Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat hidayah
dan hinayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah SISTEM
PENGHARGAAN BAGI BIDAN

Penyusun berharap tulisan ini bisa memberikan wawasan luas untuk memahami
tentang HAK DAN KEWAJIBAN BIDAN, REGISTRASI DAN LEGISLASI, REWARD,
SANKSI,PERLINDUNGAN HUKUM BAGI BIDAN. Selain itu penyusun berharap tulisan
ini dapat menjadi dasar pengantar dan pemenuhan materi perkuliahan konsep kebidanan

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang
bersifat sangat membangun, penulis mengharapkan demi kesempurnaan makalah ini dan
semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu
penyusunan tulisan ini. Semoga Allah SWT memberkati kita semua.

Pontianak,18 September 2014

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar......................................................................................................1
Daftar isi................................................................................................................2
Bab I Pendahuluan
Latar Belakang......................................................................................................3
Rumusan Masalah.................................................................................................3
Tujuan...................................................................................................................3
Bab II Pembahasan
Sistem Penghargaan bagi Bidan
Reward..................................................................................................................4
Legislasi................................................................................................................5
Registrasi...............................................................................................................6
Sanksi....................................................................................................................8
Bab III Penutup
Kesimpulan...........................................................................................................10
Saran.....................................................................................................................10
Daftar Pustaka......................................................................................................11

2
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Bidan sebagai tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat sentral dalam pelayanan
kesehatan dasar. Untuk menanggulangi tingginya Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian
Bayi, sekolah kebidanan secara khusus didirikan pemerintah Hindia Belanda. Setelah
kemerdekaan, pemerintah Indonesia melalui Departemen Kesehatan dan BKKBN terus
mendorong pertumbuhan jumlah bidan. Menurut Profil Kedudukan dan Peranan Wanita 1995
balk di kota maupun di desa, perempuan lebih memilih bidan dalam memeriksakan kesehatan
dan kehamilan mereka dari pada tenaga kesehatan iainnya. Habsjah dan Aviatri (dalam Oey-
Gardiner 1996:393) mengungkapkan bahwa sejak tahun 1952 bidan sudah dikerahkan untuk
mengelola. Balai Kesehtan Ibu dan Anak. Ketika pada tahun 1968 puskesmas pertama kali
diperkenalkan di Indonesia, Depkes mengeluarkan peraturan bahwa tenaga puskesmas harus
terdiri atas tenaga dokter, bidan, mantri, dan perawat. Tetapi berbagai studi membuktikan
bahwa banyak puskesmas yang hanya memiliki bidan atau mantri sebagai satu-satunya
tenaga kesehatan yang setiap saat dapat dikunjungi oleh masyarakat. Bidan di Indonesia
adalah ujung tombak pelayanan kesehatan dasar.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa dalam melaksanakan tugas di desa yang
sulit dijangkau, tugas bidan dirasakan terlalu banyak. Bidan tidak saja bertugas melayani ibu
hamil dan balita, mereka juga melayani pertolongan kesehatan secara umum seperti
menolong prang sakit, kecelakaan lalu lintas sampai menindik dan menyunat bayi yang Baru
lahir. Selain menangani aspek klinis medis kebidanan dan umum, mereka juga menangani
aspek administrasi dan manajerial. Tugas administrasi yang dituntut oleh puskesmas sering
mengakibatkan tugas pokok menjadi terlantar.Puskesmas selalu meminta data diri yang sulit
diperoleh. Membina hubungan dengan dukun bayi dan anggota masyarakat merupakan aspek
sosial yang harus diperhatikan oleh seorang bidan. Dalam banyak hal bidan merasakan bekal
dan kemampuannya amat terbatas untuk dapat menangani semua harapan masyarakat.
Pendidikan lanjut baik berupa kursus singkat maupun seminar sangat mereka harapkan untuk
dapat memperoleh bekal dalam menjalankan profesi mereka.
Hal tersebut mendorong penulis ini untuk mengetahui dan memahami lebih mendalam
bagaimana peran dan penghargaan yang diperoleh bidan, hak dan kewajiban bidan, registrasi
dan legilasi serta sanksi dalam menjalankan tugas mereka sebagai tenaga kesehatan baik di
puskesmas maupun di praktek sore mereka di rumah.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah
1.2.1 Apa saja reward dan sanksi dalam profesi bidan?
1.2.2 Bagaimana hak dan kewajiban seorang bidan ?
1.2.3 Bagaimana cara registrasi dan legislasi bidan dalam menjalankan tugasnya?
1.2.4 Bagaiamana perlindungan hukum bagi seorang bidan?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah
1.3.1 Untuk mengetahui apa saja reward dan sanksi dalam profesi bidan.
1.3.2 Untuk mengetahui apa saja hak dan kewajiban seorang bidan
1.3.3 Untuk mengetahui cara registrasi dan legislasi dalam menjalankan tugas
1.3.4 Untuk mengetahui apa saja perlindungan hukum bagi seorang bidan

3
BAB 2
PEMBAHASAN

Sistem Penghargaan Bagi Bidan

Reward

Penghargaan adalah sebuah bentuk apresiasi kepada suatu prestasi tertentu yang
diberikan baik oleh perorangan ataupun suatu lembaga. Bidan sebagai suatu profesi tenaga
kesehatan harus bisa mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat. Karena inilah bidan
memang sudah seharusnya mendapat penghargaan baik dari pemerintah maupun masyarakat.
Penghargaan yang diberikan kepada bidan tidak hanya berupa imbalan jasa tetapi juga dalam
bentuk pengakuan profesi dan pemberian kewenangan atau hak untuk menjalankan praktik
sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Dengan adanya penghargaan seperti yang
disebutkan diatas, akan mendorong bidan untuk meningkatkan kinerja mereka sebagai tenaga
kesehatan untuk masyarakat. Mereka juga akan lebih giat untuk mengasah dan mengem-
bangkan kemampuan dan potensi mereka sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu standar
profesi bidan.
Menurut Gibson (1987) ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap kinerja
seseorang termasuk bidan,antara lain:
a. Faktor individu : kemampuan,keterampilan, latar belakang keluarga, pengalaman,
tingkat sosial, dan demografi seseorang.
b. Faktor psikologis : persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi, dan kepuasan kerja.
c. Faktor organisasi : struktur organisasi,besar pekerjaan, kepemimpinan, sistem
penghargaan.
Tujuan dari adanya sistem penghargaan antara lain :
a. Meningkatkan prestasi kerja staf, baik secara individu maupun dalam kelompok
setinggi-tingginya.
b. Merangsang minat dalam pengembangan pribadi dengan meningkatkan hasil kerja
melalui prestasi pribadi.
c. Memberikan kesempatan kepada staf untuk menyampaikan perasaannya tentang
pekerjaan sehingga terbuka jalur komunitas dua arah antara pimpinan dan staf.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3, hak adalah kewenangan untuk
berbuat sesuatu yang telah ditentukan oleh undang-undang atau aturan tertentu. Sebagai suatu
profesi, bidan memiliki organisasi profesi yaitu Ikatan Bidan Indonesia atau disingkat IBI
yang mengatur hak dan kewajiban serta penghargaan dan sanksi bagi bidan.Setiap bidan yang
telah menyelesaikan pendidikan kebidanan berhak dan wajib menjadi anggota IBI.

Hak dan Kewajiban Bidan


1. Hak Bidan :
Bidan berhak mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai
dengan profesinya.
Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap tingkat jenjang
pelayanan kesehatan.
Bidan berhak menolak keinginan pasien/klien dan keluarga yang bertentangan dengan
peraturan perundangan dan kode etik profesi.

4
Bidan berhak atas privasi/kedirian dan menuntut apabila nama baiknya dicemarkan
baik oleh pasien, keluarga maupun profesi lain.
Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan jenjang karir dan jabatan yang
sesuai.
Bidan berhak mendapatkan kompensasi dan kesejahteraan yang sesuai.
2. Kewajiban Bidan :
Bidan wajib mematuhi peraturan sesuai dengan hubungan hukum antara bidan
tersebut dengan rumah sakit, rumah sakit bersalin dan sarana pelayanan di mana ia
bekerja.
Bidan wajib memberikan pelayanan asuhan kebidanan sesuai dengan standar profesi
dengan menghormati hak-hak pasien.
Bidan wajib merujuk pasien dengan penyulit kepada dokter yang mempunyai
kemampuan dan keahlian sesuai dengan kebutuhan pasien.
Bidan wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk didampingi oleh suami
atau kelurga.
Bidan wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadah sesuai
dengan keyakinannya.
Bidan wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien.
Bidan wajib meminta persetujuan tertulis (informed Consent) atas tindakan yang akan
dilakukannya.
Bidan wajib mendokumentasikan asuhan kebidanan yang diberikan.
Bidan wajib mengikuti perkembangan iptek dan menambah ilmu pengetahuannya
melalui pendidikan formal atau non formal.
Bidan wajib bekerja sama dengan profesi lain dan pihak yang terkait secara timbal
balik dalam memberikan asuhan kebidanan.

Legislasi

Pengertian

Legislasi adalah proses pembuatan undang-undang atau penyempurnaan perangkat hukum


yang sudah ada melalui serangkaian kegiatan sertifikasi ( pengaturan kompetensi ), registrasi
( pengaturan kewenangan ), dan lisensi ( pengaturan penyelenggaraan kewenangan ).

Ketetapan hukum yang mengantur hak dan kewajiban seseorang yang berhubungan erat
dengan tindakan dan pengabdiannya. (IBI)
Rencana yang sedang dijalankan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sekarang adalah dengan
mengadakan uji kompetensi terhadap para bidan, minimal sekarang para bidan yang
membuka praktek atau memberikan pelayanan kebidanan harus memiliki ijasah setara D3.

Uji kompetensi yang dilakukan merupakan syarat wajib sebelum terjun ke dunia kerja. Uji
kompetensi itu sekaligus merupakan alat ukur apakah tenaga kesehatan tersebut layak bekerja
sesuai dengan keahliannya. Mengingat maraknya sekolah-sekolah ilmu kesehatan yang terus
tumbuh setiap tahunnya.

Jika tidak lulus dalam uji kompetensi, jelas bidan tersebut tidak bisa menjalankan profesinya.
Karena syarat untuk berprofesi adalah memiliki surat izin yang dikeluarkan setelah lulus uji
kompetensi,

5
Tujuan Legislasi

Tujuan legislasi adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan


yang telah diberikan. Bentuk perlindungan tersebut adalah meliputi :

1. Mempertahankan kualitas pelayanan


2. Memberi kewenangan
3. Menjamin perlindungan hukum
4. Meningkatkan profisionalisme

SIB adalah bukti Legislasi yang dikeluarkan oleh DEPKES yang menyatakan bahwa bidan
berhak menjalankan pekerjaan kebidanan .

Registrasi

Registrasi adalah sebuah proses dimana seorang tenaga profesi harus mendaftarkan dirinya
pada suatu badan tertentu secara periodic guna mendapatkan kewenangan dan hak untuk
melakukan tindakan profesionalnya setelah memenuhi syarat-syarat tertentu yang ditetapkan
oleh badan tesebut.

Registrasi adalah proses pendaftaran, pendokumentasian dan pengakuan terhaap bidan,


setelah dinyatakan memenuhi minimal kopetensi inti atau standar penampilan minimal yang
ditetapkan, sehingga secara fisik dan mental mampu melaksanakan praktik profesinya.
(Registrasi menurut keputusan menteri kesehatan republik indonesia nomor
900/MENKES/SK/VII/2002)

Dengan teregistrasinya seorang tenaga profesi, maka akan mendapatkan haknya untuk ijin
praktik ( lisensi ) setelah memenuhi beberapa persyaratan administrasi untuk lisensi.

Tujuan Registrasi

a) Meningkatkan keemampuan tenaga profesi dalam mengadopsi kemajuan ilmu pengetahuan


dan tehnologi yang berkembang pesat.
b) Meningkatkan mekanisme yang obyektif dan komprehensif dalam penyelesaian kasus mal
praktik.
c) Mendata jumlah dan kategori melakukan praktik

Aplikasi proses regisrtasi dalam praktek kebidanan adalah sebagai berikut, bidan yang baru
lulus mengajukan permohonan dan mengirimkan kelengkapan registrasi kepada kepala Dinas
Kesehatan Propinsi dimana institusi pendidikan berada guna memperoleh SIB ( surat ijin
bidan ) selambat-lambatnya satu bulan setelah menerima Ijasah bidan. Kelengkapan registrasi
menurut Kepmenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 adalah meliputi: fotokopi ijasah bidan,
fotokopi transkrip nilai akademik, surat keterangan sehat dari dokter, pas foto sebanyak 2
lembar.

6
Syarat Registrasi

Pada saat akan mengajukan registrasi, maka akan diminta untuk melengkapi dan membawa
beberapa syarat, antara lain :

1) Fotokopi ijasah bidan


2) Fotokopi Transkrip nilai akademik
3) Surat keterangan sehat dari dokter
4) Pas foto ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar.
Contoh bentuk permohonan registrasi atau SIB :

KOP
DINAS KESEHATAN PROPINSI

SURAT IZIN BIDAN ( SIB )


No.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan republik Indonesia Nomor


900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Regisrtasi dan Praktik Bidan, bahwa kepada:

Nama :
Tempat/Tgl. Lahir :
Lulusan :

Dinyatakan telah terdaftar sebagai Bidan pada Dinas Kesehatan Propinsi ......................
dengan Nomor Regisrtasi ....................... dan diberi kewenangan untuk melakukan pekerjaan
praktik kebidanan di seluruh Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
SIB berlaku sampai dengan tanggal .................................

pasfoto

..............,..............2000
An. Mentri Kesehatan RI
Kepala Dinas Kesehatan
Propinsi ........................
( .................................. )

Tembusan :
1. Kepala Badan PPSDM Kesehatan, Depkes RI
2. Kepala Biro Kepegawaian, Setjen Depkes RI
3. Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

7
Sanksi

Tidak hanya memberikan penghargaan bagi bidan yang mampu melaksanakan


prakteknya sesuai kode etik dan standar profesi bidan, Setiap penyimpangan baik itu
disengaja atau tidak, akan tetap di audit oleh dewan audit khusus yang telah dibentuk oleh
organisasi bidan atau dinas kesehatan di kabupaten tersebut. Dan bila terbukti melakukan
pelanggaran atau penyimpangan maka bidan tersebut akan mendapat sanksi yang tegas,
supaya bidan tetap bekerja sesuai kewenangannya. Sanksi adalah imbalan negatif, imbalan
yang berupa pembebanan atau penderitaan yang ditentukan oleh hukum aturan yang
berlaku. Sanksi berlaku bagi bidan yang melanggar kode etik dan hak/kewajiban bidan yang
telah diatur oleh organisasi profesi. Bagi bidan yang melaksanakan pelayanan kebidanan
tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka akan diberikan sanksi sesuai dengan
Permenkes RI No. 1464/Menkes/PER/X/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik
bidan. Dalam organisasi profesi kebidanan terdapat Majelis Pertimbangan Etika Bidan
(MPEB) dan Majelis Pembelaan Anggota (MPA) yang memiliki tugas :
a. Merencanakan dan melaksanakan kegiatan bidang sesuai dengan ketetapan pengurus pusat.
b. Melaporkan hasil kegiatan di bidang tugasnya secara berkala
c. Memberikan saran dan pertimbangan yang perlu dalam rangka tugas pengurus pusat.
d. Membentuk tim teknis sesuai kebutuhan, tugas dan tanggung jawabnya ditentukan
pengurus.

MPEB dan MPA merupakan majelis independen yang berkonsultasi dan berkoordinasi
dengan pengurus inti dalam organogram IBI tingkat nasional.
MPEB secara internal memberikan saran, pendapat, dan buah pikiran tentang masalah pelik
yang sedang dihadapi, khususnya yang menyangkut pelaksanaan kode etik bidan dan
pembelaan anggota.
MPEB dan MPA, bertugas mengkaji, menangani dan mendampingi anggota yang
mengalami permasalahan dan praktik kebidanan serta masalah hukum. Kepengurusan MPEB
dan MPA terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara, dan anggota. MPA tingkat pusat
melaporkan pertanggungjawabannya kepada pengurus pusat IBI dan pada kongres nasional
IBI. MPA tingkat provinsi melaporkan pertanggungjawabannya kepada IBI tingkat provinsi
(pengurus daerah).
Tugas dan wewenang MPA dan MPEB adalah memberikan bimbingan dan
pembinaan serta pengawasan etik profesi, meneliti dan menentukan adanya kesalahan atau
kelalaian bidan dalam memberikan pelayanan. Etika profesi adalah norma-norma yang
berlaku bagi bidan dalam memberikan pelayanan profesi seperti yang tercantum dalam kode
etik bidan.
Anggota MPEB dan MPA, adalah:
a. Mantan pengurus IBI yang potensial.
b. Anggota yang memiliki perhatian tinggi untuk mengkaji berbagai aspek dan perubahan serta
pelaksanaan kode etik bidan, pembelaan anggota, dan hal yang menyangkut hak serta
perlindungan anggota.
c. Anggota yang berminat dibidang hukum.

Keberadaan MPEB bertujuan untuk:


a. Meningkatkan citra IBI dalam meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan bidan.
b. Membentuk lembaga yang akan menilai ada atau tidaknya pelanggaran terhadap Kode Etik
Bidan Indonesia.
c. Meningkatkan kepercayaan diri anggota IBI.

8
d. Meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bidan dalam memberikan pelayanan.

Contoh sanksi bidan adalah pencabutan ijin praktek bidan, pencabutan SIPB sementara, atau
bisa juga berupa denda.
Penyimpangan yang dilakukan oleh bidan misalnya :
a. Bidan melakukan praktek aborsi,yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh bidan karena
termasuk tindakan kriminal.
b. Bidan tidak melakukan rujukan pada ibu yang mengalami persalinan premature, bidan ingin
melakukan persalinan ini sendiri. Ini jelas tidak boleh dilakukan, dan harus dirujuk. Karena
ini sudah bukan kewenangan bidan lagi, selain itu jika dilakukan oleh bidan itu
sendiri,persalinan akan membahayakan ibu dan bayi yang dikandungnya.

Alur Sanksi Bidan

Malpraktek yang dilakukan oleh bidan dapat disebabkan oleh banyak faktor, misalnya
kelalaian, kurangnya pengetahuan, faktor ekonomi, rutinitas,dan juga perubahan hubungan
antara bidan dengan pasien. Untuk dapat mencegah terjadinya malpraktek yang dilakukan
oleh bidan dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan tidak memberikan
jaminan atau garansi akan keberhasilan usahanya, dalam melakukan tindakan harus
ada informed consent, mencatat semua tindakan kedalam rekam medik, dan lain-lain.
Untuk penyelesaian tindak pidana malpraktek yang dilakukan oleh bidan yang telah
masuk ke pengadilan, semua tergantung kepada pertimbangan hakim yang menangani kasus
tersebut untuk menentukan apakah kasus yang ditanganinya termsuk kedalam malpraktek
atau tidak. Atau apakah si pelaku dapat dimintai pertanggung jawaban secara pidana atau
tidak.
Melakukan malpraktek yuridis (melanggar hukum) berarti juga melakukan
malpraktek etik (melanggar kode etik). Sedangkan malpraktek etik belum tentu merupakan
malpraktek yuridis. Apabila seorang bidan melakukan malpraktek etik atau melanggar kode
etik. Maka penyelesaian atas hal tersebut dilakukan oleh wadah profesi bidan yaitu IBI.
Dan pemberian sanksi dilakukan berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku didalam
organisasi IBI tersebut. Sedangkan apabila seorang bidan melakukan malpraktek yuridis dan
dihadapkan ke muka pengadilan. Maka IBI melalui MPA dan MPEB wajib melakukan
penilaian apakah bidan tersebut telah benar-benar melakukan kesalahan. Apabila menurut
penilaian MPA dan MPEB kesalahan atau kelalaian tersebut terjadi bukan karena kesalahan
atau kelalaian bidan, dan bidan tersebut telah melakukan tugasnya sesuai dengan standar
profesi,maka IBI melalui MPA wajib memberikan bantuan hukum
kepada bidan tersebut dalam menghadapi tuntutan atau gugatan di pengadilan.

9
BAB III
KESIMPULAN

Simpulan
Bidan merupakan salah satu profesi bidang kesehatan yang memiliki tugas yang berat
dan harus dipertanggung jawabkan. Membantu persalinan adalah salah satu tugas berat bidan.
Karena berhubungan dengan nyawa bayi dan ibunya. Jadi bidan berhak dan berkewajiban
untuk mendapat penghargaan.
Penghargaan bagi bidan adalah bentuk apresiasi yang diberikan kepada bidan tidak hanya
berupa imbalan jasa tetapi juga dalam bentuk pengakuan profesi dan pemberian kewenangan
atau hak untuk menjalankan praktik sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Sedangkan
sanksi bagi bidan adalah imbalan negatif, imbalan yang berupa pembebanan atau penderitaan
yang ditentukan oleh hukum aturan yang berlaku. Sanksi berlaku bagi bidan yang melanggar
kode etik dan hak/kewajiban bidan yang telah diatur oleh organisasi profesi.

Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan mengingat keterbatasan pengetahuan dan
ketrampilan, maka penyusun mengharapkan kritikan dan saran demi pengembangan
penulisan selanjutnya. Dan untuk senantiasa mencari tahu lebih dalam dan memperbaharui
pengetahuan mengenai ilmu kebidanan khususnya mengenai Konsep Kebidanan karena ilmu
pengetahuan akan terus berkembang dari waktu ke waktu.

10
DAFTAR PUSTAKA

http://leranthia.blogspot.com/2010/03/makalah-penghargaan-bagi-bidan.html
Dr. Eman Suparman,S.H.,M.H; Tanggung Jawab Hukum & Etika Profesi

Asrina, Siswoyo Putri Sinta, Sulistyorini Dewie, Muflihah Syamrotul Ima, Sari Nirmala

Dian. 2010. Konsep Kebidanan. GRAHA ILMU

11