Anda di halaman 1dari 3

OPINI

Fenomena Tindihan
Dito Anurogo
RS PKU Muhammadiyah Palangka Raya dan
Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya,
Kalimantan Tengah, Indonesia

ABSTRAK
Tulisan ini mengulas fenomena tindihan (paralisis tidur) berdasarkan berbagai referensi yang relevan. Detail pembahasan mencakup
definisi, sejarah, epidemiologi, etiologi, gambaran klinis, gambaran klinis, pemeriksaan fisik dan penunjang, komorbiditas, diagnosis banding,
penatalaksanaan, dan pencegahan.

Kata kunci: fenomena tindihan, paralisis tidur

ABSTRACT
We describe tindihan phenomenon (Sleep Paralysis) comprehensively based on relevant references. The details are about synonyms, definition,
history, epidemiology, etiology, clinical features, physical and supporting examinations, comorbidity, differential diagnosis, management and
prevention. Dito Anurogo. Tindihan Phenomenon.

Key words: tindihan phenomenon, sleep paralysis

SINONIM seseorang merasa sesak napas seperti dicekik, SEJARAH


Tindihan (tindihen) di dalam literatur kedokter- dada terasa sesak, badan sulit bergerak, Tindihan pertama kali dideskripsikan sebagai
an dikenal sebagai sleep paralysis, incubus, tidak dapat memindahkan/menggerakkan night palsy oleh Mitchell pada tahun 1876.
nightmare (mimpi buruk), isolated sleep pa- anggota gerak dan tubuh meskipun sadar, Terminologi sleep paralysis diperkenalkan
ralysis, familial sleep paralysis, hypnagogic or sulit berteriak saat akan tidur atau bangun oleh neurolog Inggris bernama Samuel
hypnopompic paralysis, nocturnal paralysis, tidur. Biasanya disertai halusinasi, seperti Wilson di tahun 1928. Deskripsi yang lebih
awakening cataplexy, cataplexy of awakening, melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar awal dijumpai di literatur medis, oleh dokter
predormital and postdormital paralysis, disas- tempat tidur. Singkatnya, tindihan adalah Belanda bernama Isbrand van Diemerbroeck
sociative experience related to sleep, protracted ketidakmampuan untuk melakukan gerakan pada tahun 1664. Istilah hypnagogic pertama
psychomotor awakening, delayed psychomotor volunter, baik saat onset tidur (hypnagogic) kali diperkenalkan oleh Alfred Maury.10-14
awakening, parhypnotic cataplexy, dissociated atau saat terbangun dari tidur di malam/pagi
awakening, an awakening phenomenon, wak- hari (hypnopompic).8 EPIDEMIOLOGI
ing fit. Di beberapa daerah, tindihan disebut Tindihantakdapatdilepaskandarigangguantidur,
juga sebagai cataplexie du reveil (Perancis), Old Tindihan dapat dilihat sebagai fenomena mimpi buruk, dan narkolepsi. Gangguan tidur
Hag (Newfoundland dan Kanada), Kanashi- motorik murni yang bercirikan kondisi disosiasi bukan hanya dialami oleh dewasa, melainkan
bari (Jepang), Ghost oppression (Hong Kong, dimana atonia otot yang berkaitan dengan juga pada 10-40% remaja.15 Orang yang
China), Ogun Oru (Nigeria), Kokma (St Lucia), REM (rapid eye movement) muncul bersamaan mengalami gangguan tidur berkepanjangan
Phi um (Thailand), Hexendruchem (Jerman), dengan kondisi keterjagaan dari kesadaran memiliki 2,5 kali risiko yang lebih tinggi untuk
Ha-wi-nulita (Korea), Pesadilla atau fenomena penuh (wakefulness state of full consciousness).9 mengalami kecelakaan mobil dibandingkan
a dead body climbed on top of me (Meksiko), mereka yang tidurnya cukup.6
Stand-stills (Inggris), karabasan (Turki), ma de Bersama REM sleep behavior disorder
(Vietnam), lidercnyomas (Hungaria), sindrom dan mimpi buruk (nightmares), tindihan Prevalensi tindihan 5-62%.17-19 Di New-
pibloktoq (Eskimo).1-7 digolongkan dalam REM sleep parasomnia. foundland, Canada, prevalensi tindihan di
Parasomnia adalah kumpulan gejala yang antara mahasiswa perguruan tinggi mencapai
DEFINISI berkaitan dengan perilaku problematis atau 15-23%.20 Rerata onset episode pertama
Tindihan adalah suatu keadaan/kondisi saat fenomena selama tidur.9 tindihan dilaporkan mulai meningkat di

708 CDK-197/ vol. 39 no. 9, th. 2012

CDK-197_vol39_no9_th2012 ok.indd 708 9/12/2012 5:18:21 PM


OPINI

sekitar usia 14 tahun dan memuncak di usia (serangan tidur mendadak tanpa rasa kantuk), tetrad dari gejala narkolepsi (hypersomnolence,
17-19 tahun.21 Mimpi buruk sering dialami mendengkur (sleep apnea), cemas, dan cataplexy, sleep paralysis, dan hypnagogic
pula oleh penderita tindihan; sekitar 5090% depresi. Penderita gagal menentukan batas hallucinations). Selain itu, tindihan dapat juga
populasi umum pernah mengalami mimpi antara pengalaman nyata, mimpi, dan pikiran disertai22,31,32:
buruk. Tindihan adalah gejala yang sering mental selama kondisi paralusis.17,20,25 Tindihan 1. Agorafobia
dijumpai pada penderita narkolepsi16; sekitar sering disertai halusinasi dan ketakutan yang 2. Gangguan afektif bipolar
0,16% remaja menderita narkolepsi. Di sangat. Fenomena ini dapat berlangsung 3. Gangguan cemas
Indonesia, prevalensi dan insidens tindihan selama beberapa menit hingga 20 menit. 4. Gangguan panik
belum diketahui pasti. Setelah berakhir, biasanya tidak meninggalkan 5. Insomnia
gejala sisa. Pada kejadian yang jarang, sensasi 6. Narkoleptik (narcolepsy)
ETIOLOGI mati rasa atau lemas di ekstremitas masih 7. Posttraumatic stress disorder (PTSD)
Tindihan sering disebabkan atau dipicu oleh: terasa beberapa menit.26 8. Sleep apnea
kebiasaan (pola) tidur yang tidak teratur, 9. Sleep inertia
kurang tidur, perubahan waktu tidur, kondisi PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG 10. Skizofrenia
tubuh terlalu lelah, dan stres. Beberapa faktor Pemeriksaan neurologis dalam batas normal.
risiko yang berpengaruh antara lain: jenis Data neurofisiologis (analisis EEG spectral yang DIAGNOSIS BANDING4,20,31,33-39
kelamin pria, kesehatan mental yang buruk, diperkuat dengan analisis cross-correlation) 1. Atonic drop attacks of syncopal nature
konsumsi minuman beralkohol, tidur seharian menguatkan pemikiran bahwa otak penderita 2. Bangkitan epileptik generalisata atonik
penuh, tidur awal atau terlambat, sulit berada di kondisi intermediate antara terbangun/ 3. Discharges epileptik fokal
memulai tidur, berbagai faktor perkembangan, terjaga dan tidur REM selama paralisis.25 4. Halusinosis peduncular
perubahan lingkungan dan sosiokultural yang 5. Hipokalemia
berkaitan dengan gaya hidup.22 Menurut teori Diagnosis tindihan dapat dipastikan dengan 6. Insufisiensi vaskuler vertebrobasiler
psikoanalitik, penderita tindihan memiliki profil polisomnografi. Untuk mengukur status tidur, 7. Katapleksi
kepribadian pasif-agresif. Tindihan berkaitan rasa mengantuk seharian berlebihan (excessive 8. Katatonia
dengan konflik kepribadian, terutama konflik daytime sleepiness) dipakai skor Epworth 9. Kesadaran berkabut yang sementara
antara agresivitas dan pasivitas.23 Dari sisi Sleepiness Scale (ESS).27 Untuk menilai status 10. Ketidaknormalan EEG yang mirip epilepsi
neurokimiawi, serotonin dan asetilkolin kesehatan mental, digunakan 12-item General 11. Kondisi terbangun (sadar)
relevan terhadap pembentukan halusinasi Health Questionnaire (GHQ-12).28 12. Narkolepsi
visual. Konsentrasi keduanya meningkat di 13. Paralisis histerikal
visual thalamic nuclei dan di korteks visual.24 Sebagai deteksi dini, perlu ditanyakan: 14. Paralisis periodik hipokalemik
Pernahkah Anda mengalami tindihan, 15. Penyakit Moyamoya
POTRET KLINIS di mana saat itu tangan, kaki, dan tubuh 16. Psikosis
Tindihan ditandai dengan tidak mampu Anda tidak dapat bergerak, berpindah saat
menggerakkan tubuh dan anggota badan terbangun atau jatuh tertidur selama sebulan PENCEGAHAN40-41
saat tidur atau saat terbangun, disertai ini? Ya adalah jawaban affirmative.22 1. Lingkungan tidur yang nyaman, misalnya
episode kelumpuhan sebagian atau seluruh dengan memperhatikan tempat tidur, bantal,
otot rangka; dapat juga berhubungan dengan PENATALAKSANAAN kebisingan, atau suara yang mengganggu.
halusinasi hipnagogik, yaitu suatu kondisi Medikamentosa: jangka pendek diberi 2. Jadual dan pola tidur yang teratur dan
saat seseorang setengah sadar menjelang obat golongan sedatif-hipnotik, misalnya cukup.
tidur. Terkadang penderita juga tak dapat benzodiazepin. Terapi lini pertama tin- 3. Membiasakan tidur teratur (misalnya,
menggerakkan anggota gerak dan tubuhnya dihan adalah sodium oxybate (gamma- setiap malam).
meskipun sadar dan disertai cemas. Kondisi hydroxybutyrate, GHB) dengan dosis 4500-9000 4. Olahraga teratur, tetapi jangan terlalu
ini dapat dialami oleh siapa pun.9,22 mg per dosis di malam hari.29 Obat golongan dekat dengan waktu tidur.
trisiklik antidepresan, seperti clomipramine, 5. Menghindari stres.
Tindihan merepresentasikan kondisi lebih selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), dan 6. Menghindari obat stimulan.
kompleks mencakup kondisi pikiran yang venlafaxine, dilaporkan efektif mengendalikan 7. Edukasi kesehatan tentang kebiasaan ti-
terdisosiasi bersamaan dengan komponen cataplexy dan tindihan, namun tidak efektif saat dur teratur dan pola tidur sehat.
motorik disosiatif. Pada beberapa kasus saat mengendalikan kantuk sepanjang hari (daytime
terjadi halusinasi hipnagogik, penderita merasa sleepiness). Amphetamine dapat diberikan untuk RINGKASAN
ada orang yang bersamanya di ruangan, atau mengatasi kantuk (sleepiness).30 Tindihan merupakan fungsi tubuh normal
perasaan ada seseorang/sesuatu duduk di yang menyebabkan kita lumpuh saat tidur.
kursinya, merasa akan mati atau mati lemas KOMORBIDITAS Mekanisme ini mencegah kita melukai atau
karena kekurangan oksigen. Kejadian ini Tindihan seringkali disertai atau dialami oleh mencederai diri sendiri selama mimpi. Namun,
sering diistilahkan Hag Phenomena. Tindihan penderita narkoleptik dengan cataplexy. jika kondisi ini terus menyertai sampai bangun,
dapat juga merupakan tanda narkolepsi Tindihan dapat merupakan bagian classical akan menjadi gangguan.7

CDK-197/ vol. 39 no. 9, th. 2012 709

CDK-197_vol39_no9_th2012 ok.indd 709 9/12/2012 5:18:22 PM


OPINI

DAFTAR PUSTAKA
1. Lichtenstein BW, Rosenblum AH. Sleep paralysis. J Nerv Mental Dis. 1942;95:153-5.
2. West L. Dissociative reaction. In: Freedman A, Kaplan H, editors. Comprehensive textbook of psychiatry. Baltimore, Maryland: Williams and Wilkins. 1966:896.
3. Parkes JD, Dahlitz M. Sleep paralysis. Lancet 1993;341:406-7.
4. Wing YK, Lee ST, Chen CN. Sleep paralysis in Chinese: ghost oppression phenomenon in Hong Kong. Sleep. 1994;17:609-13.
5. Aina OF, Famuyiwa OO. Ogun Oru: a traditional explanation for nocturnal neuropsychiatric disturbances among the Yoruba of southwest Nigeria. Transcult Psychiatry. 2007;44(1):44-54.
6. Jacobson CJ. The nightmares of Puerto Ricans: an embodied altered states of consciousness perspective. Cult Med Psychiatry 2009;33(2):266-89.
7. Jimnez-Genchi A, vila -Rodriguez VM, Snchez-Rojas F, Vargas Terrez BE, Nenclares-Portocarrero A. Sleep paralysis in adolescents: the a dead body climbed on top of me phenomenon
in Mexico. Psychiatry Clin Neurosci 2009;63(4):546-9.
8. American Sleep Disorder Association. International classification of sleep disorders: Diagnostic and coding manual. Rochester, MN. 1990.
9. American Academy of Sleep Medicine. The international classification of sleep disorders. 2nd ed. Westchester: Diagnostic and coding manual. American Academy of Sleep Medicine;
2005.
10. Mitchell SW. On some of the disorders of sleep. Va Med Mon. 1876;2:769-81.
11. Wilson SAK. The narcolepsies. Brain. 1928;51: 63-109.
12. Payn SB. A psychoanalytic approach to sleep paralysis. J Nerv Ment Dis. 1965;140: 427-33.
13. Kompanje EJ. The devil lay upon her and held her down. Hypnagogic hallucinations and sleep paralysis described by the Dutch physician Isbrand van Diemerbroeck (1609-1674) in 1664.
J Sleep Res. 2008;17:464-7.
14. Maury A. Des hallucinations hypnagogiques, ou des erreurs des sens dans ltat intermdiaire entre la veille et le sommeil. Ann Medico-Psychol 1848;VII:26-40.
15. Liu XC, Uchiyama M, Okawa M, et al. Prevalence and correlates of self-reported sleep problems among Chinese adolescents. Sleep. 2000;23:27-34.
16. Honda Y. Census of narcolepsy, cataplexy and sleep life among teen-agers in Fujisawa City. Sleep Res. 1979;8:191.
17. Ness RC. The old hag phenomenon as sleep paralysis: a biocultural interpretation. Culture Med Psych 1978;2:15-39.
18. Ohayon M, Zulley J, Guilleminault C, et al. Prevalence and pathologic associations of sleep paralysis in the general population. Neurology 1999;52:1194200.
19. Spanos NP, McNulty SA, DuBreuil SC, Pires M, Burgess MF. The frequency and correlates of sleep paralysis in a university sample. J. Res. in Personality, 1995;29:285305.
20. Firestone MC: The old hag sleep paralysis in Newfoundland. Psychoanal Anthropol 1985;8:47-66.
21. Wing YK, Lee ST, Chen CN. Sleep paralysis in Chinese: ghost oppression phenomenon in Hong Kong. Sleep 1994;17:60913.
22. Munezawa T, Kaneita Y, Osaki Y, Kanda H, Ohtsu T, Suzuki H. Nightmare and sleep paralysis among Japanese adolescents: A nationwide representative survey. Sleep Med. 2011;12:5664.
23. Ohaeri JU, Odejide AO, Ikuesan BA, Adeyemi JD. The pattern of isolated sleep paralysis among Nigerian medical students. J Natl Med Assoc. 1989;81(7):805-8.
24. Manford M, Andermann F. Complex visual hallucinations. Clinical and neurobiological insights. Brain. 1998;121:1819-40.
25. Terzaghi M, Ratti PL, Manni F, Manni R. Sleep paralysis in narcolepsy: more than just a motor dissociative phenomenon? Neurol Sci 2011. [Epub ahead of print]
26. Murphy G, Egan J. Sleep paralysis and hallucinations: What clinicians need to know. The Irish Psychologist. 2010;36(5):95-8.
27. Johns MW. A new method for measuring daytime sleepiness: the Epworth Sleepiness Scale. Sleep. 1991;14:540-5.
28. Doi Y, Minowa M. Factor structure of the 12-item General Health Questionnaire in the Japanese general adult population. Psychiatry Clin Neurosci 2003;57:379-83.
29. Mamelak M, Black J, Montplaisir J, Ristanovic R. A pilot study on the effects of sodium oxybate on sleep architecture and daytime alertness in narcolepsy. Sleep 2004;27:1327-34.
30. DAgostino A, Limosani I. Hypnagogic hallucinations and sleep paralysis. In: Goswami M, et al, editors. Narcolepsy: A Clinical Guide; 2010. p. 87-97.
31. Pizza F, Provini F, Culebras A. Sleep paralysis. www.medlink.com. Last Updated: July 24, 2011. Accessed on February 4, 2012.
32. Nielsen TA, Zadra A. Nightmares and other common dream disturbances. In: Kryger MH, Roth T, Dement WC, eds. Principles and practice of sleep medicine. Philadelphia: W.B. Saunders
Co.; 2005. p. 926-35.
33. Vetrugno R, Vella A, Mascalchi M, et al. Peduncular hallucinosis: a polysomnographic and SPECT study of a patient and efficacy of serotonergic therapy. Sleep Med. 2009;10(10):1158-60.
34. Vignatelli L, Bisulli F, Zaniboni A, et al. Interobserver reliability of ICSD-R minimal diagnostic criteria for the parasomnias. J Neurol. 2005;252(6):712-7.
35. Wing YK, Chiu H, Leung T, Ng J. Sleep paralysis in the elderly. J Sleep Res. 1999;8:151-5.
36. Fukuda, K., Miyasita, A., Inugami, M., Ishihara, K. High prevalence of isolated sleep paralysis: Kanashibari phenomenon in Japan. Sleep. 1987;10:279-86.
37. Fukuda K, Ogilvie R, Takeuchi T. The prevalence of sleep paralysis among Canadian and Japanese college students. Dreaming. 1998;8:59-66.
38. Liddon SC. Sleep paralysis and hypnagogic hallucinations. Their relationship to the nightmare. Arch Gen Psychiatr. 1967;17:88-96.
39. Powell RA, Nielsen TA. Was Anna O.s black snake hallucination a sleep paralysis nightmare? Dreams, memories, and trauma. Psychiatry. 1998;61: 239-41.
40. Kryger MH, Roth T, Dement WC, editors. Principles and practice of sleep medicine 3rd ed. Philadelphia: WB Saunders, 2000.
41. Rowland LP ed. Merritts Neurology. 11th ed. Lippincott Williams & Wilkins. 2005; XXI: 145.

710 CDK-197/ vol. 39 no. 9, th. 2012

CDK-197_vol39_no9_th2012 ok.indd 710 9/12/2012 5:18:23 PM