Anda di halaman 1dari 11

Suryaningsih, et.

al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

Hubungan antara Self-Disclosure dengan Stres pada


Remaja Siswa SMP Negeri 8 Surakarta

The Relationship between Self-Disclosure with Stress on


Adolescents in Students of SMP Negeri 8 Surakarta

Fajar Suryaningsih, Suci Murti Karini, Nugraha Arif Karyanta

Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran


Universitas Sebelas Maret

ABSTRAK
Remaja adalah fase perkembangan yang rentan terhadap stres. Stres pada remaja disebabkan
permasalahan dalam penyelesaian tugas-tugas perkembangan dengan pola kehidupan baru yang
kompleks sebagai seorang remaja. permasalahan yang timbul dalam keluarga, sekolah, dan
lingkungan sekitar juga menimbulkan stres pada remaja. ketika berada dalam situasi stres, remaja
membutukan keadiran orang lain. Kecenderungan remaja berada dalam kelompok sebaya
mendorong mereka melakukan self-disclosure untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaan
mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-disclosure dengan stres pada
remaja. subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Surakarta yang masi berusia remaja
(12-18 tahun). Teknik pengambilan sampel dengan cluster random sampling terhadap enam kelas
sehingga diperoleh tiga kelas sebagai sampel try-out dan tiga kelas sebagai sampel penelitian
yang berjumlah 84 siswa. Alat pengumpulan data menggunakan skala self-disclosure dan skala
stres. Indeks daya beda aitem skala stres adalah 0,265 0,649 dan reliabilitasnya 0,877. Indeks
daya beda aitem skala stres adalah 0,297-0,733 dan reliabilitasnya 0,894. Data yang diperoleh
dianalisis menggunakan teknik analisis korelasi product moment Pearson.
Hasil analisis diperoleh nilai koefisien korelasi antara variabel self-disclosure dengan stres pada
remaja (r) = 0,219 dan p = 0,045 (p<0,05), sehingga menunjukkan bahwa hipotesis dalam
penelitian ini ditolak. Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif antara self-disclosure dengan
stres pada remaja. angka koefisien korelasi menandakan hubungan antarvariabel memiliki tingkat
keeratan yang rendah.

Kata kunci: self-disclosure, stres, remaja

PENDAHULUAN tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku


selama masa remaja sejajar dengan tingkat
Masa remaja merupakan masa peralihan dari
perubahan fisiknya. Selama awal masa remaja,
kanak-kanak menuju dewasa. Memasuki masa
ketika perubahan fisik terjadi dengan cepat,
remaja berarti memasuki masa stress and
perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung
strain (Stanley Hall dalam Panuju, 2005).
pesat. Perubahan yang terjadi memberikan
Pada masa ini perubahan menjadi suatu hal
tantangan bagi remaja untuk mengatasinya
yang tidak bisa dihindari. Perubahan-perubahan
serta dapat menyesuaikan diri dengan
pada remaja berlangsung secara
lingkungan. Hurlock (1999) memberi batasan
berkesinambungan dan ditandai dengan adanya
masa remaja berdasarkan usia kronologis, yaitu
perubahan dalam aspek biologis, kognitif,
antara usia 12-18 tahun. Pada usia tersebut
psikologis, sosial serta moral dan spiritual
remaja pada umumnya masih berstatus sebagai
(Hurlock, 1999). Hurlock juga menjelaskan

300
Suryaningsih, et.al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

pelajar. Tekanan untuk berprestasi mulai menghadapi tuntutan dan harapan, serta
mempengaruhi banyak remaja yang sedang bahaya, yang tampaknya lebih kompleks
menempuh pendidikan. Sepanjang masa kanak- daripada yang dihadapi remaja generasi yang
kanak, orang tua dan guru memegang peranan lalu (Feldman & Elliot, dalam Santrock, 2003).
penting dalam menyelesaikan masalah yang
Stres adalah suatu keadaan ketika beban yang
dihadapi individu. Ketika beranjak remaja,
dirasakan seseorang tidak sebanding dengan
individu merasa harus dapat menyelesaikan
kemampuan mengatasi beban itu (Slamet dkk.,
masalahnya sendiri tanpa bantuan orang tua
2003). Stres bersifat individual dan dapat
maupun guru. Saat mengalami kesulitan
merusak apabila tidak ada keseimbangan antara
kebanyakan remaja enggan meminta bantuan
daya tahan mental individu dengan beban yang
orang yang lebih tua. Banyaknya tugas sekolah,
dirasakan. Lazarus dan Folkman (1984)
tugas rumah, dan kegiatan ekstrakurikuler
mengungkapkan bahwa stres sangat terkait
membuat remaja tak lagi dapat memiliki
antara manusia dengan lingkungannya. Stres
banyak waktu bermain. Berkurangnya waktu
yang dialami remaja menimbulkan tekanan yang
untuk dapat berekreasi seperti pada masa
membutuhkan penyaluran agar tidak terjadi
kanak-kanak menjadi tekanan tersendiri bagi
kegagalan dalam proses perkembangan remaja.
mereka. Remaja sekarang banyak yang merasa
Remaja akan mengalami kekecewaan,
kesepian, stres menghadapi pelajaran dan putus
ketidakpuasan, bahkan frustrasi, dan pada
asa karena persaingan yang terjadi di sekolah.
akhirnya akan mengganggu pertumbuhan dan
Selain itu, stres remaja dapat juga disebabkan
perkembangannya jika kebutuhannya tidak
karena tuntutan dari orang tua dan masyarakat
terpenuhi (Ali, 2004). Beberapa penelitian telah
(Nasution, 2007). Sebuah penelitian yang
menemukan bahwa stres yang dialami remaja
dilakukan oleh Walker (2002) di Amerika
dapat berdampak buruk bagi kehidupan remaja.
terhadap 60 orang remaja mengungkapkan
Penelitian yang dilakukan oleh Widyanti, dkk.
bahwa penyebab utama stres dan masalah yang
(2012) terhadap remaja berusia 12-15 tahun atau
ada pada remaja berasal dari hubungan dengan
yang sedang menempuh pendidikan SMP di
teman dan keluarga, tekanan serta harapan dari
Bogor menunjukkan bahwa 49% remaja yang
diri sendiri dan orang lain, tekanan di sekolah
stres mengalami gejala-gejala seperti gugup dan
oleh guru dan pekerjaan rumah, tekanan
hati berdebar, mudah menangis, sulit
ekonomi dan tragedi yang ada dalam kehidupan
berkonsentrasi, sulit tidur, kehilangan nafsu
mereka, misalnya kematian, perceraian orang
makan atau bahkan nafsu makan meningkat,
tua dan penyakit yang dideritanya atau anggota
pegal pada leher, punggung dan bahu, gatal
keluarga. Remaja masa kini tidak hanya
(eksim), sering buang air kecil, serta dingin dan
menghadapi perubahan dalam dirinya terkait
mudah berkeringat. Cohen, dkk. (dalam Pinel,
dengan perkembangannya, namun juga
2009) menemukan bahwa individu dengan

301
Suryaningsih, et.al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

tingkat stres yang tinggi lebih rentan terkena flu (self-disclosure) terbukti tidak mampu
dibandingkan yang memiliki tingkat stres menyesuaikan diri, kurang percaya diri, timbul
rendah. Dampak yang dihasilkan stres tidak perasaan takut, cemas, merasa rendah diri, dan
hanya berupa dampak terhadap fungsi fisik, tertutup. Johnson mengatakan bahwa ciri-ciri
namun ternyata juga berdampak terhadap fungsi self-disclosure tersebut dapat mempengaruhi
psikis individu. Memperhatikan dampak negatif kesehatan mental seseorang. Calhoun (dalam
yang dapat timbul akibat stres maka remaja Gainau, 2009) menyatakan bahwa salah satu
dituntut lebih kreatif dalam menyalurkan stres manfaat self-disclosure adalah melepaskan
yang dialaminya. perasaan bersalah dan kecemasan dalam diri
Salah satu penyaluran stres yang sering individu. Hal tersebut didukung oleh pendapat
digunakan oleh remaja adalah dengan Watchers (dalam Asmarasari, 2010) yang
mengungkapkan diri dan perasaannya kepada mengungkapkan bahwa tidak adanya dukungan
orang-orang terdekatnya. Self-disclosure adalah sosial, keterasingan tanpa memiliki seseorang
kegiatan membagi perasaan yang akrab dengan sebagai tempat bercerita bisa menjadi salah satu
orang lain (Taylor, 1997). De Vito (2001) faktor pendorong stres. Lazarus dan Folkman
menjelaskan bahwa pengungkapan diri adalah (1984), self-disclosure merupakan suatu bentuk
jenis komunikasi saat individu mengungkapkan Emotion Focus Coping (EFC), yaitu strategi
informasi tentang diri individu tersebut yang pemecahan masalah yang berfokus pada emosi,
biasanya disembunyikan. Hubungan dengan mengarahkan dan mengatur respon
keterbukaan ini akan memunculkan hubungan emosional terhadap situasi yang menekan.
timbal balik positif yang menghasilkan rasa Kecenderungan remaja untuk berkelompok
aman, adanya penerimaan diri, dan secara lebih memungkinkan mereka untuk dapat melakukan
mendalam dapat melihat diri sendiri serta pengungkapan diri ketika menghadapi stres.
mampu menyelesaikan berbagai masalah hidup Penelitian yang dilakukan oleh Fauziyah (2011)
(Asandi, 2010). Salah satu penelitian tentang terhadap siswa-siswi SMPN 1 Tulungagung
pengungkapan diri yang dilakukan oleh Johnson menunjukkan bahwa 50% siswi dan 43% siswa
(dalam Gainau 2009) menunjukkan bahwa memiliki tingkat self-disclosure tinggi.
individu yang mampu dalam melakukan self- Berdasarkan uraian di atas, dengan
disclosure akan dapat mengungkapkan diri memperhatikan bahwa fase perkembangan
secara tepat dan terbukti mampu menyesuaikan remaja sangat rentan terhadap stres dan dampak
diri (adaptive), lebih percaya diri sendiri, lebih negatif dari stres itu sendiri serta manfaat yang
kompeten, dapat diandalkan, lebih mampu dapat diperoleh ketika melakukan self-
bersikap positif, percaya terhadap orang lain, disclosure, maka penelitian ini disusun untuk
lebih objektif, dan terbuka. Sebaliknya individu dapat mengetahui hubungan antara self-
yang kurang mampu dalam keterbukaan diri disclosure dengan stres pada remaja.

302
Suryaningsih, et.al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

DASAR TEORI lingkungan, dan sosiokultural. Crider, dkk.


(1983) menyatakan aspek-aspek stres dalam
1. Stres
bentuk gangguan sebagai respon terhadap stres.
Stres merupakan suatu pengalaman emosional
Respon inilah yang berguna untuk dapat
negatif yang disertai dengan perubahan
mengukur tingkat stres individu. Gangguan-
biokimia, fisiologi, kognitif dan perilaku yang
gangguan tersebut meliputi gangguan
dapat diarahkan untuk mengurangi atau
emosional, gangguan kognitif, dan gangguan
menyesuaikan diri terhadap peristiwa yang
fisiologik.
memicu stres dengan cara mengubah kejadian
2. Self-Disclosure
stres ataupun mengakomodasikan efek dari stres
Sears (1997) menjelaskan bahwa self-disclosure
tersebut (Taylor, 1997). Halonen (1999)
adalah kegiatan membagikan perasaan secara
mendefinisikan stres sebagai respons individu
akrab kepada orang lain. Menurut Wheeles, dkk
terhadap keadaan atau peristiwa, yang disebut
(1986) self-disclosure adalah bagian dari
stressor, yang mengancam dan melebihi
referensi diri yang dikomunikasikan yang
kemampuan individu untuk mengatasinya.
diberikan individu secara lisan pada suatu
Sedangkan Sarafino (2008) mengemukakan
kelompok kecil. Johnson (dalam Supratiknya,
stres sebagai kondisi akibat dari interaksi
1995) mengemukakan bahwa keterbukaan diri
individu dengan lingkungan yang menimbulkan
adalah mengungkapkan reaksi atau tanggapan
ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan yang
terhadap situasi yang sedang dihadapi seseorang
bersumber pada sistem biologis, psikologis, dan
serta memberikan informasi tentang masa lalu
sosial individu. . Berdasarkan beberapa definisi
yang relevan atau yang berguna untuk
dari para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa
memahami tanggapan di masa kini tersebut.
stres merupakan respons individu dalam rangka
Derlega (dalam Schouten, 2007) menjelaskan
menyesuaikan diri dengan setiap peristiwa yang
bahwa self-disclosure adalah memberikan
menimbulkan tuntutan baik itu secara fisik
informasi pribadi mengenai diri. Dalam De Vito
maupun psikologis, yang bersumber dari sistem
(2001) pengungkapan diri biasanya dilakukan
biologis, psikologis, dan sosial dalam diri
untuk informasi-informasi yang biasanya
individu serta dapat berdampak terganggunya
disembunyikan. Self-disclosure merupakan
fungsi-fungsi kehidupan individu tersebut.
suatu bentuk komunikasi yang disengaja dan
Menurut Sarafino (2008), stres dapat bersumber memiliki efek ganda. Jourad (dalam Budyatna,
dari keadaan dalam diri individu (within the 2011) menjelaskan efek ganda ini sebagai efek
person), keluarga (family), serta komunitas dan diadik. Hal ini berarti selain membuka diri
masyarakat (community and society). Halonen kepada orang lain, juga harus membuka diri
(1999) mengemukakan beberapa faktor yang bagi orang lain supaya dapat terjalin reaksi yang
dapat mempengaruhi stres dalam diri individu baik dengannya. Morton (dalam Sears, 1997)
meliputi faktor biologis, kognitif, kepribadian,

303
Suryaningsih, et.al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

mengemukakan bahwa self-disclosure dapat Santrock, 2003) mengungkapkan masa remaja


bersifat deskriptif dan juga evaluatif. adalah masa yang diwarnai pergolakan. Tugas
Menurut Derlega, dkk. (dalam Sears, 1997) utama remaja adalah memecahkan krisis
terdapat lima fungsi keterbukaan diri, yaitu identitas dan kebingungan peran. Pemenuhan
fungsi ekspresi, penjernihan diri, keabsahan tugas tersebut pada remaja dapat menolongnya
sosial, kendali sosial, dan perkembangan menjalani peran dewasa tetapi ketidakberhasilan
hubungan. Wheeless (1986) mengemukakan remaja akan mengganggu tugas perkembangan
lima aspek self-disclosure yang meliputi aspek selanjutnya. Adapun tugas-tugas perkembangan
tujuan (intent to disclose), jumlah (amount of remaja menurut Hurlock (1999) adalah sebagai
disclosure), positif-negatif (positive-negative berikut:
nature of disclosure), kejujuran (honesty- a. Mampu menerima keadaan fisiknya,
accuracy of disclosure), kedalaman (control of b. Mampu menerima dan memahami peran
depth of disclosure). Sedangkan menurut Fisher seks usia dewasa,
(1986) aspek keterbukaan diri meliputi jumlah, c. Mampu membina hubungan baik dengan
valensi, dan keakraban. anggota kelompok yang berlainan jenis,
3. Remaja d. Mencapai kemandirian emosional,
Istilah remaja (adolesence) berasal dari bahasa e. Mencapai kemandirian ekonomi,
latin adolescere yang artinya tumbuh untuk f. Mengembangkan konsep dan ketrampilan
mencapai kematangan (Ali, 2004). Berdasarkan intelektual yang sangat diperlukan untuk
usia kronologisnya, masa remaja berlangsung melakukan peran sebagai anggota
antara usia 12-18 tahun (Hurlock, 1999). masyarakat,
Menurut Erickson (dalam Walgito, 2003), masa g. Memahami dan menginternalisasikan nilai-
remaja dibagi menjadi masa remaja awal pada nilai orang dewasa dan orang tua,
usia 12-15 tahun, dan masa remaja yang sejati h. Mengembangkan perilaku tanggung jawab
pada usia 16-18 tahun. Monks (1999) sosial yang diperlukan untuk memasuki
mendefinisikan remaja sebagai individu yang dunia dewasa,
berusia antara 12-21 tahun dengan pembagian i. Mempersiapkan diri untuk memasuki
12-15 tahun sebagai remaja awal, 15-18 tahun perkawinan,
sebagai remaja tengah dan 18-21 tahun sebagai j. Memahami dan mempersiapkan berbagai
remaja akhir. Sedangkan Gunarsa (1983) tanggung jawab kehidupan keluarga.
menggambarkan masa remaja sebagai masa Berdasarkan tugas-tugas perkembangannya,
peralihan antara masa kanak-kanak dan masa masa remaja dapat menjadi masa yang
dewasa yang berlangsung antara usia 12 sampai diarahkan untuk mempersiapkan diri secara
21 tahun. Perubahan menjadi hal yang utama produktif untuk menghadapi masa dewasa atau
selama masa remaja. Stanley Hall (dalam berhadapan dengan masalah dan kesulitan.

304
Suryaningsih, et.al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

Menurut Santrock (2003), terdapat beberapa yang digunakan terdiri atas skala stres dan skala
masalah serius yang sering dialami remaja yaitu self-disclosure.
kenakalan remaja, gangguan psikologis, dan 1. Skala stres
bunuh diri. Gunarsa (1983) juga Pengukuran stres dalam penelitian ini
mengungkapkan bahwa remaja mudah menggunakan Skala Stres yang disusun
diombang-ambingkan oleh munculnya beberapa oleh peneliti mengacu pada aspek-aspek
hal, diantaranya: stres yang diungkapkan oleh Crider, dkk.
a. Kekecewaan dan penderitaan, (1983) yang meliputi gangguan emosi,
b. Meningkatnya konflik, pertentangan- gangguan kognitif yang terdiri dari cara
pertentangan, dan krisis penyesuaian, berpikir, mental images, konsentrasi,
c. Impian dan khayalan, memori, serta gangguan fisiologis.
d. Pacaran dan percintaan, 2. Skala self-disclosure
e. Keterasingan dari kehidupan dewasa dan Pengukuran self-disclosure dalam
norma kebudayaan. penelitian ini menggunakan skala self-
Stres pada remaja merupakan suatu hal yang disclosure yang disusun oleh peneliti
pasti dialami tetapi dalam tingkatan yang dengan mengacu pada aspek-aspek yang
berbeda pada masing-masing remaja. Dampak dikemukakan oleh Wheeless (1986),
yang timbul akibat stres pada remaja dapat yaitu tujuan (intent to disclose), jumlah
meningkatkan perilaku negatif dan mengganggu (amount of disclosure), positif-negatif
perkembangan remaja menuju kepada (positive-negative nature of disclosure),
kedewasaan. kejujuran (honesty-accuracy of
disclosure), dan kedalaman (control of
depth of disclosure).
METODE PENELITIAN

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh HASIL- HASIL


siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Surakarta yang
1. Hasil uji asumsi
berjumlah 8 kelas dengan 227 siswa.
a. Hasil uji normalitas
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas Uji normalitas dilakukan untuk
VIII SMP Negeri 8 Surakarta yang diambil mengetahui apakah data dari setiap
dengan cluster random sampling. Subjek variabel penelitian terdistribusi normal
berjumlah 84 siswa dari tiga kelas yaitu VIII D, atau tidak. Berdasarkan uji normalitas
VIII F, dan VIII H. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik
pada bulan Juni 2013. Kolmogorov-Smirnov, hasil uji
normalitas pada variabel self-disclosure
Metode pengumpulan data menggunakan alat
menunjukkan nilai signifikansi sebesar
ukur psikologi dalam bentuk skala Likert. Skala

305
Suryaningsih, et.al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

0,265 (p>0,05) dan pada variabel stres pada remaja, ditolak. Meskipun terdapat
menunjukkan nilai signifikansi sebesar hubungan yang lemah antara self-disclosure
0,900 (p>0,05). Berdasarkan hasil dengan stres pada remaja, namun arah
perhitungan tersebut dapat disimpulkan hubungan tersebut tidak sesuai dengan
bahwa variabel self-disclosure dan stres hipotesis yang diajukan.
memiliki sebaran yang normal. 3. Peran self-disclosure terhadap stres
pada remaja
b. Hasil uji linearitas
Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien
Uji linearitas bertujuan untuk
determinasi sebesar 0,048. Angka tersebut
mengetahui apakah kedua variabel
mengandung pengertian bahwa dalam
mempunyai hubungan yang linear atau
penelitian ini, self-disclosure memberikan
tidak. Hasil uji linearitas hubungan
sumbangan sebesar 4,8% terhadap stres
antara self-disclosure dengan stres
pada remaja. Hal ini berarti masih terdapat
diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,042
95,2% faktor lain yang mempengaruhi stres
(p<0,05). Hubungan antardua variabel
pada remaja.
dikatakan linear apabila taraf
4. Hasil analisis tambahan
signifikansinya kurang dari 0,05
Berdasarkan hasil analisis deskriptif,
(Priyanto, 2008).
didapatkan hasil bahwa dari 84 subjek
2. Hasil uji hipotesis penelitian, 77 orang atau sekitar 91,67%
Berdasarkan pengujian hipotesis siswa memiliki tingkat self-disclosure
menggunakan teknik korelasi product sedang dan 7 orang atau sekitar 8,33%
moment Pearson diperoleh nilai koefisien siswa memiliki tingkat self-disclosure yang
korelasi (r) sebesar 0,219 yang rendah. Sedangkan 24 orang atau sekitar
menunjukkan, bahwa terdapat hubungan 28,57% siswa memiliki tingkat stres yang
positif antara self-disclosure dengan stres rendah, 58 orang atau 69,05% siswa
pada tingkat hubungan yang rendah. Taraf memiliki tingkat stres yang sedang, dan 2
signifikansi (p) yang diperoleh sebesar orang atau 2,48% siswa memiliki tingkat
0,045 (p < 0,05) berarti, bahwa hasil stres yang tinggi.
penelitian ini adalah signifikan (dapat Hasil uji t juga menunjukkan, bahwa
digeneralisasikan terhadap populasi terdapat perbedaan tingkat self-disclosure
penelitian). Hasil ini menunjukkan self- antara siswa laki-laki dan siswa perempuan.
disclosure dan stres pada remaja memiliki Hal ini berarti tingkat self-disclosure pada
hubungan positif (searah) sehingga siswa laki-laki berbeda dengan siswa
hipotesis dalam penelitian ini yang perempuan.
menyatakan bahwa terdapat hubungan
negatif antara self-disclosure dengan stres

306
Suryaningsih, et.al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

efficacy dan adult attachment. Seperti yang


PEMBAHASAN diungkapkan oleh Lazarus dan Folkman (dalam
Sarafino, 2008), stres dipengaruhi oleh dua
Hasil penelitian menunjukan, bahwa terdapat
faktor, yaitu faktor pribadi dan faktor situasi.
hubungan positif antara self-disclosure dengan
Kepribadian merupakan salah satu dari faktor
stres. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang
pribadi yang dapat mempengaruhi stres.
diajukan, yaitu terdapat hubungan negatif antara
Karakteristik pribadi yang berbeda akan
self-disclosure dengan stres pada remaja. Hasil
mempengaruhi stres pada masing-masing
tersebut dapat diartikan bahwa walaupun remaja
individu. Self-disclosure merupakan salah satu
memiliki tingkat self-disclosure yang tinggi,
karakteristik kepribadian yang dapat
namun mereka tidak terlepas dari stres.
mempengaruhi stres. Namun demikian, masih
Ditolaknya hipotesis dalam penelitian ini sangat
terdapat karakteristik lain yang juga
mungkin dipengaruhi oleh faktor lain yang
berpengaruh terhadap pengalaman stres
mempengaruhi stres diluar faktor self-
individu, seperti ketabahan (Halonen, 1999),
disclosure. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
kepribadian tipe A (Hawari, 2008), dan juga
Fauziyah (2011) membuktikan bahwa self-
tingkat self esteem (Hardjana, 1994). Selain itu
disclosure memiliki peran yang nyata dalam
juga terdapat faktor situasi yang dapat
menurunkan stres pada remaja. Hasil penelitian
mempengaruhi stres, diantaranya adalah
tersebut seharusnya bisa dijadikan acuan bahwa
tuntutan yang mendesak mengenai tugas atau
adanya self-disclosure akan mampu
pekerjaan. Arah hubungan antarvariabel yang
menurunkan tingkat stres pada remaja. Namun
tidak sesuai dengan hipotesis dalam penelitian
fakta dalam penelitian ini tidak menunjukkan
ini sangat mungkin dikarenakan penelitian ini
hasil yang sama. Self-disclosure yang dimiliki
hanya mengungkap aspek self-disclosure tanpa
seharusnya dapat menurunkan tingkat stres
melakukan evaluasi terhadap faktor-faktor lain
remaja ternyata tidak menunjukkan signifikansi
yang dapat mempengaruhi stres.
yang nyata.
Selain dari banyaknya faktor yang berpengaruh
Dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa
terhadap stres, ketidaksesuaian hasil dengan
sumbangan peran self-disclosure terhadap stres
hipotesis penelitian ini juga dapat dikarenakan
hanya sebesar 4,8%. Hal ini berarti masih
pelaksanaan penelitian itu sendiri. Waktu
terdapat 95,2% faktor lain yang mempengaruhi
dilaksanakan penelitian adalah beberapa hari
stres selain variabel self-disclosure. Menurut
sebelum diadakannya ujian kenaikan kelas oleh
hasil penelitian Wei, dkk (2005), self-disclosure
sekolah, sehingga pelaksanaannya bersamaan
terbukti dapat mengurangi rasa kesepian yang
dengan masa persiapan siswa menghadapi ujian.
mengakibatkan stres dan depresi. Penelitian
Taragar (2009) mengungkapkan bahwa saat
tersebut dilakukan dengan melakukan kontrol
mendekati ujian adalah saat penuh tekanan bagi
terhadap variabel lain, seperti faktor social self

307
Suryaningsih, et.al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

para siswa, tidak hanya berkaitan dengan


persaingan nilai, namun juga mengenai
PENUTUP
ketakutan untuk gagal, mendapat hukuman dari
orang tua dan teman. Oleh karena itu, ketika A. Kesimpulan
mempersiapkan ujian, siswa akan cenderung Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik
belajar lebih banyak dan lebih cemas dari kesimpulan sebagai berikut:
biasanya. Selain itu, pada masa persiapan ujian, 1. Hipotesis dalam penelitian ini yang
pihak sekolah juga mengadakan persiapan menyatakan bahwa terdapat hubungan
administrasi serta akademis untuk kelancaran negatif antara self-disclosure dengan stres
ujian, sehingga siswa mengalami banyak pada remaja, ditolak. Hasil penelitian
tuntutan yang juga dapat menimbulkan stres. menunjukkan, terdapat hubungan positif
Hal ini sejalan dengan pendapat Lazarus dan antara self-disclosure dengan stres pada
Folkman (dalam Sarafino, 2008) yang remaja siswa SMP Negeri 8 Surakarta (r =
mengungkapkan bahwa selain faktor pribadi, 0,219 dan p < 0,05).
tuntutan yang mendesak berkaitan dengan tugas 2. Sumbangan peran self-disclosure
dapat mempengaruhi stres. terhadap stres pada remaja dalam penelitian
Dalam penelitian ini juga dilakukan analisis ini adalah sebesar 4,8%. Hal ini berarti
tambahan untuk memperkaya hasil penelitian. masih terdapat 95,2% faktor lain yang
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, secara mempengaruhi stres pada remaja.
umum subjek memiliki tingkat self-disclosure 3. Siswa SMP Negeri 8 Surakarta secara
sedang dan tingkat stres sedang. Hasil analisis umum memiliki tingkat self-disclosure
juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sedang (91,67%) dan memiliki tingkat stres
tingkat self-disclosure pada siswa laki-laki dan sedang (69,05%).
perempuan. Derlega (dalam Schouten, 2007) 4. Berdasarkan hasil analisis tambahan,
mengemukakan bahwa perbedaan jenis kelamin terdapat perbedaan tingkat self-disclosure
menentukan tingkat self-disclosure. pada siswa laki-laki (mean= 86,31) dan
Cunningham (dalam Gainau, 2009) juga perempuan (mean= 93,52). Namun, tingkat
menyatakan bahwa jenis kelamin merupakan self-disclosure tidak berbeda pada siswa
salah satu faktor penting dalam self-disclosure. yang merupakan anak tunggal (mean=
Perempuan lebih sering terbuka dan lebih 89,50) dan siswa yang memiliki satu
emosional, sedangkan laki-laki lebih menahan saudara atau lebih (mean= 90,58).
diri. 5. Berdasarkan hasil analisis tambahan,
tidak terdapat perbedaan tingkat stres pada
siswa laki-laki (mean= 64,03) dan
perempuan (mean= 66,06). Tingkat stres
juga tidak berbeda pada siswa yang kedua

308
Suryaningsih, et.al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

orang tuanya masih hidup (mean= 65,00) Menciptakan suasana belajar yang nyaman
dengan siswa yang salah satu atau kedua dan kondusif, sehingga dapat
orang tuanya telah meninggal (mean= menghindarkan siswa dari kondisi stres di
65,20). lingkungan belajar mengajar. Untuk guru,
B. Saran terlebih guru bimbingan dan konseling,
1. Untuk remaja disarankan agar menciptakan suasana
Memperhatikan dan memilih cara-cara yang belajar yang nyaman dan penuh keterbukaan
tepat untuk dapat menurunkan tingkat stres antara guru dengan siswa. Hal tersebut dapat
yang dialami, misalnya dengan bercerita membantu para siswa dalam menghadapi
kepada orang tua atau guru untuk dapat tuntutan prestasi dan jadwal kegiatan di
menyelesaikan masalah, tidur dan istirahat sekolah yang padat, sebab tuntutan prestasi
yang cukup, pergi berlibur bersama teman, yang tinggi akibat sekolah di tempat yang
atau melakukan kegiatan lain yang sifatnya diunggulkan, akan memacu siswa terus
menyenangkan dan mengurangi ketegangan berkompetisi untuk menjadi yang terbaik
akibat stres. Kecenderungan remaja untuk dan menjadikan siswa rentan terhadap stres
melakukan self-disclosure akan lebih dan dampak negatifnya yang akan
bermanfaat apabila dilakukan pada waktu mengganggu aktivitas belajar di sekolah.
dan porsi yang tepat. 4. Untuk peneliti selanjutnya
2. Untuk orang tua Untuk peneliti selanjutnya yang berminat
Peranan lingkungan keluarga terhadap untuk mengadakan penelitian dengan topik
perkembangan anak remaja sangat penting, yang sama, disarankan untuk lebih
maka orang tua disarankan untuk dapat lebih mendetail lagi atau lebih memperhatikan
memahami perkembangan remaja karena faktor-faktor lain yang perlu dikontrol, yang
mereka membutuhkan arahan, bimbingan, mungkin mempengaruhi stres pada remaja,
serta pendampingan untuk dapat menjalani misalnya ketabahan, tipe kepribadian,
tugas perkembangan agar lebih optimal, tingkat self-esteem, dan tuntutan lingkungan.
sehingga dapat membantu mengurangi stres
yang dialami remaja.
DAFTAR PUSTAKA
Orang tua juga disarankan untuk lebih
memperhatikan gejala-gejala stres yang Ali, M. dan Asrori, M. 2008. Psikologi Remaja,
Perkembangan Peserta Didik. Jakarta; P.T.
dialami remaja dan melakukan antisipasi Bumi Aksara.
sejak awal, sehingga dapat mengurangi
Asandi, A.R., Rosyidi, H. 2010. Self Disclosure
dampak negatif yang timbul akibat stres pada Remaja Pengguna Facebook. Jurnal
Penelitian Psikologi. Vol. 01. No. 1.
pada remaja.
3. Untuk pihak sekolah Asmarasari, N. 2010. Hubungan Antara Dukungan
Sosial dengan Stres Menghadapi SNMPTN

309
Suryaningsih, et.al/ HUBUNGAN ANTARA SELF-DISCLOSURE DENGAN STRES

pada Lulusan SMU di Kabupaten Ciamis. Menghadapi Ujian Nasional pada Siswa
Jurnal Ilmiah. Yogyakarta: Universitas Islam SMA. Jurnal Ilmu Keluarga & Konseling,
Negeri Sunan Kalijaga. Vol. 3, No. 1, 2010.

Budyatna, M, Ganiem, L. M. 2011. Teori Sarafino, Edward P. 2008. Health Psychology :


Komunikasi Antar Pribadi. Jakarta: Kencana. Biopsychososial Interactions 6th Edition.
New York : John Wiley & Soni Inc.
Crider, A.B., Goesthals, G.R., Kavanough, R.D dan
Solomon, P.R.1983. Psychology. Illinois: Sott, Schouten, Alexander P. 2007. Adolescents online
Foresman & Company. Self-Disclosure and Self-Presentation.
Dissertation. Amsterdam : Print Partners
DeVito, J.A. 2001. The Interpersonal Ipskamp, Enschede.
Communication Book. USA: Addison Wesley
Longman. Slamet, S, Markam, S. 2003. Pengantar Psikologi
Klinis. Jakarta: UI Press.
Fisher, B. Aubrey. 1986. Teori-teori Komunikasi.
Bandung: Remaja Rosdakarya. Supratiknya, A. 1995. Komunikasi Antarpribadi:
Tinjauan Psikologis. Yogyakarta: Penerbit
Fauziyah, I. 2011. Hubungan Antara Keterbukaan Kanisius.
Diri terhadap Orang Tua dengan Tingkat Stres
Remaja di SMPN 01 Tulungagung. Skripsi Taylor, S. E. 2009. Health Psychology. Seventh
(tidak diterbitkan). Diakses pada 27 Maret Edition. New York: Mc. Graw Hill.
2013 dari http://lib.uin-
Malang.ac.id/thesis/07410027-imamillia- Walker, J. 2002. Teens in Distress Series Adolescent
fauziyah.pdf Stress and Depression.
http://www.extension.umn.edu/distribution/yo
Gainau, M. B. 2009. Keterbukaan Diri (Self uthdevelopment/DA3083.html
Disclosure) Siswa dalam Perspektif Budaya
dan Implikasinya bagi Konseling. Jurnal Wei, M., Russell, D., Zakalik, R. 2005. Adult
Ilmiah Widya Warta, Vol. 3 No. 1 2009. Attachment, Social Self-Efficacy, Self-
Disclosure, Loneliness, and Subsequent
Gunarsa, Singgih, D., Gunarsa, Y. 1983. Psikologi Depression for Freshman College Students: A
Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Longitudinal Study. Journal of Counseling
BPK Gunung Mulia. Psychology. Vol. 52.

Halonen, J. S, Santrock, J. W. 1999. Psychology Wheeless, L. R, Kathryn Nesser, & James


Contexts & Application. Third Edition. New C.Mccroskey. 1986. The Relationships of
York: Mc. Graw-Hill. Self-Disclosure and Disclosiveness To High
and Low Communication Apprehension.
Hurlock, E.B. 1999. Psikologi Perkembangan: Suatu Communication Research Reports/Volume 3,
Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. 1986. Diakses pada 7 Maret 2013 dari
Jakarta: Erlangga. http://www.jamescmccroskey.com/
Lazarus, R. S. & Folkman, S. 1984. Stress, publications/137.pdf
Appraisal, and Coping. New York : Springer
Publishing Company Widyanti, L., Hastuti, D., Alfiasari. 2012. Fungsi
Keluarga dan Gejala Stres Remaja dengan
Papalia, E.D. , Olds, S. W., Feldman, R. D. 2009. Latar Belakang Pendidikan Prasekolah
Human Development. New York: Mc. Graw- Berbeda. Jurnal Ilmu Keluarga dan
Hill. Konsumen. Vol. 5, No. 1 2012.

Pinel, J. P. 2009. Biopsikologi. Edisi ke7(Alih


bahasa: Helly Prajitno Soetjipto & Sri
Mulyantini Soetjipto). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Pranadji, D. K, Muharrifah, A. 2010. Interaksi


Antara Remaja, Ayah, dan Sekolah serta
Hubungannya dengan Tingkat Stres dalam

310