Anda di halaman 1dari 11

TUGAS ANATOMI SATWA AKUATIK

(Osmoregulasi pada ikan)

Disusun Oleh :

NAMA : ELPHAN AUGUSTA

NIM : O 111 12 253

PRODI : KEDOKTERAN HEWAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2013
1. Diagram mekanisme osmoregulasi ikan air tawar dan ikan air
laut.

OSMOREGULASI
Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang dilakukan oleh
organisme air untuk mengatur kehidupannya sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal.
Ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan
harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam
tubuhnya dapat berlangsung dengan normal (Marshall dan Grosell, 2006).
Proses osmoregulasi ini terjadi karena adanya pengaturan konsentrasi ion-ion konsentrasi
cairan tubuh, dimana proses ini juga membutuhkan energi. Bila ikan air tawar dimasukkan dalam
medium air laut maka yang akan terjadi adalah pemasukan air dalam tubuh ikan dari medium
dan juga berusaha mengeluarkan sebagian garam-garam dari dalam tubuhnya. Bila ikan tidak
dapat melakukan proses ini, maka sel-sel ikan akan pecah (turgor) dan jika terjadi sebaliknya
ikan akan kekurangan cairan atau biasa disebut dehidrasi (Fujaya, 2004).
Tujuan utama osmoregulasi adalah untuk mengontrol konsentrasi larutan dalam tubuh
ikan. Apabila ikan tidak mampu mengontrol proses osmosis yang terjadi, ikan yang bersangkutan
akan mati, karena akan terjadi ketidakseimbangan konsentrasi larutan tubuh yang akan berada di
luar batas toleransinya (Takeuchi, dkk., 2002).
Ada tiga pola regulasi ion dan air, yakni : (1) Regulasi hipertonik atau hiperosmotik, yaitu
pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi dari konsentrasi media,
misalnya pada potadrom (ikan air tawar). (2) Regulasi hipotonik atau hipoosmotik, yaitu
pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi media,
misalnya pada oseandrom (ikan air laut). dan (3) Regulasi isotonik atau isoosmotik, yaitu bila
konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi media (Takeuchi, dkk., 2002).
OSMOROGULASI PADA IKAN
Mekanisme ekskresi pada ikan, baik ikan yang hidup di air tawar maupun ikan yang hidup di air
laut memiliki kaitan erat dengan mekanisme dalam osmoregulasinya atau pengaturan cairan
dalam tubuhnya. Oleh karena tempat hidupnya berbeda, maka ikan air tawar dan ikan air laut
memiliki mekanisme osmoregulasi yang berbeda pula, yakni sebagai berikut:

Diagram osmerogulasi ikan air laut dan ikan air tawar

Ikan Air Tawar

pada ikan air tawar konsentrasi zat terlarut pada cairan tubuhnya sangat berbeda dengan
konsentrasi zat terlarut yang ada di lingkungannya. Di dalam cairan tubuh ikan, konsentrasi zat-
zat terlarut lebih tinggi daripada konsentrasi zat terlarut yang ada di lingkungan. Hal tersebut
menyebabkan masalah osmotik bagi ikan-ikan air tawar, karena secara osmosis air berpindah
dari larutan yang konsentrasi zat terlarutnya rendah ke larutan yang konsentrasi zat telarutnya
lebih tinggi, sehingga secara konstan tubuh ikan akan kemasukan air dari lingkungannya. Oleh
karena itu, tubuh ikan diselimuti lendir untuk mencegah masuknya air ke dalam tubuh ikan
secara berlebihan. Namun, tidak menutup kemungkinan juga jika tubuh ikan masih dapat
kemasukan air dari lingkungan dan ion-ion di dalam tubuhnya keluar melalui insang. Ikan air
tawar memperoleh kelebihan air melalui permukaan tubuhnya, khususnya melalui insang dan air
yang terkandung di dalam makanannya, sehingga ikan air tawar tidak banyak minum kecuali
yang terkandung dalam makanan. Selain kelebihan air, ikan air tawar juga mengalami kehilangan
zat-zat terlarut yang ada di dalam urinnya (urin merupakan sampah yang dihasilkan melalui
sistem ekskresi).
Demi menaga kestabilan tekanan osmotik cairan di dalam tubuhnya, ikan air tawar
secara terus menerus mengekskresikan air dalam jumlah besar. dalam usaha mempertahankan
keadaan tersebut, di dalam tubuh ikan air tawar melibatkan kerja tiga sistem organ, antara lain
sistem pencernaan untuk mengambil ion-ion dari makanan; sistem respirasi yakni menggunakan
insang untuk mengambil ion-ion garam, khususnya Na+ dan Cl-; serta ginjal yang merupakan
organ utama dalam sistem ekskresi yang bekerja secara konstan menghasilkan urin encer dalam
jumlah banyak (kadar zat terlarut pada urin lebih rendah dibandingkan dengan yang ada pada
cairan tubuh). Dengan cara tersebut, maka ikan air tawar membuang kelebihan air dan
mempertahankan zat-zat terlarut yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat dilakukan ikan air
tawar karena ikan air tawar memiliki ginjal dengan glomerulinya yang berkembang dengan baik
untuk melakukan filtrasi dengan cara memproduksi urin yang bersifat encer serta reabsorpsi
selektif terhadap zat-zat terlarut kembali ke kapiler tubuler.

Alat ekskresi dan osmoregulasi ikan air tawar

Ikan Air Laut

mekanisme osmoregulasi pada ikan air laut berkebalikan dengan ikan air tawar. Cairan
tubuh ikan air laut bersifat hipoosmotik terhadap lingkungannya, yaitu memiliki konsentrasi zat
terlarut yang lebih rendah daripada yang ada di lingkungannya. Ikan air laut ini kehilangan air
karena proses osmosis yang terjadi melalui permukaan tubuhnya. Untuk mengganti air yang
hilang tersebut maka ikan air laut meminum banyak air laut. Kelebihan garam yang ada dalam
tubuhnya juga dibuang dengan cara garam yang berupa ion Na+ yang masuk bersama air yang
diminum secara transpor aktif melalui dinding usus dialihkan ke dalam darah, sedangkan ion Cl -
akan mengalir secara pasif mengikuti besarnya gradien konsentrasi dan gradien elektrik yang
timbul. Sel-sel klorida yang terdapat pada insang secara aktif akan mensekresikan ion Cl- dari
darah ke air laut, sedangkan ion Na+ akan mengalir secara pasif mengikuti arah aliran ion Cl-
sesuai dengan gradien konsentrasi yang timbul. Ginjal yang ada pada ikan air laut hanya
mengandung sedikit glomerolus atau bahkan tidak ada sehingga ginjalnya tidak mampu
melakukan filtrasi (ultrafiltrasi) dan urin terbentuk oleh sekresi gram-garam dan TMO yang
berkaitan dengan osmosis air. Garam-garam tersebut (ion Na+) disekresikan oleh organ
pengekskresi garam yang disebut sebagai kelenjar rektal. Ikan air laut mengeluarkan urin dengan
volume yang kecil dan urinnya mengandung garam (ion Na+) dan trimetilamin oksida (TMO)
yang menyebabkan bau khas pada ikan air laut.

Alat ekskresi dan osmoregulasi ikan air laut

Berbeda dengan kedua jenis ikan di atas, ikan yang hidupnya bermigrasi dari air laut
dan air tawar, seperti ikan salmon memiliki adaptasi osmoregulasi yang baik, ikan salmon
bersifat euryhalin, yaitu ketika berada di laut ikan salmon akan melakukan mekanisme seperti
ikan air laut dengan cara meminum air laut dan menekskresikan kelebihan garam melalui insang
serta melakukan osmoregulasi seperti ikan yang hidup di air laut. Setelah bermigrasi ke air tawar
maka salmon akan berhenti minum dan insangnya mulai mengambil garam dari lingkungannya
yang konsentrasinya rendah, seperti halnya mekanisme yang dilakukan oleh ikan yang hidup di
air tawar pada umumnya.

Pada gambar, kita dapat melihat perbedaan antara osmoregulasi ikan air tawar dan ikan air laut.
jika dilihat dari sistem keseimbangannya, ikan air tawar termasuk hipertonik karena tekanan
osmotik lingkungan lebih rendah di bandingkan dengan tekanan osmotik lingkungan sehingga
untuk melakukan proses osmoregulasi ikan air tawar lebih banyak melakukan pembuangan urine.
Hal ini dilakukan karena untuk mengontrol keseimbangan garam-garam yang ada dalam
tubuhnya. Sedangkan pada ikan air laut karena bersifat hipotonik maka lebih cenderung banyak
minum agar garam-garam di dalam tubuhnya tetap netral sehingga tidak terjadi yang namanya
dehidrasi (Takeuchi, dkk., 2002).

Proses Osmoregulasi Pada Ikan


Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan
serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan
karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya.
Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak
diperlukan oleh sel atau organisme hidup.

Osmoregulasi sangat penting pada hewan air karena tubuh ikan bersifat permeabel
terhadap lingkungan maupun lautan garam. Sifat fisik lingkungan yang berbeda menyebabkan
ada perbedaan proses osmoregulasi antara ikan air tawar dengan ikan air laut. Cairan tubuh ikan
tawar mempunyai tekanan yang lebih besar dari pada lingkungannya, garam-garam cenderung ke
luar. Sebaliknya ikan yang hidup di laut mempunyai tekanan osmotik yang lebih kecil dari pada
lingkunganya, sehingga terdapat kecenderungan garam-garam masuk ke dalam tubuh dan air
keluar.

Beberapa organ yang berperan dalam proses osmoregulasi ikan adalah insang, ginjal, kulit,
dan usus. Organ-organ ini melakukan fungsi adaptasi di bawah kontrol hormon osmoregulasi,
terutama hormon-hormon yang diekresi oleh pituitari, ginjal, dan urofisis.

Pada ikan air tawar, air secara terus menerus masuk kedalam tubuh ikan melalui insang.
Ini secara pasif berlangsung melalui suatu proses osmosis yaitu, terjadi sebagai akibat dari kadar
garam dalam tubuh ikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungannya. Dalam keadaan
normal proses ini berlangsung seimbang. Ikan air tawar harus selalu menjaga dirinya agar garam
tidak melarut dan lolos ke dalam air. Garam-garam dari lingkungan akan diserap oleh ikan
menggunakan energi metaboliknya. Apabila hal ini terjadi maka ikan yang bersangkutan akan
mengalami masalah. Ikan mempertahankan keseimbangannya dengan tidak banyak minum air,
kulitnya diliputi mucus, melakukan osmosis lewat insang, produksi urinnya encer, dan
memompa garam melalui sel-sel khusus pada insang. Secara umum kulit ikan merupakan lapisan
kedap, sehingga garam di dalam tubuhnya tidak mudah bocor kedalam air. Satu-satunya bagian
ikan yang berinteraksi dengan air adalah insang.

Pada ikan air laut terjadi kehilangan air dari dalam tubuh melalui kulit dan kemudian ikan
akan mendapatkan garam-garam dari air laut yang masuk lewat mulutnya. Organ dalam tubuh
ikan menyerap ion-ion garam seperti Na+, K+ dan Cl-, serta air masuk ke dalam darah dan
selanjutnya disirkulasi. Kemudian insang ikan akan mengeluarkan kembali ion-ion tersebut dari
darah ke lingkungan luar.
Pada saat ikan sakit, luka, atau stres proses osmosis akan terganggu sehingga air akan lebih
banyak masuk kedalam tubuh ikan, dan garam lebih banyak keluar dari tubuh. Akibatnya beban
kerja ginjal ikan untuk memompa air keluar dari dalam tubuhnya meningkat. Bila hal ini terus
berlangsung bisa sampai menyebabkan ginjal menjadi rusak sehingga ikan mati. Dalam keadaan
normal ikan mampu memompa air kurang lebih 1/3 dari berat total tubuhnya setiap hari.
Penambahan garam kedalam air diharapkan dapat membantu menjaga ketidakseimbangan ini,
sehingga ikan tetap bertahan hidup dan mempunyai kesempatan untuk memulihkan dirinya dari
luka atau penyakit. Tentunya dosis untuk ikan harus diantur sedemikian rupa sehingga kadar
garamnya tidak lebih tinggi dari pada kadar garam dalam darah ikan. Apabila kadar garam dalam
air lebih tinggi dari kadar garam darah, efek sebaliknya akan terjadi, air akan keluar dari tubuh
ikan, dan garam masuk kedalam darah, akibatnya ikan terdehidrasi dan akhirnya mati.

Pada kadar garam yang tinggi, garam sendiri akan berfungsi untuk mematikan penyakit
terutama yang diakibatkan oleh jamur dan bakteri. Meskipun demikian lama pemberiannya harus
diperhatikan secara seksama agar jangan sampai ikan mengalami dehidrasi. Osmoregulasi
merupakan suatu fungsi fisiologis yang membutuhkan energi, yang dikontrol oleh penyerapan
selektif ion-ion melewati insang dan beberapa bagian tubuh lainnya dikontrol oleh pembuangan
yang selektif terhadap garam-garam. Kemampuan osmoregulasi bergantung suhu, musim, umur,
kondisi fisiologis, jenis kelamin dan perbedaan genotip.

Tingkat osmoregulasi dipengaruhi oleh salinitas tertentu dan akan berpengaruh terhadap
tingkat osmolalitas plasma, jika salinitasnya meningkat maka osmolalitas plasma juga meningkat
sedangkan pada kapasitas osmoregulasinya semakin besar kadar salinitas suatu perairan maka
semakin kecil nilai kapasitas osmoregulasinya.

Dalam osmoregulasi terdapat dua istilah yaitu eurihalin dan stenohalin. Eurihalin adalah
kemampuan suatu organisme terhadap keadaan perubahan salinitas yang tinggi. Ikan yang
tergolong dalam eurihalin adalah salah satunya ikan nila. Stenohalin adalah tingkat adaptasi yang
sempit terhadap salinitas yang tinggi. Contoh organisme yang bersifat stenohalin salah satunya
adalah ikan nilam.

Dalam responnya terhadap perubahan salinitas, pengaturan air dan ion paling sedikit
terdapat dua fase. Pengaturan segera yaitu ikan mulai atau menghentikan minum dan
meningkatkan atau menurunkan aktivitas transport ion dan air yang telah ada pada epitel
osmoregulasi yang berhadapan dengan perubahan salinitas lingkungan. Pengaturan jangka
panjang melibatkan modifikasi organ-organ osmoregulasi seperti insang, intestine dan ginjal.
Pada level jaringan dan sel, bila kan berpindah ke lingkungan laut, sel klorida tipe air tawar
hilang, sedangkan sel klorida tipe air laut berdiferensiasi pada insang.

Tidak ada organisme yang hidup di air tawar tidak melakukan osmoregulasi. Sedangkan
pada ikan air laut, beberapa diantaranya hanya melakukan sedikit upaya untuk mengontrol
tekanan osmose dalam tubuhnya. Semakin jauh perbedaan tekanan osmose antara tubuh dan
lingkungan, semakin banyak energy metabolisme yang dibutuhkan untuk melakukan
osmoregulasi sebagai upaya adaptasi, namun tetap ada batas toleransi.

a. Kapasitas osmoregulasi > 1 disebut Hiperosmotik.

b. Kapasitas osmoregulasi = 1 disebut Isoosmotik.

c. Kapasitas osmoregulasi < 1 disebut hipoosmotik.

Untuk ikan-ikan potadrom yang bersifat hiperosmotik terhadap lingkungannya dalam


proses osmoregulasi, air bergerak ke dalam tubuh dan ion-ion keluar ke lingkungan dengan cara
difusi. Keseimbangan cairan tubuhnya dapat terjadi dengan cara meminum sedikit air atau
bahkan tidak minum sama sekali. Kelebihan air dalam tubuhnya dapat dikurangi dengan
membuangnya dalam bentuk urin. Untuk ikan-ikan oseanodrom yang bersifat hipoosmotik
terhadap lingkungannya, air mengalir secara osmose dari dalam tubuhnya melalui ginjal, insang
dan kulit ke lingkungan, sedangkan ion-ion masuk ke dalam tubuhnya secara difusi. Sedangkan
untuk ikan-ikan eurihalin, memiliki kemampuan untuk dengan cepat menyeimbangkan tekanan
osmotik dalam tubuhnya dengan media (isoosmotik), namun karana kondisi lingkungan perairan
tidak selalu tetap, maka proses ormoregulasi seperti halnya ikan potadrom dan oseanodrom tetap
terjadi.

Sifat Osmoregulasi pada Ikan


Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta
pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya
perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu
banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut
dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak
diperlukan oleh sel atau organisme hidup. Tekanan osmotik adalah tekanan yang diberikan pada larutan
yang dapat menghentikan perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semi
permeabel (proses osmosis).

- Osmoregulasi pada ikan air tawar

Ikan air tawar cenderung untuk menyerap air dari lingkungannya dengan cara osmosis, terjadi sebagai
akibat dari kadar garam dalam tubuh ikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungannya. Insang
ikan air tawar secara aktif memasukkan garam dari lingkungan ke dalam tubuh. Ginjal akan memompa
keluar kelebihan air sebagai air seni. Ikan air tawar harus selalu menjaga dirinya agar garam tidak melarut
dan lolos ke dalam air. Ginjal mempunyai glomeruli dalam jumlah banyak dengan diameter besar. Ini
dimaksudkan untuk lebih dapat menahan garam-garam tubuh agar tidak keluar dan sekaligus memompa
air seni sebanyak-banyaknya. Ketika cairan dari badan malpighi memasuki tubuli ginjal, glukosa akan
diserap kembali pada tubuli proximallis dan garam-garam diserap kembali pada tubuli distal. Dinding
tubuli ginjal bersifat impermiable (kedap air, tidak dapat ditembus) terhadap air.

Ikan mempertahankan keseimbangannya dengan tidak banyak minum air, kulitnya diliputi mucus,
melakukan osmosis lewat insang, produksi urinnya encer, dan memompa garam melalui sel-sel khusus
pada insang. Secara umum kulit ikan merupakan lapisan kedap, sehingga garam di dalam tubuhnya tidak
mudah bocor kedalam air. Satu-satunya bagian ikan yang berinteraksi dengan air adalah insang.

- Osmoregulasi pada ikan air laut

Ikan air laut memiliki konsentrasi garam yang tinggi di dalam darahnya. Ikan air laut cenderung untuk
kehilangan air di dalam sel-sel tubuhnya karena proses osmosis melalui kulit. Untuk itu, insang ikan air
laut aktif mengeluarkan garam dari tubuhnya. Untuk mengatasi kehilangan air, ikan minumair laut
sebanyak-banyaknya. Dengan demikian berarti pula kandungan garam akan meningkat dalam cairan
tubuh. Organ dalam tubuh ikan menyerap ion-ion garam seperti Na+, K+ dan Cl-, serta air masuk ke
dalam darah dan selanjutnya disirkulasi. Kemudian insang ikan akan mengeluarkan kembali ion-ion
tersebut dari darah ke lingkungan luar. Karena ikan laut dipaksa oleh kondisi osmotik untuk
mempertahankan air, volume air seni lebih sedikit dibandingkan dengan ikan air tawar. Tubuli ginjal
mampu berfungsi sebagai penahan air. Jumlah glomeruli ikan laut cenderung lebih sedikit dan bentuknya
lebih kecil daripada ikan air tawar. Urine yang dihasilkan mengandung konsentrasi -
Perbedaan sistem osmoregulasi ikan air tawar dan ikan laut

air yang tinggi.

Ikan Air Tawar Ikan air Laut


sedikit minum air banyak minum air
pengeluaran urine banyak, encer pengeluaran urine sedikit, pekat
mempertahankan garam dalam tubuh aktif mengeluarkan garam dari tubu

2. Sifat Osmokonfomer pada Ikan

Omokonfomer merupakan suatu sistem dari organisme yang tidak mampu untuk mempertahankan
tekanan osmotik di dalam tubuhnya sehingga organisme tersebut harus melakukan adaptasi dalam
lingkungannnya. Kebanyakan organisme bersifat osmokonformer hidup di lingkungan yang memiliki
komposisi kimia yang sangat stabil (di laut) maka organisme osmokonformer memiliki osmolaritas yang
cenderung konstan.

Salah satu penggunaan sistem osmokonfomer dilakukan oleh ikan hiu, dia memiliki osmolaritas internal
yang sama dengan lingkungannya sehingga tidak ada tendensi untuk memperoleh atau kehilangan air.
Organisme tersebut memiliki konsentrasi zat terlarut dalam cairan tubuhnya yang sama dengan
konsentrasi zat terlarut dari lingkungan sekitarnya (air laut). Cara ikan tersebut untuk mempertahankan
diri terhadap lingkungannya adalah menyamakan tekanan osmotik tubuhnya dengan tekanan luarnya (air
laut) meskipun tidak pernah dapat mencapai kesamaan. Namun tekanan pada ikan tersebut hampir sama.

Ikan hiu dalam melakukan sistem osmokonfomer tersebut tidak membuang urinenya keluar supaya
tekanan osmotiknya tetap terjaga. Dari cara tersebut menyebabkan daging ikan hiu menjadi bau seperti
urine.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012. Kebiasaan Makan Ikan Lele. Diakses pada tanggal 23 April 2012

., 2011. Jenis-jenis Ikan Tawar. Diakses pada tanggal 29 November 2011

Affandi R dan Sulistiono, 2011. Ichtiology. CV. Lubuk Agung : Bandung


Burhanuddin, A. 2008. Morfologi dan Anatomi Hewan Air. Yayasan Dwi Sri : Bogor

Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta : Jakarta.


Kusrini, E. 2007. Adaptasi Fisiologis Terhadap Salinitas. Rineka Cipta : Jakarta
Hernowo. A dan Suyanto R. 2006. Pembenihan dan pembesaran ikan lele. Penebar Swadaya : Jakarta

Mahyuddin, Kholish, 2011. "Panduan Lengkap Agribisnis Lele", Penebar Swadaya :Jakarta

Marshall, W.S., dan M. Grosell. 2006. Ion transport, osmoregulation, and acid-base balance. In the
Physiology of Fishes, Evans, D.H., and Claiborne, J.B. (eds.). taylor and Francis Group.

Puspowardoy, 2003. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Bandeng. Rineka Cipta : Jakarta

Romimohtarto dan Juwana, 2006. Biologi Laut. Erlangga : Jakarta

Takeuchi, K., H. Toyohara, dan M. Sakaguchi. 2000. Effect of hyper- and hypoosmotic stress on protein
in cultured epidermal cell of common carp. Fisheries Science 66: 117-123