Anda di halaman 1dari 12

3/23/2016

KONSEP DASAR EKG


1. Pengertian Elektrokardiografi
2. Manfaat EKG
3. Sistem konduksi jantung
a. Nodus Sinoatrial (Nodus SA)
b. Nodus Atrioventrikular (Nodus AV)
c. Berkas HIS
d. Serabut Bachman
e. Serabut Purkinje

4. Hubungan sistem konduksi dengan gelombang EKG


5. Penamaan Gelombang, Interval dan Segmen pada
EKG.
a. Gelombang P
b. Kompleks QRS
c. Gelombang Q
d. Gelombang R
e. Gelombang S
f. Gelombang T
g. Gelombang U
h. Interval PR
i. Interval QT
j. Segmen S-T

6. Praktek pengenalan Gelombang, Interval dan


Segmen pada EKG.
a. Gelombang P
b. Kompleks QRS
c. Gelombang Q
d. Gelombang R
e. Gelombang S
f. Gelombang T
g. Gelombang U
h. Interval PR
i. Interval QT
j. Segmen S-T

1
3/23/2016

1. Definisi
a. EKG dan ECG adalah dua kata yang berbeda akan tetapi
memiliki pengertian dan arti yang sama. EKG adalah
kepanjangan dari elektrokardiografi dan ECG kepanjangan
dari elektrokardiogram yang keduanya mempunyai arti yang
sama yaitu suatu grafik yang menggambarkan aktifitas listrik
pada jantung.
b. Ilmu yang mempelajari elektrokardiogram disebut
elektrokardiografi. Jadi apabila ada seorang dokter
menganjurkan agar dilakukan tindakan EKG atau ECG, artinya
dokter tersebut ingin mengetahui apakah ada atau tidak
perubahan pada grafik yang menggambarkan aktifitas listrik
pada jantung dimana grafik EKG bisa berubah yang
disebabkan oleh proses patologi atau fisiologi yang terjadi
pada jantung kita. (Nazmah Abu, 2012).
c. EKG adalah alat bantu diagnostik yang digunakan untuk
mendeteksi aktifitas listrik jantung (Krisna Sundana, 2007).
d. Elektrokardiogram (EKG) adalah grafik hasil catatan potensial
listrik yang dihasilkan oleh denyut jantung (Mervin J. Goldman
dalam Soetopo (2009)

2. Manfaat EKG
a. Mengidentifikasi aritmia/disritmia

b. Mengidentifikasi penyakit jantung koroner (Angina, Unstable Angina,


STEMI, non STEMI).

c. Mengidentifikasi perubahan pada otot jantung (Enlargement atau hypertropi)

d. Mengidentifikasi gangguan keseimbangan elektrolit

e. Mengidentifikasi efek dari obat-obatan


(Nazmah Abu, 2012).

2
3/23/2016

3. Sistem konduksi jantung


Ada 3 hal yang dimiliki oleh jantung sehingga
jantung dapat melakukan fungsinya sebagai pompa
atau melakukan kontraksi dengan baik. Ketiga hal
tersebut adalah sebagai berikut:
a. Penghasil listrik sendiri yang otomatis
(pacemaker)
Jantung penghasil listrik otomatis ini terdiri atas 3
komponen, yakni nodus SA, nodus AV, dan serabut
Purkinje.
b. Konduksi listrik
Konduksi atau perambatan listrik yang terjadi di
jantung secara sistematis dimulai dari nodus SA,
nodus AV, His, cabang berkas kiri dan kanan serta
berakhir di serabutt Purkinje.

3. Miokardium (otot-otot jantung)


Otot-otot jantung akan mengalami kontraksi
bila terjadi perubahan muatan listrik di dalam
sel miokard yang dinamakan depolarisasi,
sedangkan peristiwa kembalinya muatan
listrik di dalam sel-sel miokard menjadi
keadaan seperti semula dinamakan
repolarisasi. Selanjutnya akan menghasilkan
relaksasi kembali dinding miokardium.

1. Nodus Sinoatrial (Nodus SA)


a. Nodus SA terletak di atrium kanan bagian atas dan dekat
dengan ostium (muara) vena kava superior.
b. Pada keadaan normal, nodus SA menghasilkan impuls listrik
sebesar 60-100 x/menit
c. Nodus SA mampu menghasilkan impuls dengan sendirinya
(pacemaker)
d. Nodus SA dipengaruhi oleh sistem saraf simpatis dan
parasimpatis.
e. Rangsangan sistem saraf simpatis misalnya emosi atau pada
saat beraktifitas akan mempengaruhi nodus SA untuk
menghasilkan impuls lebih cepat dari normal (peningkatan
denyut jantung)
f. Rangsangan sistem saraf parasimpatis misalnya manuver vagal
yang dilakukan dengan cara massase arteri karotis, penekanan
pada bola mata, mengedan atau batuk akan mempengaruhi
nodus SA untuk menghasilkan impuls lebih lambat dari normal
(penurunan denyut jantung)
g. Nodus SA memiliki panjang 10-12 mm, lebar 3-5 mm dan tebal
1 mm.

3
3/23/2016

2. Nodus Atrioventrikular (Nodus AV)


a. Nodus AV terletak di dalam dinding septum
atrium atau sekat antara atrium kanan dan kiri,
tepatnya di atas katup tricuspid di dekat muara
sinus koronarius.
b. Menghasilkan impuls 40-60 kali per menit (dalam
keadaan normal).
c. Perjalanan impuls dari nodus SA menuju nodus
AV memerlukan waktu 0,08-0,12 detik dengan
maksud untuk memberikan kesempatan
pengisian ventrikel selama terjadi kontraksi dua
atrium.
d. Nodus AV memiliki panjang sekitar 7 mm, lebar 3
mm dan tebal 1 mm.

e. AV node dibagi menjadi 3 bagian yaitu:


Atrionodal (AN) yaitu bagian paling atas dari AV
node. Pada bagian inilah pertama kali menerima
impuls dari atrial dan mempunyai kemampuan
untuk mengeluarkan impuls secara otomatis.
Middle atau Nodal (N) yaitu bagian tengah dari AV
node, pada bagian ini tidak mempunyai
kemampuan mengeluarkan impuls. Tapi memiliki
keistimewaan sebagai peredam atau menghambat
impuls yang berlebihan yang berasal dari SA node
atau atrial sebelum diteruskan ke ventrikel.
Nodo His (NH) yaitu bagian bawah dari AV node
yang berhubungan langsung dengan Bundle His.
Pada bagian inilah pusat impuls secara otomatis
dikeluarkan.

f. Selama aktifitas SA node tidak mengalami


gangguan maka automatisasi yang dipunyai
oleh AV node tidak akan keluar. Akan tetapi
jika aktifitas SA node mengalami gangguan
atau impuls yang dikeluarkan dari SA node
lebih lemah dari AV node, maka AV node akan
mengambil alih fungsi utama dari pacemaker.
Normalnya, AV node mengeluarkan impuls 40-
60 x/menit. Seperti halnya dengan SA node,
kecepatan impuls yang dikeluarkan oleh AV
node tergantung dari aktifitas autonomic
nervous system.

4
3/23/2016

3. Berkas HIS
a. Berkas His memiliki fungsi sebagai penghantar
impuls listrik dari nodus AV.
b. Secara anatomis, berkas His memiliki panjang
sekitar 10 mm dengan diameter 2 mm.
c. Berkas His terbagi menjadi cabang berkas kiri (left
bundle branches, LBB) dan berkas kanan (right
bundle branches, RBB)
d. LBB terbagi menjadi:
Fasikulus posterior menghantarkan impuls listrik
ke ventrikel kiri bagian inferior dan posterior.
Fasikulus anterior menghantarkan impuls listrik
ke ventrikel kiri bagian anterior dan superior.
e. RBB menghantarkan impuls listrik dari berkas His
ke ventrikel kanan

4. Serabut Bachman
Merupakan jalur yang menghubungkan impuls listrik dari
atrium kanan dengan atrium kiri.
5. Serabut Purkinje
a. Terletak di dalam endokardium dan merupakan akhir dari
perjalanan impuls listrik untuk disampaikan ke
endokardium agar terjadi depolarisasi di kedua ventrikel.
b. Normal, menghasilkan impuls 20- 40 kali per menit.
c. Ketika nodus SA gagal menghasilkan impuls akibat proses
penyakit atau adanya blok, penghasil listrik diambil alih
oleh nodus AV dengan impuls yang dihasilkan sebesar 40-
60 kali per menit, begitu juga bila kedua nodus tersebut
gagal menghasilkan impuls, impuls jantung diambil alih
oleh serabut Purkinje dengan impuls 20-40 kali per menit.
(Krisna Sundana, 2007)

23
GBR. Sistem hantaran pada jantung.

Sinoatrial (SA) node ( pace maker )


- Impuls menyebar keseluruh atrium
100 x /mnt
internodal
pathway

Atrioventricular (AV) node


- impulse terlambat 0.1dtk??

*Kontraksi atria*

Bundle of His -
branches -
Purkinje fibers

Kontraksi ventrikel lamanya 0.22 dtk

STIKes St.Elisabeth Medan Prodi D III


15
Keperawatan

5
3/23/2016

4. Hubungan sistem konduksi dengan gelombang EKG

Ketika satu impuls dicetuskan oleh nodus SA, listrik lebih dulu
menjalar di kedua atrium dan terjadilah depolarisasi.
Selanjutnya akan menghasilkan peristriwa kontraksi di kedua
atrium. Peristiwa depolarisasi yang terjadi di kedua atrium ini
menghasilkan gelombang P pada rekaman EKG

Selanjutnya, listrik yang sudah ada di atrium meneruskan


penjalaran (konduksi) ke nodus AV, His, LBB dan RBB dan
berakhir di serabut Purkinje. Sesampainya di serabut
Purkinje, impuls listrik mendepolarisasi otot-otot di kedua
ventrikel yang lebih lanjut akan menghasilkan kontraksi di
kedua ventrikel yang lebih lanjut akan menghasilkan
kontraksi di kedua ventrikel. Peristiwa terjadinya
depolarisasi pada kedua ventrikel ini menghasilkan
gelombang QRS dan munculnya gelombang T yang
merupakan akibat terjadinya peristiwa repolarisasi
ventrikel.R

Q S

Sampainya satu impuls listrik dari nodus SA ke


serabut Purkinje akan menghasilkan satu
gelombang P-QRS dan T. Hal ini sama dengan
satu siklus jantung penuh (satu kali kontraksi
atrium akan menghasilkan 60 gelombang PQRST
atau sama dengan 60 siklus jantung).

6
3/23/2016

Kesimpulan:
a. Gelombang P merupakan gelombang
hasil depolarisasi di kedua atrium
b. Gelombang QRS merupakan
depolarisasi lanjut di kedua ventrikel
c. Gelombang T merupakan gelombang
repolarisasi di kedua ventrikel.

5. Penamaan Gelombang, Interval dan Segmen pada EKG.


a. Gelombang P
Merupakan gelombang awal hasil depolarisasi di kedua
atrium.
Gelombang P diukur mulai dari awal sampai akhir dari
gelombang P
Pada one beat yang normal, setiap gelombang P akan
selalu diikuti kompleks QRS. Artinya satu (1) gelombang
P harus diikuti oleh satu (1) kompleks QRS dan
gelombang T.
Selalu defleksi positif (cembung ke atas) di semua
sadapan dan selalu defleksi negatif (cekung ke bawah)
di sadapan aVR.
Kadang-kadang ditemukan defleksi negatif di sadapan
V1 dan hal ini merupakan sesuatu normal

Normal
Lebar : 0,12 detik
Tinggi : 0,3 mV.

Kepentingan:
Mengetahui kelainan di Atrium

7
3/23/2016

b. Gelombang Q
Menggambarkan awal dari fase depolarisasi
ventrikel
Merupakan gelombang defleksi negatif
pertama setelah gelombang P.
Untuk mengukur gelombang Q, kita hanya
mengukur kedalamannya saja. Dimana
diukur dari awal gelombang Q sampai
puncak gelombang Q.
Gelombang Q pada sadapan aVR adalah
keadaan yang normal.

Normal:
Lebar 0,04 detik
Kedalamannya 45% atau 1/3 tinggi gelombang
R
Kepentingan:
Untuk mengetahui adanya nekrosis

c. Gelombang R
Menggambarkan fase depolarisasi ventrikel
Umumnya selalu positif di semua sadapan,
kecuali aVR. Penampakannya di sadapan VI
dan V2 kadang-kadang kecil atau tidak ada,
tetapi hal ini masih normal.
Gelombang R diukur mulai dari garis iso
elektrik sampai dengan puncak gelombang R.
Kepentingan: menandakan adanya hipertrofi
ventrikel, menandakan adanya tanda-tanda
BBB (Bundle Branch Block).

8
3/23/2016

Normal:
Lebar 0,06-0,12 detik (QRS)

Lead aVR Lead 1 Lead 2

d. Gelombang S
Merupakan gambaran akhir fase depolarisasi ventrikel
Merupakan gelombang negatif (ke bawah) kedua setelah
gelombang R atau gelombang Q.
Normal, gelombang S berangsur-angsur menghilang pada
sadapan V1-V6.
Lebih sering terlihat lebih dalam di sadapan V1 dan aVR
(normal).
Hanya diukur kedalamannya saja dimulai dari garis
isoelektrik (tidak ada ketentuan)

e. Gelombang T
Merupakan gelombang hasil repolarisasi di kedua ventrikel.
Normal : positif (ke atas) dan inverted (terbalik) di aVR.
Tinggi gelombang T 10 mm di lead prekordial dan 5 mm di
lead ekstremitas
Gelombang T yang inverted selain di aVR merupakan indikasi
adanya iskemik miokard.
Gelombang T yang runcing di semua sadapan dapat membantu
menegakkan adanya hiperkalemia
Gelombang T yang tinggi pada beberapa sadapan tertentu
menunjukkan adanya hiper-akut T yang merupakan tanda awal
sebelum infark miokard terjadi.

9
3/23/2016

f. Interval PR
Jarak antara permulaan gelombang P sampai dengan
permulaan kompleks QRS.
Interval ini menggambarkan waktu yang diperlukan dari
permulaan depolarisasi atrium sampai awal depolarisasi
ventrikel atau waktu yang diperlukan impuls listrik dari
nodus SA menuju serabut Purkinje.
Nilai normal interval PR ditentukan oleh frekuensi
jantung, bila denyut jantung lambat maka interval PR
akan menjadi lebih panjang.
Nilai normal : 0,12-0,20 detik.

g. Interval QT
Gambaran dari waktu yang dibutuhkan saat depolarisasi ventrikel sampai
repolarisasi ventrikel, diukur dari permulaan gelombang Q sampai akhir
gelombang T.
Panjang atau pendeknya interval QT tergantung kecepatan laju jantung.
Semakin cepat jantung berdenyut semakin cepat waktu untuk
repolarisasi maka semakin pendek interval QT. Sebaliknya bila denyut
jantung lambat maka waktu untuk repolarisasi jadi panjang dan QT
interval juga menjadi panjang.
Interval ini merupakan waktu yang diperlukan ventrikel dari awal
terjadinya depolarisasi sampai akhir repolarisasi.
Nilai interval QT dipengaruhi oleh frekuensi jantung, dan batas-batas
normalnya.
Pria : 0,42 detik
Wanita : 0,43 detik

h. Segmen ST
Merupakan gambaran repolarisasi ventrikel yang berbentuk garis
horizontal atau kadang-kadang akan sedikit deviasi ke atas atau ke bawah
dari garis isoelektris, atau sedikit cekung dari titik J (J point). Titik J
(Juctional point) adalah titik dimana gelombang S berakhir.
Normal Segment ST sejajar garis isoelektris.
Segmen ST diukur dari akhir gelombang QRS sampai permulaan
gelombang T.
Segment ST yang naik di atas isoelektris dinamakan ST elevasi dan yang
turun di bawah isoelektris dinamakan ST depresi.
ST elevasi dapat menunjukkan adanya suatu infark miokard dan ST
depresi menunjukkan adanya iskemik miokard.

10
3/23/2016

LATIHAN

Dit:
a. Irama
b. Heart Rate
c. Gelombang P : Tinggi dan Lebar
d. PR Interval
e. Durasi QRS Kompleks

Dit:
a. Irama
b. Heart Rate
c. Gelombang P : Tinggi dan Lebar
d. PR Interval
e. Durasi QRS Kompleks

11
3/23/2016

Dit:
a. Irama
b. Heart Rate
c. Gelombang P : Tinggi dan Lebar
d. PR Interval
e. Durasi QRS Kompleks

12