Anda di halaman 1dari 11

Tanaman tebu dikenal memiliki kemampuan untuk tumbuh kembali dan

mengulang siklus hidupnya. Artinya setelah ditebang tebu mampu berproduksi


kembali tanpa harus menanam bibit baru. Biasanya hanya mampu maksimal
sampai 4 siklus saja untuk menghasilkan produksi optimal. Dengan adanya
kemampuan tanaman tebu seperti ini, maka usahatani tebu yang dilakukan oleh
petani responden ada dua jenis, yaitu produksi tanaman tebu yang sudah ada
(keprasan) dan petani yang menanam bibit baru, biasa dinamakan bongkar ratoon
(Syakir 2010). Umumnya, tanaman tebu akan masak pada umur 1 tahun.
Perawatan intensif pada tanaman tebu hanya dilakukan saat usia 0-3 bulan.
Selanjutnya pemeliharaan tanaman yang diperlukan hanya klentek saja.

Penyewaan lahan

Luas lahan yang direncanakan untuk usahatani tebu sebesar 1 Ha. Lahan yang
dipilih berupa lahan kering agar rendemen yang diperoleh tinggi, karena tanaman
tebu dalam kondisi kering yang cukup lama, namun tetap dekat dengan sumber air
dan subur. Akses menuju lahan mudah dan baik, sehingga mempercepat dalam
proses pengangkutan saat panen serta mengurangi biaya tebang angkut. Selain itu
letak lahan yang berdekatan dengan lahan tebu lainnya akan mengurangi biaya
angkut dan sewa traktor. Lahan yang akan ditanami harus diperoleh minimal satu
bulan sebelum tanam untuk persiapan pengolahan lahan.

Perencanaan tanam

Penanaman dilakukan pada bulan Mei, Juni atau maksimal pada bulan Juli,
karena umumnya proses giling pabrik gula pada bulan Juli sampai Oktober,
mengingat tanaman tebu yang pada umumnya masak pada usia 1 tahun. Apabila
tebu terlalu muda maka rendemen rendah, sedangkan apabila tebu yang telah
masak tidak segera dipanen maka rendemen akan turun.

Proses penanaman akan dilakukan pada bulan Juli, sehingga varietas yang
akan ditanam varietas masak lambat yaitu BL (Bulu Lawang). Bibit yang
digunakan berupa bibit bagal atau stek dengan dua sampai tiga mata tunas, yang
diperoleh dari KBD dan telah disertifikasi.
Pembuatan letak petak/blok. Berdasarkan pengolahan tanah, panjang got dan
jumlah lubang per hektar dapat diperkirakan sebagai berikut:

a) Got keliling : 200 meter

b) Got mujur : 150 meter

c) Got malang : 1.500 meter

d) Leng/lubang : 1.500 lubang.

Usahatani Tebu Pola Tanam (Non-Keprasan) dan Pola Keprasan


Pola usahatani tebu dilakukan berdasarkan dua pola yaitu pola non keprasan
dan pola keprasan. Pola tanam (non-keprasan) adalah pola budidaya tebu dengan
menggunakan bibit. Budidaya tebu pola tanam atau non-keprasan dimulai dengan
persiapan lahan. Kegiatan selanjutnya adalah persiapan tanam yang meliputi
pengolahan lahan dan pembuatan kair. Kair (leng) digunakan sebagai tempat
penanaman bibit tebu. Jarak antara kair adalah sekitar 1 meter dengan kedalaman
25 30 cm. Selain itu, dalam kebun dibuat jalan dengan jarak 30 - 40 cm dan
kedalaman 30 cm. Kegiatan selanjutnya adalah penanaman. Penanaman biasanya
berkisar pada bulan Oktober sampai bulan November. Hal ini dikarenakan pada
saat penanaman tebu membutuhkan air yang cukup sehingga tebu baru bisa
ditanam pada musim hujan untuk mendapatkan air. Bibit yang akan ditanam
sebaiknya sudah melalui seleksi terlebih dahulu. Bibit yang telah disiapkan lalu
ditanam mendatar dengan posisi mata disamping dan ditutup tanah sedalam
diameter tebu yang sekitar 2 cm.

Kegiatan yang dilakukan setelah penanaman adalah pemeliharaan tebu


meliputi pemupukan, penyulaman, pembumbunan, penyiangan dan klentek.
Pemupukan dilakukan bersama sama waktu menanam agar pertumbuhan akar
maupun tunas lebih cepat dan kuat. Hal ini dilakukan dengan cara bibit diletakkan
pada alur bibit dan diikuti dengan pemberian pupuk lalu ditutup dengan tanah.
Penyulaman dapat dilakukan setelah satu bulan tanam. Pembumbunan biasanya
dilakukan 3 kali yang berguna untuk menggemburkan tanah dan untuk menutupi
pupuk. Penyiangan merupakan pembersihan gulma yang biasanya dilakukan
sebelum pemupukan. Sedangkan klentek merupakan legiatan perontokkan daun
kering dari tebu. Setelah tebu berumur 11 12 bulan tebu ditebang atau dipanen.

Tebu keprasan merupakan tanaman tebu yang tumbuh setelah tanaman


pertama ditebang atau dari sisa tanaman yang ditebang. Budidaya tebu kepras
dimulai setelah tebu ditebang. Setelah tebu ditebang, daun daun yang tak
terpakai dikumpulkan dan dibakar. Hal ini dilakukan agar mempermudah
pengeprasan. Pengeprasan tebu yaitu memotong batang tebu bekas tebangan
sampai kedalaman sekitar 20 cm dari atas permukaan tanah dengan menggunakan
cangkul dan tanah dibuat seperti bedengan. Pengeprasan sampai kedalaman
sekitar 20 cm dari atas permukaan tanah dimaksudkan supaya tebu yang nanti
akan tumbuh merupakan tebu anakan pertama dari tebu induknya sehingga tebu
yang nanti akan tumbuh diharapkan masih memiliki kualitas yang tak jauh
berbeda dari tebu induknya. Kualitas tebu yang baik dilihat dari besarnya
kandungan gula yang dapat dihasilkan oleh tebu tersebut. Setelah satu bulan dari
pengeprasan, tanaman tebu akan tumbuh anakan (tunas) lalu di pedhot oyot.
Kegiatan pedhot oyot atau putus akar yaitu memutuskan akar lama yang berfungsi
untuk merangsang pertumbuhan akar baru. Jarak pedhot oyot 15 cm dari tebu serta
15 cm untuk arah sebaliknya dengan menggunakan ganco. Kegiatan selanjutnya
adalah pemeliharaan tebu yang meliputi penyiangan, penyulaman, pemupukan,
pembumbunan dan klentek seperti pada tebu tanam.

Keragaan Usahatani

Kegiatan usahatani pada tebu non-keprasan meliputi persiapan lahan


(pengolahan tanah), penanaman, penyulaman, penimbunanan, perawatan,
pemupukan, penyemprotan dan tebang angkut. Sedangkan pada kegiatan
usahatani tebu keprasan, aktivitas yang dilakukan meliputi pembersihan kebun,
pengeprasan, penyulaman, pemupukan, perawatan, penyemprotan dan kegiatan
tebang angkut.
Kegiatan pengolahan tanah meliputi bajak 1, bajak 2, dan pembuatan jalur.
Pada kegiatan tanam, penggunaan bibit disesuaikan dengan masa tanam. Jenis
bibit yang digunakan masak lambat yaitu BL. Sedangkan pada pola keprasan,
petani tidak menggunakan bibit baru tetapi melakukan keprasan. Umur bibit yang
tertanam rata-rata 6 sampai 7 bulan. Aktivitas penyulaman dilakukan untuk
mengganti bibit yang mati atau tidak tumbuh dengan baik.
Kegiatan perawatan atau klentek (mengelupas daun yang kering) dilakukan
dua kali oleh petani yaitu untuk klentek ke-1 dilakukan pada bulan ke-5 sampai
dengan bulan ke-6, sedangkan untuk klentek ke-2 dilakukan pada bulan ke-7, ke-8
dan ke-9. Sebagian besar petani melakukan aktivitas penyemprotan setelah
klentek ini. Penyemprotan dilakukan dengan melihat ada tidaknya gulma setelah
klentek. Jenis obat yang digunakan oleh petani bermacam-macam antara lain
DMA, Gramason, Round Up, Gesapak, Karmex dan Andal.
Pupuk yang dianjurkan oleh pabrik terdiri dari 3 jenis yaitu pupuk Urea, TSP
dan KCL dengan dosis masing-masing 300 Kg per hektar. Pemupukan pertama
dilakukan pada bulan ke-2 sampai dengan bulan ke-3 dengan dosis 300 Kg pupuk
TSP dan 100 Kg pupuk Urea. Sedangkan untuk pemupukan kedua dilakukan pada
bulan ke-5 sampai dengan bulan ke- 6 dengan dosis pupuk KCL 300 Kg dan
pupuk Urea 200 Kg. Di daerah penelitian juga dijumpai pupuk lain yang
digunakan oleh petani yaitu pupuk NPK, pupuk Phonska, pupuk Kujang, pupuk
kandang serta kompos.
Penggunaan tenaga kerja pada usahatani tebu non-keprasan di daerah
penelitian meliputi kegiatan kegiatan persiapan lahan, penanaman, penyulaman,
pemupukan, klentek (melepaskan daun kering), penyemprotan dan tebang angkut.
Sementara kegiatan pada tebu kepras antara lain pembersihan kebun, pengeprasan,
penyulaman, pemupukan, klentek, penyemprotan dan tebang angkut.
Kegiatan usahatani menggunakan tenaga kerja pria, tenaga kerja wanita dan
traktor. Tenaga kerja pria mendominasi dalam setiap kegiatan usahatani tebu.
Sedangkan tenaga kerja wanita biasanya digunakan pada kegiatan pemupukan.
Traktor digunakan dalam kegiatan persiapan lahan, yaitu untuk bajak 1, bajak 2
dan pembuatan jalur. Penggunaan tenaga kerja sebagian besar dilakukan dengan
menggunakan system borongan. Tetapi ada beberapa petani yang menggunakan
tenaga kerja harian, yaitu saat proses pemupukan dan penyemprotan. Penggunaan
tenaga borongan dapat menghemat penggunaan tenaga kerja. Upah borongan
tenaga kerja pria pada setiap kegiatan dalam usahatani tebu antara Rp. 400-700
ribu per hektar. Sedangkan untuk upah borongan traktor berkisar antara Rp.
1.100.000 sampai Rp 1.300.000 rupiah per hektar. Upah harian untuk tenaga kerja
pria dan wanita berkisar antara 35 sampai dengan 50 ribu rupiah. Hitungan
konversi tenaga kerja borongan baik tenaga kerja pria, tenaga kerja wanita dan
tenaga kerja traktor adalah berdasarkan harga borongan per hektar dibagi dengan
upah tenaga kerja pria atau wanita per hari yang berlaku di daerah.

Biaya Usahatani Tebu


Biaya yang dikeluarkan oleh petani tebu terdiri dari dua macam, yaitu biaya tunai
dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai adalah biaya yang langsung
dikeluarkan oleh petani berupa uang tunai untuk menjalankan kegiatan usahatani
tebunya. Biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang tidak langsung dikeluarkan
atau diperhitungkan oleh petani. Dalam usahatani tebu ini, sebagian besar yang
dikeluarkan oleh petani adalah biaya tunai. Dikarenakan petani perlu
mengeluarkan biaya untuk menyewa traktor untuk mengolah lahan, sedangkan
peralatan yang digunakan (seperti cangkul, sabit, ganco) dibawa sendiri oleh para
tenaga kerja kebun, walaupun begitu tetap beberapa petani juga menyediakan
peralatan untuk digunakan oleh tenaga kerja kebun. Untuk penggunaan tenaga
kerja, seluruh petani menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga. Walaupun
begitu, ada beberapa petani yang menggunakan tenaga kerja dalam keluarga.
Biaya Tunai
Biaya tunai yang dikeluarkan oleh petani selama kegiatan usahatani tebu adalah
biaya bibit, biaya pupuk, biaya obat tanaman, biaya sewa lahan, biaya pajak lahan,
biaya tenaga kerja luar keluarga (TKLK), biaya pengairan, biaya tebang angkut,
dan biaya bunga pinjaman. Berikut adalah gambaran biaya tunai yang dikeluarkan
oleh petani selama berlangsungnya kegiatan usahatani tebu.
1. Biaya Bibit
Biaya bibit termasuk ke dalam biaya tunai karena seluruh petani
mendapatkannya dengan cara membeli. Petani membeli bibit ketika
melakukan tanam tebu baru (PC), pada saat masa tanam berikutnya hanya
menggunakan tunas tebu keprasan. Tebu keprasan hanya bisa dimanfaatkan
hingga 3-4 periode masa tanam berikutnya, setelah itu tebu harus ditanam
memakai tanaman baru kembali. Rata-rata penggunaan bibit per ha untuk
petani adalah 118 ku per ha.
2. Biaya Pupuk
Biaya pupuk termasuk di dalam komponen biaya tunai karena seluruh petani
mendapatkannya dengan cara membeli di koperasi maupun toko pertanian.
Untuk petani mitra, pupuk dibeli dengan memanfaatkan uang pinjaman yang
diberikan oleh PG. Biaya dan penggunaan pupuk bervariasi oleh masing-
masing petani responden dikarenakan petani mencari pupuk di berbeda tempat
dan menggunakan pupuk sesuai dengan keinginan mereka. Pupuk yang
digunakan oleh seluruh petani adalah campuran pupuk ZA dan Phonska, tetapi
ada juga petani yang memakai tambahan pupuk, seperti pupuk Petroganik
sebagai pupuk kandang/organik.
Rata-rata penggunaan pupuk ZA untuk petani mitra adalah 14 ku per ha. Rata-
rata penggunaan pupuk Phonska untuk petani mitra adalah 7 ku per ha. Rata-
rata penggunaan pupuk Petroganik oleh petani mitra adalah 20 sak per ha (1
sak petroganik = 40 kg).
3. Biaya obat tanaman
Biaya obat tanaman termasuk ke dalam biaya tunai karena petani
mendapatkan obat tanaman dengan cara membeli di toko pertanian. Tidak
semuanya petani menggunakan obat tanaman, dikarenakan tanaman tebu yang
cukup kuat walaupun tidak diberi obat sama sekali. Obat tanaman yang
digunakan petani biasanya obat untuk membunuh rumput liar (herbisida),
pestisida, dan pembasmi hama. Herbisida yang biasanya digunakan oleh
petani adalah Gramaxone, Amegras, Amexone, dan Starmine. Pestisida yang
digunakan adalah Roundup. Rata-rata penggunaan obat tanaman, petani
menggunakan sebanyak 2 liter
4. Biaya sewa lahan
Hampir seluruhnya petani mempunyai lahan sewa untuk dilakukan usahatani
tebu yaitu sebesar 98 persen, sehingga biaya sewa lahan termasuk ke dalam
biaya tunai yang dikeluarkan setiap kali musim tanam. Biaya sewa lahan
bervariasi, tergantung dari posisi lahannya, jauh atau dekat dari jalan raya
utama.
5. Biaya pajak lahan
Biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk pajak tanah (PBB) termasuk ke
dalam biaya tunai karena dibayarkan setahun sekali setiap musim tanam. Pajak
lahan biasanya dibayarkan oleh petani yang memiliki lahan milik sendiri. Ada
juga petani yang menyewa lahan tetapi sekaligus membayar pajak tanahnya
tergantung kesepakatan dengan pemilik lahan. Pajak yang dibayarkan
bervariasi sama seperti sewa lahan, yaitu tergantung letak lahan yang dekat
dengan jalan raya utama.
6. Biaya tenaga kerja luar keluarga (TKLK)
Sebagian besar petani responden baik petani mitra maupun non mitra
menggunakan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga. Biaya yang
dikeluarkan untuk tenaga kerja luar keluarga berupa upah, sehingga biaya
tenaga kerja luar keluarga termasuk biaya tunai.
7. Biaya pengairan
Sumber pengairan petani tebu mengandalkan air hujan, dikarenakan tanaman
tebu tidak perlu membutuhkan air yang sangat banyak, walaupun begitu tebu
juga membutuhkan air yang cukup untuk perkembangannya. Selain air hujan,
mengandalkan sistem pengairan sawah (irigasi) atau diesel. Biaya yang
dikeluarkan adalah iuran sewa diesel per jam per ha dan membeli bahan
bakarnya, sehingga termasuk dalam biaya tunai.
8. Biaya tebang angkut
Biaya tebang angkut adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk
melakukan seluruh kegiatan tebang angkut, seperti membayar jasa
pengangkutan berupa tenaga buruh tebang, sewa truk, bahan bakar truk, dan
biaya makan untuk buruh tebang. Sistem pembayaran untuk biaya tebang
angkut dengan cara borongan. Biaya borongan tebang angkut bervariasi,
tergantung dari bagaimana akses menuju lahan, apakah truk mampu masuk ke
lahan atau tidak dan juga jumlah ketersediaan tenaga tebang angkut.
9. Biaya sewa traktor
Traktor digunakan oleh petani pada saat kegiatan pengolahan lahan dan
pembumbunan ketiga (ipuk). Petani menyewa traktor kepada seseorang atau
petani lain yang mempunyai traktor, sehingga biaya untuk menyewa traktor
masuk ke dalam biaya tunai.

Biaya Non Tunai / Biaya Yang Diperhitungkan


Biaya non tunai atau biaya yang diperhitungkan dalam penelitian ini adalah biaya
tenaga kerja dalam keluarga (TKDK), biaya penyusutan peralatan kecil, dan biaya
lahan milik sendiri. Berikut adalah gambaran biaya yang diperhitungkan selama
berlangsungnya kegiatan usahatani tebu.
1. Biaya tenaga kerja dalam keluarga (TKDK)
Beberapa petani yang menggunakan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK).
Petani yang menggunakan TKDK hanyalah beberapa orang dari petani mitra,
sedangkan untuk petani non mitra tidak menggunakan TKDK. Bagi petani
yang tidak menggunakan TKDK, perhitungan biaya TKDK yang dianggap
adalah petani itu sendiri, yaitu satu orang saja. Penggunaan TKDK untuk
membantu hampir seluruh kegiatan usahatani, mulai dari awal hingga musim
tebang, baik itu pekerjaan yang ada di kebun maupun mengelola tenaga buruh
tani. Rata-rata biaya TKDK petani mitra adalah sebesar Rp 188 ribu per ha
2. Biaya penyusutan peralatan
Setiap peralatan dalam kegiatan usatani yang digunakan mempunyai umur
ekonomis masing-masing. Sebagian besar petani tidak memperhitungkan
biaya penyusutan dari peralatan pertanian yang dimiliki, padahal biaya
penyusutan harus dihitung karena penyusutan masuk di dalam biaya non tunai
atau biaya yang diperhitungkan. Peralatan yang dimiliki oleh petani adalah
peralatan kecil seperti cangkul, sabit, ganco dan garpu tanah. Petani
memfasilitasi alat-alat tersebut untuk digunakan tenaga kerja kebun. Tetapi
ada juga peralatan yang dibawa sendiri oleh tenaga kerja kebun, sehingga
petani tidak perlu menyiapkannya. Selain peralatan kecil, ada beberapa petani
yang memiliki truk sendiri sebagai transportasi untuk kegiatan tebang.
Sedangkan untuk peralatan besar lainnya seperti traktor, bajak, dan mesin
pompa air / diesel diperoleh dengan cara menyewa.
Hasil nilai penyusutan diperoleh dari nilai harga beli peralatan saat ini dibagi
perkiraan umur ekonomis peralatan tersebut. Biaya penyusutan yang dihitung
adalah nilai penyusutan peralatan per hektar dalam satu musim.

Tabel 1. Analisis Finansial Usahatani Tebu Non-Keprasan


TRK
Uraian Nilai Rata- Persen
Rata(Rp/Ha) (%)

A Penerimaan 30 955 910


B Biaya
B1 Biaya Diperhitungkan
Bibit 273 912 1.46
Pupuk Urea 456 321 2.43
Pupuk TSP 1 102 292 5.88
Pupuk KCL 1 308 372 6.98
Pestisida Padat 171 235 0.91
Pestisida Cair 242 268 1.29
Tenaga Kerja 10 445 979 55.72
Biaya Angkutan Tebu 1 833 448 9.78
Total Biaya Diperhitungkan 15 833 825
B2 Biaya Tidak Diperhitungkan
Bibit
Tenaga Kerja Dalam Keluarga 2 424 759 12.93
Penyusutan 242 343 1.29
Bunga Modal 191 689 1.02
PBB 53 347 0.28
Total Biaya Tidak Diperhitungkan 2 912 138
C Total Biaya Usahatani (B1+B2) 18 745 963
D Pendapatan Atas Biaya Tunai (A-B1) 15 122 085
E Pendapatan Tunai (A-C) 12 209 947
F R/C atas Biaya Tunai (A/B1) 1.96
G R/C atas Biaya Total (A/C) 1.65

Sumber: Data Primer, 2012

Tabel 2. Analisis Finansial Usahatani Tebu Keprasan


TRK
Uraian Nilai Rata- Persen
Rata(Rp/Ha) (%)
A Penerimaan 33 441 315
B Biaya
B1 Biaya Diperhitungkan
Bibit
Pupuk Urea 507 192 2.85
Pupuk TSP 1 221 195 6.86
Pupuk KCL 1 189 236 6.68
Pestisida Padat 163 057 0.92
Pestisida Cair 191 527 1.08
Tenaga Kerja 10 387 178 58.35
Biaya Angkutan Tebu 1 923 623 10.81
Total Biaya Diperhitungkan 15 583 008
B2 Biaya Tidak Diperhitungkan
Bibit 273 912 1.54
Tenaga Kerja Dalam Keluarga 1 479 386 8.31
Penyusutan 278 836 1.57
Bunga Modal 142 395 0.80
PBB 45 000 0.25
Total Biaya Tidak Diperhitungkan 2 219 529
C Total Biaya Usahatani (B1+B2) 17 802 536
Pendapatan Atas Biaya Tunai (A-
D 17 858 308
B1)
E Pendapatan Tunai (A-C) 15 638 779
F R/C atas Biaya Tunai (A/B1) 2.15
G R/C atas Biaya Total (A/C) 1.88
Sumber: Data Primer, 2012

Berdasarkan Tabel 1 dan Tabel 2 juga diketahui bahwa usahatani tebu di daerah
penelitian baik pola tanam non-keprasan maupun keprasan masih layak secara finansial
untuk diusahakan karena memiliki nilai RC > 1.
DAFTAR PUSTAKA

Syakir M. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Tebu. Jakarta (ID): ESKA Media.

Cahyarubin, Aji. 2016. Analisis Pendapatan Usahatani Tebu Petani Mitra dan
Non Mitra PG Rejoagung Baru, Kabupaten Madiu (skripsi). Bogor. Institut
Pertanian Bogor

Khirul, Aziz, Husyairi. 2012. Analisis Efisiensi Produksi Tebu Rakyat di Wilayah
Kerja PTPN VII Unit Usaha Bungamayang Kabupaten Lampunh Utara
Provinsi Lampung (skripsi). Bogor. Institut Pertanian Bogor

Rahdiansyah, Jummy. 2010. Optimalisasi Biaya. Depok. Universitas Indonesia

Buku Aplikasi Budidaya Tebu PTPN X-2017

M. Syakir, S. Deciyanto, S. Damanik. 2013. Analisa Usahatani Budi Daya Tebu


Intensif, Studi Kasus di Kabupaten Purbalingga. Bogor. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan