Anda di halaman 1dari 65

Laporan Praktikum

Quality Control Pemeriksaan Kadar Protein Serum


Metode Biuret Menggunakan Fotometer 4010
di Laboratorium Kimia Klinik

Kelompok : B1 A
Kelas : D-IV B
Semester : VI (Enam)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLTEKKES MATARAM
ANALIS KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV
MATARAM
2016/2017

Nama Anggota Kelompok :


1. Aeni Halawiya (P07134114050)
2. Ahmad Busyairi Asgar (P07134114051)
3. Anisa Noviana (P07134114052)
4. Aprilia Prastika (P07134114053)
5. Ari Kurniawati (P07134114054)
6. Baiq Arum Palawangan (P07134114056)
7. Baiq Evianita Putri (P07134114057)
8. Buana Putri Ayu (P07134114058)
9. Diah Ayu Rizki. S (P07134114059)
10. Divika Suci (P07134114060)
11. Emaliana (P07134114061)
12. Esti Amelia Utari (P07134114062)
Quality Control Pemeriksaan Kadar Protein Serum Metode
Biuret Menggunakan Fotometer 4010
di Laboratorium Kimia Klinik

I. Tujuan

Tujuan Quality Control Pemeriksaan Kadar Protein Total Metode Biuret


a) Untuk mengetahui mutu pemeriksaan kadar protein total metode biuret yang
dilakukan
b) Untuk meningkatkan mutu pemeriksaan kadar protein total meode biuret yang
dilakukan

II. Prinsip

a) Prinsip Pemeriksaan
Ion cupri ( Cu ) akan bereaksi dengan protein yang terdapat pada sampel
dalam suasana alkali membentuk kompleks yang berwarna ungu. Intensitas
warna yang terbentuk sebanding dengan kadar protein yang terdapat dalam
sampel.

b) Prinsip Quality Control


Dari hasil pemeriksaan absorbansi kadar protein total, ditentukan standar
deviasi serta batas peringatan dan batas penolakan. Data-data tersebut dibuat
grafik Levey-Jennings, kemudian ditarik kesimpulan berdasarkan Westgard
Multirule.

III. Tinjauan Pustaka

Laboratorium klinik adalah laboratorium kesehatan yang melaksanakan


pelayanan pemeriksaan specimen klinik untuk mendapatkan informasi tentang
kesehatan perorangan terutama untuk menunjang diagnosis penyakit, penyembuhan
penyakit, dan pemulihan kesehatan. (Permenkes, 2010)

Laboratoriun klinik berdasarkan jenis pelayanannya terbagi menjadi:

a. Laboratorium klinik umum


Laboratorium klinik umum merupakan laboratorium yang melaksanakan
pelayanana pemeriksaan specimen klinik di bidang hematologi, kimia klinik,
mikrobiologi, parasitologi, dan imunologi klinik.
b. Laboratorium klinik khusus
Laboratorium klinik khusus merupakan laboratorium yang melaksanakan
pelayanan pemeriksaan specimen klinik pada satu bidang pemeriksaan khusus
dengan kemampuan tertentu.
(Permenkes, 2010)

Menurut Indriyono Gitosudarno (1988:177), quality adalah keadaan suatu


produk yang menunjukkan tingkat kemampuan produk tersebut didalam menjalankan
fungsinya untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Control atau pengawasan adalah kegiatan pemeriksaan dan pengendalian atas


pemeriksaan yang telah dan sedang dilakukan, agar kegiatan-kegiatan tersebut dapat
sesuai dengan apa yang telah diharapkan atau direncanakan.

Control tidaklah berarti mengontrol saja, ia juga meliputi aspek penilaian,


apakah yang dicapai itu sesuai tujuan dan sejalan dengan tujuan yang sudah
ditetapkan, lengkap dengan rencananya, kebijaksanaan, program dan lain sebagainya
daripada manajemen.

Dengan mengadakan pengawasan kualitas (quality control) diharapkan dapat


meningkatkan kualitas produk menjadi tidak cacat, pada akhirnya dapat menghemat
biaya, bahan baku, waktu serta dapat mencapai target produksi yang telah ditetapkan.

Tujuan pengendalian mutu meliputi dua tahap, yaitu tujuan antara dan tujuan
akhir. Tujuan antara pengendalian mutu adalah agar dapat diketahui mutu barang, jasa,
maupun pelayanan yang dihasilkan. Tujuan akhirnya yaitu untuk dapat meningkatkan
mutu barang, jasa, maupun pelayanan yang dihasilkan. (Control and Mutu, 1984)

Pentingnya pengendalian mutu dikarenakan dapat meningkatkan indeks


kepuasan mutu (quality satisfaction index), produktivitas dan efisiensi,
laba/keuntungan, pangsa pasar, moral dan semangat karyawan, serta kepuasan
pelanggan. (Control and Mutu, 1984)

Terdapat lima dimensi pokok mutu, yaitu sebagai berikut :


a) Bukti langsung (tangible), terdiri dari fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai,
dan sarana komunikasi. Contohnya dalam hal pelayanan gizi di poliklinik
suatu rumah sakit, maka pasien melihat mutu pelayanan dari fasilitas ruangan
yang memadai, food model, perlengkapan pengukur status gizi, dan
sebagainya.
b) Keandalan (reliability), merupakan kemampuan perusahaan/institusi dalam
memberi pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.
Contohnya dalam hal pelayanan gizi yaitu janji ditepati sesuai jadwal, anjuran
diet terbukti akurat, dan sebagainya.
c) Daya tanggap (responsiveness), yaitu dapat diakses, tidak lama menunggu,
serta bersedia mendengar keluh kesah konsumen.
d) Standar yang ditetapkan serta menyelesaikan masalah yang ditemukan dengan
tujuan untuk memperbaiki mutu.
e) Empati, merupakan kemudahan berhubungan, berkomunikasi, perhatian
pribadi, serta memahami kebutuhan konsumen.
(Control and Mutu, 1984)
Protein berasal dari bahasa Yunani proteios yang berarti barisan pertama.
Kata ini berasal dari Jons J.barzelius pada tahun 1938, untuk menekankan pentingnya
golongan ini. Protein merupakan makromolekul yang paling berlimpah dalam sel
hidup, dan merupakan 50% atau lebih berat kering sel. Protein ditemukan dalam
semua sel dan semua bagian sel. (Diarti, Pauzi and Danuyanti, 2015)

Protein memegang peranan penting dalam berbagai proses biologi. Peran-


peran tersebut antara lain :

1. Katalisis enzimatik
2. Transportasi dan penyimpanan
3. Koordinasi gerak
4. Penunjang mekanis
5. Proteksi imun
6. Membangkitkan dan menghantarkan impuls saraf
7. Pengaturan pertumbuhan dan diferensiasi
(Diarti, Pauzi and Danuyanti, 2015)

Tiga perempat zat padat dari tubuh bersifat protein dan fungsi yang berbeda
beda. Contoh : protein jaringan, protein kontraktil,nukleoprotin,hemoglobin,protein
plasma dll. Hati adalah tempat sintesis lebih dari 90% dari seluruh protein dan 100%
albumin. Menurut distribusinya protein tubuh terdiri dari : protein plasma, protein
jaringan dan hemoglobin. Protein plasma utama terdiri dari albumin, globulin dan
fibrinogen. Fungsi dari protein plasma adalah :
a. Mempertahankan tekanan osmotic plasma
b. Sebagai media transportasi, misalnya transferin, apolipoprotein, transcobalamin
dll
c. Sebagai protektif misalnya antibody, system komplemen dan hemostasis

Protein plasmaberfungsi menjaga tekanan osmotik, sebagai sumberasam


amino bagi jaringan,transportasi nutrisi ke seldan hasil buangan ke organ sekresi, dan
menjagakeseimbangan asam basa tubuh (buffer) (Frandson, 1992 dalam
widhyari,S.D.,dkk.2011).

Protein dapat ditetapkan kadarnya dengan metode biuret. Prinsip dari metode
biuret. Reaksi biuret terdiri dari campuran protein dengan sodium hidroksida (berupa
larutan),dan tembaga sulfat. Warna violet adalah hasildari reaksi ini. Reaksi ini positif
untuk 2 ataulebih ikatan peptida.

Penyerapan cahaya oleh protein terutama disebabkan oleh ikatan peptidaresidu


ritosil,triptofonil, dan fenilalanil. Juga turut mempengaruhi, gugus-gugus non -protein
yang mempunyai sifat menyerap cahaya.

Defisiensi protein dapat mengakibatkankwashiorkor, pertumbuhan anak


terhambat, anoreksia, atrofi otot, penurunan berat badan, penyembuhan luka yang
buruk, konvalensi yang lambat saat penyembuhan dan marasmus. (Diarti, Danuyanti
and Ernawati, 2016)

Sebaliknya, protein secara berlebihan tidak menguntungkan tubuh. Makanan


yang tinggi proteinnya biasanya tinggi lemak sehingga dapat menyebabkan obesitas.
Kelebihan protein dapat menimbulkan masalah lain, terutama pada bayi. Kelebihan
asam amino memberatkan ginjal dan hati yang harus memetabolisme dan
mengeluarkan kelebihan nitrogen.(Baret et al., 1986)

Kelebihan protein akan menimbulkan asidosis, dehidrasi, diare, kenaikan


amoniak darah, kenaikan ureum darah, dan demam. (Baret et al., 1986)

Fotometer berasal dari kata photo yang berarti sinar dan meter alat
pengukur. Fotometer merupakan peralatan dasar di laboratorium klinik untuk
mengukur intensitas atau kekuatan cahaya suatu larutan. Sebagian besar laboratorium
klinik menggunakan alat ini karena alat ini dapat menentukan kadar suatu bahan
didalam cairan tubuh seperti serum atau plasma.

IV. Alat, Bahan, dan Reagen

A. Alat
1. Alat sampling darah vena (spuit, torniquet, tabung reaksi 5ml)
2. Sentrifuge
3. Tabung reaksi volume 5ml
4. Rak tabung
5. Mikropipet 1000l dan tip
6. Mikropipet 20l dan tip
7. Fotometer 4010
8. Tissue
9. Kapas

B. Bahan
1. Serum (darah yang disentrifugasi untuk dipisahkan serumnya)
2. Aquadest
3. Alkohol 70%

C. Reagen
1. Reagen pemeriksaan protein total
2. Larutan standart

V. Interpretasi Hasil

Westgard Multirule
1-2s : seluruh pemeriksaan dari satu seri dinyatakan keluar dari kontrol, apabila
hasil pemeriksaan satu bahan kontrol melewati batas.
2-2s : seluruh pemeriksaan dinyatakan keluar dari kontrol, apabila hasil
pemeriksaan 2 kontrol berturut-turut keluar dari batas yang sama yaitu X+2s atau X-
2S
R-4s : seluruh pemeriksaan dinyatakan keluar dari kontrol, apabila perbedaan antara
2 hasil kontrol yang berturut-turut melebihi 4s (satu kontrol di atas +2s dan yang
lainnya di bawah -2s
4-1s : seluruh pemeriksaan dinyatakan keluar dari kontrol, apabila 4 kontrol
berturut-turut keluar dari batas yang sama, baik X+ S maupun X-S
10x : seluruh pemeriksaan dinyatakan keluar dari kontrol, apabila 10 ontrol
berturut-turut berada pada pihak yang sama dari nilai tengah.
7x : seluruh pemeriksaan dinyatakan keluar dari kontrol, apabila 6 ontrol
berturut-turut berada pada pihak yang sama dari nilai tengah.

VI. Cara Kerja

I. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan


II. Lakukan sampling darah vena sebanyak 3ml
III. Lakukan sentrifugasi terhadap darah tersebut untuk dipisahkan serumnya
IV. Siapkan 14 tabung volume 5ml
V. Gunakan satu tabung sebagai wadah larutan blanko, satu tabung sebagai
wadah mencampur larutan standard, dan 12 tabung sebagai wadah
mencampur larutan sampel
VI. Pipet ke dalam masing-masing tabung

Bahan Blanko Standard Sampel


(8g/dl)
Serum - - 20 l
Standard - 20 l -
Reagen 1 ml 1 ml 1 ml

VII. Campur, kemudian inkubasi 10 menit pada suhu kamar (20-250C).


VIII. Baca absorbance standard terhadap blanko pada spektro fotometer
4010 ( 546 nm). (Atur agar pembacaan terhadap tiap larutan pada masing-
masing tabung tepat 10 menit)
IX. Catatlah hasil dan masukkan nilai hasil pemeriksaan ke dalam kurva Levey
Jennings pada lembar kerja.
X. Terapkan (buatlah kesimpulan) berdasarkan hukum Westgard Rule pada
grafik Levy Jenning tersebut

VII. Hasil dan Perhitungan

Waktu sampling : 10.53 WITA


Waktu pemeriksaan : 11.21-11.42 WITA (dari inkubasi sampel pertama
dimulai hingga pemeriksaan sampel terakhir selesai)

Konsentrasi standar : 8 gr/dl


Absorbansi standar : 0, 399

Kadar protein (X) = Faktor (F) . Absrobansi sampel

Tabel Hasil Pemeriksaan Kadar Protein Total Serum

Kadar
Absorbance Protein
No Tanggal Xi-X (Xi-X)2
Sampel (X)
(gr/dl)
1. 30/3/17 0,441 8,842 5,925 35,103
2. 30/3/17 0,421 8,441 6,326 40,016
3. 30/3/17 0,471 9,444 5,323 28,338
4. 30/3/17 0,748 14,997 -0,231 0,053
5. 30/3/17 0,472 9,464 5,303 28,125
6. 30/3/17 0,841 16,862 -2,095 4,390
7. 30/3/17 0,857 17,183 -2,416 5,837
8. 30/3/17 0,918 18,406 -3,639 13,243
9. 30/3/17 0,924 18,526 -3,759 14,133
10. 30/3/17 0,951 19,068 -4,301 18,496
11. 30/3/17 0,930 18,647 -3,880 15,052
12. 30/3/17 0,864 17,323 -2,556 6,535
x = 177,203 (xi-x)2 = 209,322
a) Standar Deviasi

b) Koefisien Variasi

c) Batas 1SD, 2SD (peringatan), dan 3SD (penolakan)

1) Batas 1SD
Xi+1SD = 19,129

Xi-1SD = 10,405

2) Batas Peringatan (2SD)


Xi+2SD = 23,491

Xi-2SD = 6,042
3) Batas Penolakan (3SD)
Xi+3SD = 27,854

Xi-3SD = 1,680

Keterangan :
X : kadar protein
Xi : kadar rata-rata protein
SD : standar deviasi
CV : koefisien variasi
n : banyak data

Grafik Levey-Jennings dari Data di Atas

+3SD

+2SD

+1SD

Mean

-1SD

-2SD

-3SD

VIII. Pembahasan

Pada praktikum ini, dilakukan Quality Control (QC) pemeriksaan protein total
metode Biuret pada alat Fotometer 4010. Pemeriksaan ini menggunakan sampel
serum yang diuji sebanyak 12 kali. Berdasarkan grafik Levey Jennings, setelah 12 kali
pengujian terdapat 7 kontrol berturut-turut berada di atas nilai rata-rata (mean).
Kemudian hasil ini dianalisis menggunakan aturan Westgard Multirule System di
mana kesalahan ini termasuk aturan 7x yaitu 7 kontrol berturut-turut pada 1 sisi atas
atau di bawah nilai mean. Aturan 7x ini memang tidak termasuk aturan Westgard
Multirule System yang sering diterapkan.
Menurut Shah (2013), aturan 7x merupakan ketentuan penolakan yang
disebabkan oleh kesalahan sistematik. Ketentuan penolakan artinya hasil yang
dikeluarkan tidak dapat digunakan karena hasil yang dikeluarkan bukan merupakan
nilai yang sebenarnya. Kesalahan sistematik merupakan kesalahan yang sifatnya
sistematik sehingga mengikuti suatu pola yang pasti. Kesalahan ini mengakibatkan
setiap pengukuran cenderung ke salah satu kutub, selalu lebih tinggi atau selalu lebih
rendah. Kesalahan ini menunjukkan tingkat ketepatan (akurasi). Kesalahan sistematik
umumnya disebabkan oleh hal-hal berikut ini:

1) Spesifisitas reagen/metode pemeriksaan rendah (mutu rendah)


2) Mutu reagen kalibrasi kurang baik
3) Alat bantu (pipet) yang kurang akurat
4) Kelemahan metode pengujian
5) Kurang kompetennya personil laboratorium
6) Kemungkinan terjadinya kontaminasi
7) Ketidakstabilan peralatan atau instrumentasi

Setelah penyebab kesalahan pengukuran sistematik ditemukan dan diperbaiki,


tes ini dikalibrasi ulang. Bahan kontrol kualitas yang diuji ulang. Jika hasilnya di luar
kendali, maka laboratorium harus mengumpulkan semua hasil tes dan melakukan
analisis akar penyebabnya. Jika hasil berada dalam kendali, maka hasil pengukuran
kadar sebelumnya yang diyakini telah dpengaruhi oleh kesalahan ini diuji ulang
kembali.

IX. Kesimpulan

Hari ke-12 : penolakan, berdasarkan 7x Westgard Multirule System

Berdasarkan data pada grafik Levey Jennings dan dengan menerapkan


aturan Westgard Multirule System, pada hari ke-12 terjadi penolakan berdasarkan
aturan 7x. Penolakan yang disebabkan aturan 7x ini disebabkan oleh kesalahan
sistematik.
Daftar Pustaka

Baret, J. M., Abramoff, P., Kumaran, A. K. and Millington, W. F. (1986) Biology. New
Jersey: Prentice Hall.

Control, Q. and Mutu, P. P. (1984) Pengendalian mutu.

Diarti, M. W., Danuyanti, I. and Ernawati, F. (2016) Penuntun Praktikum Kimia Klinik II
ntuk Mahasiswa Prodi DIV Analis Keesehatan Semester IV. Mataram: Poltekkes Mataram
Jurusan Analis Kesehatan.

Diarti, M. W., Pauzi, I. and Danuyanti, I. (2015) Diktat Praktikum Biokimia Semester II.
Mataram: Poltekkes Mataram Jurusan Analis Kesehatan.

Permenkes (2010) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


411/Menkes/Per/III/2010.

Widhyari,S.D., Anita Esfandiari.,&Herlina. 2011. Profil Protein Total, Albumin Dan Globulin
Pada Ayam Broiler Yang Diberi Kunyit, Bawang Putih, Dan Zink (Zn)

Jifi.ffup.org/wp-content/uploads/2012/03/1.-zuhelmi-1-.pdf

Journal.uad.ac.id/index.php/media-farmasi/article/download/11/838

Eprints.upnjatim.ac.id/2791/3/7._Pengaruh_Quality_control_Eddi_P.pdf

https://www.scribd.com/doc/242339797/Uji-Kualitatif-Protein-I-jurnal-docx

https://www.scribd.com/doc/32769327/UJI-BIURET

http://www.scribd.com/mobile/doc/113071440/fhotometer-4010
Laporan Praktikum

QUALITY CONTROL URINALISA MENGGUNAKAN DIPSTICK


METODE CARIK CELUP

Kelompok : B1 A
Kelas : D-IV B
Semester : VI (Enam)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLTEKKES MATARAM
ANALIS KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV
MATARAM
2016/2017

Nama Anggota Kelompok :


13. Aeni Halawiya (P07134114050)
14. Ahmad Busyairi Asgar (P07134114051)
15. Aprilia Prastika (P07134114053)
16. Ari Kurniawati (P07134114054)
17. Baiq Arum Palawangan (P07134114056)
18. Baiq Evianita Putri (P07134114057)
19. Buana Putri Ayu (P07134114058)
20. Diah Ayu Rizki. S (P07134114059)
21. Divika Suci (P07134114060)
22. Emaliana (P07134114061)
23. Esti Amelia Utari (P07134114062)
24. Fatmawati Riskiantini (P07134114063)
25. Hana Fatina (P07134114064)
26. Lalu Ahmad Afifi (P07134114073)
QUALITY CONTROL

URINALISA MENGGUNAKAN DIPSTICK

METODE CARIK CELUP

A. Waktu dan Lokasi Praktikum


1. Hari/ Tanggal : Jumat, 2 Juni 2017
2. Lokasi : Laboratorium Patologi Klinik, Jurusan Analis Kesehatan,
Poltekkes Mataram

B. Tujuan
1. Untuk melakukan kontrol terhadap kualitas dipstick urinalisa yang digunakan
untuk pemeriksaan kimia urine metode Carik Celup.
2. Untuk mengetahui kualitas pemeriksaan urinalisa denga dipstick yang digunakan
untuk pemeriksaan kimia urine metode Carik Celup.
3. Untuk meningkatkan kualitas pemeriksaan urinalisa denga dipstick yang digunakan
untuk pemeriksaan kimia urine metode Carik Celup.

C. Prinsip Kerja

Dibuat urine normal dan urine abnormal dengan penambahan suspensi eritrosit
pada urine normal/murni. Urine tersebut digunakan untuk menilai kualitas dipstick
yang digunakan dalam pemeriksaan urinalisa metode carik celup.

D. Dasar Teori

Urin merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari
1200 ml darah yang melalui glomeruli per menit akan terbentuk filtrat 120 ml per
menit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal
yang akhirnya terbentuk satu mili liter urin per menit.
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-
obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang "kotor".
Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran
kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan mengandung bakteri. Namun jika
urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat.
Pemeriksaan urinalisis dilakukan untuk menentukan dua parameter penting ISK
yaitu leukosit dan bakteri. Pemeriksaan rutin lainnya seperti deskripsi warna, berat jenis
dan pH, konsentrasi glukosa, protein, keton, darah dan bilirubin tetap dilakukan.
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan
diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis
penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan
darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
Berikut ini macam macam pemeriksaan urin :
a) Punks Suprapubik
Pengambilan urin dengan punksi suprapubik dilakukan pengambilan urin
langsung dari kandung kemih melalui kulit dan dinding perut dengan semprit dan
jarum steril. Yang penting pada punksi suprapubik ini adalah tindakan antisepsis
yang baik pada daerah yang akan ditusuk, anestesi lokal pada daerah yang akan
ditusuk dan keadaan asepsis harus selalu dijaga. Kateter
Bahan urin dapat diambil dari kateter dengan jarum dan semprit yang steril.
Pada cara ini juga penting tindakan antisepsis pada daerah kateter yang akan
ditusuk dan keadaan asepsis harus elalu dijaga. Tempat penusukan kateter
sebaiknya sedekat mungkin dengan ujung kateter yang berada di dalam kandung
kemih (ujung distal)..
b) Urin Porsi Tengah
Urin porsi tengah sebagai sampel pemeriksaan urinalisis merupakan teknik
pengambilan yang paling sering dilakukan dan tidak menimbulkan ketidak
nyamanan pada penderita. Tidak boleh menggunakan antiseptik untuk persiapan
pasien karena dapat mengkontaminasi sampel dan menyebabkan kultur false-
negative.
c) Pemeriksaan Urin Empat Porsi (Meares Stamey)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk penderita prostatitis. Pemeriksaan ini terdiri dari
urin empat porsi yaitu:
Porsi pertama (VB1) : 10 ml pertama urin, menunjukkan kondisi uretra.
Porsi kedua (VB2) : sama dengan urin porsi tengah, menunjukkan
kondisi buli-buli.
Porsi ketiga (EPS) : sekret yang didapatkan setelah masase prostat.
Porsi keempat (VB4) : urin setelah masase prostat.
d) Pemeriksaan Dipstik
Pemeriksaan dengan dipstik merupakan salah satu alternatif pemeriksaan
leukosit dan bakteri di urin dengan cepat. Untuk mengetahui leukosituri, dipstik
akan bereaksi dengan leucocyte esterase (suatu enzim yang terdapat dalam granul
primer netrofil).Sedangkan untuk mengetahui bakteri, dipstik akan bereaksi dengan
nitrit (yang merupakan hasil perubahan nitrat oleh enzym nitrate reductase pada
bakteri). Penentuan nitrit sering memberikan hasil false-negative karena tidak
semua bakteri patogen memiliki kemampuan mengubah nitrat atau kadar nitrat
dalam urin menurun akibat obat diuretik. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak lebih
baik dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopik urin dan kultur urin.
e) Pemeriksaan Mikroskopik Urin
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan untuk menentukan jumlah leukosit dan
bakteri dalam urin. Jumlah leukosit yang dianggap bermakna adalah > 10 / lapang
pandang besar (LPB). Apabila didapat leukosituri yang bermakna, perlu
dilanjutkan dengan pemeriksaan kultur.
f) Pemeriksaan Kultur Urin
Deteksi jumlah bermakna kuman patogen (significant bacteriuria) dari kultur
urin masih merupakan baku emas untuk diagnosis ISK. Bila jumlah koloni yang
tumbuh > 105 koloni/ml urin, maka dapat dipastikan bahwa bakteri yang tumbuh
merupakan penyebab ISK. Sedangkan bila hanya tumbuh koloni dengan jumlah <
103 koloni / ml urin, maka bakteri yang tumbuh kemungkinan besar hanya
merupakan kontaminasi flora normal dari muara uretra.
g) Pemeriksaan Makroskopis Urin
Pemeriksaan makroskopis urine meliputi volume urine, bau, buih, warna,
kejernihan, pH, dan berat jenis.

Pemeriksaan laboratorium merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk


kepentingan klinik. Tujuan pemeriksaan laboratorium adalah untuk membantu diagnosa
penyakit pada penderita atau menegakkan diagnosa penyakit disamping untuk follow
up terapi.

Untuk menentukan apakah hasil yang dikeluarkan oleh bagian laboratorium sudah
sesuai dengan keadaan penderita dan bukan karena kesalahan pemeriksaan, maka dalam
halterdapatnya keraguan perbedaan hasil antara keadaan klinik dan hasil
pemeriksaanlaboratorik, dapat dilakukan pemeriksaan ulang. Hal ini tentu memakan
waktu dan biaya yang lebih banyak untuk melakukan pemeriksaan ulang tersebut.
Sehingga untuk mengatasi hal tersebut umumnya dilakukan penilaian ulang terhadap
tahap tahap pemeriksaan yang dilakukan

Quality Control ( QC) atau pemantapan mutu adalah salah satu komponen dalam
proses kontrol dan merupakan elemen utama dari sistem manajemen mutu. Memonitor
proses yg berhubungan dengan hasil tes serta dapat mendeteksi adanya error yang
bersumber dari alat , keadaan lingkungan atau operator. Memberikan keyakinan bagi
laboratorium bahwa hasil yg dikeluarkan adalah akurat & reliabel.

Alat-alat dilaboratorium harus memenuhi persyaratan mutu untuk mencapai


kepuasan pelanggan dengan presisi dan hasil yang akurat. Salah satu alat pemeriksaan
dibidang kimia klinik yaitu dipstick urinalisa. Dipstick urinalisa merupakan suatu alat
yang terbuat dari secarik plastik kaku yang pada sebelah sisinya dilekati dengan satu
sampai sepuluh kertas isap atau bahan penyerap lain yang masing-masing mengandung
reagen-reagen spesifik terhadap salah satu zat yang mungkin ada didalam urin.
Pemeriksaan kimia urin dengan dipstick menggunakan suatu metode yaitu metode
Carik Celup.

Meskkipun sensitive dan spesifik, pemakaian carik celup menghendaki agar cara
memakainya mengikuti pentunjukpetunjuk yang ditentukan oleh perusahan pembuat
carik celup. Jika tidak mengikutinya maka hasil pemeriksaan dapat menyimpang dari
keadaan sebenarnya. Oleh karena itu, pelu dilakukan uji Quality Control terhadap alat
secara berkala.

E. Alat Dan Bahan


1. Alat
Dipstick;
Wadah dipstick sebagai standard warna;
Centrifuge
Tabung reaksi;
Rak tabung reaksi.
Pipet tetes;
Batang pengaduk;
Tisu;

2. Bahan
Urin;
Eritrosit.
Aquadest
F. Prosedur Kerja
A. Mempersiapkan Urin Normal dan Abnormal
i. Disiapkan urin normal dan urine abnormal
ii. Urine abnormal dibuat dengan mencampur urine normal dengan suspensi
eritrosit yang telah dipisahkan dari serumnya.
B. Pemeriksaan Quality Control Dipstick Urinalisa
a. Diamati tanggal kadaluarsa dipstick pada botol dipstick
b. Dikeluarkan dipstick (bahan kontrol) dari wadahnya.
c. Dibandingkan warna setiap parameter pada dipstick dengan standar warna pada
wadah.
d. Jika didapatkan hasil/ warna yang sama antara dipstick dengan standar warna,
maka dapat dikatakan bahwa dipstick dalam keadaan baik dan dapat digunakan
untuk pemeriksaan sampel urine

Catatan :

a. Ulangi pemeriksaan sebanyak 2-3 kali untuk setiap kategori.


b. Dipstick urinalisa ini dapat digunakan maksimal 6 bulan setelah botol
dibuka untuk pertama kalinya.
G. Hasil
PEMANTAPAN MUTU KIMIA URINE
BAHAN CONTROL : URINE BULAN/TAHUN : JUNI
2017

2 V

10

Target

Skala 0 5 10 15 20 25 30 - +1 +2 +3 - + 5 6 7 8 9 - +1 +2 +3 - +1 +2 +3 +4 - +1 +2 +3 N +1 +2 +3 +4 - +1 +2 +3 +4 - +1 +2 +3

Paramete BERAT JENIS LEUKOSIT NITRI PH PROTEIN GLUKOSA KETON UROBILINOGEN BILIRUBIN DARAH
r T

Keterangan :
Pemeriksaan 1-2 menggunakan sampel urine yang murni (normal)
Pemeriksaan 3-5 menggunakan sampel urine modifikasi (urine murni dicampur dengan eritrosit)
DIPSTICK URINALISYS QUALITY CONTROL

BERAT LEUKOSIT NITRIT PH PROTEIN GLUKOSA KETON UROBILINOGEN BILIRUBIN DARAH


JENIS

NILAI KONTROL 1,030 NEGATIF NEGATIF 6 NEGATIF NEGATIF NEGATIF NORMAL NEGATIF NEGATIF

PEMERIKSAAN
KE-

1 1,030 NEGATIF NEGATIF 6 NEGATIF NEGATIF NEGATIF 1 mg/dl NEGATIF 10 Ery/l

2 1,030 NEGATIF NEGATIF 6 NEGATIF NEGATIF NEGATIF 1 mg/dl NEGATIF 10 Ery/l

3 1,030 NEGATIF NEGATIF 6 NEGATIF NEGATIF NEGATIF 1 mg/dl NEGATIF 250 Ery/l

4 1,030 NEGATIF NEGATIF 6 NEGATIF NEGATIF NEGATIF 1 mg/dl NEGATIF 250 Ery/l

5 1,030 NEGATIF NEGATIF 6 NEGATIF NEGATIF NEGATIF 1 mg/dl NEGATIF 250 Ery/l

10
Keterangan :
Pemeriksaan 1-2 menggunakan sampel urine yang murni (normal)
Pemeriksaan 3-5 menggunakan sampel urine modifikasi (urine murni dicampur dengan eritrosit)
H. Pembahasan
Pada praktikum ini, quality control terhadap dipstick urinalisa dilakukan dengan
cara menggunakan urine untuk menguji dipstick tersebut. Urine dibagi menjadi dua
kategori yaitu urine normal dan urine abnormal. Urine abnormal diperoleh dengan
mencampur urine normal dengan gula, serum dan darah secara terpisah kemudian urine
diuji menggunakan dipstick urinalisa.
Sebelum dilakukan Quality Control dipstick menggunakan urine terlebih dahulu
memastikan dipstick tersebut belum melewati tanggal kadaluarsa. Kemudian
bandingkan warna dipstick tersebut dengan standar warna pada wadah dipstick yang
telah tersedia untuk memastikan kondisi dipstick masih dalam keadaan baik, sehingga
warna masing-masing parameter pemeriksaan pada dipstick yang belum digunakan
tersebut harus menunjukkan hasil negatif dan normal.
Pada pengamatan membandingkan warna tersebut dapat dilihat bahwa warna
dipstick pada beberapa parameter menunjukkan bahwa dipstick dalam keadaan tidak
baik karena telah terjadi perubahan warna sebelum digunakan.
Quality control terhadap dipstick ini dilakukan dengan melakukan pengulangan
pemeriksaan terhadap urine normal sebanyak tiga kali dan pengulangan pemeriksaan
terhadap urine yang ditambahkan eritrosit sebnyak 2 kali. Hasil yang diperoleh berupa
hasil yang tinggi pada pemeriksaan parameter eritrosit/blood, yaitu kadar glukosa
sebesar 250 ery/l, sedangkan pada urine normal yang diperiksa tidak diperoleh kadar
eritrosit negatif melainkan kadar eritrosit sebesar 10 ery/l.
Dari hasil quality control tersebut diperoleh hasil bahwa terdapat beberapa
penyimpangan, baik dari warna dipstick yang sudah tidak baik dikarenakan beberapa
faktor maupun bahan urine kontrol / normal yang tidak mendukung dalam kontrol
kualitas parameter pemeriksaan eritrosit pada urine karena memang sudah mengandung
sedikit kadar eritrosit.

I. Kesimpulan
Berdasarkan hasil quality control yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa dipstick
yang diuji kualitasnya tidak layak digunakan untuk pemeriksaan urinalisa metode carik
celup karena terdapat perbedaan warna antara dipstick dan warna standar.
J. Dokumentasi
Standar warna Dipstick Urinalisa
dipstick urinalisa

Hasil pemeriksaan urine abnormal

Mataram, Juni 2017


Dosen Pembimbing Praktikan,

H. Yunan Jiwintarum, S.Si.,M.Kes. Kelompok B1 A


Laporan Praktikum

QUALITY CONTROL ALAT-ALAT LABORATORIUM


MIKROBIOLOGI

Kelompok : B1 A
Kelas : D-IV B
Semester : VI (Enam)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLTEKKES MATARAM
ANALIS KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV
MATARAM
2016/2017

Nama Anggota Kelompok :


27. Aeni Halawiya (P07134114050)
28. Ahmad Busyairi Asgar (P07134114051)
29. Aprilia Prastika (P07134114053)
30. Ari Kurniawati (P07134114054)
31. Baiq Arum Palawangan (P07134114056)
32. Baiq Evianita Putri (P07134114057)
33. Buana Putri Ayu (P07134114058)
34. Diah Ayu Rizki. S (P07134114059)
35. Divika Suci (P07134114060)
36. Emaliana (P07134114061)
37. Esti Amelia Utari (P07134114062)
38. Fatmawati Riskiantini (P07134114063)
39. Hana Fatina (P07134114064)
40. Lalu Ahmad Afifi (P07134114073)
KALIBRASI INKUBATOR (INCUBATOR)

I. TUJUAN
Untuk mengetahui keakuratan serta kelayakan alat Inkubator yang digunakan untuk
pemeriksaan mikrobiologi.

II. DASAR TEORI


Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai
penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar
ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional maupun internasional untuk
satuan ukuran dan/atau internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabularyof International Metrology
(VIM) kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai
yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili
oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran
yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, Kalibrasi adalah kegiatan untuk
menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur
dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable)
ke standar nasional maupun internasional untuk satuan ukuran dan atau internasional
dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Tujuan Kalibrasi :
1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat
dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti (standar primer
nasional dan / internasional), melalui rangkaian perbandingan yang tak
terputus.
2. Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional
penunjukan suatu instrument ukur.
3. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional
maupun Internasional.
Manfaat Kalibrasi :
1. Menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan
spesefikasinya.
2. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri pada
peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.
3. Bisa mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara nilai benar dengan nilai
yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Salah satu alat yang penting dalam menunjang pemeriksaan dibidang mikrobiologi
yaitu inkubator. Inkubator adalah alat dengan suhu atau kelembaban tertentu yang
digunakan untuk menginkubasi atau memeram mikroba. Di dalam laboratorium
mikrobiologi digunakan untuk menumbuhkan bakteri pada suhu tertentu,
menumbuhkan ragi dan jamur, menyimpan biakan murni mikroorganisme I pada suhu
rendah. Adapun ciri dari inkubator adalah memiliki sekat untuk menumbuh
kembangkan mikroba, dalam inkubator terdapat sekat kaca pada pintunya yang
berfungsi untuk mempermudah melihat mikroba yang sedang diinkubasi tanpa
membuka dan benutup bagian dalam dari inkubator sehingga suhunya tetap terjaga.
Prinsip kerjanya yaitu mengubah energi listrik menjadi energi panas. Kawat nikelin
akan menghambat aliran elektron yang mengalir sehingga mengakibatkan peningkatan
suhu kawat (Taiyeb, 2001).

III. PRINSIP KERJA


Dilakukan kalibrasi inkubator dengan cara mencatat suhu setiap hari yang terlihat
pada digital display inkubator serta yang diukur dengan menggunakan termometer
standar. Kemudian dicocokkan hasil yang didapat.

IV. ALAT
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
1. Inkubator yang akan dikalibrasi;
2. Termometer standar.

V. PROSEDUR KERJA
1. Catat suhu yang terlihat pada digital display pada inkubator setiap hari sebelum
mulai bekerja.
2. Secara berkala periksa dengan menggunakan termometer standar.
3. Cocokkan hasil yang didapat antara suhu yang ditunjukkan oleh termometer digital
display dengan termometer standar.
Catatan : Diganti per bulan (2x per hari), ditampilkan dalam bentuk grafik.
Contoh kartu pencatatan suhu :

PENCATATAN SUHU

Nama alat : .............. Ruang : ...............


Suhu yang seharusnya : ..............
Tgl Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Tgl
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

VI. INTERPRETASI HASIL


Jika terdapat penyimpangan suhu yang melebihi 2oC, maka pengaturan suhu perlu
disetel kembali.
KALIBRASI LEMARI ES (REFRIGERATOR/ FREEZER)

I. TUJUAN
Untuk mengetahui keakuratan serta kelayakan alat Lemari Es yang digunakan untuk
pemeriksaan mikrobiologi.

II. DASAR TEORI


Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai
penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar
ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional maupun internasional untuk
satuan ukuran dan/atau internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabularyof International Metrology
(VIM) kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai
yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili
oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran
yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, Kalibrasi adalah kegiatan untuk
menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur
dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable)
ke standar nasional maupun internasional untuk satuan ukuran dan atau internasional
dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Tujuan Kalibrasi :
1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat
dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti (standar primer
nasional dan / internasional), melalui rangkaian perbandingan yang tak
terputus.
2. Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional
penunjukan suatu instrument ukur.
3. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional
maupun Internasional.
Manfaat Kalibrasi :
1. Menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan
spesefikasinya.
2. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri pada
peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.
3. Bisa mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara nilai benar dengan nilai
yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Alat-alat di laboratorium harus memenuhi persyaratan mutu untuk mencapai kepuasan
pelanggan dengan presisi dan hasil yang akurat. Salah satu alat yang terdapat
dilaboratorium mikrobiologi yaitu Lemari es/ lemari pendingin. Lemari es dalam bidang
mikrobiologi digunakan untuk menyimpan medium steril untuk mencegahnya dari
kekeringan, mempertahankan masa simpan mikroorganisme, dan untuk mencegah
terjadinya kontaminasi. Lemari es harus dikalibrasi secara teratur, dengan tujuan untuk
mendapatkan kepastian akurasi pengukuran suhu terhadap lemari es, serta menghindari
terjadinya sengketa atas hasil pengukuran dan pengujian yang berbeda.

III. PRINSIP KERJA


Dilakukan kalibrasi lemari es dengan cara mencatat suhu setiap hari yang terlihat
pada digital display (pada freezer) serta yang diukur dengan menggunakan
termometer standar. Kemudian dicocokkan hasil yang didapat.

IV. ALAT
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
1. Lemari es yang akan dikalibrasi;
2. Termometer standar.

V. PROSEDUR KERJA
1. Catat suhu setiap hari dengan termometer atau suhu yang terlihat pada digital
display pada freezer.
Termometer yang digunakan harus sesuai dengan suhu alat yang dikalibrasi,
misalnya 2-8C, -20C atau -76C.
2. Secara berkala periksa dengan menggunakan termometer standar.
3. Cocokkan hasil yang didapat antara suhu yang ditunjukkan oleh termometer digital
display dengan termometer standar.
Catatan : Upayakan memantau suhu lemari es dengan thermometer maksimum dan
minimum, sehingga bisa dipantau suhu terendah dan tertinggi yang pernah
dicapai lemari es.
Contoh kartu pencatatan suhu :
PENCATATAN SUHU

Nama alat : .............. Ruang : ...............


Suhu yang seharusnya : ..............
Tgl Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Tgl
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

VI. INTERPRETASI HASIL


Jika terdapat penyimpangan suhu yang melebihi 2oC, maka pengaturan suhu perlu
disetel kembali.
KALIBRASI OVEN

I. TUJUAN
Untuk mengetahui keakuratan serta kelayakan alat Oven yang digunakan untuk
pemeriksaan mikrobiologi.

II. DASAR TEORI


Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai
penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar
ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional maupun internasional untuk
satuan ukuran dan/atau internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabularyof International Metrology
(VIM) kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai
yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili
oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran
yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, Kalibrasi adalah kegiatan untuk
menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur
dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable)
ke standar nasional maupun internasional untuk satuan ukuran dan atau internasional
dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Tujuan Kalibrasi :
1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat
dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti (standar primer
nasional dan / internasional), melalui rangkaian perbandingan yang tak
terputus.
2. Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional
penunjukan suatu instrument ukur.
3. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional
maupun Internasional.
Manfaat Kalibrasi :
1. Menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan
spesefikasinya.
2. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri pada
peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.
3. Bisa mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara nilai benar dengan nilai
yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Alat-alat di laboratorium harus memenuhi persyaratan mutu untuk mencapai
kepuasan pelanggan dengan presisi dan hasil yang akurat. Salah satu alat yang terdapat
dilaboratorium mikrobiologi yaitu oven. Oven merupakan salah satu alat untuk
sterilisasi kering. Alat ini menggunakan sistem panas kering dalam suhu 160C-180C.
Biasanya digunakan untuk mensterilkan alat-alat gelas dengan ketelitian rendah, pelarut
organik & zat kimia serta sesuai dengan suhu yang telah ditetapkan. Oven harus
dikalibrasi secara teratur, dengan tujuan untuk mendapatkan kepastian akurasi
pengukuran suhu terhadap oven, serta menghindari terjadinya sengketa atas hasil
pengukuran dan pengujian yang berbeda.

III. PRINSIP KERJA


Dilakukan kalibrasi oven dengan cara mencatat suhu secara berkala yang terlihat pada
digital display oven serta yang diukur dengan menggunakan termometer standar.
Kemudian dicocokkan hasil yang didapat.

IV. ALAT
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
1. Oven yang akan dikalibrasi;
2. Termometer standar.

V. PROSEDUR KERJA
1. Catat suhu dengan termometer atau suhu yang terlihat pada digital display pada
oven.
2. Secara berkala lakukan pemeriksaan suhu dengan menggunakan termometer
standar.
3. Cocokkan hasil yang didapat antara suhu yang tercantum dalam oven dengan suhu
yang ditunjukkan oleh termometer standar.
Contoh kartu pencatatan suhu :
PENCATATAN SUHU

Nama alat : .............. Ruang : ...............


Suhu yang seharusnya : ..............
Tgl Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Tgl
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

VI. INTERPRETASI HASIL


Jika terdapat penyimpangan suhu yang melebihi 2oC, maka pengaturan suhu perlu
disetel kembali.
KALIBRASI OTOKLAF (AUTOCLAVE)

I. TUJUAN
Untuk mengetahui keakuratan serta kelayakan alat Autoclave yang digunakan untuk
pemeriksaan mikrobiologi.
.
II. DASAR TEORI
Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai
penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar
ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional maupun internasional untuk
satuan ukuran dan/atau internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabularyof International Metrology
(VIM) kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai
yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili
oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran
yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, Kalibrasi adalah kegiatan untuk
menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur
dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable)
ke standar nasional maupun internasional untuk satuan ukuran dan atau internasional
dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Tujuan Kalibrasi :
1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat
dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti (standar primer
nasional dan / internasional), melalui rangkaian perbandingan yang tak
terputus.
2. Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional
penunjukan suatu instrument ukur.
3. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional
maupun Internasional.
Manfaat Kalibrasi :
1. Menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan
spesefikasinya.
2. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri pada
peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.
3. Bisa mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara nilai benar dengan nilai
yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Alat-alat di laboratorium harus memenuhi persyaratan mutu untuk mencapai
kepuasan pelanggan dengan presisi dan hasil yang akurat. Salah satu alat yang penting
dalam menunjang pemeriksaan dibidang mikrobiologi yaitu autoclave. Autoclave
adalah alat yang digunakan untuk mensterilkan alat ataupun bahan dalam bidang
mikrobiologi menggunakan uap air bertekanan tinggi pada 120C selama sekita 15-20
menit. Alat ini bekerja dengan sistem sterilisasi basah. Penurunan tekanan pada
autoclave tidak dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan
meningkatkan suhu dalam autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh
micro organisme. Autoclave terutama ditujukan untuk membunuh endospora, yaitu sel
resisten yang diproduksi oleh bakteri, sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan,
dan antibiotik. Autoclave harus dibersihkan setiap 1 bulan sekali. Selain itu, autoclave
juga perlu dikalibrasi. Manfaat dilakukannya kalibrasi autoclave adalah untuk menguji
apakah fungsi alat, suhu, waktu dan tekanannya sudah benar.

III. PRINSIP KERJA


A. Dengan Menggunakan Autoclave Indicator Tape
Indicator tape direkatkan melingkar pada kemasan yang akan disterilisasi. Lakukan
sterilisasi dengan autoclave. Amati perubahan warna pada garis-garis diagonal.
B. Dengan Menggunakan Bacillus stearothermophilus
Bacillus stearothermophilus dimasukkan ke dalam autoclave lalu disterilisasi.
Kemudian, diambil Bacillus stearothermophilus dan ditanam pada blood agar.
Inkubasi pada suhu 400C-600C selama 24-48 jam. Amati pertumbuhan Bacillus
stearothermophilus.

IV. ALAT DAN BAHAN


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
A. Alat
1. Autoclave yang akan dikalibrasi;
2. Indicator tape;
3. Inkubator.
B. Bahan
1. Bacillus stearothermophilus
2. Blood agar

V. PROSEDUR KERJA
Pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan :
1. Autoclave Indicator Tape
a. Rekatkan indicator tape secara melingkar pada kemasan yang akan disterilisasi.
Pada autoclave yang besar, kemasan diletakkan pada bagian atas dan bagian
bawah autoclave.
b. Atur suhu, waktu dan tekanan.
c. Hidupkan autoclave.
d. Setelah selesai, baca indicator tape dengan melihat perubahan warna yang terjadi
pada garis-garis diagonal.
2. Bacillus stearothermophilus
a. Masukkan Bacillus stearothermophilus dalam bentuk liofilisasi dalam autoclave.
b. Atur suhu, waktu dan tekanan.
c. Hidupkan autoclave.
d. Setelah selesai, ambil Bacillus stearothermophilus dan tanam pada agar darah
(Blood agar) dan inkubasi pada suhu 40-60C selama 24-48 jam.

VI. INTERPRETASI HASIL


A. Dengan Menggunakan Autoclave Indicator Tape
Proses sterilisasi berjalan dengan baik bila garis-garis diagonal berubah warna dari
putih menjadi coklat kehitam-hitaman
B. Dengan Menggunakan Bacillus stearothermophilus
Proses sterilisasi berjalan baik bila tidak ada pertumbuhan Bacillus
stearothermophilus.
KALIBRASI ALAT GELAS

I. TUJUAN
Untuk mengetahui keakuratan serta kelayakan alat-alat gelas yang digunakan untuk
pemeriksaan mikrobiologi.
.

II. DASAR TEORI


Terdapat beberapa alat pengukur volumetri diantaranya pipet volume, labu takar dan
buret. Ketelitian pengukuran merupakan cara pembacaan skala yang tepat pada alat
ukur volumetri (labu takar, pipet gondok, ataupun buret) memperhatikan angka
signifikan, toleransi pembacaan skala, dan ketelitian standar dari alat. Pembacaan skala
pada alat ukur volumetri (buret, pipet gondok, labu takar, labu ukur) harus benar-benar
diperhatikan, dalam hal melihat skala, kedudukan badan, jenis alat maupun jenis
larutan, dengan memperhatikan angka signifikan, toleransi pembacaan skala, dan sifat
ketelitian alat.
Kalibrasi dilakukan agar hasil pengukuran selalu sesuai dengan alat ukur
standar/alat ukur yang sudah ditera. Alat-alat analisis kimia dapat diartikan sebagai alat-
alat yang sering digunakan dalam pekerjaan analisis kimia; seperti: pipet volumetri,
labu takar, buret, labu erlenmeyer, neraca analitik ataupun neraca listrik/neraca digital,
cawan krus, pembakar bunsen.
Alat-alat kimia yang lainnya sebagai pendukung pekerjaan analisis yaitu gelas
kimia, gelas ukur, pipet ukur, tabung reaksi, pipet, corong, maupun batang pengaduk.
Untuk memperoleh hasil yang baik dalam analisis kimia diperlukan cara-cara yang
khusus dalam pemakaian dan pemeliharaannya. Alat-alat analisis kimia umumnya
digunakan dalam pekerjaan titrasi, gravimetri, maupun analisis secara instrumentasi.
Adapun untuk pekerjaan analisis kuantitatif anorganik yang perlu ketelitian lebih besar
maka sebelum pemakaian alat-alat volumetri yang terbuat dari gelas sebaiknya
dilakukan dahulu kalibrasi alat.
Alat alat volumetrik adalah alat alat yang digunakan untuk mengukur volume
seperti buret, labu takar, pipet volume, dan sebagainya. Pada alat volumetrik, suhu
sangat berpengaruh dalam pengukurannya. National Bureau of Standaris telah
menetapkan 20oC sebagai suhu untuk mengadakan kalibrasi peralatan gelas. Karena
suhu Laboratorium biasanya tidak akan tepat 20oC, maka peralatan gelas pada
hakikatnya, harus dikoreksi apabila digunakan pada suhu lain. Apabila suhu berada di
atas atau di bawah suhu standar maka volume yang diperoleh bukan merupakan volume
sebenarnya atau bisa jadi lebih atau kurang dari volume sebenarnya. Oleh sebab itu,
perlu dilakukan peneraan atau kalibrasi terhadap alat alat ukur tersebut.
Dalam kalibrasi alat ukur volumetric ini besarnya akurasi dan presisi yang
dihasilkan dipengaruhi oleh beberapa kesalahan seperti kesalahan dalam pembacaan
meniskus atau kesalahan dalam penimbangan gelas kimia yang cenderung tidak stabil
pada saat pembacaan. Kesalahan ini biasa disebut kesalahan paralaks atau kesalahan
yang disebabkan oleh manusia. Kesalahan lainnya yaitu kesalahan pada alat yang
digunakan seperti misalnya pada kasus timbangan yang tak terkalibrasi yang biasanya
digunakan untuk penimbangan. Dengan demikian untuk memperoleh besarnya akurasi
dan presisi ataupun % penyimpangan yang baik maka dua kesalahan tersebut sebisa
mungkin di minimalisir.

III. PRINSIP
Diukur berat air yang ditampung atau yang ditransfer oleh alat gelas tertentu lalu
ditentukan berat jenis aquadest pada suhu percobaan untuk mendapatkan volume
terkoreksi rata-rata. Bandingkan selisih antara volume terkoreksi rata-rata dengan
volume yang dipipet terhadap batas penyimpangan yang masih diperbolehkan.

IV. ALAT DAN BAHAN


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
A. Alat
1. Beaker glass/ botol timbang;
2. Beaker glass 1000 ml;
3. Pipet/ alat gelas yang akan dikalibrasi;
4. Filer;
5. Termometer;
6. Neraca analitik;
7. Pinset;
8. Kertas tisu.
B. Bahan
1. Aquadest.
V. PROSEDUR KERJA
1. Pipet yang akan dikalibrasi harus dicuci hingga bersih, lalu dikeringkan.
2. Dituangkan aquadest yang akan di gunakan ke dalam beaker glass volume 1000 mL.
3. Diukur dan dicatat suhu aquadest dengan termometer.
4. Ditimbang beaker glass/ botol timbang yang kosong, lalu dicatat beratnya.
5. Aquades yang sudah diukur suhunya kemudian diisap dengan pipet yang akan
dikalibrasi, lalu bagian ujung dan luar dari pipet yang basah di usap terlebih dahulu
dengan kertas tisu.
6. Aquadest ditampung ke dalam beaker glass/ botol timbang yang telah ditimbang
beratnya.
7. Ditimbang beaker glass/ botol timbang yang telah berisi aquadest. Lalu dicatat
beratnya.
8. Diulangi langkah kerja (5) sampai dengan langkah (7) sebanyak minimal 3 kali.
9. Ditentukan volume terkoreksi.
10. Ditentukan volume terkoreksi rata-rata (x) dan standar deviasi ().
11. Ditentukan dan dicatat akurasi pipet yang dikalibrasi.
12. Ditentukan dan dicatat persen kesalahan.
13. Dihitung selisih antara volume yang dipipet dengan volume terkoreksi rata-rata.
14. Bandingkan selisih tersebut dengan batas penyimpangan yang masih diperbolehkan
sesuai dengan jenis dan volume pipet yang digunakan.
Catatan : cara kalibrasi ini dapat dilakukan pula untuk labu ukur, gelas ukur, dan alat
gelas lainnya.

VI. RUMUS PERHITUNGAN


1. Volume Terkoreksi (Xi)

2. Volume Terkoreksi Rata Rata

3. Standar Deviasi

4. Persen (%) Akurasi

5. Persen (%) Kesalahan

6. Selisih Volume
Selisih = Volume aquadest yang dipipet Volume terkoreksi rata-rata
VII. TABEL STANDAR
A. Tabel harga kerapatan air () pada berbagai suhu
Dikutip dari " Total Quality Control in the Clinical Laboratory"
B. Tabel Batas Toleransi Penyimpangan Pengukuran Pipet dan lain-lain berdasarkan
National Bureau of Standards

VIII. INTERPRETASI HASIL


Alat dikatakan layak dan akurat bila selisih antara volume yang dipipet dengan
volume terkoreksi rata-rata berada kurang dari atau sama dengan batas toleransi
penyimpangan maksimum yang diperbolehkan.

IX. HASIL
Hasil Kalibrasi
Suhu aquadest = oC
BJ aquadest =

PERCOBAAN
1 2 3 dst
Berat wadah (gram)
Berat wadah + aquadest (gram)
Berat aquadest (gram)
Volume terkoreksi (ml)
Akurasi (%)
Persen Kesalahan (%)
Volume terkoreksi rata-rata +
standar deviasi
Selisih (volume pemipetan
vol.terkoreksi rata-rata)
KALIBRASI WATERBATH

I. TUJUAN
Untuk mengetahui keakuratan serta kelayakan alat Waterbath yang digunakan untuk
pemeriksaan mikrobiologi.

II. DASAR TEORI


Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai
penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar
ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional maupun internasional untuk
satuan ukuran dan/atau internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabularyof International Metrology
(VIM) kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai
yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili
oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran
yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, Kalibrasi adalah kegiatan untuk
menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur
dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable)
ke standar nasional maupun internasional untuk satuan ukuran dan atau internasional
dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Tujuan Kalibrasi :
1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat
dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti (standar primer
nasional dan / internasional), melalui rangkaian perbandingan yang tak
terputus.
2. Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional
penunjukan suatu instrument ukur.
3. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional
maupun Internasional.
Manfaat Kalibrasi :
1. Menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan
spesefikasinya.
2. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri pada
peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.
3. Bisa mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara nilai benar dengan nilai
yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Alat-alat di laboratorium harus memenuhi persyaratan mutu untuk mencapai
kepuasan pelanggan dengan presisi dan hasil yang akurat. Salah satu alat yang terdapat
dilaboratorium mikrobiologi yaitu water bath. Pada laboratorium mikrobiologi, water
bath digunakan untuk menginkubasi kultur mikrobiologi. Water bath harus dikalibrasi
secara teratur, paling tidak dilakukan dua kali per tahun (2x/tahun). Termometer
waterbath harus dicek oleh petugas yang bertanggung jawab dengan menggunakan
termometer terkalibrasi. Interval uji penyimpanan (deviasi) harus didokumentasikan/
dicatat pada buku peralatan. Dalam kasus terjadinya penyimpangan lebih tinggi atau
lebih rendah +/- 5oC, yang ditunjukkan oleh termometer pada alat, harus ditentukan
faktor koreksi (suhu yang diinginkan/ suhu terukur) dan dicantumkan secara jelas pada
alat. Pada kasus lainnya dari deviasi suhu yang diijinkan, harus didokumentasikan pada
buku alat.

III. PRINSIP KERJA


Dilakukan kalibrasi waterbath dengan cara mencatat suhu setiap hari yang terlihat
pada digital display serta diukur dengan menggunakan termometer standar. Kemudian
dicocokkan hasil yang didapatkan.

IV. ALAT DAN BAHAN


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
A. Alat
1. Waterbath yang akan dikalibrasi;
2. Termometer standar.
B. Bahan
1. Aquadest

V. PROSEDUR KERJA
1. Isi waterbath dengan air (sebaiknya dengan aquadest) hingga tanda batas. Tunggu
beberapa menit hingga suhu air didalamnya telah sesuai dengan keinginan.
2. Catat suhu setiap hari yang terlihat pada digital display pada waterbath.
3. Secara berkala lakukan pemeriksaan suhu air pada waterbath dengan menggunakan
termometer standar.
4. Cocokkan hasil yang didapat antara suhu yang tercantum dalam waterbath pada
digital display dengan suhu yang ditunjukkan oleh termometer standar.
Contoh kartu pencatatan suhu :
PENCATATAN SUHU

Nama alat : .............. Ruang : ...............


Suhu yang seharusnya : ..............
Tgl Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Tgl
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

VI. INTERPRETASI HASIL


Jika terdapat penyimpangan suhu yang melebihi 2oC, maka pengaturan suhu perlu
disetel kembali.
KALIBRASI SENTRIFUS (CENTRIFUGE)

I. TUJUAN
Untuk mengetahui keakuratan serta kelayakan alat Waterbath yang digunakan untuk
pemeriksaan mikrobiologi.

II. DASAR TEORI


Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai
penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar
ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional maupun internasional untuk
satuan ukuran dan/atau internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabularyof International Metrology
(VIM) kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai
yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili
oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran
yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, Kalibrasi adalah kegiatan untuk
menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur
dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable)
ke standar nasional maupun internasional untuk satuan ukuran dan atau internasional
dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Tujuan Kalibrasi :
1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat
dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti (standar primer
nasional dan / internasional), melalui rangkaian perbandingan yang tak
terputus.
2. Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional
penunjukan suatu instrument ukur.
3. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional
maupun Internasional.
Manfaat Kalibrasi :
1. Menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan
spesefikasinya.
2. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri pada
peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.
3. Bisa mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara nilai benar dengan nilai
yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Alat-alat di laboratorium harus memenuhi persyaratan mutu untuk mencapai
kepuasan pelanggan dengan presisi dan hasil yang akurat. Salah satu alat yang terdapat
dilaboratorium mikrobiologi yaitu centrifuge. Centrifuge merupakan alat yang
digunakan untuk memisahkan organel berdasarkan massa jenisnya melalui proses
pengendapan. Dalam prosesnya, centrifuge menggunakan prinsip rotasi atau perputaran
tabung yang berisi larutan agar dapat dipisahkan berdasarkan massa jenisnya.

III. PRINSIP KERJA


Dilakukan kalibrasi alat sentrifuge yang mencakup kalibrasi rpm (kecepatan berputar)
dan kalibrasi alat pencatat waktu (timer). Kemudian dihitung nilai rata-rata yang
diperoleh tiap parameter dan tentukan besar penyimpangan nilai tersebut.

IV. ALAT DAN BAHAN


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
A. Alat
1. Centrifuge yang akan dikalibrasi;
2. Tachometer mekanik;
3. Tachometer elektrik;
4. Strobe light;
5. Stopwatch.
B. Bahan
1. Aquadest

V. PROSEDUR KERJA
1. Kalibrasi rpm
Dapat dilakukan dengan menggunakan:
a. Tachometer mekanik yaitu dengan kabel yang lentur.
Cara :
1) Ujung kabel yang satu dikaitkan pada kumparan motor di dalam, sedangkan
ujung yang lain dihubungkan dengan alat meter.
2) Set sentrifus pada rpm tertentu, kemudian jalankan.
3) Catat rpm yang ditunjukkan oleh meter pada tachometer.
4) Ulangi beberapa kali, hitung rata-rata.
b. Tachometer elektrik
Cara :
1) Letakkan bagian magnet di sekeliling kumparan, sehingga menimbulkan aliran
listrik bila alat dijalankan.
2) Set sentrifus pada rpm tertentu.
3) Aliran listrik yang timbul akan menggerakkan bagian meter.
4) Catat rpm yang ditunjukkan oleh meter pada tachometer.
5) Ulangi beberapa kali, hitung nilai rata-rata.
c. Strobe light
Alat ini digunakan bila tachometer tidak dapat menjangkau motor. Pemeriksaan
dilakukan beberapa kali dan hitung nilai rata-rata.
2. Kalibrasi Alat Pencatat Waktu (Timer)
Dapat dilakukan dengan menggunakan stopwatch.
Cara:
a. Set sentrifus pada waktu yang sering dipakai, misalnya 5 menit.
b. Jalankan alat dan bersamaan dengan itu jalankan stopwatch.
c. Pada waktu sentrifus berhenti, matikan stopwatch, catat waktu yang ditunjukkan
stopwatch.
d. Ulangi beberapa kali, hitung nilai rata-rata.

VI. RUMUS PERHITUNGAN


A. Nilai Rata-Rata ( )

Keterangan :
= nilai rata-rata
= jumlah hasil pengukuran
n = banyaknya pengukuran/pengulangan yang dilakukan

VII. INTERPRETASI HASIL


1. Kalibrasi rpm
Kecepatan putar/rpm masih dapat diterima bila penyimpangan nilai rata-rata tidak
lebih dari 5%.
2. Kalibrasi alat pencatat waktu
Alat pencatat waktu (timer) masih dapat diterima apabila penyimpangan nilai rata-
rata tidak lebih dari 10%.
KALIBRASI NERACA ANALITIK

I. TUJUAN
Untuk mengetahui tingkat keakuratan dan kelayakan alat Neraca Analitik yang
digunakan dalam pemeriksaan mikrobiologi.

II. DASAR TEORI


Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai
penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar
ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional maupun internasional untuk
satuan ukuran dan/atau internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabularyof International Metrology
(VIM) kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai
yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili
oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran
yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, Kalibrasi adalah kegiatan untuk
menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur
dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable)
ke standar nasional maupun internasional untuk satuan ukuran dan atau internasional
dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Tujuan Kalibrasi :
1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat
dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti (standar primer
nasional dan / internasional), melalui rangkaian perbandingan yang tak
terputus.
2. Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional
penunjukan suatu instrument ukur.
3. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional
maupun Internasional.
Manfaat Kalibrasi :
1. Menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan
spesefikasinya.
2. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri pada
peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.
3. Bisa mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara nilai benar dengan nilai
yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Alat-alat di laboratorium harus memenuhi persyaratan mutu untuk mencapai
kepuasan pelanggan dengan presisi dan hasil yang akurat. Salah satu alat yang terdapat
dilaboratorium mikrobiologi yaitu Neraca elektrik/ Neraca analitik. Neraca
analitik adalah jenis neraca yang dirancang untuk mengukur massa kecil dalam rentang
sub-miligram. Alat ini berfungsi untuk menimbang bahan yang akan digunakan untuk
membuat media untuk bakteri, jamur atau media tanam kultur jaringan dan
mikrobiologi dalam praktikum dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Jumlah media
yang tidak tepat akan berpengaruh terhadap konsentrasi zat dalam media sehingga dapat
menyebabkan terjadinya kekeliruan dalam hasil praktikum. Setelah beberapa kali
penggunaan, alat ini harus dikalibrasi untuk mengkompensasi perbedaan gravitasi dan
menentukan tingkat keakuratan (akurasi) timbangan tersebut.

III. PRINSIP KERJA


Kalibrasi timbangan analitik ( elektronik ) dilakukan dengan nemempatkan suatu
anak timbangan yang diketahui nilai masanya pada suatu timbangan yang akan
dikalibrasi, kemudian menghitung batas toleransi perbedaan/ selisih berat yang
diperbolehkan antara berat anak timbangan standar yang sebenarnya dengan berat anak
timbangan yang terukur pada neraca.

IV. ALAT
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
1. Neraca elektrik yang akan dikalibrasi;
2. Pinset;
3. Anak timbangan standar;
4. Tissue.

V. PROSEDUR KERJA
1. Lakukan penimbangan anak timbangan standar.
2. Catat hasil penimbangan.
3. Ulangi sampai 5 kali, hitung nilai rata-rata.
Catatan : Kalibrasi timbangan dilakukan setiap hari dengan memakai anak
timbangan standar yang bersertifikat kelas S.

VI. RUMUS PERHITUNGAN


A. Nilai Rata-Rata ( )

Keterangan :
= nilai rata-rata penimbangan
= jumlah hasil penimbangan
n = banyaknya penimbangan yang dilakukan

VII. INTERPRETASI HASIL


Toleransi perbedaan berat yang masih dapat diterima adalah:
A. Untuk berat 1-50 mg = 0,014 mg
B. Untuk berat 100-500 mg = 0,025 mg
C. Untuk berat 1-5 g = 0,054 mg

KALIBRASI TERMOMETER

I. TUJUAN
Untuk mengetahui tingkat keakuratan serta kelayakan alat Termometer yang digunakan
dalam pemeriksaan mikrobiologi.

II. DASAR TEORI


Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai
penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar
ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional maupun internasional untuk
satuan ukuran dan/atau internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabularyof International Metrology
(VIM) kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai
yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili
oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran
yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, Kalibrasi adalah kegiatan untuk
menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur
dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable)
ke standar nasional maupun internasional untuk satuan ukuran dan atau internasional
dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Tujuan Kalibrasi :
1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat
dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti (standar primer
nasional dan / internasional), melalui rangkaian perbandingan yang tak
terputus.
2. Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional
penunjukan suatu instrument ukur.
3. Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar Nasional
maupun Internasional.
Manfaat Kalibrasi :
1. Menjaga kondisi instrument ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan
spesefikasinya.
2. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri pada
peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.
3. Bisa mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara nilai benar dengan nilai
yang ditunjukkan oleh alat ukur.
Alat-alat di laboratorium harus memenuhi persyaratan mutu untuk mencapai
kepuasan pelanggan dengan presisi dan hasil yang akurat. Salah satu alat yang terdapat
dilaboratorium mikrobiologi yaitu termometer. Termometer adalah alat yang digunakan
untuk mengukur suhu (temperatur), ataupun perubahan suhu. Termometer harus
dikalibrasi secara teratur, dengan tujuan untuk menjaga kondisi termometer agar tetap
sesuai dengan spesefikasinya; untuk mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara
harga benar dengan harga yang ditunjukkan oleh thermometer; untuk memperoleh
kepastian akurasi pengukuran alat thermometer; untuk memperoleh kepastian bahwa
hasil pengukuran termometer yang dihasilkan memenuhi standar.

III. PRINSIP KERJA


Termometer yang akan dikalibrasi dan termometer standar bersertifikat diletakan
berdekatan dalam suhu ruang tertentu, kemudian didiamkan selama 1 jam lalu
ditentukan selisih suhu yang ditunjukkan oleh kedua termometer tersebut.

IV. ALAT
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
1. Termometer yang akan dikalibrasi;
2. Termometer standar bersertifikat;
3. Oven.

V. PROSEDUR KERJA
1. Letakkan termometer yang dikalibrasi dan thermometer standar bersertifikat
berdekatan dalam ruang ber AC (suhu 20- 25C) dan diamkan selama 1 jam.
2. Catat suhu yang ditunjukkan oleh kedua termometer.
3. Termometer memenuhi syarat bila perbedaan pembacaan suhu antara kedua
termometer adalah 0,5C.
4. Ulangi pemeriksaan di atas dengan menggunakan suhu 30C - 40C (dalam oven).
Catatan : Kalibrasi dilakukan setiap 6 bulan sekali.

VI. INTERPRETASI HASIL


Termometer memenuhi syarat bila perbedaan pembacaan suhu antara kedua
termometer adalah 0,5C.
Laporan Praktikum

QUALITY CONTROL

UJI KUALITAS AIR DEMINERALISASI

Kelompok : B1 A
Kelas : D-IV B
Semester : VI (Enam)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLTEKKES MATARAM
ANALIS KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV
MATARAM
2016/2017
Nama Anggota Kelompok :

1. Aeni Halawiya (P07134114050)


2. Ahmad Busyairi Asgar (P07134114051)
3. Aprilia Prastika (P07134114053)
4. Ari Kurniawati (P07134114054)
5. Baiq Arum Palawangan (P07134114056)
6. Baiq Evianita Putri (P07134114057)
7. Buana Putri Ayu (P07134114058)
8. Diah Ayu Rizki. S (P07134114059)
9. Divika Suci (P07134114060)
10. Emaliana (P07134114061)
11. Esti Amelia Utari (P07134114062)
12. Fatmawati Riskiantini (P07134114063)
13. Hana Fatina (P07134114064)
14. Lalu Ahmad Afifi (P07134114073)
UJI KUALITAS AIR DEMINERALISASI

XI. TUJUAN
Untuk mengetahui kualitas serta kelayakan Air Demineralisasi yang akan digunakan
untuk pemeriksaan.

XII. DASAR TEORI


Demineralisasi air adalah sebuah proses penyerapan kandungan ion-ion mineral di
dalam air dengan menggunakan resin ion exchange. Air hasil proses demineralisasi
digunakan untuk berbagai macam kebutuhan, terutama untuk industri. Industri yang
menggunakan air demineralisasi diantaranya pembangkit listrik tenaga uap, industri
semikonduktor, dan juga industri farmasi. Ada dua tipe kolom resin yang umum
digunakan pada proses demineralisasi air. Keduanya adalah Single Bad dan Mixed Bed
Ion Exchange Resin. Single Bad berarti didalam satu kolom hanya terdapat satu jenis
resin saja yakni kation resin saja atau anion resin saja sedangkan kolom Mixed Bad
berisi campuran resin kation dan anion.
Laboratorium harus memeriksa apakah telah terjadi perubahan selama pembuatan
sampai penggunaannya, serta harus menetapkan tingkat kualitas air yang sesuai dengan
kebutuhan. Untuk itu perlu dilakukan suatu pengujian terhadap kualitas air. Untuk air
yang dibuat sendiri, uji kualitas dilakukan setiap kali pembuatan, sedangkan untuk air
yang dibeli, uji kualitas dilakukan setiap kemasan. Apabila hasil pengujian tidak
memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, maka dilakukan destilasi atau
demineralisasi ulang.

XIII. PRINSIP KERJA


Proses pengujian kualitas air demineralisasi sama seperti pengujian yang dilakukan
untuk air suling, meliputi pemerian/pemeriksaan fisik; pemeriksaan keasaman
kebasaan; pemeriksan ammonium; pemeriksaan besi, tembaga, timbal; pemeriksaan
kalsium; pemeriksaan klorida; pemeriksaan nitrat; pemeriksaan sulfat; pemeriksaan
karbondioksida; pemeriksaan zat teroksidasi; pemeriksaan sisa penguapan; serta dengan
penambahan dua jenis pemeriksaan yaitu pemeriksaan amonia albuminoid dan
pemeriksaan daya tahan listrik (resistivitas).
XIV. ALAT DAN BAHAN
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi :
B. Alat
1. Beaker glass;
2. Tabung;
3. Waterbath;
4. Alat penukar ion.
C. Bahan
1. Air bebas amoniak;
2. Air demineralisasi;
3. Amonium klorida encer;
4. Amonium oksalat 2,5 % b/v;
5. Asam sulfat encer;
6. Barium klorida 12,0% b/v;
7. Brom timol blue/ biru brom timol;
8. Difenilamin;
9. Kalium permanganat 0,01 N
10. Kalium tetraiodohidrargirat (II) basa;
11. Kalsium hidroksida 0,04 N;
12. Magnesium karbonat.
13. Metil red/ merah metil;
14. Natrium sulfida 10,0% b/v;
15. Perak nitrat 5,0% b/v;

XV. PROSEDUR KERJA


Pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan :
A. Pemerian/Pemeriksaan Fisik
a. Lakukan pemeriksaan fisik air yang meliputi warna, bau, dan rasa.

B. Pemeriksaan Keasaman Kebasaan


a. Pada 10 ml air tambahkan 2 tetes larutan merah metil atau 5 tetes larutan biru
brom timol.

C. Pemeriksan Amonium
a. Pada 50 ml air tambahkan 2 ml larutan Kalium tetraiodohidrargirat (II) basa.
b. Buat larutan pembanding dengan mencampur 50 ml air bebas Amoniak dengan 2
ml Amonium klorida encer.
c. Bandingkan warna air yang diperiksa dengan warna air dalam tabung
pembanding di atas dasar putih.

D. Pemeriksaan Besi, Tembaga, Timbal


a. Pada 100 ml air tambahkan 1 tetes larutan Natrium sulfida 10,0% b/v.

E. Pemeriksaan Kalsium
e. Pada 100 ml air tambahkan 2 ml Amonium oksalat 2,5 % b/v.

F. Pemeriksaan Klorida
a. Pada 10 ml air tambahkan 1 ml larutan perak nitrat 5,0% b/v.
b. Biarkan selama 5 menit.

G. Pemeriksaan Nitrat
a. Masukkan sejumlah air dalam sebuah tabung.
b. Tuangkan dengan hati-hati 5 ml larutan difenilamin di atas air.
c. Perhatikan warna pada bidang atas.

H. Pemeriksaan Sulfat
a. Pada 10 ml air tambahkan larutan barium klorida 12,0% b/v.
b. Biarkan selama 5 menit.
I. Pemeriksaan Karbondioksida
c. Pada 25 ml air tambahkan 25 ml larutan Kalsium hidroksida 0,04 N.
d. Biarkan selama 5 menit.

J. Pemeriksaan Zat Teroksidasi


a. Pada 100 ml air tambahkan 10 ml Asam sulfat encer. (104 gr am Asam sulfat dan
896 gram air) dan 0,5 ml kalium permanganat 0,01 N.
b. Kemudian didihkan.

K. Pemeriksaan Sisa Penguapan


a. Lakukan penguapan 100 ml air di atas penangas air hingga kering.

L. Pemeriksaan Amonia Albuminoid


a. Pada 500 ml air tambahkan 200 mg magnesium karbonat.
b. Suling sebanyak 200 ml dan buang sulingan tersebut.
c. Tambahkan 25 ml larutan kalium permanganat basa.
d. Suling lagi sebanyak 100 ml dan buang sulingan tersebut.
e. Tambahkan lagi 25 ml larutan kalium permanganat basa.
f. Suling sebanyak 100 ml.
g. Pada sulingan tersebut tambahkan 4 ml larutan kalium tetraiodohidrargirat (II)
basa.
h. Buat larutan pembanding dengan menambahkan 4 ml larutan kalium
tetraiodohidrargirat (II) basa pada campuran 100 ml air bebas amoniak dan 4 ml
larutan amonium klorida encer.
i. Bandingkan warna air yang diperiksa dengan larutan pembanding.

M. Pemeriksaan Daya Tahan Listrik (Resistivitas)


a. Ukur daya tahan listrik air demineral segar dengan alat penukar ion.

Catatan : Pengujian kualitas air demineralisasi sama seperti pengujian yang dilakukan
untuk air suling, ditambah dengan pemeriksaan Amonia albuminoid dan
pemeriksaan daya tahan listrik (resistivitas).

XVI. INTERPRETASI HASIL


A. Pemerian/Pemeriksaan Fisik
Air tersebut memenuhi syarat bila cairan tersebut jernih, tidak berbau dan tidak
mempunyai rasa.
B. Pemeriksaan Keasaman Kebasaan
Air tersebut memenuhi syarat bila tidak berwarna. Bila berwarna merah dengan
larutan merah metil berarti air tersebut bersifat asam, sedangkan bila berwarna biru
dengan larutan Biru brom timol berarti bersifat basa.
C. Pemeriksan Amonium
Air tersebut memenuhi syarat bila warnanya tidak lebih tua dari larutan
pembanding.
D. Pemeriksaan Besi, Tembaga, Timbal
Air tersebut memenuhi syarat bila cairan tetap jernih dan tidak berwarna.
E. Pemeriksaan Kalsium
Air tersebut memenuhi syarat bila tidak terjadi kekeruhan.
F. Pemeriksaan Klorida
Air tersebut memenuhi syarat bila cairan tetap jernih dan tidak berwarna.
G. Pemeriksaan Nitrat
Air tersebut memenuhi syarat bila tidak terjadi warna biru pada bidang batas.
H. Pemeriksaan Sulfat
Air tersebut memenuhi syarat bila cairan tetap jernih dan tidak berwarna.
I. Pemeriksaan Karbondioksida
Air tersebut memenuhi syarat bila cairan tetap jernih.
J. Pemeriksaan Zat Teroksidasi
Air tersebut memenuhi syarat bila cairan berwarna merah ungu.
K. Pemeriksaan Sisa Penguapan
Hasilnya tidak lebih dari 0,01 gr.
L. Pemeriksaan Amonia Albuminoid
Air tersebut memenuhi syarat bila warna yang terjadi tidak lebih tua dari warna
larutan pembanding.
M. Pemeriksaan Daya Tahan Listrik (Resistivitas)
Air tersebut memenuhi syarat bila hasilnya tidak kurang dari 1 mega ohm cm.