Anda di halaman 1dari 25

JURUSAN ARSITEKTUR, FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS TADULAKO

TUGAS MAKALAH
PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
KERUKUNAN ANTARA UMAT BERAGAMA

KELOMPOK 6
1. WAHYU GUNARTO (f221 14 030)
2. CLARA ZENICHA LIONY (f221 14 031)
3. TRI FITA ANGGRIANI (f221 14 032)
4. REZKY RAHMANSYAH (f221 14 033)
5. ISMAIL (f221 14 034)
DAFTAR ISI
BAB I ............................................................................................................................................................ 2
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 2
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................................. 2
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................................................................... 3
BAB II........................................................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 4
2.1 Kerukunan Antar Umat Beragama ................................................................................................ 4
A. Definisi Kerukunan ........................................................................................................................... 4
B. Kerukunan Antar Umat Beragama .................................................................................................... 4
C. Kendala-Kendala............................................................................................................................... 5
a. Rendahnya Sikap Toleransi .......................................................................................................... 5
b. Kepentingan Politik ...................................................................................................................... 6
c. Sikap Fanatisme ............................................................................................................................ 6
D. Solusi................................................................................................................................................. 7
a. Dialog Antar Pemeluk Agama ...................................................................................................... 7
b. Bersikap Optimis .......................................................................................................................... 8
2.1.1 Agama Islam Merupakan Rahmat bagi Seluruh Alam............................................................ 10
2.1.2 Ukhuwah Islamiyah Dan Ukhuwah Insaniyah ........................................................................ 15
2.1.3 Kebersamaan Ummat Beragama dalam Kehidupan Sosial ..................................................... 20
a. pandangan agama islam terhadap ummat non Islam................................................................... 20
b. Tanggung jawab sosial ummat Islam .......................................................................................... 20
c. amar maruf dan nahi munkar ..................................................................................................... 20
e. Menghindari Terjadinya Perpecahan. ......................................................................................... 21
f. Memperkokoh Silaturahmi dan Menerima Perbedaan ................................................................ 22
BAB III ....................................................................................................................................................... 23
PENUTUP .................................................................................................................................................. 23
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................................. 23
3.2 Saran ........................................................................................................................................... 24
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kerukunan beragama di tengah keanekaragaman budaya merupakan aset dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Dalam perjalanan sejarah bangsa, Pancasila
telah teruji sebagai alternatif yang paling tepat untuk mempersatukan masyarakat Indonesia yang
sangat majemuk di bawah suatu tatanan yang inklusif dan demokratis. Sayangnya wacana
mengenai Pancasila seolah lenyap seiring dengan berlangsungnya reformasi.
Berbagai macam kendala yang sering kita hadapi dalam mensukseskan kerukunan antar
umat beragama, dari luar maupun dalam negeri kita sendiri. Namun dengan kendala tersebut
warga Indonesia selalu optimis, bahwa dengan banyaknya agama yang ada di Indonesia, maka
banyak pula solusi untuk menghadapi kendala-kendala tersebut. Dari berbagai pihak telah
sepakat untuk mencapai tujuan kerukunan antar umat beragama di Indonesia seperti masyarakat
dari berbagai golongan, pemerintah, dan organisasi-organisasi agama yang banyak berperan aktif
dalam masyarakat.
Keharmonisan dalam komunikasi antar sesama penganut agama adalah tujuan dari
kerukunan beragama, agar terciptakan masyarakat yang bebas dari ancaman, kekerasan hingga
konflik agama.

1.2 Rumusan Masalah


a) Apa Definisi Kerukunan?
b) Bagaimana kerukunan antar umat beragama?
c) Apa saja kendala-kendalanya?
d) Bagaimana solusinya?
e) Bagaimana Islam menjadi Rahmat bagi seluruh alam ?
f) Bagaiman kebersamaan umat beragama dalam kehidupan sosial?
g) Apa saja manfaat kerukunan antar umat beragama?
h) Apa itu ukhuwah islamiyah dan ukhuwah insaniyah?
1.3 Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas Pendidikan Agama Islam dan untuk
menambah wawasan para pembaca tentang kerukunan antar umat beragama serta permasalahan
yang di hadapi.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kerukunan Antar Umat Beragama

A. Definisi Kerukunan
Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna baik dan damai. Intinya,
hidup bersama dalam masyarakat dengan kesatuan hati dan bersepakat untuk tidak
menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Depdikbud, 1985:850) Bila pemaknaan tersebut
dijadikan pegangan, maka kerukunan adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh
masyarakat manusia. Kerukunan [dari ruku, bahasa Arab, artinya tiang atau tiang-tiang yang
menopang rumah; penopang yang memberi kedamain dan kesejahteraan kepada penghuninya]
secara luas bermakna adanya suasana persaudaraan dan kebersamaan antar semua orang
walaupun mereka berbeda secara suku, agama, ras, dan golongan.
Kerukunan juga bisa bermakna suatu proses untuk menjadi rukun karena sebelumnya
ada ketidakrukunan; serta kemampuan dan kemauan untuk hidup berdampingan dan bersama
dengan damai serta tenteram. Langkah-langkah untuk mencapai kerukunan seperti itu,
memerlukan proses waktu serta dialog, saling terbuka, menerima dan menghargai sesama, serta
cinta-kasih. Kerukunan antarumat beragama bermakna rukun dan damainya dinamika kehidupan
umat beragama dalam segala aspek kehidupan, seperti aspek ibadah, toleransi, dan kerja sama
antarumat beragama.
Manusia ditakdirkan Allah Sebagai makhluk social yang membutuhkan hubungan dan interaksi
sosial dengan sesama manusia. Sebagai makhluk social, manusia memerlukan kerja sama dengan
orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan material maupun spiritual.
Ajaran Islam menganjurkan manusia untuk bekerja sama dan tolong menolong (taawun) dengan
sesama manusia dalam hal kebaikan. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan umat Islam dapat
berhubungan dengan siapa saja tanpa batasan ras, bangsa, dan agama.

B. Kerukunan Antar Umat Beragama


Kerukunan antar umat beragama adalah suatu kondisi sosial ketika semua golongan
agama bisa hidup bersama tanpa menguarangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan
kewajiban agamanya. Masing-masing pemeluk agama yang baik haruslah hidup rukun dan
damai. Karena itu kerukunan antar umat beragama tidak mungkin akan lahir dari sikap fanatisme
buta dan sikap tidak peduli atas hak keberagaman dan perasaan orang lain. Tetapi dalam hal ini
tidak diartikan bahwa kerukunan hidup antar umat beragama member ruang untuk
mencampurkan unsur-unsur tertentu dari agama yang berbeda , sebab hal tersebut akan merusak
nilai agama itu sendiri.
Menurut Muhammad Maftuh Basyuni dalam seminar kerukunan antar umat beragama
tanggal 31 Desember 2008 di Departemen Agama, mengatakan bahwa kerukunan umat
beragama merupakan pilar kerukunan nasional adalah sesuatu yang dinamis, karena itu harus
dipelihara terus dari waktu ke waktu. Kerukunan hidup antar umat beragama sendiri berarti
keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian,
menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kerukunan antar umat beragama itu sendiri juga bias diartikan dengan toleransi antar
umat beragama. Dalam toleransi itu sendiri pada dasarnya masyarakat harus bersikap lapang
dada dan menerima perbedaan antar umat beragama. Selain itu masyarakat juga harus saling
menghormati satu sama lainnya misalnya dalam hal beribadah, antar pemeluk agama yang satu
dengan lainnya tidak saling mengganggu. Departemen agama juga menjadikan kerukunan antar
umat beragama sebagai tujuan pembangunan nasional bangsa Indonesia.
Untuk itulah kerukunan hidup antar umat beragama harus kita jaga agar tidak terjadi
konflik-konflik antar umat beragama. Terutama di masyarakat Indonesia yang multikultural
dalam hal agama, kita harus bisa hidup dalam kedamaian, saling tolong menolong, dan tidak
saling bermusuhan agar agama bisa menjadi pemersatu bangsa Indonesia yang secara tidak
langsung memberikan stabilitas dan kemajuan negara.

C. Kendala-Kendala

a. Rendahnya Sikap Toleransi


Menurut Dr. Ali Masrur, M.Ag, salah satu masalah dalam komunikasi antar agama
sekarang ini, khususnya di Indonesia, adalah munculnya sikap toleransi malas-malasan (lazy
tolerance) sebagaimana diungkapkan P. Knitter. Sikap ini muncul sebagai akibat dari pola
perjumpaan tak langsung (indirect encounter) antar agama, khususnya menyangkut persoalan
teologi yang sensitif. Sehingga kalangan umat beragama merasa enggan mendiskusikan masalah-
masalah keimanan. Tentu saja, dialog yang lebih mendalam tidak terjadi, karena baik pihak yang
berbeda keyakinan/agama sama-sama menjaga jarak satu sama lain.
Masing-masing agama mengakui kebenaran agama lain, tetapi kemudian membiarkan
satu sama lain bertindak dengan cara yang memuaskan masing-masing pihak. Yang terjadi
hanyalah perjumpaan tak langsung, bukan perjumpaan sesungguhnya. Sehingga dapat
menimbulkan sikap kecurigaan diantara beberapa pihak yang berbeda agama, maka akan
timbullah yang dinamakan konflik.

b. Kepentingan Politik
Faktor Politik, Faktor ini terkadang menjadi faktor penting sebagai kendala dalam
mncapai tujuan sebuah kerukunan antar umat beragama khususnya di Indonesia, jika bukan yang
paling penting di antara faktor-faktor lainnya. Bisa saja sebuah kerukunan antar agama telah
dibangun dengan bersusah payah selama bertahun-tahun atau mungkin berpuluh-puluh tahun,
dan dengan demikian kita pun hampir memetik buahnya.
Namun tiba-tiba saja muncul kekacauan politik yang ikut memengaruhi hubungan
antaragama dan bahkan memorak-porandakannya seolah petir menyambar yang dengan
mudahnya merontokkan bangunan dialog yang sedang kita selesaikan. Seperti yang sedang
terjadi di negeri kita saat ini, kita tidak hanya menangis melihat political upheavels di negeri ini,
tetapi lebih dari itu yang mengalir bukan lagi air mata, tetapi darah; darah saudara-saudara kita,
yang mudah-mudahan diterima di sisi-Nya. Tanpa politik kita tidak bisa hidup secara tertib
teratur dan bahkan tidak mampu membangun sebuah negara, tetapi dengan alasan politik juga
kita seringkali menunggangi agama dan memanfaatkannya.

c. Sikap Fanatisme
Di kalangan Islam, pemahaman agama secara eksklusif juga ada dan berkembang.
Bahkan akhir-akhir ini, di Indonesia telah tumbuh dan berkembang pemahaman keagamaan yang
dapat dikategorikan sebagai Islam radikal dan fundamentalis, yakni pemahaman keagamaan
yang menekankan praktik keagamaan tanpa melihat bagaimana sebuah ajaran agama seharusnya
diadaptasikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Mereka masih berpandangan bahwa Islam
adalah satu-satunya agama yang benar dan dapat menjamin keselamatan menusia. Jika orang
ingin selamat, ia harus memeluk Islam. Segala perbuatan orang-orang non-Muslim, menurut
perspektif aliran ini, tidak dapat diterima di sisi Allah.
Pandangan-pandangan semacam ini tidak mudah dikikis karena masing-masing sekte
atau aliran dalam agama tertentu, Islam misalnya, juga memiliki agen-agen dan para
pemimpinnya sendiri-sendiri. Islam tidak bergerak dari satu komando dan satu pemimpin. Ada
banyak aliran dan ada banyak pemimpin agama dalam Islam yang antara satu sama lain memiliki
pandangan yang berbeda-beda tentang agamanya dan terkadang bertentangan. Tentu saja, dalam
agama Kristen juga ada kelompok eksklusif seperti ini. Kelompok Evangelis, misalnya,
berpendapat bahwa tujuan utama gereja adalah mengajak mereka yang percaya untuk
meningkatkan keimanan dan mereka yang berada di luar untuk masuk dan bergabung. Bagi
kelompok ini, hanya mereka yang bergabung dengan gereja yang akan dianugerahi salvation atau
keselamatan abadi. Dengan saling mengandalkan pandangan-pandangan setiap sekte dalam
agama teersebut, maka timbullah sikap fanatisme yang berlebihan.
Dari uraian diatas, sangat jelas sekali bahwa ketiga faktor tersebut adalah akar dari
permasalahan yang menyebabkan konflik sekejap maupun berkepanjangan.

D. Solusi

a. Dialog Antar Pemeluk Agama


Sejarah perjumpaan agama-agama yang menggunakan kerangka politik secara tipikal
hampir keseluruhannya dipenuhi pergumulan, konflik dan pertarungan. Karena itulah dalam
perkembangan ilmu sejarah dalam beberapa dasawarsa terakhir, sejarah yang berpusat pada
politik yang kemudian disebut sebagai sejarah konvensional dikembangkan dengan mencakup
bidang-bidang kehidupan sosial-budaya lainnya, sehingga memunculkan apa yang disebut
sebagai sejarah baru (new history). Sejarah model mutakhir ini lazim disebut sebagai sejarah
sosial (social history) sebagai bandingan dari sejarah politik (political history). Penerapan
sejarah sosial dalam perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia akan sangat relevan, karena ia
akan dapat mengungkapkan sisi-sisi lain hubungan para penganut kedua agama ini di luar bidang
politik, yang sangat boleh jadi berlangsung dalam saling pengertian dan kedamaian, yang pada
gilirannya mewujudkan kehidupan bersama secara damai (peaceful co-existence) di antara para
pemeluk agama yang berbeda.
Hampir bisa dipastikan, perjumpaan Kristen dan Islam (dan juga agama-agama lain) akan
terus meningkat di masa-masa datang. Sejalan dengan peningkatan globalisasi, revolusi
teknologi komunikasi dan transportasi, kita akan menyaksikan gelombang perjumpaan agama-
agama dalam skala intensitas yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dengan begitu, hampir tidak
ada lagi suatu komunitas umat beragama yang bisa hidup eksklusif, terpisah dari lingkungan
komunitas umat-umat beragama lainnya. Satu contoh kasus dapat diambil: seperti dengan
meyakinkan dibuktikan Eck (2002), Amerika Serikat, yang mungkin oleh sebagian orang
dipandang sebagai sebuah negara Kristen, telah berubah menjadi negara yang secara
keagamaan paling beragam. Saya kira, Indonesia, dalam batas tertentu, juga mengalami
kecenderungan yang sama. Dalam pandangan saya, sebagian besar perjumpaan di antara agama-
agama itu, khususnya agama yang mengalami konflik, bersifat damai. Dalam waktu-waktu
tertentu ketika terjadi perubahan-perubahan politik dan sosial yang cepat, yang memunculkan
krisis pertikaian dan konflik sangat boleh jadi meningkat intensitasnya. Tetapi hal ini
seyogyanya tidak mengaburkan perspektif kita, bahwa kedamaian lebih sering menjadi feature
utama. Kedamaian dalam perjumpaan itu, hemat saya, banyak bersumber dari pertukaran
(exchanges) dalam lapangan sosio-kultural atau bidang-bidang yang secara longgar dapat disebut
sebagai non-agama.
Bahkan terjadi juga pertukaran yang semakin intensif menyangkut gagasan-gagasan
keagamaan melalui dialog-dialog antaragama dan kemanusiaan baik pada tingkat domestik di
Indonesia maupun pada tingkat internasional; ini jelas memperkuat perjumpaan secara damai
tersebut. Melalui berbagai pertukaran semacam ini terjadi penguatan saling pengertian dan, pada
gilirannya, kehidupan berdampingan secara damai.

b. Bersikap Optimis
Walaupun berbagai hambatan menghadang jalan kita untuk menuju sikap terbuka, saling
pengertian dan saling menghargai antaragama, saya kira kita tidak perlu bersikap pesimis.
Sebaliknya, kita perlu dan seharusnya mengembangkan optimisme dalam menghadapi dan
menyongsong masa depan dialog.Paling tidak ada tiga hal yang dapat membuat kita bersikap
optimis.
Pertama, pada beberapa dekade terakhir ini studi agama-agama, termasuk juga dialog
antaragama, semakin merebak dan berkembang di berbagai universitas, baik di dalam maupun di
luar negeri. Selain di berbagai perguruan tinggi agama, IAIN dan Seminari misalnya, di
universitas umum seperti Universitas Gajah Mada, juga telah didirikan Pusat Studi Agama-
agama dan Lintas Budaya. Meskipun baru seumur jagung, hal itu bisa menjadi pertanda dan
sekaligus harapan bagi pengembangan paham keagamaan yang lebih toleran dan pada akhirnya
lebih manusiawi. Juga bermunculan lembaga-lembaga kajian agama, seperti Interfidei dan
FKBA di Yogyakarta, yang memberikan sumbangan dalam menumbuhkembangkan paham
pluralisme agama dan kerukunan antarpenganutnya.
Kedua, para pemimpin masing-masing agama semakin sadar akan perlunya perspektif
baru dalam melihat hubungan antar-agama. Mereka seringkali mengadakan pertemuan, baik
secara reguler maupun insidentil untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan memecahkan
berbagai problem keagamaan yang tengah dihadapi bangsa kita dewasa ini. Kesadaran semacam
ini seharusnya tidak hanya dimiliki oleh para pemimpin agama, tetapi juga oleh para penganut
agama sampai ke akar rumput sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara pemimpin agama dan
umat atau jemaatnya. Kita lebih mementingkan bangunan-bangunan fisik peribadatan dan
menambah kuantitas pengikut, tetapi kurang menekankan kedalaman (intensity) keberagamaan
serta kualitas mereka dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.
Ketiga, masyarakat kita sebenarnya semakin dewasa dalam menanggapi isu-isu atau
provokasi-provokasi. Mereka tidak lagi mudah disulut dan diadu-domba serta dimanfaatkan, baik
oleh pribadi maupun kelompok demi target dan tujuan politik tertentu. Meskipun berkali-kali
masjid dan gereja diledakkan, tetapi semakin teruji bahwa masyarakat kita sudah bisa
membedakan mana wilayah agama dan mana wilayah politik. Ini merupakan ujian bagi agama
autentik (authentic religion) dan penganutnya. Adalah tugas kita bersama, yakni pemerintah, para
pemimpin agama, dan masyarakat untuk mengingatkan para aktor politik di negeri kita untuk
tidak memakai agama sebagai instrumen politik dan tidak lagi menebar teror untuk mengadu
domba antarpenganut agama.
Jika tiga hal ini bisa dikembangkan dan kemudian diwariskan kepada generasi
selanjutnya, maka setidaknya kita para pemeluk agama masih mempunyai harapan untuk dapat
berkomunikasi dengan baik dan pada gilirannya bisa hidup berdampingan lebih sebagai kawan
dan mitra daripada sebagai lawan.
2.1.1 Agama Islam Merupakan Rahmat bagi Seluruh Alam

a. Agama merupakan Rahmat bagi Semua

Setiap Rasul membawa rahmat bagi umat manusia. Wahyu yang diterima dari Allah SWT yang
mengu-tus RasulRasul sejak awal hingga Muhammad SAW membawa manusia ke rahmat Allah.
Nabi Muhammad membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Tidak semata di zaman dia diutus,
atau semasa hidupnya semata. Rahmat yang dibawanya berlaku selalu sepanjang masa Bahkan untuk
berabadabad mendatang, hingga datangnya kiamat. Ajaran yang dibawanya, yakni Dinul Islam, tidak
terba-tas hanya di lingkungan tanah kelahirannya saja. Ajaran Islam yang dibawanya melingkupi
seluruh sudut bumi, dan berlaku universal untuk segala tempat dan bangsa serta berlaku abadi
sepanjang masa. Agama diturunkan untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia guna
mencapai kesejahteraan hidupnya di dunia dan akhirat.

b. Definisi Islam

Islam secara etimologis, berasal dari bahasa Arab salima, yang berarti selamat sentosa.
Kemudian kata itu dibentuk menjadi aslama, yang artinya memelihara dalam keadaan selamat
sentosa dan berarti juga menyerahkan diri, tunduk, damai, selamat, taat, dan patuh. Islam secara
terminologis, berarti agama islam yang berisi ajaran yang memberi petunjuk kepada umat manusia
untuk melaksanakan tugas kehidupan menurut syariat, jalan kehidupan yang benar, yang memberikan
kemaslahatan bagi semua makhluk Allah. Agama islam sama sekali tidak mempunyai tujuan untuk
mendatangkan dan membuat bencana atau kerusakan dimuka bumi. Inilah yang disebut islam sebagai
rahmatan lil ngalamin (rahmat bagi seluruh alam).

c. Memahami Rahmat Islam

Islam adalah agama rahmatan lil alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat
dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, jin maupun
manusia, Muslim maupun kafir, benda hidup maupun mati, apalagi sesama manusia. Sesuai dengan
firman Allah dalam QS. Al Anbiya:107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk
(menjadi) rahmat bagi semesta alam. Ayat di atas sering dijadikan hujjah bahwa Islam adalah agama
rahmat. Itu benar. Rahmat Islam itu luas, seluas dan seluwes ajaran Islam itu sendiri. Itu pun juga
pemahaman yang benar.
Sedangkan bentuk-bentuk kerahmatan Allah pada ajaran Islam itu adalah

1. Islam menunjukan Manusia jalan hidup yang benar.

2. Islam menghormati dan menghargai semua manusia sebagai hamba Allah, baik mereka muslim
maupaun non muslim.

3. Islam mengatur pemanfaatan alam secara baik dan professional.

4. Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menggunakan potensi yang diberikan oleh
Allah secara tanggung jawab dan lain-lain.

Agama islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, namun banyak orang menyimpangkan
pernyataan ini pada pemahaman pemahaman yang salah kaprah.sehingga menimbulkan banyak
kesalahan dalam praktek beragama, bahkan dalam hal yang sangat fundamental yaitu dalam masalah
toleransi. Fungsi islam sebagai rahmatan lil alamin tidak bergantung pada penerimaan atau penilaian
manusia. Fungsi tersebut akan dapat terwujud dan dapat dirasakan oleh manusia itu sendiri ataupun
makhluk lain apabila mannusia telah mentaati dan menjalankan ajaran islam dengan benar. Nabi
muhammad saw diutus dengan membawa ajaran islam dengan dasar rahmatan lil alamin. Sedangkan
rahmat itu sendiri dalam lisanul arab berarti kelembutan yang berpadu dengan rasa iba atau bisa diartikan
sebagai kasih sayang. Jadi, diutusnya nabi Muhammad saw adalah bentuk kasih sayang Allah kepada
semua makhluk, terutama manusia.

d. Bentuk-bentuk Rahmat Islam

Ketika seseorang telah mendapat petunjuk Allah, maka ia benar-benar mendapat rahmat dengan
arti yang seluas-luasnya. Dalam tataran praktis, ia mempunyai banyak bentuk.

1. Pertama, manhaj (ajaran).

Di antara rahmat Allah yang luas adalah manhaj atau ajaran yang dibawa oleh Rasulullah
saw berupa manhaj yang menjawab kebahagiaan seluruh umat manusia, jauh dari kesusahan
dan menuntunnya ke puncak kesempurnaan yang hakiki. Allah SWT berfirman, Artinya :
Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai
peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). (QS. Thahaa: 2-3). Di ayat lain, Dia
berfirman, Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, (QS Al-Maidah:
3).
2. Kedua, al-Qur`an.

Al-Qur`an telah meletakkan dasar-dasar atau pokok-pokok ajaran yang abadi dan
permanen bagi kehidupan manusia yang selalu dinamis. Kitab suci terakhir ini memberikan
kesempatan bagi manusia untuk beristimbath (mengambil kesimpulan) terhadap hukum-
hukum yang bersifat furuiyah. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari tuntutan
dinamika kehidupannya. Begitu juga kesempatan untuk menemukan inovasi dalam hal sarana
pelaksanaannya sesuai dengan tuntutan zaman dan kondisi kehidupan, yang semuanya itu
tidak boleh bertentangan dengan ushul atau pokok-pokok ajaran yang permanen. Dari sini
bisa kita pahami bahwa al-Qur`an itu benar-benar sempurna dalam ajarannya. Tidak ada satu
pun masalah dalam kehidupan ini kecuali al-Qur`an telah memberikan petunjuk dan solusi.
Allah berfirman : Artinya :Tidak ada sesuatu pun yang kami luputkan di dalam Kitab,
kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan, (QS al-Anaam: 38). Dalam ayat lain
berbunyi, ...Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri,
(QS an-Nahl: 89).

3. Ketiga, penyempurna kehidupan manusia

Di antara rahmat Islam adalah keberadaannya sebagai penyempurna kebutuhan manusia


dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Rahmat Islam adalah meningkatkan dan
melengkapi kebutuhan manusia agar menjadi lebih sempurna, bukan membatasi potensi
manusia. Islam tidak pernah mematikan potensi manusia, Islam juga tidak pernah
mengharamkan manusia untuk menikmati hasil karyanya dalam bentuk kebaikan-kebaikan
dunia. Allah telah menjelaskan dalam Al-Quran yang artinya : Katakanlah: Siapakah yang
mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hambahamba-Nya
dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?... (QS al-A`raf: 32). Islam
memberi petunjuk mana yang baik dan mana yang buruk, sedang manusia sering tidak
mengetahuinya. Allah berfirman yang artinya : Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal
ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui, (QS al-Baqarah: 216).

4. Keempat, jalan untuk kebaikan.

Rahmat dalam Islam juga bisa berupa ajarannya yang berisi jalan/cara mencapai
kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Hanya kebanyakan manusia memandang jalan
Islam tersebut memiliki beban yang berat, seperti kewajiban sholat dan zakat, kewajiban
amar maruf nahi munkar, kewajiban memakai jilbab bagi wanita dewasa, dan sebagainya.
Padahal Allah SWT telah berfirman, Artinya :Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat
baik bagi dirimu sendiri,... (QS al-Isra: 7). Artinya :Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya,... (QS al-Baqarah: 286). Pada dasarnya,
kewajiban tersebut hanyalah untuk kebaikan manusia itu sendiri.

e. Rahmat Islam dalam Perang

Demikian pula dalam peperangan, Agama Islam tidak lepas dari sifatnya sebagai rahmat bagi
seluruh alam. Islam mengajarkan peraturan-peraturan dan hukum-hukum perang. Siapa yang boleh
dibunuh dan siapa yang tidak. Bolehkah merusak jasad musuh atau tidak, dan seterusnya. Setiap
melepas suatu pasukan untuk berperang Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam selalu memberikan
wasiat kepada mereka, yang berisi nasihat dan peraturan peperangan. Di dalamnya kita akan dapati
rahmat dan kasih sayang.

Pernah pada suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berjalan bersama pasukannya
dalam suatu peperangan. Kemudian Beliau melihat orang-orang berkerumun pada sesuatu, maka
beliau pun mengutus seseorang untuk melihatnya. Ternyata mereka mengerumuni seorang wanita
yang terbunuh oleh pasukan terdepan. Waktu itu pasukan terdepan dipimpin oleh Khalid bin Walid.
Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun bersabda: Berangkatlah engkau menemui Khalid
dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Rasulullah melarang engkau untuk membunuh dzuriyah
(wanita dan anak-anak, ed) dan pekerja / pegawai. (HR. Abu Dawud). Dalam riwayat lain Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Katakan pada Khalid jangan ia membunuh wanita dan
pekerja. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ath-Thahawi. Lihat Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani 6 /
314). Dalam riwayat yang lebih shahih dikatakan: Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi
shallallahu `alaihi wa sallam melihat seorang wanita terbunuh dalam suatu peperangan. Maka beliau
pun mengingkari pembunuhan wanita dan anak-anak. (Muttafaqun `alaihi)

Dari riwayat-riwayat ini jelas bahwa wanita dan anak-anak tidak boleh dibunuh dalam
peperangan. Sedangkan pegawai atau pekerja yang dimaksud adalah warga sipil yang tidak ikut
dalam peperangan. Mereka ini juga tidak boleh dibunuh. Demikianlah peraturan Islam, betapa
indahnya peraturan tersebut. Kaum muslimin sudah mengenal istilah warga sipil yang tidak boleh
dibunuh sejak turunnya Al-Quran ribuan tahun yang lalu. Inilah kasih-sayang Islam yang datang
sebagai rahmat bagi seluruh alam termasuk kepada musuhnya sekali pun.
f. Rahmat dalam Hukum Had

Termasuk dalam hukum had dan qishas, kasih sayang Islam tidak pernah hilang. Disamping
hukum itu sendiri memang membawa rahmat, penerapannya pun tidak sembarangan. Membutuhkan
penyelidikan dan kepastian serta masih terkait dengan tuntutan korban atau maafnya. Seperti hukum
qishas, hukum seorang yang membunuh adalah dibunuh pula. Hukum ini membawa rahmat kepada
seluruh kaum muslimin yaitu keamanan dan ketentraman. Bahkan hukum yang sepintas terlihat akan
membawa korban lebih banyak, ternyata bagi orang yang cerdas akan terlihat bahwa sesungguhnya
hukum ini justru menjaga kehidupan. Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya pada hukum
qishash ada kehidupan bagi kalian wahai orang yang cerdas, semoga kalian bertakwa. (Al-Baqarah:
179), Namun hukum ini pun terkait dengan tuntutan keluarga korban. Jika mereka memaafkan maka
tidak dilakukan hukum bunuh melainkan membayar diat, semacam uang denda atau tebusan senilai
harga seratus ekor unta yang diberikan kepada keluarga korban. Ini pun merupakan rahmat dan
keringanan dari Allah untuk mereka sebagaimana Allah katakan sendiri dalam ayat-Nya: Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang
dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita.
Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaknya (yang memaafkan)
mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang
memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan
kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang
sangat pedih. (Al-Baqarah: 178)

Ini pun kalau benar-benar terbukti ia membunuh dengan sengaja, kalau ternyata tidak sengaja
maka tidak ada qishas yang ada adalah diat. Bahkan kalau keluarga korban akan menginfakkan
tebusan tersebut kepada si pembunuh dan memaafkannya, berarti ia tidak perlu membayar diat.
Walaupun yang dibunuh adalah seorang kafir muahad yang terikat perjanjian, tetap wajib bagi si
pembunuh yang Muslim membayar diat kepada keluarga korban serta memerdekakan seorang budak.
Tetapi tidak ada qishas baginya.

Sedangkan hukum potong tangan bagi pencuri atau hukum cambuk (bagi penzina yang belum
menikah) dan rajam (bagi penzina yang telah menikah) dan lain-lain merupakan kejahatan yang jika
sudah sampai kasusnya kepada pemerintah maka harus ditegakkan hukum padanya. Inipun
sesungguhnya merupakan rahmat bagi seluruh kaum muslimin bahkan seluruh manusia.

g. Rahmat Kepada Hewan


Dalam memelihara hewan kita harus memberinya makan yang cukup. Dalam menunggangi kita
dilarang memberikan beban yang terlalu berat. Dalam menyembelih kita harus menggunakan pisau
yang tajam dan ditempat yang langsung mematikan, yaitu dilehernya. Dan seterusnya, pernah suatu
hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memasuki perkampungan kaum Anshar. Kemudian
beliau masuk ke suatu tembok kebun salah seorang dari mereka. Tiba-tiba beliau melihat seekor unta
yang kurus. Ketika melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, unta itu menangis, merintih dan
meneteskan air mata. Maka beliau pun mendekatinya lalu mengusap perutnya sampai ke punuknya
dan ekornya. Unta itu pun tenang kembali. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
bersabda: Siapa penggembala unta ini?. Dalam riwayat lain beliau bersabda: Siapa pemilik unta
ini? Maka datanglah seorang pemuda dari Anshar, kemudian berkata: Itu milikku ya Rasulullah.
Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berkata: Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah
dalam memelihara ternak yang telah Allah berikan kepadamu itu? Sesungguhnya ia mengeluh
kepadaku bahwa engkau melaparkan dan melelahkannya. Maka beliau menegurnya dengan ucapan:
Tidakkah kamu takut kepada Allah. Ini mengandung ancaman bagi orang yang menyiksa hewan
peliharaannya. Bukankah ini suatu rahmat dan kasih sayang yang besar.

2.1.2 Ukhuwah Islamiyah Dan Ukhuwah Insaniyah

Dalam kehidupan beragama Islam tentu tidak lepas dengan ukhuwah atau disebut juga
"persaudaraan". Dalam bahasa arab, ada kalimat "ukhuwah " yang berarti Persaudaraan, ada
kalimat "ikhwah"(saudara seketurunan) dan "ikhwan" (saudara bukan seketurunan).
Dalam Al-Qur'an, kata akh (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali.
Kata ini dapat berarti saudara kandung (QS. An-Nisa' :23), saudara yang dijalin oleh ikatan
keluarga (QS. Thaha : 29-30), saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama (QS. Al-
A'raf : 65), saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham (QS. Shad : 23), persaudaraan
seagama (QS. Al-Hujurat : 10).
Di samping itu ada istilah ukhuwah (persaudaraan) lain yang tidak disebutkan dalam Al-
Qur'an yaitu saudara sekemanusiaan (ukhuwah insaniyah) dan saudara semakhluk dan
seketundukan kepada allah.Quran bukan hanya menyebut persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah
insaniyyah) tetapi bahkan menyebut binatang dan burung sebagai umat seperti manusia (Q/6:38).
Sebagai saudara semakhluk (ukhuwah makhluqiyah) Istilah "ukhuwah islamiyah." Bukan
bermakna persaudaraan antara orang-orang Islam, tetapi persaudaraan yang didasarkan pada
ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat islami. Oleh karena itu cakupannya "ukhuwah
Islamiyyah"bukan hanya menyangkut sesama orang Islam namun juga menyangkut dengan non
Muslim bahkan makhluk yang lainnya. Misalnya, seorang pemiliki kuda, tidak boleh membebani
kudanya dengan beban yang melampaui batas kewajaran. Ajaran ini termasuk ajaran ukhuwah
Islamiyah. Bagaimana seorang muslim bergaul dengan kuda miliknya.
Istilah ukhuwah Islamiyah pada hakikatnya bukan bermakna persaudaraan antara orang-
orang Islam, melainkan cenderung memiliki arti sebagai persaudaraan yang didasarkan pada
ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat Islami.

Cakupan ukhuwah Islamiyah di sini bukan hanya mengenai hubungan sesama umat
Islam, tetapi juga menyangkut interaksi dengan umat non muslim, bahkan dengan makhluk Allah
lainnya. Seorang pemiik kuda misalnya, tidak boleh membebani kudanya dengan beban yang
melampaui batas kewajaran. Dengan demikian, ukhuwah Islamiyah juga mengajarkan pada kita
bagaimana memperlakukan makhluk Allah lainnya dengan lembut dan tidak semena-mena,
dengan menekankan aspek perikemanusiaan dan kasih sayang terhadap tumbuhan maupun
hewan.

a. Klasifikasi Ukhuwah

Berikut ini merupakan intisari beberapa ayat suci yang menggambarkan pembagian jenis-
jenis ukhuwah:

Sungguh bahwa Allah telah menempatkan manusia secara keseluruhan sebagai Bani
Adam dalam kedudukan yang mulia, walaqad karramna bani Adam (QS 17:70).
Manusia diciptakan Allah SWT dengan identitas yang berbeda-beda agar mereka saling
mengenal dan saling memberi manfaat antara yang satu dengan yang lain (QS 49:13).
Tiap-tiap umat diberi aturan dan jalan yang berbeda, padahal andaikata Allah
menghendaki, Dia dapat menjadikan seluruh manusia tersatukan dalam kesatuan umat.
Allah SWT menciptakan perbedaan itu untuk member peluang berkompetisi secara sehat
dalam menggapai kebajikan, fastabiqul khairat (QS 5:48).
Sabda Rasul, seluruh manusia hendaknya menjadi saudara antara yang satu dengan yang
lain, wakunu ibadallahi ikhwana (Hadist Bukhari).

Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa Al-Quran dan hadist sekurang-kurangnya
memperkenalkan empat macam ukhuwah, yakni:
a) Ukhuwah ubudiyyah, ialah persaudaraan yang timbul dalam lingkup sesama makhluk
yang tunduk kepada Allah.
b) Ukhuwah insaniyyah atau basyariyyah, yakni persaudaraan karena sama-sama memiliki
kodrat sebagai manusia secara keseluruhan (persaudaraan antar manusia, baik itu seiman
maupun berbeda keyakinan).
c) Ukhuwah wataniyyah wa an nasab, yakni persaudaraan yang didasari keterikatan
keturunan dan kebangsaan.
d) Ukhuwah diniyyah, yakni persaudaraan karena seiman atau seagama.

Proses berlangsungnya atau bagaimana diterapkannya ukhuwah ini tentunya tak lepas dari
persamaan yang dimiliki antarpihak sebagai faktor penunjang yang secara signifikan membentuk
persaudaraan. Semakin banyak persamaan yang ada, baik kesamaan rasa maupun kesamaan cita-
cita atau target capaian, maka ukhuwah yang terjalin cenderung menguat. Ukhuwah umumnya
melahirkan aksi solidaritas, dapat berupa aksi yang positif dan negatif. Contoh ukhuwah yang
melatarbelakangi sebuah aksi positif yakni ketika terjadi banjir misalnya, sebuah kelompok
masyarakat yang sebelumnya mungkin berselisih paham atau tidak akur antar anggotanya, dapat
timbul ukhuwah saat semuanya menjadi korban banjir. Banjir ini menyatukan perasaan mereka,
berupa rasa sama-sama menderita dan sepenanggungan. Kesamaan rasa itulah yang kemudian
memunculkan kesadaraan untuk saling membantu. Sedangkan contoh ukhuwah yang berakibat
aksi negatif ialah pemberontakan oleh sekelompok orang terhadap pemerintahan, akibat rasa
persaudaraan yang timbul sesama mereka karena berbagai motif, seperti landasan atau paham
Islam yang melenceng sehingga menimbulkan tindakan pengeboman oleh kalangan teroris.

Di dalam Al-Quran, terdapat penjelasan atau petunjuk mengenai pelaksanaan ukhuwah


sebagaimana mestinya, sehingga bentuk aksi yang negatif dapat terhindari. Berikut adalah
beberapa poin pedoman ukhuwah yang disebutkan dalam kitab suci tersebut:

1) Tetaplah berkompetisi secara sehat dalam melakukan kebajikan, meski berbeda


agama, ideologi, maupun status (QS 5:48). Janganlah berpikir untuk menjadikan
manusia tersatukan dalam keseragaman, dengan memaksa orang lain untuk
berpendirian seperti kita misalnya, karena Allah menciptakan perbedaan itu
sebagai rahmat, untuk menguji siapa di antara umatNya yang memberikan
kontribusi terbesar dalam kebaikan.
2) Amanah atau tanggung jawab sebagai khalifah Alah di bumi harus senantiasa
dipelihara, mengingat manusia memiliki keharusan menegakkan kebenaran dan
keadilan (QS 38:26) serta menjaga keseimbangan lingkungan alam (QS 30:41).
3) Kuat pendirian, namun tetap menghargai pendirian orang lain. Lakum dinukum
waliyadin (QS 112:4), tidak perlu bertengkar dengan asumsi bahwa kebenaran
akan terbuka nanti di hadapan Allah (QS 42:15).
4) Meski terkadang kita berbeda ideologi dan pandangan, tetapi harus berusaha
mencari titik temu, kalimatin sawa, tidak bermusuhan, seraya mengakui eksistensi
masing-masing (QS 3:64).
5) Tidak mengapa bekerja sama dengan pihak yang berbeda pendirian, dalam hal
kemaslahatan umum, atas dasar saling menghargai eksistensi, berkeadilan dan
tidak saling menimbulkan kerugian (QS 60:8). Dalam hal kebutuhan pokok
(mengatasi kelaparan, bencana alam, wabah penyakit, dsb) solidaritas sosial
dilaksanakan tanpa memandang agama, etnik, atau identitas lainya (QS 2:272).
6) Tidak memandang rendah (mengolok-olok) kelompok lain, tidak pula meledek
atau membenci mereka (QS 49:11).
7) Jika ada perselisihan diantara kaum beriman, penyelesaian yang akan dirumuskan
haruslah merujuk kepada petunjuk Al Qur'an dan Sunnah Nabi (QS 4:59).

Al Qur'an menyebut bahwa pada hakekatnya orang mu'min itu bersaudara (seperti
saudara sekandung), innamal mu'minuna ikhwah (QS 49:10). Hadist Nabi bahkan memisalkan
hubungan antara mukmin itu bagaikan hubungan anggota badan dalam satu tubuh dimana jika
ada satu yang menderita sakit, maka seluruh anggota badan lainnya solider ikut merasakan
sakitnya dengan gejala demam dan tidak bisa tidur misalnya. Nabi juga mengingatkan
bahwa hendaknya di antara sesama manusia, tidak ada pikiran negatif (buruk sangka), tidak
mencari-cari kesalahan orang lain, tidak saling mendengki, tidak saling membenci, tidak saling
membelakangi, tetapi kembangkanlah persaudaraan (H R Abu Hurairah).

Meski demikian, persaudaraan dan solidaritasnya harus berpijak kepada kebenaran,


bukan mentang-mentang saudara lalu buta terhadap masalah. Al Qur'an mengingatkan kepada
orang mu'min, agar tidak tergoda untuk melakukan perbuatan melampaui batas ketika orang lain
melakukan hal yang sama kepada mereka. Sesama mukmin diperintakan untuk bekerjasama
dalam hal kebajikan dan taqwa dan dilarang bekerjasama dalam membela perbuatan dosa dan
permusuhan, ta'awanu 'alal birri wat taqwa wala ta'awanu 'alal itsmi wal 'udwan. (QS 5:2).

b. Upaya Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah

Supaya ukhuwah islamiyah dapat tegak dan kokoh, maka tidak hanya dengan perasaan atau
perkataan saja, diperlukan empat tiang penyangga yaitu:

a. Taaruf adalah saling kenal mengenal yang tidak hanya bersifat fisik ataupun
biodata ringkas belaka, tetapi lebih jauh lagi menyangkut latar belakang
pendidikan, budaya, keagamaan, pemikiran, ide-ide, cita-cita serta problema
kehidupan yang dihadapi.
b. Tafahum adalah saling memahami kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan
kelemahan masing-masing, sehingga segala macam kesalah pahaman dapat
dihindari.
c. Taawun adalah saling tolong menolong, dimana yang kuat menolong yang lemah
dan yang mempunyai kelebihan menolong yang kekurangan, dengan konsep ini
maka kerjasama akan tercipta dengan baik dan saling menguntungkan sesuai
fungsi dan kemampuan masing-masing.
d. Takaful adalah saling memberi jaminan, sehingga menumbuhkan rasa aman, tidak
ada rasa khawatir dan kecemasan menghadapi hidup ini.

Dengan empat sendi persaudaraan tesebut umat islam akan saling mencintai dan bahu
membahu serta tolong menolong dalam menjalani dan menghadapi tantangan kehidupan, bahkan
mereka sudah seperti satu batang tubuh yang masing-masing bagian tubuh akan ikut merasakan
penderitaan bagian tubuh lainnya. Seperti pada hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh
Bukhori dan Muslim yang artinya Perumpamaan orang-orang beriman dalam sayang
menyayangi, cinta mencintai dan tolong menolong sesama mereka seperti satu batang tubuh,
yang apabila salah satu batang tubuh menderita sakit, maka seluh badan akan merasakan sakit
pula karena tidak dapat tidur dan panas (H. R. Bukhori dan Muslim).

Supaya ukhuwah islamiyah tetap erat dan kuat, maka setiap muslim harus dapat menjauhi
segala sifat dan perbuatan yang dapat merusak dan merenggangkan ukhuwah tersebut, sesudah
menyatakan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara, Allah SWT melarang orang-orang
beriman untuk melakukan beberapa hal yang dapat merusak dan merenggangkan ukhuwah
islamiyah.

2.1.3 Kebersamaan Ummat Beragama dalam Kehidupan Sosial

a. pandangan agama islam terhadap ummat non Islam


Dari segi kaidah, setiap orang yang tidak mau menerima islam sebagai agamanya di sebut
kafir atau non islam. Kata kafir berarti orang yang menolak, yang tidak mau menerima atau
menolak menaati aturan allah yang diwujudkan kepada manusia melalui ajaran islam.
Ketika rasulullah mulai menyampaikan ajaran islam kepada masyarakat arab, sebagian
dari mereka ada yang mau menerima ajaran tersebut dan sebagianya lagi menolak orang yang
menolak ajakan rasulullah saw tersebut di sebut juga kafir. Mereka terdiri dari orang orang
musrik yang menyembah berhala di sebut orang watsani, dan orang orang ahli kitab baik orang
yahudi maupun orang nasrani.

b. Tanggung jawab sosial ummat Islam


Ummat islam adalah umat yang terbaik yang diciptakan allah dalam kehidupan ini.
Bentuk tanggung jawab sosial ummat islam meliputi berbagai aspek kehidupan , di antaranya
adalah:
1. Menjalin silaturahmi dengan tetangga dalam sebuah hadis rasulullah menjadikan sebuah
kebaikan seseorang kepada tetangganya menjadi salah satu indicator keimanan
2. Memberikan infak sebagian dari harta yang dimiliki, baik yang wajib dalm bentuk zakat
maupun yang sunnah dalam bentuk sedekah.
3. Menjenguk bila ada anggota masyarakat yang sakit dan taziyah bila ada anggota masyarakat
yang meninggal dengan mengantar jenazahnya sampai di kuburnya.
4. Memberi bantuan kepada masyarakat bila ada yang memerlukan bantuan
5. Penyusunan system sosial yang efektif dan efesien untuk membangun masyarakat, baik mental
spiritual maupun fisik materialnya.
c. amar maruf dan nahi munkar
Amar maruf dan nahi munkar adalah memerintahkan orang lain untuk berbuat baik dan
mencegah perbuatan jahat. Disamping system dan saran pendukung, amar maruf dan nahi
munkar memerlukan juga kebijakan dalam bertindak. Karna itu rasulullah memberikan tiga
tingkatan yaitu:
1) Menggunakan tangan atau kekuasaan apabila ia mampu,
2) Menggunakan lisan, dan
3) Dalam hati apabila langkah pertama dan kedua tidak memungkinkan.
Bentuk amar maruf dan nahi munkar yang bersistem diantaranya adalah:
a) Mendirikan mesjid
b) Menyelenggarakan pengajian
c) Mendirikan lembaga wakaf
d) Mendirikan lembaga pendidikan islam
e) Mendirikan lembaga keuangan atau perbangkan syariah
f) Mendirikan media massa islam, Koran, radio, tv dan lain lain
g) Mendirikan panti rehabilitasi anak anak nakal
h) Mendirikan pesantren
i) Menyelenggarakan kajian-kajian islam
j) Membuat jaringan informasi social

d. Manfaat Kerukunan Antar Umat Beragama

Umat Beragama Diharapkan Perkuat Kerukunan Jika agama dapat dikembangkan sebagai
faktor pemersatu maka ia akan memberikan stabilitas dan kemajuan pada Negara.

Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni berharap dialog antar-umat beragama dapat
memperkuat kerukunan beragama dan menjadikan agama sebagai faktor pemersatu dalam
kehidupan berbangsa.

Beberapa manfaat yang dapat kita perolah dari kebersamaan umat beragama dengan sikap
toleransi antara lain :

e. Menghindari Terjadinya Perpecahan.


Kebersamaan dengan mengabadikan sikap toleransi merupakan solusi agar tidak terjadi
perpecahan dalam mengamalkan agama. Sikap bertoleransi harus menjadi suatu kesadaran
pribadi yang selalu dibiasakan dalam wujud interaksi sosial. Toleransi dalam kehidupan
beragama menjadi sangat mutlak adanya dengan eksisnya berbagai agama samawi maupun
agama ardli dalam kehidupan umat manusia ini.
Dalam kaitanya ini Allah telah mengingatkan kepada umat manusia dengan pesan yang
bersifat universal, berikut firman Allah SWT:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai
berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat
Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu,
agar kamu mendapat petunjuk. (Al-Imran:103)

f. Memperkokoh Silaturahmi dan Menerima Perbedaan


Salah satu wujud dari toleransi hidup beragama adalah menjalin dan memperkokoh tali
silaturahmi antarumat beragama dan menjaga hubungan yang baik dengan manusia lainnya. Pada
umumnya, manusia tidak dapat menerima perbedaan antara sesamanya, perbedaan dijadikan
alasan untuk bertentangan satu sama lainnya. Perbedaan agama merupakan salah satu faktor
penyebab utama adanya konflik antar sesama manusia.

Merajut hubungan damai antar penganut agama hanya bisa dimungkinkan jika masing-
masing pihak menghargai pihak lain. Mengembangkan sikap toleransi beragama, bahwa setiap
penganut agama boleh menjalankan ajaran dan ritual agamanya dengan bebas dan tanpa tekanan.
Oleh karena itu, hendaknya toleransi beragama kita jadikan kekuatan untuk memperkokoh
silaturahmi dan menerima adanya perbedaan. Dengan ini, akan terwujud perdamaian,
ketentraman, dan kesejahteraan.

Jadi dalam kehidupan sosial, kebersamaan sangat diperlukan antar umat beragama,
karena akan memberikan dampak positif baik pada diri kita maupun lingkungan. Memberikan
rasa kebersamaan yang tinggi dan kasih sayang antar sesama manusia semakin terasa bahwa kita
adalah makhluk Tuhan yang harus saling menjaga satu sama lain. Dengan begitu peselisihan,
pertengkaran, permusuhan, tak aka nada lagi jika kita selalu menjaga kebersamaan dalam
kehidupan sosial dan lain sebagainya.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan dalam makalah ini, dapat kami simpulkan berbagai macam bahasan
mengenai kerukunan antar umat beragama, yaitu Islam adalah rahmat dalam artian yang luas, bukan
rahmat yang dipahami oleh sebagian orang menurut seleranya sendiri. Rahmat dalam Islam adalah rahmat
yang sesuai dengan kehendak Allah dan ajaran-Nya, baik berupa perintah atau larangan. Memerangi
kemaksiatan dengan mengingatkan kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar itu adalah
rahmat, sekalipun sebagian orang tidak setuju dengan tindakan tersebut. Allah berfirman yang artinya :
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui, (QS al-Baqarah: 216).
Kendala-kendala yang dihadapi dalam mencapai kerukunan umat antar beragama ada
beberapa sebab, antara lain;
a. Rendahnya Sikap Toleransi
b. Kepentingan Politik dan
c. Sikap Fanatisme
Adapun solusi untuk menghadapinya, adalah dengan melakukan Dialog Antar Pemeluk
Agama dan menanamkan Sikap Optimis terhadap tujuan untuk mencapai kerukunan antar umat
beragama.
Istilah ukhuwah Islamiyah pada hakikatnya bukan bermakna persaudaraan antara orang-
orang Islam, melainkan cenderung memiliki arti sebagai persaudaraan yang didasarkan pada
ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat Islami.

Empat macam ukhuwah, yakni:

Ukhuwah ubudiyyah, ialah persaudaraan yang timbul dalam lingkup sesama makhluk
yang tunduk kepada Allah.
Ukhuwah insaniyyah atau basyariyyah, yakni persaudaraan karena sama-sama memiliki
kodrat sebagai manusia secara keseluruhan (persaudaraan antarmanusia, baik itu seiman
maupun berbeda keyakinan).
Ukhuwah wataniyyah wa an nasab, yakni persaudaraan yang didasari keterikatan
keturunan dan kebangsaan.
Ukhuwah diniyyah, yakni persaudaraan karena seiman atau seagama.

Salah satu kasus yang berkaitan dengan kemunduran ukhuwah islamiyah adalah kasus
terorisme yang berkembang di Indonesia. Hal tersebut yang membuat kerukunan antar umat
islam maupun antar umat beragama menjadi tidak baik.

3.2 Saran
Sebagai Umat beragama sudah seharusnya kita menjaga kerukunan antar sesama manusia,
mengikuti rasul dan ajaran islam bukan lah memihak pada satu agama saja, namun ajaran islam
merupakan aturan yang mutlak bagi seluruh umat manusia. Sehingga terjaga ukhuwah islamiah
maupun ukhuwah insaniah.