Anda di halaman 1dari 10

MANAJEMEN PEMASARAN RUMAH SAKIT

MAMAJEMEN PEMASARAN RUMAH SAKIT


Oleh : Kaharuddin Basorah*)
Pengertian Rumah Sakit
Rumah sakit secara awam masyarakat lebih mengenal sebagai tempat berobat, dengan
fenomena pemahaman adalah pada permasalahan kesakitan, sehingga setiap orang akan
berpikir mengunjungi rumah sakit berarti orang sakit yang bertujuan untuk berobat, meskipun
dalam pengertian yang sesungguhnya dalam UU Kesehatan No. 23 tahun 2004 dijelaskan
bahwa rumah sakit selain melayani upaya curative (pengobatan) juga melayani upaya
promotif, rehalibilitatif dan preventif.
Beberapa batasan rumah sakit dijelaskan oleh Azwar, 1996, dalam administrasi kesehatan
terdiri dari;
1. Rumah Sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis professional yang
terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran,
asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang
diderita oleh pasien (American Hospital Asoociation, 1974)
2. Rumah Sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan
kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan
berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan (Wolper dan Pena, 1987)
3. Rumah Sakit adalah pusat dimana pelayanan kesehatan masyarakat pendidikan serta
penelitian kedokteran diselenggarakan (Association of Hospital Care, 1947) Batasan rumah
sakit dijelaskan oleh Azwar, 1996,
pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan (1)
Pendidikan klainik (2)
Penelitian kedokteran (3)
Dari batasan ini dapat dipahami bahwa fungsi dan kegiatan Rumah sakit saat ini tidak sama
dengan masa yang lalu, sesungguhnya Rumah Sakit pada saat ini tidak sama dengan masa
yang lalu, sesuai dengan perkembangan jaman, maka pada saat ini Rumah Sakit menglami
berbagai perkembangan pula. Perkembangan yang dimaksud paling tidak dapat dibedakan
atas empat macam yakni;
1. Perkembangan pada fungsi yang dimilikinya, jika dahulu fungsi Rumah Sakit hanya untuk
menyembuhkan orang sakit (nasocomium hospital), maka pada saat ini telah berkembang
menjadi suatu pusat kesehatan (health centre). Dengan munculnya kebutuhan akan
kesinambungan pelayanan serta perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran, maka fungsi
Rumah Sakit pada saat ini telah mencakup pula pendidikan dan pelatihan
2. Perkembangan pada ruang lingkup kegiatan yang dilakukannya, jika dahulu ruang lingkup
kegiatannya hanya merupakan tempat beristirahat para musafir (xenodochium), tempat
mengasuh anak yatim (phanotrophium) serta tempat tinggal orang jompo (gerontoconium),
maka pada saat ini telah berkembang menjadi suatu isntitusi kesehatan (health institution).
Dengan munculnya diversifikasi dalam kehidupan masyarakt maka ruangb lingkup kegiatan
Rumah Sakit yang semula mencakup berbagai aspek social, pada saat ini telah membatasi diri
hanya pada aspek kesehatan saja.
3. Perkembangan pada masing-masing fungsi yang dimiliki oleh Rumah Sakit. Dengan
kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran, maka fungsi pelayanan pendidikan dan penelitian
yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit tidak lagi pada hal-hal sederhanya saja, tetapi telah
mencakup pula hal-hal yang spesialistik dan bahkan subspesialistik.
4. Perkembangan pada pemilikan Rumah Sakit, jika dahulu Rumah Sakit hanya didirikan
oleh badan-badan keagamaan, badan-badan social (charitable hospital) dan ataupun oleh
pemerintah (public hospital), maka pada saat ini tealh didirikan pula oleh berbagai badan-
badan swasta (private hospital). Rumah Sakit yang dahulu tidak pernah memikirkan masalah
untung rugi karena semata-mata didirikan untuk kepentingan social dan kemanusiaan (non-
profit), pada saat ini telah berubah menjadi salah satu kegiatan ekonomi. Malah untuk yang
dikelola oleh badan-badan swasta, kegiatan rumah sakit telah dijadikan sebagai salah satu
badan usaha yang mencari keuntungan (profit making). Perkembangan Rumah sakit,
Fungsi (1)
Ruang Lingkup (2)
Teknologi (3)
Pemilikan (4)

Masyarakat Rumah Sakit


Pada tahap awal perkembangan yang dimaksud dengan masyarakat Rumah Sakit amat
sederhana sekali. Pada tahap awal trersebut, Rumah Sakit sering dikelola oleh satu atau dua
orang tenaga dokter saja. Masyarakat Rumah Sakit pada waktu itu hanya para dokter serta
pemakai jasa pelayanan Rumah Sakit saja.
Pada tahap selanjutnya, ketika fungsi Rumah Sakit mulai berkembang dan apalagi dengan
berkembangnya berbagai ilmu dan teknologi kedokteran, maka yang dimaksud dengan
masyarakat Rumah Sakit tidak terbatas hanya para dokter dan pemakai jasa pelayanan saja,
tetapi juga berbagai tenaga kesehatan lainnya. Untuk kelancaran pelayanan, diperlukan
tenaga perawat dank arena itu perawat sebagai bagian dari tenaga kesehatan termasuk dalam
masyarakat Rumah Sakit pula.
Ketika pengelolaan Rumah Sakit telah begitu majemuknya, maka muncullah kebutuhan akan
jenis tenaga lain. Pekerjaan-pekerjaan adminsitrasi, telah tidak mungkin lagi ditangani oleh
tenaga kesehatan, sedang untuk menangani berbagai masalah teknis, dibutuhkan pula
berbagai kategori tenaga teknisi, tenaga administrasi, teknis medis dan teknis non medis,
akhirnya memang turut memperkaya pengertian masyarakat Rumah Sakit.
Dalam proses perkembangan yang sperti ini kehendak untuk mempertahankan rumah sakit
sebagai bdan social dan kemanusiaan tetap dipertahankan, karena itulah kedalam pengertian
masyarakat rumah sakit termasuk pula anggota masyarakat yang menaruh perhatian terhadap
Rumah Sakit. Pada waktu itu dewan perwakilan (board of trustees) yang merupakan penentu
kebijakan rumah sakit, memang dibentuk untuk mewakili kepentingan masyarakat.
Disamping pada beberapa rumah sakit ditemukan pula tenaga relawan yakni anggota
masyarakat yang secara sukarela mengabdikan diri pada tugas-tugas Rumah Sakit.
Dengan makin majemuknya fungsi dan kegiatan Rumah Sakit, maka yang termasuk dalam
masyarakat makin majemuk pula. Kedalamnya telah termasuk pula para mahasiswa
kedokteran dan atau para siswa/mahasiswa keperawatan. Sesungguhnyalah sebagaimana
yang dikutip oleh Foster dan Anderson, Rumah Sakit pada dasarnya adalah suatu masyarakat
kecil yang memiliki kebudayaan tersendiri.
Pengertian Manajemen
Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno mnagement, yang memiliki arti seni
melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima
secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni
menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer
bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Ricky W.
Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara
efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan,
sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan
sesuai dengan jadwal.
Manajer adalah seseorang yang bekerja melalui orang lain dengan mengoordinasikan
kegiatan-kegiatan mereka guna mencapai sasaran organisasi, man dan machine, dua sarana
manajemen. Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan diperlukan alat-alat sarana (tools).
Tools merupakan syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang ditetapkan. Tools tersebut
dikenal dengan 6M, yaitu men, money, materials, machines, method, dan markets.
Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam manajemen,
faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia
pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses
kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen
timbul karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.
Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan
alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah
uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang
penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional.
Hal ini akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji
tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai
dari suatu organisasi.
Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha
untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus
dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan
manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
Machine atau Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan
yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja.
Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah
metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan
memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang
tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun
metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai
pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam
manajemen tetap manusianya sendiri.
Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan (memasarkan)
produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang yang
diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak
akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi
merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas
dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan)
konsumen seni melaksanakan dan mengatur
Manajemen ilmiah
Manajemen ilmiah, atau dalam bahasa Inggris disebut scientific management, pertama kali
dipopulerkan oleh Frederick Winslow Taylor dalam bukunya yang berjudul Principles of
Scientific Management pada tahun 1911. Dalam bukunya itu, Taylor mendeskripsikan
manajemen ilmiah adalah "penggunaan metode ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan." Beberapa penulis seperti Stephen Robbins menganggap
tahun terbitnya buku ini sebagai tahun lahirya teori manajemen modern.
Ide tentang penggunaan metode ilmiah muncul ketika Taylor merasa kurang puas dengan
ketidakefesienan pekerja di perusahaannya. Ketidakefesienan itu muncul karena mereka
menggunakan berbagai macam teknik yang berbeda untuk pekerjaan yang samanyaris tak
ada standar kerja di sana. Selain itu, para pekerja cenderung menganggap gampang
pekerjaannya. Taylor berpendapat bahwa hasil dari para pekerja itu hanyalah sepertiga dari
yang seharusnya. Taylor kemudian, selama 20 tahun, berusaha keras mengoreksi keadaan
tersebut dengan menerapkan metode ilmiah untuk menemukan sebuah "teknik paling baik"
dalam menyelesaikan tiap-tiap pekerjaan.
Berdasarkan pengalamannya itu, Taylor membuat sebuah pedoman yang jelas tentang cara
meningkatkan efesiensi produksi. Pedoman tersebut adalah:
1. Kembangkanlah suatu ilmu bagi tiap-tiap unsur pekerjaan seseorang, yang akan
menggantikan metode lama yang bersifat untung-untungan.
2. Secara ilmiah, pilihlah dan kemudian latihlah, ajarilah, atau kembangkanlah pekerja
tersebut.
3. Bekerja samalah secara sungguh-sungguh dengan para pekerja untu menjamin bahwa
semua pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu yang telah dikembangkan
tadi.
4. Bagilah pekerjaan dan tanggung jawab secara hampir merata antara manajemen dan para
pekerja. Manajemen mengambil alih semua pekerjaan yang lebih sesuai baginya daripada
bagi para pekerja.
Pedoman ini mengubah drastis pola pikir manajemen ketika itu. Jika sebelumnya pekerja
memilih sendiri pekerjaan mereka dan melatih diri semampu mereka, Taylor mengusulkan
manajemenlah yang harus memilihkan pekerjaan dan melatihnya. Manajemen juga
disarankan untuk mengambil alih pekerjaan yang tidak sesuai dengan pekerja, terutama
bagian perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengontrolan. Hal ini berbeda
dengan pemikiran sebelumnya di mana pekerjalah yang melakukan tugas tersebut.
Manajemen ilmiah kemudian dikembangkan lebih jauh oleh pasangan suami-istri Frank dan
Lillian Gilbreth. Keduanya tertarik dengan ide Taylor setelah mendengarkan ceramahnya
pada sebuah pertemuan profesional.
Keluarga Gilbreth berhasil menciptakan mikronometer yang dapat mencatat setiap gerakan
yang dilakukan oleh pekerja dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk melakukan setiap
gerakan tersebut. Gerakan yang sia-sia yang luput dari pengamatan mata telanjang dapat
diidentifikasi dengan alat ini, untuk kemudian dihilangkan. Keluarga Gilbreth juga menyusun
skema klasifikasi untuk memberi nama tujuh belas gerakan tangan dasar (seperti mencari,
menggenggam, memegang) yang mereka sebut Therbligs (dari nama keluarga mereka,
Gilbreth, yang dieja terbalik dengan huruf th tetap). Skema tersebut memungkinkan keluarga
Gilbreth menganalisis cara yang lebih tepat dari unsur-unsur setiap gerakan tangan pekerja.
Skema itu mereka dapatkan dari pengamatan mereka terhadap cara penyusunan batu bata.
Sebelumnya, Frank yang bekerja sebagai kontraktor bangunan menemukan bahwa seorang
pekerja melakukan 18 gerakan untuk memasang batu bata untuk eksterior dan 18 gerakan
juga untuk interior. Melalui penelitian, ia menghilangkan gerakan-gerakan yang tidak perlu
sehingga gerakan yang diperlukan untuk memasang batu bata eksterior berkurang dari 18
gerakan menjadi 5 gerakan. Sementara untuk batu bata interior, ia mengurangi secara drastis
dari 18 gerakan hingga menjadi 2 gerakan saja. Dengan menggunakan teknik-teknik Gilbreth,
tukang baku dapat lebih produktif dan berkurang kelelahannya di penghujung hari
Pengertian Pemasaran
Istilah marketing kalau diartikan menurut istilah Indonesia adalah pemasaran, perniagaan.
Selanjutnya digunakan istilah marketing adalah pemasaran, cukup banyak batasan mengnai
pemasaran banyak, banyak para ahli yang memberikan definisi tentang pemasaran yang
kelihatannya agak berbeda, meskipun sebenarnya sama, karena sudut pandang yang
digunakan berbeda, ada yang menitik beratkan pada fungsi, segi barangnya, segi
kelembagaannya, segi manajemennya, dan ada pula yang menitik beratkan dari semua segi
sebagai sebuah system.
Pemasaran mencakup aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan tindakan menciptakan
guna manfaat karena tempat, waktu dan pemilikan. Pemasaran menggerakkan barang-barang
dari tempat yang satu ke tempat yang lain, menyimpannya dan kemudian menimbulkan
kepemilikannya, melalui tindakan membeli dan menjualbarang itu. Pemasaran juga sebagai
usaha pembelian dan penjualan dan ia mencakup aktivitas komersil yang berhubungan
dengan arus barang dan jasa antara produsen dan konsumen.
Jadi kalau disimpulkan pendapat para hali tersebut, maka pemasaran adalah merupakan
aktivitas perusahaan yang mengadakan proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa
untuk dapat menghasilkan kepuasan konsumen dengan operasional yang menguntungkan
produsen. Mencakup aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan tindakan menciptakan
guna manfaat karena tempat, waktu dan pemilikan
Manajemen Pemasaran
Manejemn pemasaran merupakan implemnetasi fungsi manajemen yang diarahkan tidak
hanya pemanfaatan orang lain untuk mencapai tujuan organsisi, namun lebih kepada fungsi
manajemen untuk merubah keinginan menjadi kebutuhan, sehingga orang dengan secara
ikhlas bersedia menukarkan sejumlah uangnya dengan brang pruksi kita, Fungsi pemasaran
ini merupakan aktivitas yang dilakukan, antara lain ; Fungsi manajemen untuk merubah
keinginan menjadi kebutuhan
Merchandising
Merupakan kebijaksanaan produsen untuk berusaha mendekatkan hasil-hasil produksinya
kepada konsumen akhir. Termasuk didalamnya pengembangan produk yang sangat
berpengaruh besar terhadap calon pembeli, mutu yang memadai, ukuran, daya tarik dan
lainnya. Fungsi ini meliputi fungsi penjualan dan pembelian. Dekatkan hasil produksipada
konsumen
Buying
Sebagai fungsi pembelian perusahaan mengutamakan penggunaan bahan baku yang mutunya
terbaik agar yang dihasilkan tidak mengecewakan pembeli. pembelian
Selling
Fungsi penjualan dianggap cukup penting karena mengadakan pemasaran barang, tentu
perusahaan akan mencari kesempatan pasar untuk dapat mempengaruhi permintaan dengan
berbagai kegiatan penjualan. Mempengaruhi permintaan
Grading
Fungsi penyelidikan fisik, akan melakukan kegiatan-kegiatan pengangkutan, penyimpanan
yang merupakan bagian pula dalam kegiatan pemasaran. Kelancaran arus barang-barang dan
jasa akan ditemukan oleh bagian ini. Yang termasuk dalam kategori ini adalah pengangkutan.
Pengangkutan yang dimaksudkan adalah sarana yang memindahklan barang secara fisik dari
suatu tempat ke tempat lain, sehingga akan menambah nilai suatu barang. Sehubungan
dengan pemindahan fisik ini adalah jalur yang di lalui arus barang dari produsen ke
konsumen, maka perlu memilih altenatif yang terbaik untuk menentukan sarana angkutan
yang dipergunakan, sehingga tingkat efektifitas dan efisiensi dapat dicapai. Selanjutnya
dalam pemasaran dikenal dengan saluran distribusi mempunyai hubungan yang erat dengan
pengangkutan perusahaan. Karena saluran distribusi adalah sekelompok pedagang dan agen
perusahaan yang mengkombinasikan antara pemindahan fisik (pengangkutan) untuk
menciptakan suatu kegunaan bagi pasar tertentu. kegiatan pengangkutan, penyimpanan
Storage
Lembaga-lembaga yang ada dalam antara produsen dengan konsumen bertugas
memindahkan barang sampai ke tangan konsumen. Gudang yang termasuk kategori
pentelidikan fisik punya manfaat yang penting dalam fungsi pemasaran. Gudang dapat
menciptakan kegunaan waktu seperti yang dilakukan oleh produsen, pedagang besar,
pengecer dan juga seperti yang dilakukan perusahaan yang khusus melakukan penyimpanan,
sehingga setiap ada permintaan dapat dipenuhi. Fungsi fasilitas penunjang, merupakan bagian
yang penting pula dalam kegiatan pemasaran. Karena tanpa bagian penunjang arus barang
tentu akan terganggu Penyimpanan, sehingga setiap ada permintaan dapat dipenuhi
Financing
Fungsi ini tentu sangat penting dan selalu ada dalam setiap perusahaan. Sebagaiman tugasnya
menyediakan inventori untuk berjaga-jaga bila ada permintaan yangt meningkat dan
mendadak. Disamping itu sangat diperlukan untuk membiayai bagian perantara, antara lain;
- pemberian kredit pada konsumen
- Pembayaran dimuka untuk pihak produsen dan distributor
- Biaya penyimpanan persediaan.
Komunikasi
Yang dimaksudkan adalah komunikasi pemasaran. Komunikasi merupakan pertukaran
informasi dua arah antara pihak-pihak yang terlibat dalam pemasaran. Misalnya pelayanan
perusahaan kepada pembeli. pertukaran informasi
Penanggung Risiko
Banyak dihadapi bila dihadapkan dengan perencanaan produk dan apakah produk tersebut
diterima oleh masyarakat konsumen, juga risiko dalam hal mempertahankan persediaan untuk
bias mengantisipasi permintaan konsumen atau calon konsumen. Persediaan terlalu banyak
tentu akan menyebabkan biaya meningkat, juga persediaan yang kurang akan menimbulkan
kehilangan calon pembeli atau konsumen tetap. Risiko seperti inilah yang sering terjadi
dimana perusahaan belum tentu dapat memnuhi permintaan pasar secata terus menerus dalam
pemasarannya. Selain risiko yang timbul dalam pasar, juga fluktuasi harga dapat terjadi
dalam pasar yang kompetitif. Risiko yang disebabkan bencana perusahaan dapat
mengasuransikannya sehingga risiko tidak merugikan perusahaan.
Pasar Yang Dihadapi
Pasar merupakan tempat bertemu pembeli dan penjual atau konsumen dan produsen, dimana
setiap terjadi proses pertukaran dan pemindahan hak milik. Pembeli (konsumen)
mengorbankan sejumlah nilai (uang) untuk memperoleh barang dan jasa yang dibutuhkan.
Berdasarkan motif pembeli dari pembelian untuk mengadakan proses pertukaran dan
pemindahan hak untuk suatu produk, maka paar dapat digolongkan dalam;
Pasar Konsumen
Merupakan pasar yang terdiri dari sekelompok pembeli terhadap barang untuk
dikomunikasikan, bukan untuk dijual kembali. Pasar konsumen termasuk pembeli individu
dan rumah tangga.
Pasar Produsen (Industri)
Meruapakan pasar yang terdiri dari individu atau lembaga (organisasi) yang memiliki barang
untuk diproses lebih lanjut (barang jadi) kemudian untuk dijual kembali
Pasar Penjual
Merupakan pasar yang terdiri dari individu atau organisasi yang membeli barang dengan
maksud untuk menjualnya kembali untuk men dapatkan laba
Pasar Pemerintah
Merupakan pasar yang terdapat pada lembaga-lembaga pemerintah terhadap barang dan jasa
untuk menjalankan adminsitrasi pemerintahan
Pasar Internasional
Merupakan pasar yang terdapat pada semua Negara yang ada di dunia ini, termasuk pasar
Indonesia terbuka untuk baranng dan jasa dari pihak luar negeri begitu juga sebaliknya.

Segmentasi Pasar
Adalah suatu tindakan perusahaan yang mebagi-bagi pasar yang bersifat heterogen (berbagai
jenis) dari suatu produk kedalam satuan-satuan pasar (segmen pasar) yang bersifat heterogen
(satu jenis)
Dengan mengadakan penyatuan strategi pemasaran yang ditujukan pada segmen (bagian)
pasar yang dituju, mnajemen dapat menggunakan sumber daya perusahan untuk pemasaran
lebih efisien terutama. Terutama bagi perusahaan kecil dengan sumber-sumber yang sangat
tebatas akan dapat melakukan persaingan dalam segmen pasar tertentu.
Perusahaan membagi-bagi pasar dalam kelompok-kelompok tertentu, yaitu segmentasi pasar
berdasarkan demografi, segmentasi pasar ini dapat dikelompokkan berdasarkan :
- Distribusi Produk
- Keadan Produk
- Pembagian berdasarkan umur, jenis klamin, suku bangsa, agama, juga pendidikan
Manfaat segmentasi pasar akan membantu manajemen perusahaan dalam;
- Dapat menyalurkan uang dan barang ke pasar yang potensial yang paling menguntungkan
- Dapat menentukan cara promosi yang efektif
- Dapat memilih media advestensi yang lebih baik, dan bagaimana mengalokasikan anggaran
secara baikuntuk berbagai media
- Dapat mengatur waktu yang tepat untuk promosi
Kebijakan Produk
Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan di pasar beserta atribut seperti; warna,
bungkus, prestise perusahaan serta pelayanan perusahaanyang dibeli konsumen untuk dapat
memberikan pemuas kebutuhan. Usaha pemasaran untuk menciptakan produk bias
memberikan kepuasan kepada konsumen, kepuasan ini dapat diciptakan dengan berbagai
strategi yang telah diputuskan perusahaan sebagai usaha untuk mempertahankan
kelangsungan organisasi dalam jangpanjang, usaha-usaha tersebut antara lain;
- Perencanaan produksi
- Pengembangan produk
- Perdagangan
Ketiga unsure tersebut merupakan strategi produk setelah bagian riset pemasaran
mendapatkan informasi dari pasar untuk dapat diusulkan guna menciptakan produk baru, agar
produsen sedapat mungkin dapat m,enciptakan produk yang sesuai dengan keinginan
konsumen

Perencanaan produk mencakup semua kegiatan produsen dan penyalur untuk menentukan
susunan produk line, sehingga konsumen akan bias membedakan produk yang satu dengan
lainnya. Maksudnya perusahaan akan selalu bisa mengikuti perkembangan pasar, batang yang
ditawarkan harus disempurkan sebelum mengadakan perubahan barang, informasi ini perlu
dikumpulkan sebagai riset pasar.
Pengembangan barang mencakup kegiatan teknis tentang penelitian, pembuatan dan
perencanaan bentuk produk. Kegiatan ini dapat dilakukan setelah menganalisis kebutuhan
dan keinginan pasar, jika permasalahan ini sudah dapat diatasi, maka perusahan akan lebih
mudah menentukan harga, distribusi dan promosi.
Perdagangan mencakup semua kegiatan perencanan dari produsen dan penyalur untuk
menyesuaikan produknya dengan permintaan pasar.
Manajemen Moderen Rumah Sakit
Perubahan periode manejemn Rumah Sakit terdiri dari tiga periode, yang masing-masing
periode diwarnai oleh latar belakang pemakai jasa rumah sakit, perubahan-perubahan periode
rumah sakit seperti berikut
Periode I, merupakan periode dimulainya perkembangan dunia kedokteran, dimana periode
ini merupakan era mualinya ditemukan berbagai mikro organisme kuman penyebab penyakit
(mulai dizaman Aristoteles. Lasaro Spalansani) hingga masuk era perang dunia ke II. Di era
ini kepuasan akan produk jasa rumah sakit bukanlah hal uang utama sehingga peran
keputusan dokter lebih dominan, seperti digambarkan periode I,
- Area A, menunjukkan peran pasien lebih kepada objek sehingga pasien tidak
memperdulikan masalah kepuasan, tetapi lebih kepada masalah kebutuhan dan produk bukan
menjadi pertimbangan
- Area B, menunjukkan peran dokter sebagai subjek yang merupakan penentu produk tanpa
mempertimbangkan lepuasan pasien, namun dokter lebih memperhatikan aspek kebutuhan
pasien yaitu keinginan untuk sembuh.
Pada periode ini rumah sakit didirikan hanya sebagai lembaga social yang betul-betul
bertujuan social tanpa memikirkan keuntungan (not profit oriented), dan pada masa itu rumah
sakit hanya didirikan oleh organisasi keagamaan, pemerintah dan militer.
Periode II, merupakan masa transisi dimana masyarakat sudah mulai mengenal produk,
namun belum mencari kepuasan, kepentingan yang ada hanya tujuan kebutuhan semata, dan
pilihan produk hanya karena semata-mata sesuai kebutuhan yang disadarinya, diera ini sudah
mulai setelah masa perang dunia kedua, namun rumah sakit masih didirkan oleh organisasi
keagamaan, pemerintah dan militer, namun karena masyarakat sudah mengenal produk yang
relevan dengan kebutuhannya maka perkembangan dimasa itu mulailah bermunculan rumah
sakit khusus, seperti balai pengobatan paru, balai pengobatan gigi, balai pengobatan mata,
namun keputusan masih berada di tangan dokter, seperti digambarkan pada periode II;
- Area C, menunjukkan keputusan masih berada pada dokter dengan posisi pasien masih
sebagai objek meskipun pasien sudah bisa menentukan pilihan produk rumah sakit dan
kebutuhan pengobatannya namun belum melihat factor kepuasan, fenomena yang ada pada
masa itu rumah sakit masih di lambangkan dengan bangunan yang berwarnah putih.
- Area D, menunjukkan pasien sudah memutuskan pilihan rumah sakit berdasarkan
kebutuhan dan produk yang ada sehingga pasien bisa memilih mau berobat kemana, namun
dimasa itu pasien belum melihat kepuasan sehingga dokter masih dapat melayani secara
vokasional, belum pada pertimbangan profesionalisme, bahkan diera itu dokter masih
memiliki power bersikap apa adanya kepada pasien.
Periode III, merupakan masa dimana teknologi kedokteran jauh lebih maju, sehingga jenis
produk rumah sakit sudah semakin spesifik, dampak yang yang ada diera ini adalah
masyarakat sudah lebih melihat pada pertimbangan tiga unsure yaitu produk, kebutuhan dan
kepuasan, perbedaan pada periode I dan II adalah kebutuhan menentukan produk, nmaun
pada period eke III produk menentukan kebutuhan, sehingga diera ini rumah sakit mulai
melakukan memperluas jenis pelayanannya dengan tawaran teknologi yang lebih maju, diera
ini berimplikasi mulainya bermunculan rumah sakit-rumah sakit swasta, yang lebih kepada
oirentasi keuntungan (provit oriented), dan masyarakat sudah mulai memilih rumah sakit
mana yang menawarkan produk yang mereka butuhkan untuk mendapatkan kepuasan. Seperti
digambarkan paa periode III,
- Area E, dominasi dokter sudah semakin kecil, dimana dokter melakukan pelayanan dengan
pertimbangan kepuasan pasien, dan pasien memiliki hak atas pilihan, danpak pada area ini
adalah mulainya bermunculan dokter praktik partikelir dengan harga mahal

- Area F, merupakan dominasi pasien, dimana pasien lebih memilih kepuasan dan produk
yang tawarkan, kebutuhan dinaggap akan terpenuhi dengan sendirinya jika produk yang
dibeli dapat memberikan kepuasan
Pada periode ini pihak sawasta sudah berani mendirikan rumah sakit spesialis bahkan sub
spesialis, seperti rumah sakit bersalin, rumah sakit jantung, rumah sakit kanker, dan
perkembangan diera ini sebutan pasien sudah mulai bergeser ke sebutan konsumen, era inilah
yang mulai memicu perkembangan teknologi rumah sakit sudah berubah yang bukan saja
pada teknologimedisnya namun juga pada teknologi manajemen sehingga keluarlah teori
manajemen moderen rumah sakit.
Fenomena yang ada pada periode III, organisasi rumah sakit sudah semakin kompleks,
kebutuhan akan tenaga professional semakin multi disiplin ilmu, bahkan kecenderungan yang
ada rumah sakit tidak layak lagi dipimpin oleh profesi dokter, namun lebih layak dipimpin
oleh seorang ekonom, yang lebih memahami strategi persaingan bisnis.
Isi manejemn Moderen Rumah Sakit
Manajemen moderen rumah sakit lebih cenderung kepada strategi manajemen pemasaran,
dimana produk jasa rumah sakit mulai digambarkan dalam kemasan produk fisik, seperti
performance rumah sakit, kecanggihan alat yang ditawarkan, kelengkapan layanan yang
dimiliki. Fenomena yang ada pada manajemen moderen rumah sakit, rumah sakit tidak lagi
dilambang sebagai warna putih, namun dikemas dengan perpaduan gradasi warna yang
menarik, kenyamanan tempat, bahkan kecenderungan bau khas lisol sudah mulai bergeser ke
bau pengharum ruangan.
Di era manejemn moderen rumah sakit sudah di setting lebih mirip dengan hotel, bahkan
disetiap ruang rawat sudah dipersiapkan fasilitas-fasilitas asesoris ruangan yang sedapat
mungkin menghilangkan kesan rumah sakit. Namun pada fenomena ini rumah sakit mulai
menjual jasa dengan harga mahal, dan kecenderungan yang ada masyarakat konsumen masih
pada posisi lemah dalam penawaran harga, keadaan ini memaksa rumah sakit mulai
meningkatkan manajemen pemasarannya, namum fenomena yang muncul dengan
berubahnya manajemen pamasaran adalah, rumah sakit yang tadinya dirikan oleh oragnsiasi
keagamaan berubah menjadi profik oriented.

Manajemen Pemasaran Rumah Sakit


Salah satu cirri dari Rumah Sakit yang mampu bertahan dan berkembang dalam erea
persaingan yang ketat adalah rumah sakit yang memperhatikan kepuasan pelanggan atau
konsumen. Ditengah membanjirnya produk (jasa) sejenis yang ditawarkan oleh berbagaoi
rumah sakit, konsumen cenderung untuk menentukan pilihan hanya pada produk yang
mampu memuaskan kebutuhan konsumen. Konsumen akan memberikan persepsi yang positif
atau customer value yang positif dari suatu produk jika merasa mendapatkan manfaat setelah
menggunakan produk tersebut..
Customer value yang positif dari suatu produk menunjukkan pada produk tersebut dirasakan
atau dipersepsi dengan baik pelanggan/konsumen. Pelanggan akan merasa mendapat manfaat
dari produk (customer benefits) yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang harus
dikorbankan atau biaya untuk membeli (cost of purhase) produk tersebut. Sebaliknya,
customer value yang negative menunjukkan konsumen cenderung tidak merasa puas dengan
suatu produk.
Kepuasan pelanggan (customer satisfaction) diukur dengan membandingkan customer benefit
dengan cost of purchase dari suatu produk. Untuk mengukur keselurahan manfaat yang di
dapat konsumen (overalla benefit) setelah menggunakan produk, dapat dilakukan dengan
menilai product benefit dan brand benefit, dengan penjelasan berikut ini
1. Product benefit, digunakan untuk mengukur persepsi konsumen terhadap atribut atau factor
yang dinilai dari suatu produk. Misalnya, jika produk adalah jasa layanan kesehatan,
labolatorium yang lengkap termasuk gizi dengan memberikan pilihan makanan yang disukai
pasien.
2. Service benefit, digunakan untuk mengukur persepsi konsumen melalui atribut jasa
pelayanan dari suatu produk. Misalnya, kecepatan layanan kesehatan , prosedur yang tidak
berbelit-belit dan perawat yang ramah.
3. Brand benefit, digunakan untuk mengukur prepsi konsumen yang melekat pada rumah
sakit atau citra rumah sakit. Atribut yang digunakan untuk mengukur dapat berupa komitmen
pihak rumah sakit terhadap pelanggan dan reputasi rumah sakit itu sendir