Anda di halaman 1dari 10

STUDI FASILITAS PELABUHAN PERIKANAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BUNGUS SUMATERA BARAT

Oleh:

Yuspardianto

Dosen Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta Jl. Sumatera, Ulak Karang Padang

Abstrak

Pelabuhan perikanan Samudera Bungus memiliki fasilitas pelabuhan yang terdiri dari fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang. Fasilitas pokok terdiri dari dermaga bongkar, dermaga tambat, kolam pelabuhan dan jalan utama. Fasilitas fungsional terdiri dari gedung pelelangan (receiving hall), ruangan pengolahan ikan, pabrik es. Instalasi air bersih, Instalansi BBM (solar), balai pertemuan nelayan, lapangan perbaikan kapal (repair yard), dan radio SSB. Fasilitas penunjang lainnya terdiri dari perumahan karyawan, wisma atau mess, mess nelayan, mesjid dan toilet umum.

Key Word. Pelabuhan Perikanan, Fasilitas

PENDAHULUAN

Pelabuhan perikanan merupakan prasarana yang mendukung peningkatan pendapatan petani nelayan juga sekaligus mendorong investasi dibidang perikanan. Guna menunjang pengembangan agribisnis di bidang perikanan, mutlak diperlukan dukungan prasarana perikanan antara lain dengan mengoptimalkan pemanfaatan pelabuhan perikanan yang telah ada (Dirjen Perikanan, 1994). Pelabuhan perikanan diperlukan dalam rangka menunjang usaha motorisasi serta pengembangan ekonomi perikanan secara menyeluruh terutama menunjang perkembangan industri perikanan baik hulu maupun hilir, sehingga diharapkan akan tercapai pemanfaatan sumberdaya perikanan yang seimbang, merata dan proposional (Maaroef, 2001).

Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus menyediakan areal bagi pengembangan industri yang dapat dimanfaatkan oleh Koperasi Perikanan, swasta atau badan usaha, antara lain untuk pembangunan industri pabrik es, cold storage, cool room, dock atau galangan kapal, industri pengolahan ikan baik tradisional maupun modren dan lain sebagainya (Dirjen Perikanan, 1994)

Berdasarkan uraian diatas maka perlu kiranya dilakukan kajian terhadap fasilitas pelabuhan perikanan Samudera Bungus agar Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus dapat berjalan secara profesional dan rasional demi kesejahteraan dan peningkatan pendapatan nelayan khususnya peningkatan pendapatan daerah Sumatera Barat pada umumnya.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian yang dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Bungus Kecamatan Bungus Teluk Kabung Padang Sumatera Barat. Metode yang dilakukan adalah studi kasus Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus Padang. Data diperoleh dengan 2 cara yaitu : (1). Pengumpulan data primer, yaitu data yang diambil dari tinjauan langsung kelapangan dan melakukan wawancara dengan Kepala Pelabuhan dan seluruh lapisan karyawan Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, (2). Pengumpulan data sekunder, yaitu yang diambil dari Laporan Tahunan Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus dan ditunjang dengan studi kepustakaan.

Untuk mengetahui tingkat kelayakan operasional pelabuhan, maka dilakukan analisis kelayakan teknis dari fasilitas-

fasilitas yang ada dan

pengembangan pelabuhan.

analisis program

HASIL

Keadaan Umum Pelabuhan Perikanan Samudra Bungus terletak di Teluk Bungus, Kelurahan Labuhan Tarok, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat. Kelurahan Labuhan Tarok terletak pada ketinggian 0-140 M dari permukaan laut dengan luas wilayah 320 ha, berjarak 16 Km dari Kota Padang dan 27 km dari Pelabuhan Udara Tabing.

Pada tahun 1977 di Pantai Bungus mulai dibangun Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) pada lokasi seluas 16 Ha, tetapi yang baru dimanfaatkan baru seluas 1 Ha. Pada tahun 1981 dimulai kegiatan Proyek Pembangunan dan Pengembangan Perikanan Sumatera (Sumatera Fisheries Development Project/SFDP) yang salah satu kegiatannya adalah pengembangan PPI Bungus. Pembangunan fisik PPI selesai pada tahun 1988/1989.

Semenjak tahun 1981 – 1989 lokasi ini lebih dikembangkan lagi melalui SFDP dengan sumber dana pinjaman dari Bank Pembangunan Asia (ADB LOAN 474-INO) sebesar US $ 9.3 Juta. Pada periode ini SFDP telah berhasil membebaskan tanah seluas 14 Ha dan membangun beberapa fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang.

Periode berikutnya 1990-2001 kegiatan SFDP dihentikan, diteruskan oleh UPT Direktorat Jenderal Perikanan yang disebutkan dengan Pelabuhan Perikanan Nusantara Bungus berdasarkan SK Mentan No.558/KPTS/OT.210/8/90 tanggal 4 Agustus 1990 (Vide Persetujuan Mentri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: B.590/I/90 tanggal 12 Juli 1990) dengan satus eselon III/B.

Perkembangan selanjutnya terhitung mulai 1 Mei 2001 Pelabuhan Perikanan Nusantara Bungus ditingkatkan statusnya

menjadi eselon II/b dengan klasifikasi Pelabuhan Perikanan Nusantara Bungus

(PPSB) berdasarkan SK. Mentri Kelautan

dan

26.1/MENTAN/TAHUN 2001 (Vide Persetujuan Mentri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 86/M.PAN/4/2001 tanggal 4 Juli 2001 (Maaroef, 2001)

Perikanan Nomor:

Visi, Misi, Tugas Pokok dan Fungsi Visi Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah: “Mewujudkan pelabuhan perikanan yang terkoordinasi efektif guna menunjang peningkatan produksi, mutu dan pemasaran hasil perikanan serta senantiasa berupaya menegakkan penangkapan ikan yang bertanggung jawab demi kelestarian sumberdaya perikanan”

Misi Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah :(1) Pengembangan, pemeliharaan, rehabilitasi dan pemanfaatan fasilitas dan sarana pelabuhan perikanan; (2) Peningkatan produksi, mutu, distribusi dan pemasaran hasil perikanan di pelabuhan perikanan; (3) Peningkatan pendapatan nelayan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat secara keseluruhan yang memanfaatkan pelabuhan perikanan; (4) Pengembangan riset, informasi perikanan dan pemberdayaan masyarakat perikanan; (5) Pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari.

Tugas pokok Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah : (1) melakukan koordinasi yang efektif dengan semua pihak seluruh pengguna jasa pelabuhan, instansi pemerintah, lembaga atau lembaga atau organisasi masyarakat lainnya yang terkait; (2) Melaksanakan pelayanan dan pemberian fasilitas guna menunjang peningkatan produksi, mutu, distribusi dan pemasaran hasil perikanan; (3) melakukan pengawasan pemanfaatan sumberdaya penangkapan ikan untuk pelestariannya; (4) melaksanakan pengembangan riset, jaringan informasi

perikanan dan fasilitas pemberdayaan masyarakat perikanan; (5) Melaksanakan pemantauan wilayah pesisir dan fasilitas wisata bahari (Maaroef, 2001)

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No.26.1/MEN/2001 tanggal 1 Mei 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelabuhan Perikanan ditetapkan bahwa Tugas Pokok Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah melakukan koordinasi dan fasilitas, peningkatan produksi dan pemasaran hasil perikanan tangkap di wilayahnya dan pengawasan pemanfaatan sumberdaya penangkapan untuk pelestariannya.

Dalam menyelenggarakan tugas pokok tersebut Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus menyelenggarakan fungsi: (1) Perencanaan, pengembangan, pemeliharaan serta sarana pelabuhan perikanan; (2) Pelayanan teknis kapal perikanan dan kesyahbandaran pelabuhan perikanan; (3) Koordinasi pelaksanaan urusan keamanan, ketertiban dan kebersihan kawasan pelabuhan perikanan; (4) Pengembangan dan fasilitas pemberdayaan masyarakat perikanan; (5) Pelaksanaan fasilitas dan koordinasi diwilayahnya untuk peningkatan produksi, distribusi dan pemasaran hasil perikanan; (6) Pelaksanaan pengawasan, penangkapan, penangganan, pengolahan, pemasaran dan mutu hasi perikanan; (7) Pelaksanaan, pengumpulan, pengolahan dan meyajikan data dan statistik perikanan; (8) Pengolahan hasil riset dan jaringan sistem informasi perikanan; (9) Pemantauan wilayah pesisir dan fasilitas wisata bahari; (10) Pengelolaan urusan tatausaha dan rumah tangga pelabuhan perikanan (Maaroef, 2001)

menguntungkan yaitu di Teluk Bungus, suatu teluk yang secara alami dapat dijadikan kolam pelabuhan. Luas kolam Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus ± 1,5 Ha dengan kedalaman perairan minus 7 M s/d 15 M

b. Dermaga Dermaga bongkar terbuat dari konstuksi beton dengan panjang 100 M dan lebar 15 M dengan kedalaman minus 6 m, dapat melayani kegiatan bongkar muat kapal sebanyak 25 kapal sekaligus dengan bobot rata-rata 30 GT. Sedangkan untuk pengisian bahan bakar (solar), air tawar dan logistik dilaksanakan di dermaga khusus dengan panjang 35 m dan lebar 10 m. dengan telah selesainya kegiatan Bagian proyek Pelabuhan Perikanan Samudera tahun 2000 telah selesai pula dibangun dermaga beton sepanjang 182 m, lebar 4 m dengan kedalaman air tepi dermaga antara 1,5 – 2 m.

c. Jetty Jalan penghubung (jetty) sepanjang 40 m dan lebar 10 m terbuat dari konstruksi beton, berfungsi sebagai penghubung dalam pengangkutan ikan dari dermaga bongkar ke tempat pelelangan ikan. Bollard merupakan fasilitas yang ada di dermaga dan jetty digunakan untuk menambatkan kapal secara sederhana bentuknya seperti patok besi atau patok beton yang umumnya berfungsi sebagai pengikat tali kapal. Fender yang terbuat dari karet berfungsi untuk menghindari kerusakan kapal atau dinding kapal yang sedang berlabuh.

Kondisi

Pelabuhan

Perikanan

d. Daratan Pelabuhan Luas tanah keseluruhan mencapai

Samudera Bungus

14 ha dengan status sertifikat Hak

1.

Fasilitas Pokok

 

Pengelola. Sedangkan lahan

a.

Kolam Pelabuhan

 

industri yang tersedia ± 7 ha yang

 

Pelabuhan

Perikanan

Bungus

diperuntukkan untuk menunjang

terletak

pada

lokasi

yang

industri perikanan.

e. Jalan Utama Pelabuhan Jalan utama Pelabuhan sepanjang 1.500 m, sebagian terbuat dari konstruksi beton. Sedangkan untuk ke dan dari komplek perumahan disediakan jalan komplek dengan konstruksi aspal sepanjang 200 m.

f. Areal parkir Luas area parkir yang tersedia lebih kurang 250 m 2 , dimana kondisi jalan dan areal parkir yang tersedia masih dalam keadaan baik dan dimanfaatkan secara optimal.

g. Pagar Keliling

Pagar keliling komplek terbuat dari tembok permanen dengan panjang 4.00 m, dilengkapi dengan pintu gerbang yang terbuat dari besi.

2. Fasilitas Fungsional

a. Tempat pelelangan ikan Luas keseluruhan gedung pelelangan ikan ± 3.334 m 2 , akan tetapi yang digunakan Tempat Pelelangan Ikan seluas 720 m 2 dengan kapasitas ± 50 ton perhari. Sedangkan sisanya digunakan untuk ruangan pengolahan ikan seluas 1.103 m 2 dan digunakan untuk pabrik es oleh PT. Danitama Mina, seluas 1522 m 2 .

Pada Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus produksi ikan yang di dominasi jenis Tuna (Thunnus sp), Cakalang (Katsuwonus pelamis), Tongkol (Eutthnus sp), dan beberapa jenis ikan karang.

TPI,

diselenggarakan oleh KUD Mina Padang pukul 10:00 WIB dan

selesai antara pukul 13:00 – 15:00 WIB, hal ini tergantung pada banyaknya kapal yang membongkar ikan. Kegiatan lelang

ini sering

terlambat karena para

Kegiatan lelang

di

agen yang akan menentukan harga dasar ikan pada saat kegiatan lelang berlangsung datangnya terlambat. Biasanya

pagi hari para agen pergi ke pasar – pasar ikan untuk survei harga ikan pada pagi hari itu, setelah mendapatkan harga ikan dipasaran baru para agen datang ke TPI Bungus. Kebiasaan yang ada di TPI Bungus setiap kapal yang akan memasarkan ikannya harus ada yang mengageni. Jumlah agen yang ada di TPI Bungus saat ini sebanyak delapan orang dan sebagian dari agen tersebut juga sebagai pemilik kapal. Setiap agen yang melakukan pelelangan mendapat komisi 5% dari total hasil penjualan. Oleh karena itu para agen berusaha menetapkan harga ikan setingggi mungkin untuk mendapatkan komisi yang besar. Selain itu dalam menetapkan harga agen juga melihat situasi dan kondisi bulan pada saat itu, apakah awal bulan, bulan gelap, atau bulan terang. Para agen biasanya lebih senang bulan terang karena hasil tangkapan ikan sedikit sehingga harga lelang ikan tinggi sehingga mereka mendapat komisi besar.

Rantai pemasaran yang ada di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah ikan hasil lelang dikumpulkan oleh pedagang besar, pedagang pengumpul atau pedagang enceran, kemudian didistribusikan ke pasar-pasar ikan, rumah makan dan konsumen rumah tangga. Hasil dari TPI proses penyebarannya dilakukan ke berbagai tempat, baik dalam kota maupun diluar kota Padang. Distribusi yang dilakukan oleh PT. Tirta Raya Mina cabang Padang antara lain ke Solok, Payakumbuh, Batusangkar, Riau, Jambi, Bengkulu, dan untuk Sumatera Utara dan Sumatera Selatan dilakukan pada saat musim puncak, karena saat itu harga ikan relatif murah.

Rantai

pemasaran

di

TPI

Bungus

dapat

digambarkan

Pelabuhan

Perikanan Samudera

sebagai

berikut

:

PE
PE

Konsumen lokal

P
P

LP

PB IM
PB
IM

DATI II Prov. Sumbar

Prov lain

Gambar 1. Rantai pemasaran di TPI Bungus

Keterangan :

P

= Produsen

LP

=Lembaga Pelelangan

PE

= Pedangang enceran

PB

= Pedagang besar

IM

= Institusional market K (Rumah makan)

= Konsumen

b. Instalasi air bersih Instalasi air bersih yang tersedia di Pelabuhan berkapasitas 50 ton disuplai langsung oleh PDAM dengan kapasitas ± 2 liter, yang penggunaannya digunakan untuk perumahan karyawan, kantor, mess nelayan, dan kantin. Reservoar milik pelabuhan dengan kapasitas 300 ton bersumber dari air pegunungan yang disalurkan bagi kapal-kapal yang membutuhkan untuk operasi penangkapan.

c. Instalasi bahan bakar minyak Instalasi BBM (solar) berkapasitas 75 ton dengan 2 unit pompa distribusi dan dilaksanakan oleh gabungan antara KUD Mina Padang dengan Koperasi Pegawai Pelabuhan Perikanan Bungus (KP3B) dalam bentuk Unit Usaha Otonom (UUO).

d. Instalasi Listrik Instalasi listrik di lingkungan Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus di suplai dari PLN dengan kapasitas 66,5 KVA.

e. Bengkel dan Dovk/Vessel lift Luas bengkel 250 m 2 dapat melayani kerusakan berat/ringan

bagi kapal-kapal nelayan, baik pekerjaan perkayuan maupun permesinan (mekanik logam). Bengkel dilengkapi dengan mesin bubut, alat las, sehingga dengan peralatan yang cukup lengkap tersebut mampu melayani perbaikan kapal kapasitas 30 GT. Bengkel ini memiliki alat pengangkat kapal ke darat (vessel Lift), sehingga perbaikan kapal secara menyeluruh dapat dilakukan di darat dengan aman, tidak terganggu oleh pasang surut. Luas areal untuk docking seluas 2.860 m 2 yang dapat menampung 16 kapal sekaligus.

f. Penyaluran es Kebutuhan es bagi kapal-kapal perikanan di Pelabuhan di suplai oleh pihak swasta yaitu PT. Danimatama Mina. Es tersebut berbentuk balok dengan berat 50 kg/balok.

g. Balai Pertemuan Nelayan Balai pertemuan ini digunakan untuk kegiatan intern pelabuhan, pendidikan dan latihan nelayan, dan penyuluhan perikanan. Luasnya 214 m 2 saat ini dalam kondisi yang baik tetapi

kelengkapan fasilitasnya masih kurang antara lain panggung dan ruang perpustakaan.

h. Cold storage

Berfungsi sebagai tempat penyimpanan ikan dengan kapasitas 10 ton bruto bantuan dari Pemerintah Pusat akan tetapi saat ini belum dapat berfungsi karena belum adanya biaya operasionalnya.

i. Radio SSB Guna menunjang arus informasi dan dari pelabuhan perikanan dimanfaatkan sarana komunikasi SSB pada setiap jalur operasional. Kondisi Radio SSB dalam keadan baik.

3. Fasilitas Penunjang. Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang antara lain: (1) Gedung perkantoran; (2) Perumahan karyawan 19 unit; (3) Wisma atau mess seluas 140 m 2 ; (4) Mess nelayan 16 kamar; (5) Mess operator 3 unit; (6) Mesjid 1 unit; (7) Toilet umum 2 unit.

Analisis kelayakan Teknis Berdasarkan Standard Operating Produce (SOP) atau standar Pengoperasian Pelabuhan Perikanan Dirjen Perikanan

(2000) fasilitas pelabuhan perikanan yang harus ada pada suatu Pelabuhan Perikanan adalah sebagai berikut :

1. Fasilitas Pokok Jenis fasilitas pokok berdasarkan SOP meliputi : (1) Lahan pelabuhan; (2) Dinding penahan tanah; (3) Dermaga; (4) Kolam Pelabuhan; (5) Alur pelayaran; (6) Pemecah gelombang (Breakwater); (7) Krip; (8) Stuktur pelindung pantai; (9) Jalan komplek; (10) Drainase; (11) Sumber air tawar; (12) Tangki air tawar dan reservoir air serta water trearmeant.

Sedangkan fasilitas pokok yang ada pada Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah: (1) Lahan pelabuhan seluas ± 14 Ha bila dikaitkan dengan SOP Pelabuhan Perikanan Samudera

seharusnya tersedia lahan seluas 50 Ha; (2) Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus tidak memiliki pemecah gelombang (Break water) karena terletak pada sebuah teluk yaitu Teluk Bungus; (3) Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus memiliki dermaga bongkar dengan luas 1500 m 2 , dermaga bunker dengan luas 350 m 2 bila dikaitkan dengan SOP seharusnya Pelabuhan Perikanan Samudera ini memiliki dermaga yang lebih besar; (4) Kolam pelabuhan yang ada seluas 7,5 Ha; (5) Dinding penahan tanah yang ada sepanjang 150 m dengan konstruksi Bronjong batu kali; (6) Jalan komplek Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus dengan panjang 1500 m dan lebar 8 m, dengan jenis perkerasan jalan beton dan aspal; (7) Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus memiliki drainase dengan konstruksi beton dan dalam keadaan baik; (8) Sumber air tawar yang dimiliki dari air pegunungan dan PDAM; (9)Tangki air yang ada berkapasitas 50 ton; (10) Water treatment (Reservoar) dengan kapasitas 300 ton dan Water treatment (pipa bunker) dengan kapsitas 350 ton.

2. Fasilitas Fungsional Jenis fasilitas fungsional berdasarkan SOP meliputi; (1) Tempat pelelangan ikan (Receiving Hall); (2) Pengolahan limbah cair; (3) Pengolahan limbah padat; (4) Los Bongkar; (5) Pabrik Es; (6) Gudang es; (7) Tangki BBM; (8) Instalasi listrik; (9) Rumah genset; (10) Radio Komunikasi/SSB; (11) Bengkel; (12) Balai Pertemuan Nelayan; (13) Kantor Syahbandar; (14) Kantor administrasi Pelabuhan; (15) MCK umum; (16) Kendaraan Pelabuhan; (17) Kendaraan Pelabuhan; (18) Alat Berat; (19) Pagar Keliling; (20) Pos Jaga; (21) Cold Storage; (22) Mesin Penghancur Es; (23) Dock/Galangan Kapal; (24) Kapal Inspeksi; (25) kapal Keruk; (26) Kapal tunda; (27) Tempat penjemuran/ perbaikan jaring; (28) gudang peralatan; (29) Sistem pemadam kebakaran (Fire safety

system); (30) Industri perikanan; (31) Laboratorium bina mutu; (32) Gedung pengepakan (Packing).

Sedangkan fasilitas fungsional yang terdapat pada Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah (1) Gedung Pelelangan Ikan (TPI) dengan luas 720 m 2 ; (2) Penyimpanan atau tangki BBM dengan kapasitas 75 ton; (3) Listrik dengan daya 147 KVA; (4) Rumah genset I bh dengan luas 20 m; (5) memiliki radio SSB 1 Unit; (7) Kantor Administrasi Pelabuhan; (8) MCK Umum 2 buah luasnya 50 m 2 ; (9) Areal parkir kendaraan seluas 250 m 2 ; (10) Kendaraan pelabuhan 7 unit; (11) Alat berat (fork lift) 1 unit (2 ton); (12) Pagar keliling 4000 m dengan tembok permanen; (13) Pos jaga 2 buah luasnya 15 m 2 ; (14) Dock luasnya 2.860 m 2 dengan kapasitas 16 kapal.

3. Fasilitas Penunjang Jenis fasilitas penunjang berdasarkan SOP terdiri dari : (1) Rumah kepala pelabuhan; (2) Rumah syahbandar; (3) Perumahan Karyawan; (4) Rumah peristirahatan/wisma tamu; (5) Mess nelayan; (6) Garasi alat berat; (7) Gedung kesenian dan olah raga; (8) Poliklinik, kantin dan tempat ibadah; (9) Wartel dan warnet.

Sedangkan fasilitas fungsional yang terdapat pada Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah (1) Rumah Kepala Pelabuhan luasnya 120 M 2 ; (2) Perumahan Karyawan tipe 54 berjumlah 8 unit, tipe 70 berjumlah 9 unit, tipe 110 berjumlah 1 unit; (3) Wisma Mina (nelayan) 1 unit dengan 16 kamar; (4) Garasi alat berat (Vessel Lift house) 1 unit; (5) Wartel ada dengan 4 kamar telephone; (6) Mesjid 1 buah.

4. Kriteria Klasifikasi Pelabuhan Perikanan Berdasarkan SOP klasifikasi pelabuhan Perikanan untuk Pelabuhan Perikanan Samudera dengan ketentuan sebagai berikut : (1) tersedianya lahan seluas 50 Ha; (2)

Diperuntukkan bagi kapal-kapal Perikanan dengan ukuran 100-200 GT dan kapal pengangkut ikan dengan ukuran 500-1000 GT; (3) Melayani kapal perikanan sebanyak 100 unit perhari; (4) Jumlah ikan yang didaratkan lebih dari 200 ton/hari; (5) Tersedianya fasilitas pembinaan mutu, sarana pemasaran dan lahan kawasan industri perikanan.

Kenyataannnya dilapangan adalah sebagai berikut; (1) Luas areal tanah yang dimiliki Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus ± 14 Ha, sedangkan menurut SOP seharusnya tersedia lahan seluas 50 Ha; (2) Kapal- kapal perikanan yang berlabuh di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus hanya satu jenis yaitu kapal tonda dengan ukuran ± 30 GT, menurut SOP Pelabuhan Perikanan Samudera seharusnya diperuntukkan bagi kapal-kapal perikanan dengan ukuran 100-200 GT dan kapal mengangkut ikan dengan ukuran 500- 1000 GT; (3) Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus hanya melayani kapal perikanan sebanyak 15 unit/hari, SOPnya seharusnya melayani kapal perikanan sebanyak 100 unit/hari; (4) Jumlah ikan yang didaratkan lebih dari 200 ton/hari; (5) Dalam penyediaan fasilitas pembinaan mutu seperti sarana penyimpanan ikan (Cold Storage) belum bisa dioperasikan karena belum adanya pembiayaan operasionalnnya, sedangkan pabrik es ketersediaan es balok masih terbatas sehingga belum mendukung kegiatan penangkapan ikan tuna, lahan kawasan industri sudah ada tetapi belum dimanfaatkan. Menurut SOP Pelabuhan Perikanan Samudera sehrusnya fasilitas Pembinaan mutu seperti Cold Storage dan lainnya sudah tersedia di Pelabuhan Perikanan Samudera, Ketersediaan es balok sudah melebihi kebutuhan dan untuk kawasan industri perikanan seharusnya sudah beroperasi.

Program Pengembangan Pelabuhan Perikanan Dalam meningkatkan kegiatan operasional Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus dimasa akan datang diperlukan rencana pengembangan pelabuhan perikanan ini. Kegiatan ini memungkinkan karena tersedianya potensi yang dikelola yakni potensi perairan Pantai Barat Sumatera, Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) yang terdiri

dari ikan tuna, cakalang, tongkol, kakap dan lain-lainnya. Dengan ini rencana pengembangannya sebagi berikut :

1. Fasilitas Pokok Dalam pembangunan fasilitas ini diperlukan reklamasi seluas ± 14 ha, yang akan dipergunakan untuk pengembangan pembangunan dermaga sejalan dengan perkembangan keberadaan armada kapal penangkap ikan dan akan dikonsentrasikannya seluruh kapal ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus sejumlah ± 300 unit, maka diperlukan adanya tempat bagi kapal-kapal tersebut untuk bersandar sesudah membongkar hasil tangkapannya dan sebelum kembali melaut, untuk keperluan ini telah selesai pengembangan dermaga sepanjang 182 m dengan lebar 4 m seluas 728 m 2 , untuk pelayanan pendaratan ikan, serta pengembangan dermaga pengisian BBM (solar) dan air, kolam pelabuhan, areal perbaikan kapal (docking). Untuk menunjang kegiatan tersebut berarti perlu dibuat drainase untuk saluran aliran sungai yang telah ada, jalan dan penghijauan pada lokasi tersebut.

2. Fasilitas Fungsional Dalam pembangunan fasilitas ini diperlukan reklamasi seluas ± 4.5 Ha yang akan dibangun fasilitas industri, yang nantinya akan diisi oleh pihak swasta seperti : (1) Pabrik es dan Cold storage; (2) Pabrik pengolahan ikan modern; (3) Pabrik penolahan ikan tradisional; (4) Pabrik pengolahan limbah industri dan yang lainnya.

3. Fasilitas Penunjang

Dengan perkembangan seluruh kegiatan industri perikanan yang ada di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, maka fasilitas penunjang yang ada tidak akan mencukupi lagi, maka diperlukan pengembangan fasilitas ini antara lain : (1) Pembangunan perkantoran, gedung pertemuan, gedung olah raga dan Mesjid; (2) Pengembangan Perumahan karyawan; (3) Pembangunan poliklinik/puskesmas; (4) Pembangunan areal pertokoan meliputi perlengkapan alat tangkap ikan, suku cadang mesin kapal, Waserba, Wartel, dan Warnet.

Kajian Pengembangan

1. Potensi Pengembangan Sejak terjadinya krisis moneter, pemerintah telah berupaya untuk menjadikan sektor perikanan sebagai

salah satu primadona devisa negara. Upaya tersebut dituangkan dalam PROTEKAN 2003, yang dalam industri penangkapan ikan mencakup antara lain: pengolahan produksi perikanan. Upaya tersebut berorientasi pasar terutama pasar ekspor, sehingga diperlukan penanganan tangkapan ikan agar hasilnya dapat memenuhi standar internasional. Dengan demikian modernisasi teknologi penangkapan dan handling merupakan syarat. Potensi pengembangan yang terdapat di Pelabuhan Perikanan Samdera Bungus adalah sebagai berikut :

1. Pelabuhan Perikanan Bungus dengan klasifikasi Pelabuhan Perikanan Samudera (Tipe A).

2. Kawasan Industri yang terdapat pada Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus belum dimanfaatkan.

3. Mengunakan alat tangkap yang

modern. Ditinjau dari klasifikasi pelabuhan perikanan bertipe A, diharapkan dapat meningkatkan kegiatan operasional Pelabuhan Perikanan Samudera

Bungus. Dengan mengunakan alat tangkap yang modern dapat meningkatkan hasil tangkapan yang nantinya bisa memanfaatkan kawasan industri yang belum digunakan.

2. Kendala Kendala yang dihadapi pada Pelabuhan Perikanan Samudera

Bungus untuk mencapai hal tersebut diatas adalah sebagai berikut :

1. Kapasitas penangkapan yang terbatas (kecil) karena armada kapal yang tediri dari kapal berukuran kecil (kapal tonda) dan peralatan tangkap terbatas.

2. Masalah hygenitas yang terbatas karena rendahnya kualitas lingkungan di pelabuhan.

3. Kondisi pelabuhan beserta fasilitas yang dibawah standar

4. Kemampuan pemasaran yang terbatas.

3. Alternatif Pengembangan

Alternatif pengembangan yang dapat dilakukan adalah :

1. Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus.

2. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia khususnya karyawan Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus.

3. Pembangunan atau penambahan fasilitas pelabuhan yaitu fasilitas fungsional seperti pabrik es, cold storage dan fasilitas penunjang.

4. Menggunakan alat tangkap yang modern dalam menagkap ikan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:

1. Secara umum tingkat operasional Pelabuhan Perikanan Samudera

Bungus masih belum memadai bila dikaitkan dengan standar klasifikasi suatu Pelabuhan Perikanan Samudera.

2. Fasilitas yang ada di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus baik fasilitas pokok, fasilitas fungsional maupun fasilitas penunjang sampai saat ini masih dalam kondisi yang baik.

3. Aktifitas perusahaan perikanan yang berada di lokasi Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus masih belum menunjukkan peranan yang berarti dalam meningkatkan operasional pelabuhan, karena tingkat pelayanannya belum optimal.

Saran

1. Dalam peningkatan operasional Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, perlu adanya dukungan dari instansi terkait seperti Pemda, Dinas Perikanan, KUD Mina dan Adpel Teluk Bayur.

2. Dengan tersedianya fasilitas yang memadai di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, diharapkan dapat mendorong minat investor untuk menanamkan modalnya di Bungus, terutama untuk investor kapal-kapal Tuna Long Line. Karena dengan adanya kapal-kapal tersebut dapat menggunakan Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus sebagai basis untuk penangkapan dan pengolahan ikan, maka operasional Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus akan meningkat, dengan demikian akan dapat memberikan dampak positif dalam menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar pelabuhan.

3. Diharapkan kepada Pemda untuk meminta bantuan kepada Pemerintah Pusat agar mengoperasian Cold Storage dan membangun pabrik es.

Daftar Pustaka

Anonimous, 1981. Standar Rencana Induk dan Pokok-Pokok Desain Untuk Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.

Dirjen Perikanan. 1994. Pelabuhan Perikanan Wahana Penyaluran Investasi Usaha Departemen Pertanian, Jakarta.

, Tahun 1997/1998 Pelabuhan Periknan Nusantara Bungus. Depertemen Pertanian, Padang.

1998, Laporan

Maaroef,

Lintas

Keragaaan dan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, Departemen Kelautan dan Perikanan Dirjen Perikanan Tangkap. Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus. Padang.

A.

2001.

Sekilas