Anda di halaman 1dari 6

Review Jurnal Property Rights

Hak Ulayat Laut di Era Otonomi Daerah Sebagai

Solusi Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan : Kasus

Awig-Awig d Lombok Barat


Akhmad solihin dan Arif Satria

Pada dasarnya pembangunan perikanan yang ada di Indonesia banyak mengalami kegagalan.

Kegagalan tersebuat dipenagaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu doktrin common property dll. Di

dalam jurnal ini menjelaskan tentang adanya hak ulayat yang di miliki oleh masyarakat Lombok Barat.

Terbentuknya konflik ini dikarennakan faktor ekologisnya , lingkungan politik legal dan lain-lain. Haka ulayat

sendiri artinya adalah kewenangan, yang menurut hukum adat, dimiliki oleh masyarakat hukum adat atas

wilayah tertentu yang merupakan lingkungan warganya, di mana kewenangan ini memperbolehkan

masyarakat untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah, dalam wilayah tersebut bagi

kelangsungan hidupnya. Kearifan lokal merupakan bagian dari konsepsi hukum adat tentang hak-hak atas

tanah dan air. Hukum adat dirumuskan sebagai konsepsi yang komunalistik, religius, yang memungkinkan

penguasaan tanah secara individual, dengan hak-hak atas tanah yang bersifat pribadi, sekaligus mengandung

unsur kebersamaan (Boedi Harsono, 1997).

Hak ulayat memiliki paling sedikit 3 unsur pokok, yaitu:

1. Masyarakat hukum sebagai subjek hak ulayat;

2. Institusi kepemimpinan yang memiliki otoritas publik dan perdata atas hak ulayat;
3. Wilayah yang merupakan objek hak ulayat, yang terdiri atas tanah, perairan, dan segenap sumber daya

alam yang terkandung didalamnya. Wilayah adat yang mereka diami merupakan warisan dari nenek moyang

yang secara turun temurun diwariskan.

Hak memiliki atau mengelola dari masyarakat adat menekankan pada 3 (tiga) elemen mendasar, yaitu:

1. Otoritas hukum untuk mengelola lingkungan.

2. Otoritas penuh untuk menentukan nasib sendiri.

3. Hak untuk memberikan persetujuan terhadap setiap rencana kegiatan/kebijakan negara yang berdampak

pada nasib masyarakat itu sendiri. Saat ini, hubungan antara sumberdaya laut dan pesisir dengan kewenangan

pengelolaan masyarakat adat mulai menjadi perhatian dan kepentingan dari pemerintah dan pembuat

kebijakan. Selain itu, beberapa inisiatif dari masyarakat dan dorongan dunia internasional mulai bermunculan

untuk mendukung masyarakat nelayan walaupun hukum nasional yang spesifik, kebijakan-kebijakan, dan

instrumen hukum lainnya yang mengakui kewenangan pengelolaan masyarakat adat terhadap sumber daya

laut dan pesisir belum terdapat di Indonesia. Namun pelaksanaan otonomi daerah dan pelimpahan

kewenangan yang sekarang ini sedang di lakukan oleh pemerintah pusat kepada daerah merupakan langkah

yang cukup menjanjikan serta mengkhawatirkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut dan pesisir

oleh masyarakat adat, walaupun hal ini masih perlu dilihat lebih jauh lagi. Salah satu keraifan lokal yang

sangat menarik untuk di bahas yaitu kearifan lokal masyarakat Lombok Barat provinsi NTB yang di sebut

dengan Awig-awig alam kasus ini, dapat dilihat bahwa ternyata aturan-aturan yang dibuat pemerintah tanpa

mempertimbangkan konteks sosial di daerah ini mampu menciptakan instabilitas. Dengan sistem

desentralistik saat ini, Lombok bangkit untuk memperbaiki sumber daya kelautan dan perikanannya melalui

pembuatan awig-awig. Awig-awig adalah aturan yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama demi

menciptakan ketertiban. Dimana diketahui bahwa di wilayah ini sering terjadi konflik sebelum awig-awig

diberlakukan. Menurut sudut pandang sosiologi hukum, hukum yang dibuat harus melihat segala bentuk
aturan yang berkembang di masyarakat itu sendiri, harus adil dan tidak memihak. Sebelum awig-awig dibuat,

masyarakat Lombok masih menggunakan aturan dari pemerintah yang dirasakan sangat memberatkan dan

memihak pada pemerintah dan penguasa sehingga terjadilah banyak konflik dan peningkatan kerusakan

ekosistem air laut. Oleh karena itu, produk hukum harus betul-betul melihat konteks sosial di masing-masing

wilayah agar efektivitas hukum dapat berjalan dengan baik bukan malah mempersulit masyarakat. Karena

pada dasarnya hukum berfungsi sebagai alat kontrol sosial untuk mempermudah dan menciptakan ketertiban

di dalam masyarakat.

b. Awig awig sebai pengatur sistem perikanan berkelanjutan

Dalam pelaksanaanya Awig awig bisa dikatakan sebagai sistem hukum adat yang lebih kuat

kedudukanya dibandingkan hukum Negara . Karena dalam penegakannya semua unsur masyrakat ikut ambil

bagian dalam pengawasan pelaksanaanya, masyarakat tidak merasa terpaksa dengan aturan tersebut karena

memang hukum yang diterapkan di angkat berdasarkan atas kesadaran, kesepakatan dan kemauan

masyarakat setempat. Awig awig berperan dalam pengolahan sistem perikanan berkelanjutan karena

berperan dalam menjaga Ekosistem Laut. Hal hal yang di atur oleh awig awig seperti : tidak boleh menebang

hutan bakau, merusak terumbu karang, menggunakan alat tangkap yang merusak, menggunakan sianida, dan

larangan melakukan kegiatan perikanan pada wilayah yang telah di tetapkan.


Contoh nyata pengelolaan perikanan berbasis pemerintahan masyarakat

Pengelolaan berbasis masyarakat atau biasa disebut Community-Based

Management (CBM) menurut Nikijuluw 1994 dalam Zamani dan Darmawan 2000,

merupakan salah satu pendekatan pengelolaan sumber daya alam, misalnya perikanan,

yang meletakkan pengetahuan dan kesadaran lingkungan masyarakat lokal sebagai dasar

pengelolaannya.

Berikut merupakan contoh-contoh dari pengelolaan perikanan berbasis

pemerintahan masyarakat :

1. Tradisi Lebak Lebung di Propinsi Sumatera Selatan

Lebak lebung adalah suatu areal yang terdiri dari lebak lebung, teluk, rawa

dan atau sungai yang secara berkala atau terus menerus digenangi air dan secara

alami merupakan tempat bibit ikan atau biota perairan lainnya. Lelang Lebak

Lebung adalah sistem penentuan akan hak pengelolaan perairan umum (lebak

lebung).

2. Tradisi Ponggawa Sawi di Propinsi Sulawesi Selatan

Ponggawa adalah orang yang mampu menyediakan modal (sosial dan

ekonomi) bagi kelompok masyarakat dalam menjalankan suatu usaha (biasa

berorientasi pada skala usaha perikanan); sedangkan Sawi, bekerja pada

Ponggawa dengan memakai hubungan norma sosial dan kesepakatan kerja.

Pada sistem Ponggawa Sawi terdapat kesepakatan untuk menyerahkan atau

menjual hasil tangkapannya pada Ponggawa, dan bagian ini merupakan


mekanisme pembayaran pinjaman dari sawi kepada ponggawa jika sebelumnya

sawi mempunyai pinjaman.

3. Tradisi/Hukum Adat Sasi di Maluku

Sistem pengelolaan berbasis masyarakat untuk kedua sumber daya darat

dan laut umum ditemukan di Kepulauan Maluku Tengah dan Tenggara yang

dikenal dengan istilah sasi. Secara umum sasi merupakan ketentuan hukum adat

tentang larangan memasuki, mengambil atau melakukan sesuatu dalam suatu

kawasan tertentu dan dalam jangka waktu tertentu pula. Sasi dapat diartikan

sebagai larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu sebagai

upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati (hewani

maupun nabati) alam tersebut. Karena peraturan-peraturan dalam pelaksanaan

larangan ini juga menyangkut pengaturan hubungan manusia dengan alam dan

antar manusia dalam wilayah yang dikenakan larangan tersebut, maka sasi,

pada hakekatnya, juga merupakan suatu upaya untuk memelihara tata-krama

hidup bermasyarakat, termasuk upaya ke arah pemerataan pembagian atau

pendapatan dari hasil sumberdaya alam sekitar kepada seluruh warga/penduduk

setempat.