Anda di halaman 1dari 22
PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

KEWENANGAN SYAHBANDAR SELAKU KOMITE KEAMANAN PELABUHAN

(PORT SECURITY COMMITTEE) BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17

TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN

Pristika Handayani Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan pristika@fh.unrika.ac.id

ABSTRAK

Syahbandar memiliki kewenangan luas selaku komite keamanan pelabuhan (Port Security Committee).Oleh sebab itu, semua keamanan pelayaran berada dipundak Komite keamanan pelabuhan karena merupakan bagian dan atau perpanjangan tangan Syahbandar.Laik dan tidak laik kapal berlayar menjadi tanggungjawab PSC, yang pengesahannya disetujui Syahbandar.Kelayakan kapal akan dicek atau diteliti oleh syahbandar baik berlabuh dan berlayar. Hambatan syahbabndar tak luput dari hambatan seperti floating repair karena tidak menerima laporan dari agen maupun perusahaan kapal, yang muaranya kerugian Negara. Surat Persetujuan Berlayar ( SPB ) tidak diterbitkan apabila ada agen kapal yang tidak melaporkan keberadaan kapalnya ketika berlabuh, atau terlambat melapor yang berindikasi untuk mengurangi durasi sandar, yang berarti mengurangi pendapatan Negara.

Kata Kunci : Kewenangan Syahbandar, floating repair

A. PENDAHULUAN

Indonesia

sebagai

Negara

Kepulauan

(archipelago

state)

membutuhkan

sarana

transportasi laut untuk menghubungkan dari satu pulau ke pulau lainnya.Ada beberapa pulau

besar seperti Pulau Jawa, Sumatera, Kalimanata dan Papua.Jarak satu pulau besar ke pulau

besar lainnya memerlukan transportasi terutama jalur laut dan udara.

Luas wilayahIndonesia

1,904,569 km 2

dengan jumlah penduduk 253.609.643 jiwa

(data Juli

2014) dengan garis pantai sepanjang 54.716 km merupakan Negara kepulauan

terbesar

di

dunia. 1 Untuk

mewujudkan

terselenggaranya

angkutan

laut

itu

diperlukan

keamanan

di

pelabuhan-pelabuhan

yang

diatur

dalam

peraturan

perundang-

1 Diambil pada tanggal 18 Januari 2016 dari : http://ilmupengetahuanumum.com

189

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 undangan.Tujuannya tak lain agar kegiatan di pelabuhan menjadi tertib,

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

undangan.Tujuannya tak lain agar kegiatan di pelabuhan menjadi tertib, aman dan lancar, dan

tentu saja dalam hal kepelabuhanan peran dan wewenangnya sangat diperlukan. Oleh sebab

itu, pemerintah mengaturnya melalui Undang-Undang Nomor

17Tahun 2008 Tentang

Pelayaran.Di Pasal 1 ayat (26) 2 disebutkan tentangOtoritas Pelabuhan (Port Authority) adalah

lembagapemerintah di pelabuhan sebagai otoritas yangmelaksanakan fungsi pengaturan,

pengendalian, danpengawasan kegiatan kepelabuhanan yang diusahakansecara komersial.

Pasal 212 menyebutkan menyangkut keselamatandi ;

ayat(1) Dalam melaksanakan keamanan dan ketertiban dipelabuhan sesuai dengan

ketentuan

konvensiinternasional,

Syahbandar

bertindak

selaku

komitekeamanan pelabuhan (Port Security Commitee).

ayat (2)Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud padaayat (1) Syahbandar

dapat

meminta

bantuan

kepadaKepolisian

Tentara NasionalIndonesia.

Republik

Indonesia

dan/atau

ayat(3) Bantuan keamanan dan ketertiban di pelabuhansebagaimana dimaksud pada

ayat (1) di bawah koordinasidalam kewenangan Syahbandar.

ayat(4)Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaankeamanan dan ketertiban

serta permintaan bantuan dipelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

danayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Berkaitan dengan kemanan di pelabuhan (port security) maka di bentuk Komite

Pengawasan

Keselamatan

(Port

Security

Committee)di

tiap

pelabuhan

yang

ada

di

Indonesia.Yang komite tersebut dibentuk oleh Kepala Syahbandar sesuai ruang lingkup

wewenangnya. Oleh sebab itu, apa saja yang menjadi tanggung jawab komite ditetapkan oleh

Syahbandar.

2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran

190

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 Di pelabuhan Tanjung Priok misalnya, akan berbeda dengan pelabuhan

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

Di pelabuhan Tanjung Priok misalnya, akan berbeda dengan pelabuhan yang aktifitas

lebih rendah, karena Tanjung Priok merupakan pelabuhan utama di Indonesia, sehingga

waktu tunggu ( dwelling tim) sangat menentukan. Di sini komite pengawan pelabuhan sangat

berperan terutama menyangkut keselamatan dan kecepatan pelayanan.Jika suasana pelabuhan

semrawut, dan rentan kecelakaan, maka dipastikan dwelling time lama, dan ini merugikan

pihak pengguna jasa kepelabuhanan.Total, kapasitas terminal kontainer Pelabuhan Tanjung

Priok ditargetkan mencapai 11,5 juta TEUS 3 per tahun setelah pembangunan Terminal

Kalibaru selesai seluruhnya.

Pelabuhan kontainer di Batu Ampar, Batam tidak sibuk seperti di Tanjung Priok

karena meski kategori pelabuhan besar untuk angkutan container domestik tapi daya dukung

pelabuhan ini masih kurang. Tahun 2010

secara umum kegiatan volume bongkar muat

dengan jumlah kontainer domestik sebanyak 6.311 TEU’s pertahun, sehingga pada tahun

2014 menjadi 28.734 Teus’s per tahun. 4

Di era globalisasi,

dunia perdagangan seperti saat ini, pelabuhan laut merupakan

entry point bagi kapal berskala besar untuk labuh jangkar melakukan bongkar muat barang

dari dan ke negaratertentu sesuai dengan aktifitas perdagangan internasional, karena moda

transportasi laut dianggap masih menguntungkan dibanding dengan menggunakan pesawat

udara.

Sama halnya pelabuhan laut di Indonesia, sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda,

kegiatan moda trasnportasi laut terlah berlangsung, karena kala itu hasil rempah-renpah dari

Indonesia dibawa ke Negara Eropa menggunakan moda transportasi laut ini. Sejak itu pula

Pemerintah Belanda mengatur kegiatan di pelabuhan laut agar pengiriman barang cepat,

3 Dimbail pada tanggal 18 Januari 2017 dari : https://m.tempo.co 4 Diambil pada tanggal 18 Januari 2017 dari : http://humasotoritabatam.blogspot.co.id

191

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 lancara dan aman ke tempat tujuan.Lalu lintas arus barang

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

lancara dan aman ke tempat tujuan.Lalu lintas arus barang dicermati dari dokumen-dokumen,

kemudian dokumen itu menjadi rujukan yang muaranya adalah finansial.

Keselamatan dan kemanan berlayar, tempat perpindahan intra atau antarmoda serta

mendorong perekonomian nasional dan daerah dengan tetap memperhatikan tata ruang

wilayah.Pengaturan tentang hal tersebut diatur dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008

tentang Pelayaran, yang kaitannya dengan

kegiatan pelayaran yang terdiri atas angkutan di

perairan, kepelabuhan, keselamatan dan keamanan pelayaran, serta perlindungan lingkungan

maritim. Tujuannya adalah kegiatan kepelabuhanan terwujud dengan system transportasi

yang efektif dan effisien, serat mengimolementasikan yang termaktub dalam Pancasila

sebagai Ideologi Negara dan UUD 1945.

Peraturan perundang-undangan merupakan hokum positif yang sangat penting untuk

mengatur segala kegiatan di pelabuhan dan pelayaran. Hukum itu berfungsi mengatur,

menertibkan manusia sebagai objek hukum di dalam pergaulan sehar-hari, serta mampu

menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan social masyarakat. Secara

sistematis, fungsi hukum dalam perkembangan masyarakat.Lawrance M. Friedman (1987)

mengatakan bahwa fungsi hukum adalah sebagai berikut:

a.Pengawasan atau pengendalian sosial (Social Control)

b.Penyelesaian sengketa (Dispute settlement)

c.Rekayasa sosial (social engineering)

Theo Huijbers (2009) mengatakan, fungsi hukum memelihara kepentingan umum dalam

masyarakat, menjaga hak-hak manusia, mewujudkan keadilan dalam hidup bersama, dan

sebagai

sarana

rekayasa

sosial

(social

engineering).

Selain

itu,

Satjipto

Raharjo

mengemukakan bahwa, hukum tidak hanya digunanakan untuk mengukuhkan pola-pola

kebiasaan dan tingkah laku yang terdapat dalam masyarakat, tetapi juga untuk mengarahkan

192

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 pada tujuan yang dikehendaki, menghapuskan kebiasaan yang dipandang tidak

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

pada tujuan yang dikehendaki, menghapuskan kebiasaan yang dipandang tidak sesuai lagi,

dan menciptakan pola-pola kelakuan baru. Dengan demikian, hukum dijadikan sebagai

sumber.

Pelabuhan adalah sebuah fasilitas tempat berlabuhnya kapalbaik kapal kargo, tanker

dan lain-lain, termasuk kapal antar pulau di Indonesia.Oleh sebab itu, dalam mengelola

pelabuhan diperlukan kejelian dalam membangun pelabuhan baik dari perspektif ekonomi

maupun social masyarakat. Unsur-unsur didalam pelabuhan itu harus sanggup memberikan

pelayanan jasa kepelabuhan yang handal dan memuaskan bagi para pengguna jasa pelabuhan

dengan cara menata lingkungannya secara professional. Disinilah peran syahbandar dan

Komite Pengawasan dan Keselamatan dalam menjaga pelabuhan tetap kondusif.

Seorang Syahbandar memiliki tanggunga jawab berat karena menghadapi beragam

pengguna jasa kepelabuhanan.Sehingga perlu sosok tegas, sehingga mampu meminimalisir

terjadinya kecelakaan di laut dan atau kapal yang

Tugas seorang Syahbandar

termaktub dalam Undang- Undang

Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, serta PP

Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan.

Provinsi Kepulauan Riau dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun

2002 Tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.

Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

selanjutnya disingkat Kepri terdiri atas

5 (lima) kabupaten yakni

kabupaten Karimun,

Lingga, Natuna, Anambas, dan Bintan , serta dua kota yakni Kota batam dan Tanjungpinang,

dan merupakan provinsi ke-32 di Indonesia, sedangkan Batam sebagai kota industrimaju dan

dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor

74 Tahun 1971

Tentang Pengembangan

Pembangunan Pulau Batam 5 , kemudian Keputusan Presiden No. 41 Tahun 1973 Tentang

5 Diambil pada Tanggal 18 Januari 2016 dari : http://www.bpbatam.go.id

193

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 Daerah Industri Pulau Batam 6 , dan Keputusan Presiden

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

Daerah Industri Pulau Batam 6 , dan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1974 Tentang

Penunukan dan Penetapan beberapa wilayah Usaha Bonded Warehouse di Daerah Pulau

Batam. 7

Kehadiran Syahbandar di Batam sangat tepat karena terkait dengan industry di daerah

ini, yang produk barang dihasilkan industry baik dari dan ke Batam. Tugas dan wewenang

syahbandar berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, yakni melaksanakan

fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran yang mencakup, pelaksanaan, pengawasan dan

penegakan

hukum

di

bidang

angkutan

di

perairan,

kepelabuhanan,

dan

perlindungan

lingkungan maritim di pelabuhan. Dalam melaksanakan fungsi keselamatan dan keamanan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 207 ayat (1) Syahbandar mempunyai tugas:

a. mengawasi kelaiklautan kapal, keselamatan, keamanan dan ketertiban di pelabuhan

b. mengawasi tertib lalu lintas kapal di perairan pelabuhan dan alur pelayaran

c. mengawasi kegiatan alih muat di perairan pelabuhan

d. mengawasi kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air

e. mengawasi kegiatan penundaan kapal

f.mengawasi pemanduan

g. mengawasi bongkar muat barang berbahaya serta limbah bahan berbahaya dan

beracun

h. mengawasi pengisian bahan bakar

i.mengawasi ketertiban embarkasi dan debarkasi penumpang

j.mengawasi pengerukan dan rekamasi

k.mengawasi kegiatan pembangunan fasilitas pelabuhan

l.melaksanakan bantuan pencarian dan penyelamatan

6 Diambil pada Tanggal 18 Januari 2016 dari : http://www.bpbatam.go.id 7 Diambil pada Tanggal 18 Januari 2016 dari : http://www.bpbatam.go.id

194

m.memimpin penanggulangan pencemaran dan n.pemadaman kebakaran di pelabuhan dan PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

m.memimpin penanggulangan pencemaran dan

n.pemadaman kebakaran di pelabuhan dan

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

o.mengawasi pelaksanaan perlindungan lingkungan maritim.

Keselamatan dan keamanan pelayaran tidak terlepas dari terpenuhinya persyaratan

kelaiklautan kapal di pelabuhan pemberangkatan.Pejabat yang berwenang penuh untuk

menjalankan

dan

melakukan

pengawasan

terhadap

terpenuhinya

ketentuan

peraturan

perundang-undangan untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran adalah

Syahbandar di pelabuhan.

Dijelaskan Pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2008 BAB XII

Pasal 211 adalah "Syahbandar memiliki kewenangan tertinggi melaksanakan koordinasi

kegiatan kepabeanan, keimigrasian, kekarantinaan, dan kegiatan institusi pemerintah lainnya

(POLRI DAN TNI)".

Pasal 212 menjelaskan bahwa:

Dalam melaksanakan keamanan dan ketertiban di pelabuhan sesuai dengan ketentuan

konvevsi Internasional, Syahbandar bertindak selaku Komite Keamanan Pelabuhan (Port

Security Committee).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana

kewenangan

syahbandar

selaku

komite

keamanan

pelabuhan

(port

securitycommitee)

berdasarkan

Undang-Undang

Nomor

17

Tahun

2008

tentang

pelayaran?

2. Bagaimana

hambatan-hambatan

terhadap

kewenangan

syahbandar

selaku

komite

keamanan pelabuhan (port security commitee)?

C. PEMBAHASAN

1. Pengertian Komite

195

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)Kamus versi online/daring (dalam

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)Kamus versi online/daring (dalam

jaringan), “ Komite bermakna

“sejumlah orang yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas

tertentu (terutama dalam hubungan dengan pemerintahan.” 8 . Di pelabuhan,

komite ini

ditunjuk agar para petugas di pelabuhan mempunyai tanggungjawab dalam melaksanakan

tugasnya menyangkut kepelabuhanan.

Tugas dan wewenang komite keamanan pelabuhan (port security commitee) tertuang

dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran.Ada beberapa tugas

Komite Keselamatan pelayaran yang wajib dilaksanakan yang antara lain :

a. Kegiatan Bidang Keselamatan

1. Pengadaan,

penambahan

dan

perbaikan alat

pemadam

ringan,

dengan

kegiatan

dimulai dari pendataan dan evaluasi tersedianya data alat pemadam ringan;

2. Pengadaan, penambahan dan perbaikan alat pelindung diri (APD), melalui kegiatan

tersusunnya ceklist pendataan tersedianya data APD;

3. Melengkapi dan memasang rambu-rambu keselamatan, melalui survey, pendataan dan

rekomendasi.

Kegiatan Bidang Kesehatan

1. Peningkatan upaya pencegahan kecelakaan, melalui kegiatan sosialisasi keselamatan

kerja, penyusunan SOP pelaksanaan tugas penggunaan APD dan penilaian hazard di

tempat kerja;

2. Peningkatan upaya penanggulangan kecelakaan, melaui kegiatan penyusunan SOP

penanganan tanggap darurat, mengadakan emergency kit di tempat-tempat yang

potensial terjadi kecelakaan, peningkatan SDM melalui pelatihan PPPK, penyusunan

kontigensi plan kejadian gawat darurat.

8 http://kbbi.web.id/komite

196

b. Kegiatan Bidang Lingkungan PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 1. Penghijauan, melaui kegiatan penanaman

b. Kegiatan Bidang Lingkungan

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

1. Penghijauan, melaui kegiatan penanaman pohon untuk ruang terbuka hijau yang

masih kurang;

2. Penanganan

sampah,

melalui

kegiatan

penambahan

jumlah

tempat

sampah,

pengangkutan sampah secara rutin lebih diintensifkan maksimal 3x24 jam, dan

dilakukan pembersihan sampah di area kolam pelabuhan;

3. Kebersihan darat, melalui kegiatan kebersihan lingkungan dan kebersihan di kantor

masing-masing dengan mensosialisasikan agar sampah yang dibuang sebelumnya

diikat agar pada saat pengangkutan tidak tercecer.

4. Pencemaran, melalui kegiatan pemeriksaan uji emisi gas buang, uji emisi bergerak

(kendaraan

bermoto),

pemantauan

pencemaran

udara

(indoor

dan

outdoor),

pemantauan kebisingan suara di lingkungan kantor, pemantauan pencemaran limbah

domestic, pemantauan pencemaran air (badan air) dan sedimen dan pemantauan air

minum / bersih secara rutin.

2. Pengertian Pelabuhan

Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk

menerima

kapal

dan

memindahkan

barang

kargo

maupun

penumpang

ke

dalamnya.Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk memuat dan

membongkar

muatan

kapal-kapal

yang

berlabuh.Crane

dan

gudang berpendingin

juga

disediakan oleh pihak pengelola maupun pihak swasta yang berkepentingan.Sering pula

disekitarnya

dibangun

fasilitas

penunjang

seperti

pengalengan

dan

pemrosesan

barang.Peraturan Pemerintah RI No.69 Tahun 2001 mengatur tentang pelabuhan dan fungsi

serta penyelengaraannya.

197

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 Pelabuhan juga dapat di definisikan sebagai daerah perairan yang

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

Pelabuhan juga dapat di definisikan sebagai daerah perairan yang terlindung dari

gelombang laut dan di lengkapi dengan fasilitas terminal meliputi:

a. dermaga, tempat di mana kapal dapat bertambat untuk bongkar muat barang.

b. crane, untuk melaksanakan kegiatan bongkar muat barang.

c. gudang laut (transito), tempat untuk menyimpan muatan dari kapal atau yang akan di

pindah ke kapal.

Pelabuhan juga merupakan suatu pintu gerbang untuk masuk ke suatu daerah tertentu dan

sebagai prasarana penghubung antar daerah, antar pulau, bahkan antar negara. Di era

globalisasi dunia perdagangan, pelabuhan laut merupakan entry point berpengaruh terhadap

lalu lintas barang, karena pelabuhan merupakan tempat titik singgung atau titik temu

(interface) antar dua moda transportasi di daratan, dan di laut, sebab penggusa jasa angkutan

laut,

menggunakan

moda

transportasi

darat

terlebih

dahulu.

Kapal

laut

sebagai

alat

pengangkutnya, dan pelabuhan sebagai tempat penyanggahnya.Oleh sebab itu, pelabuhan laut

harus dilengkapi dengan sarana dan prasana seperti pergudangan, ruang tunggu, konter

penjualan tiket, restoran, kamar mandi dan toilet sebagai sarana pelayanan penumpang

sebelum melanjutkan perjalanan.

. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 yang merupakan penyempurnaan Undang-

undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Pelayaran. Begitu pula dengan peraturan pemerintah

Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2009, yang merupakan Pengganti PP Nomor 69 Tahun

2001 tentang Kepelabuhan, guna melaksanakan ketentuan BAB VII Pasal 67 Undang-

Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yaitu bahwa Tatanan kepelabuhan nasional

diwujudkan dalam rangka penyelenggaraan pelabuhan yang andal dan berkemampuan tinggi,

menjamin efisiensi dan mempunyai daya saing global untuk menunjang pembangunan

nasional dan daerah yang berwawasan Nusantara.

198

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 Mekanisme pelayanan jasa kepelabuhan dewasa ini dalam rangka mengantisipasi

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

Mekanisme pelayanan jasa kepelabuhan dewasa ini dalam rangka mengantisipasi

perkembangan dunia perdagangan internasional, apalagi Indonesia telah menandatangani

perjanjian

tentang

lalu

lintas

barang

berkaitan

dengan

Masyarakat

Ekonomi

ASEAN

(Economic Asean Community) yang terdiri atas 10 ( sepuluh ) Negara Asean yakni

Indonesia, Singapura, Malaysia, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Laos, Thailand, Philipina,

Brunei Darussalam.

3. Sejarah Pelabuhan di Indonesia

Sejarah bangsa Indonesia, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa ke tanah air.

Kerajaan Sriwijaya dikenal dan disebut sebagai Negara Maritim terkuat dan terbesar di

Nusantara merupakan pusat perniagaan dan penyebaran Agama Budha, sehingga dijadikan

titik sentral pertemuan antara kerajaan, meliputi wilayah Malaka, Thailand, dan Negeri Cina,

yang menghubungkan antara Laut Cina Selatan/Malaka dan Lautan Hindia, dimana Kerajaan

Sriwijaya telah memiliki beberapa Bandar atau Kota Pelabuhan yang berpusat di Palembang.

Di Pulau Jawa kerajaan Majapahit membuka pelabuhan-pelabuhan pantai serta

memiliki

armada

dimpimpin oleh

laut

yang

tangguh

yang

mampu

menyatukan

Nusantara

(Indonesia)

Maha Patih Gajahmada,

yang dikenal dengan sumpah Palapa. Pelabuhan

masa itu disebut kota Bandar.Geografis Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau menjadi

perhatian para kerajaan waktu itu untuk perniagaan.

Aktifitas perniagaan kala itu menggunakan moda transportasi laut sebelum datang

VOC dari Belanda. VOC yang berniat sekadar berdagang, kemudian menguasai dan menjajah

Indonesia selama 350 tahun dengan system devide et impera, adu domba antar kerajaan di

Indonesia. Tentu peraturan perundang-undangan berkiblat kepada Belanda yang hingga kini

Indonesia menganut system hukum Eropa Kontinental.

199

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 Jadi pengelolaan/penyelenggaraan pelabuhan di Indonesia terbagi kedalam beberapa periode

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

Jadi pengelolaan/penyelenggaraan pelabuhan di Indonesia terbagi kedalam beberapa

periode sejak pemerintahan Belanda.Dimulai pada tahun 1877 pelabuhan di Indonesia

digunakan untuk kegiatan pelayaran dan perdagangan, yang diatur dan ditetapkan oleh

pemerintahan

Hindia

Belanda

dengan

pengertian

sebagai

Commercial

Port

yang

dilaksanakan

oleh

Haven

Directie,

(Indische

Bedrijven

Wet/

IBW

Stb.1924

No.419).

Sedangkan menurut Indische ScheepvaartswetStbl.1936 No.700,pelabuhan di Indonesia dan

diatur dibagi dua kategori pelabuhan yakni:

1) Pelabuhan laut, yaitu pelabuhan yang terbuka untuk perdagangan luar negeri yang

dapat disinggahi dan berlabuhnya kapal-kapal Negara lainnya.

2) Pelabuhan pantai, yaitu pelabuhan yang tidak terbuka bagi perdagangan luar negeri

dan hanya kapal-kapal Indonesia diijinkan berlabuh.

4. Periode Pendudukan Jepang

Pendudukan tentara Jepang sampai dengan kemerdekaan Bangsa Indonesia hingga

sekarang ini.Tentara Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942 dengan kekuatan armada

lautnya, merebut kekuasaan dari pemerintahan kolonial Belanda, maka sejak itu seluruh

pelabuhan di Indonesia dijadikan tempat pertempuran. Perlengkapan dan instalasi pelabuhan

dihancurkan, alur-alur perairan Bandar ditutup, kapal-kapal ditenggelamkan agar musuh tidak

cepat merapat

Dalam

kurun waktu tiga setengah tahun, pelabuhan-pelabuhan diseluruh

Indonesia ditutup untuk perniagaan/perdagangan baik nasional maupun internasional.

5. Pelabuhan Laut Pada Masa Kemerdekaan R.I.

Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.Pemerintah

Indonesia mengambil alih semua pelabuhan yang sebelumnya dikuasai Jepang.Pemvbenahan

pelabuhan dilakukan Pemerintah Indonesia 21 Agustus 1945, dan dibentuk

Djawatan

Oeroesan Laoet Seloeroeh Indonesia (DJOSLI) yang merupakan cikal pengelola pelabuhan di

200

seluruh Indonesia. Tahun 1950-1964 pelabuhan di Indonesia PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 ditetapkan lagi

seluruh Indonesia.

Tahun 1950-1964 pelabuhan di Indonesia

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

ditetapkan lagi sebagai

Commersial Port, yang pengelolaanya dipercayakan kepada Komandan Penguasa Pelabuhan

yang kemudian berubah menjadi Perusahaan Negara Pelabuhan berdasarkan Undang-undang

No.9 Tahun 1960. Aspek komersil dari pengelolaan pelabuhan masih pegang oleh PN.

Pelabuhan,namun kegiatan operasional pelabuhan dikoordinir oleh lembaga Pemerintah yang

disebut Port Authority, berdasarkan Peraturan Pemerintah

Nomor 18 Tahun 1964.Pada

periode 1969-1983 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1969 PN.Pelabuhan

(selaku fungsi usaha) diciutkan menjadi satu institusi yakni

Badan Pengusahaan Pelabuhan

(BPP)dipimpin oleh seorang Administratur Pelabuhan (ADPEL) dan pada tahun 1983-1992

berdasarkan Peraturan Pemerintah No.11 tahun 1983 pengelolaan pelabuhan dibedakan

menjadi dua bagian yaitu:

a. Pelabuhan umum yang diusahakan dilakukan oleh Perusahaan Umum Pelabuhan

(PERUM)

b. Pelabuhan Umum yang tidak diusahakan dilakukan oleh Unit Teknis Direktorat

Jenderal Perhubungan Laut

Tahun 1992 sampai saat ini, pengelolaan pelabuhan berdasarkan peraturan pemerintah

No.56, 57, 58 dan 59 tahun 1991 tentang Pengalihan Perusahaan Umum Pelabuhan menjadi

Persero Pelabuhan dengan dibentuknya PT. (Perseroan Terbatas) Pelabuhan Indonesia I, II,

III dan IV yang berkedudukan di kantor pusat yaitu: Jakarta, Medan, Surabaya dan Makasar.

Pelabuhan-pelabuhan

di

Indonesia

masuk

kategori

berbenah yaitu melalui beberapa tahap:

pusat

perniagaan,

dan

terus

a. Generasi pertama, merupakan pelabuhan tradisional yang tidak menggunakan alat-alat

mekanis atau seluruh kegiatannya dilaksanakan oleh tenaga manusia

201

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 b. Generasi kedua, pelabuhan yang menyelenggarakan kegiatannya telah menggunakan

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

b. Generasi kedua, pelabuhan yang menyelenggarakan kegiatannya telah menggunakan

alat-alat mekanis yang disesuaikan dengan perkembangan kapal/generasi kapal.

c. Generasi ketiga, yaitu dimana pelabuhan dengan dedicated bert, yang juga disesuaikan

dengan jenis operasionalnya (dermaga liguid cargo, bulk cargo, general cargo atau peti

kemas (container)

d. Generasi keempat, pelabuhan dengan menggunakan Teknologi Informasi EDI

6. Pengertian Syahbandar

Syahbandar adalah pejabat pemerintah di pelabuhan yang diangkat oleh Menteri dan

memiliki

kewenangan

tertinggi

untuk

menjalankan

dan

melakukan

dipenuhinya

ketentuntuan-ketentuan

peraturan

perundang-undangan

pengawasan

dan

untuk

menjamin

keselamatan dan keamanan pelayaran.Syahbandar melaksanakan fungsi keselamatan dan

keamanan pelayaran yang mencakup, pelaksanaan, pengawasan dan penegakan hukum di

bidang angkutan di perairan, kepelabuhan dan perlindungan lingkungan maritim.

Syahbandar bertanggungjawab atas kapal yang hendak meninggalkan pelabuhan layak

untuk berangkat atau tidak layak.Kelayakan lautan berkaitan dengan keselamatan penumpang

dan barang selama perjalanan.Perlengkapan kapal mulai dari dokumen kapal hingga ke

navigasian, konstruksi bangunan, mesin, penerangan selama perjalanan, radio dan alat

kelengkapan lainnya wajib diketahui dan diperiksa oleh syahbandar.

Syahbandar membantu untuk melaksanakan pencarian dan penyelamatan (search and

rescue /SAR) di pelabuhan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang

berlaku.

Tugas-tugas syahbandar adalah sebagai berikut:

1. Mengawasi kelaiklautan kapal, keselamatan, keamanan dan ketertiban di pelabuhan

202

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 2. Mengawasi tertib lalu lintas kapal di perairan pelabuhan

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

2. Mengawasi tertib lalu lintas kapal di perairan pelabuhan dan alur pelayaran

3. Mengawasi kegiatan alih muat di perairan pelabuhan

4. Mengawasi kegiatan salvage dan pekerjaan bawah air

5. Mengawasi kegiatan penundaan kapal.

6. Mengawasi pemanduan

7. Mengawasi bongkar muat barang berbahaya serta limbah bahann berbahaya dan

beracun.

8. Mengawasi pengisian bahan bakar

9. Mengawasi ketertiban embarkasi dan debarkasi penumpang

10.Mengawasi pengerukan dan reklamasi

11.Mengawasi kegiatan pembangunan fasilitas pelabuhan

12.Melaksanakan bantuan pencarian dan penyelamatan

13.Memimpin penanggulangan pencemaran dan pemadaman kebakaran di pelabuhan,

dan

14.Mengawasi pelaksanaan perlindungan lingkungan maritim.

Dalam melaksanakan penegakan hukum di bidang keselamatan dan keamanan,

syahbandar melaksanakan tugas sebagai pejabat penyidik pegawai negeri sipil sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kewajiban syahbandar untuk melakukan pemeriksaan adalah sebagai berikut:

1.Terhadap terjadinya kecelakaan kapal yag dilaporkan oleh nakhoda

2.Keraguan pemilik kapal tentang kecelakaan nakhoda

3.Keraguan nakhoda kapal tentang kecakapan perwira kapal

Beberapa pemeriksaan yang dilakukan oleh syahbandar adalah:

203

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 1. Semua kapal niaga Indonesia yang berlayar dengan mempergunakan

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

1. Semua kapal niaga Indonesia yang berlayar dengan mempergunakan surat laut dan

pas tahunan

2. Semua kapal Negara yang berlayar

3. Kapal asing yang berlayar di wilayah perairan Indonesia

4. Tabrakan antara kapal Indonesia dengan kapal asing

Beberapa kecelakaan kapal yang diperiksa oleh syahbandar adalah:

1. Kapal tabrakan

2. Kapal kandas

3. Kapal tenggelam

4. Kapal terbakar habis

5. Terjadi kebakaran di kapal yang kemudian dapat dipadamkan

6. Kapal menabrak bangunan, dermaga dan lain-lain

7. Terjadinya kebocoran yang dapat menyebabkan kapal tenggelam

8. Kerusakan-kerusakan berat pada mesin kapal

9. Kecelakaan-kecelakaan lain di kapal yang menimbulkan korban jiwa manusia.

Untuk melakukan tugasnya, syahbandar wajib meneliti laporan kecelakaan kapal oleh

nakhoda yaitu sebagai berikut:

1. Setiap laporan kecelakaan kapal yang dibuat oleh nakhoda dan diajukan kepada

syahbandar

untuk

mendapatkan

pengesahan,

syahbandar

sebelum

memberi

tandatangannya harus mendapatkan penelitian lebih dahulu dan diadakan Tanya

jawab dengan nakhoda yang membuat laporan tersebut.

2. Syahbandar

harus

menyaksikan

sendiri

keadaan

kapal

terhadap

bekas-bekas

kecelakaan kapal tersebut jika perlu dibentuk tim untuk menentukan apakah akibat

kecelakaan kapal menyebabkan kondisi kapal menjadi tidak laik laut lagi. Apabila

204

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 demikian halnya, maka sertifikat kesempurnaan atau sertifikat

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

demikian

halnya,

maka

sertifikat

kesempurnaan

atau

sertifikat

keselamatan

konstruksi harus dicabut dulu.

 

3. Sebagai

kelanjutan

dari

pemeriksaan,

maka

syahbandar

harus

melakukan

pemeriksaan

pendahuluan

dan

dibuatkan

berita

acara.

Yang

harus

diperiksa

sekurang-kurangnya adalah:

a. Nakhoda kapal

b. Mualim jaga

c. Juru mudi

d. Kepala kamar mesin

e. Masinis jaga

f.Markonis

g. Perwira dan awak kapal lain yang dianggap perlu

h. Saksi-saksi lain, misalnya: pandu, penumpang, kalau dianggap perlu.

Jika terjadi kecelakaan maka syahbandar melakukan penelitian terhadap kecelakaan

kapal adalah sebagai berikut:

1. Jika kapal mengalami rusak berat, syahbandar mencabut semua sertifikat-sertifikat kapal,

dan kapal harus diperbaiki sehingga baik kembali.

2. Didalam hal kerusakan-kerusakan yang tidak mempengaruhi kelaiklautan suatu kapal dan

tidak ada alas an untuk ditahan, sertifikat-sertifikat kapal tidak perlu dicabut.

3. Jika

didalam

pemeriksaan

kecelakaan kapal,

timbul

keragu-raguan

atau

kecurigaan

syahbandar,

kemungkinan

adanya

unsur

pidana

seperti

sengaja

dirusak

atau

ditenggelamkan dengan maksud dan tujuan tertentu, hal ini harus dilaporkan kepada polisi

untuk diusut.

205

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 4. Mengenai kecelakaan yang sifatnya ringan, dilihat dari akibat-akibat

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

4. Mengenai kecelakaan yang sifatnya ringan, dilihat dari akibat-akibat dan kerugian materi

dan tidak ada korban manusia, sedapat mungkin supaya dapat diselesaikan sendiri oleh

syahbandar.

5. Sejauh mungkin jika tidak ada alas an-alasan kuat, harus dihindari tindakan-tindakan

penahanan kapal oleh syahbandar.

Jenis-jenis pertanyaan sehubungan dengan kecelakaan kapal:

1. Didalam melakukan pemeriksaan pendahuluan supaya ditanyakan hal-hal yang diperlukan

untuk mendapatkan data-data dan fakta-fakta yang diduga sebagai penyebab terjadinya

kecelakaan. Harus pula diperiksa catatan-catatan didalam buku jurnal, posisi tempat

terjadinya kecelakaan di peta laut, ditanyakan pula keadaan cuaca, angina, arus dan

sebagainya pada waktu terjadinya kecelakaan kapal, dan tindakan-tindakan yang telah

diambil setelag terjadi kecelakaan.

2. Khususnya mengenai tabrakan kapal, pertanyaan-pertanyaan harus dititik beratkan kepada

tindakan-ptindakan nakhoda yang telah diambil untuk mencegah terjadinya tabrakan

tersebut sesuai dengan peraturan pencegah tubrukan di laut tahun 1972 serta kewaspadaan

perwira jaga didalam menjalankan tugas sesuai petunjak-petunjuk bridge order serta night

order yang dibuat oleh nakhoda.

3. Berita acara pemeriksaan pendahuluan ditandatangani oleh syahbandar sebagai pemeriksa

dan nakhoda/ perwira/ abk yang diperiksa.

4. Berita acara pemeriksaan pendahuluan dengan dilampiri:

a. Laporan kecelakaan kapal

b. Copy buku jurnal

c. Copy peta laut tempat kejadian.

206

d. Copy surat-surat kapal e. Resume dari syahbandar PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 f.

d. Copy surat-surat kapal

e. Resume dari syahbandar

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

f. Data-data lain yang perlukan (dengan surat pengantar dikirimkan ke pusat pengantar

dikirimkan ke pusat dalam rangkap 2 (dua).

g. Jika kecelakaan kapal membawa korban manusia, meninggal atau hilang, hal ini harus

dilaporkan kepada POLRI dengan mengirimkan LKK.

7. Keamanan Pelabuhan Didalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran

Keselamatan

dan

keamanan

pelabuhan

yaitu

kondisi

terpenuhinya

manajemen

keselamatan dan sistem pengaman fasilitas pelabuhan meliputi:

a.

Prosedur pengamanan fasilitas pelabuhan

 

b.

Sarana dan prasarana pengamanan pelbuhan

c.

Sistem komunikasi, dan

 

d.

Personel pengaman.

Syahbandar harus tegas untuk menjaga keamanan dan ketertiban pelabuhan agar

segala

isi

yang

berhubungan

dengan

pelabuhan

bisa

terkendali

dengan

baik.Dalam

melaksanakan ketertiban dan keamanan di pelabuhan sesuai dengan ketentuan konvensi

internasional,

maka

syahbandar

bertindak

selaku

komite

keamanan

pelabuhan

(port

securitycommittee), terutama dalam melaksanakan fungsi sebagai syahbandar dapat meminta

bantuan kepada Kepolisian R.I. dan/atau TNI.Bentuk keamanan dan ketertiban di pelabuhan

dibawah koordinasi syahbandar.

Beberapa

kewenangan

syahbandar

dalam

hal

menangani

penyimpanan surat, dokumen dan warta kapal.

pemeriksaan

dan

1. Setiap pemilik, operator kapal atau nakhoda wajib memberitahukan kedatangan kapalnya

di pelabuhan kepada syahbandar.

207

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 2. Setiap kapal yang memasuki pelabuhan wajib menyerahkan surat,

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

2. Setiap kapal yang memasuki pelabuhan wajib menyerahkan surat, dokumen dan wartal

kepada syahbandar keika pada saat kapal tiba di pelabuhan untuk dilakukan pemeriksaan,

3. Setelah

dilakukann

pemeriksaan

surat,

dokumen

dan

warta

kapal

disimpan

oleh

syahbandar untuk diserahkan kembali bersamaan dengan diterbitkannya Surat Persetujuan

Berlayar.

4. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberitahuan kedatangan kapal, pemeriksaan,

penyerahan, serta penyimpanan surat, dokumen dan warta kapal diatur dalam Peraturan

Pemerintah.

Pengakuan tersebut dapat kita lihat melalui penandatanganan perjajian perbatasan

wilayah laut RI dengan ketiga Negara tetangga itu masing-masing pada tahun 1969, 1971 dan

2003. Dengan pengembangan

provinsi kabupaten baru tersebut, semua wilayah kecamatan

yang selama ini berada di kabupaten kepri naik statusnya menjadi kabupaten seperti

kabupaten karimun, lingga dan natuna. Adapun kota tanjung pinang yang selama ini menjadi

ibukota kabupaten kepri menjadi ibukota provinsi, disamping kota batam yang sudah berdir

pula sejak tahun 1999.

D. KESIMPULAN

1. Syahbandar memiliki kewenangan luas selaku komite keamanan pelabuhan (Port Security

Committee).Oleh

sebab

itu,

semua

keamanan

pelayaran

berada

dipundak

Komite

keamanan

pelabuhan

karena

merupakan

bagian

dan

atau

perpanjangan

tangan

Syahbandar.Laik

dan

tidak

laik

kapal

berlayar

menjadi

tanggungjawab

PSC,

yang

pengesahannya

disetujui

Syahbandar.Kelayakan

kapal

akan

dicek

atau

diteliti

oleh

syahbandar baik berlabuh dan berlayar.

2. Hambatan syahbabndar tak luput dari hambatan seperti floating repair karena tidak

menerima laporan dari agen maupun perusahaan kapal, yang muaranya kerugian Negara.

208

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 Surat Persetujuan Berlayar ( SPB ) tidak diterbitkan apabila

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

Surat Persetujuan Berlayar ( SPB ) tidak diterbitkan apabila ada agen kapal yang tidak

melaporkan

berindikasi

keberadaan

kapalnya

ketika

berlabuh,

untuk

mengurangi

durasi

sandar,

yang

atau

berarti

terlambat

melapor

yang

mengurangi

pendapatan

Negara.Yang perlu diperhatikan apabila kapal tersebut mengalami kecelakaan ketika akan

berangkat, sementara dokumen kelaikan kapal belum ditertibkan oleh syahbandar.

E. DAFTAR PUSTAKA

Buku

Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2004

Jhony

Ibrahim,

Teori

Publishing, 2005

dan

Metode

Penelitian

Hukum

Normatif,

Malang,

Banyumedia

Jimly Asshiddiqie dan M. Ali Safa’at, Teori Hans Kelsen tentang Hukum, Jakarta, Konpress,

2012

J.J.J.M. Wuisman, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Azas-Azas, Jakarta, FE UI, 1996

Mochtar Kusumaatmadja, Hukum Laut Internasional, Bandung: Binacipta, 1978

Rachmat Trijono, Pengantar hukum Ketenagakerjaan, Jakarta, Papas Sinar Sinanti, 2014

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI-Press, 1982

Syamsumar Dam, Politik Kelautan, Jakarta: Bumi Aksara, 2010

R. Joni Bambang, Hukum Ketenagakerjaan, Bandung, Pustaka Setia Bandung, 2013

Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang bagi Para

Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Jakarta, Institut Bankir Indonesia,

 

1993

Tan

Kamello,

Perkembangan

Lembaga

Jaminan

Fidusia:

Suatu

Tinjauan

Putusan

Pengadilan dan Perjanjian di Sumatera Utara, Disertasi, Medan, PPs-USU, 2002

209

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015 Triana Wulandari, dkk, Sejarah Wilayah Perbatasan Batam-Singapura 1824-2009 Satu

PETITA, VOL 2 No.2 Desember 2015

Triana Wulandari, dkk, Sejarah Wilayah Perbatasan Batam-Singapura 1824-2009 Satu Selat

Dua Nakhoda, Depok, Gramata Publishing, 2009

Peraturan Perundang-Undangan

Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran

Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Makalah/Seminar/Diklat

Diktat Direktorat Penjagaan Dan Penyelamatan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut

Departemen Perhubungan, Pendidikan Dan Pelatihan Kesyahbandaran Klas “B”

Kecelakaan Kapal Jakarta, 2005

Syamsumar Dam, Masalah Negara Kepulauan dan selat-selat strategis di Asia Tenggara,

dalam MIMK, LRKN-LIPI Jakarta, Vol.10 (1981) dan 11 (1984).

Surya Makmur Nasution: Batam, Jangan Sampai Arang Habis Besi Binasa, Sinar arapan,

Jakarta, 2001

Tjetjep Akarsafman dan Sungkono Ali, Diktat Materi Pelatihan In House Training Port of

Batam Kepelabuhan Pelayaran dan Logistik Port Shipping Program D.III

Transportasi Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta, 2011

Tjetjep Karsafman dan Sungkono, Diktat Untuk Peserta Magang Praktek Penanganan

Muatan Curah “Bulk Terminal Operation (Bulk Cargo Handling)”, 2012

Internet

http://satriaafnan.blogspot.com/2012/05/peran-syahbandar-pelabuhan-perikanan.html,

diakses pada tanggal 24 juli 2013, Pukul. 11.51WIB

http://risauku.blogspot.com/2009/02/sudah-bertahun-tahun-indonesia-merdeka.html, diakses

pada tanggal 24 juli 2013, pukul 10.58 WIB

http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=9867&idc=39, diakses pada

tanggal 24 juli 2013, Pukul 11.19 WIB

http://dedetzelth.blogspot.com/2013/05/pengertian-dankewenanganpemerintahan.html,

diaksees pada tanggal 24 Juli 2013, Pukul 12.24 WIB

210