Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Angina pectoris ialah suatu sindrom klinis dimana terjadi sakit dada yang khas,
yaitu seperti tertekan atau terasa berat di dada yang sering menjalar ke lengan kiri. Sakit
dada tersebut biasanya timbul pada waktu melakukan aktivitas dan segera menghilang
bila pasien beristirahat. Oleh karena itu sebagai calon seorang perawat professional
diharapkan mampu mengerti serta melaksanakan asuhan keperawatan yang tepat pada
pasien dengan berdasarkan etiologi atau faktor-faktor yang berkaitan dengan penyakit
tersebut. Sesuai dengan konsep yang sudah ada yakni pengkajian, diagnosa, perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi.
Di Amerika serikat didapatkan bahwa kurang lebih 50% dari penderita penyakit
jantung koroner mempunyai manifestasi awal angina pectoris stabil ( APS ). Jumlah pasti
penderita angina pectoris sulit deketahui. Dilaporkan bahwa insiden angina pectoris
pertahun pada penderita diatas usia 30 tahun sebesar 213 penderita per 100.000
penduduk. Asosiasi jantung Amerika Memperkirakan ada 6.200.000 penderita APS ini di
Amerika serikat. Tapi data ini nampaknya sangat kecil dibandingkan dari laporan dua
studi besar dari Olmsted Country dan Framingham, yang mendapatkan bahwa kejadian
infark miokard akut sebesar 3% sampai 3,5% dari penderita angina pectoris pertahun,
atau kurang lebih 30 penderita angina pectoris untuk setiap penderita infark miokard
akut. ( tucker, 2008 ).
Di Indonesia penyakit jantung adalah pembunuh no. tiga. Jantung adalah organ
tubuh yang nekerja paling kuat. setiap harinya organ tubuh ini memompa 16.000 liter
darah keseluruh tubuh melalui pembuluh darah sekitar 90.000 km. walaupun relative
kecil namun organ ini bekerja dua kali lebih keras dari pada betis pelari sprint atau otot
petinju kelas berat. Tidak ada otot kecuali otot rahim wanita yang bekerja siang dan
malam selama 70 tahun atau lebih seperti jantung. Berikut ini terdapat beberapa anjuran
yang akan berguna bagi pemeliharaan kesehatan jantung. Namun, yang perlu ditekankan
bahwa dengan mengikuti anjuran-anjuran bukan berati kita akan kebal terhadap penyakit
jantung, sebab sampai sekarang belum ada sesuatupun yang dapat member kekebalan
seperti itu ( Barbara C Long, 2006 ).

1
B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep dan asuhan keperawatan pada masalah angina
pectoris agar dapat menangani pasien angina pectoris dengan prosedur yang tepat.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan kembali :
a. Pengertian angina pectoris
b. Klasifikasi angina pectoris
c. Penyebab angina pectoris
d. Manifestasi klinis angina pectoris
e. Patofisiologi angina pectoris
f. Pathways
g. Pemeriksaan Penunjang
h. Penatalaksanaan angina pectoris

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
Angina Pectoris adalah suatu sindroma klinis yang ditandai dengan episode atau
paroksisma nyeri atau perasaan tertekan di dada depan.(Brunner & Suddarth, 2005).
Angina pectoris adalah sutu sindroma klinis yang ditandai dengan episode atau
paroksisma nyeri atau perasaan tertekan didada depan, penyebab diperkirakan
berkurangnya aliran darah koroner, menyebabkan suplai oksigen kejantung tidak
adekuat, atau dengan katalain, suplai kebutuhan jantung meningkat. Angina biasanya
diakibatkan oleh penyakit aterosklerotik dan hampir selalu berhubungan dengan
sumbatan arteri koroner utama ( smaltzer, 2006 ).
Angina pectoris adalah sutu sindroma klinis yang ditandai dengan episode atau
paroksisma nyeri atau perasaan tertekan didada depan, penyebab diperkirakan
berkurangnya aliran darah koroner, menyebabkan suplai oksigen kejantung tidak
adekuat, atau dengan katalain, suplai kebutuhan jantung meningkat. Angina biasanya
diakibatkan oleh penyakit aterosklerotik dan hampir selalu berhubungan dengan
sumbatan arteri koroner utama ( smaltzer, 2006 ).

B. KLASIFIKASI
1. Angina Pektoris Stabil
Awitan secara klasik berkaitan dengan latihan atau aktifitas yang
meningkatkan kebutuhan oksigen miokard. Nyeri segera hilang dengan istirahat atau
penghentian aktifitas dan durasi nyeri 3 15 menit.
Angina stabil dibedakan menjadi 3 yaitu :
a. Angina noctural : nyeri terjadi malam hari, biasanya pada saat tidur tetapi ini
dapat di kurangi dengan duduk tegak.
b. Angina dekubitus : angina yang terjadi saat berbaring.
c. Iskemia tersamar : terdapat bukti objektif iskemia (seperti tes pada stress) tetapi
pasien tidak menunjukan gejala.
2. Angina Pektoris Tidak Stabil
Durasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina pektoris stabil. Pencetus
dapat terjadi pada keadaan istirahat atau pada tigkat aktifitas ringan. Kurang
responsif terhadap nitrat dan lebih sering ditemukan depresi segmen ST. Dapat

3
disebabkan oleh ruptur plak aterosklerosis, spasmus, trombus atau trombosit yang
beragregasi.
3. Angina Prinzmental (Angina Varian).
Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat, seringkali pagi hari. Nyeri
disebabkan karena spasmus pembuluh koroneraterosklerotik. EKG menunjukkan
elevasi segmen ST. Cenderung berkembang menjadi infaark miokard akutdan dapat
terjadi aritmia.

C. ETIOLOGI
1. Ateriosklerosis,merupakan istilah umum untuk beberapa penyakit, dimana dinding
arteri menjadi lebih tebal dan kurang lentur dimana bahan lemak terkumpul dibawah
lapisan sebelah dalam dari dinding arteri.
2. Spasme arteri koroner
3. Anemia berat,Artritis dan Aorta Insufisiensi
4. Denyut jantung yang terlalu cepat
5. Kelainan pada katup jantung, terutama aortic stenosis yang disebabkan oleh
sedikitnya aliran darah ke katup jantung.
6. Penebalan pada di dinding otot jantung - hipertropi- dimana dapat terjadi pada
penderita tekanan darah tinggi sepanjang tahun.

D. MANIFESTASI KLINIS
1. Angina pectoris stabil.
a. Muncul ketika melakukan aktifitas berat
b. Biasanya dapat diperkirakan dan rasa nyeri yang muncul biasanya sama dengan
rasa nyeri yang datang sebelumnya
c. Hilang dalam waktu yang pendek sekitar 5 menit atau kurang
d. Hilang dengan segera ketika anda beristirahat atau menggunakan pengobatan
terhadap angina
e. Rasa sakitnya dapat menyebar ke lengan, punggung atau area lain
f. Dapat dipicu oleh tekanan mental atau stres.
2. Angina pectoris tidak stabil.
a. Angina yang baru pertama kali atau angina stabil dengan karakteristik frekuensi
berat dan lamanya meningkat.
b. Timbul waktu istirahat/kerja ringan.

4
c. Tidak dapat diperkirakan
d. Biasanya lebih parah dan hilang dalam waktu yang lebih lama
e. Dapat tidak akan hilang saat beristirahat ataupun pengobatan angina
f. EKG: Deviasi segment ST depresi atau elevasi.
3. Angina variant.
a. Angina yang terjadi spontan umumnya waktu istirahat dan pada waktu aktifitas
ringan. Biasanya terjadi karena spasme arteri koroner
b. EKG deviasi segment ST depresi atau elevasi yang timbul pada waktu serangan
yang kemudian normal setelah serangan selesai.

E. PATOFISIOLOGI
Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidak adekuatan
suplay oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekakuan arteri dan
penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Sewaktu beban kerja suatu
jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan
meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih
banyak darah dan oksigen keotot jantung.
Namun apabila arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat
ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan
kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.
Angina Pectoris Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya
produksi No (nitrat Oksida yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif.
Dengan tidak adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul
spasmus koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke
miokard berkurang.
Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila
belum mencapai 75 %. Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas
berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang.
Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi
kebutuhan energi mereka. Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan
pH miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila kenutuhan energi sel-sel jantung
berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi
oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan
hilangnya asam laktat nyeri akan reda.

5
F. PATHWAYS

6
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Elektrokardiogram
Gambaran elektrokardiogram (EKG) yang dibuat pada waktu istirahat dan
bukan pada waktu serangan angina seringkali masih normal. Gambaran EKG
kadang-kadang menunjukkan bahwa pasien pernah mendapat infark moikard pada
masa lampau. Kadang-kadang EKG menunjukkan pembesaran ventrikel kiri pada
pasien hipertensi dan angina. Kadang-kadang EKG menunjukkan perubahan segmen
ST dan gelombang T yang tidak khas. Pada waktu serangan angina, EKG akan
menunjukkan adanya depresi segmen ST dan gelombang T menjadi negatif.
2. Foto Rontgen Dada
Foto rontgen dada seringkali menunjukkan bentuk jantung yang normal, tetapi
pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung yang membesar dan kadang-kadang
tampak adanya kalsifikasi arkus aorta.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam diagnosis angina
pectoris. Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis infark miokard jantung
akut maka sering dilakukan pemeriksaan enzim CPK, SGOT, atau LDH.
Enzim tersebut akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada
angina kadarnya masih normal. Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol,
HDL, LDL, dan trigliserida perlu dilakukan untuk menemukan faktor resiko seperti
hiperlipidemia dan pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk menemukan
diabetes mellitus yahng juga merupakan faktor risiko bagi pasien angina pectoris.
4. Uji Latihan Jasmani
Karena pada angina pectoris gambaran EKG seringkalimasih normal, maka
seringkali perlu dibuat suatu ujian jasmani. Pada uji jasmani tersebut dibuat EKG
pada waktu istirahat lalu pasien disuruh melakukan latihan dengan alat treadmill atau
sepeda ergometer sampai pasien mencapai kecepatan jantung maksimal atau
submaksimal dan selama latihan EKG di monitor demikian pula setelah selesai EKG
terus di monitor. Tes dianggap positif bila didapatkan depresi segmen ST sebesar 1
mm atau lebih pada waktu latihan atau sesudahnya. Lebih-lebih bila disamping
depresi segmen ST juga timbul rasa sakit dada seperti pada waktu serangan, maka
kemungkinan besar pasien memang menderita angina pectoris.

7
Di tempat yang tidak memiliki treadmill, test latihan jasmani dapat dilakukan
dengan cara Master, yaitu latihan dengan naik turun tangga dan dilakukan
pemeriksaan EKG sebelum dan sesudah melakukan latihan tersebut.
5. Thallium Exercise Myocardial Imaging
Pemeriksaan ini dilakukan bersama-sama ujian latihan jasmani dan dapat
menambah sensifitas dan spesifitas uji latihan.thallium 201 disuntikkan secara
intravena pada puncak latihan, kemudian dilakukan pemeriksaan scanning jantung
segera setelah latihan dihentikan dan diulang kembali setelah pasien sehat dan
kembali normal. Bila ada iskemia maka akan tampak cold spot pada daerah yang
yang menderita iskemia pada waktu latihan dan menjadi normal setelah pasien
istirahat. Pemeriksaan ini juga menunjukkan bagian otot jantung yang menderita
iskemia.

H. PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan medis angina adalah untuk menurunkan kebutuhan
oksigen jantung dan untuk meningkatkan suplai oksigen. Secara medis tujuan ini dicapai
melalui terapi farmakologi dan kontrol terhadap faktor risiko. Secara bedah tujuan ini
dicapai melalui revaskularisasi suplai darah jantung melalui bedah pintas arteri koroner
atau angioplasti koroner transluminal perkutan (PCTA= percutaneus transluminal
coronary angioplasty).
1. Farmakologi
a. Golongan nitrat
Nitrogliserin merupakan obat pilihan utama pada serangan angina akut,
mekanisme venanya sebagai dilatasi vena perifer dan pembuluh darah koroner,
eveknya langsung terhadap relaksasi otot polos vaskular. Nitrogliserin juga dapat
meningkatkan toleransi exercise pada penderita angina sebelum terjadi
hipoktesia miokard.Nitrogliserin adalah bahan vasoaktif yang berfungsi
melebarkan baik vena maupun arteria sehingga mempengaruhi sirkulasi perifer.
Dengan pelebaran vena terjadi pengumpulan darah vena diseluruh tubuh.
Akibatnya hanya sedikit darah yang kembali ke jantung dan terjadilah penurunan
tekanan pengisian (preload). Nitrat juga melemaskan anter terjadi pengumpulan
darah vena diseluruh tubuh. Akibatnya hanya sedikit darah yang kembali ke
jantung dan terjadilah penurunan tekanan pengisian (preload). Nitrat juga
melemaskan anteriol sistemik dan menyababkan penurunan tekanan darah

8
(afterload). Semuanya itu berakibat pada penurunan kebutuhan oksigen
jantung,menciptakan suatu keadaan yang lebih seimbang antara suplai dan
kebutuhan. Nitrogliserin biasanya diletakkan dibawah lidah (sublingual) atau di
pipi (kantong bukal) dan akan menghilangkan nyeri iskemia dalam 3 menit.
b. Penyekat beta-adrenergi
Tujuan pemberian penyekat beta adalah memperbaiki keseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen miokard, mengurangi nyeri, mengurangi luasnya infark dan
menurunkan risiko kejadian aritmia vebtrikel yang serius. Obat ini merupakan
terapi utama pada angina. Penyekat beta dapat menurunkan kebutuhan oksigen
miokard dengan cara menurunkan frekwensi denyut jantung, kontraktilitas ,
tekanan di arteri dan peregangan pada dinding ventrikel kiri. Efek samping
biasanya muncul bradikardi dan timbul blok atrioventrikuler. Obat penyekat beta
antara lain : atenolol, metoprolol, propranolol, nadolol.
c. Ca- antagonis
Dipakai pada pengobatan jangka panjang untuk mengurangi frekuensi serangan
pada beberapa bentuk angina, cara kerjanya memperbaiki spasme koroner
dengan cara menghambat tonus vasometer. Obat ini bekerja dengan cara
menghambat masuknya kalsium melalui saluran kalsium, yang akan
menyebabkan relaksasi otot polos pembulu darah sehingga terjadi vasodilatasi
pada pembuluh darah epikardial dan sistemik. Golongan obat kalsium antagonis
adalah amlodipin, bepridil, diltiazem, felodipin, isradipin, nikardipin, nifedipin,
nimodipin, verapamil.
d. Nitrat dan Nitrit
Merupakan vasodilator endothelium yang sangat bermanfaat untuk mengurangi
symptom angina pectoris, disamping juga mempunyai efek antitrombotik dan
antiplatelet. Nitrat menurunkan kebutuhan oksigen miokard melalui pengurangan
preload sehingga terjadi pengurangan volume ventrikel dan tekanan arterial.
Salah satu masalah penggunaan nitrat jangka panjang adalah terjadinya toleransi
terhadap nitrat. Untuk mencegah terjadinya toleransi dianjurkan memakai nitrat
dengan periode bebas nitrat yang cukup yaitu 8 12jam. Obat golongan nitrat
dan nitrit adalah : amil nitrit, ISDN, isosorbid mononitrat, nitrogliserin.
2. Non Farmakologis
a. Berhenti merokok, karena merokok mengakibatkan takikardia dan naiknya
tekanan darah, sehingga memaksa jantung bekerja keras.

9
b. Diet
c. Mengurangi stress untuk menurunkan kadar adrenalin yang dapat menimbulkan
vasokontriksi pembuluhdarah.
d. Pengontrolan gula darah. Penggunaan kontra sepsi dan kepribadian seperti
sangat kompetitif, agresif atau ambisius.

I. PENGKAJIAN
1. Pengkajian Primer
Pengkajian dilakukan secara cepat dan sistemik,antara lain :
a. Airway
1) Lidah jatuh kebelakang
2) Benda asing/ darah pada rongga mulut
3) Adanya sekret
b. Breathing
1) pasien sesak nafas dan cepat letih
2) Pernafasan Kusmaul
c. Circulation
1) TD meningkat
2) Nadi kuat
3) Disritmia
4) Adanya peningkatan JVP
5) Capillary refill > 2 detik
6) Akral dingin
d. Disability : pemeriksaan neurologis GCS menurun
A : Allert : sadar penuh, respon bagus
V : Voice Respon :kesadaran menurun, berespon thd suara
P : Pain Respons :kesadaran menurun, tdk berespon thd suara, berespon
thd rangsangan nyeri
U : Unresponsiv : kesadaran menurun, tdk berespon thd suara, tdk bersespon thd
nyeri
2. Pengkajian Sekunder
a. AMPLE : alergi, medication, past illness, last meal, event
b. Pemeriksaan seluruh tubuh : Head to toe
c. Pemeriksaan penunjang : lebih detail, evaluasi ulang

10
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri yang berhubungan dengan penyumbatan arteria koronaria, vasospasme,
hipoksia, uji diagnostik, dan kegiatan yang melelahkan.
2. Gangguan perfusi jaringan yang berhubungan dengan hipertensi, angina,
penyumbatan arteria koronaria.
3. Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan, suplai oksigen tidak
seimbang dengan kebutuhan, imobilisasi, nyeri kelelahan.
4. Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan kemampuan kognitif.
5. Cemas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan, perubahan fungsi dan
peran, konsep diri, ancaman kematian

K. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Nyeri yang berhubungan dengan penyumbatan arteria koronaria, vasospasme,
hipoksia, uji diagnostik, dan kegiatan yang melelahkan.
Intervensi :
a. Anjurkan pasien untuk memberitahu perawat dengan cepat bila terjadi nyeri dada.
b. Observasi pasien tentang skala nyeri atau ketidaknyamanan
c. Gunakan flow sheet untuk memonitor nyeri terhadap efek pemberian obat angina.
d. Kaji tentang kepercayaan, kebudayaan, terhadap nyeri pasien dan responnya.
e. Managemen nyeri :
1) Kaji secara komprehensif terhadap nyeri : lokasi, karekteristik, onset, durasi,
frekuensi, dan kualitasnya.
2) Observasi nonverbal pasien terhadap ketidaknyamanan.
f. Observasi gejala yang berhubungan dengan dispnea, mual/muntah, pusing,
palpitasi.
g. Posisikan pasien pada istirahat total selama episode angina.
h. Kolaborasi : pemberian oksigen, Nitrit, Penyekat beta, Morfin sulfat, EKG serial
2. Penurunan curah jantung berhubungan dgn perubahan inotropik (iskemia miokard
transien/memanjang).
Intervensi :
a. Kaji tanda vital : blood pressure, status respirasi rate, nadi dan suhu.
b. Kaji status mental : disorentasi, bingung
c. Catat warna kulit : cianosis, capillary refile.

11
d. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas terhadap perubahan : nafas pendek, nyeri,
palpitasi, pusing.
e. Evaluasi respon pasien terhadap terapi O2.
f. Auskultasi bunyi nafas : bunyi tambahan dan bunyi jantung : murmur
g. Pertahankan posisi tirah baring pada posisi yang nyaman selama episode akut.
h. Berikin periode istirahat dalam melakukn aktivitas keperwatan.
i. Tekankan untuk menghindari regangan : selama defekasi, batuk
j. Pantau dan catat efek terapeutik/efek samping selama pemberian kalsium
antagonis, beta bloker,dan nitrat.
k. Kolaborasi : Pemberian kalsium antagonis, Tes katerisasi untuk persiapan PTCA
3. Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan, suplai oksigen tidak
seimbang dengan kebutuhan, imobilisasi, nyeri kelelahan.
Intervensi :
a. Kaji respons klien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali
per menit di atas frekuensi istirahat; peningkatan TD yang nyata selama/sesudah
aktivitas; dispnea atau nyeri dada; keletihan dan kelemahan yang berlebihan;
diaphoresis; pusing atau pingsan.
b. Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi.
c. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri bertahap jika dapat
ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.
4. Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan kemampuan kognitif.
Intervensi :
a. Jelaskan kembali tentang perlunya mencegah serangan ulang.
b. Dorong klien untuk menghindari factor yang dapat sebagai pencetus episode
angina : stress, kerja fisik, makan terlalu banyak/berat, perubahan suhu yang
ekstrem.
c. Bantu pasien untuk mengidentifikasi sumber fisik dan stress dan diskusikan cara
yang dapat mereka hindari.
d. Jelaskan pentingnya mengkontrol berat badan, menghentikan rokok. Perubahan
diet dan olah raga.
e. Dorong pasien untuk mengikuti program yang ditentukan untuk pencegahan
kelelahan.
f. Tunjukkan pada pasien untuk memantau nadi sendiri selama aktivitas.

12
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Angina pectoris adalah sutu sindroma klinis yang ditandai dengan episode atau
paroksisma nyeri atau perasaan tertekan didada depan, penyebab diperkirakan
berkurangnya aliran darah koroner, menyebabkan suplai oksigen kejantung tidak
adekuat, atau dengan katalain, suplai kebutuhan jantung meningkat. Angina biasanya
diakibatkan oleh penyakit aterosklerotik dan hampir selalu berhubungan dengan
sumbatan arteri koroner utama ( smaltzer, 2006 ).
Angina pectoris dibagi menjadi tiga macam yaitu angina pectoris stabil, tidak
stabil dan varian. Penatalaksanaan medis angina adalah untuk menurunkan kebutuhan
oksigen jantung dan untuk meningkatkan suplai oksigen. Secara medis tujuan ini dicapai
melalui terapi farmakologi (nitrat, nitrit, penyekat beta dan Ca antagonis) dan kontrol
terhadap faktor risiko (berhenti merokok, diet, stress, kontrol gula darah). Secara bedah
tujuan ini dicapai melalui revaskularisasi suplai darah jantung melalui bedah pintas arteri
koroner atau angioplasti koroner transluminal perkutan (PCTA= percutaneus
transluminal coronary angioplasty).

B. SARAN
Untuk mahasiswa sebaiknya dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien
dengan angina pectoris diharapkan mampu memahami konsep dasar angina pectoris serta
konsep asuhan keperawatan sehingga dapat mengatasi masalah secara cepat dan tepat.

13
DAFTAR PUSTAKA

Betram G Katzung, ( 1998 ) Farmakologi Dasar Dan Klinik. Jakarta : EGC


Brunner & Suddarth, ( 2002 ) Keperawatan Medical-Bedah Vol 2. Jakarta : EGC
Judith M. Wilkinson, ( 2005 ) Prentice Hall Nursing Diagnosis Handbook with NIC
Interventions and NOC Outcome. New Jersey : Horrisonburg.
Marilyn E. doenges at all (2000), Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Sjaifoellah Noor, ( 1996 ) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Pustaka.

14