Anda di halaman 1dari 9

REVIEW JURNAL

Penulis Moch. Prihatna Sobari , Rilus A. Kinseng , Fatriyandi N


Priyatna
Judul Jurnal MEMBANGUN MODEL PENGELOLAAN
SUMBERDAYA PERIKANAN BERKELANJUTAN
BERDASARKAN KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI
MASYARAKAT NELAYAN : TINJAUAN SOSIOLOGI
ANTROPOLOGI
Latar Belakang Terdapat dua pendapat tentang konsepsi laut yang sangat
mendasar, terutama tentang permasalahan kepemilikannya
(claim property). Pendapat pertama menyatakan bahwa laut
adalah common property (milik bersama), sedangkan
pendapat lainnya menyatakan bahwa laut dapat dimiliki oleh
suatu bangsa (state property). Atas dasar pemikiran laut
adalah milik bersama (common property) menyebabkan suatu
permasalahan yang sering dikenal sebagal suatu tragedy of
the common, yaltu terjadinya pengelotaan berdasarkan
prlnslp-prlnslp open access, sehlngga yang terjadi adalah
eksploltasl sumberdaya (Hardin dlacu dalam Bromley 1991).
Regim pengelolaan sumberdaya yang terjadi selama ini
kurang atau tidak melibatkan sarna sekal masyarakat
setempat (local users). Regim sentralistik mengakibatkan
rendahnya pengawasan, hal Ini karena terlalu sedikitnya
aparat dan sangat luasnya daerah yang harus diawasi. Daerah
yang mempunyai hak ulayat (kearifan lokal) telah
memberikan kontrlbusi yang cukup besar terhadap
pengelolaan sumberdaya laut yang sustainable dan dapat
memberikan kehldupan yang lebih baik bagi anggota
masyarakatnya. Sayangnya tldak semua daerah di Indonesia
mempunyai nilal-nital keartfan lokal yang termanlfestasl
dalam sebuah hak ulayat (hak adat) dalam pengelolaan
sumberdayanya, lalu bagalmana dengan daerah yang tidak
mempunyai hak ulayat laut dalam perencanaan pengelolaan
sumberdayanya?
Tujuan -Melihat potensi masyarakat daerah di dalam melaksanakan
pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan
-Menndeskripslkan secara detail tentang latar belakang, sifat
serta karakter yang khas dart subjek penelitian.
Makalah Ini didasarkan atas hasll penelitian dengan
Metode menggunakan metode field research, yaitu metode penelitian
sosial yang menggunakan pengamatan langsung terhadap
status subjek penelitian pada kondlsi yang sebenarnya.
Perhitungan -
Model Sosiologi Antropologi
Analisis Data Dalam penelitlan Ini, data yang didapat,dianalisls dengan
menggunakan teknik tabulasi dan deskriptif kualitatif. Data
yang didapat juga akan dianalisls dengan menggunakan teori-
teon yang berhubungan dengan karakterlstik sosial-ekonomi
dan pengelolaan sumberdaya.
Hasil Sebagal suatu sumberdaya yang bersifat common property
dan berada pada suatu tempat yang tldak mudah untuk
dlplsahkan atau dlbagi-bagikan, pemanfaatan sumberdaya
yang dilakukan seorang indlvldu akan berpengaruh pada
Indlvidu yang lain. Oilema lalnnya adalah adanya
eksternalltas teknologi. Kondlsl inl terjadl ketlka nelayan
saling melakukan Intervensl di lokasl penangkapan Ikan yang
pada akhirnya sering mengaklbatkan munculnya konflik antar
nelayanMasyarakat nelayan dl daerah Inl
mengldentifikaslkan beberapa hal yang menyebabkan
semakin sulitnya sumberdaya Ikan diperoleh, dlantaranya
adalah karena semakln banyaknya nelayan yang beroperasl
serta ada yang berpendapat bahwa penggunaan motor tempel'
menyebabkan keblsingan yang mengaklbatkan. "Iarinya
ikan Sebuah implikasi yang wajar dari pandangan
masyarakat atas konsepsi open accses dan common property
terhadap sumberdaya yang dikelola dan dihadapl. Sistem
pengelolaan yang sentralistis juga memberlkan dampak
terhadap doktrin sumberdaya yang open access.. Open access
memberlkan gambaran bahwa tldak adanya yang bertanggung
Jawab (users)dalam pemeliharaan kelestarian sumberdaya
karena masyarakat bebas untuk menangkap dimana
sajaprinsip pengelolaan open access biasanya menempatkan
masing-masing users sebagai pesalng, hal Inl disebabkan oleh
pemikiran, jika masyarakat tidak mengambilnya terlebih
dahulu, maka orang lain yang akan mengambilnya. Hal Ini
tidak terlalu terasa di daerah Desa Karangjaladrl, masyarakat
maslh menyimpan dan memiliki perasaan komunal yang
cukup tinggi. Pengelolaan yang bersifat open access yang
terjadi di Desa Karangjaladri sangat kental terasa. Balk
masyarakat dan pemerintah daera.h tldak memberikan
batasan-batasan atas sumberdaya laut yang ada di
.daerah.Jamlnan soslal merupakan suatu bentuk pola adaptasl
darl masyarakat ketlka dihadapkan pada permasalahan akan
keterbatasan akses terhadap sumberdaya. Jamlnan sosial yang
muncul ketika masyarakat dihadapkan pada kenyataan yang
tidak memberlkan kepastlan, maka hubungan patron-klien
juga merupakan konsekuensi dari sifat kegiatan penangkapan
yang penuh dengan resiko dan ketidakpastian. Pola hubungan
yang terjadi antara juragan dengan pandega berslfat tidak
menglkat namun saling membutuhkan dan juga bersifat
simetris. Jaminan sosial lainnya yang terjadi di Desa
Karangjaladri adalah seperti kegiatan arisan, simpan plnjam
desa, simpanan di KUD, ikut serta di dalam keanggotaan
kelompok nelayan pada RN (Rukun Nelayan) dan kegiatan
keagamaan.
Simpulan Kearifan lokal yang dikatakan dapat mendukung usaha-usaha
pengelolaan sumberdaya laut di daerah Desa Karangjaladri,
antara lain adalah :
(1) adanya larangan untuk melakukan aktivltas penangkapan
ikan pada setiap hari Jum'at.
(2) perasaan sebagai bagian dari suatu komunltas untuk
tujuan pemerataan sumberdaya. Nelayan yang memiliki
tingkat teknologi yang leblh tinggi biasanya akan
menghindari daerah penangkapan yang sama dengan nelayan
tradlslonal (dayung).
(3) masyarakat nelayan mengizinkan bagl nelayan darl daerah
luar untuk menangkap Ikan dl daerah mereka dengan syarat
mereka menghormati seluruh masyarakat yang tinggal di
daerah Desa Karangjaladri dan menggunakan alat tangkap
yang tldak meruglkan nelayan-nelayan dari daerah setempat.
(4) adanya kesepakatan bagi para pelaku hal-hal yang
merugikan nelayan lain, seperti aktivitas pencurian Ikan dan
alat tangkap serta perusakan alat tangkap.
Review/Komentar Jurnal dapat dikatakan sudah bagus dengan struktur yang
lengkap dari latar belakang hingga kesimpulan, data yang
diperoleh juga diperkuat oleh teori-teori yang berhubungan
dengan karakteristik sosial ekonomi pengelolaan sumberdaya.
Contoh nyata pengelolaan perikanan berbasis pemerintahan
masyarakat
Berikut merupakan contoh-contoh dari pengelolaan perikanan berbasis
pemerintahan masyarakat :
1. Tradisi Lebak Lebung di Propinsi Sumatera Selatan
Lebak lebung adalah suatu areal yang terdiri dari lebak lebung, teluk, rawa
dan atau sungai yang secara berkala atau terus menerus digenangi air dan secara
alami merupakan tempat bibit ikan atau biota perairan lainnya. Lelang Lebak
Lebung adalah sistem penentuan akan hak pengelolaan perairan umum (lebak
lebung).

2. Tradisi Ponggawa Sawi di Propinsi Sulawesi Selatan


Ponggawa adalah orang yang mampu menyediakan modal (sosial dan
ekonomi) bagi kelompok masyarakat dalam menjalankan suatu usaha (biasa
berorientasi pada skala usaha perikanan); sedangkan Sawi, bekerja pada
Ponggawa dengan memakai hubungan norma sosial dan kesepakatan kerja. Pada
sistem Ponggawa Sawi terdapat kesepakatan untuk menyerahkan atau menjual
hasil tangkapannya pada Ponggawa, dan bagian ini merupakan mekanisme
pembayaran pinjaman dari sawi kepada ponggawa jika sebelumnya sawi
mempunyai pinjaman.

3. Tradisi/Hukum Adat Sasi di Maluku


Sistem pengelolaan berbasis masyarakat untuk kedua sumber daya darat
dan laut umum ditemukan di Kepulauan Maluku Tengah dan Tenggara yang
dikenal dengan istilah sasi. Secara umum sasi merupakan ketentuan hukum adat
tentang larangan memasuki, mengambil atau melakukan sesuatu dalam suatu
kawasan tertentu dan dalam jangka waktu tertentu pula.Sasi dapat diartikan
sebagai larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu sebagai upaya
pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati (hewani maupun
nabati) alam tersebut. Karena peraturan-peraturan dalam pelaksanaan larangan ini
juga menyangkut pengaturan hubungan manusia dengan alam dan antar manusia
dalam wilayah yang dikenakan larangan tersebut, maka sasi, pada hakekatnya,
juga merupakan suatu upaya untuk memelihara tata-krama hidup bermasyarakat,
termasuk upaya ke arah pemerataan pembagian atau pendapatan dari hasil
sumberdaya alam sekitar kepada seluruh warga/penduduk setempat.

4. Pengelolaan Rajungan di Betahwalang


Desa Betahwalang, Kabupaten Demak merupakan wilayah memiliki
potensi perikanan tangkap terkhusus yaitu rajungan. Rajungan merupakan suatu
komoditas ekspor yang sangat diminati oleh pasar dunia, karena memiliki nilai
ekonomi tinggi.
3 unsur utama peranan penting dalam pengelolaan rajungan yaitu:
1. Pemerintah
2. Swasta
3. Masyarakat nelayan
Dalam kasat mata, pemerintah dan swasta dominan terhadap masyarakat
nelayan, namun sesungguhnya ketiga unsur ini saling berkompetisi dalam hal
akses dan kontrol sumberdaya, penerapan kebijakan dan kekuasaan, serta dalam
mewujudkan kepentingan-kepentingan. Ketiganya melakukan politisasi dalam
penerapan strategi yang paling menguntungkan baginya. Kompetisi tersebut dapat
berujung konflik (terbuka atau terselubung), namun bisa juga terjadi
kerjasama/kolaborasi.

Sistem pengelolaan rajungan di Desa Betahwalang


Sejak dahulu sistem pengelolaan rajungan yang diterapkan di Desa
Betahwalang belum memiliki aturan atau tatanan yang teratur dalam aktivitas
penangkapan rajungan. Sehingga jika sistem seperti ini tetap dipertahankan dapat
mengakibatkan overfishing yang kemudian ketersediaan rajungan di perairan Desa
Betahwalang terganggu. Beberapa kebiasaan yang dipakai msyarakat
Betahwalang dalam pengelolaan rajungan diantaranya :
1. Aktivitas penangkapan rajungan yang dilakukan setiap hari sepanjang
waktu dengan menggunakan berbagai jenis alat tangkap yaitu arad, bubu,
dan gillnet.
2. Penggunaan alat tangkap arad yang dikenal tidak ramah lingkungan terus
dibiarkan meskipun sudah dilarang penggunaannya menurut undang-
undang.
3. Belum adanya aturan yang membatasi ukuran rajungan yang boleh
ditangkap, sehingga rajungan muda yang seharusnya tidak boleh ditangkap
ikut tertangkap.
4. Belum adanya program pembenihan rajungan untuk tetap menjaga
populasi rajungan di Desa Betahwalang tetap terjaga.
5. Tidak ada area perlindungan dimana di area tersebut bisa dijadikan untuk
pembenihan rajungan yang masih berusia muda.

APRI (Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia) memilih Desa


Betahwalang sebagai langkah awal untuk memulai program pengelolaan rajungan
yang diharapkan mampu menyelamatkan rajungan yang menjadi komoditas utama
daerah tersebut agar terus bertahan berkelanjutan untuk masa yang lebih lama.
APRI bekerjasama dengan FPIK UNDIP dan BBPI Semarang dibawah Direktorat
Jendral Perikanan Tangkap bersama para nelayan telah sepakat untuk ditetapkan
daerah konservasi rajungan.
Langkah nyata yang dilakukan APRI dan semua pihak tersebut yaitu:
1. Penyuluhan dan memberi kesadaran kepada masyarakat Desa Betahwalang
terkait dengan pentingnya pengelolaan rajungan.
2. Bekerjasama dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah desa
dan pihak lain yang mempunyai pengaruh besar di masyarakat untuk
memberikan kesadaran untuk pengelolaan rajungan.
3. Melakukan upaya nyata dengan membuat kesepakatan untuk menukar alat
tangkap arad yang digunakan oleh nelayan dengan alat tangkap bubu yang
lebih ramah lingkungan.
4. Melakukan upaya nyata dengan membangun sarana prasarana untuk
pembenihan rajungan.
5. Melakukan upaya nyata dengan membangun RCPA (Rajungan Closed and
Protected Area) di lokasi perairan Desa Betahwalang.
6. Membuat peraturan tentang ukuran minimum rajungan yang boleh
ditangkap dan pelepasan kembali rajungan betina yang tertangkap dalam
keadaan sedang bertelur.
7. Berupaya membuat kesepakatan atau peraturan desa yang isinya
mewajibkan masyarakat Desa Betahwalang untuk ikut berperan dalam
pengelolaan rajungan yang berbentuk pengaturan aktivitas penangkapan
dan larangan-larangan yang harus ditaati.
8. Mengupayakan peraturan desa yang telah dibuat nantinya menjadi
peraturan daerah Kabupaten Demak agar diterapkan untuk mewujudkan
pengelolaan rajungan yang berkelanjutan.

Peranan pemerintah dalam pengelolaan rajungan yang berkelanjutan


Dalam pengelolaan sumberdaya kelautan mempunyai tantangan berbagai
aspek, antara lain pengembangan kelembagaan, sumberdaya manusia,
peningkatan sarana dan prasarana, penerapan perencanaan pengelolaan terpadu,
pemanfaatan sistem informasi dan teknologi, serta pengembangan ilmu kelautan,
yang semua ditunjukan untuk memanfaatan sumberdaya kelautan secara optimal
dan berkesinambungan. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan
pengembangan konsep-konsep pengelolaan sumberdaya kelautan yang dapat
diimplementasikan di lapangan berdasarkan suatu pengaturan tata ruang wilayah
laut yang ramah lingkungan. Tuntutan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya
perikanan laut secara lestari serta pemberdayaan masyarakat lokal yang
berhubungan langsung dengan sumberdaya tersebut merupakan bagian dari
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang telah menjadi agenda
internasional. Hal itu antara lain ditandai dengan disetujuinya berbagai konvensi
atau deklarasi internasional, seperti Agenda 21 dan Declaration of the Right of
Indigeneous Peoples

Kebijakan pemerintah Desa Betahwalang dalam Pengelolaan rajungan yang


berkelanjutan
Pemerintah Desa Betahwalang telah berupaya keras turut serta dalam
pengelolaan rajungan yang berkelanjutan. Dalam setiap tindakan atau kebijakan
yang dipakai menggabungkan beberapa faktor positif dan negatif terhadap nelayan
penangkapan rajungan maupun masyarakat secara luas dan tetap memperhatikan
aspek-aspek kelestarian lingkungan perairan Betahwalang.
Kebijakan dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah Desa Betahwalang
untuk mewujudkan pengelolaan rajungan yang berkelanjutan tertuang dalam
Peraturan Desa Betahwalang yang intinya terperinci sebagai berikut:
No. Ruang Lingkup Keterangan
1. Wilayah Pengelolaan Meliputi seluruh wilayah pesisir dan laut termasuk
administrasi Desa Betahwalang.
2. Kawasan Perlindungan Lokasi sepanjang pantai Desa Betahwalang
Untuk melindungi sumberdaya rajungan
3. Larangan Dilarang keras melakukan kegiatan penangkapan
ikan yang merusak lingkungan yaitu dengan bahan
beracun, setrum, obat bius, pukat harimau (arad,
sodo, garuk) dan atau bom ikan.
4. Sanksi Penyitaan, denda dan pidana.
5. Tugas dan tanggung jawab Pemerintah, masyarakat Desa Betahwalang, lembaga
pengelolaaan pengelola

Manajemen Kolaboratif untuk Pengelolaan Rajungan yang Berkelanjutan di


Desa Betahwalang
Manajemen kolaboratif yang akan diterapkan di Desa Betahwalang adalah
hasil dari kajian tentang rajungan yang dilakukan oleh APRI (Asosiasi Pengelola
Rajungan Indonesia) bekerjasama dengan tim peneliti Universitas Diponegoro dan
kemudian akan dirumuskan oleh pemerintah Desa Betahwalang. Tujuan dari
manajemen kolaboratif ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada
masyarakat betahwalang khususnya untuk melestarikan rajungan. Dalam jangka
panjang jika manajemen kolaboratif ini menghasilkan hasil yang optimal akan
diterapkan pula pada daerah potensiap penghasil rajungan lainnya di Indonesia.
Adapun manajemen kolaboratif tersebut terencana dalam beberapa
program yang dibentuk adalah sebagai berikut.
No Permasalahan Solusi Pihak yang Teribat

1 Ketersediaan - Membatasi aktivitas penangkapan >Nelayan


rajungan menurun rajungan >Pemerintah Desa
2 Kerusakan habitat -Melarang keras penggunaan arad >Nelayan
rajungan -Mengganti alat tangkap arad >APRI
dengan bubu >Pemerintah Desa
3 Hasil tangkapan -Membuat aturan tetap tentang >Nelayan
rajungan muda batas ukuran minimal rajungan >Tim Peneliti
terbuang yang boleh ditangkap >APRI
>BBPI
>Pemerintah Desa

4 Belum ada upaya - Program pembenihan rajungan >Nelayan


pembenihan - Pembangunan area perlindungan >APRI
rajungan - Pembatasan penangkapan >Pemerintah Desa
rajungan yang sedang bertelur
5 Kesadaran - Sosialisasi peraturan desa >Nelayan
masyarakat rendah - Penyuluhan tentang pengelolaan >APRI
rajungan berkelanjutan >Tim peneliti
>Tokoh agama
>Pemerintah Desa
Pengawasan di tingkat Desa sangat diperlukan sehingga pada tahun 2013 APRI
membentuk LP2RL(Lembaga pengelolaan Perikanan Rajungan Lestari) di
Betahwalang. Fungsi dan Tugas LP2RL adalah menjaga kelestarian rajungan dan
kesejahteraan nelayan di Desa Betahwalang