah jenis tumor jinak, bila menyerang otak tingkat bahaya yang ditimbulkan
umumnya lebih besar daripada tumor yang menyerang bagian tubuh lain. Tumor susunan
saraf pusat ditemukan sebanyak 10% dari neoplasma seluruh tubuh, dengan frekuensi
80% terletak pada intrakranial dan 20% di dalam kanalis spinalis. Di Indonesia data
tentang tumor susunan saraf pusat belum dilaporkan. Insiden tumor otak pada anak-anak
terbanyak dekade 1, sedang pada dewasa pada usia 30-70 dengan pundak usia 40-65 tahun.
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal secara
sangat cepat pada daerah central nervous system (CNS). Sel ini akan terus berkembang
mendesak jaringan otak yang sehat di sekitarnya, mengakibatkan terjadi gangguan
neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan peningkatan tekanan intrakranial). Hal ini
ditandai dengan nyeri kepala, nausea, muntah dan papil edema. Penyebab dari tumor
belum diketahui. Namun ada bukti kuat yang menunjukan bahwa beberapa agent
bertanggung jawab untuk beberapa tipe tumor-tumor tertentu. Agent tersebut meliptu
faktor herediter, kongenital, virus, toksin, dan defisiensi immunologi. Ada juga yang
mengatakan bahwa tumor otak dapat terjadi akibat sekunder dari trauma cerebral dan
penyakit peradangan. (Fagan Dubin, 1979; Larson, 1980; Adams dan Maurice, 1977;
Merrit, 1979). Untuk Penatalaksanaan tumor otak, yang perlu diperhatikan adalah usia,
general health, ukuran tumor, lokasi tumor dan jenis tumor. Metode yang dapat digunakan
antara lain: pembedahan, radiotherapy, dan chemotherapy. Seorang Perawat berperan
untuk membuat asuhan keperawatan yang tepat bagi klien dengan tumor otak serta
mengimplementasikannya secara langsung mulai dari pengkajian, diagnosa, hingga
intervensi yang harus diberikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Tumor Otak


Tumor otak adalah terdapatnya lesi yang ditimbulkan karena ada desakan ruang
baik jinak maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen, dan tengkorak. (price, A.
Sylvia, 1995: 1030). Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak
(benigna) ataupun ganas (maligna) membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala
(intra cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Neoplasma pada
jaringan otak dan selaputnya dapat berupa tumor primer maupun metastase. Apabila
sel-sel tumor berasal dari jaringan otak itu sendiri disebut tumor otak primer dan bila
berasal dari organ-organ lain (metastase) seperti kanker paru, payudara, prostate, ginjal,
dan lain-lain disebut tumor otak sekunder. (Mayer. SA,2002).
B. Anatomi Otak

Otak merupakan alat untuk


memproses data tentang
lingkungan internal dan
eksternal tubuh yang diterima
reseptor pada alat indera
(seperti mata, telinga, kulit, dan
lain-lain). Data tersebut
dikirimkan oleh urat saraf yang
dikenal dengan system saraf
keseluruhan. System saraf ini
memungkinkan seluruh urat saraf mengubah rangsangan dalam bentuk implus listrik.
Kemudian implus listrik dikirim ke pusat system saraf, yang berada di otak dan urat
saraf tulang belakang. Disinilah data diproses dan direspon dengan rangsangan yang
cocok. Biasanya dalam tahap ini timbul saraf efektor, yang berfungsi untuk
mengirim implus saraf ke otot sehingga otot berkontraksi atau rileks.
Di dalam jaringan system saraf pusat terdapat hirarki control. Banyak rangsangan
sederhana berhubungan dengan tindakan refleks/aksi spontan (misalnya, dengan cepat
kita mengibaskan tangan saat menyentuh piring panas). Otak tidak terlibat langsung
dalam proses identifikasi mengenai tindakan refleks. Tapi, tindakan refleks tersebut
diproses di saraf tulang belakang. Meskipun otak tidak terlibat langsung dalam proses
yang berhubungan dengan aksi spontan, tetap saja kita akan mencerna data/rangsangan
yang dipersepsi alat indera.
Contohnya kita tidak serta-merta menumpahkan sepiring penuh makanan tanpa
alasan kecuali piring itu memang panas sehingga kita refleks menumpahkannya. Atau
bisa juga hal itu disebabkan oleh stress yang kita alami. Fenomena semacam ini adalah
fungsi yang rumit yang terjadi di otak. Bernafas, keseimbangan, menelan, dan
mencerna terjadi, karena fungsi otomatis otak. Dan kita tidak menyadari bahwa
proses tubuh tersebut membutuhkan control yang lembut dan teknik mengatur yang
baik. Otak purba mengontrolnya secara relatif. Misalnya, kita akan menoleh jika
seseorang memanggil nama kita di jalan. Aksi tersebut dikontrol oleh bagian otak yang
lebih baru. Otak dan urat saraf tulang belakang dilindungi oleh tulang (tengkorak
dan tulang belakang secara berurutan) dan dikelilingi oleh cairan otak, yang berfungsi
sebagai alat penahan goncangan.
1. Bagian-Bagian Otak
Otak nampak seperti sebuah kembang kol yang beratnya rata-rata 1,2 kg
pada laki-laki dan 1 kg pada perempuan. Otak dapat dibagi ke dalam tiga bagian
umum, yaitu otak depan, otak tengah, dan otak belakang. Anehnya nama
bagian-bagian tersebut tidak berdasarkan letaknya pada otak (contohnya otak depan
tidak berada di bagian depan). Tapi, nama bagian-bagian tersebut didasarkan pada
posisi saat manusia masih berbentuk embrio. Kemudian posisi bagian-bagian otak
tersebut berubah selama perkembangan janin dalam kandungan.
Otak Belakang terletak di dasar kepala, terdiri d
ari empat bagian fungsional, yaitu medulla oblongata, pons, bentuk reticular
(reticular formation), dan cerebellum.
a. Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri
badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla mengontrol
funsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan
pencernaan.
b. Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak
bersama dengan formasi reticular. Ponslah yang menentukan apakah kita terjaga
atau tertidur.
c. Formasi Reticular memiliki peranan penting dalam pengaturan gerakan dan
perhatian Anda. Formasi reticular seolah-olah berfungsi untuk mengaktifkan
bagian lain dalam otak.
d. Selain bagian-bagian yang telah disebutkan tadi, ada juga bagian yang
dinamakan cerebellum dengan banyak lilitannya. Cerebellum disebut juga otak
kecil yang berkerut sehingga hampir seperti otak besar (otak secara
keseluruhan). Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak. Tapi,
sebenarnya fungsi tersebut perlu dipelajari dan dilatih, seperti keseimbangan
dan koordinasi. Misalnya saat berjalan, apabila jalan yang kita lalui sudah biasa
dilewati, maka tanpa berpikirpun, kita sudah bisa sampai ditujuan. Itulah salah
satu kegunaan cerebellum, yang berfungsi sebagai kendali/ control atas gerakan
kita.
Otak Tengah merupakan pusat
saraf dalam lingkup kecil. Otak
tengah adalah lanjutan dari
formasi reticular dan merespon
pendengaran dan pengelihatan
(seperti gerak mata). Otak
tengah tampaknya lebih
penting fungsinya pada
hewan mamalia daripada
manusia, karena pada manusia
yang lebih dominan digunakan adalah otak depan. Otak tengah adalah bagian
terbesar pada otak. Bagiannya yang paling utama adalah korteks yang
mengandung kurang lebih 10 miliar saraf dan terletak pada lapisan luar otak.
Otak tengah juga merupakan puncak fungsional otak yang respon terhadap
fungsi yang lebih rumit, tindakan sengaja, dan kesadaran.Adapun bagian-
bagian penting otak depan adalah thalamus, hypothalamus, dan system limbic.
e. Thalamus terdiri dari sejumlah pusat saraf dan berfungsi sebagai tempat
penerimaan untuk sensor data dan sinyal-sinyal motorik. Contohnya untuk
mengirim data dari mata dan telinga menuju bagian yang tepat dalam korteks.
f. Hypothalamus berfungsi untuk mengontrol nafsu makan dan syahwat dan
mengatur kepentingan biologis lainnya. Hypothalamus, thalamus, otak tengah,
dan otak belakang (tidak termasuk cerebellum) bersama-sama membentuk apa
yang disebut tangkai/batang otak (the brain stem). Batang otak berfungsi
untuk mengatur seluruh proses kehidupan yang mendasar. Jika batang otak
tersebut kekurangan aktivitas (kurang dirangsang), maka menurut psikiater akan
menyebabkan brain death atau kelumpuhan otak.
g. Di antara pusat otak dan korteks terletak system limbic (limbic berasal dari
bahasa Latin yang berarti batas). Anatomi system limbic ini hampir seperti
hypothalamus. System limbic memungkinkan kita mengontrol insting/naluri
kita. Misalnya, kita tidak serta merta memukul seseorang yang tidak sengaja
menginjak kaki kita. System limbic terdiri dari tiga bagian utama, yaitu
amygdala dan septum yang berfungsi mengontrol kemarahan, agresi, dan
ketakutan, serta hippocampus yang penting dalam merekam memori baru.
h. Korteks (korteks cerebral) adalah helaian saraf yang tebalnya kurang dari 5
mm, tapi luas bagiannya mencapai 155cm. korteks menyusun 70 persen bagian
otak. Lipatan korteks yang erat kaitannya dengan tengkorak manusia membuat
otak tampak berkerut. Saraf dalam korteks memproses data. Warna korteks
kelabu (inilah alasan mengapa korteks diistilahkan dengan benda/zat kelabu
the grey mater). Korteks pun secara luas berhubungan satu sama lain (dengan
bagian dalam otak). Jaringan panjang yang menghubungkan bagian-bagian
terpisah (secara luas) pada otak tersusun dari saraf yang tertutup penyekat
berlemak yang disebut myelin. Myelin membuat jaringan tersebut berwarna
putih (disebut juga benda/zat putih)Korteks mempunyai sejumlah struktur
dan bagian-bagian fungsional. Yang paling nyata dari pembagian ini adalah
belahan kiri dan kanannya.
Beberapa ahli berpendapat bahwa kedua belahan otak dihubungkan oleh
sebuah bundel serat tebal yang disebut corpus callosum. Corpus callosum
membantu menyatukan aktivitas otak (memberitahu otak kiri tentang apa yang
dilakukan otak kanan, juga sebaliknya). Pembagian penting lainnya dalam
korteks adalah empat buah lobus atau cuping, yaitu temporal, frontal, occipital,
dan parietal.
Bagian-bagian tersebut dinamai berdasarkan letaknya setelah tulang
tengkorak. Sejak lama muncul berbagai pendapat tentang fungsi tersebut dalam
otak. Lobus frontal berhubungan dengan konsentrasi, lobus temporal
berhubungan dengan bahasa dan ingatan, lobus parietal berhubungan dengan
sensor data dan lobus occipital berhubungan dengan pengelihatan dan persepsi.
Jadi, proses kesadaran pikiran bergantung pada interaksi kompleks di bagian-
bagian otak.
C. Klasifikasi Tumor Otak
Tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Berdasarkan Jenis Tumor
a. Jinak
- Acoustic neuroma
- Meningioma
Sebagian besar tumor bersifat jinak, berkapsul, dan tidak menginfiltrasi
jaringan sekitarnya tetapi menekan struktur yang berada di bawahnya. Pasien usia
tua sering terkena dan perempuan lebih sering terkena dari pada laki-laki. Tumor
ini sering kali memiliki banyak pembuluh darah sehingga mampu menyerap
isotop radioaktif saat dilakukan pemeriksaan CT scan otak.
- Pituitary adenoma
- Astrocytoma (grade I)
b. Malignant
- Astrocytoma (grade 2,3,4)
- Oligodendroglioma
Tumor ini dapat timbul sebagai gangguan kejang parsial yang dapat muncul
hingga 10 tahun. Secara klinis bersifat agresif dan menyebabkan simptomatologi
bermakna akibat peningkatan tekanan intrakranial dan merupakan keganasan
pada manusia yang paling bersifat kemosensitif.
- Apendymoma
Tumor ganas yang jarang terjadi dan berasal dari hubungan erat pada
ependim yang menutup ventrikel. Pada fosa posterior paling sering terjadi tetapi
dapat terjadi di setiap bagian fosa ventrikularis. Tumor ini lebih sering terjadi
pada anak-anak daripada dewasa. Dua faktor utama yang mempengaruhi
keberhasilan reseksi tumor dan kemampuan bertahan hidup jangka panjang
adalah usia dan letak anatomi tumor. Makin muda usia pasien maka makin
buruk progmosisnya.
2. Berdasarkan Lokasi
a. Tumor Supratentorial
Hemisfer otak, terbagi lagi :
Glioma :
- Glioblastoma multiforme
Tumor ini dapat timbul dimana saja tetapi paling sering terjadi di hemisfer
otak dan sering menyebar kesisi kontra lateral melalui korpus kolosum.
- Astroscytoma
- Oligodendroglioma
Merupakan lesi yang tumbuh lambat menyerupai astrositoma tetapi terdiri
dari sel-sel oligodendroglia. Tumor relative avaskuler dan cenderung
mengalami klasifikasi biasanya dijumpai pada hemisfer otak orang dewasa
muda.
Meningioma
Tumor ini umumnya berbentuk bulat atau oval dengan perlekatan duramater
yang lebar (broad base) berbatas tegas karena adanya psedokapsul dari
membran araknoid. Pada kompartemen supratentorium tumbuh sekitar 90%,
terletak dekat dengan tulang dan kadang disertai reaksi tulang berupa
hiperostosis. Karena merupakan massa ekstraaksial lokasi meningioma disebut
sesuai dengan tempat perlekatannya pada duramater, seperti Falk (25%),
Sphenoid ridge (20%), Konveksitas (20%), Olfactory groove (10%),
Tuberculum sellae (10%), Konveksitas serebellum (5%), dan Cerebello-
Pontine angle. Karena tumbuh lambat defisit neurologik yang terjadi juga
berkembang lambat (disebabkan oleh pendesakan struktur otak di sekitar
tumor atau letak timbulnya tumor). Pada meningioma konveksitas 70% ada di
regio frontalis dan asimptomatik sampai berukuran besar sekali. Sedangkan di
basis kranii sekitar sella turcika (tuberkulum sellae, planum sphenoidalis, sisi
medial sphenoid ridge) tumor akan segera mendesak saraf optik dan
menyebabkan gangguan visus yang progresif.
Tumor Infratentorial
Schwanoma akustikus
Tumor metastasisc
Lesi-lesi metastasis menyebabkan sekitar 5 % 10 % dari seluruh tumor otak
dan dapat berasal dari setiap tempat primer. Tumor primer paling sering
berasal dari paru-paru dan payudara. Namun neoplasma dari saluran kemih
kelamin, saluran cerna, tulang dan tiroid dapat juga bermetastasis ke otak.
Meningioma
Meningioma merupakan tumor terpenting yang berasal dari meningen, sel-sel
mesotel, dan sel-sel jaringan penyambung araknoid dan durah
Hemangioblastoma
Neoplasma yang terdiri dari unsur-unsur vaskuler embriologis yang paling
sering dijumpai dalam serebelum.
D. Etiologi Tumor Otak
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti walaupun telah
banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu:
1. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali
pada meningioma, astrocytoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-
anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat
dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru memperlihatkan faktor familial
yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-bukti yang kuat
untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
2. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang
mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Ada kalanya
sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh menjadi ganas dan
merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada
kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
3. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami
perubahan degenerasi namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu
glioma. Meningioma pernah dilaporkan terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
4. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang
dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses
terjadinya neoplasma tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi
virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
5. Substansi-substansi karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini
telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone,
nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan.
6. Trauma Kepala

2.4 Manifestasi Klinis Tumor Otak

1. a. Nyeri Kepala

Merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak yang kemudian
berkembang menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten. Nyeri kepala berat juga
sering diperhebat oleh perubahan posisi, batuk, maneuver valsava dan aktivitas fisik.
Muntah ditemukan bersama nyeri kepala pada 50% penderita. Nyeri kepala ipsilateral pada
tumor supratentorial sebanyak 80 % dan terutama pada bagian frontal. Tumor pada fossa
posterior memberikan nyeri alih ke oksiput dan leher.

1. b. Perubahan Status Mental

Gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, perubahan mood dan


berkurangnya inisiatif adalah gejala-gejala umum pada penderita dengan tumor lobus
frontal atau temporal. Gejala ini bertambah buruk dan jika tidak ditangani dapat
menyebabkan terjadinya somnolen hingga koma.

1. c. Seizure

Adalah gejala utama dari tumor yang perkembangannya lambat seperti astrositoma,
oligodendroglioma dan meningioma. Paling sering terjadi pada tumor di lobus frontal baru
kemudian tumor pada lobus parietal dan temporal.

1. d. Edema Papil

Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak, sebab dengan teknik
neuroimaging tumor dapat segera dideteksi. Edema papil pada awalnya tidak menimbulkan
gejala hilangnya kemampuan untuk melihat, tetapi edema papil yang berkelanjutan dapat
menyebabkan perluasan bintik buta, penyempitan lapangan pandang perifer dan
menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap.

1. Muntah

Muntah sering mengindikasikan tumor yang luas dengan efek dari massa tumor tersebut
juga mengindikasikan adanya pergeseran otak. Muntah berulang pada pagi dan malam
hari, dimana muntah yang proyektil tanpa didahului mual menambah kecurigaan adanya
massa intracranial.
1. Vertigo

Pasien merasakan pusing yang berputar dan mau jatuh.

2.5 Patofisiologi Tumor Otak

Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis. Gejala-gejala terjadi berurutan. Hal ini
menekankan pentingnya anamnesis dalam pemeriksaan klien. Gejala-gejalanya sebaiknya
dibicarakan dalam suatu perspektif waktu. Gejala neurologik pada tumor otak biasanya
dianggap disebabkan oleh 2 faktor gangguan fokal, disebabkan oleh tumor dan tekanan
intrakranial. Gangguan fokal terjadi apabila penekanan pada jaringan otak dan
infiltrasi/invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. Tentu
saja disfungsi yang paling besar terjadi pada tumor yang tumbuh paling cepat. Perubahan
suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh menyebabkan nekrosis
jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai
kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan
cerebrovaskuler primer.

Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuro dihubungkan dengan


kompresi invasi dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Beberapatumor membentuk
kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan
neurologis fokal. Peningkatan tekanan intra kranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor
: bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya oedema sekitar tumor dan
perubahan sirkulasi cerebrospinal. Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya
massa, karena tumor akan mengambil ruang yang relatif dari ruang tengkorak yang kaku.
Tumor ganas menimbulkan oedema dalam jaruingan otak. Mekanisme belum
seluruhnyanya dipahami, namun diduga disebabkan selisih osmotik yang menyebabkan
perdarahan. Obstruksi vena dan oedema yang disebabkan kerusakan sawar darah otak,
semuanya menimbulkan kenaikan volume intrakranial. Observasi sirkulasi cairan
serebrospinaldari ventrikel laseral ke ruang sub arakhnoid menimbulkan hidrocepalus.

Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa, bila terjadi secara cepat akibat
salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya. Mekanisme kompensasi
memerlukan waktu berhari-hari/berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oelh karena itu
tidak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat. Mekanisme kompensasi ini antara
lain bekerja menurunkan volume darahintra kranial, volume cairan serebrospinal,
kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim. Kenaikan tekanan yang tidak
diobati mengakibatkan herniasi ulkus atau serebulum. Herniasi timbul bila girus medialis
lobus temporals bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer
otak. Herniasi menekan men ensefalon menyebabkab hilangnya kesadaran dan menenkan
saraf ketiga. Pada herniasi serebulum, tonsil sebelum bergeser ke bawah melalui foramen
magnum oleh suatu massa posterior. Kompresi medula oblongata dan henti nafas terjadi
dengan cepat. Intrakranialyang cepat adalah bradicardi progresif, hipertensi sistemik
(pelebaran tekanan nadi dan gangguan pernafasan).

2.6 Pemeriksaan Diagnostik Tumor Otak

1. CT scan dan MRI


Memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur investigasi awal
ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda penyakit otak yang
difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau gejala-gejala tumor.
Kadang sulit membedakan tumor dari abses ataupun proses lainnya.

1. Foto polos dada

Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu metastasis yang akan
memberikan gambaran nodul tunggal ataupun multiple pada otak.

1. Pemeriksaan cairan serebrospinal

Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor. Tetapi
pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan massa di otak yang
besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui pemeriksaan patologi anatomi,
sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor dengan proses-proses infeksi (abses
cerebri).

1. Biopsi stereotaktik

Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk
memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.

1. Angiografi Serebral

Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.

1. Elektroensefalogram (EEG)

Mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat
memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang.

2.7 Penatalaksanaan Tumor Otak

Faktor faktor Prognostik sebagai Pertimbangan Penatalaksanaan

1. Usia
2. General Health
3. Ukuran Tumor
4. Lokasi Tumor
5. Jenis Tumor

Untuk tumor otak ada tiga metode utama yang digunakan dalam penatalaksaannya,
yaitu

a. Surgery

Terapi Pre-Surgery :

Steroid Menghilangkan swelling, contoh dexamethasone


Anticonvulsant Untuk mencegah dan mengontrol kejang, seperti carbamazepine

Shunt Digunakan untuk mengalirkan cairan cerebrospinal

Pembedahan merupakan pilihan utama untuk mengangkat tumor.


Pembedahan pada tumor otak bertujuan utama untuk melakukan dekompresi dengan cara
mereduksi efek massa sebagai upaya menyelamatkan nyawa serta memperoleh efek
paliasi. Dengan pengambilan massa tumor sebanyak mungkin diharapkan pula jaringan
hipoksik akan terikut serta sehingga akan diperoleh efek radiasi yang optimal.
Diperolehnya banyak jaringan tumor akan memudahkan evaluasi histopatologik, sehingga
diagnosis patologi anatomi diharapkan akan menjadi lebih sempurna. Namun pada
tindakan pengangkatan tumor jarang sekali menghilangkan gejala-gelaja yang ada pada
penderita.

b. Radiotherapy

Radioterapi merupakan salah satu modalitas penting dalam penatalaksanaan


proses keganasan. Berbagai penelitian klinis telah membuktikan bahwa modalitas terapi
pembedahan akan memberikan hasil yang lebih optimal jika diberikan kombinasi terapi
dengan kemoterapi dan radioterapi.

Sebagian besar tumor otak bersifat radioresponsif (moderately sensitive),


sehingga pada tumor dengan ukuran terbatas pemberian dosis tinggi radiasi diharapkan
dapat mengeradikasi semua sel tumor. Namun demikian pemberian dosis ini dibatasi oleh
toleransi jaringan sehat disekitarnya. Semakin dikit jaringan sehat yang terkena maka
makin tinggi dosis yang diberikan. Guna menyiasati hal ini maka diperlukan metode serta
teknik pemberian radiasi dengan tingkat presisi yang tinggi.

Glioma dapat diterapi dengan radioterapi yang diarahkan pada tumor sementara
metastasis diterapi dengan radiasi seluruh otak. Radioterapi jyga digunakan dalam tata
laksana beberapa tumor jinak, misalnya adenoma hipofisis.

c. Chemotherapy

Pada kemoterapi dapat menggunakan powerfull drugs, bisa menggunakan


satu atau dikombinasikan. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk membunuh sel
tumor pada klien. Diberikan secara oral, IV, atau bisa juga secara shunt. Tindakan ini
diberikan dalam siklus, satu siklus terdiri dari treatment intensif dalam waktu yang singkat,
diikuti waktu istirahat dan pemulihan. Saat siklus dua sampai empat telah lengkap
dilakukan, pasien dianjurkan untuk istirahat dan dilihat apakah tumor berespon terhadap
terapi yang dilakukan ataukah tidak.

2.8 Komplikasi Tumor Otak

a. Edema Serebral
Peningkatan cairan otak yang berlebih yang menumpuk disekitar lesi sehingga menambah
efek masa yang mendesak (space-occupying). Edema Serebri dapat terjadi ekstrasel
(vasogenik) atau intrasel (sitotoksik).

b. Hidrosefalus

Peningkatan intracranial yang disebabkan oleh ekspansin massa dalam rongga cranium
yang tertutup dapat di eksaserbasi jika terjadi obstruksi pada aliran cairan serebrospinal
akibat massa.

c. Herniasi Otak

Peningkatan intracranial yang terdiri dari herniasi sentra, unkus, dan singuli.

d. Epilepsi

f. Metastase ketempat lain

2.9 Prognosis Tumor Otak

Meskipun diobati, hanya sekitar 25% penderita kanker otak yang bertahan hidup setelah 2
tahun. Prognosis yang lebih baik ditemukan pada astrositoma dan oligodendroglioma,
dimana kanker biasanya tidak kambuh dalam waktu 3-5 tahun setelah pengobatan. Sekitar
50% penderita meduloblastoma yang diobati bertahan hidup lebih dari 5 tahun.
Pengobatan untuk kanker otak lebih efektif dilakukan pada:

1. a. Penderita yang berusia dibawah 45 tahun.


2. b. Penderita astrositoma anaplastik.
3. c. Penderita yang sebagian atau hampir seluruh tumornya telah diangkat
melalui pembedahan.

2.10 WOC Tumor Otak

DOWNLOAD : WOC TUMOR OTAK

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

3.1.1 Data Demografi


Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama, pendidikan,
pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan penanggung biaya.

3.1.2 Riwayat Sakit dan Kesehatan

1. Keluhan utama

Biasanya klien mengeluh nyeri kepala

1. Riwayat penyakit saat ini

Klien mengeluh nyeri kepala, muntah, papiledema, penurunan tingkat kesadaran,


penurunan penglihatan atau penglihatan double, ketidakmampuan sensasi (parathesia atau
anasthesia), hilangnya ketajaman atau diplopia.

1. Riwayat penyakit dahulu

Klien pernah mengalami pembedahan kepala

1. Riwayat penyakit keluarga

Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada hubungannya
dengan penyakit klien sekarang, yaitu riwayat keluarga dengan tumor kepala.

1. Pengkajian psiko-sosio-spirituab

Perubahan kepribadian dan perilaku klien, perubahan mental, kesulitan mengambil


keputusan, kecemasan dan ketakutan hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur
pembedahan, adanya perubahan peran.

3.1.3 Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )

Pemeriksaan fisik pada klien dengan tomor otak meliputi pemeriksaan fisik umum per
system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital, B1 (breathing), B2
(Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone).

1. Pernafasan B1 (breath)
2. Bentuk dada : normal
3. Pola napas : tidak teratur
4. Suara napas : normal
5. Sesak napas : ya
6. Batuk : tidak
7. Retraksi otot bantu napas ; ya
8. Alat bantu pernapasan : ya (O2 2 lpm)
9. Kardiovaskular B2 (blood)
10. Irama jantung : irregular
11. Nyeri dada : tidak
12. Bunyi jantung ; normal
13. Akral : hangat
14. Nadi : Bradikardi
15. Tekanana darah Meningkat
16. Persyarafan B3 (brain)
17. Penglihatan (mata) : Penurunan penglihatan, hilangnya ketajaman atau diplopia.
18. Pendengaran (telinga): Terganggu bila mengenai lobus temporal
19. Penciuman (hidung) : Mengeluh bau yang tidak biasanya, pada lobus frontal
20. Pengecapan (lidah) : Ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia)
1. Afasia : Kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa,
kemungkinan ekspresif atau kesulitan berkata-kata, reseotif atau berkata-
kata komprehensif, maupun kombinasi dari keduanya.
2. Ekstremitas : Kelemahan atau paraliysis genggaman tangan tidak
seimbang, berkurangnya reflex tendon.
3. GCS : Skala yang digunakan untuk menilai tingkat
kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan
menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan.

Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 6 tergantung
responnya yaitu :

a. Eye (respon membuka mata)

(4) : Spontan

(3) : Dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).

(2) : Dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari)

(1) : Tidak ada respon

b. Verbal (respon verbal)

(5) : Orientasi baik

(4) : Bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang ) disorientasi tempat


dan waktu.

(3) : Kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun tidak dalam
satu kalimat. Misalnya aduh, bapak)

(2) : Suara tanpa arti (mengerang)

(1) : Tidak ada respon

c. Motor (respon motorik)


(6) : Mengikuti perintah

(5) : Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)

(4) : Withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat
diberi rangsang nyeri)

(3) : Flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat
diberi rangsang nyeri).

(2) : Extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari
mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).

(1) : Tidak ada respon

1. Perkemihan B4 (bladder)
1. Kebersihan : bersih
2. Bentuk alat kelamin : normal
3. Uretra : normal
4. Produksi urin: normal
5. Pencernaan B5 (bowel)
1. Nafsu makan : menurun
2. Porsi makan : setengah
3. Mulut : bersih
4. Mukosa : lembap
5. Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
1. Kemampuan pergerakan sendi : bebas
2. Kondisi tubuh: kelelahan

3.2 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.


2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan medula oblongata.
3. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan
intrakranial, pembedahan tumor, edema serebri.
4. Resiko cedera berhubungan dengan vertigo sekunder terhadap hipotensi ortostatik.
5. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek afasia pada ekspresi atau
interpretasi.
6. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan efek
kemoterapi dan radioterapi.
7. Gangguan persepsi sensori visual berhubungan dengan aneurisma.
8. Gangguan persepsi sensori penghidu berhubungan dengan aneurisma.
9. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akibat tidak mampu
menggerakan leher.

3.3 Intervensi Keperawatan

1. 1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.


Tujuan : Nyeri yang dirasakan berkurang`1 atau dapat diadaptasi oleh klien

Kriteria hasil :

1. Klien mengungkapkan nyeri yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi


ditunjukkan penurunan skala nyeri. Skala = 2
2. Klien tidak merasa kesakitan.
3. Klien tidak gelisah

Intervensi Rasional

1. Kaji keluhan nyeri: intensitas,


karakteristik, lokasi, lamanya, faktor
yang memperburuk dan meredakan. 1. Pengenalan segera meningkatkan
intervensi dini dan dapat mengurangi
beratnya serangan.
2. Meningkatkan rasa nyaman dengan
menurunkan vasodilatasi.
3. Akan melancarkan peredaran darah,
dan dapat mengalihkan perhatian
nyerinya ke hal-hal yang
menyenangkan

1. Instruksikan pasien/keluarga untuk


melaporkan nyeri dengan segera jika
nyeri timbul. 1. Analgesik memblok lintasan nyeri,
2. Berikan kompres dingin pada kepala. sehingga nyeri berkurang
2. Merupakan indikator/derajat nyeri
yang tidak langsung yang dialami.

1. Mengajarkan tehnik relaksasi dan


metode distraksi

1. Kolaborasi pemberian analgesic.

1. Observasi adanya tanda-tanda nyeri


non verbal seperti ekspresi wajah,
gelisah, menangis/meringis,
perubahan tanda vital.
2. Nyeri merupakan pengalaman
subjektif dan harus dijelaskan oleh
pasien. Identifikasi karakteristik nyeri
dan faktor yang berhubungan
merupakan suatu hal yang amat
penting untuk memilih intervensi
yang cocok dan untuk mengevaluasi
keefektifan dari terapi yang
diberikan.

2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan denga penekanan medula oblongata.


Tujuan : Pola pernafasan kembali normal

Kriteria Hasil :

1. Pola nafas efekif


2. GDA normal
3. Tidak terjadi sianosis

Intervensi Rasional
1. Pantau frekuensi, irama, kedalaman
pernafasan. Catat ketidakteraturan
pernafasan 1. Mengidentifkasi adanya masalah
paruatau obstruksi jalan nafas yang
membahayakan oksigenasi serebral
atau menandakan infeksi paru.
2. Memaksimalkan oksigen pada darah
arteri dan membantu dalam
pencegahan hipoksia. Jika pusat
pernafasan tertekan, mungkin
1. Posisikan semi fowler diperlukan ventilasi mekanik.

1. Anjurkan pasien untuk melakukan


nafas dalam
2. Auskultasi suara nafas, perhatikan
daerah hipoventilasi dan adanya
suara-suara tambahan yang tidak
normal

1. Kolabolasi. Berikan terapi oksigen


2. Perubahan dapat menandakan awitan
kompliasi pulmonal atau
menandakan lokalisasi keterlibatan
otak. Pernapasan lambat , periode
apnea dapat perlunya ventilasi
mekanis.
3. Memudahkan ekspansi paru dan
menurunkan kemungkinan lidah
jatuh yang menyumbat jalan nafas.
4. Membuat pola nafas lebih teratur.

1. 3. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan


tekanan intrakranial, pembedahan tumor, edema serebri.

Tujuan : Perfusi jaringan membaik ditandai dengan tanda-tanda vital stabil.

Kriteria hasil :

1. Tekanan perfusi serebral >60mmHg, tekanan intrakranial <15mmHg, tekanan


arteri rata-rata 80-100mmHg
2. Menunjukkan tingkat kesadaran normal
3. Orientasi pasien baik
4. RR 16-20x/menit
5. Nyeri kepala berkurang atau tidak terjadi

Intervensi Rasional
1. Monitor secara berkala tanda dan gejala
peningkatan TIK
1. Kaji perubahan tingkat kesadaran, 1. Mengetahui fungsi retikuler
orientasi, memori, periksa nilai GCS aktivasi sistem dalam batang
2. Kaji tanda vital dan bandingkan otak, tingkat kesadaran
dengan keadaan sebelumnya memberikan gambaran
3. Kaji fungsi autonom: jumlah dan pola adanya perubahan TIK
pernapasan, ukuran dan reaksi pupil, 2. Mengetahui keadaan umum
pergerakan otot pasien, karena pada stadium
4. Kaji adanya nyeri kepala, mual, awal tanda vital tidak
muntah, papila edema, diplopia, berkolerasi langsung dengan
kejang kemunduran status neurologi
5. Ukur, cegah, dan turunkan TIK 3. Respon pupil dapat melihat
1. Pertahankan posisi dengan keutuhan fungsi batang otak
meninggikan bagian kepala dan pons
0
15-30 , hindari posisi
telungkup atau fleksi tungkai d. Merupakan tanda peningkatan
secara berlebihan TIK
2. Monitor analisa gas darah,
pertahankan PaCO2 35-45
mmHg, PaO2 >80mmHg
3. Kolaborasi dalam pemberian 1. Peninggian bagian kepala
oksigen akan mempercepat aliran
4. Hindari faktor yang dapat darah balik dari otak, posisi
meningkatkan TIK fleksi tungkai akan
meninggikan tekanan
intraabomen atau intratorakal
yang akan mempengaruhi
aliran darah balik dari otak
1. Istirahatkan pasien, hindari tindakan 2. Menurunnya CO2
keperawatan yang dapat mengganggu tidur menyebabkan vasokonstriksi
pasien pembuluh darah
2. Berikan sedative atau analgetik dengan 3. Memenuhi kebutuhan
kolaboratif. oksigen

1. Keadaan istirahat
mengurangi kebutuhan
oksigen
2. Mengurangi peningkatan
TIK

1. 4. Resiko cedera berhubungan dengan vertigo sekunder terhadap


hipotensi ortostatik.

Tujuan : Diagnosa tidak menjadi masalah aktual

Kriteria hasil :

1. Pasien dapat mengidentifikasikan kondisi-kondisi yang menyebabkan vertigo


2. Pasien dapat menjelaskan metode pencegahan penurunan aliran darah di otak tiba-
tiba yang berhubungan dengan ortostatik.
3. Pasien dapat melaksanakan gerakan mengubah posisi dan mencegah drop tekanan
di otak yang tiba-tiba.
4. Menjelaskan beberapa episode vertigo atau pusing.

Intervensi Rasional
1. Kaji tekanan darah pasien saat pasien
mengadakan perubahan posisi tubuh.

1. Diskusikan dengan klien tentang


fisiologi hipotensi ortostatik.
2. Ajarkan teknik-teknik untuk
mengurangi hipotensi ortostatik
1. Untuk mengetahui pasien
mengakami hipotensi
ortostatik ataukah tidak.
2. Untuk menambah
pengetahuan klien tentang
hipotensi ortostatik.
3. Melatih kemampuan klien
dan memberikan rasa nyaman
ketika mengalami hipotensi
ortostatik.

1. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek afasia pada ekspresi atau
interpretasi.

Tujuan : Tidak mengalami kerusakan komunikasi verbal dan menunjukkan


kemampuan komunikasi verbal dengan orang lain dengan cara yang dapat di terima.

Kriteria Hasil:

1. Pasien dapat mengidentifikasi pemahaman tentang masalah komunikasi.


2. Pasien dapat membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan
3. Pasien dapat menggunakan sumber-sumber dengan tepat

Intervensi Rasional
1. Perhatikan kesalahan dalam
komunikasi dan berikan umpan balik.

1. Menurunkan kebingungan/ansietas
1. Minta pasien untuk menulis nama selama proses komunikasi dan
atau kalimat yang pendek. Jika tidak berespons pada informasi yang lebih
dapat menulis, mintalah pasien untuk banyak pada satu waktu tertentu.
membaca kalimat yang pendek.
2. Berika metode komunikasi
alternative, seperti menulis di papan
tulis, gambar. Berikan petunjuk
visual (gerakan tangan, gambar-
gambar, daftar kebutuhan,
demonstrasi).
3. Katakan secara langsung dengan
pasien, bicara perlahan, dan dengan
tenang. Gunakan pertanyaan terbuka
dengan jawaban ya/tidak
selanjutnya kembangkan pada
pertanyaan yang lebih komplek
sesuai dengan respon pasien.
4. Pasien mungkin kehilangan
kemampuan untuk memantau ucapan
yang keluar dan tidak menyadari
bahwa komunikasi yang
diucapkannya tidak nyata.
5. Menilai kemampuan menulis dan
kekurangan dalam membaca yang
benar yang juga merupakan bagian
dari afasia sensorik dan afasia
motorik.
6. Memberikan komunikasi tentang
kebutuhan berdasarkan keadaan/
deficit yang mendasarinya.

1. 6. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan efek kemoterapi dan radioterapi.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi dengan adekuat

Kriteria hasil:

1. Antropometri: berat badan tidak turun (stabil)


2. Biokimia: albumin normal dewasa (3,5-5,0) g/dl

Hb normal (laki-laki 13,5-18 g/dl, perempuan 12-16 g/dl)

1. Clinis: tidak tampak kurus, terdapat lipatan lemak, rambut tidak jarang dan merah
2. Diet: klien menghabiskan porsi makannya dan nafsu makan bertambah

Intervensi Rasional
1. Kaji tanda dan gejala kekurangan nutrisi: 1. Menentukan adanya kekurangan
penurunan berat badan, tanda-tanda anemia, nutrisi pasien
tanda vital

2. Monitor intake nutrisi pasien


1. Salah satu efek kemoterapi dan
radioterapi adalah tidak nafsu makan
2. Mengurangi mual dan terpenuhinya
3. Berikan makanan dalam porsi kecil tapi kebutuhan nutrisi.
sering. 3. Berat badan salah satu indikator
kebutuhan nutrisi.
4. Timbang berat badan 3 hari sekali 4. Menentukan status nutrisi

5. Monitor hasil laboratorium: Hb, albumin 1. Mengurangi mual dan muntah untuk
meningkatkan intake makanan
6. Kolaborasi dalam pemberian obat
antiemetik
7. Diagnosa : Gangguan persepsi sensori visual berhubungan dengan aneurisma

Tujuan : Mempertahankan fungsi penglihatan dan mencegah kerusakan yang lebih


parah

Kriteria Hasil:

Mempertahankan lapang pandang tanpa kehilangan lebih lanjut

Intervensi Rasional
Mandiri:

1. Kaji respon pupil: 1. Perubahan pupil menunjukkan tekanan


pada syaraf okulomotorius atau optikus
1. Reaksi pupil diatur oleh
syarafokulomotorius (syaraf
cranial III) pada batng otak.

1. Inspeksi pupil dengan senter kecil


untuk mengevaluasi ukuran,
konvigurasi, dan reaksi terhadap 1. Gerakan mata konjugasi diatur dari
cahaya. bagian korteks dan batang otak.
2. Evaluasi tatapan klien untuk
menentukan apakah terdapat
konjugasi (berpasangan, saling
bekerja sama) atau apakah gerakan
mata abnormal.
3. Evaluasi kemampuan mata untuk 1. Syaraf cranial VI atau syaraf abdusen
melakukan abduksi dan adduksi mengatur gerakan abduksi dan adduksi
mata. Syaraf cranial IV atau syaraf
troklearis juga mengatur gerakan mata.

1. Mempengaruhi harapan masa depan


pasien dan pilihan intervensi

1. Pastikan derajat atau tipe


kehilangan penglihatan 1. Intervensi dini mencegah kebutaan
bagi pasien dalam menghadapi
kemungkinan atau mengalami
kehilangan penglihatan sebagian atau
1. Dorong mengekspresikan perasaan total. Meskipun kehilangan penglihatan
tentang kehilangan atau telah terjadi tak dapat diperbaiki
kemungkinan kehilangan kehilangan lanjut dapat dicegah.
penglihatan 2. Menurunkan bahaya keamanan
sehubungan dengan perubahan lapang
pandang atau kehilangan penglihatan
dan akomodasi pupil terhadap sinar
1. Lakukan tindakan untuk membantu lingkungan
pasien menangani keterbatasan 1. Kolaborasi:
penglihatan. Misalnya, kurangi
kekacauan, atur perabot, ingatkan
memutar kepala ke subjek yang
terlihat, perbaiki sinar suram dan
masalah penglihatan malam.

Lakukan tindakan pembedahan pada tumor


yang masih bersifat jinak (benigna).
1. Mencegah terjadinya metastase ke
organ lain serta mencegah kerusakan
yang lebih parah.
1. Agen hiperosmotik. Contoh: 2. Digunakan untuk menurunkan sirkulasi
mannitol (osmitrol; gliserin) volume cairan, dimana akan
menurunkan produksi aquos humor
bila pengobatan lain belum berhasil.
3. Mungkin menguntungkan bila pasien
tidak berespon pada obat lain. Bebas
efek samping seperti, penglihatan
1. Dipifevren hidroclorida (propine) kabur, kebutaan malam.

8. Diagnosa: Gangguan persepsi sensori penghidu berhubungan dengan aneurisma

Tujuan: Mempertahankan fungsi pembau dan mencegah kerusakan yang lebih parah

Kriteria Hasil: Mempertahankan fungsi pembau

Intervensi Rasional
1. Mandiri:

Lakukan uji indra pembau klien dengan Mengetahui seberapa baik kemampuan
memberi tester bau yang khas seperti kopi membau klien
dan bawang

1. Memberi helth education kepada


pasien mengenai penurunan fungsi Membantu pasien untuk dapat menerima
pembau kondisi yang dialami
9. Diagnosa : Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akibat tidak mampu
menggerakan leher

Tujuan : Memberikan kenyamanan gerak leher pada klien

Kriteria Hasil :

1. Klien dapat menggerakan leher secara normal


2. Klien dapat beraktifitas secara normal

Intervensi Rasional
1. Kaji rentang gerak leher klien
2. Memberi helth education kepada
pasien mengenai penurunan fungsi
gerak leher
3. Kolaburasi dengan fisioterapi
4. Mengetahui kemampuan gerak leher
klien
5. Membantu pasien untuk dapat
menerima kondisi yang dialami
6. Terapi dapat membantu
mengembalikan gerak leher klien
secara normal

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc
atau sekitar 2% dari berat orang dewasa dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron.
Metabolisme otak digunakan kira kira 18% dari total konsumsi oksigen oleh tubuh. Berat
otak hanya 2,5 % dari berat badan seluruhnya tapi otak merupakan organ yang paling
banyak menerima darah dari jantung yaitu 20% dari seluruh darah yang mengalir ke
seluruh bagian tubuh (Lumantobing, 2001).

Tumor otak adalah terdapatnya lesi yang ditimbulkan karena ada desakan ruang baik jinak
maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen, dan tengkorak. (price, A. Sylvia, 1995:
1030). Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui, tetapi sekarang telah
diadakan penelitian mengenai herediter, sisa-sisa embrional, radiasi, virus, substansi-
substansi zat karsinogenik, trauma kepala. Penatalaksaan pasien dengan tumor otak dapat
dilakukan pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi.

4.2 Saran

1. Perawat hendaknya mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan


tumor otak secara holistik didasari dengan pengetahuan yang mendalam mengenai
penyakit tersebut.
2. Klien dan keluarganya hendaknya ikut berpartisipasi dalam penatalaksaan serta
meningkatkan pengetahuan tentang tumor otak yang dideritanya.

DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diace C dan Joann C. Hackley. 2000. Buku Saku Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: EGC

Price, Sylvia A dan Lorrane M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Vol 2. Jakarta: EGC

Tarwoto, Watonah, dan Eros Siti Suryati. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta: CV Sagung Seto